Liebe
26-05-2004, 09:53 AM
Beberapa minggu yang lalu gue mendapat kesempatan mengikuti acara team building di Port Dickson, Malaysia (+/- 2 jam dari KL).
Begitu melihat pembagian kamar, gue udah punya perasaan kur-ens karena teman [cewe] yang jadi teman sekamar gue (gue tahu) punya 6th sense yang lumayan kuat.
Bener aja, tempat kita ber-outing ternyata di pinggir hutan. Kita ditempatkan di log cabin yang jendela belakangnya menghadap ke hutan & kamar mandinya tanpa atap. ::ngg::
Malam pertama kita langsung jungle trek, alias tiap grup yang terdiri dari 12 - 14 org disuruh jalan menembus hutan cuma berbekal kompas 2 biji & senter 2 biji. Trekking dimulai jam 9 malam. Kebayang gak gelapnya kayak apa. Gue udah kebayang-bayang adegan di Blair Witch Program. ::ngg:: Sukur Alhamdulilah gue gak se-group apa temen gue yang punya 6th sense. Tapi sewaktu gue ketemu dia di akhir acara, wajahnya pucat pasi ketakutan. Dan temen gue yg se-group ama dia complain krn sepanjang jalan temen gue itu sibuk komat-kamit, merem & selalu memperingatkan yang lain untuk gak ngelamun ato ketawa keras-keras.
Belakangan (di pesawat menuju Jakarta) dia bilang di tengah hutan isinya rame banget. Ada yang semacam gendoruwo, pocong, tuyul item, sundel bolong yang memperhatikan mereka sepanjang jalan. Dan saban kali ada yg ngelamun ato tertawa terlalu keras, makhluk-makhluk itu menghampiri. ::ngg::
Malam kedua gue tidur sama dia, keliatan dia resah banget. Pucat pasi ketakutan. Gue juga takut banget sebenarnya tapi gue berusaha tetap tenang.
Eh ternyata baru juga gue memejamkan mata sebentar (belum tidur) tiba-tiba dia mencengkeram tangan gue sambil nanya dengan muka ketakutan, "Liebe, jangan ngorok dong." Siyal! :D:D I told her that I wasn't even sleep yet! Dia tambah ketakutan, ternyata dia denger ada suara laki-laki ngorok di kamar kita. Dan walaupun dia yakin itu bukan gue, dia pikir kali-kali aja itu gue. Walhasil semaleman kita terjaga sambil ngobrol & baca-baca.
Belakangan (kembali di pesawat menuju Jakarta) dia cerita bahwa malam itu di kamar kita ada yang nongkrong ngeliatin kita berdua. Orangnya tinggi besar & warnanya hitam kehijau-hijauan dan matanya merah. ::ngg:: ::hua:: Untung gue tahunya belakangan.
Anyway, dia juga cerita bahwa kayaknya tempat kita menginap 'dilindungi'. Jadi kalaupun mereka bisa mondar-mandir, mereka tetap gak akan bisa ganggu kita. Dia juga cerita bahwa dari jendela belakang log cabin kita dia ngeliat beberapa penampakan yang berusaha masuk ke lokasi nginep kita tapi sepertinya mental. Yang bisa masuk cuma si item ijo (buto ijo?) ama sesosok makhluk mirip kuntilanak. Tapi mereka gak ngapa-ngapain, cuma ngintipin kita-kita dari jendela. Dan terutama sekali mereka keliatan sangat tertarik ama beberapa rekan gue yang karaoke sambil mabuk-mabukan. ::ngg::
Begitu melihat pembagian kamar, gue udah punya perasaan kur-ens karena teman [cewe] yang jadi teman sekamar gue (gue tahu) punya 6th sense yang lumayan kuat.
Bener aja, tempat kita ber-outing ternyata di pinggir hutan. Kita ditempatkan di log cabin yang jendela belakangnya menghadap ke hutan & kamar mandinya tanpa atap. ::ngg::
Malam pertama kita langsung jungle trek, alias tiap grup yang terdiri dari 12 - 14 org disuruh jalan menembus hutan cuma berbekal kompas 2 biji & senter 2 biji. Trekking dimulai jam 9 malam. Kebayang gak gelapnya kayak apa. Gue udah kebayang-bayang adegan di Blair Witch Program. ::ngg:: Sukur Alhamdulilah gue gak se-group apa temen gue yang punya 6th sense. Tapi sewaktu gue ketemu dia di akhir acara, wajahnya pucat pasi ketakutan. Dan temen gue yg se-group ama dia complain krn sepanjang jalan temen gue itu sibuk komat-kamit, merem & selalu memperingatkan yang lain untuk gak ngelamun ato ketawa keras-keras.
Belakangan (di pesawat menuju Jakarta) dia bilang di tengah hutan isinya rame banget. Ada yang semacam gendoruwo, pocong, tuyul item, sundel bolong yang memperhatikan mereka sepanjang jalan. Dan saban kali ada yg ngelamun ato tertawa terlalu keras, makhluk-makhluk itu menghampiri. ::ngg::
Malam kedua gue tidur sama dia, keliatan dia resah banget. Pucat pasi ketakutan. Gue juga takut banget sebenarnya tapi gue berusaha tetap tenang.
Eh ternyata baru juga gue memejamkan mata sebentar (belum tidur) tiba-tiba dia mencengkeram tangan gue sambil nanya dengan muka ketakutan, "Liebe, jangan ngorok dong." Siyal! :D:D I told her that I wasn't even sleep yet! Dia tambah ketakutan, ternyata dia denger ada suara laki-laki ngorok di kamar kita. Dan walaupun dia yakin itu bukan gue, dia pikir kali-kali aja itu gue. Walhasil semaleman kita terjaga sambil ngobrol & baca-baca.
Belakangan (kembali di pesawat menuju Jakarta) dia cerita bahwa malam itu di kamar kita ada yang nongkrong ngeliatin kita berdua. Orangnya tinggi besar & warnanya hitam kehijau-hijauan dan matanya merah. ::ngg:: ::hua:: Untung gue tahunya belakangan.
Anyway, dia juga cerita bahwa kayaknya tempat kita menginap 'dilindungi'. Jadi kalaupun mereka bisa mondar-mandir, mereka tetap gak akan bisa ganggu kita. Dia juga cerita bahwa dari jendela belakang log cabin kita dia ngeliat beberapa penampakan yang berusaha masuk ke lokasi nginep kita tapi sepertinya mental. Yang bisa masuk cuma si item ijo (buto ijo?) ama sesosok makhluk mirip kuntilanak. Tapi mereka gak ngapa-ngapain, cuma ngintipin kita-kita dari jendela. Dan terutama sekali mereka keliatan sangat tertarik ama beberapa rekan gue yang karaoke sambil mabuk-mabukan. ::ngg::