View Full Version : Film Minggu Ini: ANNA AND THE KING
Everafter dan It takes two?
kayaknya familiar!
ceritanya tentang apa?
Kabarnya, ada yang mo nonton film ini denga kolosal? jadi gak nih?
eh... gimana sih caranya ngepost gambar disini? gue mau dong belajar!
clubbingbabe
03-01-2000, 05:04 PM
Everafter itu cinderella versi baru yg diperankan sama Drew Barrymore bukan???
Kalo It Takes Two itu apa yg diperankan sama Neve Campbell, Matthew Perry (satu lagi lupa namanya.....)???? atau ada judul yg laen?
Uwee....bukannya udah pernah gue ajarin yha masang gambar????
Everafter diberi sub judul a cinderella story. Udah ring a bell?. Kalo blon juga, itu lho, film Cinderella tafsir terbaru yg diperani si montok Drew Barrymore vs ibu tirinya yg dengan bagus sekalleee dijiwai Anjelica Huston.
Kalo It Takes Two (sama seperti Everafter juga diputar di bioskop sini) adalah komedi ttg 2 anak "kembar" yg dibintangi si kembar Mary-Cate Olsen & Ashley Olsen (pernah main di sitkom Full House di TVRI kalo kamu masih inget).
inget-inget...
tapi gue gak nonton!
tau kenapa, males gitu...
padahal cewek gue udah setengah ngambek
ngebujuk gue nonton filmnya Drew itu...
tapi.... emang maleeeeesssssssss
eh soal masang gambar, gue pernah nyobain tuh c_b tapi kok gagal ya... malah pernah gue gak sengaja... eh tiba-tiba ada mr. smile itu di posting gue....! ajaib gak sih?
nambah-nambahin buat bahan discuss ye...
The Film Censorship Board has rejected 20th Century Fox's request for Anna and the
King to be shown in Thailand, on the grounds it is offensive to the memory of
King Mongkut and distorts the history of the Thai monarchy.
According to Pol Maj-Gen Prakart Sataman, deputy commissioner of the Central Investigation
Bureau, the board cited the 1930 Film Act, the 1972 Revolutionary
decree, policy guidelines of the Interior Ministry and the Royal Thai Police Office.
All require protection of Thai ethics and culture, good public order and national
security, prevention of harm to government and international relations.
The majority of the 19-member board yesterday rejected the request submitted by 20th
Century Fox on Dec 20, he said.
"The board, which comprises various parties including academics, media representatives,
historians as well as police officers, agreed that the film, including its
script and locations, makes a mockery of King Mongkut and constitutes a very blatant
offence against the monarchy," Maj-Gen Prakart said.
The film also completely distorts Thai history and if allowed to be screened, would
foment misunderstanding and undermine the "good way of life" of the Thai
people, he said.
Fox has 15 days to appeal the decision with the national police office, Maj-Gen Prakart
said.
Until the appeals board makes a final decision, distribution of the film in any form
including VCD, DVD or videotape is banned. Offenders will be subject to six
months' jail and/or a 2,000-baht fine.
Thepmontri Limpaphayom of Rangsit University's Cultural Centre said he personally
would like the film to be shown here, but some 30 scenes would have to be
cut, leaving the film only 20 minutes long.
He said offending scenes included the execution of the mistress Taptim and Pra Palad
in front of the Temple of the Emerald Buddha, the Ananta-nagaraj royal
barge taking Taptim to her home, and the killing of Pra Pinklao. The film also fostered
the inaccurate view that Kings Rama IV and V were influenced by the
foreigner Anna.
adonis
04-01-2000, 03:16 PM
tapi secara keseluruhan film "Anna and the King" itu bagus sekali, dan sangat mengesankan. Tapi emang bener ya, itu raja istrinya banyaak banget..? Terus cindil-cindilnya juga buanyaak dan lucu-lucu? Raja Chulalangkhorn (gimana sih nulisnya..?) memang ngetop yah, karena berani menghapus slavery di Thailand, sampe akhirnya jadi nama University di Thailand. Tapi masa iya sih... slavery di Thailand dihapuskan gara-gara Chulalangkhorn baca "Uncle Tom's Cabin" yang di kasih sama si Anna? Kayaknya sedikit mengada-ada yah..
Eh, ada lagi film baguuus banget, dan musti diliat tuh... Judulnya "Snow falling in Cedars", wuih... pokoknya mengesankan deh http://www.kafegaul.com/board/ubbhtml/smile.gif http://www.kafegaul.com/board/ubbhtml/smile.gif melankolis dan berurai airmata...huhuhuhu...
murakami
09-01-2000, 10:06 AM
sayang sekali aku tinggal jauh di daerah, jadi nggak bisa nonton film ini. soalnya kalo film ada dibintangi jodie foster pasti laik nonton. she's a really bright actress, no-compromise kind of woman, that it's good to see her acting as Anna. tentang Chow juen fat, aku sbeenarnya tidak begitu suka sama bintang satu ini, somewhere in his performance i can sense some kind of pretension. tapi film terbarunya yang disutradarai ang lee patat ditunggu, karena setiap film ang lee (the ice storm, eat drink man woman, the wedding banquet, pushing hands, dan sense and sensibility) patut ditunggu.
adonis
11-01-2000, 08:05 PM
murakami..., kamu kan dapat sewa video-nya... nggak usah tunggu film-nya http://www.kafegaul.com/board/ubbhtml/smile.gif http://www.kafegaul.com/board/ubbhtml/smile.gif http://www.kafegaul.com/board/ubbhtml/smile.gif
masukan lagi untuk bahan discuss...!
Uwi!
Mongkut And The White Teacher
he he he sebuah pendekatan postcolonial dalam film lagi-lagi sebuah narasi di mana 'bule' menyelamatkan dunia, dan mem'beradab'kan dunia timur...
Dave,
film Anna and The King itu bener-bener gila ya dalam mendiskreditkan Siam
(baca: dunia timur). Merepresentasikan sebuah kebudayaan kan bukan sekedar
menghadirkannya kembali tapi merupakan persoalan memilih atau memfilter
cultural items mana yang patut ditampilkan dan mana yang tidak. Mana yang
cocok untuk memperkuat pesan mana yang tidak. Dari seluruh dimensi tradisi
Siam masa itu, persoalan Tradisi Polygami dan Perbudakan mendapat tempat
yang paling besar. Kenapa dua hal ini yang dipilih? Karena dua hal ini yang
bisa langsung dan mudah direlasikan penonton pada sisi negatif "timur":
feodalisme. Maka kemudian kita lihat, squence mengenai seorang selir yang
menyeleweng dan kemudian dijatuhi hukuman pancung mendapat ruang yang sangat
besar. Saking besarnya sampai-sampai ia merusak sturktur cerita.
Juga saat Anna diperintahkan untuk mempersiapkan jamuan makan malam ala
eropa, ia merasa sangsi bisa melakukannya dalam waktu tiga minggu. Buatnya
sebuah kebudayaan tidak dapat diubah dalam waktu yang terlalu singkat.
Adegan-adegan "udik" kemudian muncul: mulai dari para anggota kerajaan yang
belajar makan dengan sendok dan garpu sampai dengan susahnya menyuruh para
pelayan untuk tidak melakukan hormat mencium tanah bila ada raja datang
(feodalisme). Soalnya kalau mereka menghormat seperti itu, otomatis
gelas-gelas yang mereka pegang akan jatuh berantakan.
Puncak "ketololan" timur yang ditampilkan ialah saat para pemberontak lari
tunggal langgang karena mendengar suara terompet perang Inggris dibunyikan.
Mereka kira terompet itu mewakili ribuan tentara yang akan menghabisi
mereka.
"It's a joke," kata seorang filmmaker Thai melihat film ini. Memang, film
ini adalah lelucon-lelucon barat tentang timur yang "udik" itu. Menegaskan
bahwa "the english way is the way of the world"
Padahal sisi positif kebudayaan timur (menyangkut kearifan ekologi misalnya
atau filsafat budha yang kaya itu) tidak diangkat sama sekali. Satu-satu
kritik yang sempet gue tangkep ialah saat Raja memformulasikan bahwa Budha
mengajarkan untuk menikmati hidup sedangkan kebudayaan barat mengajarkan
untuk terus berlelah-lelah mengejar prestasi (maksudnya ialah rasionalitas
telah melahirkan kolonialisme dan imprealisme!)
"In a time of change, two world are collide," gitu kutipan di posternya.
Dalam regime pengetahuan barat (pinjam istilah Said) kedatangan barat hanya
akan merubah timur dan tidak dirinya (snowball effect theory --salah satu
core antropologi pariwisata). Maka ketika Sang Raja sampai pada puncak teror
nilai-nilai baru yang dibawa oleh Anna, terpaksa ia berkata (dengan *****ik
tentunya) "Aku tahu tapi bukan sekarang waktunya! Aku harus mempertahankan
citra kerajaan"
Kita seakan diberitahu bahwa Sang Raja mengakui "kebenaran" Inggris tetapi
dia tak berdaya akan nafsunya untuk mempertahankan gengsi agar tidak tekuk
lutut dihadapan "Sang Penjelajah" itu.
Dan perubahan yang terjadi pada Anna? Tidak terjadi pada tataran kebudayaan,
tapi terjadi pada tataran individu saja. Anna akhirnya mengakui bahwa ia
terlalu memikirkan karir dan tidak mau mendengarkan bisikan hati nuraninya
sebagai perempuan (barat -rasional VS timur - emosional). Bahkan ketika Anna
mulai menyangsikan kebaikan Inggris dalam menjalin hubungan dengan Siam,
segera saja diselesaikan dengan mudah bahwa pemberontakan yang diduga
didalangi Inggris itu sesungguhnya dilakukan oleh orang dalam kerajaan
(steriotipe timur: isinya korup dan pengkhianatan melulu!).
Tapi film diskriminatif ini sudah mendapat tandingannya. Thai telah
memproduksinya sejak september lalu. Konon, film ini dipersiapkan melalui
riset yang sangat tetili selama lima tahun. Judulnya "Suriyothai".
Ironisnya film ini dimaksudkan untuk ikut serta dalam foreign film category
di Oscar. Padahal jelas Osacar merupakan simbol dari neoimperalisme dibidang
perfilman: setiap tahun merekalah yang menentukan selera untuk industri film
sedunia setahuin kedepan! Kalau tujuannya Oscar, riset lima tahun itu
kayaknya akan sia-sia. Soalnya dari seluruh yang didapatkan mau nggak mau
harus dipilih yang sesuai dengan selera juri Oscar atau merelakan filmnya
terpental dari kompetisi dan jatuh di pasaran international (ditolak-tolakin
distributor)
ma'acih!
Aryo.
buat Aryo... sorry tulisannya gue kutip dan gue post' disini... gak papa kan... buat bahan diskusi kita-kita nih...
Thank's...
Uwi!
[This message has been edited by uwee (edited 13-01-2000).]
vBulletin® v3.7.0, Copyright ©2000-2008, Jelsoft Enterprises Ltd.