PDA

View Full Version : We all becomes God mad men - Jonathan Harker


DarkFigurez
07-05-2004, 02:18 AM
Kisah misteri / horror yg lain drpd yg lain. Kisah ini dibentuk dlm format catatan harian / diary dr tokoh2 / pihak2 yg terlibat didalam kisah ini, sehingga keseluruhan cerita tidak dipaparkan scr langsung tp dilihat dr masing2 sudut pandang tiap2 karakter. Pasti menarik utk diikuti, terutama bagi para pecinta kisah misteri / horror. Selamat menikmati!

This one, is diary from a man called Jonathan Harker

3 Mei. Bistritz.

Berangkat dari Munich jam 20.35 malam, pada tanggal 1 Mei, tiba di Wina pagi-pagi keesokan harinya. Seharusnya tiba jam 06.46, tapi kereta api terlambat satu jam. Dari pemandangan-pemandangan yang dapat kulihat sekilas dari kereta api, dan dari bagian kecil jalan-jalan yang sudah kulewati, agaknya Budapest adalah suatu kota yang amat bagus. Aku takut pergi jauh-jauh dari stasiun, soalnya kami tadi tiba terlambat, dan ingin berangkat setepat mungkin pada waktunya. Aku mendapat kesan bahwa kami sedang meninggalkan Eropa Barat dan memasuki wilayah Timur. Melalui jembatan-jembatan paling barat Sungai Danube, yang di bagian itu sangat lebar dan sangat dalam, kami memasuki wilayah bertradisi Turki.

Kami berangkat pada waktu yang cukup tepat, dan tiba di Klausenburgh pada senja hari. Di situ aku bermalam di Hotel Royale. Aku makan malam agak larut. Makanannya terdiri atas ayam yang dimasak dengan lada merah, cukup enak, tapi membuatku haus (ingat, minta resepnya untuk Mina). Aku bertanya pada pelayan, dan dikatannya bahwa makanan itu bernama paprika hendl, dan karena makanan itu merupakan lauk nasional, aku bisa mendapatkannya di manapun di sepanjang daerah Carpathia. Bahasa Jerman-ku yang sangat terbatas, berguna sekali di sini. Entah bagaimana aku bila tidak memiliki pengetahuan itu.

Karena aku punya waktu senggang sewaktu berada di London, aku mengunjungi British Museum. Di bagian perpustakaannya aku mencari buku-buku dan peta-peta mengenai Transylvania. Ternyata pengetahuan tentang negeri itu sangat besar manfaatnya untuk berurusan dengan seorang ningrat di sana. Ternyata pula bahwa daerah yang disebutkannya itu terletak di ujung timur negeri itu, di perbatasan antara tiga negara: Transylvania, Moldavia, dan Bukovina, di tengah-tengah Pegunungan Carphatia yang merupakan salah satu bagian Eropa yang paling lebat hutannya dan paling kurang dikenal. Aku tak berhasil menemukan di peta atau dibuku petunjuk mana pun, letak yang tepat dari Puri Count itu, karena negeri itu belum memiliki peta-peta yang setaraf dengan peta-peta Ordnance Survey yng kita miliki. Tapi kudapati bahwa Bistritz, kota persinggahan yang disebut oleh Count itu, adalah tempat yang cukup dikenal. Akan kucantumkan catatan-catatanku disini, supaya bisa menyegarkan ingatanku bila kelak aku bercakap-cakap dengan Mina tentang perjalanan-perjalananku ini.

Penduduk Transylvania terdiri atas empat wilayah kebangsaan: di daerah selatan, suku Saxon yang berbaur dengan suku Wallach, yaitu keturunan suku Dacian, suku Magyar di sebelah barat, dan suku Szekely di timur dan utara. Aku akan berada diantara suku Szekely yang mengaku keturunan dari Atilla dan bangsa Hun. Itu mungkin benar, karena waktu suku Magyar merebut negeri ini abad kesebelas, mereka menemukan bangsa Hun sudah ada di situ. Aku pernah membaca bahwa semua takhayul yang dikenal dunia, terkumpul pada ladam kuda orang Carpathia, yang seolah-olah merupakan pusat dari lingkaran khayalan. kalau itu benar, keberadaanku di sini pasti akan menarik sekali (ingat , aku harus menanyakan itu semua pada Count).

Tidurku tak nyenyak, meskipun tempat tidurku cukup nyaman, karena mimpiku aneh-aneh. Apalagi ada anjing yang melolong sepanjang malam dibawah jendelaku. mungkin mimpiku yang aneh-aneh disebabkan oleh hal itu, atau mungkin juga gara-gara paprika yang kumakan tadi, karena aku tadi harus meminum air dalam kendiku sampai habis, tapi masih juga haus. Menjelang pagi baru aku tertidur, dan aku dibangunkan oleh ketukan panjang pada pintu kamarku. Mungkin tidurku nyenyak waktu itu. Sarapanku lagi-lagi terdiri atas paprika dan semacam bubur dari tepung jagung, yang kata mereka bernama mamaliga, dan terung berisi daging cincang yang enak sekali, dan mereka namakan impletata (ingat, minta juga resep makanan ini). Aku harus cepat-cepat makan, karena kereta api akan berangkat jam delapan kurang sedikit. Yah, setidaknya seharusnya berangkat jam sekian. Tapi, setelah aku bergegas pergi ke stasiun pada jam setengah delapan, ternyata aku harus duduk menunggu di kereta api lebih dari satu jam, sebelum kereta mulai bergerak. Menurut pengamatanku, makin ke timur, makin tak tepat keberangkatan kereta api. Jadi bagaimana keadaannya di Cina?

Sepanjang hari itu kereta rasanya berjalan malas-malasan, melewati daerah-daerah berpemandangan indah dan beraneka ragam. Kadang-kadang kami melihat kota-kota kecil, atau puri di puncak bukit-bukit terjal, seperti yang biasa kita lihat dalam buku-buku misi tua. Kadang-kadang kami menyusuri sungai-sungai, ada yang besar dan ada yang kecil. Agaknya sungai-sungai itu menjadi penyebab banjir besar, karena kedua belah tepinya luas dan berbatu-batu. Pasti diperlukan banyak air yang alirannya kuat untuk menyapu bersih tepi luar sungai itu. Di setiap stasiun kelihatan orang berkelompok-kelompok, kadang-kadang banyak sekali, pakaian mereka beraneka ragam. Ada di antaranya yang sama benar dengan pakaian buruh tani di Inggris, atau dengan buruh tani yang biasa kulihat datang dari Prancis atau Jerman. Tapi yang lain bagus-bagus sekali. Kaum wanitanya cantik-cantik, kalau dilihat dari jauh, tapi bagian pinggang mereka kurang bagus. Lengan baju mereka semuanya putih, dengan beraneka macam model, dan kebanyakan di antaranya memakai ikat pinggang lebar dengan bermacam-macam hiasan yang berumbai-rumbai seperti pakaian balet. Dan semuanya memakai pakaian dalam lebar. Yang paling aneh adalah penampilan orang-orang Slowak, yang dianggap paling barbar dari semuanya. Mereka mengenakan topi koboi yang besar, celana lebar berwarna putih kotor, kemeja linen putih, dan ikat pinggang kulit yang amat berat, hampir tiga puluh sentimeter lebarnya, dan seluruhnya berhiaskan paku-paku kuningan. Mereka mengenakan sepatu lars tinggi, dan kaki celananya dimasukkan ke dalamnya. Rambut mereka panjang dan hitam, begitu pula kumis mereka. Mereka memang sangat menarik perhatian, meskipun kelihatannya mereka tak suka menonjolkan diri. Di pentas, mereka pasti akan ditampilkan sebagai gerombolan penyamun dari Timur. Tapi kata orang, mereka sama sekali tidak berbahaya, dan hanya mengurus urusan mereka sendiri saja.

Senja sudah larut waktu kami tiba di Bistritz, sebuah kota tua yang amat menarik. Karena praktis berada di perbatasan - Celah Borgo memanjang dari situ sampai ke Bukovina - kota itu telah mengalami gejolak, dan bekas-bekasnya masih tampak jelas. Lima puluh tahun yang lalu terjadi serangkaian kebakaran besar yang telah menimbulkan kekacauan hebat pada lima peristiwa terpisah. Pada awal abad ketujuh belas, kota itu pernah mengalami pengepungan selama tiga minggu, dan telah kehilangan tiga belas ribu orang. Bencana-bencana perang itu disusul pula oleh kelaparan dan penyakit-penyakit.

Berdasarkan petunjuk Count, aku harus menginap di Golden Krone Hotel. Aku senang sekali, karena kudapati hotel itu benar-benar kuno. Aku tentu ingin sekali melihat sebanyak mungkin adat kebiasaan negeri itu. Rupanya aku memang sudah ditunggu, karena waktu aku tiba di dekat pintu, aku disambut oleh seorang wanita setengah baya yang amat ceria, yang seperti biasanya berpakaian seperti buruh tani - rok panjang putih dengan celemek ganda yang panjang pula di depan dan di belakang, dari bahan beraneka warna yang diikat amat ketat. Waktu aku sudah dekat, ia membungkuk dan berkata,
" Herr* Inggris?"
"Ya," sahutku, "Jonathan Harker."
Ia tersenyum lalu mengatakan sesuatu pada seorang pria setengah baya berkemeja putih yang mengikutinya ke pintu.Pria itu pergi, tapi segera kembali dengan membawa sepucuk surat. Bunyinya,

Sahabatku. - Selamat datang di Carphatia. Aku sangat
mengharapkan kedatangan Anda. Tidurlah dengan nyenyak
malam ini. Jam tiga besok, ada kereta yang akan berangkat
ke Bukovina. Sudah dipesankan tempat untuk Anda di kereta
itu. Di Celah Borgo, keretaku akan siap menunggu Anda, dan
mengantarkan Anda ke tempatku. Aku yakin perjalanan Anda
dari London menyenangkan, dan Anda akan senang berada di
negeriku yang indah ini.
Sahabatmu,
Count Dracula.

DarkFigurez
08-05-2004, 10:40 PM
4 Mei.

Ternyata pemilik hotel sudah menerima surat dari Count, yang memberikan instruksi supaya menyiapkan tempat terbaik bagiku di kereta. Tapi waktu aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terinci, ia jadi agak enggan berbicara, dan berpura-pura tak mengerti bahasa Jermanku yang kuucapkan. Itu jelas tak benar, karena sebelum itu ia memahaminya dengan baik sekali, atau sekurang-kurangnya ia telah menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan tepat. Ia dan istrinya, wanita tua yang tadi menyambutku, saling pandang dengan ketakutan. Ia hanya bergumam bahwa uangnya telah dikirim bersama surat, dan hanya itulah yang diketahuinya. Waktu kutanyakan apakah ia kenal pada Count Dracula, dan apakah ia bisa menceritakan sedikit tentang purinya, ia dan istrinya membuat tanda salib. Dan setelah mengatakan ia tak tahu apa-apa, ia sama sekali tak mau berbicara lagi.

Waktu keberangkatanku sudah amat dekat, hingga aku tak sempat bertanya pada orang lain. Kelihatannya semuanya misterius sekali, dan sama sekali tidak melegakan.Sesaat sebelum aku berangkat, wanita tua itu datang ke kamarku, dan berkata dengan kacau dan gugup sekali,
"Haruskah Anda pergi? Oh, Herr muda, haruskah Anda
pergi?"
Begitu gugupnya ia, hingga ia lupa akan bahasa Jerman yang dikuasainya sedikit, dan dicampuraduknya dengan suatu bahasa lain yang sama sekali tak kukenal. Aku baru bisa mengikutinya setelah mengajukan banyak pertanyaan. Waktu kukatakan padanya bahwa aku harus segera pergi, dan bahwa aku ada urusan yang penting sekali, ia bertanya lagi,
"Tahukah Anda hari apa hari ini?"
kujawab bahwa hari ini adalah tanggal 4 Mei. Ia menggeleng sambil berkata lagi,
"Oh, ya! Saya tahu itu! Saya tahu itu, tapi tahukah Anda
hari apa hari ini?"
Waktu kukatakan bahwa aku tak mengerti apa maksudnya, ia berkata lagi,
"Ini adalah malam hari St. George. Tidakkah Anda tahu
bahwa malam ini, saat jam berbunyi menyatakan tengah
malam, semua yang jahat di dunia ini akan bebas merdeka?
Tahukah Anda tempat yang Anda tuju itu, dan apa yang
sedang Anda lakukan ini?"
Jelas sekali bahwa ia sangat khawatir, hingga aku mencoba menghiburnya, namun tak berhasil. Akhirnya ia menjatuhkan dirinya, berlutut, dan memohon agar aku tidak pergi, atau setidaknya menunggu sehari-dua hari lagi baru berangkat. Semua itu tak masuk akal. Tapi aku merasa tak enak juga. Namun ada urusan yang harus kulaksanakan, dan aku tak bisa membiarkan apa pun juga menghalanginya. Sebab itu kucoba mengangkat wanita tua itu, dan berkata dengan sangat bersungguh-sungguh bahwa aku berterima kasih padanya, tapi tugasku sangat mendesak, dan aku tetap harus pergi. Lalu ia bangkit dan menyeka matanya. Kemudian diambilnya sebuah salib di lehernya, dan diberikannya padaku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Sebagai seorang Inggris yang taat beragama, aku diajarkan untuk menganggap hal-hal semacam itu sebagai pemujaan yang salah. Tapi rasanya tak pantas menolak pemberian seorang wanita tua yang bermaksud baik, dan sedang dalam keadaan kacau begitu. Kurasa ia melihat keraguan diwajahku, sebab ia lalu mengalungkan rosario bersalib itu ke leherku, dan berkata,
"Terimalah, demi ibu Anda,"
dan ia langsung keluar dari kamarku. Bagian dari catatanku ini kutulis ketika aku sedang menunggu kereta yang tentu sajaterlambat, dan salib itu masih tergantung dileherku. Apakah aku telah ketularan rasa takut wanita tua itu, ataukah karena banyaknya tradisi mengerikan di tempat ini, ataukah gara-gara salib itu sendiri, aku tak tahu. Tapi aku sama sekali tidak merasa tenang seperti biasanya. Bila buku catatan ini diterima oleh Mina sebelum aku kembali, berarti ini merupakan ucapan selamat tinggal dariku. Itu kereta datang!

DarkFigurez
09-05-2004, 04:14 PM
5 Mei. Puri.

Kelabu pagi hari telah berlalu, dan matahari sudah tinggi
di atas cakrawala yang jauh. Cakrawala itu kelihatan
bergerigi, entah karena pohon-pohon atau karena
bukit-bukit, aku tak tahu, karena terlalu jauh, hingga
apa-apa yang besar maupun yang kecil terbaur saja. Aku
belum mengantuk, dan karena aku tak akan dibangunkan dan
bisa bangun semauku, maka aku menulis saja sampai
mengantuk. Banyak hal aneh yang harus kutuliskan. Supaya
orang yang membaca catatanku ini tidak menyangka bahwa aku
telah makan terlalu banyak sebelum berangkat dari
Bistritz, akan kutuliskan apa-apa yang telah kumakan. Aku
makan apa yang mereka sebut robber steak, yaitu
potongan-potongan lemak babi, bawang bombai, dan daging
sapi yang dibumbui dengan lada merah dan ditusukkan pada
lidi, lalu dipanggang. Anggurnya adalah anggur Golden
Mediasch, yang menimbulkan rasa menyengat yang aneh pada
lidah, meskipun bukan berarti tak enak. Aku hanya minum
beberapa gelas, tak lebih.
Waktu aku naik ke kereta, kusirnya belum duduk di
tempatnya, dan kulihat ia bercakap-cakap dengan pemilik
hotel itu. Jelas bahwa ia berbicara tentang diriku, karena
mereka sekali-sekali melihat padaku. Beberapa orang yang
sedang duduk di bangku di luar hotel, menghampiri mereka
dan ikut mendengarkan, dan menoleh pula padalu. Kebanyakan
dari mereka melihat padaku dengan rasa iba. Kudengar
banyak kata yang sering diulang-ulang, kata-kata aneh,
karena di antara kumpulan orang banyak itu terdapat banyak
suku bangsa. Maka diam-diam kukeluarkan kamus aneka
bahasaku dari tas, dan kucari arti kata-kata itu. Ternyata
kata-kata itu mempunyai arti yang tak bagus. Di antaranya
adalah ordog - artinya setan, pokol - artinya neraka,
stregoica - artinya sihir, vrolok dan vlkoslak - keduanya
mempunyai arti yang sama. Yang satu adalah bahasa Slovak
dan yang satu lagi bahasa Servia, artinya serigala
jadi-jadian atau vampire (ingat, harus kutanyakan takhayul
itu pada Count).
Waktu kami berangkat, jumlah orang yang berkumpul di
dekat pintu penginapan itu telah bertambah banyak. Mereka
semua membuat tanda salib dan mengacungkan dua jari ke
arah diriku. Dengan susah payah aku berhasil meminta
bantuan seorang penumpang untuk memberitahukan apa maksud
mereka. Mula-mula ia tak mau menjawab, tapi setelah
mendengar bahwa aku orang Inggris, dijelaskannya bahwa itu
suatu penangkal atau penjagaan terhadap mata setan. Hal
itu membuatku tak senang. Aku baru saja akan berangkat ke
tempat yang tak kukenal, akan menemui seseorang yang tak
kukenal pula, tapi semua orang kelihatannya ingin berbaik
hati padaku, kelihatan sedih sekali dan begitu simpatik,
hingga mau tak mau aku merasa terharu. Aku takkan pernah
melupakan pemandangan terakhir di halaman penginapan itu,
juga semua orang yang ada di situ, yang mengenakan pakaian
indah beraneka ragam. Mereka semua membuat tanda salib.
Mereka berdiri di sekitar gerbang yang pintunya melengkung
dan lebar, berlatar belakang pohon-pohon oleander dan
jeruk yang berdaun rimbun di dalam tong-tong berwarna
hijau, mengelompok di tengah-tengah halaman. Lalu kusir
kereta kami yang bercelana linen sedemikian lebar, hingga
memenuhi tempat duduknya di depan, melecutkan cambuknya
pada keempat kudanya yang kecil-kecil, yang dipasang
sejajar. Dan dimulailah perjalanan kami.
Perasaan takutku pada setan-setan dengan segera
terlupakan, karena melihat pemandangan indah yang kami
lewati. Tapi, seandainya aku tahu bahasa mereka, atau
tepatnya bahasa-bahasa yang dipakai oleh teman-teman
seperjalananku, pasti takkan semudah itu aku melupakannya.
Di hadapan kami terhampar tanah hijau yang melandai, penuh
dengan hutan-hutan belukar, diselingi bukit-bukit terjal
di sana-sini. Di atasnya tumbuh sekelompok pepohonan atau
rumah-rumah petani yang dindingnya menghadap ke jalan. Di
mana-mana terdapat banyak pohon buah-buahan - apel, prem,
pir, ceri, semuanya sedang berbunga. Dan ketika kami lewat
di situ, kulihat rumput hijau di bawah pohon-pohon itu
bertaburkan bunga-bunga yang gugur. Jalannya
berbelok-belok, keluar-masuk di celah-celah bukit-bukit
hijau, di daerah yang kata mereka bernama Mittel Land itu.
Lalu, setelah memasuki sebuah tikungan berumput, jalan itu
seolah-olah hilang atau terlindung oleh pohon-pohon pinus
yang tumbuh berserakan di sisi-sisi bukit, seperti nyala
lidah api. Jalannya berbatu-batu, tapi kami serasa terbang
melewatinya dengan kecepatan sangat tinggi. Waktu itu aku
tak mengerti mengapa harus secepat itu. Kelihatannya
pengemudinya bertekad untuk secepatnya tiba di Borgo
Prund. Menurut cerita mereka, jalan itu bagus sekali dalam
musim panas, tapi sekarang belum dibersihkan dari bekas
salju musim dingin. Dalam hal itu keadaannya berbeda dari
keadaan jalan-jalan Carpathia, karena sudah merupakan
tradisi lama di sana bahwa jalan-jalan tak boleh
dipelihara terlalu baik. Zaman dahulu, orang-orang
Hospadar tak mau memperbaiki jalan-jalan karena takut
bangsa Turki mengira mereka bersiap-siap memasukkan
tentara asing, sehingga mereka pun cepat-cepat mengumumkan
perang, yang memang selalu mengancam kedua bangsa itu.
Lebih jauh dari bukit-bukit hijau Mittel Land, menjulang
lereng-lereng berhutan lebat, terus kearah puncak
Pegunungan Carpathia yang tinggi dan curam. Lereng-lereng
itu menjulang di kiri-kanan kami, ditimpa sinar matahari
petang yang langsung menyinarinya, dan dengan demikian
menonjolkan warna-warni indah dari daerah yang permai ini.
Warna-warna biru dan merah tua di bawah bayang-bayang
puncak, hijau dan coklat di tempat-tempat rumput dan batu
karang membaur. Kemudian terbentang batu karang bergerigi
dan karang-karang yang berujung tajam, sampai semuanya
menghilang di kejauhan, di tempat puncak-puncak bersalju
menjulang dengan megah. Disana-sini terdapat celah-celah
pada gunung-gunung itu. Melalui celah-celah itu,
sekali-sekali kami melihat kilatan air terjun yang putih
memancar, di timpa sinar matahari yang mulai terbenam.
Kami membelok melalui dasar sebuah bukit, dan dihadapan
kami tampak puncak sebuah gunung yang berselimut salju.
Puncak itu kelihatan tepat berada dihadapan kami, ketika
kami melalui jalan yang berliku-liku bagaikan ular. Waktu
itu, seorang teman seperjalananku mencolek lenganku dan
berkata,
"Lihat, itu Isten szek! Takhta Tuhan!" - dan ia pun
membuat tanda salib dengan khidmat.
Sewaktu kami melalui jalan berliku-liku yang seolah tak
berujung itu, dan matahari tenggelam makin rendah di
belakang kami, bayangan malam pun mulai menyelimuti kami.
Keadaan itu makin terasa, karena puncak gunung yang
bersalju masih menyimpan sinar lembut. Sekali-sekali kami
berpapasan dengan orang-orang Ceko atau Slowak yang
semuanya berpakaian aneka warna. Yang menarik tentang
mereka adalah, kebanyakan di antara mereka menderita
penyakit gondok. Di tepi jalan terdapat banyak salib, dan
waktu kami melesat melewatinya, semua teman seperjalananku
membuat tanda salib. Disana-sini ada pula pria atau wanita
yang sedang berlutut di depan sebuah altar. Mereka sama
sekali tak menoleh waktu kami mendekat. Agaknya mereka
sedang berdoa dengan demikian khusyuknya, hingga mata dan
telinga mereka tertutup terhadap dunia luar. Banyak hal
yang baru bagiku di situ, umpamanya jerami kering di
pohon-pohon, serta kelompok-kelompok pohon yang daunnya
berjuntai di sana-sini, dan batangnya tampak putih dan
bersinar seperti perak di celah-celah daunnya yang
berwarna hijau lembut. Kadang-kadang kami berpapasan
dengan leiter-wagon, yaitu gerobak petani - yang berbadan
panjang seperti ular, sengaja dibuat demikian supaya
sesuai dengan keadaan jalan yang tak rata.
Digerobak-gerobak itu pasti duduk sejumlah buruh tani yang
akan pulang. Yang berkebangsaan Ceko dengan tas putih
mereka, dan bangsa Slowak dengan tas-tas beraneka warna.
Orang-orang Slowak itu membawa tongkat seperti tombak,
tapi berujung kapak.
Waktu malam tiba, udara menjadi dingin sekali. Senja yang
makin larut, tenggelam dalam kegelapan berkabut yang
disebabkan oleh pohon-pohon. Tapi waktu kami mendaki
melewati Celah, di lembah-lembah yang dalam di antara
bukit-bukit, masih kelihatan pohon-pohon cemara berlatar
belakang salju. Kadang-kadang, saat kereta memotong jalan
melewati hutan pinus, yang dalam gelap seolah-olah
mengurung kami, maka kegelapan memberikan efek yang aneh
dan mengerikan, menimbulkan kembali pikiran-pikiran dan
bayangan-bayangan seram yang telah ditanamkan oleh
orang-orang tadi. Matahari yang baru tenggelam menimbulkan
kabut-kabut gelap seperti hantu.
Di tengah-tengah Pegunungan Carphatia itu, jalan
seolah-olah melingkar tak henti-hentinya, melewati
lembah-lembah. Kadang-kadang lembah-lembah itu demikian
curamnya, hingga meskipun kami sangat tergesa-gesa,
kuda-kuda hanya bisa berjalan lambat-lambat. Aku ingin
turun saja dan berjalan, seperti yang biasa kulakukan di
negeriku sendiri. Tapi pengemudi melarangku dengan keras.
"Jangan, jangan," katanya. "Anda tak boleh berjalan di
sini, anjing-anjing terlalu buas." Lalu ditambahkannya,
mungkin untuk melucu - karena ia menoleh pada para
penumpang lain, yang tersenyum membenarkannya, "Dan,
sebelum Anda tidur nanti, mungkin Anda akan mengalami
banyak hal seperti itu." Ia hanya berhenti sebentar untuk
menyalakan lampunya.

DarkFigurez
09-05-2004, 04:18 PM
...

Waktu malam makin gelap, para penumpang nampak gelisah,
dan selalu ada saja yang berbicara dengan pengemudi,
seolah-olah mendorongnya untuk terus menambah kecepatan.
Dan pengemudi pun melecutkan cambuknya tanpa belas
kasihan, mendorong kuda-kudanya untuk berlari lebih cepat
dengan teriakan-teriakan nyaring. Lalu, dalam gelap
kulihat sepotong cahaya kelabu di depan kami, seolah-olah
ada celah pada bukit-bukit itu. Para penumpang jadi makin
kacau. Kereta gila itu terombang-ambing pada per kulitnya
yang besar, oleng seperti kapal yang dihantam badai di
laut. Aku harus berpegangan pada sesuatu. Jalanan menjadi
makin rata, dan kami serasa terbang. Lalu gunung-gunung
serasa makin dekat mengapit kami, dan seolah-olah
memandangi kami dengan marah. Kami memasuki Celah Borgo.
Beberapa teman seperjalananku memberiku hadiah-hadiah.
Barang-barang itu mereka berikan dengan paksa dan dengan
bersungguh-sungguh, hingga aku tak bisa menolak.
Barang-barang itu beragam dan aneh-aneh, tapi semuanya
diberikan dengan niat yang baik, dan disertai kata-kata
manis serta doa. Kali ini pun gerak-gerik mereka penuh
rasa takut, seperti yang kulihat di luar penginapan di
Bistritz tadi. Tak lupa mereka membuat tanda salib dan
mengucapkan doa penangkal terhadap mata setan yang jahat.
Sementara itu, kusir terus membungkukkan tubuhnya, dan
penumpang-penumpang di kedua sisi memandang tajam ke
kegelapan, dengan menjulurkan leher mereka di sisi kereta.
Jelas ada sesuatu yang istimewa akan terjadi, atau yang
mereka harapkan. Tapi waktu kutanyakan mengapa mereka
demikian, tak seorang pun di antara para penumpang itu mau
memberikan penjelasan. Keadaan tetap tegang beberapa saat
lamanya, sampai akhirnya kami lihat di hadapan kamu celah
itu terbuka di sisi timur. Di langit tampak awan gelap,
dan terasa seperti ada guntur yang berat dan menekan.
Rasanya daerah pegunungan itu telah membagi suasana
menjadi dua bagian, dan sekarang kami tiba di bagian yang
gemuruh. Kini aku pun melihat ke luar, ingin melihat
kalau-kalau kereta yang harus membawaku ke tempat Count
sudah ada. Setiap saat mungkin aku akan melihat lampu
kereta itu dalam gelap, tapi semuanya tetap gelap.
Satu-satunya cahaya yang terlihat adalah kelap-kelip lampu
kereta kami sendiri, diselubungi oleh uap keringat
kuda-kuda kami yang dipacu dengan keras, membubung seperti
awan putih. Kini kami bisa melihat jalanan yang berpasir
putih di hadapan kami, tapi di sana sama sekali tak tampak
kendaraan. Para penumpang bersandar dengan lega, tapi
sebaliknya aku merasa kecewa. Aku mulai memikirkan apa
sebaiknya yang harus kulakukan. Kulihat kusir melihat ke
arlojinya, dan mengatakan sesuatu pada penumpang-penumpang
yang lain. Aku hampir tak dapat menangkap kata-katanya,
karena diucapkan dengan suara yang amat halus. Kalau tak
salah ia berkata, " Satu jam lebih cepat daripada
seharusnya." Lalu, sambil berpaling padaku, ia berkata
dengan bahasa Jerman yang lebih buruk daripada bahasa
Jerman-ku.
"Tak ada kereta di sini. Rupanya tak ada yang menunggu
Tuan. Sebaiknya Anda sekarang ikut kami terus ke Bukovina,
dan kembali besok atau lusa. Sebaiknya lusa." Tapi
sementara ia berbicara, kuda-kuda mulai meringkik dan
mendengus, dan mengangkat kaki depan mereka tinggi-tinggi,
hingga si kusir harus menahannya kuat-kuat. Lalu di
belakang kami muncul sebuah kereta kecil yang ditarik oleh
empat ekor kuda. Kemunculan kereta itu disambut dengan
pekik serempak oleh para penumpang lain, sambil membuat
tanda salib. Kereta itu menyusul kami, lalu berhenti di
samping kereta kami. Dari cahaya lampu kami, dapat kulihat
bahwa semua kudanya hitam legam dan tegap-tegap. Kusirnya
adalah seorang pria bertubuh tinggi, berjanggut panjang
warna coklat, dan ia memakai topi hitam besar, yang
melindungi wajahnya dari kami. Aku hanya bisa melihat
kilatan sepasang mata yang sangat tajam. Waktu ia menoleh
pada kami, mata itu berkilat merah. Kepada kusir kami, ia
berkata, "Kau lebih cepat malam ini, Teman."
Si kusir menjawab dengan terbata-bata, "Herr Inggris
ingin cepat-cepat."
"Sebab itu kau ingin membawanya terus ke Bukovina,
bukan?" jawab kusir asing itu. "Kau tak bisa menipuku,
sahabatku. Aku tahu banyak, dan kuda-kudaku cepat." Sambil
berbicara, ia tersenyum. Dalam cahaya lampu kereta, tampak
mulutnya yang keras dan berbibir merah, giginya tajam dan
amat putih. Salah seorang teman seperjalananku membisikkan
pada yang lain, sebaris syair Lenore ciptaan Burger:
"Denn die Todten reiten schnell."*
(karena yang sudah mati cepat larinya)
Agaknya kusir asing itu mendengar ucapan tersebut, sebab
ia mendongak dengan senyum yang seolah-olah memancarkan
cahaya. Penumpang itu memalingkan kepalanya ke arah lain,
sambil mengacungkan dua jarinya ke arah kusir itu dan
membuat tanda salib.
"Kemarikan barang bawaan Herr Inggris," kata kusir itu,
dan dengan amat tangkas koper-koperku dimasukkannya ke
dalam kereta kecil itu. Lalu aku turun dari sisi kereta,
karena kereta kecil itu telah berada dekat di sebelah
kereta kami. Kusir asing itu membantuku turun, tangannya
yang memegang lenganku terasa seperti jepitan baja.
Agaknya ia memiliki kekuatan luar biasa. Tanpa berkata
apa-apa lagi, diguncangnya kendalinya, kuda-kudanya
membelok, dan kami pun melesat ke dalam kegelapan Celah.
Waktu aku menoleh ke belakang, tampak olehku uap dari
tubuh kuda-kuda tadi di cahaya lampu. Dan tampak bayangan
bekas teman-teman seperjalananku membuat tanda salib. Lalu
si kusir melecutkan cambuknya sambil berseru pada
kuda-kudanya, dan mereka pun meluncur ke arah Bukovina.
Setelah kereta itu tak tampak lagi, ditelan kegelapan, aku
merasa dingin dan aneh, dan kesepian. Tanpa
sepengetahuanku, sehelai mantel dipasangkan ke pundakku,
dan lututku ditutupi selimut. Lalu kusir itu berkata dalam
bahasa Jerman yang sempurna,
"Malam ini dingin, Mein Herr, dan Count, majikan saya
telah memerintahkan saya untuk mengurus Anda baik-baik. Di
bawah tempat duduk ada sebotol slivovitz,* (brendi
setempat yang terbuat dari buah plum) bila Anda
memerlukannya." Aku tidak meminumnya, tapi aku merasa
tenang, karena aku tahu bahwa minuman itu ada. Aku merasa
aneh, tapi tidak merasa takut.
Kereta berlari dengan kecepatan tinggi, lurus saja, lalu
kami membelok tajam dan melewati jalan yang lurus lagi.
Aku merasa seolah-olah kami melalui jalan yang sama sejak
tadi. Oleh karenanya, aku mulai memperhatikan
bagian-bagian tertentu yang menonjol, dan dapat
kusimpulkan bahwa dugaanku benar. Sebenarnya ingin aku
bertanya pada si kusir, apa arti semua itu, tapi aku takut
melakukannya, karena kupikir dalam kedudukanku sekarang,
protes yang bagaimanapun takkan ada pengaruhnya, kalaupun
ia memang sengaja memperpanjang perjalanan. Tapi kemudian,
karena aku ingin tahu sudah berapa lama waktu berlalu, aku
menyalakan korek api, dan melihat ke arlojiku. Ternyata
tinggal beberapa menit lagi tengah malam. Aku jadi merasa
agak shock, karena kurasa aku sudah ikut-ikutan percaya
akan takhayul mengenai tengah malam, gara-gara pengalaman
yang baru kudapat. Aku menunggu dengan perasaan tegang
yang menyiksa.
Lalu seekor anjing mulai melolong di sebuah rumah petani,
di suatu tempat yang jauh dari jalan. Suara itu seperti
suara ratapan panjang yang tersiksa dan amat ketakutan.
Suara itu disambut oleh suara anjing lain, lalu seekor
lagi dan seekor lagi, hingga mulailah suara lolong ramai ,
terbawa angin sepoi-sepoi di Celah itu. Suara itu seolah
datang dari seluruh negeri, sejauh daya khayal dapat
menangkapnya dalam kegelapan malam itu. Waktu mendengar
anjing yang pertama melolong, kuda-kuda menjadi tegang dan
mengangkat kepala mereka. Tapi si kusir berbicara pada
mereka dengan nada membujuk, dan kuda-kuda itu pun menjadi
tenang. Tapi mereka tampak menggigil dan berkeringat,
seolah baru saja melarikan diri dari sesuatu yang
menakutkan. Lalu dari jauh, dari gunung-gunung yang
mengapit kami, mulai terdengar suara lolong yang lebih
nyaring dan lebih tajam - lolong serigala. Aku dan
kuda-kuda, sama-sama terkena pengaruhnya. Aku ingin sekali
melompat dari kereta dan lari, sedang kuda-kuda itu
mengangkat kepala lagi, dan mengangkat kaki depan
tinggi-tinggi, hingga si kusir harus menggunakan seluruh
kekuatannya untuk menahan mereka agar tidak lepas. Tapi,
beberapa menit kemudian telingaku jadi terbiasa akan
suara-suara itu. Kuda-kuda pun menjadi tenang, hingga si
kusir bisa turun dari tempat duduknya, dan berdiri di
depan mereka, seperti yang kudengar biasa dilakukan oleh
para penjinak kuda. Usaha itu luar biasa hasilnya. Berkat
belaian-belaiannya, kuda-kuda itu bisa di kendalikan lagi,
meskipun mereka masih gemetar.

...

DarkFigurez
09-05-2004, 04:20 PM
...

Si kusir duduk kembali di
tempatnya, menggoyang kendalinya, dan kereta mulai
berjalan dengan kecepatan tinggi, ke arah kanan.
Tak lama kemudian, kami terkurung oleh pohon-pohon, yang
di tempat-tempat tertentu condong di atas jalanan hingga
kami seolah-olah melewati sebuah terowongan. Dan lagi-lagi
batu-batu karang yang seolah-olah memandangi kami dengan
marah, mengawal kami dengan tegapnya di kiri-kanan.
Meskipun berada di tempat terlindung kami bisa mendengar
angin yang bertiup kencang. Suaranya seperti orang
mengerang dan mendesis melalui batu-batu karang.
Cabang-cabang pepohonan bergesekan waktu kami melesat
melewatinya. Udara makin lama makin dingin, dan salju
halus seperti bedak mulai turun, hingga tak lama kemudian
kereta kami dan semua yang ada di sekeliling kami tertutup
selimut putih. Angin yang keras masih membawa suara
lolongan anjing-anjng, namun dengan menjauhnya kami, suara
itu jadi makin samar. Sebaliknya, suara lolong
serigala-serigala terdengar makin lama makin dekat,
seolah-olah binatang-binatang itu mengepung kami dari
segala arah. Aku menjadi takut sekali, begitu pula
kuda-kuda. Tapi si kusir kelihatannya sama sekali tidak
terganggu. Ia terus-menerus memalingkan kepalanya ke kanan
dan ke kiri, tapi aku tak bisa melihat apa-apa dalam gelap
itu.
Tiba-tiba, jauh di sebelah kiri kami, kulihat nyala api
biru yang berkelap-kelip. Pengemudi melihatnya pula pada
saat yang bersamaan. Ia segera menghentikan kuda-kuda,
lalu melompat turun, dan menghilang dalam gelap. Aku tak
tahu harus berbuat apa, apalagi karena lolong serigala
terdengar makin dekat. Tapi ketika aku sedang
bertanya-tanya, tiba-tiba kusir itu muncul lagi, dan duduk
di tempatnya, tanpa berkata apa-apa. Kami melanjutkan
perjalanan. Kurasa aku tertidur, dan aku terus-menerus
bermimpi tentang kejadian itu. Rasanya kejadian itu
berulang-ulang terus. Kini kusadari bahwa itu hanya suatu
mimpi buruk yang mengerikan. Suatu kali, nyala api itu
muncul demikian dekatnya dengan jalan, hingga dalam gelap
itu pun aku bisa memperhatikan gerak-gerik kusir itu. Ia
cepat-cepat pergi ke tempat nyala api itu muncul,
mengumpulkan beberapa buah batu yang dijadikannya semacam
alat, dan nyala itu pun padam. Suatu kali, terjadi pula
suatu bentuk penampakan yang aneh. Waktu ia berdiri di
antara aku dan nyala api itu, ia tidak memadamkannya.
Kulihat nyala itu bergoyang seperti hantu. Aku terkejut
sekali, tapi karena itu hanya terjadi sebentar, aku
mengambil kesimpulan bahwa itu adalah suatu tipuan
pengelihatan, karena mataku telah terlalu lama dan tegang
melihat kegelapan. Lalu beberapa lamanya tak ada nyala api
biru. Kami melaju terus dalam kegelapan itu, dengan suara
lolong serigala di sekeliling kami, seolah-olah
binatang-binatang itu mengikuti kami dalam suatu lingkaran
yang bergerak.
Akhirnya, pada suatu saat, si kusir pergi lebih jauh
daripada sebelumnya, dan selama ia pergi kuda-kuda gemetar
makin hebat, mendengus, dan menjerit ketakutan. Aku tak
tahu apa sebabnya, karena lolong serigala telah berhenti
sama sekali. Tapi pada saat itu, bulan yang seolah-olah
berjalan meniti awan-awan hitam, muncul dari balik batu
karang yang bergerigi karena penuh ditumbuhi pohon pinus.
Dan dalam cahaya bulan itu kulihat di sekeliling kami
selingkaran serigala yang memperlihatkan gigi-giginya yang
putih dan lidah merah terjulur, dengan anggota tubuh
berotot dan bulu tebal. Dalam keadaan diam,
binatang-binatang itu seratus kali lebih menakutkan
daripada kalau mereka melolong. Aku merasa tubuhku menjadi
lumpuh karena ketakutan. Bila kita berhadapan dengan
kengerian yang begitu hebat, barulah kita mengerti apa
arti kengerian itu sebenarnya.
Tiba-tiba semua serigala itu mulai melolong serempak,
seolah-olah cahaya bulan menimbulkan pengaruh aneh atas
diri mereka. Kuda-kuda meronta-ronta dan memberontak, dan
semuanya melihat ke sekeliling mereka dengan mata
membelalak liar, hingga ngeri melihatnya. Tapi lingkaran
serigala itu mengepung di segala penjuru, hingga mereka
terpaksa tinggal di dalam lingkaran itu. Kupanggil kusir
kereta, karena kulihat bahwa satu-satunya kesempatan
adalah mencoba untuk keluar dari lingkaran itu. Aku
berteriak dan memukul-mukul sisi kereta, dengan harapan
agar keributan yang kubuat bisa menakuti serigala-serigala
yang ada di sisi itu, dan supaya si kusir kereta bisa
lewat melalui celah itu. Aku tak tahu bagaimana ia datang.
Tiba-tiba saja kudengar suaranya yang nyaring dengan nada
memerintah. Waktu aku melihat ke arah suara itu berasal,
kulihat ia sedang berdiri di tengah jalan. Direntangkannya
lengannya yang panjang, lalu ia membuat gerakan
seolah-olah menyingkirkan suatu rintangan yang maya. Pada
saat itu juga, serigala-serigala itu mundur, dan makin
lama makin jauh. Dan pada saat itu pula awan tebal
menutupi bulan, hingga kami berada dalam kegelapan lagi.
Waktu aku bisa melihat lagi, si kusir sudah naik ke
kereta, sedang serigala-serigala itu sudah tak ada lagi.
Semua begitu aneh dan mengerikan. hingga aku dilanda rasa
takut, dan tak berani bergerak atau berbicara. Waktu
seakan-akan tak ada batasnya saat kami melesat. Kini kami
berada dalam kegelapan sempurna, karena awan yang bergerak
telah menyembunyikan bulan. Kami mendaki terus, sekali
menurun dengan amat cepat, tapi lebih sering mendaki.
Tiba-tiba kusadari bahwa si kusir sedang menghentikan
kuda-kuda. Kami berada di halaman yang amat luas dari
sebuah puri yang sudah tua sekali. Dari jendela-jendelanya
yang hitam dan tinggi-tinggi tak tampak secercah pun
cahaya. Dan benteng-bentengnya yang sudah rusak merupakan
garis bergerigi, menjulang tinggi ke langit yang
bermandikan cahaya bulan.

DarkFigurez
11-05-2004, 01:32 AM
5 Mei.

Pasti aku tadi tertidur, karena sekiranya aku dalam keadaan bangun, pasti aku tahu waktu kami mendekati tempat yang begitu mencolok. Dalam kegelapan, halaman itu kelihatan besar sekali. Dan karena ada beberapa jalan keluar yang gelap dari situ, lewat gerbang-gerbang lengkung yang besar-besar, maka kelihatannya lebih besar daripada keadaan sebenarnya. Aku belum sempat melihatnya siang hari.
Waktu kereta berhenti si kusir melompat turun, lalu mengulurkan tangan untuk membantuku turun. Lagi-lagi, mau tak mau, kurasakan kekuatannya yang luar biasa. Tangannya benar-benar seperti penjepit dari baja. Bila dikehendakinya, bisa saja ia meremukkan lenganku. Lalu dikeluarkannya barang-barangku, dan diletakkannya di tanah, di dekat kakiku. Aku berdiri di dekat sebuah pintu besar. Pintu itu tua dan dihiasi dengan paku-paku besi yang besar dan berada dalam kerangka pintu dari batu kokoh. Dalam cahaya samar dapat kulihat bahwa batu itu diukir, tapi ukirannya sudah sangat usang dimakan waktu dan cuaca. Saat aku berdiri, si kusir melompat ke tempat duduknya lagi, mengguncang tali kekangnya. Kuda-kuda mulai berjalan, dan kereta itu pun menghilang melalui salah satu gerbang gelap itu.

Aku berdiri terpaku di situ, karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Sama sekali tak kulihat bel atau alat pengetuk pada pintu itu, sedangkan suaraku pasti tak dapat menembus tembok-tembok tebal dan jendela-jendela gelap itu. Rasanya lama sekali aku harus menunggu, dan aku dilanda rasa ragu dan takut. Tempat apa yang telah kudatangi ini, dan orang-orang macam apa ini? Petualangan apa yang akan kuhadapi? Apakah peristiwa ini biasa dialami oleh seorang karyawan kantor penasihat hukum, yang diutus untuk menjelaskan tentang pembelian sebidang tanah di London pada seorang asing? Karyawan kantor penasihat hukum! Mina tak suka aku disebut begitu. Aku seorang penasihat hukum, katanya - karena tak lama sebelum berangkat dari London, aku menerima berita bahwa ujianku sudah berhasil, dan aku pun menjadi penasihat hukum
sepenuhnya!

Kugosok-gosok mataku dan kucubit lenganku untuk meyakinkan diri apakah aku benar-benar dalam keadaan bangun. Semuanya rasanya seperti mimpi buruk yang mengerikan. Aku ingin tiba-tiba terbangun dan mendapati diriku di rumah, sementara sinar fajar sedang berjuang menembus jendela kamarku, sebagaimana sering kurasakan di pagi hari, setelah malam harinya bekerja lembur. Tapi dagingku merasakan sakitnya cubitanku, dan mataku tidak tertipu. Aku memang dalam keadaan bangun dan berada di tengah-tengah Pegunungan Carpathia. Yang dapat kulakukan sekarang hanyalah bersabar, dan menunggu datangnya pagi hari.

Baru saja aku tiba pada kesimpulan itu, kudengar langkah-langkah berat di balik pintu besar itu, dan melalui celah-celahnya kulihat cahaya mendekat. Lalu kudengar gemerincing rantai dan bunyi palang pintu yang besar dicabut. Sebuah kunci diputar dengan bunyi nyaring dan berderak karena lama tak dipakai, lalu pintu itu pun terbuka.
Di dalam, berdiri seorang pria tua bertubuh tinggi. Wajahnya tercukur bersih, kecuali kumis panjang yang putih. Ia berpakaian hitam seluruhnya, dari kepala sampai ke kaki, tanpa secercah warna lain di tubuhnya. Ia memegang sebuah lampu perak yang unik. Api di lampu itu menyala tanpa cerobong kaca atau semprong, dan membuat bayang-bayang panjang yang bergoyang-goyang, karena nyala api itu ditiup angin lewat celah pintu yang terbuka. Pria itu mengisyaratkan dengan tangan kanannya supaya aku masuk. Sopan santunya sempurna, dan ia berkata dengan bahasa Inggris yang baik sekali, dengan logat aneh,
"Selamat datang di rumah saya! Silahkan masuk dengan
bebas!"
Ia tak bergerak untuk memberiku jalan masuk, melainkan berdiri saja seperti patung, seolah-olah penyambutannya tadi telah mengubahnya menjadi batu. Tapi begitu aku melangkahi ambang pintu, ia melangkah maju dan langsung mencekam lenganku dengan kekuatan yang menyebabkan aku meringis kesakitan. Rasa sakit itu disertai dengan kesadaran bahwa tangan itu dingin seperti es - bukan seperti tangan orang hidup, melainkan seperti tangan orang mati. Lalu ia berkata lagi,
"Selamat datang di rumah saya. Datanglah dengan bebas,
pergilah dengan selamat, dan tinggalkanlah sedikit dari
kebahagiaan yang Anda bawa, di sini!"
Kekuatan tangannya yang menyalamiku sama benar dengan tangan kusir yang wajahnya tak pernah kulihat tadi. Aku jadi curiga, jangan-jangan orang yang menyalamiku ini adalah kusir tadi juga. Untuk meyakinkan diri, aku bertanya,
"Apakah Anda Count Dracula?"
Ia membungkuk dengan khidmat dan menjawab,
"Saya Dracula, dan saya mengucapkan selamat
datang pada Anda, Mr. Harker. Silahkan masuk udara malam dingin sekali, dan Anda harus makan dan beristirahat."
Sambil berbicara diletakkannya lampu itu di atas sebuah penyangga pada dinding. Lalu diangkatnya barang-barangku dan dibawanya masuk, sebelum aku sempat mencegahnya. Aku melarangnya membawa barang-barangku itu, tapi ia memaksa.
"Tidak, Sahabat, Anda tamu saya. Hari sudah malam, dan
para pelayan saya tak ada lagi. Biarlah saya sendiri yang
mengurus kenyamanan Anda."
Ia memaksa untuk membawa terus koper-koperku. Kami berjalan di sepanjang lorong rumah, lalu menaiki tangga besar yang berkelok-kelok, dan melalui sebuah lorong yang besar lagi. Langkah-langkah kami menimbulkan gaung nyaring pada lantai batu itu. Di ujung lorong, di bukanya sebuah pintu yang berat. Aku senang melihat bahwa kamar itu terang. Di situ ada sebuah meja, di mana tersedia makan malam, sedang di perapian yang
besar terdapat kayu api besar-besar yang baru saja dinyalakan, dan nyalanya besar. Count berhenti. Setelah meletakkan koper-koperku, ditutupnya pintu. Ia menyeberangi kamar itu, lalu membuka sebuah pintu lain yang menuju ke sebuah kamar kecil bersegi delapan yang hanya disinari sebuah lampu, dan kelihatannya tidak memiliki jendela satu pun. Kamar itu dilewatinya, dan ia membuka sebuah pintu lagi. Diisyaratkannya supaya aku masuk. Pemandangan di situ membesarkan hatiku, karena kamar itu adalah sebuah kamar tidur besar, terang, dan dihangati sebuah perapian yang juga memakai kayu api. Agaknya kayunya juga baru ditambahkan, karena kayu di bagian atas belum terbakar. Bunyi gemeretak api yang besar menimbulkan gema ke cerobong asap besar. Setelah meninggalkan barang-barangku di dalam, ia keluar. Sebelum menutup pintu, ia berkata,
"Setelah perjalanan tadi, Anda pasti merasa perlu mandi
untuk menyegarkan tubuh Anda. Segalanya sudah tersedia
untuk Anda. Kalau Anda sudah selesai, silahkan ke kamar
sebelah. Di sana makanan Anda sudah tersedia."

Kamar terang dan hangat, serta sambutan Count yang baik, agaknya telah menghilangkan semua keraguan dan rasa takutku. Setelah kembali pada keadaan normalku, barulah terasa olehku bahwa aku lapar sekali. Jadi aku cepat-cepat mandi, lalu pergi ke kamar sebelah.Kudapati makan malam sudah tersedia. Tuan rumahku berdiri di salah satu sisi perapian. Ia bersandar pada dindingnya, lalu dengan anggun menunjuk ke meja makan, dan berkata,
"Silahkan duduk, dan silahkan makan sepuasnya. Harap maafkan saya tidak menyertai Anda, karena saya sudah makan sore-sore, dan tak pernah makan malam lagi."
Kuserahkan padanya amplop surat yang tertutup rapat, yang telah dipercayakan Mr. Hawkins padaku. Surat itu dibukanya, lalu dibacanya dengan sungguh-sungguh. Lalu, dengan senyum yang menarik, diberikannya surat itu padaku supaya kubaca.Setidaknya ada satu bagian dari surat itu yang membuatku senang.

Saya menyesal sekali karena pada saat ini penyakit encok saya kumat. Saya memang sudah lama menderita penyakit ini. Hal itu menyebabkan saya sama sekali tak bisa mengadakan perjalanan selama beberapa waktu yang akan datang. Tapi saya senang karena bisa mengutus pengganti yang amat saya percayai. Dia adalah seorang anak muda yang penuh semangat, berbakat, dan amat setia. Dia pandai menyimpan rahasia dan pendiam. Apalagi sudah sejak muda dia bekerja pada saya, dan boleh dikatakan telah tumbuh di bawah bimbingan saya. Dia siap melayani keinginan Anda selama dia berada di sini, dan dia akan menjalankan instruksi-instruksi Anda mengenai semua urusan.

...

DarkFigurez
11-05-2004, 01:34 AM
...

Count mendekat, lalu membuka penutup makanan. Aku pun segera menyerbu ayam panggang yang enak sekali. Makan malamku terdiri atas ayam panggang, keju, selada, dan sebotol anggur Tokay. Aku minum dua gelas anggur. Sementara aku makan, Count banyak bertanya, terutama mengenai perjalananku. Dan sedikit demi sedikit, kuceritakan semua pengalamanku. Selesai makan, tuan rumahku mengajakku duduk di dekat perapian, dan menawarkan cerutu padaku. Kali ini pun ia minta maaf karena tak ikut merokok. Kini aku mendapat kesempatan untuk memperhatikannya, dan kurasa ia memiliki susunan tubuh dan wajah yang unik. Wajahnya bergaris keras - keras sekali, hidungnya bengkok, batang hidungnya lebar, sedangkan cuping hidungnya melengkung. Dahinya tinggi, rambutnya lebat, tapi pada pelipisnya tipis. Alisnya tebal sekali, hampir bertemu di atas hidungnya, seperti semak yang melingkar-lingkar. Mulutnya, sejauh yang dapat kulihat melalui kumisnya yang lebat, kaku dan tampak kejam. Giginya berbentuk aneh, tajam dan putih, dan menjorok keluar dari bibirnya. Bibirnya merah dan segar sekali, suatu hal yang mengejutkan, karena menunjukkan tenaga hidup yang besar, padahal ia sudah berumur. Telinganya pucat, dan bagian atasnya runcing sekali, dagunya lebar dan kokoh, sedangkan pipinya terik namun tirus. Secara umum, ia sangat pucat. Waktu tanganya diletakkan di atas lutut dan kena cahaya api, kulihat punggung tangannya putih dan halus, Tapi setelah kulihat dari dekat ternyata tangan itu kasar, telapaknya lebar, dan jemarinya bengkok. Yang paling aneh, di tengah-tengah telapak tangannya tumbuh rambut. Kukunya panjang dan halus, dan dipotong sangat runcing. Waktu Count membungkukkan tubuhnya ke arahku dan meyentuh
tubuhku, aku bergidik tanpa bisa ditahan. Mungkin karena napasnya berbau busuk, hingga aku merasa amat mual, dan aku tak dapat menyembunyikannya, meskipun sudah kuusahakan. Ternyata Count menyadari hal itu. Ia menarik diri sambil tersenyum. Dengan demikian, giginya yang menonjol keluar tampak makin jelas. Ia duduk kembali di tempatnya, di sisi lain perapian. Beberapa lama kami berdua berdiam diri. Waktu aku melihat ke jendela, ternyata fajar sudah menyingsing. Segala-galanya terasa sepi, tapi waktu kudengar baik-baik, serasa ada suara lolongan serigala dari lembah di bawah. Mata Count
berkilat, dan ia berkata,
"Dengarlah mereka, anak-anak malam. Indah sekali musik
mereka!"
Kurasa, karena melihat air mukaku yang keheranan, ia berkata lagi,
"O, ya kalian penghuni kota besar, tentu tak mengerti
perasaan seorang pemburu."
Lalu ia diam, dan bangkit sambil berkata,
"Anda pasti sangat letih. Kamar tidur Anda sudah siap.
Silahkan Anda tidur, dan bangun sesuka Anda. Saya harus
pergi sampai petang, jadi selamat tidur dan selamat
bermimpi!"
Sambil membungkukkan tubuh dengan hormat, ia sendiri yang membukakan pintu kamar yang bersegi delapan itu untukku. Dan aku pun masuk ke kamar tidurku...

Aku berada dalam lautan penuh keajaiban. Aku ragu, takut, dan yang kupikirkan adalah hal-hal aneh yang tak berani kuakui, bahkan pada jiwaku sendiri pun tidak. Tuhan, lindungilah aku, sekurang-kurangnya demi orang-orang yang kusayangi!

DarkFigurez
11-05-2004, 01:57 AM
7 Mei.


Hari sudah pagi lagi. Letihku sudah hilang, dan aku sudah bersantai-santai selama dua puluh empat jam terakhir ini. Aku tidur semauku, dan bangun sesukaku. Setelah berpakaian, aku pergi ke ruangan tempat aku makan semalam. Di sana sudah tersedia makanan pagi yang dingin dan kopi yang tekonya diletakkan di atas perapian supaya tetap panas. Di atas meja terletak sehelai kartu bertuliskan:
Saya tak berada di rumah untuk beberapa lama. Tak usah
tunggu saya. Dracula.

Aku duduk, lalu sarapan dengan enak. Waktu sudah selesai, aku mencari-cari bel atau semacamnya, untuk memberitahu pelayan bahwa aku sudah selesai. Tapi aku tidak menemukannya. Ada beberapa keanehan di rumah ini. Keadaan di sekelilingku menunjukkan kekayaan yang luar biasa. Peralatan makannya dari emas yang indah sekali tuangannya, jadi pasti mahal sekali harganya. Tirai-tirai dan bahan pelapis kursi-kursi serta sofa-sofanya, juga kelambu tempat tidurku, semuanya dari bahan yang amat bagus dan pasti mahal. Dan barang-barang itu juga pasti tinggi mutunya, karena sudah berusia berabad-abad, namun keadaannya masih baik. Aku pernah melihat barang-barang semacam itu di Hampton Court, tapi yang di sana sudah usang, robek-robek, dan dimakan ngengat. Anehnya, tak ada satu pun kamar yang bercermin. Bahkan di atas meja riasku pun tak ada, hingga aku harus mengelurkan kaca cukurku dari tas, kalau aku akan bercukur atau menyikat rambutku.

Aku belum melihat seorang pun juga di dekat puri itu. Hanya lolong serigala yang terdengar. Pada suatu kali, setelah makan aku melihat ke sekelilingku, mencari-cari sesuatu untuk dibaca. Aku tak mau pergi ke bagian lain puri itu, sebelum mendapat izin dari Count. Tapi di dalam ruangan itu sama sekali tak ada buku, surat kabar, atau bahkan alat-alat tulis. Jadi kubuka sebuah pintu lain yang ada di ruangan itu, dan kutemukan semacam ruang perpustakaan. Pintu di seberang kamarku pun kucoba membukanya, tapi pintu itu terkunci. Aku senang sekali, karena di dalam ruang perpustakaan itu kudapati sejumlah besar buku berbahasa Inggris. Rak-rak penuh dengan buku-buku itu. Ada pula majalah-majalah yang dijilid, juga surat-surat kabar, meskipun tak ada nomor-nomor yang baru. Buku-bukunya amat beraneka ragam - sejarah, ilmu bumi, politik, politik perekonomian, ilmu pertanian, ilmu pertanahan, ilmu hukum - semuanya berhubungan dengan Inggris. Bahkan ada buku-buku petunjuk seperti buku petunjuk kota London, buku "Merah" dan buku "Biru", almanak Whitaker, petunjuk-petunjuk mengenai Angkatan Darat dan Angkatan Laut, dan yang paling menyenangkan hatiku adalah buku The Law List. Ketika aku sedang melihat-lihat buku-buku itu, pintu terbuka, dan Count masuk. Ia menyapaku dengan amat ramah, berharap tidurku nyenyak. Lalu katanya lagi,
"Saya senang Anda sudah menemukan kamar ini, karena saya
yakin di sini banyak yang menarik minat Anda. Buku-buku
ini, " - diletakkannya tangannya di atas buku-buku itu - "adalah teman-teman baik saya. Dan selama bertahun-tahun, sejak saya punya gagasan untuk pergi ke London, buku-buku ini bisa menghibur saya selama berjam-jam. Lewat buku-buku inilah saya mengenal negeri Anda, Inggris yang besar itu, dan dengan mengenalnya, saya jadi mencintainya. Saya ingin sekali berjalan di jalan-jalan ramai di kota London yang besar itu. Saya ingin berada di tengah-tengah pusaran dan arus manusianya, ikut merasakan kehidupannya, perubahannya, kematiannya, dan semuanya yang telah membuatnya jadi begitu. Tapi...sayang! Selama ini saya hanya mengenal bahasa Anda lewat buku-buku saja. Berkat Anda, Sahabat, saya jadi tahu bahwa saya bisa
menggunakannya."
"Tapi, Count," kataku,
"bahasa Inggris Anda sempurna!"
Ia membungkuk dengan khidmat.
"Terima kasih, Sahabat, atas penilaian Anda yang membuat saya merasa tersanjung. Tapi saya takut, karena saya merasa pengetahuan saya mengenai jalan yang ingin saya tempuh masih sangat sedikit. Memang saya tahu tata bahasa dan kata-katanya, tapi saya belum tahu cara-cara memakainya."
"Sungguh," kataku,
"bahasa Inggris yang Anda pakai baik sekali."
"Tidak begitu baik," sahutnya.
"Yah, saya yakin bila saya berada di London dan berbicara, takkan ada seorang pun yang tak tahu bahwa saya orang asing. Itu tak cukup bagi saya. Di sini saya orang terkemuka, seorang bangsawan. Orang-orang biasa mengenal saya, dan saya dianggap tuan besar. Tapi seorang asing di suatu negara asing, bukanlah siapa-siapa. Orang-orang tidak mengenalinya, dan karena tak dikenal, tentu tak disukai. Saya sudah cukup puas bila saya sama dengan yang lain, supaya tak ada orang yang berhenti bila melihat saya, atau harus berhenti berbicara bila dia mendengar kata-kata saya, 'Ha, ha, orang asing rupanya.' Saya ingin tetap menjadi tuan besar - atau setidaknya, supaya tak ada orang lain yang merasa dirinya lebih tuan besar daripada saya. Anda datang kemari tidak hanya sebagai wakil teman saya, Peter Hawkins dari Exeter, untuk menceritakan segala sesuatu pada saya tentang tanah dan bangunan sata yang baru di London. Saya harap Anda mau tinggal di sini beberapa lama, supaya dengan bercakap-cakap, saya bisa mempelajari logat bahasa Inggris. Dan saya minta Anda memberitahu saya bila saya membuat kesalahan dalam cara bicara saya, seberapa pun kecilnya. Maafkan, saya harus pergi lama tadi. Saya yakin Anda pasti mau memaafkan seseorang yang harus menyelesaikan begitu banyak urusan."
Tentu saja kukatakan bahwa aku maklum, dan kutanyakan apakah aku boleh masuk ke ruangan perpustakaan itu kapan saja aku ingin. Jawabnya
"Ya, tentu boleh," dan ditambahkannya,
"Anda boleh pergi ke mana pun Anda suka dalam puri ini, kecuali yang pintunya terkunci. Saya yakin, Anda tentu tak ingin masuk ke kamar-kamar itu. Ada alasannya mengapa semua barang di sini harus dijaga supaya tetap seperti sediakala. Dan sekiranya Anda bisa melihat seperti mata saya, dan tahu apa yang saya ketahui, mungkin Anda lebih mengerti."
Kukatakan bahwa aku sependapat dengannya, dan ia berkata lagi,
"Kita berada di Transylvania, dan Transylvania buka Inggris. Cara-cara kami lain dari cara-cara Anda, dan Anda banyak menemukan hal aneh. Ya, dari apa yang telah Anda ceritakan tentang pengalaman-pengalaman Anda, Anda sudah tahu sedikit tentang hal-hal aneh yang ada di sini."
Itu berlanjut dengan keterangan-keterangan yang lebih panjang. Dan karena kelihatannya ia ingin bercakap-cakap, meskipun hanya untuk bercakap-cakap biasa saja, aku pun lalu banyak bertanya mengenai hal-hal yang sudah terjadi atas diriku, atau yang sudah kulihat. Kadang-kadang ia mengelakkan pokok pembicaraan, atau mengalihkan percakapan dengan pura-pura tak mengerti. Tapi pada umumnya ia menjawab semua pertanyaanku dengan jujur. Beberapa lama kemudian, setelah aku menjadi lebih berani, kutanyakan mengenai beberapa hal aneh tentang malam kemarin. Seperti umpamanya mengapa kusir kereta pergi ke tempat-tempat ia melihat nyala api biru. Dijelaskannya bahwa sudah merupakan kepercayaan umum, bahwa pada malam tertentu setiap tahun - seperti kemarin malam umpamanya, waktu semua roh jahat dianggap bebas berkeliaran - terlihat nyala api biru di tempat ada harta karun tersembunyi.
"Harta karun itu," lanjutnya,
"disembunyikan di daerah yang Anda lalui kemarin malam. Kita tak bisa terlalu meragukan kepercayaan itu, karena tanah ini telah berabad-abad diperebutkan oleh suku-suku Wallach, Saxon, dan Turki. Yah, boleh dikatakan tak ada sejengkal pun tanah di seluruh daerah ini yang tidak tersiram darah manusia, baik darah pahlawan bangsa, maupun darah bangsa penyerbu. Zaman dulu sering terjadi pergolakan ketika bangsa Austria dan Hungaria datang berbondong-bondong, dan para pahlawan bangsa maju untuk menyambut mereka - pria dan wanita, orang tua dan bahkan anak-anak. Mereka menghadang di bukit-bukit karang di atas celah-celah, dan mereka mnghancurkan para penyerbu itu dengan salju buatan mereka. Waktu para penyerbu itu menang, hanya sedikit yang mereka dapatkan, karena semua kekayaan yang ada telah disembunyikan dengan aman di dalam tanah."
"Tapi bagaimana harta itu bisa tetap terpendam tanpa ditemukan orang?" tanyaku.
"Karena pastilah ada petunjuk ke tempat itu, kalau saja orang mau mencarinya."
Count tersenyum, dan waktu bibirnya tertarik ke atas gusinya, giginya yang panjang dan tajam menonjol dengan aneh, seperti gigi anjing. Jawabnya,
"Karena para buruh tani pengecut sekali! Nyala api itu hanya muncul pada satu malam dalam setahun, dan pada malam itu semua orang di negeri ini berusaha untuk tidak beranjak ke luar rumah. Kalaupun mereka keluar, mereka takkan tahu apa yang harus mereka perbuat. Yah, bahkan orang yang Anda ceritakan itu pun, yang telah menandai tempat nyala itu, siang harinya takkan bisa mencarinya lagi, meskipun untuk dirinya sendiri. Saya bahkan berani bertaruh bahwa Anda pun takkan bisa menemukan kembali tempat-tempat itu."
"Anda benar," kataku,
"saya sama sekali tak tahu ke mana harus mencarinya."
Lalu percakapan kami beralih pada soal-soal lain.
"Nah," katanya akhirnya,
"sekarang ceritakan tentang London, dan tentang tanah berikut rumah yang telah Anda temukan untuk saya."

DarkFigurez
11-05-2004, 01:58 AM
...

Aku meminta maaf atas kelengahanku, lalu aku pergi ke kamarku untuk mengambil berkas-berkasnya dari tasku. Sementara aku menyusun kertas-kertas itu, kudengar bunyi barang-barang pecah belah dan sendok garpu berkelentingan di kamar sebelah. Waktu aku melewatinya, kulihat bahwa meja sudah diatur dan lampu sudah dinyalakan, karena hari sudah gelap. Juga di ruang kerja dan di ruang perpustakaan, lampu-lampu sudah dinyalakan, dan kudapati Count sedang berbaring di sofa sambil membaca. Anehnya, yang dibacanya adalah English Bradshaw's Guide, sebuah buku petunjuk. Waktu aku masuk, disisihkannya buku-buku dan kertas-kertas di meja, dan kami pun mulai membahas berbagai rencana, perjanjian-perjanjian, dan angka-angka. Ia menaruh minat pada segala-galanya, dan banyak sekali bertanya tentang tempat itu dan sekitarnya, dan akhirnya ternyata ia tahu jauh lebih banyak daripada aku. Waktu hal itu kukemukakan ia berkata,
"Yah, bukankah memang sepantasnya saya tahu? Kalau saya pergi ke sana nanti, saya akan seorang diri, dan Anda, sahabat saya Harker Jonathan - eh, maaf, saya telah memakai kebiasaan di negeri saya ini, yaitu menyebut nama keluarga dulu -maksud saya Anda, sahabat saya Jonathan Harker, takkan berada di samping saya lagi untuk memperbaiki dan membantu saya. Anda akan berada jauh di Exeter, mungkinmenangani surat-surat hukum dengan sahabat saya yang seorang lagi, Peter Hawkins. Begitulah keadaannya!"

Kami membahas sampai tuntas urusan pembelian tanah dan rumah di Purfleet itu. Kujelaskan segala-galanya, dan kuminta ia menandatangani surat-surat yang diperlukan. Aku juga sudah menulis surat pada Mr. Hawkins sehubungan dengan urusan itu, dan surat itu siap dimasukkan ke kantor pos. Count menanyakan padaku bagaimana aku sampai bisa menemukan tempat yang begitu cocok. Kubacakan catatan-catatan yang telah kubuat saat mencari tempat itu. Catatan itu kusertakan di sini.

Di sebuah simpang jalan di Purfleet, kutemukan tempat seperti yang diinginkan itu. Di depan rumah itu terpasang papan pemberitahuan yang sudah usang, bahwa tempat itu akan dijual. Rumah itu dikelilingi sebuah tembok tinggi berstruktur tua, terbuat dari batu besar-besar, dan sudah bertahun-tahun tidak diperbaiki. Pintu gerbangnya terbuat dari kayu ek yang besar dan sudah tua, serta dari besi yang seluruhnya sudah berkarat. Pintu itu tertutup.Rumah itu bernama Carfax. Nama itu pasti diambil dari buku berjudul Quatre Face. Rumah itu berbentuk segi empat, sesuai dengan titik arah utama pada kompas. Luas tanah seluruhnya kira-kira dua puluh ekar, dikelilingi tembok kokoh seperti sudah disebutkan di atas. Di situ terdapat banyak pohon, hingga di beberapa tempat tampak suram. Ada pula sebuah kolam atau danau kecil yang kelihatannya dalam. Agaknya kolam itu mendapatkan airnya dari beberapa buah mata air, karena airnya jernih dan mengalir ke sebuah parit yang cukup lebar. Rumahnya besar sekali, dan sudah sangat tua. Kurasa bangunan itu sudah ada sejak zaman abad pertengahan, sebab ada satu bagian terbuat dari batu yang bukan main tebalnya, hanya berjendela beberapa buah yang letaknya tinggi sekali dan berterali besi. Rumah itu seolah merupakan bagian dari sebuah benteng, dan berdekatan dengan sebuah kapel atau gereja tua. Aku tak bisa masuk ke dalamnya, karena aku tidak memiliki kuncinya. Tapi aku telah membuat beberapa foto dari beberapa sisi. Rumah itu baru kemudian ditambahkan, tapi bukan main hebatnya. Aku hanya bisa menebak berapa luas tanah yang ditempatinya. Pasti luas sekali. Hanya ada sedikit rumah di sekitar tempat itu. Satu di antaranya adalah sebuah rumah yang amat besar, yang baru-baru ini ditambahkan dan digunakan sebagai sanatorium penyakit jiwa, milik swasta. Tapi rumah itu tak kelihatan dari tempat yang kutemukan itu.

Setelah aku selesai membaca, ia berkata,
"Saya senang sekali rumah itu besar dan tua. Saya berasal dari keluarga tua, dan saya akan mati kalau disuruh tinggal di sebuah rumah model baru. Orang tak bisa membuat rumah yang layak huni dalam sehari, apalagi satu abad itu tak lama. Saya juga senang karena ada kapel tuanya. Kami, kaum ningrat Transylvania, tak ingin tubuh kami dibaringkan di antara orang-orang biasa. Saya tidak mencari keceriaan dan kesenangan, atau sesuatu yang besar dan mencolok, dengan banyak matahari dan air berkilauan, seperti yang disukai kaum muda yang ceria. Saya tidak muda lagi, dan hati saya sudah melewati tahun-tahun sedih karena meratapi yang sudah tiada, tak menginginkan kesenangan. Apalagi tembok-tembok puri saya sudah rusak, banyak bayang-bayangnya, dan angin menghembuskan udara dingin melalui celah-celah gerigi benteng dan jendela-jendela yang sudah rusak. Saya suka akan keteduhan dan bayang-bayang, dan kalau bisa, saya ingin menyendiri dengan pikiran saya."
Entah mengapa, aku merasa kata-katanya tak sesuai dengan pandangannya, mungkin karena air mukanya membayangkan senyum yang jahat seperti setan. Kemudian ia minta diri untuk meninggalkan aku, dan menyuruhku mengumpulkan semua surat-suratku. Lalu aku pun mulai melihat-lihat buku-buku yang ada di sekelilingku. Salah satu di antaranya adalah sebuah atlas yang terbuka pada peta Inggris. Agaknya peta itu sudah sering sekali
dipakai. Waktu kuperhatikan, kulihat bahwa pada tempat-tempat tertentu terdapat tanda-tanda lingkaran kecil, dan waktu tanda-tanda itu kuperhatikan lagi, kulihat bahwa satu lingkaran terdapat di dekat kota London, di sebelah timur, menunjukkan lokasi purinya yang baru. Dua lingkaran lain menunjukkan Exeter dan Whitby, di pantai Yorkshire. Lebih dari sejam kemudian, Count kembali.
"Wah!" katanya.
"Masih membaca? Itu bagus! Tapi Anda tak boleh bekerja terus. Mari, makan malam sudah siap."
Dituntunnya lenganku, dan kami pergi ke kamar sebelah, di mana makan malam yang enak sudah tersedia. Lagi-lagi Count meminta maaf tak kut makan, karena ia sudah makan sore waktu ia pergi tadi, katanya. Tapi, seperti malam kemarin, ia duduk dan mengobrol sementara aku makan. Setelah makan, aku merokok, seperti malam kemarin pula, dan Count menemaniku mengobrol dan menanyakan banyak hal selama berjam-jam. Aku merasa bahwa malam sudah larut, tapi aku tak mengatakan apa-apa, karena aku merasa sepantasnyalah aku menyesuaikan diri dengan keinginan tuan rumahku dalam segala hal. Aku tak merasa mengantuk, karena aku tidur sampai siang, dan aku merasa segar. Tapi mau tak mau, aku merasakan dingin yang biasa menerpa bila fajar hampir menyingsing, seperti juga perubahan pasang-surut air. Kata orang, orang-orang yang sudah sekarat umumnya meninggal pada saat pergantian fajar, atau pada saat perubahan pasang surut air. Orang yang letih, dan yang boleh dikatakan terikat pada tugasnya, dan yang telah mengalami perubahan itu, bisa mempercayainya. Tiba-tiba kami mendengar kokok ayam yang melengking di udara pagi yang cerah itu. Count Draclua terlompat, dan berkata,
"Wah, hari sudah pagi lagi! Alangkah lengahnya saya, membiarkan Anda bergadang. Seharusnya Anda tidak menceritakan hal-hal menarik tentang Inggris, yang akan menjadi negeri baru saya yang tercinta itu, supaya saya tak lupa betapa cepatnya waktu berlalu."
Dan sambil membungkuk sopan, ia cepat-cepat meninggalkanku.

Aku masuk ke kamarku sendiri. Kubuka tirai-tirai jendela, tapi tak banyak yang tampak. Jendelaku menghadap ke pekarangan, dan yang kulihat hanyalah langit kelabu yang cepat menjadi hangat. Maka kututup lagi tirai-tirai itu, dan kutulis tentang hari ini.

DarkFigurez
12-05-2004, 05:00 AM
8 Mei.

Sementara aku menulis dalam buku ini, aku mulai takut kalau-kalau aku terlalu berpanjang-lebar. Tapi sekarang aku senang bahwa sejak awal aku sudah menulis sampai pada hal-hal sekecil-kecilnya. Karena ada sesuatu yang aneh di tempat ini, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, hingga mau tak mau aku merasa resah. Alangkah baiknya bila aku berada di luar dalam keadaan selamat, atau tak pernah datang sama sekali. Mungkin suasana malam ini telah mempengaruhiku. Yah, alangkah baiknya kalau hanya itu saja! Kalau saja ada seorang teman bicara, aku bisa menanggungnya. Tapi kini tak ada seorang pun. Hanya ada Count, teman bicaraku, padahal ia...! Aku merasa akulah satu-satunya manusia bernyawa di tempat ini. Akan kuusahakan supaya aku tetap berpegang pada kenyataan saja. Itu akan membantuku untuk bertahan. Dan daya imajinasi dalam diriku tak boleh sampai musnah, sebab kalau itu sampai terjadi, habislah aku. Biarlah kukatakan langsung bagaimana keadaanku - atau kelihatannya.

Aku pergi tidur, tapi hanya bisa tidur beberapa jam. Dan karena merasa tak bisa tidur lagi, aku bangun. Cermin kecilku untuk bercukur telah kugantung di dekat jendela, dan aku akan mulai bercukur. Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan di pundakku, dan kudengar suara Count berkata,
"Selamat pagi."
Aku terkejut sekali, dan sangat heran mengapa aku tak melihat bayangannya di cerminku, padahal cerminku bisa menangkap bayangan dari seluruh kamar di belakangku. Karena terperanjat, wajahku terkena pisau cukur sedikit, tapi saat itu tak kusadari. Setelah membalas salam Count, aku kembali berpaling ke cermin. Aku ingin melihat dimana kekeliruanku. Kali ini aku tak mungkin salah, karena pria itu berada di dekatku, dan tetap tak ada bayangan dirinya di cermin! Seluruh ruangan di belakangku kelihatan, tapi tak ada bayangan orang, kecuali diriku sendiri. Hal itu amat mengejutkan, dan di samping begitu banyak hal aneh, hal itu makin menguatkan perasaan gelisahku yang semula masih samar, namun selalu mencul setiap kali Count berada di dekatku. Pada saat itu kulihat lukaku mulai berdarah sedikit, dan darah itu mulai nenetes ke daguku. Kuletakkan pisau cukurku, lalu aku berbalik akan mencari plester. Waktu Count melihat wajahku, matanya memancarkan kemarahan setan, dan ia tiba-tiba mencengkeram leherku. Aku mundur, dan terpegang olehnya merjan rosario tempat salibku tergantung. Peristiwa itu mendatangkan perubahan mendadak pada dirinya, karena kemarahannya tadi sirna demikian cepat hingga rasanya sulit aku percaya bahwa kemarahan itu tadi kulihat di wajahnya.
"Hati-hati," katanya,
"jangan sampai luka. Di negeri ini, luka lebih berbahaya daripada yang Anda duga."
Lalu, sambil mengambil kaca cukurku, ia berkata lagi,
"Dan ini adalah barang sial yang menimbulkan musibah. Ini tak lebih dari tetek bengek menjijikkan, perlambang keangkuhan kaum pria. Buang saja!"
Dibukanya jendela berat di situ dengan sekali putar, dengan tangannya yang mengerikan, lalu cerminku dilemparkannya. Barang itu hancur berkeping-keping di batu, di halaman bawah. Lalu ia keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Aku jengkel sekali, karena aku tak tahu bagaimana aku bisa bercukur. Mungkin dengan kaca arlojiku, atau bagian belakang pot krim cukurku, yang untungnya terbuat dari logam.

Waktu aku pergi ke ruang makan, sarapan sudah siap, tapi Count tak ada. Jadi aku sarapan seorang diri. Aneh, selama di sini, belum pernah aku melihat Count makan atau minum. Ia pasti seorang yang aneh sekali! Setelah sarapan, aku berkeliling melihat-lihat puri. Aku keluar ke tangga, dan kutemukan sebuah kamar yang menghadap ke selatan. Pemandangan dari situ indah sekali. Rupanya puri itu terletak tepat di tepi sebuah jurang yang mengerikan. Sebuah batu yang dilempar dari jendela, pasti jatuh beribu-ribu meter ke bawah, tanpa menyentuh apa-apa! Sejauh mata memandang, yang nampak hanya lautan pucuk pepohonan hijau, diselingi oleh celah yang sangat dalam, yaitu sebuah jurang. Di sana-sini tampak jalur perak, yaitu sungai-sungai yang berkelok-kelok di lekuk tanah yang dalam, melalui hutan rimba. Tapi aku tak ingin melukiskan keindahan alam. Setelah melihat keindahan itu, aku pergi untuk melihat-lihat lagi. Tapi yang kulihat adalah pintu, pintu, dan pintu. Di mana-mana pintu, dan semuanya terkunci dan berpalang. Kecuali melalui jendela-jendela pada tembok-tembok puri, sama sekali tak ada jalan keluar lagi.Puri itu merupakan sebuah penjara yang sempurna, dan aku terpenjara di dalamnya!

Waktu kusadari bahwa aku terpenjara, aku dilanda oleh perasaan ingin memberontak. Aku berlari menaiki dan menuruni tangga-tangga, mencoba membuka setiap pintu, dan melihat ke luar lewat setiap jendela yang kutemukan. Tapi tak lama kemudian, keyakinan akan keadaanku yang tak berdaya, mengatasi semua perasaan lain. Waktu aku mengingat hal itu kembali beberapa jam kemudian, aku merasa bahwa saat itu aku pasti sudah gila. Aku telah berperilaku seperti seekor tikus yang terperangkap. Tapi waktu sadar bahwa aku tak berdaya, aku duduk diam-diam - tak pernah aku duduk setenang itu sepanjang hidupku - dan mulai memikirkan apa yang sebaiknya kulakukan. Aku masih tetap berpikir, tapi masih belum mendapat keputusan pasti. Aku hanya menyadari satu hal, yaitu bahwa tak ada gunanya menyampaikan pikiranku itu pada Count. Ia tahu benar bahwa aku terpenjara, dan karena ia sendiri yang melakukannya, pasti dengan alasannya sendiri pula, ia hanya akan membohongiku bila kuceritakan kenyataan itu padanya. Sejauh ini, satu-satunya rencanaku adalah mendiamkan saja apa yang kuketahui, dan menyembunyikan rasa takutku, serta membuka mataku terus. Aku tahu, mungkin aku ditipu oleh rasa takutku sendiri, atau aku berada dalam keadaan sangat putus asa. Bila begitu keadaannya, aku sangat, sangat membutuhkan pikiran sehatku.

Baru saja kuambil keputusan itu, kudengar pintu besar di bawah tertutup, dan tahulah aku bahwa Count sudah kembali. Ia tidak langsung masuk ke ruang perpustakaan, jadi dengan hati-hati aku kembali ke kamarku sendiri. Di sana kulihat ia sedang membenahi tempat tidurku. Aneh, tapi hal itu menegaskan apa yang selama ini sudah kuduga, yaitu bahwa di rumah ini tak ada pelayan. Waktu kemudian kulihat melalui celah engsel pintu, ia sedang menyiapkan makanan di ruang makan, yakinlah aku. Bila ia harus melakukan sendiri semua pekerjaan rumah tangga, berati tak ada pelayan di sini. Aku jadi makin ketakutan, karena bila tak ada siapa-siapa lagi di puri ini, tentu Count sendiri pula yang telah mengemudikan kereta yang membawaku kemari. Ini mengerikan sekali, sebab bukankah itu berarti ia bisa menenangkan serigala-serigala hanya dengan mengangkat tangannya tanpa berkata apa-apa? Itukah sebabnya maka semua orang di Bistritz dan di kereta sangat ngeri memikirkan diriku? Apakah arti pemberian berupa salib, bawang putih, mawar liar, dan abu gunung itu? Aku bersyukur karena wanita yang baik itu telah menggantungkan kalung salib ke leherku. Benda itu memberiku rasa tenang dan kekuatan, setiap kali aku menyentuhnya. Aneh, benda yang - menurut ajaran yang kuterima - kurang baik dan tak boleh dipuja-puja, bisa memberikan ketenangan dalam kesepian dan kesusahan. Apakah itu disebabkan oleh inti yang terdapat dalam benda itu sendiri, atau apakah itu merupakan suatu alat, suatu bantuan berwujud, untuk menyampaikan rasa simpati dan hiburan? Kelak, bila ada kesempatan, aku harus menyelidiki hal itu dan mencoba menentukan sikapku. Sementara ini, aku harus menyelidiki sebisaku mengenai Count Dracula, karena hal itu mungkin bisa membantuku untuk mengerti. Malam ini mungkin ia akan berbicara tentang dirinya sendiri, bila percakapan kubelokkan kearah itu. Tapi aku harus amat berhati-hati, jangan sampai aku membangkitkan kecurigaannya.

...

DarkFigurez
12-05-2004, 05:05 AM
...


Tengah malam
Aku selalu bercakap-cakap lama dengan Count. Kuajukan beberapa pertanyaan mengenai sejarah Transylvania, dan ia menceritakannya dengan penuh gairah. Caranya bercerita tentang hal-hal dan orang-orang dan terutama tentang pertempuran-pertempuran, sangat hidup, seolah-olah ia hadir sendiri dalam peristiwa-peristiwa itu. Hal itu kemudian dijelaskannya dengan mengatakan bahwa bagi seorang boyar* (bangsawan), kebanggaan atas tanah air dan nama keluarga adalah kebanggaan tersendiri, kemenangan leluhurnya di zaman itu adalah kemenangannya pula, dan nasib leluhurnya adalah nasibnya pula. Bila berbicara tentang tanah airnya, ia selalu menggunakan kata "kami" dan ia berbicara dalam bentuk jamak, seperti kebiasaan seorang raja. Alangkah baiknya bila aku bisa menuliskan dengan tepat apa-apa yang dikatakannya, karena aku merasa amat tercekam. Agaknya di situlah tersirat seluruh sejarah negeri itu. Ia bersemangat sekali waktu berbicara. Ia berjalan hilir-mudik dalam ruangan itu, sambil menarik-narik kumisnya yang putih dan lebat, dan menangkap apa saja yang tersentuh olehnya, seolah-olah akan diremukkannya dengan segenap kekuatannya. Ada satu hal yang dikatakannya, yang akan kutuliskan sebatas kemampuanku, karena hal itu merupakan kisah suku bangsanya.
"Kami, suku Szekely, berhak merasa bangga, karena dalam urat kami mengalir darah dari banyak suku pemberani, yang telah berjuang seberani singa untuk membela pangerannya. Dalam pusaran suku-suku bangsa di Eropa ini, suku Ugric menurunkan semangat juang dari Thor dan Wodin dari Islandia. Pahlawan-pahlawan mereka memperlihatkan kegarangan mereka ke seluruh daratan Eropa. Ya, bahkan sampai ke Asia dan Afrika, hingga orang-orang di sana menyangka bahwa serigala jadi-jadianlah yang datang. Waktu mereka datang kemari, mereka menemukan suku bangsa Hun, yang semangat perangnya telah menyapu bumi bagaikan nyala api yang bernyawa, hingga orang-orang beranggapan bahwa dalam urat nadi mereka mengalir darah ahli-ahli sihir yang telah terusir dari Scythia dan menyatu dengan setan-setan di gurun. Tolol, sungguh tolol mereka! Mana ada setan atau sihir sehebat Attila yang darahnya mengalir dalam urat-urat ini?"
Diangkatnya kedua belah lengannya.
"Jadi, mengherankankah kalau kami menjadi suku bangsa yang selalu menang? Bahwa kami bangga, dan ketika suku-suku bangsa Magyar, Lombard, Bulgar, dan Turki, mengalirkan pejuang-pejuangnya ke perbatasan kami, kami mampu mengusir mereka? Anehkah ketika Arpad dan pasukannya menyapu Hungaria dan tiba di perbatasan kami, mereka temukan kami siap melawan di sini? Bahwa suku bangsa Honfoglala musnah di sana? Dan waktu pasukan Hungaria menyapu ke arah timur, suku bangsa Szekely mereka anggap punya pertalian darah dengan suku Magyar yang menang, dan mereka lalu mempercayakan pengawalan perbatasan tanah Turki kepada kami selama berabad-abad? Ya, lebih dari itu, mereka juga memberikan banyak sekali tugas kepada kami sebagai pengawal perbatasan, karena bangsa Turki mengancam, 'Air bisa tidur, tapi musuh tak pernah tidur.' Adakah yang lebih berbahagia daripada kami ketika menerima 'pedang berdarah'? Adakah yang lebih cepat berkumpul atas panggilan perang dari raja? Dan ketika bendera Wallach dan Magyar dijatuhkan oleh bendera bulan sabit Turki, siapakah yang menghapuskan aib mahabesar itu, aib yang telah menimpa bangsa saya dan aib bagi Cassova? Siapakah yang telah menyeberangi Sungai Danube di Voivode dan mengalahkan bangsa Turki di tanahnya sendiri, kalau bukan salah satu suku bangsa saya? Itulah keluarga Dracula! Sialnya, salah satu saudaranya, ketika dikalahkan, telah menjual bangsanya kepada bangsa Turki dan membawa aib perbudakan atas diri keturunan mereka! Apakah bukan Dracula ini yang telah membangkitkan semangat teman-teman sebangsanya yang lain, yang dalam abad berikutnya berulang kali membawa pasukannya menyeberangi sungai lebar itu memasuki Turki, dan waktu mereka terpukul mundur, telah datang kembali berulang kali, meskipun dia harus datang seorang diri dari medan berdarah tempat pasukannya habis terbantai, karena dia menyadari bahwa dia sendirilah yang akhirnya bisa menang! Orang berkata bahwa dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Bah! apalah artinya petani-petani bodoh tanpa seorang pemimpin? Kapan perang akan berakhir, tanpa otak dan semangat orang yang bisa memimpinnya? Lagi-lagi, setelah pertempuran Mohacs, waktu kami melepaskan diri dari penjajahan bangsa Hungaria, kami yang berdarah Dracula adalah salah satu pemimpinnya, karena kami tidak puas sebelum bisa bebas. Pokoknya, Sahabat, suku bangsa Szekely - dan warga Dracula sebagai intinya, otaknya, dan ujung tombaknya - bisa berbangga diri atas keberhasilan mereka, yang tak dapat disamai oleh warga-warga yang kemudian bermunculan seperti jamur, seperti warga Hapsburg dan Romanoff. Kini masa perang telah berlalu. Darah dianggap terlalu berharga dalam zaman damai yang tak terhormat ini, dan dari suku-suku bangsa besar, yang tertinggal adalah kisah yang diceritakan orang."

Waktu itu hari sudah hampir pagi, dan kami pergi tidur (catatan. Catatan harian ini aneh sekali, seperti awal dari kisah Seribu Satu Malam saja, karena selalu terputus pada saat ayam berkokok - atau seperti kisah ayah Hamlet yang telah menjadi hantu!)

Link
12-05-2004, 05:08 PM
dark ini bukan detil cerita bram stoker's dracula?

DarkFigurez
12-05-2004, 11:19 PM
Akhirnya ada yg melihat & komentar.... ;D
Yup, ini cerita dr Bram Stoker's Dracula. Tp dilihat dr catatan harian / diary dr masing2 karakter, jd bukan pengungkapan cerita sepenuhnya, shg ada beberapa event/kejadian yg tdk diceritakan. Tp bisa dijumpai nanti di buku harian karakter yg lain. Postingannya bakal ikut sesuai tgl dr diary-nya dicatat. Diary berikutnya tgl 15 mei.
Pokoknya ikuti terus kelanjutan kisahnya ya :D

DarkFigurez
12-05-2004, 11:38 PM
12 Mei.

Aku akan mulai dengan fakta-fakta - fakta-fakta nyata yang diperkuat oleh buku-buku dan angka-angka yang tak dapat diragukan. Aku tak boleh mencampuradukkannya dengan pengalaman-pengalaman yang hanya didasari oleh penelitian atau ingatanku sendiri mengenai hal itu. Kemarin malam, waktu Count datang, ia mulai menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan hukum, dan mengenai menjalankan beberapa macam usaha. Sebelum itu, aku membaca terus, dan sekadar untuk menyibukkan pikiranku, aku mempelajari beberapa persoalan yang telah diujikan padaku di Lincoln's Inn.
Ada urut-urutan tertentu dalam pertanyaan-pertanyaan Count, maka aku akan menuliskannya secara berurutan pula. Hal itu mungkin akan bermanfaat bagiku kelak. Pertama-tama, ia menanyakan apakah seseorang di Inggris boleh memiliki dua orang penasihat hukum atau lebih. Kukatakan bahwa seseorang boleh saja memiliki selusin penasihat hukum kalau ia mau, tapi tidaklah bijak memiliki lebih dari seorang penasihat hukum untuk mengurus satu transaksi, karena hanya seorang yang bisa bertindak dalam satu perkara, dan bila diganti, pasti akan bertentangan dengan kepentingannya sendiri. Kelihatannya ia mengerti betul. Lalu ditanyakannya lagi apakah dalam prakteknya ada kesulitan kalau umpamanya ia membayar satu orang untuk mengurus soal-soal perbankan, seorang lagi untuk mengurus pengapalan, bila umpamanya diperlukan bantuan orang setempat di suatu tempat yang jauh dari tempat penasihat hukum yang mengurus perbankan tadi. Kuminta agar ia memberikan penjelasan lebih terperinci, supaya aku tidak memberikan keterangan yang keliru. Maka ia berkata,
"Akan saya lukiskan. Sahabat kita berdua, Mr. Peter Hawkins, dari tempat tinggalnya yang indah di Exeter yang jauh letaknya dari London, telah membelikan saya sebuah bangunan di London, berkat bantuan Anda sendiri. Baik! Supaya Anda tidak merasa aneh mengapa saya telah meminta jasa seorang penasihat hukum yang begitu jauh dari London, dan bukan seseorang dari London sendiri, maka saya akan menjelaskannya. Alasan saya adalah, saya ingin hanya urusan saya sendiri saja yang diurusnya. Seorang penduduk London mungkin ingin melayani, tapi dengan tujuan kepentingan sendiri atau kepentingan temannya. Oleh karenanya, saya cari perwakilan yang hanya mengurus kepentingan saya sendiri. Nah, sekiranya saya, yang punya banyak sekali bidang usaha, ingin mengapalkan barang-barang ke Newcastle, atau Durham, atau Harwich, atau ke Dover umpamanya, apakah tidak lebih mudah membayar seorang penasihat hukum di salah satu pelabuhan itu?" Kujawab bahwa itu tentu sangat memudahkan, tapi kami para penasihat hukum punya sistem yang masing-masing saling merupakan agen dari rekannya, hingga tugas di suatu tempat dapat diselesaikan di tempat itu atas instruksi penasihat hukum mana pun. Klien bisa saja meminta supaya keinginan-keinginannya dilaksanakan di mana pun juga oleh penasihat hukum itu, tanpa kesulitan.
"Tapi saya bebas mengatur, bukan?" tanyanya.
"Tentu," sahutku,
"hal semacam itu sering dilakukan oleh pengusaha-pengusaha yang tak suka semua urusannya diketahui oleh siapa pun."
"Bagus!" katanya.
Lalu ia bertanya lagi mengenai cara-cara pengiriman barang, syarat-syarat yang harus dipenuhi, dan segala macam kesulitan yang mungkin timbul, yang sebenarnya bisa dicegah. Semua itu kujelaskan padanya sebatas kemampuanku. Ia benar-benar mengesankan. Ia sebenarnya bisa menjadi seorang pengacara hebat, karena sama sekali tak ada hal yang tak dipikirkannya atau tak diantipasinya. Sebagai orang yang pernah pergi ke negeri itu, dan yang kelihatannya belum banyak bergerak dalam bidang usaha, pengetahuan serta ketajaman pikirannya hebat sekali. Setelah ia puas dengan hal-hal yang ditanyakannya, dan setelah aku menjelaskannya sebisanya berdasarkan buku-buku yang ada, ia tiba-tiba bangkit dan berkata,
"Apakah Anda sudah menulis surat lagi kepada teman kita Mr. Peter Hawkins atau kepada orang lain, sejak surat yang pertama dulu itu?"
Aku menyesal sekali menjawab bahwa aku belum menulis lagi, dan bahwa aku belum punya kesempatan untuk menulis surat pada siapa-siapa.
"Kalau begitu tulislah sekarang, Sahabat," katanya,
sambil meletakkan tangannya yang berat di pundakku.
"Tulislah pada sahabat kita itu, atau pada siapa pun juga, dan katakan bahwa Anda akan tinggal di sini sebulan lagi."
"Apakah Anda menginginkan saya tinggal di sini begitu lama?" tanyaku.
Hatiku jadi terasa beku.
"Saya sangat menginginkannya. Ya, bahkan saya tak mau Anda menolak. Bila majikan Anda menugaskan seseorang untuk datang mewakilinya, orang yang mendapat tugas itu harus memenuhi semua kebutuhan saya, bukan? Saya tidak memberikan batas-batas, bukan?"
Aku tak bisa berbuat lain, kecuali membenarkannya. Ini adalah kepentingan Mr. Hawkins, bukan kepentinganku. Dan aku harus memikirkan dia, bukan diriku sendiri. Lagi pula, waktu Count Dracula berbicara, ada sesuatu pada mata dan sikapnya yang mengingatkan diriku bahwa aku terpenjara, dan kalaupun aku punya keinginan, aku tak punya pilihan. Count merasa menang karena sikapku yang mengalah, dan ia merasa berkuasa melihat wajahku yang susah. Ia pun langsung memanfaatkannya, dengan cara halus yang tak bisa ditolak.
"Saya minta Anda tidak menyinggung hal-hal lain kecuali bisnis dalam surat Anda itu. Teman-teman Anda pasti akan senang mendapat berita bahwa Anda baik-baik saja, dan bahwa Anda ingin sekali pulang untuk bertemu lagi dengan mereka."
Sambil berbicara, diberinya aku tiga helai kertas tulis dan tiga buah amplop. Kertas-kertas itu tipis sekali, bermutu luar negeri. Aku menatap kertas-kertas itu, dan kemudian ke arahnya. Ia tersenyum tenang, memperlihatkan giginya yang tajam, yang menutupi bibir bawahnya yang merah cerah. Melihat itu, mengertilah aku bahwa aku harus hati-hati mengenai apa yang kutulis, karena ia membacanya. Jadi aku bertekad untuk menulis surat-surat resmi saja sekarang. Tapi diam-diam aku akan menulis sejelas-jelasnya pada Mr. Hawkins, juga pada Mina, karena padanya aku bisa menulis dengan huruf steno, yang tidak akan dipahami Count, kalaupun ia membacanya.

Setelah menulis surat-suratku itu, aku duduk diam-diam, membaca buku, sedangkan Count menulis beberapa surat sambil sekali-sekali melihat ke buku-buku yang ada di mejanya, sebagai petunjuk. Kemudian diambilnya surat-suratku, dan diletakkan bersama surat-suratnya di dekat alat-alat tulisnya, lalu ia pergi. Begitu pintu tertutup, aku pergi ke meja dan melihat ke surat-suratnya yang diletakkan tertelungkup. Aku tak merasa bersalah berbuat begitu, karena dalam keadaanku, aku merasa harus melindungi diriku dengan cara apa pun juga. Salah satu suratnya ditujukan pada Samuel F. Billington, Crescent No. 7, Whitby. Yang satu lagi kepada Herr Leutner, Varna. Yang ketiga kepada Coutts & Co., London, sedang yang keempat kepada Herren Klopstock & Billreuth, bankirs, Budapest. Yang kedua dan keempat tidak dilem. Aku baru saja akan membacanya, waktu kulihat gagang pintu berputar. Cepat-cepat kuletakkan kembali surat-surat itu, lalu duduk kembali di kursiku, dan mengambil buku bacaanku lagi. Count masuk ke kamar dengan membawa sepucuk surat lagi. Diambilnya surat-surat yang ada di atas meja itu, lalu ditempeli prangko. Kemudian ia berpaling kepadaku dan berkata,
"Maafkan saya lagi, karena saya banyak urusan pribadi malam ini. Apa-apa yang Anda butuhkan sudah disiapkan semua."
Di pintu, ia berbalik lagi, dan setelah berdiam diri sebentar, ia berkata,
"Sebaiknya saya nasihatkan pada Anda - ya, saya peringatkan benar-benar pada Anda, supaya bila Anda keluar dari kamar-kamar ini, bagaimanapun juga, jangan sampai Anda tidur di bagian lain puri ini. Ini bangunan tua, banyak kenangan-kenangannya, dan banyak sekali mimpi buruk bagi siapa yang tidur sembarangan. Ingat itu! Kapan pun Anda mengantuk, cepat-cepatlah pergi ke kamar tidur Anda sendiri, atau salah satu kamar-kamar ini, karena di tempat-tempat ini istirahat Anda akan aman. Tapi kalau Anda tidak berhati-hati dalam hal itu..."
Ia menyudahi kata-katanya dengan cara yang mengerikan, dengan gerakan seolah-olah mencuci tangannya. Aku mengerti sekali. Hanya saja aku merasa ragu, apakah suatu mimpi bisa lebih seram daripada jaringan kesuraman dan misteri mengerikan dan tak wajar, yang sedang menyelubungi diriku ini.

...

DarkFigurez
12-05-2004, 11:42 PM
...

Beberapa waktu kemudian. Waktu kutuliskan kata yang terakhir itu, aku tak merasa ragu lagi. Aku takkan merasa takut tidur di mana pun juga, bila ia tak ada. Salibku telah kugantung di kepala tempat tidurku. Kubayangkan bahwa dengan demikian istirahatku akan bebas dari mimpi-mimpi. Dan salib itu akan tetap tergantung di situ. Setelah ia pergi, aku masuk ke kamarku. Sebentar kemudian, setelah aku tak mendengar apa-apa, aku keluar lagi dan menaiki tangga batu, ke tempat aku bisa melihat ke arah selatan. Di tempat yang terbentang luas itu, aku merasakan kebebasan yang takkan bisa kucapai. Saat melihat ke luar, aku benar-benar merasa seperti di dalam penjara, dan rasanya aku sangat membutuhkan udara segar, meski udara malam sekalipun. Aku mulai merasakan pengaruh malam ini. Hal itu rasanya merusak sarafku. Aku terkejut melihat bayang-bayangku sendiri, dan bermacam-macam khayalan mengerikan memenuhi benakku. Rasa takutku yang hebat itu jelas beralasan di tempat terkutuk ini! Aku memandang ke luar, ke tempat indah yang bermandikan cahaya bulan kuning lembut, hingga keadaan menjadi seperti siang. Dalam temaram lembut itu, bukit-bukit nun jauh di sana bagaikan menyatu dengan bayang-bayang gelap bak beludru di lembah-lembah dan jurang-jurang. Keindahan itu menyenangkan hatiku. Setiap kali menghirup napas, aku merasa damai dan nyaman. Saat aku bersandar pada jendela itu, mataku menangkap sesuatu yang bergerak di suatu tempat satu tingkat di bawahku, agak di sebelah kiri. Dari susunan kamar-kamarnya, kuduga itu adalah jendela kamar Count sendiri. Jendela tempatku berdiri itu tinggi dan bertiang batu. Meskipun sudah amat usang karena tuanya, batu itu masih utuh, tapi ambang kayunya agaknya sudah lama hilang. Aku bersembunyi di balik batu, dan melihat baik-baik ke luar. Yang kulihat adalah kepala Count yang terulur dari jendela. Aku tak melihat wajahnya, tapi aku bisa mengenalinya dari tengkuknya dan gerakan punggung dan lengannya. Apalagi, tak mungkin aku keliru melihat tangan yang sering kuperhatikan itu. Mula-mula aku hanya tertarik dan merasa senang, mengingat hal sekecil itu pun mampu menarik perhatian dan menyenangkan hati seseorang, bila ia terpenjara. Tapi perasaan-perasaan itu segera berubah menjadi rasa jijik dan ngeri, waktu kulihat bahwa seluruh tubuh pria itu perlahan-lahan keluar dari jendela dan mulai merayap menuruni tembok puri di atas jurang dalam yang mengerikan itu. Ia merayap dengan kepala di bawah, sedangkan mantelnya terentang di sekelilingnya, menyerupai sayap yang besar. Mula-mula aku tak percaya pada mataku. Kupikir itu adalah tipuan mengerikan dari suatu bayang-bayang. Lalu kuperhatikan baik-baik, dan kurasa aku tak mungkin salah melihat. Kulihat jemari tangan dan kakinya mencengkeram sudut-sudut batu yang sudah banyak terlepas dari tempelannya karena tuanya. Dengan memanfaatkan setiap bagian yang tak rata itu, ia bergerak terus ke bawah dengan kecepatan cukup tinggi, seperti seekor kadal yang melata di tembok.Manusia macam apakah dia, atau makhluk apakah dia yang menyerupai manusia? Kurasa tempat yang mengerikan itu telah menguasai diriku. Aku ketakutan - sangat ketakutan - dan aku tak dapat meloloskan diri. Aku terkurung oleh rasa takut yang tak dapat kubayangkan...

Link
13-05-2004, 11:19 AM
dark, kalo yang panjang2 gitu dikasih paragraf2 pemisah dong biar bacanya lebih enak, gw suka siwer kalo nyambung terus gitu :(

Hantu
13-05-2004, 04:35 PM
Ini bukannya dari novel Dracula?

DarkFigurez
14-05-2004, 04:01 AM
dark, kalo yang panjang2 gitu dikasih paragraf2 pemisah dong biar bacanya lebih enak, gw suka siwer kalo nyambung terus gitu
Ok, tp masalahnya aku kadang bingung mau dipisah dibagian yg mana, soalnya kadang ceritanya kan intense, padat berisi and nyambung terus2an, kalo dipisah takutnya jd aneh. Tp ntar aku usahain pisah2in biar nggak bikin siwer para pembaca :D

Ini bukannya dari novel Dracula?
Bram Stoker's Dracula.
Tp ini bukan novel biasa, yg ini cuma dr 1 sudut pandang, 1 karakter aja, jd cuma tau kejadian dr pandangan 1 karakter itu aja, cerita tdk langsung terungkap semua. Tp justru ceritanya jd lbh detail.
Kalo pengen tau sampe selengkap2nya, baca jg buku harian dr karakter2 lainnya ;)

Hantu
14-05-2004, 04:11 PM
Cerita Bram Stoker kan memang kayak diari gitu? Dan Bram Stoker kan memang pengarang asli Dracula? ::bingung::

DarkFigurez
17-05-2004, 01:29 AM
Update berikutnya akan dilanjutkan oleh saudara harker sendiri! :D

DarkFigurez
26-05-2004, 10:57 PM
Mana si harker???? ::bingung::
Ayo, ini ceritanya di-update sendiri, udah kelewat tanggalnya nih!