View Full Version : Teologi - Perbandingan Agama
steinhart
04-08-2004, 04:01 PM
Ada yg kuliah di jurusan perbandingan agama atau teologi? Share brg yuk..
andri_f1
05-08-2004, 05:44 PM
Kayaknya entar kalo udah nyampe, gue mo ngambil mata kuliah ini neh..
wadokai_indo
06-08-2004, 03:15 AM
Originally posted by steinhart
Ada yg kuliah di jurusan perbandingan agama atau teologi? Share brg yuk..
Pengen sharing tentang apa nih boss? Kalow masih sebatas tarikh, fiqh, ushuluddin, antropologi agama dsb ayo aja :)
Raja`Tega
06-08-2004, 10:16 AM
Tarikh : pasti tiap2 agama punya versi yg berbeda2 tergantung yg tercantum dlm kitab suci mereka.
Fiqh : wah, masa fikih diperbandingkan seh. Kayanya u/ satu ini tidak bisa diperbandingkan. Tp kalo misalnya keyakinan lain mempertanyakan fikih agama lainnya (misal : kenapa melaksanakan "sesuatunya" hrs begini begitu) nah itu baru bisa.
Ushuluddin : wah kalo di KG nih bisa potensial SARA, :). Kalo mau dibatasi, tp dibatasinnya juga bingung.
Antropologi Agama : maksutnya gimana? mempelajari manusia & segala aspeknya dipandang dr agama atau mempelajari manusia pemeluk agama tertentu ?
wadokai_indo
06-08-2004, 10:33 AM
Originally posted by Raja`Tega
Tarikh : pasti tiap2 agama punya versi yg berbeda2 tergantung yg tercantum dlm kitab suci mereka.
Fiqh : wah, masa fikih diperbandingkan seh. Kayanya u/ satu ini tidak bisa diperbandingkan. Tp kalo misalnya keyakinan lain mempertanyakan fikih agama lainnya (misal : kenapa melaksanakan "sesuatunya" hrs begini begitu) nah itu baru bisa.
Ushuluddin : wah kalo di KG nih bisa potensial SARA, :). Kalo mau dibatasi, tp dibatasinnya juga bingung.
Antropologi Agama : maksutnya gimana? mempelajari manusia & segala aspeknya dipandang dr agama atau mempelajari manusia pemeluk agama tertentu ?
tarikh:
Mempelajari tarikh berdasarkan ajaran agama-agama, lalu kita bandingkan dengan sejarah yang bebas agama, baru ditarik kesimpulan. Bukan menarik kesimpulan mana yang benar dan mana yang salah, tapi untuk melihat bagaimana history shaped religious views, dan bagaimana religious views shaped tarikh. Yah anggep aja ada tarikh (berdasarkan agama) yang percayanya pakai iman, dan ada tarikh (berdasarkan science) yang bisa diverifikasi kembali. Dua-duanya sama2 menarik untuk dipelajari. Yang penting kita sebagai ilmuwan bisa bersikap bijak dalam memahami dan menggunakan fakta-fakta yang ada.
Ushul Fiqh:
Boss.. Ushul Fiqh kan timbul awalnya dari perbedaan2 penafsiran atas QSH (QUran Sunnah Hadis)..apalagi al-Imam al Arbaa alias imam nyang empat juga saling berbeda pendapat dalem beberapa hal.. jadi kalow diskusi Ushul Fiqh biasanya kita mencoba menelusuri hal2 apa nyang menjadi pegangan dari seorang mujtahid untuk sampai kepada kesimpulannya gitu.. hasil produk Fiqh yang udah jadi sih gak kita masalahin, tapi metodologi berpikirnya, gitu lhoo... :D Sedangkan perkara kita ikut yang mana, itu terserah masing2 aja, kan laa ikraha fid diin dan fastabiqh al khairat.
Saya malah kurang demen mempertanyain Fiqh agama lain. To each their own :)
Antropologi Agama:
Salah satu topik nyang menarik adalah mempelajari bagaimana kondisi kultur masyarakat dimana lahirnya agama membentuk pandangan2 dalam agama tersebut, sehingga dapat menjelaskan sebagian perilaku umat beragama yang bersangkutan. Misalnya yang dilakukan Max Weber dengan kajian "Protestant Ethics"nya.
steinhart
06-08-2004, 10:57 AM
Fiqih kan bisa berubah sesuai zaman, yg gak bisa berubah itu syariahnya, banyak yg kebolak balik emang ttg ini ya, terutama umat islam ya...jadi sekali fiqih disinggung dibilang sudah menghina agama, padahal kalau kita belajar ushul fiqih itu suatu yg biasa dalam perbedaan fiqih...
Aku tahun ini ambil Perbandingan Agama di Kalijaga....penasaran saya dgn agama2 di dunia ini...
steinhart
06-08-2004, 11:00 AM
BElajar agama2 itu indah lagi....bikin makin toleransi dan sekaligus memperkuat iman thp agama kita juga...::angel::
wadokai_indo
06-08-2004, 11:11 AM
Originally posted by steinhart
Fiqih kan bisa berubah sesuai zaman, yg gak bisa berubah itu syariahnya, banyak yg kebolak balik emang ttg ini ya, terutama umat islam ya...jadi sekali fiqih disinggung dibilang sudah menghina agama, padahal kalau kita belajar ushul fiqih itu suatu yg biasa dalam perbedaan fiqih...
Betul itu boss, betul sekali, hehehe.. orang suka salah dan menyamakan fiqh sebagai syariah.. padahal fiqh itu bole dibilang hasil formulasi penafsiran manusia, bisa salah bisa bener... nahh itu ente bisa liat sendiri kan bahwa didalam ushul fiqh ngadu2an argumentasi itu biasa' banget, asal bisa menghargai pendapat orang lain.. juga asal paham qiyas', ijma' dan prinsip2 manfaat vs mudharat..
Padahal syariah Islamnya sendiri sederhana aja kok :D gak rumit ;) .. 5 rukun Islam dan 6 rukun iman serta kalimat2 bertuah seperti fastabiqh al khairat, laa ikraha fid diin, lakum dinukum waliyadin dan rahmatan lil alamin aja kayanya sudah sangat merepresentasikan isi ajaran Islam itu sendiri..
wadokai_indo
06-08-2004, 11:15 AM
Originally posted by steinhart
BElajar agama2 itu indah lagi....bikin makin toleransi dan sekaligus memperkuat iman thp agama kita juga...::angel::
Betul, betul itu. Yang penting harus bisa melawan rasa superioritas dari diri kita akan ajaran kita sendiri. Justru kalow ada pendapat yang berlawanan dari umat lain, kita harus tahu bagaimana umat lain bisa sampai pada pendapat yang dipegangnya itu.. itulah gunanya belajar tarikh yang bebas agama (sejarah yang netral) dan antropologi+sosiologi.. Dan menarik juga untuk menganalisis agama sendiri dengan metode yang sama, supaya kita bisa memahami bagaimana umat lain memandang umat kita.
yang penting selama berpegang pada prinsip saling menghargai dan memahami prinsip2 fastabiqh al Khairat, niscaya perjalanan ente mempelajari agama2 lain bisa lebih menyenangkan. :D
good luck! ::up::
Raja`Tega
06-08-2004, 02:35 PM
Figh kalo berubah menurut jaman gw rasa tidak tepat. Fiqh khan digali dr shar'a, padahal shar'a bersifat mutlak. Perbedaan pendapat dalam penggalian hukum memang pasti ada, karena pemahaman tiap penggali hukum (mujtahid) pasti juga berbeda. Bahkan jika ternyata penggalian hukum mereka salahpun mereka tetap mendapat pahala. (tetapi dengan catatan penggalian hukum atau ijtihad ini bukan "pesanan" sehingga dicocok2an dengan si pemesan). Lalu kita ambil hukum yang digali oleh siapa ? Ambil yang hujjah (argumen) nya paling kuat.
Selain itu ada yg namanya ijma', menganalogikan peristiwa jaman sekarang dengan peristiwa jaman Rasullullah yang hakikatnya sama.
Jadi fiqh tidak dapat berubah sesuai jaman, justru apa yg kita lakukan hrs selalu berdasarkan shar'a. Kalu semakin bertambah iya, soalnya akan selalu ada perbuatan2 atau peristiwa2 yg membutuhkan status hukumnya.
wadokai_indo
07-08-2004, 09:34 AM
Originally posted by Raja`Tega
Figh kalo berubah menurut jaman gw rasa tidak tepat. Fiqh khan digali dr shar'a, padahal shar'a bersifat mutlak. Perbedaan pendapat dalam penggalian hukum memang pasti ada, karena pemahaman tiap penggali hukum (mujtahid) pasti juga berbeda. Bahkan jika ternyata penggalian hukum mereka salahpun mereka tetap mendapat pahala. (tetapi dengan catatan penggalian hukum atau ijtihad ini bukan "pesanan" sehingga dicocok2an dengan si pemesan). Lalu kita ambil hukum yang digali oleh siapa ? Ambil yang hujjah (argumen) nya paling kuat.
Selain itu ada yg namanya ijma', menganalogikan peristiwa jaman sekarang dengan peristiwa jaman Rasullullah yang hakikatnya sama.
Jadi fiqh tidak dapat berubah sesuai jaman, justru apa yg kita lakukan hrs selalu berdasarkan shar'a. Kalu semakin bertambah iya, soalnya akan selalu ada perbuatan2 atau peristiwa2 yg membutuhkan status hukumnya.
Nah itu dia, yang mutlak Syariahnya boss.. sedangkan pendapat para ulama yg kemudian tumbuh menjadi produk hukum dan disebut FIQH tidaklah mutlak, karena ulama juga manusia yang bisa berbuat kesalahan. Kan sifat ma'shum hanya dinisbahkan kepada Rasulullah saja. Ane setuju dengan pendapat para cendekiawan Muslim jaman sekarang bahwa kita nggak perlu taqlid buta dengan pendapat para ulama abad pertengahan, sebab agama kita kan bukan cuma buat jaman dulu saja.
Ente kan bicara soal hujjah yang paling kuat dalam soal Fiqh. Nah pendapat kita sendiri mengenai hujjah muffasir mana yang paling kuat kan berbeda-beda. Ada yang bilang argumentasi ulama A lebih kuat, ada yang bilang argumentasi ulama B lebih kuat. Jadi kalow menurut ane, ane akan ambil pendapat yang menurut ane paling sesuai dengan hatinurani ane, trus ane ikutin, tapi ane akan menghargai orang yang berpendapat lain. Biarlah kita bisa hidup berdampingan secara damai dengan pendapat masing-masing. Toh yang tahu mana yang benar hanya Allah sendiri. Gitu boss :)
steinhart
07-08-2004, 11:57 AM
Sbnrnya gw gak mau membahas panjang ttg fiqih dan ushul fiqih, tapi memang fiqih itu sll brubah kok, contohnya adalah dulu org kalo nikah harus seruangan, sekarang enggak, lewat tele atau kabel skrg udah bisa, dan itu disahkan sama departemen agama. Dulu banyak yg bilang kalo pencuri harus dipotong tangan, ternyata skrg banyak ulama yg menafsirkan beda, "tangan" disini bukan tangan sebenarnya, bisa juga diartikan kekuasaan, skrg koruptor kalau dipotong tangannya, otaknya masih bisa jalan, coba kalau kekuasaannya yg dicabut? dia gak akan berkutik. Dan ingat Umar bin Khattab pernah tidak memotong tangan seorg pencuri disaat paceklik, kalau di zaman modern yah bisa disamain dgn keadaan kita skrg, jadi banyak penafsiran ttg fiqih, fiqih tidak satu kalau cuma satu untuk apa ada ijtihad.
Wadokai dan raja tega kul dmn? apa ambil perbandingan agama? atau teologi?
dulu gw sejujurnya males bgt ingin tau agama org, gw dulu di pondok, tapi sejak smu stlh gw tamat dari pondok, gw jadi mikir melihat tmn2 non muslim gw yg begitu taat menjalani agamanya, gw mikir pasti ada suatu keajaiban di dalamnya seperti gw mengalami kenikmatan dalam beribadah di dalam agama gw. Allah itu luar biasa dan luas.
wadokai_indo
08-08-2004, 03:33 AM
Originally posted by steinhart
Sbnrnya gw gak mau membahas panjang ttg fiqih dan ushul fiqih, tapi memang fiqih itu sll brubah kok, contohnya adalah dulu org kalo nikah harus seruangan, sekarang enggak, lewat tele atau kabel skrg udah bisa, dan itu disahkan sama departemen agama. Dulu banyak yg bilang kalo pencuri harus dipotong tangan, ternyata skrg banyak ulama yg menafsirkan beda, "tangan" disini bukan tangan sebenarnya, bisa juga diartikan kekuasaan, skrg koruptor kalau dipotong tangannya, otaknya masih bisa jalan, coba kalau kekuasaannya yg dicabut? dia gak akan berkutik. Dan ingat Umar bin Khattab pernah tidak memotong tangan seorg pencuri disaat paceklik, kalau di zaman modern yah bisa disamain dgn keadaan kita skrg, jadi banyak penafsiran ttg fiqih, fiqih tidak satu kalau cuma satu untuk apa ada ijtihad.
Wadokai dan raja tega kul dmn? apa ambil perbandingan agama? atau teologi?
dulu gw sejujurnya males bgt ingin tau agama org, gw dulu di pondok, tapi sejak smu stlh gw tamat dari pondok, gw jadi mikir melihat tmn2 non muslim gw yg begitu taat menjalani agamanya, gw mikir pasti ada suatu keajaiban di dalamnya seperti gw mengalami kenikmatan dalam beribadah di dalam agama gw. Allah itu luar biasa dan luas.
Pendapat ente tentang Fiqh, kalow menurut ane, memang sudah cocok dengan apa yang ane yakini. Mungkin karena didalam Pondok ente terbiasa baca kitab kuning dan melihat2 sendiri berbagai macam kajian atas Fiqh yang dilakukan oleh ulama2 kita di jaman dahulu :)
Ane kuliah di bidang ilmu2 sosial. Basic dasarnya di Psikologi terus branching ke kemasyarakatan. Kalow soal agama, ane dari dulu sering bertukar pikiran dengan beberapa cendekiawan Muslim dan ulama-ulama juga. Dulu ane seneng sekali kalow bisa ikut di acara diskusi2 yang pembacanya Bp. Komaruddin Hidayat, Bp. Quraish Shihab, Bp. Nurcholish, Bp. KH. Ali Yafie dkk. Sayang sekarang uda ga sempet.
BTW, kelihatannya ente cocok masuk ke Sufisme :)
Dulu ente mondok dimana? Ane sering mau ke Ponpes Buntet, kebetulan guru ane (Bp. H. Cholil) adalah masih sodara dengan KH. Abdullah Abbas. Tapi belon sempet2.
steinhart
08-08-2004, 01:06 PM
Sufisme? hm...saya br belajar beberapa dr mereka, seperti Hallaj, Al'adawiyah, Arabi, Rumi (sufi juga kah?) dan Siti Jenar. Pemikiran mrk memang "mengguncang" saya..:)
saya dulu mondok di Assalaam, Solo. Kitab kuning tidak diajarkan disana, ini pondok memang lebih modern.
wadokai_indo
09-08-2004, 05:26 AM
Originally posted by steinhart
Sufisme? hm...saya br belajar beberapa dr mereka, seperti Hallaj, Al'adawiyah, Arabi, Rumi (sufi juga kah?) dan Siti Jenar. Pemikiran mrk memang "mengguncang" saya..:)
saya dulu mondok di Assalaam, Solo. Kitab kuning tidak diajarkan disana, ini pondok memang lebih modern.
Kalow ada waktu main2lah ke Komunitas Utan Kayu, kan disana ada markasnya JIL.. untuk lebih pastinya liat alamat dan no tlp di
http://islamlib.com
Mereka kayanya cukup punya pustaka yang komplit untuk sufisme.
Semoga sukses yah! :)
wadokai_indo
09-08-2004, 05:27 AM
Originally posted by steinhart
Sufisme? hm...saya br belajar beberapa dr mereka, seperti Hallaj, Al'adawiyah, Arabi, Rumi (sufi juga kah?) dan Siti Jenar. Pemikiran mrk memang "mengguncang" saya..:)
saya dulu mondok di Assalaam, Solo. Kitab kuning tidak diajarkan disana, ini pondok memang lebih modern.
Mengguncang kaya gimana nih? Sufisme itu kan udah jadi bagian dari Islam sejak jaman dahulu kan?
Raja`Tega
09-08-2004, 09:00 AM
Wadokai :
Wah, anda merujuk ke JIL ya. Sebelumnya saya minta maaf, banyak yg saya amat sangat tidak setuju dengan apa yg di keluarkan (difatwakan) oleh JIL.
Misalkan pada penetapan hukum halal-haram :
seorang tokoh Islam liberal di negeri ini menyatakan bahwa yang qath’i dari hukum Islam hanyalah maqashidut tasyri’ al-‘am (tujuan umum syariat). Yaitu mewujudkan dan melanggengkan maslahat bagi ummat Islam serta membuang dan meminimalisir mudharat dari mereka. Maksud pernyataan ini dipertegas dengan pernyataannya pada kesempatan yang lain, bahwa di daerah kutub yang berhawa sangat dingin, vodka dan sampagne ~minuman beralkohol kadar tinggi~ hukumnya bisa halal. Atau keheranannya kepada salah seorang kawannya yang mencari-cari label halal pada bungkus coklat yang hendak dibelinya. Menurutnya, asalkan coklat itu higienis ~walau terbuat dari babi~ maka hukumnya halal.
Bagi orang-orang kutub, vodka mendatangkan maslahat; dapat menghangatkan badan. Dan coklat yang higienis tidak mendatangkan mudharat bagi orang yang mengkonsumsinya. Begitu kira-kira simpulan yang ada di benaknya.
letak kekeliruan tokoh Islam Liberal itu adalah pada anggapannya bahwa semua maslahat itu sama. Padahal tidak demikian adanya. Para ulama di bidang Ushul Fiqh bersepakat bahwa maslahat itu ada tiga:
Pertama, maslahat yang disebut para ulama sebagai mashlahah mu’tabarah. Yaitu maslahat hal mana untuk mewujudkannya Allah menetapkan suatu hukum; baik dalam al-Qur‘an maupun as-Sunnah.
Misalnya, terjaganya kehormatan dan keturunan. Untuk mewujudkan maslahat itu, Allah telah memerintahkan umat Islam untuk menikah bagi yang telah mampu.
"Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat." (an-Nisa`: 3)
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya." (an-Nuur: 32)
Misal yang lain, untuk mewujudkan maslahat ‘pentingnya kesehatan jasmani’ Allah memerintahkan kita untuk:
"Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (al-A’raf: 31)
Kedua, maslahat yang disebut para ulama sebagai mashlahah mulghah. Yaitu maslahat yang dinyatakan batal oleh syariat. Dan untuk menegaskan batalnya maslahat itu Allah menetapkan suatu hukum yang berseberangan dengan maslahat ini. Artinya maslahat ini adalah maslahat dalam pandangan manusia. Sedangkan dalam pandangan syari’at maslahat ini bukan maslahat melainkan mafsadat (keburukan).
Misalnya, maslahat yang ada pada riba. Di dalam al-Qur‘an Allah menegaskan bahwa hukum riba adalah haram. Sebanyak dan seistimewa apa pun maslahat yang ada pada riba, hal itu tidak diakui oleh syariat dan bahkan dinyatakan batal.
"Padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (al-Baqarah: 275)
Misal yang lain, kandungan gizi yang ada pada daging babi. Setinggi apa pun kandungan gizi yang ada pada daging babi, syariat tidak menganggapnya dan bahkan kita diperintahkan untuk menjauhinya.
"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah." (an-Nahl: 115)
Misal yang lain lagi, maslahat perdamaian yang akan terwujud jika tidak ada perang.
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui. (al-Baqarah: 216)
Secara implisit ayat ini menjelaskan bahwa maslahat perdamaian ~dengan membiarkan aturan Allah diinjak-injak~ bukanlah maslahat. Mafsadat atau mudharat yang ditimbulkan peperangan dalam rangka menegakkan aturan Allah tidak lebih berharga daripada maslahat berlakunya aturan dan undang-undang Allah.
Ketiga, maslahat yang disebut para ulama sebagai mashlahah mursalah. Yaitu maslahat yang tidak dijelaskan oleh syari‘at. Maknanya, tidak ada hukum yang ditetapkan oleh Allah secara khusus untuk mewujudkan maslahat itu, namun juga tidak ada dalil yang membatalkannya sebagai sebuah maslahat.
Misalnya pembagian ilmu menjadi aqidah dan syari‘ah. Atau pembagian tauhid menjadi tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, dan tauhid asma‘ wa shifat. Dalam pembagian itu ada maslahatnya, yaitu memudahkan para thalibul ‘ilmi dalam memahaminya. Ini tidak ada dalil khusus yang memerintahkannya sebagaimana tidak ada ayat atau hadits yang melarangnya.
Sejauh mana kehujjahan mashlahah mursalah ini? Kita simak pernyataan Syeikh Muhammad Amin asy-Syinqithiy (al-Mashalih al-Mursalah hal. 21) berikut ini.
"Walhasil, para sahabat memang berpijak pada mashlahah mursalah. Yaitu maslahat yang tidak dibatalkan oleh suatu dalil atau maslahat yang tidak diikuti oleh mafsadat yang lebih besar ataupun sama. Demikian pula halnya dengan para imam madzhab. Pada hakekatnya mereka pun berpegang kepadanya, meskipun di antara mereka ada yang menyatakan diri menjauhinya. Barangsiapa meneliti realita sejarah para sahabat dan rincian pendapat madzhab-madzhab, niscaya akan mengetahui kebenaran hal ini.Namun demikian, beramal dengan berdasarkan mashlahah mursalah mesti menghadirkan kehati-hatian dan kewaspadaan ekstra, supaya maslahat yang hendak dicapai benar-benar terwujud dan bukannya kehilangan maslahat yang lebih besar atau datang mudharat yang lebih besar daripada maslahat itu sendiri..."
Demikian salah satunya :
Masih ada lagi keputusan2 yg saya anggap melenceng dari shar'a : seperti ttg Haji dll, karena saya lupa pernyataannya saya akan post nanti. :)
Raja`Tega
09-08-2004, 09:37 AM
Ini yg ttg Haji :
Muhammaad Ja’far, dalam artikelnya yang berjudul ‘Jalan Lain’ Berhaji dan Berkurban, dimuat di www.Islamlib.com tanggal 11/2/2004: “Ritual qurban dan haji, sebenarnya merupakan hasil apresiasi terhadap tradisi dan budaya lokal Arab. Kala itu, haji dan qurban diimplementasikan sebagai bentuk simbol persembahan kepada Tuhan.” Setelah dia mengkalkulasi total biaya yang ‘hilang’ untuk ritual haji dan ibadah kurban dia melanjutkan: “Kita bisa bayangkan jika 50 hingga 75 persen dana yang dihabiskan untuk menjalankan qurban, sekitar 579 milyar rupiah, digunakan untuk membuka usaha untuk mempekerjakan para penganggur atau juga digunakan untuk membeli sebidang tanah dan membangunkan rumah bagi para warga yang menjadi ‘qurban’ penggusuran. Bukankah itu jauh lebih menyentuh pesan dari tradisi qurban itu sendiri sebagai sebuah simbol kepedulian serta solidaritas sosial?”
Apakah beliau sudah menafikkan hukum ttg Haji & Kurban adalah Wajib bagi yg mampu ?
Raja`Tega
09-08-2004, 09:44 AM
Sbnrnya gw gak mau membahas panjang ttg fiqih dan ushul fiqih, tapi memang fiqih itu sll brubah kok, contohnya adalah dulu org kalo nikah harus seruangan, sekarang enggak, lewat tele atau kabel skrg udah bisa, dan itu disahkan sama departemen agama. Dulu banyak yg bilang kalo pencuri harus dipotong tangan, ternyata skrg banyak ulama yg menafsirkan beda, "tangan" disini bukan tangan sebenarnya, bisa juga diartikan kekuasaan, skrg koruptor kalau dipotong tangannya, otaknya masih bisa jalan, coba kalau kekuasaannya yg dicabut? dia gak akan berkutik. Dan ingat Umar bin Khattab pernah tidak memotong tangan seorg pencuri disaat paceklik, kalau di zaman modern yah bisa disamain dgn keadaan kita skrg, jadi banyak penafsiran ttg fiqih, fiqih tidak satu kalau cuma satu untuk apa ada ijtihad.
Hakekat dr hukuman bukan dr apakah hukuman tsb akan memberhentikan perbuatan di pelaku atau tidak. Tp kepada penebusan dosa.
Saya ingat ketika ada pasangan zina di masa Rasulullan SAW dihukum rajam sampai mati. Pada saat itu Umar Bin Khatab melemparkan batu sekali ayun langsung membuat kedua orang itu mati, dan darahnya muncrat ke baju beliau, beliau kemudian berusaha membersihkan bajunya. Namun Rasulullah segera bersabda "Sesungguhnye keduanya kini telah berenang-renanh di surga Allah."
Raja`Tega
09-08-2004, 09:47 AM
Wadokai dan raja tega kul dmn? apa ambil perbandingan agama? atau teologi?
Kul gw gak kul di keduanya. Tetapi gw aktiv belajar agama, baik itu otodidak maupun secara organisasi. Dan gw juga pernah aktiv di salah satu partai politik di Indonesia yg gak masuk ke sistem (tidak ikut Pemilu dll), tetapi skrg gw hanya mendukung dr belakang saja.
steinhart
09-08-2004, 10:23 PM
tmn2 ttg JIL jgn bahas disini ya..hehe...jadi OT deh kayaknya, main ke JIL sbnrnya mau bgt, tapi apa daya saya di Yogyakarta...jauh sekali...
mengguncang saya maksudnya banyak sekali pemikiran mereka yang menghantam pemikiran islam saya yang saya anggap sudah final, semisal contoh Al Adawiyah, dengan mengerti pemikiran beliau ttg membakar surga dan memadamkan neraka, yg ada di dalam hati saya skrg dalam beribadah hanyalah Allah. Sangat lucu sekali kalau fantasi surga dan ancaman neraka sudah melewati rasa cinta kita kepada Allah. Yg lainnya adalah Siti Jenar ttg pemikiran otoritas keulamaannya, beliau menolak dengan keras hal ini krn beliau menganggap bahwa hak beribadah dan berdo'a adalah milik semua umat, jadi tidak perlu memanggil seorg ulama atau wali dlm memanjatkan do'a (hal ini masih banyak kita temui di sekeliling kita). Mungkin ini adalah salah satu hal mengapa beliau "dimusuhi" oleh dewan wali. Dan masih banyak lagi pemikiran kaum sufi yg mengguncang saya. Sigmund Freud itu sufi juga kah? ::keyen::
oh ya ttg JIL, saya memang respect sama mereka, krn mrk berani "melawan" islam mainstream yg cenderung "macet" dan statis, tapi tidak semua pendpt mereka saya trima, haji juga salah satunya. Ah biasalah, beda pendapat itu :)
wadokai_indo
10-08-2004, 02:22 AM
Buat Raja Tegaan, terimakasih buat infonya, tapi tidak usah diteruskan postingan copy-pastenya juga tidak apa-apa kok, kan thread ini menurut Steinhart bukan membahas JIL.
wadokai_indo
10-08-2004, 02:25 AM
Originally posted by steinhart
tmn2 ttg JIL jgn bahas disini ya..hehe...jadi OT deh kayaknya, main ke JIL sbnrnya mau bgt, tapi apa daya saya di Yogyakarta...jauh sekali...
mengguncang saya maksudnya banyak sekali pemikiran mereka yang menghantam pemikiran islam saya yang saya anggap sudah final, semisal contoh Al Adawiyah, dengan mengerti pemikiran beliau ttg membakar surga dan memadamkan neraka, yg ada di dalam hati saya skrg dalam beribadah hanyalah Allah. Sangat lucu sekali kalau fantasi surga dan ancaman neraka sudah melewati rasa cinta kita kepada Allah. Yg lainnya adalah Siti Jenar ttg pemikiran otoritas keulamaannya, beliau menolak dengan keras hal ini krn beliau menganggap bahwa hak beribadah dan berdo'a adalah milik semua umat, jadi tidak perlu memanggil seorg ulama atau wali dlm memanjatkan do'a (hal ini masih banyak kita temui di sekeliling kita). Mungkin ini adalah salah satu hal mengapa beliau "dimusuhi" oleh dewan wali. Dan masih banyak lagi pemikiran kaum sufi yg mengguncang saya. Sigmund Freud itu sufi juga kah? ::keyen::
Wah pemikiran Steinhart tentang sufisme dan para tokohnya mengejutkan saya, ternyata situ lebih memperhatikan daripada saya. Hebat bener. Saya setuju deh sama pendapat situ :)
oh ya ttg JIL, saya memang respect sama mereka, krn mrk berani "melawan" islam mainstream yg cenderung "macet" dan statis, tapi tidak semua pendpt mereka saya trima, haji juga salah satunya. Ah biasalah, beda pendapat itu :)
Yes, itu dia boss Steinhart... kemampuan buat menerima perbedaan pendapat dan saling menghargai pilihan pribadi masing-masing, ini dia yang bagi saya menunjukkan sebuah maturity atau kematangan dalam beragama. :)
Sama, tidak semua pendapat JIL saya terima juga, ada juga satu-dua yang masih kadang2 saya diskusikan juga. Tapi yang cocok2 ya kalau memang cocok ya saya terima. Sama juga pendapat mas Raja Tegaan kalau ada yang cocok pasti saya perhatikan. Kebetulan saja sampai sekarang belum ada yang cocok.
Wah, Steinhart di Jogja ya? Nanti deh kalau saya main kesana kita ngobrol2. Kebetulan saya ada janji mau ngajar di salah satu Dojo disana.
Raja`Tega
10-08-2004, 08:12 AM
Yg lainnya adalah Siti Jenar ttg pemikiran otoritas keulamaannya, beliau menolak dengan keras hal ini krn beliau menganggap bahwa hak beribadah dan berdo'a adalah milik semua umat, jadi tidak perlu memanggil seorg ulama atau wali dlm memanjatkan do'a (hal ini masih banyak kita temui di sekeliling kita). Mungkin ini adalah salah satu hal mengapa beliau "dimusuhi" oleh dewan wali. Dan masih banyak lagi pemikiran kaum sufi yg mengguncang saya.
Saya kira bukan hal otoritas ulama yg menjadi permasalahannya waktu itu. Tp lebih kepada statement beliau mengenai "manunggaling kawulo gusti", yang menyebutkan bahwa Gusti Allah ada dalam diri manusia yg sudah mencapai level spt dia.
Kalo masalah berdo'a dan ibadah memang itu kewajiban dan hak masing2, dan tidak harus memanggil ulama dsb.
Buat Raja Tegaan, terimakasih buat infonya, tapi tidak usah diteruskan postingan copy-pastenya juga tidak apa-apa kok, kan thread ini menurut Steinhart bukan membahas JIL
Ok, mas. OT sebentar sebagai selingan informasi. :)
Raja`Tega
10-08-2004, 12:55 PM
Wah, Steinhart di Jogja ya? Nanti deh kalau saya main kesana kita ngobrol2. Kebetulan saya ada janji mau ngajar di salah satu Dojo disana.
OT : Privat boleh gak ? hehehehehehe :)
steinhart
10-08-2004, 01:29 PM
manunggaling kawulo gusti juga salah satunya mas, cara dakwah beliau yg melakukan asimilasi memang begitu "menampar" dewan wali saat itu, beda dgn kalijaga yang melakukan akulturasi. Cara beliau menata pesantrennya, Giri Amparan Jati juga menjadi salah satu kekhaawatiran masyarakat sekitar terutama dari kalangan raja dan bangsawan.
Anyway, kira2 misalnya kita belajar agama lain, biasanya jika kita mendatangi tempat ibadah atau pemuka agama nya, apakah diterima dengan tangan lapang gak ya? Bagaimana caranya agar saling enak tanpa prasangka? saya pemula soalnya. Soalnya ngerti sendiri kan kehidupan beragama di Indonesia belum terlalu terbuka, agama belum bisa ditransformasikan menjadi ilmu.
Raja`Tega
10-08-2004, 01:39 PM
Anyway, kira2 misalnya kita belajar agama lain, biasanya jika kita mendatangi tempat ibadah atau pemuka agama nya, apakah diterima dengan tangan lapang gak ya? Bagaimana caranya agar saling enak tanpa prasangka? saya pemula soalnya. Soalnya ngerti sendiri kan kehidupan beragama di Indonesia belum terlalu terbuka, agama belum bisa ditransformasikan menjadi ilmu.
Wah, kalo yg ini saya juga blom pernah. Biasanya yg terjadi justru dimulai dari ketidaksengajaan, misal ngobrol sama temen yg beda agama, akhirnya malah jadi diskusi mengenai agama. Tp hrs bener2 ati2, jgn sampe berfatwa tanpa dibekali ilmu, nanti malah menyesatkan kita yg hrs bertanggungjawab. :)
Raja`Tega
10-08-2004, 01:41 PM
anyway mengenai sufi, beberapa tarekat sufi yg saya kenal :
Tarekat Qadiriyah
Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syekh 'Abdul Qadir al-Jailani (m. 1166) dari Gilan di Iran, yang kemudian bermukim di Baghdad, Irak. Setelah wafatnya, tarekatnya disebarkan oleh putra-putranya. Tarekat Qadiriyah telah menyebar ke banyak tempat, termasuk Suriah, Turki, beberapa bagian Afrika seperti Kamerun, Kongo, Mauritania dan Tanzania, dan di wilayah Kaukasus, Chechnya dan Ferghana di Asia Tengah, serta di tempat- tempat lain.
Tarekat Rifa'iyah
Didirikan oleh Syekh Ahmad ar-Rifa'i (m. 1182) di Basra, tarekat Rifa'i telah menyebar ke Mesir, Suriah, Anatolia di Turki, Eropa Timur dan wilayah Kaukasus, dan akhir-akhir ini di Amerika Utara.
Tarekat Syadziliyah
Tarekat Syadzili terealisasi di sekitar Syekh Abul Hasan asy-Syadzili dari Maroko (m. 1258) dan akhirnya menjadi salah satu tarekat terbesar yang mempunyai pengikut yang luar biasa banyaknya. Sekarang tarekat ini terdapat di Afrika Utara, Mesir, Kenya dan Tanzania, Timur Tengah, Sri Langka dan di tempat-tempat lain, termasuk di Amerika Barat dan Utara.
Tarekat Maulawiyah
Tarekat Maulawiyah berpusat di sekitar Maulana Jalaluddin Rumi dari Qonya di Turki (m. 1273). Sekarang kebanyakan terdapat di Anatolia di Turki, dan pada akhir-akhir ini di Amerika Utara. Para pengikut tarekat ini juga dikenal sebagai para darwis yang berputar-putar.
Tarekat Naqsyabandiyah
Tarekat Naqsyabandiyah mengambil nama dari Syekh Baha'uddin Naqsyaband dari Bukhara (m. 1390). Tarekat ini tersebar luas di wilayah Asia Tengah, Volga dan Kaukasus, Cina bagian baratlaut dan baratdaya, Indonesia, di anak-benua India, Turki, Eropa dan Amerika Utara. Ini adalah satu-satunya tarekat terkenal yang silsilah penyampaian ilmunya kembali melalui penguasa Muslim pertama, Abu Bakar, tidak seperti tarekat-tarekat sufi terkenal lainnya yang asalnya kembali kepada salah satu imam Syi'ah, dan dengan demikian melalui Imam 'Ali, sampai Nabi Muhammad SAW.
Tarekat Bektasyiyah
Tarekat Bektasyiyah didirikan oleh Haji Bektasy dari Khurasan (m. 1338). Gagasan Syi'ah merembes masuk dengan kuatnya pada tarekat sufi ini. Tarekat ini terbatas di Anatolia, Turki, dan yang paling berpengaruh hingga awal abad ke-20. Tarekat ini dipandang sebagai pengikut Mazhab Syi'ah.
Tarekat Ni'matullah
Tarekat Ni'matullah didirikan oleh Syekh Nuruddin Muhammad Ni'matullah (m. 1431) di Mahan dekat Kirman baratdaya Iran. Para pengikutnya terutama terdapat di Iran dan India.
Tarekat Tijaniyah
Tarekat Tijani didirikan oleh Syekh Abbas Ahmad ibn at-Tijani, orang Berber Aljazair (rn. 1815). Tarekat ini telah menyebar dari Aljazair ke selatan Sahara dan masuk ke Sudan bagian barat dan tengah, Mesir, Senegal, Afrika Barat dan bagian utara Nigeria, dan telah diperkenalkan di Amerika Barat dan Utara.
Tarekat Jarrahiyah
Tarekat Jarrahi didirikan oleh Syekh Nuruddin Muhammad al-Jarrah dari Istambul (m. 1720). Tarekat ini terutama terbatas di Turki, dengan beberapa cabang di Amerika Barat dan Utara.
Tarekat Chistiyah
Tarekat yang paling berpengaruh di anak-benua India-Pakistan adalah tarekat Chisti, yang dinamai dengan nama pendirinya Khwaja Abu Ishaq Syami Chisti (m. 966). Penyebarannya terutama di Asia Tenggara.
wadokai_indo
11-08-2004, 12:59 AM
Originally posted by Raja`Tega
OT : Privat boleh gak ? hehehehehehe :)
Boleh Pak, masa ga boleh :)
Atau kalow nunggu saya kelamaan, ke teman saya yang buka Dojo disana aja, ada kok. kirim email aja ke nbi_jkt@yahoo.com, bilang aja nanya tempat latihan di Jakarta.
Steinheart! Sorry OT :P
steinhart
11-08-2004, 07:24 PM
hihihihi...nyantai aja...kira2 ahli perbandingan agama di Indonesia selain Pak Mukti Ali dan Nurcholish Madjid..
wadokai_indo
12-08-2004, 08:15 AM
Originally posted by steinhart
hihihihi...nyantai aja...kira2 ahli perbandingan agama di Indonesia selain Pak Mukti Ali dan Nurcholish Madjid..
Prof. Quraish Shihab & Dr. Nazarrudin Umar juga OK. Dan pak Ulil yang Anda quote itu :)
Raja`Tega
12-08-2004, 09:42 AM
Alwi Shihab juga..............kalo gw suka sama Ahmad Deedat
wadokai_indo
12-08-2004, 10:01 AM
Originally posted by Raja`Tega
Alwi Shihab juga..............kalo gw suka sama Ahmad Deedat
Dulu juga suka Ahmed Deedat. Tapi sekarang udah enggak. Kayaknya cara dakwah dia terlalu menyinggung perasaan umat lain.
http://www.answering-islam.org/Responses/Deedat/deedat.html
BTW, jangan dipanjangin ya, soalnya saya nggak ingin ada "diskusi" soal Mr. Deedat. Kalow nggak suka dengan apa yang ditulis disana, silahkan kirim email kepada narasumber ybs, atau tulis surat Muslim Digest langsung.
:)
Raja`Tega
12-08-2004, 02:21 PM
Dulu juga suka Ahmed Deedat. Tapi sekarang udah enggak. Kayaknya cara dakwah dia terlalu menyinggung perasaan umat lain.
http://www.answering-islam.org/Resp...dat/deedat.html
BTW, jangan dipanjangin ya, soalnya saya nggak ingin ada "diskusi" soal Mr. Deedat. Kalow nggak suka dengan apa yang ditulis disana, silahkan kirim email kepada narasumber ybs, atau tulis surat Muslim Digest langsung.
Makanya memang diskusi2 spt jarang di publikasikan secara umum.
http://www.answering-islam.org/Resp...dat/deedat.html
-->> hehehehe ini situs bikinan non-islam. Tp di situs itu banyak juga loh yg nyinggung perasaan umat lain, a.l penafsiran ayat2 yg sengaja "kacau balau". dll
Oke deh gak usah dilanjutin bisa panjang urusannya.
steinhart
12-08-2004, 05:29 PM
Dulu gw juga respect sama beliau, tapi sekarang dengan tanpa mengurangi rasa hormat thp keluasan ilmu yg beliau punya, rasanya kok dia belajar agama lain untuk menjatuhkan agama lain ya...gw belum pernah menemukan buku beliau yg benar2 ilmiah dan tidak membawa sentimen pribadinya...
lagipula selalu hal2 yg sama dikemukakan sama beliau, perbedaan2 islam-kristen, penyimpangan2 kristen, kayaknya skrg sudah gak terlalu diminati hal2 seperti itu..
islam dan agama lain tentu saja berbeda dan perbedaan itu jelas tampak, kenapa harus dicari2 lagi dan dibahas2 makin panjang, mending kita mencari persamaan2 antara kita, semangat yg sama dalam melihat keadilan, kesejahteraan bersama, kekuasaan Tuhan, dll
Ketika kita membaca Bhagavad Gita, Injil, Kitab2 Kong Hu Cu, ada hal indah yg kita temui disana, senikmat kita membaca Al Qur'an...itu bagi gw..
Raja`Tega
13-08-2004, 08:58 AM
Steinhart :
Yang dimaksut ilmiah itu apa ya mas ?
Apakah pembuktian2 apa yg terkandung dalam suatu kitab harus selalu bisa dibuktikan secara ilmiah (tampak secara materi) ?
Kalo masalah sentimen pribadi sih setiap orang pasti akan membawanya. Contohnya mas sendiri membawa ke-ego-an mas tentang ke-kurangsukaan mas ke Pak Deedat. Kalo misalnya anda kemudia misalnya menulis buku tentang beliau, pasti oleh para pengagum Pak Deedat anda akan dicap membawa sentimen pribadi anda. Kenapa saya kagum dengan Pak Deedat ? Karena penguasaan beliau ttg apa yang terkandung dalam Qur'an dan Sunnah amat sangat luar biasa. Beliau bisa dengan mudah menemukan ayat Qur'an atau Hadits yang berhubungan dengan pokok pembicaraan. Saya kira tidak ada yg salah dr hal itu. Saya/ atau kita sebagai muslim khan memang harus berpegang pada Qur'an dan Sunnah.
Dan sebenernya banyak kok dialog agama yg saling menjatuhkan isi kitab masing2. Kalo anda masuk ke situs answering-islam anda akan banyak menjumpai artikel yg memutarbalikkan tafsir Qur'an.
Raja`Tega
13-08-2004, 09:00 AM
Ketika kita membaca Bhagavad Gita, Injil, Kitab2 Kong Hu Cu, ada hal indah yg kita temui disana, senikmat kita membaca Al Qur'an...itu bagi gw..
Tidak ada salahnya mempelajari kitab2 agama lain. Tetapi tetap saja, kita sudah diwajibkan hanya berpegang pada Qur'an & Sunnah.
wadokai_indo
13-08-2004, 11:46 PM
Originally posted by steinhart
Dulu gw juga respect sama beliau, tapi sekarang dengan tanpa mengurangi rasa hormat thp keluasan ilmu yg beliau punya, rasanya kok dia belajar agama lain untuk menjatuhkan agama lain ya...gw belum pernah menemukan buku beliau yg benar2 ilmiah dan tidak membawa sentimen pribadinya...
lagipula selalu hal2 yg sama dikemukakan sama beliau, perbedaan2 islam-kristen, penyimpangan2 kristen, kayaknya skrg sudah gak terlalu diminati hal2 seperti itu..
islam dan agama lain tentu saja berbeda dan perbedaan itu jelas tampak, kenapa harus dicari2 lagi dan dibahas2 makin panjang, mending kita mencari persamaan2 antara kita, semangat yg sama dalam melihat keadilan, kesejahteraan bersama, kekuasaan Tuhan, dll
Ketika kita membaca Bhagavad Gita, Injil, Kitab2 Kong Hu Cu, ada hal indah yg kita temui disana, senikmat kita membaca Al Qur'an...itu bagi gw..
Wah pak Steinheart nyindir saya ya..hahaha.. jaman dulu memang buku2 pak Ahmed Deedat itu pegangan saya buat ngadu debat dengan rekan2 Kristen. Tapi sekarang saya sadar bahwa dakwah model seperti itu memang udah ga mempan lagi... menumbuhkan kekaguman terhadap Islam tidak bisa dilakukan lewat ngadu2an ayat, tapi harus dengan menunjukkan ahlakul karimah kita kepada mereka, supaya mereka menjadi kagum dan melihat sendiri bahwa ajaran Islam membuat diri kita menjadi baik..
Saya setuju dengan pendapat2 Anda pak. Kelihatannya pencapaian pribadi Anda sudah diatas saya. Luar biasa, padahal Anda pasti lebih muda daripada saya.
steinhart
15-08-2004, 06:55 AM
walah, mas Wado ini berlebihan, saya beginner sebenarnya dalam hal2 seperti ini.
Mas Tega, mungkin kata ilmiah yg saya kemukakan kurang tepat, tapi dibandingkan dgn buku2 karya Karen Armstrong, jelas saya lebih percaya dan lebih "aman" membaca buku2 Karen, alasannya saya kira mas tau. Buku Deedat bagus, cuma saya rasa untuk ilmu perbandingan agama dan bagi yg ingin belajar agama2 lain, saya rasa kurang "sehat" ya mas...
Ada yg tau buku Deedat yg baru?
wadokai_indo
17-08-2004, 02:22 AM
Originally posted by steinhart
walah, mas Wado ini berlebihan, saya beginner sebenarnya dalam hal2 seperti ini.
Soalnya pas saya seumur Anda, saya belum sepandai Anda. Jadi Anda mengalami "accelerated learning" :)
red_pr!nce
17-08-2004, 07:47 AM
Baru saja semester kemarin lulus mata kuliah perbandingan agama, walaupun harus puas dengan nilai A. ;p
Sekarang model kuliah perbandingan agama berbeda jauh dengan model kuliah perbandingan agama 3-4 tahun yg lalu. Bila 3-4 tahun yg lalu, perbandingan agama dilihat dari segi kontekstual, maka sekarang, perbandingan agama dilihat dari segi konseptual.
Kontekstual artinya kita mempelajari banyak agama, dengan berbagai macam atribut unik, ajarannya yg unik, dan perbedaan-perbedaannya. Alhasil, metode semacam ini hanya akan 'memanaskan' situasi kelas karena pastinya banyak flame dengan menjelek-jelekkan agama lain.
Konseptual artinya kita mempelajari agama-agama secara utuh, sebagai satu kesatuan yakni "agama". Dan melihat sejarah perkembangan agama, sebab didirikannya agama, kontribusi agama bagi dunia, dan model pemerintahan agama atau sekuler. Alhasil, metode semacam ini akan berguna bagi keterbukaan pikiran manusia, dan memupuk toleransi.
That's good.
wadokai_indo
18-08-2004, 02:31 AM
Originally posted by red_pr!nce
Baru saja semester kemarin lulus mata kuliah perbandingan agama, walaupun harus puas dengan nilai A. ;p
Sekarang model kuliah perbandingan agama berbeda jauh dengan model kuliah perbandingan agama 3-4 tahun yg lalu. Bila 3-4 tahun yg lalu, perbandingan agama dilihat dari segi kontekstual, maka sekarang, perbandingan agama dilihat dari segi konseptual.
Kontekstual artinya kita mempelajari banyak agama, dengan berbagai macam atribut unik, ajarannya yg unik, dan perbedaan-perbedaannya. Alhasil, metode semacam ini hanya akan 'memanaskan' situasi kelas karena pastinya banyak flame dengan menjelek-jelekkan agama lain.
Konseptual artinya kita mempelajari agama-agama secara utuh, sebagai satu kesatuan yakni "agama". Dan melihat sejarah perkembangan agama, sebab didirikannya agama, kontribusi agama bagi dunia, dan model pemerintahan agama atau sekuler. Alhasil, metode semacam ini akan berguna bagi keterbukaan pikiran manusia, dan memupuk toleransi.
That's good.
Barangkali Anda berdua mengalami "accelerated learning" karena metodenya sekarang konseptual.. jaman saya dulu, yang namanya belajar agama lain itu tujuannya memang untuk menjelek2an agama lain. Alasannya sih untuk menjaga agar umat kita jangan sampai tergoda menjadi murtad, begitu.
Raja`Tega
18-08-2004, 09:42 AM
Mas Tega, mungkin kata ilmiah yg saya kemukakan kurang tepat, tapi dibandingkan dgn buku2 karya Karen Armstrong, jelas saya lebih percaya dan lebih "aman" membaca buku2 Karen, alasannya saya kira mas tau. Buku Deedat bagus, cuma saya rasa untuk ilmu perbandingan agama dan bagi yg ingin belajar agama2 lain, saya rasa kurang "sehat" ya mas...
Mungkin bukannya kurang sehat, mas. Tp harus diterima dengan penggunaan aktivitas berpikir yg komprehensif. Kalo yg membaca orang2 biasa yg tidak punya ilmu agama yg dalam memang akan menjadi bahaya, karena akan diterimanya mentah-mentah. Menurut gw Pak Deedat mengarang buku2nya bukannya tidak punya toleransi beragama.
red_pr!nce
18-08-2004, 01:22 PM
Originally posted by wadokai_indo
Barangkali Anda berdua mengalami "accelerated learning" karena metodenya sekarang konseptual.. jaman saya dulu, yang namanya belajar agama lain itu tujuannya memang untuk menjelek2an agama lain. Alasannya sih untuk menjaga agar umat kita jangan sampai tergoda menjadi murtad, begitu.
Berarti gw beruntung sekali.
Lalu, kalau dulu metode perbandingan agama dilakukan secara kontentual, lalu ini idenya siapa? Mungkin idenya org-org fanatik yang pengen ngancurin keberagamaan negara kita. :D
wadokai_indo
19-08-2004, 04:51 AM
Originally posted by Raja`Tega
Mungkin bukannya kurang sehat, mas. Tp harus diterima dengan penggunaan aktivitas berpikir yg komprehensif. Kalo yg membaca orang2 biasa yg tidak punya ilmu agama yg dalam memang akan menjadi bahaya, karena akan diterimanya mentah-mentah. Menurut gw Pak Deedat mengarang buku2nya bukannya tidak punya toleransi beragama.
Bukunya pak Deedat dijual bebas tuh... baik di pinggir jalan sampai di Mall...Sama sekali tidak ada usaha untuk membatasi buku2 beliau hanya di kalangan sendiri aja..
Cuma sekedar informasi aja, bukannya mau manjangin masalah.
wadokai_indo
19-08-2004, 04:52 AM
Originally posted by red_pr!nce
Berarti gw beruntung sekali.
Lalu, kalau dulu metode perbandingan agama dilakukan secara kontentual, lalu ini idenya siapa? Mungkin idenya org-org fanatik yang pengen ngancurin keberagamaan negara kita. :D
Wah saya nggak jago teori konspirasi tuh.. tapi kalau mau tahu pendapat saya, PM me deh :)
Raja`Tega
19-08-2004, 07:19 AM
Bukunya pak Deedat dijual bebas tuh... baik di pinggir jalan sampai di Mall...Sama sekali tidak ada usaha untuk membatasi buku2 beliau hanya di kalangan sendiri aja..
Cuma sekedar informasi aja, bukannya mau manjangin masalah.
Iya seh memang di jual bebas. Selain itu buku2 "berat" lainnya juga dijual bebas kok. Kalo masalah ini sih butuh kesadaran yg mo baca aja.
steinhart
19-08-2004, 10:30 AM
pr!nce, kul dimana? memang cuma jadi mata kuliah ya?
eh buku psikologi agama Jalalludin Rakhmat itu bagus gak? Aku cari buku ilmu perbandingan agama-nya pak Mukti Ali kok gak ada ya, apa dah gak dicetak lagi..
sekarang buku2 apa aja emang bebas ditemuin dimana2, yah gak papalah, dengan begitu kita punya pilihan..
wadokai_indo
24-08-2004, 04:21 AM
Betul, cuma masalahnya kadang2 ada kelompok masyarakat tertentu yang suka merasa tersinggung dengan apa yang ditulis di buku dan merasa perlu buat melakukan tindakan2 untuk menunjukkan ketidaksukaannya pada buku tersebut. Dan belum ada usaha yang benar2 gigih dan sungguh2 untuk mengajari masyarakat kita untuk menghargai perbedaan pendapat dan pandangan. Jadi kadang2 ada konflik2 gara2 buku...
red_pr!nce
25-08-2004, 05:06 PM
Originally posted by steinhart
pr!nce, kul dimana? memang cuma jadi mata kuliah ya?
UPH, Univ Penarik Harta. :D
HeHe, Universitas Pelita Harapan. Di sini emang cuma jadi mata kul umum doang.
steinhart
26-08-2004, 07:51 PM
hehehe...gw abis ospek nih...capek bener..
smstr ini gw cm dapat mata kuliah dasar doang, yang menarik cuma mata kuliah filsafat dan islam budaya jawa...belum masuk agama agama....hehehe...sabar....
vBulletin® v3.7.0, Copyright ©2000-2009, Jelsoft Enterprises Ltd.