gogon_gundrung
23-04-2004, 09:17 AM
Rekans,
Gue dapet email ini dari temen. Apakah benar??
-----
Yth. Rekan-rekan sekalian
Alhamdullilah tak terasa sudah satu bulan saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT menginjakkan kaki di Eropa.
Sebagaimana kita ketahui, dan tentu saja ada beberapa rekan yg sudah pernah berkunjung ke sini, bahwa kita harus berhati-hati memilih makanan di sini, karena sangatlah banyak makanan yg mengandung ekstrak babi. Bahkan roti tawar pun diberikan ekstrak babi di dalamnya.
Dalam membeli makanan ringan (biskuit, roti, chips, coklat) ataupun minuman (jus, ice tea) sebetulnya hal2 tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan karena di bagian bahan2 (Ingredients)sebagian besar sangat jelas diberitahukan mana yg mengandung ekstrak babi dan mana yg tidak.
Di sini setiap makanan ataupun minuman di bungkusnya tertera jelas bahan2 penyedap yg digunakan. Biasanya bahan2 tersebut diberikan dalam bentuk kode, misalnya :
Diglyceride kodenya E470-478 atau Polyoxiethylen Stearat kodenya E431. Bahan2 yg telah saya sebutkan mengandung ekstrak babi di dalamnya sehingga kalo kita membeli makanan ato minuman di supermarket, waspadalah dengan kode2 tersebut.
Hal menarik saya dapatkan ketika saya membeli indomie (di sini 1 kardus harganya 14 EUR lho). Spt biasanya sebuah indomie, tertera dengan jelas label HALAL pada bungkusnya. Namun ternyata beberapa macam indomie spt Indomie Goreng Pedas dan Indomie Goreng Bumbu Sate, meskipun jelas2 tertera label HAlAL di bungkusnya, setelah dicheck di bagian ingredients, disebutkan dengan jelas mengandung E431, yg mana bahan penyedap ini dibuat dengan ekstrak babi. Beberapa saat (sptnya saya sudah memakan 2 bungkus indomie goreng pedas) saya tidak menyadarinya karena saya percaya dengan label HALAL tersebut. Namun tiba2 seorang teman menemukan bahwa dalam indomie goreng pedas tersebut mengandung babi. Segeralah saya check dan akhirnya saya hanya dapt beristighfar karenanya, sebab memang betul disebutkan dengan jelas Indomie Goreng Pedas mengandung E431.
Kejadian ini tentu saja menghebohkan di kalangan warga Indonesia yg Muslim di Jerman ini. Karena dengan demikian dapat dikatakan telah terjadi penipuan terselubung oleh Indofood selaku produsen Indomie tersebut mengenai kehalalan produknya. Tidak semua indomie mengandung E431, namun hanya Indomie Goreng Pedas, Bumbu Sate, dan Indomie Kari Udang. Sisanya, termasuk Indomie Goreng yg biasa, tidak mengandung E431, sehinga tetap aman dikonsumsi.
Penemuan ini baru diketahui minggu ini, mungkin sebelumnya banyak warga Indonesia membeli Indomie tsb dan tidak menyadari karena percaya dengan label halal, sehingga tidak mengecheck lebih lanjut. Bahkan ibu2 penjualnya yg kebetulan juga orang Indonesia dan juga Muslimah, selama berjualan 2 tahun di Jerman tidak pernah sadar akan hal tersebut.
Sangatlah mengecewakan apabila Indofood selaku perusahaan terkemuka di negeri kita, yg pernah dipimpin pula oleh seorang Muslimah, melakukan penipuan fatal ini, sengaja maupun tidak. Yang jelas, dnegan penemuan ini, label halal yg menempel pada suatu kemasan blom menjadi jaminan kehalalan suatu produk.
Saya berharap kejadian ini hanya terjadi di eropa, karena Indomie yg saya beli memnag dikhususkan untuk konsumsi eropa dan yg dijual di Indonesia tetap benar2 HALAL.
Sekian sharing dari saya ini, karena buat saya kasus ini benar2 menarik, mungkin saja berguna untuk menambah kewaspadaan kita akan kehalalan barang2 yg akan dikonsumsi. Untuk rekan2 Muslim ataupun Muslimah yg akan ataupun sedang berada di sini, saya sarankan tetap berhati-hati dan tetap mengecheck dengan teliti makanan yg dibeli meskipun berlabel halal.
Terima Kasih.
Gue dapet email ini dari temen. Apakah benar??
-----
Yth. Rekan-rekan sekalian
Alhamdullilah tak terasa sudah satu bulan saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT menginjakkan kaki di Eropa.
Sebagaimana kita ketahui, dan tentu saja ada beberapa rekan yg sudah pernah berkunjung ke sini, bahwa kita harus berhati-hati memilih makanan di sini, karena sangatlah banyak makanan yg mengandung ekstrak babi. Bahkan roti tawar pun diberikan ekstrak babi di dalamnya.
Dalam membeli makanan ringan (biskuit, roti, chips, coklat) ataupun minuman (jus, ice tea) sebetulnya hal2 tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan karena di bagian bahan2 (Ingredients)sebagian besar sangat jelas diberitahukan mana yg mengandung ekstrak babi dan mana yg tidak.
Di sini setiap makanan ataupun minuman di bungkusnya tertera jelas bahan2 penyedap yg digunakan. Biasanya bahan2 tersebut diberikan dalam bentuk kode, misalnya :
Diglyceride kodenya E470-478 atau Polyoxiethylen Stearat kodenya E431. Bahan2 yg telah saya sebutkan mengandung ekstrak babi di dalamnya sehingga kalo kita membeli makanan ato minuman di supermarket, waspadalah dengan kode2 tersebut.
Hal menarik saya dapatkan ketika saya membeli indomie (di sini 1 kardus harganya 14 EUR lho). Spt biasanya sebuah indomie, tertera dengan jelas label HALAL pada bungkusnya. Namun ternyata beberapa macam indomie spt Indomie Goreng Pedas dan Indomie Goreng Bumbu Sate, meskipun jelas2 tertera label HAlAL di bungkusnya, setelah dicheck di bagian ingredients, disebutkan dengan jelas mengandung E431, yg mana bahan penyedap ini dibuat dengan ekstrak babi. Beberapa saat (sptnya saya sudah memakan 2 bungkus indomie goreng pedas) saya tidak menyadarinya karena saya percaya dengan label HALAL tersebut. Namun tiba2 seorang teman menemukan bahwa dalam indomie goreng pedas tersebut mengandung babi. Segeralah saya check dan akhirnya saya hanya dapt beristighfar karenanya, sebab memang betul disebutkan dengan jelas Indomie Goreng Pedas mengandung E431.
Kejadian ini tentu saja menghebohkan di kalangan warga Indonesia yg Muslim di Jerman ini. Karena dengan demikian dapat dikatakan telah terjadi penipuan terselubung oleh Indofood selaku produsen Indomie tersebut mengenai kehalalan produknya. Tidak semua indomie mengandung E431, namun hanya Indomie Goreng Pedas, Bumbu Sate, dan Indomie Kari Udang. Sisanya, termasuk Indomie Goreng yg biasa, tidak mengandung E431, sehinga tetap aman dikonsumsi.
Penemuan ini baru diketahui minggu ini, mungkin sebelumnya banyak warga Indonesia membeli Indomie tsb dan tidak menyadari karena percaya dengan label halal, sehingga tidak mengecheck lebih lanjut. Bahkan ibu2 penjualnya yg kebetulan juga orang Indonesia dan juga Muslimah, selama berjualan 2 tahun di Jerman tidak pernah sadar akan hal tersebut.
Sangatlah mengecewakan apabila Indofood selaku perusahaan terkemuka di negeri kita, yg pernah dipimpin pula oleh seorang Muslimah, melakukan penipuan fatal ini, sengaja maupun tidak. Yang jelas, dnegan penemuan ini, label halal yg menempel pada suatu kemasan blom menjadi jaminan kehalalan suatu produk.
Saya berharap kejadian ini hanya terjadi di eropa, karena Indomie yg saya beli memnag dikhususkan untuk konsumsi eropa dan yg dijual di Indonesia tetap benar2 HALAL.
Sekian sharing dari saya ini, karena buat saya kasus ini benar2 menarik, mungkin saja berguna untuk menambah kewaspadaan kita akan kehalalan barang2 yg akan dikonsumsi. Untuk rekan2 Muslim ataupun Muslimah yg akan ataupun sedang berada di sini, saya sarankan tetap berhati-hati dan tetap mengecheck dengan teliti makanan yg dibeli meskipun berlabel halal.
Terima Kasih.