View Full Version : PELUANG USAHA! + WARALABA Update Terus! MAY 14th - 2007!
Devan 04-01-2006, 06:15 AM Thread khusus kumpulan peluang bisnis yang di kumpulkan dari berbagai sumber seperti: Bisnis indonesia, Majalah Pengusaha, Investor Daily, Tabloid Kontan, Majalah Pebisnis, Peluang Usaha, Franchise Group, Entrepreneurs Club Indonesia, Majalah DUIT DLL
WARALABA dimulai dari
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5994425&postcount=55
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5995532&postcount=56
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5995535&postcount=57
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5995539&postcount=58
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5995541&postcount=59
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5995546&postcount=60
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5995550&postcount=61
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5995551&postcount=62
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5995623&postcount=63
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5995626&postcount=64
http://forum.kafegaul.com/showpost.php?p=5995630&postcount=65
Cleaning Service Business
Jasa Cleaning Service ala MPM (PT Mitra Prima Mandiri)
Menurut Sumardi, General Manager PT MPM, untuk menghadapi persaingan di bidang jasa cleaning service, pertama harus mengetahui strategi mencari lahan. Dalam mencari lahan selain dibutuhkan marketing yang profesional, juga harus mengetahui seluk beluk mengenai jasa cleaning service.
Sedangkan di lapangan harus ada team Quality Control, dimana tugasnya adalah merawat dan mempertahankan lahan lahan yang sudah ada agar tidak direbut pihak pesaing lan.
Untuk menghindari complaint dari client client kita serta memaksimal kan kinerja, maka harus diberlakukan sistem penilaian kerja terhadap staf staf yang bekerja di lahan tersebut, ini berarti si penyewa jasa dengan team quality control harus berkerja sama menilai hasil kerja agar, si penyewa merasa mendapatkan yang terbaik dengan jasa yang disewa, termasuk juga dapat mendapatkan quick fix remedy dari masalah yang mungkin muncul selama jasa penyewaan cleaning ini berjalan.
PT Mitra Prima Mandiri, memulai usaha dengan hanya 46 Juta Rupiah untuk membeli peralatan seperti sapu, pengki, alat pel, kain lap, kemoceng, kanebo, mesin pel otomatis, peralatan toilet seperti sabun, karbol, pengharum ruangan dan lainnya. Barang supply ini harus selalu ada di tempat si penyewa agar proses pembersihan selalu optimal.
Modal Kembali dalam bisnis ini. dengan asumsi total nilai harga jual jasa per bulan berkisar Rp 59 juta dan sementara biaya operasional sekitar 46 juta, maka di perkirakan BEP modal akan kembali dalam sekitar 3,5 bulan
Pola kerja yang dilakukan adalah sistem kontrak, dimana jasa pembersihan dilaksanakan dahulu baru nanti dibayar, dengan sistem borongan
ANALISA FINANSIAL USAHA CLEANING SERVICE
-----------------------------------------------------------
A. Investasi
- Pembelian alat mesin Rp 18,000,000
- Pembelian material Rp 17,000,000
- Pembelian seragam karyawan Rp 8,000,000
- Pembelian bahan kimia Rp 1,000,000
- Biaya Kebutuhan Toilet Rp 2,000,000
-------------------
JUMLAH Rp 46,000,000
B. Harga Jual Jasa
Kontrak Jasa Cleaning Di Gedung Kantor 10 Lantai
( Kontrak 1 Bulan) Rp 58,832,000
C. Biaya Operasional
- Gaji Karyawan Rp 43,250,000
- Biaya Rutin Rp 400,000
- Lain Lain Rp 1,200,000
--------------------
Jumlah Rp 44,850,000
D. Laba Bersih
Rp 58,832,000 - Rp 44,850,000 = Rp 13,982,000
ROI alias Return On Investment approx 3,2 Bulan
==============================================
Artikel Pebisnis
BISNIS APOTIK 24 JAM ala K24
Meski sebagai pendatang baru di bisnis apotik dengan pola waralaba tetapi K24 merupakan apotik pertama yang buka 24 jam non stop, untuk buka non stop sedikitnya memperkerjakan 15 karyawan dengan system shift. Dengan Jumlah obat yang dijual di outlet minimal 5,800 item. Omzet rata rata bisa mencapai antara Rp 270 ~ Rp 300 juta per tahun dalam setiap satu outlet.
Tinggi nya penjualan selain factor jam buka yang 24 jam, adalah karena lokasi apotik K24 yang berada pada traffic yang ramai dan padat pemukiman, selain itu dalam sisi harga juga cukup bersaing. “Kami hanya menjual obat yang terdaftar resmi dan telah memperoleh izin dari pemerintah, dan lagi harga selalu sama baik penjualan pada saat subuh, pagi, siang, sore ataupun malam hari” ujar Gideon pemilik franchise apotik K24.
Dari segi investasi buka apotek K24 tergolong lebih murah dibanding waralaba apotik asing, untuk franchise fee K24 sebesar Rp60 juta untuk masa kontrak 6 tahun. Sedangkan royalty fee mitra cukup membayar 1,2 persen dari penjualan sedangkan apotik waralaba lain mengenakan royalty fee sebesar 3~4 persen. Menurut Gideon, royalty fee 3~4 persen untuk apotik adalah berat, makanya K24 hanya mengenakan 1,2 persen.
Untuk membuka outlet apotik K24, minimal membutuhkan area sekitar 60 meter persegi, dan juga harus merenovasi ruangan yang biayanya bisa sekitar 30 juta, lantas menyediakan “cash liquidity asset” di bank yang sekitar 60 jutaan.
Biaya perlengkapan mulai dari furniture, AC, Rak kaca, telepon, ATK, biaya launching awal yang biasanya diadakan pengobatan gratis untuk mengundang pengunjung, ini sebesar Rp 10 juta, dan biaya lainnya., yang kalau ditaksir modal awal buka usaha K24 ini mencapai 615 juta.
Dukungan operasional akan diberikan kamtor pusat yang berada di yogyakarta, meliputi pelatihan karyawan, pendampingan operasional hingga pembukuan, jaminan supply produk dan juga dukungan dan manajerial hingga promosi
Dari Pengalaman outlet yang sudah berjalan, membuka apotik K24 secara bisnis BEP 3 tahun, dimana pada tahun pertama dan kedua masih rugi dan tahun ketiga baru BEP, dengan asumsi modal awal dikeluarkan 615 juta.
ANALISA KEUANGAN APOTIK K24 JAM
A. INVESTASI AWAL
- Franchise Fee Rp 60,000,000
- Renovasi Ruangan RP 30,000,000
- Beli Peralatan Dan Perlengakapn Kerja ( Furnitur, AC, Komputer, Etalase dll)
Rp 240,000,000
- Sewa Tempat Usaha (misal 6 tahun) Rp 200,000,000
- Biaya Launching Usaha Rp 10,000,000
- Dana Liquid Cadangan Rp 60,000,000
------------------
TOTAL BIAYA I Rp 600,000,000
B. BIAYA – BIAYA
- Tenaga Kerja 15 Orang Rp 9,000,000
- Listrik dan Telepon Rp 3,000,000
- Biaya Antar Delivery & ATK Rp 1,000,000
- Lain Lain Rp 2,000,000
--------------------
TOTAL BIAYA II Rp 15,000,000
C. HARGA POKOK STOK OBAT OBAT Rp 112,000,000
D. PENJUALAN Buka 24 Jam selama 30 hari Rp 150,000,000
Maka Projected Income Perbulan adalah D – C – B = Rp 25,000,000
Atau Sekitar 300,000,000 (300 Juta ) per tahunnya, maka BEP kira kira 3 tahun
Devan 04-01-2006, 06:17 AM Spa Kelas Menengah Menjanjikan
Budi Utoyo sukses membangun spa untuk konsumen kelas menengah. Sebuah ide bisnis yang layak ditiru untuk bidang yang lain. Ada peluang untuk membeli franchisenya.
Kesibukan kerja yang mendera masyarakat kota besar, Jakarta khususnya, menjadikan keinginan untuk sesekali bersantai sudah seperti kebutuhan. Kondisi ini memicu munculnya berbagai tempat relaksasi, salah satunya spa. Tetapi, sejauh ini, belum banyak spa yang ditangani dengan benar atau menyediakan fasilitas sesuai dengan namanya. Seperti diketahui, di kota metropolitan ini, banyak dijumpai tempat relaksasi yang mengatasnamakan spa, tapi ketika masuk ke dalamnya yang ditemui justru sebaliknya. Istilah kerennya spa plus.
Di sisi lain, spa yang bertebaran di ibukota negara ini cenderung ditujukan bagi kalangan menengah ke atas. Misalnya, Martha Tilaar Day Spa yang sangat eksklusif dan hanya dapat dijumpai di kawasan-kawasan mentereng. Sehingga, tidak semua orang bisa merasakan bagaimana nikmatnya fasilitas spa. Padahal, keinginan untuk rileks adalah milik semua orang. Di samping itu, dari segi bisnis, begitu eksklusifnya spa semacam ini sehingga balik modalnya sangat lama dan sulit dideteksi. Kondisi ini memunculkan inspirasi dalam benak Budi Utoyo, pemilik Leha-leha Day Spa, untuk membangun spa yang “ benar” dengan fasilitas kelas atas tapi dengan tarif kelas menengah.
Mengapa kelas menengah yang dibidik? “Sebab, melayani masyarakat kelas atas itu susah, padahal market mereka tidak besar. Di sisi lain, jangkauan saya adalah lima tahun ke depan, di mana spa sudah menjadi bagian dari kebutuhan pokok. Sehingga, saya harus sangat serius merintisnya,” ujar Budi.
Untuk itu, pada 24 Juli 2004, Budi membangun Leha-leha Spa di atas ruko bertingkat dua seluas 5x15 m². Berbeda dengan spa-spa pada umumnya, selain menyediakan massage, manicure, pedicure, dan sebagainya, spa yang berlokasi di Kalimalang ini juga menyediakan fasilitas slimming spa dan body counturing, serta whitening spa. Slimming spa memberi janji berupa lingkar perut berkurang minimal 3 cm untuk sekali treatment. “Wanita mana yang tidak tertarik dengan penawaran ini?” katanya, bangga.
Slimming spa dan body counturing ini menggunakan tiga metode yaitu parafango (metode pengurangan ukuran lingkar tubuh dan selulit dengan menggunakan parafin), fitness wrap bandages (metode pengurangan ukuran lingkar tubuh dan selulit dengan sistem pembalutan), dan aromatic sculpture (metode pengurangan ukuran lingkar tubuh dan selulit dengan mengandalkan berbagai macam aromaterapi). Kepada mereka yang ingin merasakan berbagai perawatan ini, Budi mengenakan Rp50 ribu hingga Rp450 ribu, tanpa mengurangi kualitas produk.
Tidak rugi? “Penekanan saya pada investasi tempat,” ujarnya. Budi membandingkannya dengan Martha Tilaar Day Spa. Dengan selalu mengambil tempat-tempat mahal sebagai lokasinya, spa ini membebankan franchise fee sebesar Rp1,5 milyar di luar bangunan dan dengan BEP lima tahun. “Siapa yang mau menunggu lima tahun hanya untuk balik modal? Karena, biasanya BEP tercapai setelah dua tahun beroperasi,” jelasnya.
Sedangkan untuk Leha-leha Day Spa, franchisee cukup merogoh kocek sebesar Rp350 juta, membayar royalti fee 5% per bulan, dan jaminan akan BEP dalam tempo satu tahun. “Kami juga membangunkan interior dan menyediakan produknya, serta memberi pelatihan gratis kepada para terapisnya langsung di bawah bimbingan dokter,” ucapnya. Sebagai informasi tambahan, Budi memproduksi sendiri 14 produk perawatan kecantikan dan kesehatan untuk spa ini, seperti susu pembersih, sabun muka, toner, krim, gel, bedak, dan tonik rambut dengan harga Rp20 ribu–Rp50 ribu per buah.
Investasi di Spa ini mungkin terbilang paling murah di kelasnya. Sebab, untuk membangun Gaya Spa (spa yang diakui Budi selevel dengan spanya, red.) saja dibutuhkan investasi sebesar Rp600 juta. Padahal, Leha-leha Day Spa sudah menggunakan SG2000 untuk berendam, sedangkan Gaya Spa masih menggunakan whirpool. Leha-leha Day Spa memiliki Slimming Spa, sedangkan Gaya Spa tidak memilikinya. Martha Tilaar Day Spa memilikinya, tetapi harganya hanya bisa dijangkau masyarakat kelas atas.
Dalam hal pemijatan, para terapis spa yang masih dikhususkan buat wanita ini diajari langsung oleh dokter. Sehingga, cenderung mengandung unsur medis, bukan sekadar relaksasi. “Untuk tujuan yang berbeda, menggunakan terapis yang berbeda pula,” jelasnya.
Selain spa, Budi juga menjual franchise Klinik Kecantikan dan Kesehatan dr. Yati Utoyo (bersama sang istri), dengan “harga” Rp500 juta. Klinik yang telah berdiri pada 1999 ini berfungsi saling melengkapi dengan spa yang kini memiliki cabang di Cikarang dan Bumi Serpong Damai. “Konsep kami memang one stop shopping di bidang kecantikan dan kesehatan,” kata Budi yang kini memiliki 600 konsumen tetap. Sekadar informasi, Leha-leha Day Spa berencana membuka cabang di Kota Palembang, Yogyakarta, Surabaya, Purwokerto, Semarang, Solo, dan lain-lain.
Untuk melebarkan pasar, spa yang beromset Rp60 juta–Rp80 jut per bulan ini menggunakan marketing with love. Artinya, konsumen dilayani dengan baik, diberi penjelasan secara rinci tentang masalah penyakit atau gangguan di tubuh mereka, mengundang mereka dalam acara-acara keluarga, dan memperlakukan “pasien” seperti saudara. “Singkat kata, berbisnis dengan hati untuk membangun kebersamaan,” jelas Budi yang spanya dikunjungi 50–100 konsumen per hari. Peluang bisnis yang menjanjikan.
Spa Leha-leha & Klinik Kecantikan Dr. Yati Utoyo
Komplek BSK Blok B No. 4K.H Noer Ali,
Jl - Kalimalang, Bekasi 17114
Telp. 021-88950934Fax. 021-88952042
Ir. Budi & Yati Utoyo alumnus EU 29
ANALISIS
Investasi
Untuk Spa Rp.350.000.000,-
Untuk Klinik Rp.500.000.000,-
Total investasi Rp.850.000.000-
Sewa Ruko u/ 1 tahun pertama Rp.60.000.000,-
Total dana yang harus dimiliki Rp.910.000.000,-
Perkiraan pendapatan per bulan:
Perawatan spa dan klinik Rp. 90.000.000,-
Penjualan obat-obatan Rp.12.500.000,-
Total Pendapatan per bulan Rp.102.500.000,-
Perkiraan biaya sebulan :
Sewa ruang Rp. 5.000.000,-
Gaji Karyawan
2 orang dokter @ Rp. 3.000.000,- Rp.6.000.000,-
2 orang perawat @ Rp. 1.250.000,- Rp.2.500.000,-
1 supervisor @ Rp. 1.500.000,- Rp.1.500.000,-
5 Therapis @ Rp. 800.000,- Rp.4.000.000,-
1 Keuangan @ Rp. 1.000.000,- Rp.1.000.000,-
2 Adm. & Kasir @ Rp. 800.000,- Rp.1.600.000,-
2 Office boy & Kurir @ Rp. 750.000,- Rp.1.500.000,-
Pembelian produk perawatan & obat2an Rp. 32.000.000,-
Listrik, air dan telepon Rp.3.000.000,-
Fee manajemen & marketing Rp.2.700.000,-
Royalty fee (5% dari omzet) Rp.4.500.000,-
Perawatan & kebersihan fasilitas Rp.1.000.000,-
Total Biaya Rp.66.800.000,-
Keuntungan per bulan Rp.35.700.000,-
Perkiraan balik modal (ROI) =
Rp. 850.000.000,- - Rp. 35.700.000 = 23,81 bulan = 2 tahun
Devan 04-01-2006, 06:17 AM INVESTASI RINGAN DI KIOS PULSA
Kini ada peluang bisnis baru yakni kios isi ulang pulsa dengan model kerja seperti warung telekomunikasi (wartel).
Bagaimana, Anda sebagai seorang peminat bisnis membaca data-data berikut ini. Menurut beberapa penelitian, seperti yang pernah dilansir oleh beberapa operator telepon seluler nasional seperti Indosat, Telkomsel, pengguna telepon seluler di Indonesia saat hingga akhir Januari 2005 telah mencapai 30 juta orang, dan diperkirakan pada akhir 2007 akan berkembang menjadi sebanyak 65 juta orang. Pertama tentu saja pertumbuhan konsumen telepon selular melampui perkiraan banyak orang. Terus pengguna telepon seluler ternyata melampaui pertumbuhan perkembangan telepon sambungan tetap (fixed line).
Menurut pengamatan Direktur Marketing PT Cendana Teknika Utama (CTU) Muhammad Rivai, sekitar 90% atau 27 juta konsumen telepon seluler ternyata lebih memilih produk kartu prabayar untuk mengisi pulsanya. Dengan fakta stastik inilah, maka CTU yang memproduksi produk-produk elektronika kontrol dan teknologi informasi (TI) di kota Malang mencoba berinovasi.
Sehubungan layanan isi ulang telepon tanpa kabel ini kini berkembang bisnis turunannya. Selain yang telah diketahui selama ini –dengan membeli kartu dan pengisisian elektronik—kini ada layanan isu ulang baru yang potensial menjadi bisnis baru. Nah layanan itu adalah mengisi pulsa sendiri dengan model layanan seperti cara kerja warung telekonomikasi (wartel). Inilah produk baru yang diluncurkan oleh PT CTU melalui produknya yang dirilis dengan nama Cendana 2000. Alat ini hakekatnya adalah perangkat kios pulsa yang diisi sendiri oleh konsumennya.
Prinsip kerja kios pulsa dan SMS Swalayan ini dapat dikatakan hampir mirip seperti perangkat wartel. Begitu selesai isi pulsa, alat akan mencetak nota dan langsung bayar ke kasir. Bila selama ini pelanggan yang datang ke counter HP, pulsa yang dibeli biasanya berupa kartu atau diisikan oleh petugas. Pada kios pulsa swalayan tadi, konsumen yang input nomor HP miliknya. “Alat akan mengenali jenis kartu yang digunakan dan selanjutnya akan menampilkan pilihan denominasi serta harganya, setelah itu alat akan memverifikasi pilihan pulsa dan nomor yang dimasukkan. Setelah ok alat akan langsung mengorder ke server pulsa Cendana, dan begitu selesai printer akan mencetak bon secara otomatis,” lanjutnya.
Menurut Rivai penemuan alat ini dilatarbelakangi oleh beberapa kondisi. “Kami melihat semakin merosotnya pendapatan dari para pengusaha wartel. Lalu kami melakukan survey/polling ke sekitar 200 pengusaha Wartel di Malang. Hasilnya, sekitar 95% menginginkan adanya varian layanan dilokasi usaha mereka,” katanya. Dengan argumentasi bahwa wartel sebagai fasilitas layanan telekomunikasi umum yang sudah lama eksis, dan di sisi lain melihat perkembangan bisnis telepon seluler semakin hari semakin meluas membuat perusahaan tersebut turut andil di bagian hilir bisnis. Dan dari situ tercetus ide untuk membikin alat komunikasi lewat short message service (SMS) publik serta penjual voucher elektrik swalayan,” tambahnya.
Alasan di atas diperkuat data yang dipublikasikan bahwa pendapatan operator telepon selular dari setiap pelanggan adalah sekitar Rp 88.000- Rp 123.000/bulan. Dengan mengambil rata-rata sebesar Rp 100.000, berarti uang yang beredar dalam penjualan pulsa prabayar per bulan dari 27 juta pelanggan adalah sebesar Rp 2,7 trilyun. “Perkembangan jumlah pelanggan yang semakin banyak dan jumlah wilayah yang semakin luas, tentunya juga dibutuhkan jaringan distribusi pemasaran pulsa yang lebih banyak juga,” dalihnya.
Kondisi di atas ternyata didukung oleh fakta di lapangan bahwa di antara dua jenis cara pengisian pulsa, yakni antara membeli kartu dengan isi ulang secara elektronik, pengguna handphone lebih merasa nyaman ketika melakukan isi pulsa dengan isi ulang elektrik. “Terbukti pula bahwa pengisian pulsa secara elektronik merupakan solusi efektif dan efisien untuk memotong biaya distribusi berantai, memangkas berbagai macam bentuk pemalsuan voucher serta biaya produksi yang tinggi,” imbuhnya.
Menurut Rivai pasar produknya selain melayani pemilik telepon selular prabayar untuk isi ulang pulsa, produk yang dilaunching pada bulan Mei 2005 tersebut, juga untuk melayani komunikasi SMS bagi yang tidak memiliki ponsel . “Sedangkan bagi pengusaha wartel dapat memperoleh tambahan income dari fitur produk ini,” tambahnya.
Sebagaimana bisnis dengan konsep swalayan yang telah berkembang pada berbagai bidang lain seperti toko ritel, layanan ATM bank, Rivai berharap agar swalayan isi ulang pulsa prabayar juga menjadi peluang bisnis baru bagi pemilik wartel, counter HP, koperasi, mini market, rumah penginapan, tempat kos, dan restoran. “Terutama outlet-outlet di lokasi strategis padat pengunjung seperti terminal, stasiun, mall, tempat wisata, tempat hiburan dan sebagainya,” paparnya. Sejak diluncurkan Mei lalu, penjulan produk ini terus membaik. “Volume penjualan terus mengalami peningkatan antara 50 - 100 unit perbulan,” akunya.
Fitur lain yang tersedia dari Cendana2000 ini adalah kirim/ terima SMS. Artinya pelanggan dapat menggunakan alat tersebut untuk mengirim atau menerima pesan pendek dengan tarip tertentu. “Pengiriman SMS bisa pada satu tujuan atau banyak tujuan atau partai, sedangkan kiriman SMS bisa dicetak atau cukup dibaca di layar,” jelasnya.
Tertarik? Kalau tertarik Rivai memberikan gambaran investasinya. Besar biaya investasi untuk satu paket lengkap adalah Rp 2.150.000. Dana ini sudah termasuk alat, deposit pulsa sebesar Rp 250 ribu dan kartu perdana As untuk mendukung operasional pertama. “Penambahan untuk setiap satu buah KBU adalah sebesar Rp 850 ribu,” ucapnya. Disamping itu masih terdapat program-program khusus dengan pemberian harga diskon. Peluang lain untuk menjadi pertimbangan.
Devan 04-01-2006, 06:18 AM Peluang Bisnis "Microwave Bag" yakni Microwave Yang Dijinjing Seperti Tas
Masyarakat moderen yang makin mobile dan serba praktis menantang sejumlah pebisnis untuk memproduksi barang yang pas dengan karakter. Yang paling baru misalnya sebuah microwave yang bisa ditenteng layaknya membawa tas. Inovasi dan peluang bisnis yang menarik.
Seperti cerita bersambung. Dalam Pengusaha edisi Juli 2005, pernah dibahas tentang tas pendingin (Mr. Cooler) dalam rubrik Peluang dengan judul “Kulkas pun Bisa Ditenteng”. Empat bulan kemudian, sang produsen (yang masih ngotot menyembunyikan identitasnya) membuat “saudara kembarnya” alias tas pemanas.
Tas pemanas yang diberi nama microwave bag ini merupakan tas yang berfungsi memanaskan makanan. Dalam proses kerjanya, microwave bag menggunakan aliran listrik berkekuatan 40 watt, pada tegangan 220 volt. Karena itu, tas ini dilengkapi steker. Di bagian dalam tas ini terdapat elemen pemanas yang posisinya menghadap ke dasar tas. Di atas elemen pemanas, terdapat tatakan fiber dan di atasnya lagi terdapat plastic ware atau wadah dari plastik yang khusus digunakan untuk microwave.
Sedangkan, di bagian depan tas berwarna biru donker ini, terdapat kantung untuk menaruh perlengkapan makan, seperti piring, sendok, dan garpu. Pada bagian samping, tas yang ditawarkan dengan harga Rp80 ribu/unit (tentu saja harganya akan kurang dari itu, bila konsumen membeli minimal 10 unit, red.) ini, terdapat tempat untuk menaruh botol atau barang-barang lain seukuran botol.
Selain plastic ware, proses pemanasan makanan juga dapat menggunakan tempat yang terbuat dari stainless steel. Jika makanan tersebut dimasukkan ke dalam plastic ware hanya dibutuhkan proses pemanasan tak lebih dari satu jam. Sedangkan, bila memasukkannya ke dalam wadah dari stainless steel, dibutuhkan waktu 1,5 jam. Saat memanaskan, makanan harus dimasukkan ke dalam plastic ware atau wadah dari stainless steel.
Ricky Kowaas, distributor microwave bag, merekomendasikan bahwa sebaiknya penutup plastic ware dibuka agar proses pemanasan bisa berlangsung lebih cepat dan efektif. “Dengan begitu, proses pemanasannya cukup 30 menit,” ujarnya. Sekadar informasi, setiap membeli microwave bag, konsumen akan mendapatkan satu atau dua plastic ware, gratis.
Usai proses pemanasan, steker harus dicabut agar dapat “beristirahat”. Usai “beristirahat” sekitar 10 menit, steker dapat ditancapkan kembali ke stop kontak bila ingin memanaskan lagi. “Jangan biarkan steker tetap menancap dan jangan biarkan pemanasan lebih dari satu jam,” katanya. Makanan yang telah dipanaskan, Ricky melanjutkan, tidak berarti akan panas seterusnya.. Karena udara di luar tas, maka makanan secara perlahan akan menjadi hangat atau dingin.
Bila konsumen mendapat dua plastic ware dalam satu tas, dalam proses pemanasannya, kedua plastik tersebut dimasukkan dengan cara ditumpuk. Sekitar 30 menit kemudian, posisi kedua plastic ware itu diubah. Dalam arti, yang di bawah dipindahkan ke atas dan begitu sebaliknya, tapi steker tidak perlu dicabut. “Agar proses pemanasan dapat berlangsung maksimal, sebaiknya jangan memasukkan wadah lebih dari dua atau terlalu kecil ukurannya. Jangan pula menggunakan wadah plastik yang tidak dikhususkan untuk microwave. Sebab, dikhawatirkan wadah tersebut akan meleleh,” ucapnya. Sebenarnya, Ricky menambahkan, proses pemanasan secara bergantian semacam itu, kurang menghasilkan panas yang maksimal, kecuali makanan tersebut berkuah.
Saat proses pemanasan, Ricky menambahkan, sebaiknya tas pemanas ini diletakkan di atas tempat yang terbuat dari kayu, misalnya. “Agar landasannya tidak terbakar, jangan diletakkan di atas karpet atau kain. Dan untuk menghindari terjadinya hubungan pendek, jangan pula diletakkan di atas tempat yang basah,” ujar Ricky yang dalam dua bulan terakhir ini telah menjual 100 unit tas pemanas ke Jakarta dan Bali dengan omset Rp5 juta/bulan.
Pada dasarnya, microwave bag memiliki fungsi yang sama dengan microwave pada umumnya. Tapi, karena berbentuk tas dengan ukuran 28x20x20 cm dan ketebalan 1 cm (jauh lebih ringan daripada tas anak TK sekali pun, red.), maka produk ini lebih mudah dijinjing ke mana pun Anda ingin pergi. Dan, bila tidak sedang digunakan sesuai dengan fungsinya, microwave bag dapat difungsikan laiknya tas.
Di samping itu, produk yang baru dibuat empat bulan lalu ini, lebih murah dari segi harga dan lebih irit konsumsi listriknya daripada microwave rumahan yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah. “Kalau dari segi awetnya, tergantung bagaimana merawatnya. Malas merawatnya ya barang semahal apa pun cenderung lebih cepat rusak,” katanya. Tapi, konsumen tetap akan mendapat garansi bila tas pemanas ini tidak berfungsi seperti seharusnya. Ingat, jika sekadar tergores atau tertusuk, maka fungsinya akan kurang maksimal, tapi tidak berarti tas pemanas ini menjadi tidak berfungsi sama sekali atau rusak. Konsumen juga dapat membeli per bagian bila hanya bagian tersebut saja yang mengalami kerusakan.
Untuk menghindari kerusakan atau fungsi yang berkurang, Ricky menyarankan untuk tidak mencuci tas yang terbuat dari kain kanvas ini, tetapi cukup disikat saja, bila kotor. Jangan pula dikeringkan langsung di bawah matahari, agar elemennya tidak cepat rusak. Menurut Ricky, sebagian besar konsumennya sejauh ini adalah para ibu rumah tangga dan anak-anak muda. Sebab, mereka berpikir tas pemanas ini praktis dan harganya ekonomis. Berminat jadi peniru atau penjual?
Devan 04-01-2006, 06:18 AM Bisnis Isi Ulang Tinta Dari Veneta System
Veneta System sukses menjalankan bisnis isi ulang (refill) tinta printer baik toner, catridge maupun ribbon. Para Calon Franchisee diundang untuk membeli lisensinya. Sebuah peluang investasi yang menarik.
Krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997 secara tidak langsung berpengaruh terhadap prilaku konsumen atau pemakai tinta printer, khususnya pemakai tinta printer original yang harganya cukup tinggi. Namun kendati krisis menerpa, permintaan pasar Indonesia untuk produk ini tetap tinggi. Oleh karenanya perlu suatu manuver untuk mencari solusi. Kalau sebelumnya mereka menggunakan tinta printer asli, kini mereka mulai beralih untuk menggunakan tinta regenerasi, yakni isi ulang (refill) atau produk-produk remanufactured demi efisiensi pemakaian alat kantor .
Veneta System yang ahli refill tinta printer, baik untuk laser jet (toner) maupun inkjet (cartridge) hadir di Indonesia tepat pada waktunya untuk memberikan solusi bagi konsumen modern. Menurut Direktur Veneta System, Adrianus Widjaja, karena kondisi di ataslah Veneta System hadir di Indonesia selain mengusung brand yang tinggi juga teknologi Eropa untuk produk mengisian ulang tinta printer berbagai merk dan type.”
Adrianus juga mamaparkan bahwa dari hasil survai yang dilakukan oleh Veneta System sebelum terjun ke bidang usaha ini, tampak terlihat adanya suatu potensi pasar yang cukup besar dengan suatu tuntutan kualitas hasil kerja yang baik dengan harga terjangkau untuk bidang isi ulang tinta ini. Oleh karenanya, dari sekian banyak pilihan yang ditawarkan, pihak manajemen mengambil konsep usaha dan teknologi Veneta System yang telah terbukti berkembang di Italy dan negara-negara lain di Eropa umumnya. “Veneta System berkembang cukup baik, terbukti dengan meningkatnya jumlah pelanggan yang menggunakan jasa isi ulang tinta printer ini ke toko-toko Veneta System,” kata Adrianus.
Menurut Adrianus Veneta System tak diragukan lagi kehandalannya. Selain secara teknologi mendapat dukungan dari Veneta System di kantor pusatnya di Jakarta, seluruh jaringan toko juga memberikan dukungan kualitas dan layanan purna jual yang tak mengecewakan. Sebagai perusahaan yang memberikan hak waralaba, Veneta System bukan sekedar pusat isi ulang tinta printer, melainkan juga merupakan sebuah system dan konsep usaha. “Yang dijual Veneta adalah sebuah system baik itu system pemasaran maupun franchise yang baik dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar Indonesia,” kata Adrianus.
Untuk pasar Indonesia waralaba Veneta System (franchise) sudah mulai dikembangan dan ditawarkan ke publik pada pertengahan tahun 2003. Sebelum mereka sampai pada keputusan “go franchise” ini, manajemen telah melakukan riset pemasaran yang cukup serius selama setahun baik terhadap produk, teknologi maupun konsep usahannya. “Sampai saat ini, Veneta System telah mengoperasikan lebih dari empat puluh outlet diberbagai kota di Indonesia, dan akan terus berkembang ke seluruh pelosok di tanah air”, katanya optimis.
Menurut Adrianus, Veneta System bukan saja sebuah jaringan pemasaran satu produk, tapi sebuah konsep nilai sebuah merek (brand value). Dan ketika sebuah brand semakin berharga, maka nilai satu perusahaan semakin tinggi. Karena “value” inilah maka vaneta System berani mengembangkan diri dengan pola waralaba. Untuk menjaga kebutuhan nilai ini maka Adrianus sangat ketat dalam menentukan standar bagi seorang calon pewaralaba. Persyaratan itu misalnya, termasuk tampilan fisik sebuah outlet, gaya arsitekturnya, jenis dan spesialisasi usaha, konsep dagang, kebijakan usaha, bahkan pelatihan untuk sumber daya manusia hingga pada pengenalan mesin-mesin pengisi-ulang (refill) tinta terbaru.
Adrianus memberikan gambaran, harga jual waralaba Veneta System relatif murah dibandingkan dengan investasi waralaba pada umumnya. Besar investasi yang harus dikeluarkan oleh calon pewaralaba sangat tergantung dari luas toko dan kelengkapannya. Veneta hanya memberikan arahan bagi pembangunan outletnya. Untuk biaya awal waralaba (franchise fee) berlaku untuk lima tahun dan biaya tersebut termasuk digunakan untuk biaya pelatihan SDM, biaya survey, perlengkapan laboratorium pengisian tinta dan komponen biaya lain.
Mahal? Adrianus memastikan nilai tersebut bahkan belum sebanding dengan benefit yang diperoleh pewaralaba. Karena menurut hitungannya, delapan puluh persen dari investasi yang ditanamkan tersebut sebenarnya langsung dinikmati oleh penerima waralaba (franchisee). Misalnya untuk pemenuhan termasuk stok dan standar design, layout dan image toko. Dan yang menggembirakan Adrianus memperkirakan hanya dalam waktu dua tahun investasi bakal balik modal. Sebagai sebuah peluang usaha tentu saja sangat menarik. Di tengah gencarnya pertumbuhan para pesaing sejenis, kini Veneta System telah memiliki jaringan di berbagai kota besar di Indonesia.
Menurut Adrianus, untuk mewujudkan pelayanan yang baku tersebut, maka pengawasan manajemen sangat ketat. Dengan konsep yang standar dan sama tersebut, menurut Adrianus setiap outlet akan merasa bahwa mereka bagian dari Veneta System yang baku dan profesional. Khusus untuk outlet-outlet di luar Jabodetabek ada extra cost pada investasi awal. Yaitu biaya survey lokasi dan biaya kunjungan berkala dari manajemen pusat. Sementara untuk semua biaya pengiriman barang akan ditanggung oleh pihak supplier. Melihat trend bisnis di Indonesia, serta maraknya bisnis franchise di Indonesia, adalah tidak salah untuk mempertimbangkan membeli Veneta System sebagai pilihan investasi.
Devan 04-01-2006, 06:18 AM Bisnis Mr. Burger, Lagi Lagi Retail Burger Yang Berkembang
Follower tak selamanya jelek. Malah, dalam beberapa hal, justru sang follower itu lebih kreatif dan malah, bisa jadi dia akan lebih hebat dari pionir atau yang dicontohnya. Dan, itu, sekarang dilakukan oleh Komang Andopi Kartika Belia, mantan pengembang properti dan pengusaha wartel ini. Di bawah bendera PT Gempita Indonesia Muda (GIM), dia berhasil mengembangkan gerai Mr. Burger menjadi 300 gerai dan kafe yang tersebar di 13 kota di Indonesia seperti Jakarta, Batam, Cirebon, Bandung, Purwakarta, Semarang, dan Bali. Bahkan, akhir Oktober lalu, dia akan mematok target menjadi 30 kota di Indonesia. “Bisnis makanan sangat potensial dan bisa dikembangkan lebih besar lagi, karena memiliki cash flow yang bagus,” ujarnya.
Dari sekian gerai dan kafe tersebut, hanya empat gerai dan satu kafe yang benar-benar miliknya. Selebihnya merupakan milik investor atau mitranya. Maklum, merek yang dipatenkan pada 2004 ini, dikembangkan dengan sistem waralaba.
Apa sih kiatnya? “Pengalaman 10 tahun di Edam Burger, menjadikan saya bisa mengembangkan bisnis serupa tapi dengan strategi yang lain,” katanya singkat. Andopi memang terpicu dengan keberhasilan Edam, yang masih dikata familinya tersebut. Keberhasilan yang diraihnya memang terhitung kilat. Mr. Burger baru diluncurkan pada Maret 2005 lalu. Tapi dalam tempo beberapa bulan saja, produk ini sudah beranak pinak menjadi ratusan gerai, 200 gerai di antaranya tersebar di seluruh Jakarta. Padahal, modal yang ditanamkan pengusaha yang tergabung dalam HIPMI ini tak kurang dari Rp 50 juta.
Kiat lainnya, pada lima bulan pertama diluncurkannya Mr. Burger, Andopi langsung menawarkan produknya secara waralaba dan dia berhasil membuka 10 gerai di minimarket Alfamart Jakarta Selatan. Padahal proyek ini masih bersifat percontohan. Imbasnya bak air bah, gerai Mr. Burger pun membengkak hingga mencapai ratusan gerai.
Keuntungan yang dikeruknya pun makin berlipat-lipat. Sebab, dia memegang izin prinsip penempatan gerai dari Alfamart dan beberapa lokasi pusat keramaian. Berkaitan dengan itu, di luar franchise fee, investor yang membeli gerainya juga harus mengeluarkan biaya sewa tempat. Misalnya, jaringan Alfamart membebankan biaya Rp250 ribu/gerai.
Di sisi lain, Mr. Burger “dijual” dengan harga sekitar Rp3 juta/unit, 50% dari franchise fee itu harus dibayarkan terlebih dahulu, sebelum counter dibuat. “Dari sini saja saya bisa meraup Rp500 juta,” ucapnya, tanpa bermaksud sombong. Sekadar informasi, dari masing-masing counter, Andopi mengambil margin rata-rata 20%–30%.
Andopi menjual counternya berdasarkan tiga ukuran yaitu pertama, counter berukuran 85 cm² yang dijual dengan harga Rp3 juta. Kedua, counter berukuran 2x2 m² atau disebut juga tipe oval yang dijual dengan harga Rp35 juta dan ketiga counter berukuran 2x3 m² atau tipe persegi yang ditawarkan dengan harga Rp55 juta. Sekadar informasi, dalam pembuatan counter, Andopi mengerjakannya sendiri. Untuk itu, dia membuat satu workshop khusus, yang mempekerjakan lima tukang.
Lalu apa yang didapat franchisee? “Mereka mendapat semua peralatan dan perangkat pendukung, serta bahan baku burger. Bila bahan baku habis, mereka tinggal mengorder ke kantor pusat Mr. Burger,” jelasnya.
Ke depannya, Andopi akan membuat brand baru yakni Mr B. Rencananya, produk burger baru itu untuk segmen menengah atas dengan harga Rp 12 ribu-an. Untuk itu, dia telah merekrut tiga kokinya, satu diantaranya adalah berhasil menyabet gelar internasional lomba memasak di Shanghai, China. Dua selebihnya adalah mantan Chef di hotel berbintang lima di Bali. “Mereka ini bergabung dengan kami karena ter-PHK, gara-gara bom Bali pertama,” katanya.
Untuk Mr B ini, Andopi menawarkan investasi Rp 500 juta, bagi mitra yang ingin menjual burger ini. Nantinya, Mr B akan dibuka di Mal-Mal kelas atas seperti Cilandak Town Square dan beberapa tempat lainnya.
Contacts:
Mr. Burger & Mr. B
Jalan Raya Moh Kahfi I no:33
Ciganjur, Jakarta 12630
Tel 021-788-92203
Hp 0816-1164999
=============================================================
Paket Usaha Mini Counter Mr. Burger
A. INVESTASI AWAL: Rp 3,000,000
ini adalah paket yang diberikan Mr. Burger dimana terdiri dari:
- Counter Lengkap (set) dengan etalase dan sticker Mr Burger
- Tenda
- Kursi
- Spanduk Mr Burger
- Kaos Mr Burger
- Wajan Teflon
- Jepitan Daging
- Pisau Roti
- Talenan
- Mangkok 1 set / botol
- Tempat Sayur
- Tabung Gas Besar + Regulator + selang
- Kompor Gas 1 Tungku
- Piring Melamine
- Cool Box Daging
- Box Roti
- Sarung Tangan
- Box Sampah
- Banner Menu
B. PRODUK BAHAN BAKU BURGER = Rp 135,500
Maka Total Investasi Awal adalah = Rp 3.135.500
Perkiraan Penjualan 50 X rp1500 x 30 hari = Rp 2,250,000
Perkiraan Biaya perbulan
- Sewa Tempat = Rp 250,000
- Gaji Pegawai = Rp 600,000
Total Biaya perbulan adalah = Rp850,000
Maka Total Keuntungan Per Bulan = Rp 2,250,000 - Rp 850,000 = Rp 1,400,000
Bila kita kembalikan kepada INVESTASI AWAL, maka perkiraan balik modal adalah sekitar 2 Bulan, dengan asumsi diatas!
Devan 04-01-2006, 06:19 AM Bisnis Makanan Ringan "Surabi" alias Serabi Jadi Makanan “ Anak Gaul”
Eddi Sulistio berhasil mengubah citra Surabi Bandung dari makanan tradisional menjadi makanan resto yang digandrungi Anak Baru Gede (ABG). Dengan ini serabi jadi lebih “ngetrend” dan jadi makanan “anak gaul”.
Surabi, atau yang di beberapa daerah dikenal sebagai serabi, merupakan makanan tradisional yang biasanya dijajakan secara keliling atau dipajang di lapak-lapak kaki lima. Biasanya, serabi dibeli kemudian dibungkus dan dibawa pulang untuk dijadikan makanan selingan. Tetapi di tangan Eddi Sulistio kebiasaan lama itu telah diubah. Kini Surabi Bandung, yang semula diposisikan sebagai makanan selingan, dengan berbagai inovasi pengolahan ia sulap menjadi makanan utama dan siap santap di tempat.
“Para pengemar tidak lagi harus menenteng-nenteng surabi ke rumah. Mereka sekarang bisa memakannya di tempat. Karena kami telah mengubahnya menjadi makanan ala resto,” ungkap pria asal Padang ini. “Dan surabi yang kami sajikan selalu dalam keadaan panas,” sambungnya.
Hasil dari ‘eksperimen’ dari pria yang mengaku suka menikmati berbagai jenis makanan ini kini telah membuahkan sedikitnya 34 jenis surabi. Bahkan masih ada beberapa jenis surabi baru yang akan diluncurkan dalam beberapa bulan mendatang. “Pokoknya dijamin enak, bergizi dan murah,” ujarnya setengah berpromosi.
Meski cita rasa merupakan poin utama dalam berbisnis makanan, namun menurut Eddi, rasa enak bukan satu-satunya jaminan yang bisa mendatangkan pelanggan. Sedari awal Eddi meyakini dirinya harus fokus kepada satu segmen tertentu untuk bisa mengatrol penjualannya.
Maka ia memposisikan surabinya untuk segmen Anak Baru Gede (Murid SLTP, SMU dan perguruan tinggi). “Saya berpikir harus fokus pada segmen tertentu. Dan menurut penilaian saya ABG merupakan segmen yang paling luas dibandingkan segmen lainnya,” papar Eddi mengenai alasannya membidik segmen ABG. Karena segmen yang dibidik para ABG, Eddi juga berusaha ‘gaul,’ di antaranya selalu berusaha untuk menyapa, bahkan ikut ‘nimbrung’ pembicaraan dengan para pelanggan yang biasanya datang berkelompok ini.
Desain restonya pun dibuat agar memberikan kesan santai. Para pelanggan bebas menikmati makanan yang disajikan tanpa harus terburu-buru. Karena untuk menikmati surabi yang dipesan memang membutuhkan waktu yang lumayan lama. “Banyak pelanggan baru yang mengeluh mereka menunggu terlalu lama. Tetapi bagi para pelanggan lama, mereka sudah paham mengenai proses pengolahan surabi ini. Justru waktu menunggu selesainya pesanan ini mereka manfaatkan untuk saling bertukar informasi,” terang Eddi.
Untuk memperluas pelanggan, maka Eddi sering menyambangi berbagai kegiatan sekolah maupun perguruan tinggi, seperti ikut menjadi peserta di sejumlah pameran atau basar yang diadakan oleh suatu sekolah atau suatu perguruan tinggi. “Kalau tak kenal maka tak enak. Artinya, biarpun makanan kita enak kalau mereka tidak mengenal tentu dagangan kita juga tidak laku,” imbuh pengusaha yang lebih dulu menggeluti usaha percetakan ini.
Tak jarang Eddi menjemput bola kepada para pelanggan. Sering ia mengundang sejumlah pengurus OSIS sejumlah sekolah atau senat mahasiswa sejumlah perguruan tinggi untuk mencicipi surabi penemuan terbarunya. “Saya lebih senang mengundang mereka makan, ketimbang menyebar-nyebar brosur,” aku Eddi.
Jurus yang diterapkan oleh Eddi itu sepertinya sudah berada pada jalur yang benar, jika kesetiaan dan pertumbuhan pelanggan dijadikan ukuran. Menurut pengakuan Eddi, banyak pelanggan yang masih setia mengunjungi outletnya di Jalan Margonda Depok meski mereka sudah duduk di bangku kuliah. “Mereka menjadi pelanggan saya sejak duduk di bangku SMU,” paparnya sambil menunjuk sekelompok mahasiswi yang tengah menyantap surabi.
Dengan satu restonya di Jalan Margonda saja Eddi bisa meraup omset sekitar Rp 30 juta/ bulan. Sedangkan Eddi dalam waktu tiga tahun ini juga sudah membuka gerai di Kelapa Gading dan di Jalan Wahid Hasyim. “Untuk yang di Kelapa Gading, saya masih ngikut orang,” terangnya.
Sedangkan resto yang berada di Jalan Wahid Hasyim, selain membidik ABG, Eddi juga menyasar para turis, tetapi pasar ABG tetap menjadi sasaran utamanya. “Saya optimistis, selama resto didirikan di tempat yang banyak dikunjungi ABG bisnis ini akan bisa berjalan lancar,” sebut Eddi.
Ke depan Eddi juga ingin memperluas restonya dengan sistem waralaba. Tetapi untuk saat ini Eddi masih menerapkan pola kemitraan bagi pihak-pihak yang tertarik untuk berbisnis surabinya. “Saya juga sedang mencari-cari tempat untuk memperluas resto di antaranya di Cikarang dan Bogor,” ucap Eddi. Selain itu, resto yang berada di Jalan Margonda juga akan diperluas dengan memanfaatkan ruangan di lantai II. “Di atas (lantai II) nanti akan kami sajikan makanan-makanan dari Jepang seperti tempura dan teriyaki,” jelasnya.
Eddi menjamin meski makanan-makanan yang akan disajikan berbau impor namun tetap akan dipadukan dengan yang sudah ada. Dan yang lebih penting lagi Eddi menjamin makanan yang disuguhkan masih sesuai dengan kocek para ABG.
Sampai saat ini secara umum Eddi masih menyebut Surabi Bandung untuk surabi yang dijualnya. Ke depannya surabi itu akan diberi brand ‘Wacan.’ Artinya Pak? “Ah, apa arti sebuah nama,” tukasnya.
Devan 04-01-2006, 07:51 AM Peluang Usaha Skala Small Business 2006
1.) Rental Mobil
2.) Kredit Motor
3.) Reparasi Peralatan Elektronik
4.) Penjualan Motor & Mobil Bekas
5.) Usaha Salon Mobil
6.) Franchise atau Waralaba
7.) Usaha MLM
8.) Bengkel
9.) Catering Makanan
10.) Cleaning Service
11.) Usaha Jasa Pindah atau Kurir Moving
12.) Binatu atau Laundry
13.) Salon Kecantikan
14.) Kursus Pendidikan Pra Sekolah
15.) Usaha Penjualan Kue & Roti Konsignasi
16.) Usaha Penjualan Sayuran Organik
17.) Usaha Penjualan Asesoris Handphone
18.) Usaha Penjualan Handset Handphone Bekas
19.) Usaha Kurir Antar Barang Intra Kota
20.) Usaha Event organizer, Jasa Pengelolaan Acara
21.) Penjualan Pulsa Telpon Seluler
22.) Mainan Dan peralatan aktifitas anak - anak
23.) Jasa Pengurusan Dokumen Spt Pajak, paspor, akta tanah dll
24.) Jasa Agen Sembako untuk keperluan rumah tangga
25.) Agen Properti atau Agen Asuransi
26.) Usaha Pusat Kebugaran, Spa, Fitness, Reflexology
27.) Usaha Studio Rekaman Mini
28.) Usaha Wedding singing, Organ Tunggal
29.) Rental DVD/VCD original
30.) Penjualan Furniture Menengah ke bawah
31.) Usaha Toko Ritel kelontong serba ada
Devan 05-01-2006, 07:16 AM Peluang Bisnis Wedang Wayang yang bikin “greng”
Semakin banyak pebisnis yang memanfaatkan momentum “franchise booming” untuk mengembangkan bisnisnnya. Wedang Wayang yang menjual minuman tradisionalpun mencoba keberuntungan dengan menjual lisensinya. Buat yang berminat, tetaplah berhati-hati sebelum memutuskan untuk menjadi mitranya.
Bentuknya memang hanya berupa minuman tradisional yang terbuat dari bahan dasar kunyit dan temulawak. Tapi siapa sangka jika minuman tradisional yang dikemas dalam botol dengan merek Wedang Wayang ini, sudah semakin “greng” dan siap pula diwararalabakan.
Oktin L Siana, produsen minuman yang berasal dari kota Semarang tersebut memang tidak mengira bila bisnis yang semula sebagai usaha sampingan tersebut akan berkembang pesat. Selama ini, perempuan kelahiran tahun 1965 tersebut memang dikenal sebagai pengusaha salon kecantikan di kawasan Tanah Mas, Semarang. Disela-sela kesibukannya mengelola salon tersebut, ia mencoba meracik minuman tradional yang benar-benar memiliki khasiat untuk kesehatan.
Oktin memang memilih bahan dasar kunyit dan temulawak, karena kedua tanaman jenis umbi-umbian ini dari hasil penelitian para pakar mengandung curcumin yang terbukti sangat baik untuk kesehatan manusia. Tak mengherankan, jika di kalangan masyarakat umumnya, kedua jenis tanaman obat ini memang sudah cukup populer untuk bahan jamu. Bahkan dalam industri jamu, keduanya menjadi bahan baku utama.
Yang menarik, selama ini jamu dengan bahan dasar kunyit dan temulawak selalu diidentikkan dengan minuman dengan rasa pahit dan agak pengar (bau) . Namun ditangan perempuan yang satu ini, minuman tersebut menjadi nikmat dan penuh aroma. Untuk sampai pada tahap ini Oktin telah menemukan resep khusus untuk menghilangkan kedua rasa yang tidak banyak disukai orang tersebut. “Meski bahannya dari kunyit dan temulawak, saya jamin tidak akan ada lagi rasa pahitnya,” kata pemilik Salon Oktina ini.
Bagi Oktin, membuat minuman memang bukan barang yang asing lagi. Ketika masih kecil, ia sudah membantu kedua orangtuanya yang menggeluti bisnis makanan dan minuman tradisional di Semarang. Maklum ia memang berasal dari keluarga yang memang telah lama menggeluti produk makanan dan minuman tradisional. Bisnis makanan tradisional kedua orangtuanya tersebut sempat berjaya dan melahirkan beberapa merk yang populer di sekitar Semarang di tahun 1970-an. Namun bisnis ini bangkrut setelah sang bapak dipanggil Sang Khalik. “Sayangnya memang tidak ada yang tertarik untuk melanjutkan,” katanya.
Agaknya hanya Oktin saja yang tertarik mengikuti jejak sang bapak. Sejak tahun 1995-an, ia iseng-iseng membuat minuman tersebut. Pada awalnya, ia hanya menjual untuk kalangan terbatas khususnya untuk tamu yang biasa berkunjung salon kecantikan yang dikelolanya. Namun dalam perkembanganya ternyata banyak pengunjung salon yang merasa cocok dan menjadi pelanggan tetap bahkan juga membeli untuk oleh-oleh keluarga di rumah.
Dari situlah, ia terus menambah produksi dan mencari karyawan tetap untuk memproduksi secara khusus. Menurutnya, ia hanya menggunakan bahan yang benar-benar alami. Selain kunyit dan temu lawak ia menggunakan gula semut kualitas super dan ditambah dengan kremer. Selain itu, juga ada tambahan lain untuk menghilangkan rasa pahit, namun ia merahasiakannya. Oktin juga menjamin produknya tidak menggunakan bahan pengawet, karena itulah, paling lama hanya bisa bertahan empat hari. Itupun dengan perlakuan khusus.
Rasanya yang enak menyegarkan, menjadi alasan utama kenapa banyak konsumen yang merasa cocok dengan produk minumannya. Setelah banyak konsumen yang merasa cocok, Oktin kemudian membuat kemasan khusus botol dan diberi label Wedang Wayang. Dengan pemberian label ini, ternyata semakin banyak konsumen yang merasa yakin karena produsennya jelas tertera di kemasannya. Bahkan menurut Oktina, produknya sudah menjadi minuman khas di beberapa hotel di Jateng dan DIY.
Untuk lebih profesional dalam menjalankan bisnisnya, ia juga membuat badan usaha dengan dengan nama CV. Duta Kencana untuk mengelola industri minuman tradisional tersebut. Oktin semakin kewalahan menerima order setelah ia membuat kemasan produknya dengan brand Wedang Wayang. Bahkan permintaan mulai berdatangan dari luar kota Semarang. “Mereka umumnya tahu hanya dari getok tular alias dari mulut ke mulut saja,” tandasnya.
Menurut Oktin, sebenarnya pasar untuk produknya masih terbuka lebar. Hanya saja yang menjadi kendala adalah masa kadaluwarsa yang sangat pendek karena ia tidak menggunakan bahan pengawet sama sekali. Karena itulah, ia mencoba memasarkan produknya dengan sistem kemitraan yang dikenal dengan waralaba. Katanya, hanya dengan model ini ia bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Apalagi, selama ini produknya cocok dikonsumsi di daerah mana saja baik diminum dalam keadaan panas maupun dingin.
Oktin memberi kesempatan kepada siapa saja yang memiliki modal untuk mengembangkan bisnis Wedang Wayang tersebut. Besarnya modal bisa disesuaikan dengan target yang ingin diraih. Bila ingin menguasai wilayah propinsi bisa menjadi master franchise yang diwajibkan untuk membayar franchise fee antara Rp 50-100 juta. Sementara untuk menjadi franchisee utama yang menguasai wilayah kabupaten atau kota madia membayar antara Rp 15-20 juta. Nah yang murah bila ingin membuka outlet yang menguasai wilayah kecamatan hanya perlu membayar Rp 5 juta.
Yang menarik untuk master franchise tidak ada batasan waktu kerja karena berlangsung selama-lamanya tanpa batas waktu. Sedangkan untuk franchise utama batas waktunya 15 tahun. Dan untuk pemilik outlet selama lima tahun. Sementara itu, kepada pembeli franchise, Oktin akan memberikan kebebasan untuk memberikan pelatihan untuk produksi Wedang Wayang dan menggunakan semua logo Wedang Wayang. Selain itu Oktin juga mensuport untuk segala bentuk promosi hingga bisnis tersebut bisa berjalan seperti yang diharapkan.
Dijelaskan, keuntungan yang didapat dari membuka outlet Wedang Wayang sangat lumayan. Sebagai gambaran, setiap outlet yang setiap hari minimal bisa menjual 20 liter, rata-rata bisa memperoleh keuntungan bersih per bulan Rp 850 ribu. Bagi yang tertarik memiliki outletnnya berikut gambaran ringkas analisis usahannya.
==============================================
ANALISIS USAHA
Pengeluaran:
Franchise fee : Rp 5.000.000,-
Peralatan : Rp 1.500.000,-
Bahan baku : Rp 1.000.000,-
Total : Rp 7.500.000,-
Pemasukan
Harga perliter Rp 2.500 (Jika mampu menjual 20 liter/hari) :
Profit perbulan 25 X Rp 2.500X 20 liter : Rp 1.250.000,-
Gaji karyawan : Rp 400.000.-
Keuntungan : Rp 850.000,-
Waralaba Wedang Wayang (Ny oktina)
Bisnis Minuman Kesehatan Tradisional, Franchise sekitar 5 Juta
CV Duta Kencana
Jalan Soragan 106 Yogyakarta
Tel (0274) 625082, HP 0813-16879038
==============================================
Devan 05-01-2006, 07:19 AM Peluang bisnis VELG RALLY BEKAS TETAP BERKELAS
Bisnis barang mewah seperti velg rally bekas cukup menjanjikan. Yang penting sebenarnya sejauh mana Anda mengerti besaran pasar Anda. Barang eksklusif untuk pasar eksklusif juga.
Sudah cukup bukti, banyak bisnis dimulai karena pensiun sebagai profesional di bidang apa saja. Profesional bidang olahraga misalnya telah menghasilkan beberapa pebisnis cukup fenomenal. Seorang Susi Susanty, yang mantan atlet bulutangkis nasional bersama suaminya, Alan Budikusuma, melenggang dengan bisnis raket bermerek Astech. Asep Hendro, mantan pembalap nasional, sudah punya bisnis jacket khusus untuk pembalap. Tentu banyak contoh lain yang bisa disebutkan. Tapi kalau seorang penggemar sport otomotif akhirnya menjalankan bisnis yang disukainya tentu ceritanya akan menjadi lain. Disebutkan seorang penggemar balap mobil pada akhirnya merintis bisnis yang menarik dan tenu menantang yakni menjual velg rally bekas.
Robert Pontas adalah pebisnis yang kita maksud yang menekuini usaha jual-beli pelek mobil reli di kawasan Depok, Jawa Barat. Awal usahanya dimulai dari mengumpulkan macam-macam pelek mobil balap. Hal itu merupakan salah satu hobi disamping kesenangannya berpacu di arena. Karena faktor usia, tambahan bahwa untuk melanjutkan hobi yang disebut kedua tersebut membutuhkan dana tidak sedikit, akhirnya hanya yang pertama yang tetap bisa bertahan. Sedangkan menurut penuturannya hobi itu telah berubah menjadi bisnis sejak sekitar bulan Mei tahun 1999 lalu. “Pada mulanya saya hanya memiliki tiga set velg rally yaitu Advan Rally, Enkei Compe Rally dan Potenza Rally, dan pada waktu itu saya mulai mencoba mengiklankannya pada salah satu harian ibukota. Ternyata dari iklan tersebut saya berhasil menjual salah satu velg yang saya iklankan, kemudian berlanjut secara rutin,” kisahnya.
Ketertarikan menjalankan usaha itu dikarenakan dia melihat sebuah potensi pasar. Selain karena memang mencintai usahanya, pada saat itu, dikatakannya, belum ada toko yang khusus menjual velg rally dan balap (untuk barang bekas). Sehingga peluang tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya, walaupun kemudian dengan berkembangnya waktu, menurutnya pesaing mulai bermunculan. Tetapi Bapak dari dua anak ini justru beranggapan bahwa dalam berbisnis harus terdapat tantangan, maka hal itu bukan menjadi masalah.
Biar kata barang bekas, bukan berarti tidak mempunyai nilai jual. Benda yang bagi sementara orang sudah tidak ada harganya dan terbuang percuma, bagi sebagian yang lain masih bisa dimanfaatkan bahkan layak jual. Keunggulan produk yang ia tawarkan adalah lebih kuat dibanding dengan pelek yang beredar di pasar, yaitu pelek-pelek dengan model yang selalu up-to-date tetapi hanya bersifat sementara. Model reli atau balap selalu digemari, artinya tidak bersifat musiman. “Kelebihan lain ia memiliki harga jual kembali yang relatif stabil, sehingga pembeli sama saja dengan menginvestasikan uangnya dengan membeli produk yang saya jual,” papar Robert.
Prospek cukup bagus, tetapi kendala yang dialami justru lebih bersifat teknis, seperti kesulitan dalam pencarian barang dagangan. Beruntung ia dapat mengatasinya dengan menjalin kerjasama dengan para pedagang toko dan pedagang kaki lima di beberapa kota kurang lebih 50 orang. Produk-produk yang dicari adalah keluaran tahun ‘95 ke bawah, hingga tahun ’70-an, dengan merek Enkei, Bridgestone, Advan, Dymag, Oz Racing, Roh, Compomotive, dan lain-lain, ditambah model-model klasik. Para anggota komunitas penggemar mobil sport umumnya sangat fanatik dan berani membayar mahal untuk mendapatkan model-model langka yang sudah tidak diproduksi. “Bila mana perlu saya melakukan rekondisi seperti pengelasan, saya kelotoki catnya, dilihat kondisinya, baru dicat ulang,” akunya.
Pelanggan Robert sebagian besar adalah yang tinggal di sekitar Jakarta, tetapi ada juga beberapa dari luar kota seperti Bandung, Jogja, Surabaya, Bali, Pekanbaru, dan lain-lain. “Untuk menjaga loyalitas pelanggan saya selalu mengadakan kontak, baik untuk menawarkan barang baru, bisa pula menanyakan kalau-kalau mereka hendak menjual miliknya,” ujarnya. Hal itu lumrah terjadi, konsumen yang membeli sebagai investasi bisa saja melepaskan barangnya kembali apalagi bila nilai jual kembali menjadi lebih tinggi oleh karena sudah langka, di samping itu peminat akan selalu ada. “Pernah seorang pelanggan membeli seharga Rp 1,5 juta dan tidak lama kemudian telah ditawar orang Rp 2,7 juta,” tuturnya. Sedangkan Robert biasanya mendapatkan profit margin antara 10%-25% bersih dan penjualan bisa mencapai 5 set dalam sebulan.
Kemudahan pemasaran diperoleh Robert melalui promosi mulut ke mulut dari jalinan pertemanan komunitas otomotif yang acara-acaranya masih sering dia hadiri. Dengan melalui kartu nama maupun stiker ia menegenalkan usahanya yang diberi nama R-Rally Wheels itu. Di samping itu pula ia juga aktif berpromosi melalui media baik below maupun above the line, dan juga mengikuti beberapa pameran.
“Ada beberapa strategi untuk mengembangkan usaha yang sedang saya siapkan, salah satu contoh adalah ingin mencoba ke pasar Malaysia, Filipina, Australia, Eropa, dan Amerika,” paparnya. Dia optimis karena pasar luar negeri memiliki komunitas kelompok-kelompok yang cukup fanatik terhadap produk yang dijualnya. “Kunci masalahnya adalah bagaimana mendapatkan kepercayaan,” imbuhnya. Untuk itu setelah masuk menjadi anggota milis group mereka, dia dapat mengadakan penawaran untuk menjual produk. Sebagai sebuah usaha, milik pria yang masih bekerja sebagai tenaga marketing sebuah perusahaan swasta ini sedang dirintis untuk berkembang. Dan melihat potensinya, peluang untuk itu masih terbuka.
Devan 05-01-2006, 07:23 AM Monalisa : Pelopor Burger di Kota Gudeg
Monalisa Burger menjadi gaya makan baru masyarakat Yogyakarta. Kendati muncul pesaing baru, Monalisa terus ekspansif. Prospek pasarnya masih lebar.
Bila senja telah tiba, suasana Jl. Kaliurang, Jogja mendadak berubah menjadi semringah. Makanan apa saja yang Anda inginkan pasti tersedia lengkap di sini. Dari menu asli Indonesia, hingga menu-menu manca negara. Diantara deretan warung para juragan makanan tersebut, ada sebuah gerai yang tidak pernah sepi. Itulah gerai Monalisa Burger.
Meskipun terkenal sebagai spesialis burger, Monalisa juga menjual menu barat lainnya seperti piza, spagheti, hot dog, dan aneka minuman ringan. Monalisa Burger, boleh dibilang pelopor burger local. Hari-harinya dikomandoi Wibowo Agung Sanyoto. Monalisa dibuka 1988. Awalnya hanya sebagai pengisi waktu di sela-sela kegiatan kuliahnya di Jurusan Perminyakan di UPN Veteran. Pilihannya jatuh pada burger, yang kala itu, masih terbilang asing bagi orang Jogja.
Ia tertarik bisnis burger karena makanan ini praktis dan bisa ditenteng atau makan sambil jalan. Selain itu, makanan ini termasuk menu yang “bergengsi” (padahal burger itu makanan kelas pekerja kasar di negeri asalnya.Red). Tanpa pengetahuan memadai ia mengajak ibunya menjadi “cook” dadakan. Padahal sang ibu pun idem ditto tak ngerti burger. Untung sang ibu termasuk ahli masak, dan cepat menangkap maksud Agung ketika dideskripsikan secara lisan. Tentang nama Monalisa Agung punya alasan yang rasional. “Saya ingin menggunakan nama-nama yang sudah dikenal banyak orang agar gampang akrab,” kata Agung.
Sebagai edisi perdana Monalisa diperkenalkan Agung kepada kolega terdekat. Selanjutnya konsumen sudah mulai berdatangan. Pada umumnya awalnya mereka penasaran melihat tulisan spanduk Monalisa burger, karena dianggap sebagai makanan yang masih asing. “Semula orang bertanya-tanya, lalu coba-coba akhirnya menjadi ketagihan,” katanya.
Monalisa menjadi berkah. Karena setelah Monalisa mulai berkembang perusahan batik milik keluarga dengan merek Bintang Sejuta mulai redup. Belum genap setahun, Agus telah memiliki karyawan yang jumlahnya 20 orang khusus untuk membuat burger. Ia pun mulai memproduksi roti sendiri biar kualitas dan harganya terjamin.
Kekuatan Monalisa?. Agung berani bertaruh karena daging yang empuk, karena racikan sang ibu, dan tampilan yang segar. Kini Monalisa melenggang terus, kendati kini banyak pesaing baru. Bahkan ketika Mc Donald masukpun Agung tak gentar, “Alhamdulillah pelanggan kami banyak yang loyal, mungkin sudah cocok dengan menu kami,” katanya. Kendati harga Monalisa lebih mahal dari Mc Donald, menurut Agung konsumennya ogah pindah. Sebagai gambaran Agung melepas burgernya dengan harga rata-rata Rp 6.500/pieces. (Bandingkan dengan pemain besar asing).
Monalisa telah menjadikan kocek pemilik Agung sekeluarga semakin tebal. Dari tiga gerainya di seantero Yogya diperkirakan membukukan 600 transaksi per malam. Itu sebelum kenaikan harga minyak. Katakanlah sekali makan orang menghabiskan Rp 5000 saja, berarti semalam volume penjualannya mencapai Rp 3,5 juta. Kalau sebulan? Bisa dihitung sendiri. Jadi mengapa burger? Dengan margin keuntungan, katakanlah 20% saja, bisa dihitung berapa isi kocek Wibowo sekeluarga per bulannya. Wibowo tampaknya mengiyakan, trend perubahan pola makanan masyarakat moderen menjadi salah satu sebab mengapa bisnis burger semakin berkembang. Dan yang penting juga prospek dan peluang usahannya semakin hari semakin lebar.
Dengan sedikit penjualan yang menurun (kurang lebi 50% karena kenaikan harga BBM), Agung tetap melaju dengan bulatan burgernnya. Buktinya, baru-baru ini dia membuka satu gerai baru di kawasan Seturan Yogyakarta. So burger will be the next big business hah?
Devan 06-01-2006, 10:54 AM Peluang Usaha Lucky Crepes
Anda memiliki tempat strategis dan SDM?
Bergabunglah bersama kami!
LUCKY CREPES! dengan hanya Rp 5,500,000 maka anda akan mendapatkan satu unit counter Lucky Crepes siap operasi.
Tidak ada pembagian keuntungan!
Tidak ada master franchise!
Tidak ada Royalty fee!
Dengan bahan baku tepung yang tahan selamat +/- 4 Bulan, siap antar dan anda tidak perlu khawatir lagi dengan pengaturan persediaan
Kami juga mempunyai produk baru yakni LUCKY ICE!
Es goyang metropolitan dengan berbagai rasa.
Yang harus anda miliki disini adalah Freezer, maka anda siap berbisnis dan bermitra dengan kami
LUCKY CREPES
Contact: Ms.Tety 0815-900-7272
Email: Lucky_Crepes@yahoo.com
PERHITUNGAN BISNIS LUCKY CREPES
-----------------------------------------------
INVESTASI
Biaya 1 unit mini counter lengkap dengan perlengkapan dan peralatan, seragam pegawai, training, kemitraan dll Rp 5,500,000
KEUNTUNGAN PENJUALAN
Dengan asumsi penjualan 80 Crepes per hari@Rp1700 = Rp3,400,000
dimana bahan baku crepes @Rp750 = Rp 1,500,000
Maka Keuntungan Penjualan = Rp 1,900,000
BIAYA OPERASIONAL
Gaji Karyawan Rp 500,000
Sewa Tempat Rp 250,000
Gas Rp 52,000
Lain Lain Rp 50,000
Maka Total Biaya Operasional = Rp 852,000
Dapat dikalkulasi keuntungan per bulan adalah Rp 1,048,000
Maka Return Of Investment = kurang lebih 5,5 Bulan
Devan 10-01-2006, 11:19 AM Peluang Agrobisnis: Tidak Sekedar Madu
Bina Apiari Indonesia, selain memproduksi madu, giat memproduksi royal jelly, bee polen, dan propolis yang manfaatnya ternyata lebih banyak dari madu. Terbuka peluang kerja sama menjadi mitra bisnis yang saling menguntungkan.
Bicaralah soal manfaat madu. Semua manfaat positif akan keluar dari mulut mereka yang sudah mengkonsumsinya. Kandungan nutrisinya lengkap. Ada glukosa, fruktosa, enzym, vitamin, mineral, antibiotika, antioksidant. Sangat bermanfaat untuk memberikan energi ekstra bagi manusia, apalagi di jaman moderen sekarang ini. Belum fungsi kuratif untuk menyembuhan berbagai penyakit, kecantikan, estetika untuk kehalusan kulit. Manfaat madu juga sangat jelas diungkap dalam kitab suci Al Qur’an. Dalam An Nahl ayat 68-69 yang berbunyi : « ……dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia… ).
Ada lagi manfaatnya ?. Sebuah penelitian di Jerman menunjukkan anak-anak yang rutin mengkonsumi madu memiliki kecerdasan lebih dari pada anak yang tak diberi madu. Di Rusia dijumpai penduduk satu desa yang rata-rata mencapai umur diatas 100 tahun. Ternyata penduduk desa tersebut adalah peternak lebah dan mereka kerap mengkonsumsi sisa perasan madu yang. “Kotoran” saringan madu tersebut mengandung pollen, royal jelly dan propolis yang mampu meregenerasi sel mereka secara aktif sehingga mereka mencapai usia lanjut.
Menurut pemiliki Bina Apiari Indonesia (BAI), Ir. Bambang Soekartiko, perkembangan industri madu di Indonesia sangat menarik. Karena selain menghasilkan madu juga dapat memproduksi produk turunan lain yang tak kalah bermanfaatnya seperti bee pollen, royal jelly, propolis, lilin lebah, dan terapi sengat lebah. Bambang sendiri selain memproduksi madu, justru giat mengembangkan produk perlebahan lain yang sangat bermanfaat ini, karena selain manfaat kesehatan, nilai ekonomisnya juga tinggi. Bee pollen misalnya sangat bagus untuk mengembalikan kelelahan, menurunkan berat badan, meningkatkan kekebalan tubuh, merangsang kelenjar sex, sehingga bisa mengatasi impotensi. Royal jelly merupakan senyawa kompleks yang mempunyai kandungan gizi sangat lengkap, dan kompleks. Bermanfaat untuk antara lain menjaga kulit agar tidak cepat keriput dan kelihatan lebih muda dan menjaga sistem organ kita, sistem kelenjar dan sistem otak dalam keadaan baik. Propolis adalah getah tanaman yang dikumpulkan oleh lebah sangat bagus untuk antibiotik.
Bambang meyakinkan bahwa produk madu bisa diidentifikasi dari jenis bunga asal madu tersebut. Kemasan madu BAI ditampilkan sesuai dengan jenis bunga madu tersebut. Di production house dilakukan pembotolan dengan ukuran 900 mg, 400 mg, dan 250 mg, dan diberi label sesuai asal bunga : kapok randu, rambutan, eksekutif, multiflora, lengkeng, rambutan dsb. Atau di campur dengan royal jelly menjadi madu royal jelly atau madu super kemasan 400 mg dan 900 mg. Atau ditambah royal jelly dan pollen menjadi madu3 in one kemasan 400 mg.
Bambang mengakui baru belakangan ini mereka sangat serius memproduksi dan merancang strategi pemasaran untuk produk-produknya. Kapasitas produksi peternakan BAI pada saat ini dengan 300 koloni lebah super bisa menghasilkan 10 ton madu, 500 kg bee pollen, dan 100 kg royal jelly per tahun. Menurut rencana, tahun 2006 kapasitas produksinya akan ditingkatkan menjadi 500 koloni lebah sehingga ditargetkan produksi inti menjadi 25 ton madu/tahun, 1000 kg bee pollen dan 250 kg royal jelly. Dari peternak binaan atau plasma dapat di kumpulkan 100 ton madu, sedangkan bee pollen dan royal jelly dapat diatur sesuai permintaan pasar.
Menurut Bambang, kualitas madu dan turunannya yang dihasilkan IBAI memenuhi standard madu Indonesia dengan kadar air 21-23 % sesuai kondisi kelembaban udara di Indonesia. Untuk mencegah pemalsuan produk saat ini strategi bisnis yang dikembangkan Bambang dengan cara direct selling melalui Mobil Toko (MOKO) , pameran, melalui distributor/agen. “Sasaranya agar jarak antara konsumen dan produsen menjadi pendek untuk menjamin kesegaran madu dan pollen serta royal jelly sampai konsumen,”kata penerima Entrepreneur Agribusainess Award 2004, dari Departemen Pertanian dan Majalah Pengusaha ini. Bambang juga menawarkan kemitraan dan keagenan yang mau menjadi distributor dengan memberikan keuntungan 20%.
Untuk mengedukasi pasar dalam memperkuat strategi pemasarannya IBAI menyebarluaskan informasi untuk mengedukasi konsumen mengenai manfaat madu sebagai salah satu instrumen memecahkan masalah kesehatan bagi manusia. Penjelasan ini bisa diperoleh di sekitar mobil toko, pameran, atau datang ke rumah, atau dengan mengunjungi website, melalui iklan serta artikel di berbagai media masa.
Kerja keras Bambang mengembangkan madu nasional terlihat dari penghargaan yang diterimanya. Selain yang disebutkan di atas Bambang, pernah memperoleh Piagam penghargaan “Perintis Perlebahan Indonesia” dari Menteri Kehutanan dan Perkebunan tahun 2000. Pada tahun 1983 sampai 1993 terpilih sebagai Ketua Komisi Perlebahanm untuk Pembangunan APIMONDIA (Asosiasi Perlebahan sedunia)
“Madu kami dijamin lebih bermutu, karena lebih segar dan dicampur dengan royal jelly dan bee pollen dan dijamin murni. Motto kami adalah “The First” karena telah merintis usaha peternakan lebah sejak tahun 1974. The Best, karena quality control produk kami yang ketat. Different From Other karena kami tidak hanya menjual madu tapi madu plus royal jelly , pollen dan propolis yang manfaatnya jauh diatas produk madu yang beredar di pasaran,”kata Bambang berpromosi.
Untuk menunjang kontinuitas produksinya IBAI kini memiliki pusat produksi perlebahan di desa Titisan, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi. Selain itu mereka juga menjalin kerja sama dengan peternak lebah binaan yang tersebar di Desa Tlogowungu, Pati, Desa Tayu Kabupaten Jepara, Desa Pingit Kabupaten Magelang Jawa Tengah dan PTPN XII Pasuruan Jawa Timur serta peternak di Kabupaten Subang Jawa Barat. Sebuah peluang bisnis untuk menjadi peterenak dan menjadi distributor Inti Bina Apriari Indonesia.
Devan 17-01-2006, 11:40 AM LATAR BELAKANG
----------------------
Wingki Waluyo boleh disebut sebagai pemburu franchise sejati. Di usianya yang saat ini baru menginjak 27 tahun, ia sudah mempunyai 9 usaha waralaba (7 primagama, LP3I dn ILP masing-masing satu). Hebatnya lagi, seluruh usaha itu dibangunnya dalam waktu yang relatif singkat, dua tahun.
Naluri bisnis Wingki sebenarnya muncul setelah ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti tahun 2000. Berbeda dari rekan-rekannya yang berlomba-lomba mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, Wingki malah membuka usaha bengkel di bilangan Jatibening, bekasi.
"Usaha bengkel bagus, tapi lambat perputarannya, saya ingin coba yang lain," ungkap Wingki. Untuk mengasah naluri bisnisnya, Wingki pun mengambil kuliah di Entrepreneur University (EU) yang dikelola Purdi E Chandra. Dari pelatihan selama tiga bulan yang menelan biaya Rp 1,1 juta inilah semua bermula.
"Kalau ingin bisnis tanpa perlu merintis dulu, ya waralaba,"ungkap Wingki. Namun, pria yang tengah menanti kelahiran putra keduanya ini dipusingkan oleh pilihan waralaba yang demikian banyak. Rupanya, ia kepincut dengan tawaran waralaba pendidikan.
"Selain ada unsur sosialnya, enaknya dari bisnis pendidikan kita bisa terima cash dimuka dari uang pendaftaran,"ujarnya. Bukan karena terbujuk oleh sang empunya EU, pilihan pertama Wingki jatuh pada Primagama. Jumlah Primagama yang lebih dari 300 kampus, menjadi jaminan baginya. Apalagi sebelumnya ia pun sudah mengonfirmasikan ke beberapa pemegang waralaba Primagama lainnya,-"Ternyata bisnis ini memang bagus. Banyaknya orang tua yang rela keluar uang banyak agar anaknya sukses di sekolah,"ujarnya.
Mei 2003 Wingki membeli hak waralaba Lembaga Pendidikan Primagama. Lokasi kampus pertamanya yang dipilih: Jl. Perumnas Raya Buaran BLOK a/97-99, Jakarta Timur, Disekitar lokasi ini, terdapat banyak sekolah (SD, SMP, SMU) yang menjadi target pasar Primagama juga ada yang survei lokasi memastikan potensinya bagus," kata Wingki.
Untuk memulai bisnis waralaba ini, Wingki mesti merogoh kocek Rp 500 juta untuk membayar Franchise Fee Rp 150 juta (kontrak 5 tahun), menyewa ruko tiga lantai dan modal kerja. Selain dari kantong pribadi, Wingki juga memanfaatkan pinjaman bank dan keluarganya.
Hanya dalam hitungan bulan, uang Rp 500 juta yang ia bayarkan sudah kembali di tangan. Maklum, triwulan pertama sudah mencetak omset lebih dari Rp 500 juta. Bayangkan, dalam dua bulan saja uang pendaftaran yang terkumpul mencapai Rp 500 juta. Hitungannya, dari jumlah peserta 500 orang dengan biaya pendaftaran Rp 1 juta/orang. Padahal, target kembali modal yang dicapai para franchisee Primagama lainnya rata-rata dua tahun.
Sukses dengan satu gerai, Wingki terus berekspansi. Keuntungan yang diraih diputar lagi untuk mendirikan cabang-cabang baru. Dalam dua tahun ia sudah punya 6 gerai tambahan. Lima di Jakarta: Rawamangun, Kampung Melayu, Penggilingan, Cipinang Jaya dan Rawasari, serta satu gerai di Semarang. Bahkan untuk cabang Rawamangun, Rawasari dan Semarang ia beli melalui cara ambil alih.
Dari perputaran uang yang ia dapatkan dari Primagama, ia juga membeli hak waralaba LP3I dan lembaga kursus bahasa Inggris, ILP. LP3I dibeli Wingki pada Juli 2004 secara take over senilai Rp 1,75 miliar, sudah termasuk franchise fee Rp 450 juta (kontrak 5 tahun). Sementara ILP yang ia buka di Cibubur September tahun lalu, franchise fee yang harus dibayarkan Rp 230 juta (kontrak5 tahun).
Buat Wingki, ambil alih lebih manguntungkan. Pasalnya, ia tidak perlu repot keluar biaya banyak untuk promosi lokasi kampus baru. "Muridnya juga sudah ada," katanya.Praktis untuk kampus yang sudah lama berdiri yang ia ambil alih urusannya tigal bagaimana mengelola uang pemasukan. Karyawan dan staf pengajar sudah ada termasuk manajemennya. Sebagai pemilik ia hanya menempatkan orang kepercayaan di bagian keuangan."Untuk menghindari fitnah," ujarnya beralasan.
Dengan 9 gerai yang dimiliki Wingki sekarang, ia bisa menikmati perputaran uang, paling tidak Rp 7 Miliar per tahun.
Wingki mengaku tidak banyak turun tangan mengelola waralabanya. Malah ia juga tidak punya ruang khusus di kampusnya. Semua urusan sudah ada yang mengelola, yakni kepala cabang. Kepala cabang inilah yang mengelola 6 unit kampus Primagamanya yang ada di Jakarta,mulai dari promosi dan pemasaran, hingga menyusun pembagian tugas mengajar, dan koordinasi dengan kantor pusat Primagama."Sebagai pemilik saya tinggal mengecek saldo rekening tabungan dari tiap pendaftaran yang masuk," ucapnya santai.
Peluang Bisnis Pendidikan Waralaba LP3I
(Lembaga Pendidikan Pengembangan Profesi Indonesia)
Bidang Usaha : Pendidikan
Tahun Berdiri : 1989
Mulai Waralaba : 1998
Jumlah Cabang : 29 cabang
Franchise Fee : Paket profession 75-150 jt, Paket college 250 - 350 jt
Opening Fee : -
Royalty : Paket Profession 6%, Paket college 10% + Biaya Manajemen 1.5 jt
Marketing Fee : Paket profession 4%, Paket College 8%
Investasi Awal : +/- Rp. 500 juta - 1.6 milliar
Persyaratan lain : -
Kontak Person : Hari Madya, Agus Warman
Alamat : Gedung Sentra Kramat Blok B6-B9, Jl Kramat Raya 7-9 Jakarta
Telephone : 021-3925450
Fax : 021-31925189
Franchise Fee Rp 250,000,000 (7 Tahun)
Sewa Gedung Rp160,000,000 (2 tahun)
Renovasi Gedung Rp 50,000,000
Perizinan & Peresmian Rp 5,000,000
Modal Kerja Pra- Operasional (persiapan 3 bulan) Rp 142,000,000
Sarana & Prasarana Belajar (utk 4 kelas) Rp 45,000,000
Sarana & Prasarana Lab Komputer (1 kelas) Rp 127,000,000
Sarana & Prsarana Pimpinan & FO ( 1ruang) Rp 60,000,000
Biaya Opersional (rata rata) Rp 136,000,000
Biaya Administrasi Umum & Kantor (rata rata) Rp 365,000,000
Fee Organisasi Rp 132,000,000
Marketing Rp 132,000,000
Iklan Rp 102,000,000
Total Biaya Mulai Dari Investasi Awal Hingga Siap Operasi
= 1,710 Milyar
Pemasukan Dari Siswa pertahun sekitar = 1,325 Milyar, jadi potensi profit per tahun adalah = 457,000,000
BEP sekitar 3,5 tahun
Devan 17-01-2006, 12:29 PM Peluang Pedagang Di Dunia Maya
Anda tidak perlu bermodal gede untuk menjadi pedagang. Dengan menjadi perantara perdagangan melalui dunia maya, Anda bisa menjalankan bisnis yang menarik. Seperti yang dilakukan Al Arif yang mengelola 25 situs dagang dunia maya. Salah satu situsnya www.tokomesin.com cukup menuai hasil.
Ingin bisnis bermodal kecil dan dalam waktu singkat menghasilkan uang puluhan juta rupiah ? Itulah yang dilakoni oleh Al Arif lewat bisnis toko mesin on line. Mengaku mengawali bisnisnya pada Januari 2005 dengan modal hanya Rp.7.000.000,- saat ini belum sampai setahun bisnisnya berjalan keuntungan bersih yang diperolehnya berkisar antara Rp. 7.000.000,- sampai Rp. 20.000.000,- per bulan.
Mengawali kegiatannya sejak beberapa tahun lalu dengan mengelola beberapa situs dagang on line, Arif mulai melirik peluang berdagang mesin lewat internet setelah survey pasar dalam dunia maya yang dilakukannya menunjukkan bahwa banyak pengunjung internet mencari berbagai produk mesin. Arif lantas mencari produk yang dimaksud di pasaran nyata. Dari pencariannya, ia mendapati bahwa para produsen mesin ( bengkel yang mampu membuat / memproduksi mesin ) kesulitan untuk memasarkan produk mereka. Jadilah Arif menjembatani antara keinginan konsumen dan produsen melalui situs dagang on line yang diusungnya lewat bendera www.tokomesin.com. Situs dagang ini dikunjungi lebih dari 5000 orang setiap bulan, dari berbagai segment pasar. Selain perorangan, pengunjung toko mesin.com juga dari perusahaan – perusahaan, bahkan banyak diantaranya yang berasal dari lembaga – lembaga pemerintahan. Para pengunjung ini berasal dari berbagai daerah seluruh Indonesia dan manca negara.
Meski semula hanya ‘dagang’, Arif tak lantas hanya mengandalkan pada adanya jenis – jenis mesin yang telah ada di pasaran dan kemudian menjualnya kepada kosumen yang membutuhkannya. Tetapi Arif lebih cenderung membaca keinginan konsumen dan berusaha memenuhinya dengan pola kerjasama dengan para bengkel mitra kerjanya, meskipun kadang itu berarti harus menciptakan mesin–mesin baru atau mengkombinasikan berbagai mesin yang ada menjadi mesin baru untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. “Tidak semua mesin yang ada di pasar sudah memenuhi kebutuhan konsumen. Kadang saya harus mencari tahu mesin apa yang dibutuhkan oleh konsumen, kemudian menterjemahkannya kepada bengkel untuk dibuatkan mesin-mesin yang dimaksud. Misalnya untuk mesin pembuat VCO atau virgin coconut oil, diperlukan inovasi – inovasi produk agar dari mesin – mesin yang sudah ada bias digunakan.” Jelas Arif. Untuk itu, Arif menggandeng empat bengkel untuk mewujudkannya. Arif sendiri mengaku tidak memiliki pengetahuan secara khusus tentang mesin, karena ia berlatar belakang ilmu kedokteran. Namun hal itu tidak menjadi kendala yang berarti , yang dibutuhkan hanyalah tim yang solid – dalam hal ini bengkel pembuat mesin - yang mampu menterjemahkan keinginan konsumen.
Bergelut di bidang bisnis mesin, orang awampun tentu tahu bahwa hal itu memrlukan modal yang cukup besar. Harga mesin yang paling murah tentu berkisar di ratusan ribu. Sedang yang mahal bisa mencapai angka puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Menyiasati hal ini Arif tak kurang akal. Penawaran melalui internet hanya membutuhkan foto – foto produk tanpa perlu ketersediaaan produk asli. Dari kematangan proses negosiasi di internet inilah Arif kemudian baru membuat mesin yang dipesan. Itupun konsumen sudah membayar downpayment 50%. Alhasil hampir tanpa mengeluarkan modal Arif sudah bisa mendapatkan keuntungan. “Pada prinsipnya saya mencari konsumen terlebih dahulu, baru kemudian memproduksi mesin yang diinginkan konsumen. Jadi konsumenlah yang menalangi dana terlebih dahulu.” terang Arif menjelaskan strategi bisnisnya. Melalui strategi itu Arif berhasil menjual mesin rata – rata 5 sampai 10 mesin perbulan. Sedangkan di toko onlinenya dia memajang lebih dari 100 jenis mesin dari berbagai ragam kebutuhan seperti mesin untuk membuat keripik buah, mesin pemeras buah, mesin pembuat VCO dan lain – lain.
Arif mengaku sangat enjoy menikmati bisnisnya. Bisnis yang dilakoninya tidak menuntut kerja keras yang berlebihan. Ia cukup hanya membuat website untuk menawarkan produknya, dan jadilah toko yang buka 24 jam tanpa harus ada SPG khusus untuk menjaga atau mempromosikannya. Kenikmatan membuka bisnis on line itu tidak hanya dilakukannya melalui www.tokomesin.com, tetapi ia sudah terlebih dahulu membuka situs sejenis lebih dari 25 buah. ‘Toko – toko’ miliknya itu tak hanya berjualan barang nyata seperti busana, obat – obat herbal dan lain – lain, tetapi juga menjual produk – produk maya seperti e-book, ataupun soft ware yang ditransfer langsung via internet. Bahkan bisnisnya yang satu ini sudah dilakoninya sejak lama, melalui CV. Maksindo Cipta Utama.
“Berbisnis lewat internet adalah solusi paling mudah dan murah. Kita hanya perlu investasi beberapa ratus ribu untuk pembuatan situs. Setelah itu semua akan berjalan secara otomatis, selama 24 jam sepanjang tahun, tanpa perlu menggaji penjaga khusus.” ungkap Arif. Arif sendiri merasa cukup punya 4 pegawai. Itupun lebih cenderung untuk menangani bidang keuangan dan administrasi. Pengalamannya di bisnis on line inililah yang membuatnya berbisnis mesin. Mesin – mesinnya kini telah merambah sampai manca negara seperti Mesir dan Malaysia.
Berbisnis di dunia maya walaupun nampak mudah, namun menurut Arif memiliki keunikan tersendiri. Apabila pebisnis tidak tahu cara mengelolanya, website tidak akan banyak berarti. Apalagi bagi pengusaha di Indonesia, rata – rata hanya membuat website ala kadarnya sehingga tidak bisa berinteraksi secara maksimal dengan konsumennya. Selain itu untuk barang – barang yang real – bukan maya – tetap diperlukan jaminan kualitas. Sebagai contoh, mesin – mesin dari www.tokomesin.com kualitasnya digaransi. Bahkan apabila pemakaiannya tidak menyalahi aturan mesin masih dapat diapakai terus hingga 10 tahun. Kualitas ini tetap diperlukan untuk dapat bersaing dengan produk-produk sejenis, karena bagaimanapun konsumen tetap mengutamakan jaminan kualitas.
Menyinggung persaingan dengan bisinis sejenis, Arif tidak merasa memiliki pesaing yang berarti. Meski ia sendiri tidak tahu apakah bisnisnya termasuk dalam 5 atau 10 besar dalam bisnis permesinan, ia optimis bahwa ia adalh peneydia mesin terlengkap. Namun Arif juga masih menyimpan obsesi untuk dapat membuat mesin- mesin secara nyata. Mesin – mesin itu diperlukan untuk dipajang di suatu show room, karena hal tersebut merupakan salah satu aspek penting untuk meyakinkan konsumen saat bertandang langsung lokasi. Untuk itu Arif membuka peluang bagi siapa saja yang ingin bergabung investasi dalam bisnisnya.
Devan 24-01-2006, 05:38 AM Peluang Bisnis Penyalur Bakso
Investasi Di Alat Cetak Bakso Rp 13,000,000
Mesin dapat mengatur besar kecil bakso sesuai keinginan.
Untuk menjadi penyalur bakso, sangat prospektif.
kapasitas 18,000 bakso per jam
http://indonetwork.co.id/member/222644_mesin-pencetak-bakso.jpg
ION STAR Corp
Contacts: Bpk. Edi Hariyadi
Nomer HP: 08563141345
Nomer Telpon: 031- 70800001
Nomer Faks: 08563141345
Alamat:
Perum semolowaru indah II Blok Q-20
Surabaya 60111, Jawa Timur
Indonesia
Metode Pengiriman: Ekspress Shipping Ke seluruh Indonesia
Devan 06-02-2006, 11:56 AM Peluang Memulai Bisnis Bersama JPG Technology
Terus berinovasi serta menurunkan harga produknya, membuat JPG Technology berkembang terus. Sebuah peluang usaha bagus di bidang solusi percetakan foto digital dan turunannya.
JPG Technology (JPGT), adalah sebuah terobosan baru di era komunikasi serba digital, terutama bagi yang membutuhkan layanan foto digital dengan segala aplikasi dan turunannya. Menyadari permintaan konsumen yang semakin meningkat ini, maka peluang bisnis di bidang photo processing juga semakin meningkat. Menurut Marketing Manager, JPGT, Prio Harry Canaeccara, bisnis di bidang ini tidak mesti dijalankan dengan volume besar dengan heavy investment. Karena itu mereka kemudian melakukan terobosan dengan memberikan peluang bisnis dengan skala yang lebih kecil hingga ke bisnis (home industry) dengan investasi ringan. “Intinya kami yang melakukan penelitian, baik dari teknologi, machinery, bahan baku sampai ke program promosi. Bahwa bisnis di bidang ini tidak, membutuhkan biaya besar,”kata Harry. Dan yang penting lagi bisnis ini bisa dikembangan dengan pola kemitraan, atau bahasa Harry dengan sistim member.
Saat ini menurutnya, divisi-divisi usaha yang sudah dikembangkan JPG Technology antara lain Digital Imaging & Photography. Divisi ini menyediakan solusi usaha cetak digital, dengan dua konsep usaha yang ditawarkan yaitu jasa cetak digital & studio foto digital. “Kami melakukan riset sejak tahun 1999, sedangkan teknologinya kami adopsi dari teknologi inkjet printing serta kombinasi dari beberapa teknologi lainnya, sehingga kualitas cetaknya berkualitas baik dengan varian & media yang beragam, mulai dari photo paper hingga bahan kulit, keramik atau kayu,”papar Harry. Outputnya tentu bisa bersaing dengan photo lab yang sudah ada dan besar, dengan ongkos produksi jauh lebih murah. Dan yang penting lagi jika dibandingkan dengan berinvetasi di photo lab besar, return on investment (ROI) JPG, bisa lebih cepat.
Selain itu JPG juga memiliki Divisi Sign System. Divisi yang dirintis sejak tahun 2000, mengembangkan teknologi baru bidang illuminated sign system, yang lasim disebut panel neon yang dapat menghasilkan efek pendaran/glowing, efek 3 Dimensi yang sangat eye catching dan menarik dengan ribuan spektrum warna hanya dengan menggunakan lampu biasa. Efek tersebut menurutnya tidak bisa dihasilkan menggunakan neon box atau neon sign.
Dengan konsep down grading ini menurut Harry siapa saja yang menjalankan usahanya dipastikan memproleh payback period yang singkat. Kendati termasuk teknologi tinggi, dengan harga mesin yang murah, secara teknis kemampuannya tak boleh diremehkan. Menurut Harry mengoperasikan mesin ini termasuk mudah. Tanpa latar percetakan/advertising sekalipun dipastikan bisa melakukannya. Untuk itu bagi yang tertarik menjadi investor akan diberi pelatihan yang memadai serta dukungan dari manajemen JPG Technology.
Herry juga menjamin keamanan investasi bagi membernya. Karena teknologinya sudah dipatenkan, maka akan sangat sulit bagi mereka yang hendak menjiplak teknologinya. Dengan menjual lisensi, dipastikan ada proteksi usaha bagi para mitra bisnisnya. “Saat ini kami sedang adakan program Master License dimana hanya diperbolehkan 1 Master License untuk tiap propinsi/kota besa,”kata Harry.
Di bidang telekomunikasi, JPG tengah mengembangkan peluang usaha isi ulang pulsa elektronik dengan investasi yang sangat murah, mudah dan handal. Ada dua konsep usaha yang ditawarkan yaitu menjadi Agen Pulsa atau Dealer. Kelebihan system ini menurut Harry, seseorang dapat mengisi pulsa secara elektronik dengan multi nominal voucher, multi operator hanya dengan satu deposit saja. Deposit yang disimpan pun disesuaikan dengan kebutuhan pasar mitranya. Kelebihannya, kalau pulsa tidak digunakan, deposit ini tidak akan hangus. Berbeda dengan sistem voucher kartu yang memiliki expire date.
Perangkat yang digunakam cukup dengan hand phone. Mengoperasikan usaha ini, dapat dilakukan di rumah, warung/toko, terminal, sekolah atau tempat lainnya. “Hanya dalam waktu yang sangat singkat saja member kami mencapai ribuan & tersebar keseluruh Indonesia. Untuk usaha pulsa ini, kami membangun portal sederhana dengan tujuan membantu interaksi & informasi lainnya antara peminat bisnis, member dan divisi support system kami,”kata Harry.
Selain itu kini mereka juga tengah mengembangkan divisi Multimedia & Pendidikan serta food & beverage. Menurutnya konsep usaha Small Office Home Office (SOHO): ini yang sedang kembangkan dan ditawarkan kepada masyarakat, dengan harapan benar-benar dapat menjadi solusi usaha serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan menciptakan lapangan kerja yang luas.
Harry mengakui sebelum semua produk diluncurkan, penelitian pasar adalah keharusan. Dengan penelitian diharapkan bisa mengetahui, trend permintaan pasar, trend teknologi, estimasi serta prilaku konsumen. Riset yang sama juga bisa membantu menyempurnakan produk, agar lebih berkualitas dengan harga yang terjangkau.
Menurut Harry biasanya mereka menawarkan kepada para calon member lengkap semua paket, hardware & bahan baku awal sehingga pelaku usaha tidak perlu terlalu lama dalam mempersiapkan bisnisnya. Informasi mengenai feature paket dan produk bisa diakses melalui website perusahaan.
Memang saat ini baru panel neon, divisi usaha sign system yang dikembangkan dengan sistem licensing (tanpa royalty). Dengan system ini menurut Harry, para mitranya bisa lebih fleksibel mengembangkan brand serta model managemen yang mereka inginkan. Namun tentu saja disesuaikan dengan kondisi lokasi usaha, karakter pasar dan lain-lain. Harry juga menambahkan karena target pasarnya berbeda maka setiap lokasi akan ditawarkan produk yang berbeda pula. “Kita sesuaikan apa yang menjadi on demand pada saat itu dan di lokasi tersebut,”katanya. Dengan begitu, member (partner bisnis) bisa lebih fleksibel mengembangkan serta mempromosikan produk unggulannya sesuai dengan kondisi pasarnya. Jadi tidak melulu harus mengikuti ‘induknya’ seperti layaknya sistem franchise.
Mengenai harga, Herry memaparkan, bahwa biaya paket usaha ditentukan dari potensialnya usaha tersebut, produk yang dihasilkan, inovatifnya, solusi ekonomisnya, kualitasnya serta supporting systemnya.
Respon calon pembelinya? Wow!!!. Terbukti, walaupun baru berjalan ± 4 tahun, jumlah membernya (kusus divisi digital imaging) mencapai lebih dari 500 orang di Indonesia dan Brunei. Apalagi di JPG Technology tidak dikenakan franchise fee serta royalty fee, tetapi member mendapatkan fasilitas & feature seperti layaknya pembeli franchise.
Mengenai pertumbuhan usaha JPG Technology? Herry memaparkan, kemampuan tim riset dan pengembangan yang selalu kreatif menciptakan produk baru bisa membantu mempercepat pertumbuhannya. Dengan menawarkan peluang usaha prospektif kepada masyarakat dengan investasi yang terjangkau produk JPG sangat diminati pasar. Apalagi di saat semakin maraknya minat orang untuk terjun ke dunia bisnis yang murah dan prospektif maka dengan sendirinya mendongkrak kinerja JPG secra keseluruhan. Pada gilirannya member JPGT pun bertambah banyak.
Fantastis memang. Dari beberapa membernya, ada yang sudah bisa balik modal hanya dalam hitungan minggu, seperti seorang partner mereka di Manokwari. Lebih cepat dari proyeksi Harry dan kawan-kawan. Namun, ini sangat kasusistis. Harry memperkirakan, return on investment biasanya diperoleh setelah beroperasi 6 bulan.
Devan 06-02-2006, 11:57 AM Peluang: berkah Beternak Kucing Persia
Bagi yang senang dengan kucing, usaha penangkaran ras unggul seperti Persia bisa menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Usaha ini masih langka sementara pehobi binatang lemah lembut ini termasuk banyak. Reza dan Tuty sudah membuktikannya.
Kucing (felis silvestris catus) adalah sejenis karnivora kecil dari keluarga felidae yang sudah dijinakkan manusia ribuan tahun lalu. Legenda soal kucing sebenarnya sudah terjadi ribuan tahun lalu. Sebuah makam di Shillourokambos, Siprus, mencatat hubungan antara manusia dengan kucing telah terjalin sejak tahun 7.500 Sebelum Masehi. Sebuah informasi yang melegenda bahkan kucing telah menjadi bagian kehidupan manusia sejak 4000 tahun lalu di Mesir. Sebuah catatan yang cukup sahih membuktikan bahwa sejak 3.500 tahun lalu orang Mesir telah menjadikan kucing sebagai bagian dari upaya mereka mempertahankan kelangsungan pertanian mereka. Kawanan kucing konon sering digunakan untuk menghalau pemangsa tanaman pertanian mereka; tikus.
Bagaimana melihat seekor kucing sebagai jenis ras unggul dan punya nilai ekonomis tinggi?. Secara umum, kucing dari ras unggul memiliki jejak record yang terdokumentasikan secara resmi. Jika ada bukti tertulis ini, maka bisa dipastikan kucing tersebut termasuk unggul dan layak menjadi koleksi. Beberapa jenis ras unggul tersebut seperti jenis persia, siam, manx, dan sphinx atau yang lasim disebut kucing keturunan. Binatang kesayangan Nabi Muhammad SAW ini, bisa dipastikan merupakan ras unggul jika dibiakkan pada penangkaran resmi. Menurut sejumlah informasi jumlah kucing keturunan (ras unggul ini) hanya 1% dari seluruh populasi kucing di dunia.
Karena langkanya ini, maka kucing ini – seperti persia—layak menjadi koleksi banyak orang untuk sekedar menyalurkan hobbynya. Karena itu, bisa dipastikan peluang bisnis bisa muncul dari sana, yakni penangkaran kucing ras. Penangkaran kucing ras, ternyata membawa keuntungan yang lumayan menggiurkan bagi yang melakukannya. Hal ini dibuktikan pasangan suami istri Reza dan Tuty yang menjalankan bisnis penangkaran kucing persia sejak tahun 2000.
Reza dan Tuty tidak langsung sukses ketika mereka menjalankan bisnisnya. “Awalnya memang banyak yang lahir tapi lebih banyak lagi yang mati,”kenang Reza. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Proses penangkaran ditingkatkan, dan konsumenpun sudah mulai berjubel. Usaha yang tadinya hanya sampingan akhirnya ditekuni secara total. Maka Rezapun harus mengundurkan diri dari tempat kerjanya. Usaha yang mereka mulai dari kawasan Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat, tempat mertuanya bermukim kini sudah semakin mempesona. Pada 2001, bisnis yang diberi nama Kesehatan Cattery-House of Persian Cats harus dipindahkan ke kawasan Ulujami, Jakarta Selatan, biar lebih leluasa.
Reza mengatakan bahwa menjalankan bisnis penangkaran kucing sebenarnya tidak sulit, apalagi permintaan ‘cat hobbyst” semakin naik. Untuk menjalankan usaha ini menurut pengalamannya tidak kelewat membutuhkan dana yang besar, apalagi buat kelas pemula. Untuk tempat pengangkaran misalnya tidak perlu menyediakan lahan khusus. Menurut Reza, setiap ruangan di dalam rumah tinggal kita, dapat digunakan untuk mengembangbiakkan makhluk manis ini.
Namun seperti yang disinggung di atas, yakni karena semakin meningkatnya permintaan konsumen, Reza kemudian ingin memperbesar skala usahannya.Melihat para pemain lain yang sudah berpengalaman Reza kemudian memperbesar areal usaha penangkarannya. Reza kemudian membangun satu unit paviliun (untuk “beternak” kucing) seluas 70 m² yang terdiri dari tiga kamar berukuran 3x4 m² dan satu kamar berukuran 4x4 m². “Kamar-kamar tersebut berfungsi untuk ‘menyimpan’ para pejantan, para indukan, anak-anak kucing, dan ruang perawatan atau karantina bila kucing-kucing tersebut sakit,” jelasnya.
Yang membikin usaha Reza semakin bertumbuh sebenarnya adalah karena jiwa raganya terlibat penuh dalam bekerja. Selain tidak membutuhkan modal khusus, Reza dan Tuty punya kegemaran yang sama; apalagi kalau bukan mengelus kucing kesayangan.. “Kan ini cuma hobi yang dibisniskan. Jadi, duitnya (modal) ya seadanya saja,” ucap Reza . Kendati hanya hobby pada saat bisnisnnya dirintis, Reza harus bolak-balik ke Bandung untuk membeli anakan kucing untuk terus dibesarkan untuk dijual ke pasar setelah berusia 2 bulan. Dalam perjalanannya Reza harus mengimpor anakan kucing dari Rusia dan Amerika.
Menurut Reza pada umumnya anakan kucing disapih induknya pada umur dua bulan untuk selanjutnya dilepas ke pasar. Namun Reza menempuh jalan sendiri. “Saya tidak melakukannya (menjual pada usia 2 bulan-Red). Umumnya saya menjual mereka pada umur lebih dari tiga bulan. Sebab, meski sudah disapih, pada umur itu mereka masih sangat kecil dan sedang belajar mandiri. Kalau mendadak dipindahkan ke tempat lain, pasti mereka akan mengeong terus menerus (stress), tanda bahwa mereka merana sehingga kemungkinan mati sangat besar. Berbeda bila mereka sudah berumur tiga bulan atau lebih. Meski sebenarnya dipindahkan ke mana pun, pada awalnya mereka akan stres tapi itu cuma sebentar, setelah itu akan normal lagi,” ujar Reza yang sejauh ini telah menjual 100 ekor kucing persia.
Di samping itu menurut Reza, tidak diperlukan pengetahuan khusus untuk menjalankan penangkaran kucing persia ini. Hewan yang dikenal paling bersih di dunia (dapat dilihat dari cara mereka buang air atau “memandikan” diri mereka sendiri, red.) ini tidak membutuhkan keterampilan khusus dalam mengembangkabiakkannya selain rasa cinta pada hewan. Reza cukup belajar dari para pendahulunya, misalnya tentang bagaimana menyediakan tempat kotoran, menjaga keindahan bulu-bulu, kebersihan mata, telinga, dan tubuh, serta kesehatan tubuh mereka.
Kucing persia adalah ras yang paling banyak diminati konsumen. Dia mimiliki bentuk fisik muka yang paling berbeda dibandingkan dengan kucing-kucing lain, seperti kucing anggora, Siam, atau Norway yang cenderung mirip kucing kampung. Selain itu kucing ras persia ini ditandai dengan jenis warna kulitnya seperti yang berbulu hitam putih, Himalayan ditandai dengan bulu dasar putih dan mata biru, Exotic ditandai oleh bulunya yang pendek, dan Chinchilla ditengarai oleh hidung yang sangat pesek, mata hijau, dan “eye liner” di matanya. “Dari keempat tipe itu, Exotic yang paling mahal,” jelasnya.
Harga jualnya? Untuk pet quality atau apkiran (kualitas terendah untuk kucing persia, red.) yang ditandai dengan bentuk hidung yang turun, Reza menjualnya dengan banderol Rp1,5 juta–Rp2,5 juta. Breed quality yang ditandai dengan bentuk hidung yang tak terlalu pesek, dijual dengan harga Rp2,5 juta–Rp5 juta. Untuk kucing dengan hidung amat pesek dijual dengan harga Rp5 juta–Rp10 juta. Sedangkan untuk yang memenangkan lomba, dijual dengan harga di atas Rp10 juta. “Selain bentuk hidung, bentuk mata (bulat seperti koin, misalnya), letak mata (yang sejajar dengan hidung), jarak antar telinga, dan pola warna bulu juga menjadi pertimbangan mahal murahnya binatang yang dapat melahirkan 11 cemeng (Jawa: anak kucing) sekali beranak ini,” ujar Reza yang tahun lalu meraup omset Rp80 juta.
Reza tampaknya optimis dengan bisnis yang ditekuninya. Dengan populasi muslim di Indonesia yang besar , Reza yakin sekali, prospek bisnis kucing persia, sejauh ini masih sangat bagus. “Masak sih dari sekian juta penduduk Indonesia nggak ada 10 atau 20 orang yang suka kucing dan membelinya setiap tahun,” kata Reza yang telah “menyebarkan” kucing-kucingnya ke seluruh Pulau Jawa, Aceh, Medan, dan Banjarmasin. “Sasaran saya berikutnya adalah negara-negara ASEAN,” kata pemilik sekitar 20 (lima di antaranya jantan) kucing persia ini. Kucing dalam kurungan ini memang bisa mendatangkan berkah.
Devan 06-02-2006, 11:59 AM Peluang: Mesin Penggoreng Hampa Menjanjikan
Indocitagro membuat terobosan membikin mesin penggoreng kripik buah-buahan hampa (vacuum fryer), Pembelinya berdatangan dari luar negeri.
Indonesia, sebagai negara tropis yang menghasilkan banyak jenis buah – buahan berpeluang untuk menghasilkan produk buah beserta turunannya. Namun ternyata hasil yang ada belum maksimal. Indonesia masih kalah jauh dari negara –negara tetangga penghasil buah – buah lainnya, seperti Thailand ataupun Malaysia. Hal inilah yang rupanya mengilhami Kabul Abdillah untuk menggeluti bisnis mesin pengolah buah–buahan.
Harus diakui peluang bisnis pengolahan buah masih terbuka lebar, baik untuk pangsa dalam maupun luar negeri. Dari sekian produk olahan buah – buahan dan turunannya, ternyata keripik menjadi favorit dan masih memiliki peluang terbesar. Namun peminat bisnis ini banyak yang urung melaksanakan niatnya, karena mahalnya harga mesin pengolah tersebut. Apalagi bila mesin – mesin yang dipakai adalah mesin – mesin buatan luar negeri, harganya tentu tidak terjangkau oleh usaha kecil.
Kabul Abdillah sendiri sebagai lulusan Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, sangat memahami masalah itu sejak duduk di perguruan tinggi. Karena itu dia bertekat selepas kuliah segera merealisir keinginannya membikin mesin kripik buah. Melalui perusahaannya Indocitagro, Kabul mulai melaksanakan rencana bisnisnya. Hadangan pertama langsung menampar, dia tak punya modal. Maka dengan berbagai kepandaiannya bernegosiasi, sang calon pembeli berani membayar uang muka. Jadi modal dia pada awalnya hanya design produk yang akan dibikinnya. Dan deal bisnis pun terjadi.
“Saya pikir, memang suatu keberuntungan. Saya menawarkannya dalam bentuk sket design. Saya secara jujur mengakui bahwa saya tidak memiliki dana yang cukup untuk membuat mesin tersebut. Tapi berdasarkan perhitungan / analisa, mesin tersebut memiliki banyak kelebihan. Sehingga si pemesan langsung percaya dan memberikan dana untuk realisasi pembuatan mesinnya.” ungkap Kabul Abdillah.
Sukses membikin 1 unit mesin, membuat adrenalin Kabul bertambah. Lalu berlanjut ke pembuatan mesin berikutnya. Biar punya keunikan, Kabul memilih hanya berkonsentrasi membuat mesin penggoreng hampa ( Vacuum Fryer ). Terkadang beberapa komponen mesin masih harus import dari luar negeri. Untunglah, sebagaian besar komponennya sudah dibikin dalam negeri. Kabul menggandeng beberapa bengkel untuk menunjang rencana kerjanya.
Untuk memasarkan produknya Kabul lebih mengandalkan internet sebagai media untuk berpromosi karena murah dan hasilnya cukup menjanjikan. Di sana dia memasang gambar–gambar produk agar bisa diakses dari seluruh dunia. Gayungpun bersambut. Peminat dan pelanggan Kabul berdatangan dari berbagai negara diantaranya Malaysia, India dan New Zealand. Doa Kabul sudah mulai terkabulkan. Uniknya kebanyakan konsumen ini belum pernah bertatap muka langsung.
Dilihat dari volume penjualan, mesin bikinan Kabul memang belum terlalu fantastis. Meski begitu saat ini dalam satu bulan Indocitagro telah membukukan omset lebih dari Rp. 50.000.000,- / bulan dan menangguk keuntungan antara 15% - 20% untuk penjualan lebih kurang 2 sampai 3 mesin.
Kabul menjanjikan bahwa mesin–mesin produksinya memiliki banyak keunggulan. Diantaranya kapasitas yang cukup besar, kecepatan kematangan produk, dan hasil yang keripik yang tidak mudah gosong atau tetap cerah.
Meski bisa dibilang cukup sukses menggarap bisnis ini, Kabul masih ingin terus mengembangkan bisnisnya lebih lanjut. Diantaranya adalah keinginnanya untuk melakukan kerjasama dengan rekan- rekan pengusaha lain yang mau memproduksi keripik buah, ia akan menampung hasil produksi mereka. Karena selama ini Kabul masih kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar yang membutuhkan pasokan kripik tersebut.
Devan 08-02-2006, 06:13 AM Bisnis Convenience Store Mini Market - Non Franchise -
Berikut sample hitung hitungan bisnis mini market yang own brand alias non franchise..
Di lokasi strategis dengan loyalitas konsumen sekitar 300 orang an per hari, ini konservatif banget, bisa lebih bisa kurang
MINI MARKET KAFE GAUL
-------------------------------------
Asumsi Luas 10 X 20 M2
A. Investasi Awal Di Luar Bangunan
- Peralatan Rak Double dan Single
Komputer, Meja Dll Rp 90,000,000
- Renovasi Rp 20,000,000
TOTAL = Rp 110,000,000
B. Belanja Barang Pertama Buka Rp 200,000,000
C. Biaya Rutin Bulanan
1.) Gaji Karyawan ( 6 Orang ) = Rp 5,000,000
2.) Listrik & Telepon = Rp 3,000,000
3.) Bensin, Perjalanan, Kantong Kemasan = Rp 1,000,000
4.) Lain Lain Rp 500,000
TOTAL = Rp 9,500,000
D. Belanja Stock = Rp 160,000,000
E. Penjualan (Asumsi 300 Orang Sehari)
Rp 20,000 x 30 Hari = Rp 180,000,000
Maka, Laba Bersih Rata Rata = E - D - C = Rp 10 Jutaan
Devan 20-02-2006, 08:46 AM Banjir Rejeki Dari Seragam Hotel
Leli Yulifar banting stir dari dosen menjadi pengusaha garmen khusus untuk seragam hotel dan busana muslim.
Ajining sarira gumantung ana busana. (Kurang lebih berarti ; citra diri seseorang bergantung pada busana yang dikenakannya). Kendati bukan keturunan Jawa, pemegang merek Yulifar by Nabilla Collection, Leli Yulifar setuju dengan maksud ungkapan ini. Maka tak heran bila semenjak masih kuliah ia telah gandrung dengan pakaian-pakaian bagus, untuk tampil gaya tentunya, bukan untuk menaikkan citra diri semata. Hanya saja ia menyadari harga untuk sebuah busana yang berkelas tidaklah murah. Maka jalan pintasnya dengan cara belajar merancang dan menjahit sendiri baju-bajunya.
“Jadi awalnya dari hobi yang dimulai dari bangku kuliah, sekedar iseng untuk dapat bergaya dan tampil modis tetapi harga terjangkau,” tandasLeli menceritakan latar belakang CV. Nabilla Collection, sebuah usaha fashion khusus busana muslim dan uniform miliknya. Dasar sudah bakat, merancang busana sepertinya sudah lekat pada diri Leli. Meskipun belum pernah ikut kursus menjahit, baju-baju bikinan tangannya telah membuat teman-teman kuliahnya merasa kesengsem. “Teman-teman minta dirancangkan dan akhirnya minta dijahitkan, padahal saya tidak pernah kursus menjahit,” kisahnya. Menurutnya, ketrampilannya menjahit diperoleh secara tak sengaja. Hanya dengan mempelajari diktat kursus jahit milik kaka iparnya. Dari nebeng baca lalu dia coba praktek menjahit sendiri hingga berhasil.
Kendati begitu, tidak lantas dia langsung serius menekuni hobi menjadi usaha. Karena Leli selepas kuliah lebih suk menjadi seorang pendidik di alma maternya. Baru kemudian pada sekitar tahun 1988, setelah punya seorang momongan , hingga menjelang merampungkan kuliah S2 pada jurusan Pengembangan Kurikulum IKIP Bandung tahun 1995, dia membuka sanggar busana di rumahnya. Pada waktu itu dia hanya mempekerjakan seorang tukang jahit yang sekaligus tukang potong. “Eh, secara mengejutkan, saya mendapat kenikmatan yang bukan saja dapat menyalurkan hobi, tapi dapat memperoleh uang tambahan yang menyaingi gaji saya sebagai dosen,” kenangnya.
“Tetapi dasar iseng, usaha jahitnya kurang ditekuni” lanjut pengusaha yang juga ketua Forum Daerah (FORDA) UKM Jawa Barat ini menuturkan. “Saya berhenti dulu berbisnis dengan alasan konsentrasi pada thesis sebagai tangung jawab terhadap pemberi bea siswa, supaya bisa menyelesaikan studi tepat pada waktunya, “katanya. Pada medio 1997, saat terjadi badai krisis moneter hampir semua sektor riil lumpuh. Jangankan berpikiran membuka usaha, tidak sedikit pengusaha yang gulung tikar. Kondisi nasional makro ini tidak menyurutkan langkah dan semangat Leli. Menurut dia kondisi ini tidak harus diratapi, tapi harus dicarikan jalan keluarnya. “Waaah.... saya harus bangkit!” ucapnya. Setidaknya dia berniat agar dapur rumahnya terus mengepul.
Maka mulailah dia serius menekuni (hobby) bisnisnya yang lama ditinggalkan. Dia akhirnya serius menjalankan bisnisnya menjahit berbagai pakaian seperti busana muslim dan pakain seragam kantor. Meskipun awalnya banyak yang menentang idenya, ia terus maju. Berbagai produknya dia coba tawarkan ke Yogya Depstore, Matahari/ Mega Mall Tasikmalaya, dan Samudera Depstore Tasikmalaya. “Ide gila, begitu kata orang,” tuturnya menirukan ucapan orang waktu itu. “Mana ada yang mau beli baju di saat orang berpikir tentang sembako, apa lagi kwalitas butik,” tambahnya. Tetapi ia justru berkeyakinan bahwa akan terdapat kelompok orang yang punya duit akibat dari apresiasi dolar. Kenyataannya dugaan tersebut tidak meleset. Strategi yang diambil tepat, karena dia tidak latah ikut-ikutan berjualan sembako. “Saya membuka lahan yang ditinggalkan orang-orang yang lain,” tandasnya.
Dengan menguras sejumlah uang tabungan, Leli menginvestasikan untuk membeli peralatan berupa tiga buah mesin jahit, meja potong, setrika uap dan lain-lain. Workshop berukuran 76 meter persegi (itupun masih ngontrak), berdempetan dengan rumah tinggal. “Total barangkali sekitar Rp 4 juta, ditambah modal untuk membeli kain, itu pun jumlahnya tidak banyak,” paparnya. Untuk butik, menurutnya lain dengan produk massal yang memerlukan bahan baku dalam jumlah besar. “Tiga meter kain sudah bisa dibikin, lalu dijual,” tukasnya.
Dewi keberuntungan tampaknya sudah mulai memihak Leli. Dia melukiskan kurva perkembangan usaha miliknya digambarkan seperti bentuk spiral dalam posisi 45 derajat. Artinya memperlihatkan perkembangan ke arah positif, kendati sesekali fluktuatif. Terlebih bahwa produksi yang dilaksanakan sebagian menurut order. Pada saat sepi omset penjualan mungkin hanya mencapai Rp 60 juta, tetapi biasanya dapat di atas Rp 400 juta dalam sebulan. “Ada saat-saat mundur, suatu ketika menanjak lagi, di sanalah dinamikanya,” kilahnya.
Salah satu ekspansi usaha yang coba dikembangkan Leli ketika satu item produknya sepi pesanan adalah mencoba masuk ke hotel dan instansi dengan melayani pesanan seragam. Perhitungannya sederhana. Permintaan seragam kerja ini di lihat dari volume cukup menjanjikan dan biasanya berkesinambungan. “Saat itu saya buka buku kuning, hampir seharian saya telpon berbagai hotel dan instansi dan menawarkan produk saya dengan gaya yakin,” kisahnya. Akhirnya perjuangan itu pun tidak sia-sia. Beberapa di antaranya merespon positif. “Ada yang meminta daftar harga, ada minta datang dengan membawa sampel, dan ada pula yang datang ke kantor,”kenang Leli. Kerja keras dan kesabaran Leli seakan mendapatkan amunisi bari ketika usahnya disokong salah seorang saudarannya dengan “menghibahkan” tempatnya tengah kota untuk dijadikan kantor.
Membawahi lebih dari 60 karyawan, mulai 1999 dikembangkan divisi baru yang menangani jahitan retail dan pembuatan seragam untuk instansi-instansi pemerintah dan swasta. Diantaranya Grand Hotel Aquila, Sari Ater Hotel, Bandung Trade Center, Bandung Super Mall, Hotel Kedaton, Papandayan, Holiday In, Permata Internasional, New Naripan, Abadi Asri, Bank Jabar, BNI 46, dan lain-lain. Hingga sekarang tercatat tidak kurang dari 21 pelanggan, khususnya hotel-hotel di Bandung memesan produk Leli secara teratur.
Pada tahap awal, diakui oleh Leli, sebagaimana pengusaha menengah pada umumnya, masalah klasik yang sering dihadapi yakni permodalan dan manajemen. Namun pada sisi marketing dia mengungkapkan tidak menjumpai kesulitan. “Kalaupun terdapat sedikit masalah adalah ketika orang-orang berbondong-bondong berbisnis busana muslim,” akunya. Saat ini hampir setiap komplek dan perumahan orang telah membuka bisnis busana muslim. Hal ini menyebabkan persaingan harga semakin kompetitif. “Tapi kondisi ini memotivasi saya untuk terus melakukan inovasi dalam desain dan mutu baju. Dan faktor itulah (persaingan) yang menjadikan saya melakukan diversifikasi usaha ke seragam hotel dan instansi,” imbuhnya.
Ketatnya persaingan itu pula sehingga Leli berusaha memberikan layanan lebih sembari terus memperhatikan masukan konsumen. Tentu saja di samping menjaga kwalitas jahitan serta bahan, dan juga mempertahankan dan mengembangkan teknik cutting. “Pelanggan saya bilang, kelebihan produk kami terletak pada teknik cutting, kwalitas jahitan, kain dan model yang tidak pasaran,” ujarnya berpromosi. Ia juga membatasi satu seri dalam satu toko untuk satu desain. Satu seri terdiri dari nomor S (small), M (medium), L (large), XL (extra large), XXL (super large). Tapi untuk model tertentu yang tidak bagus dan untuk ukuran besar, satu seri hanya sampai L or XL
Banyak hal dilakukan untuk memperluas jaringan pemasaran. Di antaranya dengan memanfaatkan teknologi informasi (TI) dan menjalin relasi melalui kerja sama antar UKM yang tergabung dalam Forum Daerah. Dengan demikian pasar dimiliki juga makin berkembang, masuk sampai ke Kalimantan Timur, Sulawesi selatan, Amuntai dan Papua. Seperti diungkapkannya bahwa pada bulan ini selain sedang kebanjiran order lebaran, ia telah menandatangani kerja sama dengan tiga orang pengusaha berasal dari Kalimantan. “Satu orang mengadakan pesanan awal sebanyak 200 pieces rancangan terbaru, dua lainnya berupa kerja sama investasi masing-masing sebesar Rp 50 juta,” ungkapnya.
Sedangkan melalui media on line ia memperoleh kemudahan untuk informasi pasar, tren mode, bahan baku dan kemudahan komunikasi dengan konsumen, sampai menawarkan rancangan produk by email. Di samping tidak kalah pentingnya adalah rajin mengikuti kegiatan pameran di berbagai daerah serta penawaran kerja sama. “Untuk wilayah Jakarta atau yang relatif dekat, saya bisa tawarkan bentuk kerjasama franchise, atau bentuk lain, misalnya dia punya tempat yang representatif, saya isi dengan produk saya dengan sistem bagi hasil sesuai kesepakatan,” ucapnya. Usaha yang tengah menggeliat, meskipun awalnya hanyalah suka-suka.
Devan 22-02-2006, 07:53 AM Selain Jualan, Lengkapi Dengan Pelatihan
Selain menjual produk telepon selular dan perangkat pendukungnya, melayani pendidikan dan pelatihan perbaikan telepon selular, bisa mendatangkan keuntungan lebih buat Anda.
Menjamurnya penggunaan alat komunikasi handphone, (HP) ternyata telah memberi peluang bisnis bagi mereka yang bisa memanfaatkan. Pihak yang merasa diuntungkan dari bisnis telekomunikasi ini, bukan hanya para vendor handset atau operator seluler belaka. Dari sini lahir begitu banyak peluang bisnis yang bisa diraih oleh siapa saja.
Salah satu multiplayer efecknya adalah munculnya pebisnis-pebisnis baru yang bergerak dalam jasa penjualan handphone berikut assesoris pendukungnya, pedagang simcard dan pulsa isi ulang. Bahkan ringtone untuk nada panggil, telah men jadi bisnis yang menjanjikan.
Nah yang tak kalah menarik adalah bisnis jasa pelatihan untuk calon teknisi handphone. Kini telah muncul beberapa lembaga pelatihan yang secara khusus mendidik mereka yang ingin menjalani profesi sebagai teknisi handphone. Di Jogjakarta, ada beberapa lembaga yang secara khusus bergerak di bidang ini sejak tahun 2000 lalu. Demikian juga di Jakarta. Salah satu lembaga yang serius menangani pelatihan teknisi HP adalah Macell Education Centre (MEC).
Husain Dilla, salah satu pengelola pelatihan teknisi yang bermarkas di Jogja tersebut mengungkapkan bahwa saat ini kebutuhan akan teknisi handphone begitu tinggi. Ini berkaitan dengan merebaknya jasa service baik yang dikelola outlet handphone maupun yang yang mandiri. Jasa service ini tumbuh tentu karena tingkat kebutuhan masyarakat yang begitu tinggi. Untuk urusan kerusakan atau gangguan pada pesawat handphone kini tidak lagi ditangani sendiri oleh para vendor handphone lewat jasa pelayanan purna jualnya. “Mereka akan kewalahan karena tingkat penggunaan handphone sudah menyebar kemana-mana,” kata Husain Dill.
Menurut Husain, pada awalnya Ma Cell hanya mengadakan pelatihan khusus untuk menyediakan kebutuhan sendiri. Selama ini, MEC memang menjadi salah satu pengelola outlet penjualan berbagai merek handphone yang cukup terkenal di Jogja. Perusahaan yang dikelola Nursyam ini memiliki beberapa outlet yang tersebar di Jogja dan Purworejo. “Dulu kami kesulitan mencari tenaga teknisi, karena itulah kami harus mendidik sendiri,” tutur alumni Sekolah Tinggi Bank Syariah di Jogja ini.
Di luar dugaan minat untuk mengikuti pelatihan teknisi HP di MEC ternyata cukup tinggi. Karena itulah, sejak tahun 2002, pengelola counter HP ini menjadikan pelatihan sebagai unit bisnis sendiri. Sampai sekarang sedikitnya sudah ada 600 alumni yang dimiliki MEC. Mereka tidak hanya bekerja sebagai teknisi di berbagai outlet HP di DIY tapi sudah tersebar di seluruh Nusantara. Bahkan ada yang bekerja menjadi teknisi di beberapa perusahaan handphone terkenal.
Meski biaya yang dikenakan relatif tidak murah, ternyata minat untuk mengikuti pelatihan di MECl cukup tinggi. Ini terlihat dari jumlah kelas yang tidak pernah kurang dari kuota yang ditetapkan. Rata-rata setiap angkatan, hanya sekitar 13 murid yang diterima. “Dari jumlah itu selalu terpenuhi setiap angkatannya,” ungkap Husain yang mengaku kelahiran Sulsel tersebut.
Setiap dua minggu MEC membuka kelas untuk angkatan baru. Ada tiga kelas yang disediakan bagi calon peminat. Pembagian kelas tersebut berdasarkan lama waktu belajar sehingga menentukan biaya yang harus dikeluarkan. Pertama Excekutive Class dengan tarif Rp 3 juta, kedua Student Clas Plus dengan biaya Rp 2.1 juta, dan ketiga Student Class yang tarifnya Rp 1,7 juta. Yang membedakan kelas tersebut ternyata hanya lama prakteknya saja. Mereka rata-rata diberi materi teori selama dua minggu. sementara untuk kelas pertama prakteknya selama empat minggu, dan kelas kedua hanya dua minggu. sedangkan kelas ketiga praktek hanya selama 1minggu.
Materi pelajaran antara lain, modul dasar elektronika dan sistem kerja HP, modul reparasi hard ware, modul reparasi software, modul program aplikasi untuk berbagai merek HP. Mereka juga diperkenalkan dengan kewirausahaan, business plan, manajemen ritel dan sistem administrasi seluler dan service. “Kami berharap setelah lulus mereka benar-benar bisa siap kerja atau mandiri,” tandas Husain.
Selain teori tentang teknologi selular mereka juga akan praktek reparasi di counter-counter milik Ma Cell yang masih satu manajemen dengan MEC. Mereka dibimbing oleh teknisi senior yang dimiliki perusahaan ini. Para staf pengajar umumnya memang berasal dari Ma Cell sendiri. Tapi ada juga dari produsen salah satu perusahaan handphone, seperti Nokia. Selama praktek mereka akan dikenalkan dengan berbagai kasus kerusakan dan teknik reparasinya. Bahkan seri handphone terbaru juga wajib mereka kenali. Selain itu mereka juga akan mendapat bekal seperangkat toolset untuk reparasi.
Bagi MEC, mengelola pelatihan teknisi tentu menjadi lahan bisnis yang sangat basah. Menurut rencana, mereka akan membuka cabang di beberapa kota di Indonesia. Ini tentu dalam rangka memenuhi kebutuhan akan teknisi HP yang kian hari kian bertambah meningkat. “Kami memang berencana untuk mengembangkan sayap yang lebih lebar, tidak hanya konsentrasi di Jogja saja, kami sudah punya bekal nama karena sudah banyak yang mengenal kami,” ungkap Husain Dilla.
Untuk mengikuti pelatihan ternyata tidak diperlukan syarat yang rumit, bahkan ijazah tidak menjadi pertimbangan. Konon yang penting, calon siswa harus memiliki minat dalam bidang elektronika, syukur-syukur sudah punya basic di bidang elektronika dan komputer. “Kalau yang sudah punya basic pengetahuan elektro dan komputer,mereka akan dengan mudah memahami teknologi HP” Husain Dilla menambahkan.
Di Jakarta sendiri juga memiliki lembaga yang bernama Lembaga Pendidikan Teknologi Terapan Indonesia ( LPTTI) yang menjalankan bisnis serupa. Menurut salah seorang pengelola LPTTI, Sundang Dananjaya, lembaganya telah menunjukkan kemajuan berarti. Hingga akhir 12995, mereka telah mendidik 15 angkatan. Untuk menyalurkan keterampilan peserta didik, LPTTI mengintegrasikan kurikulumnya dengan manajemen dan kiat membuka usaha ritel selular.
Persertanya selain dari wilayah Jabotabek, juga berasal dari Aceh, Padang, Bengkulu dan beberapa daerah lainnya. “Para alumi pendidikan langsung menjadi agen J-COM—sebuah jaringan pemasaran telekomunikasi selular”kata Sundang. Dengan masuk ke dalam jaringan ini tentu saja beberapa kemudahan mereka bisa dapatkan, seperti kemudahan memperoleh pasokan, kartu, spareparts hingga bantuan teknis lainnya. “Tidak hanya itu, bagi konter yang sudah berkembang menjadi kios atau shop, mereka dapat melayani download aplikasi software seperti ring tone, gambar, game dan juga melayani cetak foto ke kertas foto atau CD dari camera digital, HP camera, USB, flash disk, memory stick dan lainnya ditansfer melalui infra red, bluetooth, CD-ROM dan floopy disk,” tambah Sundang. Sundang meyakinkan pay back period untuk usaha ritel telepon bergerak ini bisa dicapai dalam waktu lima bulan saja.
Selain itu menurut Sundang, nilai tambah yang bisa diraih dari konter seluler yang memiliki tenaga teknisi servis seluler adalah mendapat income tambahan dari service ponsel serta jual-beli ponsel second, yang prosentasenya lebih tinggi. LPTTI mulai memberikan latihan service hand phone sejak 2004. Peserta didik akan diberi pelatihan yang memadai oleh profesional yang berpengalaman dalam bidangnya, terutama mereka yang telah bekerja di perusahaan telekomunikasi multinasional. Selain itu LPTTI memiliki tenaga pengajar berlatar belakang Elektro dan Information Technology serta didukung, peralatan teknologi lengkap untuk praktek hardware dan software
Devan 07-03-2006, 07:09 PM Mie Kondang, Dari Rakyat Hingga Pejabat
Mengawali dari penjual mie gerobak, Sakidjan berhasil mengembangkannya menjadi 10 outlet. Sejumlah pejabat tercatat menjadi pelanggannya, salah satunya KASAD Djoko Santoso.
Satu lagi bukti bahwa untuk sukses seseorang hanya perlu satu modal: tekad. Itulah yang ditunjukkan Sakidjan, pengusaha mie ayam asal Jatiroto, Wonogiri. Dengan usaha tersebut Sakidjan berhasil meraup omset sekitar Rp 300 juta per bulan. Dan mie hasil olahannya disantap tidak saja oleh rakyat namun juga jadi langganan sejumlah pejabat.
Padahal, awalnya Sakidjan tidak memiliki ketrampilan mengolah mie ayam. Ketika hijrah ke Jakarta pada 1973 lalu, Sakidjan bekerja sebagai kuli bangunan. Atas anjuran pamannya ia berguru ke seorang penjual mie ayam yang berasal dari Baturetno, sebuah kecamatan yang terletak di Tenggara Wonogiri. “Sampai satu bulan saya masih belum mahir mengolah mie ayam,” kenangnya.
Meski belum mahir mengolah mie, dia direkrut seorang pengusaha mie sebagai karyawan untuk berjualan mie dengan gaji Rp 300 per hari. Selama 1,5 tahun ia bekerja dan mengumpulkan gajinya. “Selama kurun waktu itu saya tidak pernah pulang kampung. Bukannya tidak punya keinginan pulang kampung tetapi tidak mempunyai uang,” ujar Sakidjan.
Menurut hemat Sakidjan, daripada uang digunakan mudik lebih baik ditabung untuk dijadikan modal kelak jika ada kesempatan berjualan mie sendiri. Kebetulan ada seorang temannya yang menjual pangkalan (lapak kaki lima) di Jembatan Lima. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. “Saya beli pangkalan itu Rp 40 ribu,” ujarnya.
Mulailah Sakidjan berjualan mie sendiri dengan menyewa gerobak dari seseorang. Aturan main yang berlaku saat itu adalah penyewa gerobak harus mengambil mie kepada pemilik gerobak.
Perlahan Sakidjan bisa mengembangkan usahanya dan menyewa empat gerobak dan ditempatkan di empat pangkalan di Kawasan Kota. Ini berlangsung sampai tahun 1979. Pada tahun 1980 penjualan mienya di Kota menurun sehingga Sakidjan mulai berputar-putar untuk mencari tempat yang lebih strategis. Ia kemudian menemukan tempat berjualan yang dipandangnya strategis yakni di Pintu I Senayan. “Saya tetap menyewa gerobak dan berbelanja dari orang yang sama,” terangnya.
Dalam waktu satu tahun Sakidjan berhasil memiliki lima pangkalan di sekitar Senayan. Usahanya mulai memperlihatkan perkembangan. Dengan lima armada gerobak Sakidjan berhasil menjual mie 30 – 40 kg per hari.
Mulai saat itu, tercetus dalam pikirannya untuk memproduksi mie sendiri sehingga bisa mendongkrak keuntungan. Di saat anak buahnya berangkat berjualan, Sakidjan mencoba-coba untuk memproduksi mie.
Diungkapkan Sakidjan, para produsen mie saat itu pelit untuk berbagi resep pembuatan mie sehingga ia harus berjuang sendiri untuk mencari formulanya. “Saya nekad untuk membeli mesin pembuatan mie seharga Rp 150 ribu,” tuturnya.
Meski memiliki mesin tidak serta merta Sakidjan bisa memproduksi mie, karena ia memang belum tahu resepnya. “Hampir enam bulan saya mengalami kegagalan untuk memproduksi mie sendiri,” ungkapnya. Selama enam bulan itu juga Sakidjan harus rela membuang mienya yang tidak jadi. Tapi hal ini tidak menyurutkan tekadnya untuk bisa memproduksi mie sendiri. Dengan melakukan trial and error akhirnya Sakidjan berhasil memproduksi mie sendiri. Namun hasil produksinya juga tidak bisa bertahan lama, paling 10 jam. Namun Sakidjan tidak memusingkan hal ini. “Saya memproduksi mie untuk keperluan jualan hari itu juga. Saya tidak tahu menggunakan bahan pengawet dan sampai kini tidak pernah menggunakan bahan pengawet,” ujarnya. Justru hal ini kelak di kemudian hari sangat menguntungkan Sakidjan karena ia tidak risau ketika kasus makanan berformalin (di antaranya mie) merebak ke permukaan.
Ketika melihat usahanya mulai berkembang, Sakidjan menjual sepeda motornya Honda GL-100 guna membuat gerobak sendiri. Dengan uang hasil penjualan sepeda motor saya bisa membuat lima gerobak. Tidak sebagaimana aturan sebelumnya, Sakidjan tidak menyewakan gerobak, tetapi orang yang berdagang dengan gerobaknya harus mengambil mie dari Sakidjan. Resep ini ternyata cukup jitu, karena pertumbuhan armada gerobaknya terus merangkak. Saat ini tercatat ia memiliki 80 gerobak. “Meski hanya mengambil keuntungan dari penjualan mie, tetapi hasilnya lumayan,” imbuhnya.
Dalam perjalanannya, setelah bermitra dengan Bogasari dengan masuk sebagai anggota Paguyuban Tunggal Rasa, Sakidjan kemudian membuka outlet, pada tahun 1997. Tetapi brand mie ayam yang diusung saat itu masih memakai nama Mie Tunggal Rasa, bukan Mie Kondang. Sejak saat itu gerainya bertambah dan kini sudah mencapai 10 buah.
Setelah dipercaya menjadi salah satu menu dalam acara Open House yang diselenggarakan selama satu bulan penuh oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Sakidjan mengubah brandnya menjadi Mie Kondang. “Untuk mengubah nama tersebut saya sudah mengkonsultasikan lebih dulu kepada para penasehat Paguyuban Tunggal Rasa, di antaranya Pak Franky (Welirang) dan Pak Suyono (mantan Kasum ABRI),” ucapnya.
Dalam penyelenggaraan Open House tak kurang 15 ribu mangkok disuguhkan untuk rakyat maupun pejabat yang hadir dalam acara tersebut. “Sebelum disajikan mie kami sudah dites terlebih dahulu. Karena sedari awal saya tidak pernah menggunakan pengawet, mie saya lolos tes,” ujarnya.
Selain dijadikan menu dalam acara tersebut, Mie Kondang juga dijadikan menu sejumlah acara yang digelar oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Djoko Santoso maupun isterinya. Belum lama ini Mie Kondang juga ikut berpartisipasi dalam kampanye mie yang diprakarsai Menteri Perindustrian, Fahmi Idris.
Dengan tenarnya Mie Kondang, Sakidjan bisa membukukan penjualan Rp 10-12 juta per hari. Sementara dari pesanan untuk berbagai acara Sakidjan bisa memperoleh tambahan pendapatan antara Rp 15-20 juta per bulan.
Isu formalin memang agak menyurutkan penjualan Mie Kondang. Tetapi penjualan di outletnya tidak menurun drastis. Hanya armada gerobaknya yang agak terpukul. “Kami telah melampirkan surat dari Depkes yang menyatakan mie kami bebas dari pengawet, termasuk formalin, pada setiap armada gerobak dan outlet. Semoga hal ini bisa mengatasi persoalan tersebut,” kata Sakidjan.
Sakidjan menambahkan, dirinya membuka peluang bagi pihak lain untuk bekerja sama. Artinya, jika ada pihak yang ingin membuka gerai Mie Kondang cukup merogoh Rp 70 juta. Biaya itu sudah termasuk furniture dan setting.
Bahkan bagi pihak yang tidak memiliki modal samasekali tetapi ingin berjualan mie, Sakidjan mempersilakan orang tersebut untuk berguru kepadanya. “Gratis, tidak dipungut biaya. Ini sebagai ladang amal ibadah saya,” pungkas Sakidjan.
Devan 08-03-2006, 05:40 AM BISNIS AYAM POTONG SI ‘UMAR BAKRIE’
Di sela-sela kesibukannya sebagai pengajar, guru SMAN 53 Jakarta Timur berhasil menancapkan bisnis peternakan ayam yang beromset Rp 7-8 miliar per bulan.
Sudirman Bur memang bukan Umar Bakrie—lagu satire mengenai guru karya Iwan Fals—meskipun sama-sama dalam profesi guru. Itu sebabnya, dalam menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai Kepala Sekolah SMAN 53 Jakarta, Sudirman tidak menunggang sepeda kumbang melainkan mengendarai Honda CRV.
Tetapi tak ada yang perlu diherankan, karena selain menjabat sebagai kepala sekolah di sebuah SMA yang memiliki gedung baru berlantai tiga itu, Sudirman adalah seorang pengusaha peternakan ayam potong yang sangat sukses. Dalam sebulan, omset bisnis pak guru ini bisa tembus antara Rp 7-8 miliar.
Rome was not built in a day, kota Roma tidak dibangun dalam sehari. Itu juga yang menjadi amsal dari kisah perjalanan Sudirman. Sebelum menjadi peternak ayam potong yang bisa memproduksi ayam pedaging 800 ribu ekor per bulan, Sudirman memulainya dengan skala rumah tangga, 300 ekor ayam.
Bahkan ketertarikan Sudirman terhadap spesies unggas ini terjadi jauh-jauh hari, yakni ketika ia masih duduk di bangku sekolah lanjutan pertama (SMP). “Saya sangat tertarik dengan strain baru dari luar negeri. Apalagi kemampuan bertelur dari strain baru itu sangat bagus,” ujarnya. Meski hanya sambilan sepulang sekolah, namun Sudirman sempat memelihara sampai 500 ekor, suatu jumlah yang sangat lumayan untuk seorang anak SMP.
Hobi memelihara ayam ini sempat terhenti setelah ia lulus SMA dan melanjutkan sekolahnya ke IKIP Rawamangun. “Ketika saya kuliah justru sambilan saya sebagai pedagang kaki lima,” kenang Sudirman.
Ketertarikannya untuk kembali menggeluti ternak ayam muncul setelah ia merampungkan kuliahnya pada tahun 1981. Aktivitas ini ia lakukan selepas ia mengajar di SMA 54 sebagai guru honorer. “Masih banyak waktu yang terluang selepas mengajar,” ungkapnya.
Dengan pertimbangan memelihara ayam petelur lebih rumit, Sudirman memutuskan untuk beternak ayam pedaging. Mula-mula hanya 300 ekor, tetapi lama-kelamaan berkembang dan jumlahnya mencapai ribuan ekor. “Meski pada saat perintisan belum bisa berkembang pesat tetapi saya mempunyai keyakinan beternak ayam potong ini sangat prospektif karena pasar di Jakarta terbuka luas,” terangnya.
Prospektifnya pasar ayam pedaging, imbuhnya, karena berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap sumber protein hewani. Sementara untuk daging merah, seperti daging sapi, dalam pemeliharaannya membutuhkan beberapa prasyarat, di antaranya lokasi usaha yang luas.
“Jadi beternak ayam pedaging lebih simple,” ujarnya seraya mengimbuhkan dari sisi cash flow beternak ayam pedaging juga lebih lancar karena dalam waktu 30 hari sudah bisa dipanen. “Jumlah konsumen ayam pedaging juga mendekati 7 persen dari populasi penduduk Jakarta,” paparnya.
Selain memerankan diri sebagai produsen ayam pedaging, pada pagi hari sebelum mengajar, Sudirman juga berprofesi sebagai pedagang ayam potong di pasar Pondok Gede. “Sebagaimana pedagang ayam potong lain saya selalu mengenakan sepatu boot, karena lingkungannya memang becek,” imbuhnya.
Yang membedakan Sudirman dengan pedagang lain adalah kemampuan manajemennya. Oleh karena itu, belum lama berselang berprofesi sebagai pedagang ayam potong, ia berhasil naik pangkat menjadi ‘koordinator’ dari sejumlah pedagang lainnya. Pada saat itu ayam hasil produksi sendiri sudah tidak mencukupi sehingga Sudirman mulai mencari pemasok dari peternak ayam lain.
Seiring berjalannya waktu keyakinan Sudirman membuahkan hasil. Usaha peternakan ayamnya mulai bertambah. Lokasi peternakan yang semula di Pasar Minggu semakin tersebar di Lenteng Agung dan Depok.
Meski cukup berkembang pesat, sampai tahun 1990, Sudirman masih menggeluti bisnis ini sendirian. Melihat perkembangan usaha ini sejumlah rekannya kemudian ikut bergabung dalam bisnis yang dipayungi Berkah Group ini. “Sampai sekarang ada sekitar 30 orang yang tergabung di dalamnya,” ucap pria yang mengaku happy menjadi guru ini.
Sekalipun usaha peternakan ayam ini kelihatan mulus, sejatinya dalam perjalanannya sendiri juga penuh dengan risiko dan kendala. Selain harga ayam cenderung fluktuatif, yang tentu saja memerlukan perhitungan dan antisipasi yang cermat, sejumlah penyakit yang sering menyerang unggas ini juga potensial membuat usaha tersebut merugi. “Meski usaha ini sudah berjalan stabil tak jarang kami juga menderita kerugian sampai Rp 1 miliar dalam satu periode tanam. Itu sebabnya kami mencadangkan dana antara Rp 3-5 miliar untuk menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan itu,” ungkap pengusaha yang pernah menyabet penghargaan sebagai peternak ayam dengan teknik produksi terbaik se-Jawa Barat ini.
Situasi yang lebih sulit lagi pernah dialami oleh Sudirman. Saat krisis moneter melanda negeri ini, usahanya juga ikut terguncang. Harga jual ayam jauh lebih rendah dari nilai modal yang digelontorkan sehingga banyak peternak ayam yang merugi. Bahkan banyak di antara mereka yang terpaksa mendapat vonis gulung tikar. “Saya pun terpaksa harus menjual empat mobil untuk bisa tetap bertahan di bisnis ini,” kata Sudirman, mengenang masa sulit. “Saking sulitnya keadaan waktu itu saya yang sebenarnya bukan perokok akhirnya jadi perokok juga.”
Pada kondisi ini integritas dirinyalah yang banyak menolong. Kejujuran dan kepercayaan, yang dijadikan fundamental bisnisnya, merupakan juru selamat di saat krisis tersebut. Pada waktu itu kandang ayam Sudirman banyak yang kosong.
“Melihat kondisi ini pabrik pemasok kebutuhan bibit dan pakan peternakan ayam mendatangi saya. Mereka menyuruh saya untuk mengisi semua kandang yang kosong, bahkan mereka menyuruh saya menyewa kandang milik peternak lain. Mereka memasok semua kebutuhan peternakan dalam bentuk pinjaman yang tidak memberatkan. Terbukti bahwa kejujuran dan kepercayaan bisa menjadi penolong kami,” tandas Sudirman yang mengimbuhkan dalam menjalankan bisnis tersebut dia hanya satu kali memakai fasilitas pinjaman dari bank sebesar Rp 250 juta. Baik pinjaman dari bank maupun dari pabrik semua sudah dilunasinya.
Dengan suksesnya sebagai pengusaha peternakan ayam ini, Sudirman semakin memberikan bukti bahwa seseorang bisa berjalan di dua kuadran (pengusaha dan karyawan) tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Di dunia pendidikan, prestasi pria sederhana ini juga melejit. Di tangannya, SMAN 53 Jakarta yang terletak di Jalan Cipinang Jaya II B ini menorehkan beberapa prestasi. Selain berhasil menyulap gedung lama menjadi gedung baru berlantai tiga yang cukup megah, SMAN 53 juga mencatat peningkatan prestasi yang cukup signifikan. Pada tahun lalu, SMAN 53 berhasil menduduki peringkat 15 dari seluruh SMA di DKI dari sebelumnya peringkat 40. Sedangkan untuk wilayah Jakarta Timur SMAN 53 berhasil meraih peringkat 8. Ini semua berkat ‘tangan dingin’ pria Payakumbuh tersebut.
Devan 08-03-2006, 05:41 AM Peluang : “Dobbi Fried Chicken” Irawan
Setelah sempat terseok-seok, Irawan kini sukses mengelola bisnis ayam goreng. Dobbi, gerai ayam goreng yang dikelolanya kini telah menyebar ke beberpa kota di Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Dari peternak ayam hingga penjual daging. Inilah yang dilakukan pengusaha muda dari Jogja, Irawan Kusumo W (30). Di kalangan peternak ayam di kabupaten Sleman (DIY) lelaki bertubuh tinggi besar ini, bukan sosok yang asing lagi. Maklum dia memang pernah menjadi salah satu pemain besar dalam bisnis peternakan ayam ras di sana.
Selain dikenal sebagai peternak ayam, Irawan belakangan memang sibuk mengembangkan bisnis pengolahan daging ayam. Selain mensuplai kebutuhan untuk horeka (hotel, restoran, dan kafe) yang ada di sekitar propinsi DIY, dia juga menjual ayam goreng fried chicken dengan brand name Dobby. Walau terbilang pendatang baru, ayam goreng Dobbi, telah berhasil menarik perhatian para penikmat makanan cepat saji. Ini terlihat dari perkembangan gerai membiak. Jika tak sempat ke Jogya, “Dobby” bisa juga ditemukan di Solo dan Wonogiri dan Kediri.
Untuk membiakkannya Irawan bermitra dengan para pemilik modal untuk membuka usaha ayam goreng tersebut. “Kalau hanya sekedar mengejar jumlah outlet kami tentu sudah banyak, karena telah ada puluhan orang berminat bergabung,” kata bapak dua anak ini.
Menurut pengakuannya, telah banyak pemilik uang yang serius mengajak kerjasama, tapi sebagian tidak bisa dipenuhi. Selain karena lokasi usaha yang kurang strategis, juga karena sikap sebagian peminat yang hanya sekedar setor modal alias menjadi investor pasif saja. Mereka inilah yang hanya ingin menyerahkan modal, tapi tidak mau terlibat mengelola atau mengembangkan usaha. Sementara, bagi Irawan keterlibatan pemilik modal dalam operasional merupakan salah satu persyaratan. “Paling tidak untuk tahap pengembangan awal mereka harus terlibat, walaupun setelah berjalan baik diserahkan kepada orang lain yang dipercaya,” tandasnya.
Irawan memang memiliki konsep bukan sekedar bisnisnya berkembang pesat, tapi ia juga ingin menebarkan semangat kewirausahaan bagi orang lain. “ Konsep kami, investor harus ikut mengelola usaha, agar mereka punya keterikatan emosional dalam berbisnis,” ungkap salah satu pengelola Enterpreneur University (EU) di Solo ini.
Menurut Irawan, ia membidik konsumen yang gemar makan fast food. Untuk menghasilkan makanan yang menurutnya sangat enak dan sehat, dia tidak memanfaatkan MSG ( monosodium glutamate) atau vitcin. “Saya berani jamin, produk kami benar-benar bebas penyedap rasa dari vitcin,” paparnya. Dan yang penting, renyah dan gurih, seperti layaknya kita menyantap ayam goreng dari manca negara.
Untuk menciptakan hasil gorengan ayam yang benar-benar cocok di lidah konsumen, Irawan mengaku dibantu seorang koki yang pernah bekerja di sebuah restoran cepat saji ternama. “Untuk menciptakan rasa yang cocok di lidah kebanyakan orang Indonesia, saya memang melibatkan koki alumni dari resto ayam goreng yang cukup terkenal,” tutur kelahiran 19 Februari 1976 tersebut.
Bagi mereka yang berminat mengembangkan bisnis resto ayam goreng, agaknya ayam goreng Dobbi bisa menjadi alternatif pilihan yang menarik. Sebab untuk membuka usaha ini, tidak diperlukan modal besar. Ada tiga pilihan paket investasi yang ditetapkan, masing-masing senilai Rp 9.5 juta, Rp 14.5 juta dan Rp 45 juta. terserah pemilik modal mau memilih paket yang mana.
Untuk paket pertama, mitra kerjasama akan mendapat counter berikut alat produksi,dari majic jar, kompor hingga peralatan penggorengan. Paket tersebut memang khusus bagi mereka yang ingin mengambil counter berikut alat produksi saja. Mereka bisa mengerjakan sendiri pembuatan desain gerai sesuai dengan gambar yang sudah ditentukan. Tapi bila ingin beres, bisa mengambil paket kedua karena selain dapat paket pertama, dengan menambah dana sekitar Rp 5 juta, anda cukup duduk manis karena semua pengerjaan desain akan digarap oleh tenaga khusus yang sudah profesional di bidangnya.
Seperti disebutkan di atas, Dobbi tidak sekedar menjual produk ayam goreng saja, tapi menawarkan alternatif tempat makan yang santai dengan menu spesial ayam fried chicken dan burger. Untuk itu, gerai harus didesain sedemikian rupa agar tampil menarik, bukan sekedar supaya enak dipandang tapi juga nyaman untuk disinggahi. Ada standar baku untuk tampilan counter, meja dan kursi makan, hingga warna cat sampai bentuk brand identity-nya.
Memiliki lokasi tanah, memang menjadi persyaratan untuk mereka yang ingin membuka usaha Ayam Goreng Dobbi. Tidak harus tanah sendiri, tapi bisa sewa asal lokasinya strategis untuk bisnis. Ukuran mininal lokasi usaha sekitar 5 X 7 meter. Untuk disain bisa dibuat sendiri karena pihak manajemen sudah menyediakan panduan berupa gambar. Tapi kalau ragu-ragu, bisa menyerahkan kepada manajemen untuk mengerjakannya.
Menurut Irawan, prospek bisnis yang kini digelutinya sangat cerah. Apalagi belakangan telah menjadi trend di masyarakat bahwa makan bukan lagi sekedar mengisi perut, tapi telah berkembang menjadi trend bagian dari gaya hidup. Karena itulah, ia membuat konsep gerainya berpenampilan seperti kafe dimana orang yang datang akan bisa duduk santai. Sambil cuci mata juga oke kok.
Sangat wajar bila Irawan merasa optimis bahwa bisnisnya akan berkembang cukup bagus. Sebagai pengusaha Irawan benar-benar berangkat dari nol. Sejak masih duduk di bangku SMA dia sudah mandiri. Padahal kalau mau dia cukup bisa minta fasilitas dari orangtuanya yang sempat menjadi salah satu pejabat di Mabes Polri. “Sejak kecil saya sudah dididik untuk mandiri,” katanya anak pertama dari tiga saudara ini.
Irawan mengaku, sewaktu masih duduk di SMA ia sudah biasa mencari penghasilan dengan cara menjadi sopir angkutan. Ia juga pernah mencoba berbisnis sembako. Saat kuliah di D3 Elektro UGM, ia mendapat kepercayaan untuk mengelola peternakan ayam. Itu terjadi tahun 1998 lalu ketika krismon sedang ganas-ganasnya melanda negeri ini. “Tanpa jaminan apa-apa saya dipinjami dana delapan puluh juta untuk membuat peternakan ayam,” katanya.
Mendapat amanah seperti itu, Irawan berusaha menjalankannya dengan sebaik mungkin. Ia tidak mau mengecewakan pemilik modal. Dengan modal tersebut, ia membangun peternakan ayam di kawasan Sleman. Dari ayam ribuan, akhirnya ia berhasil mengembangkan menjadi ratusan ribu ekor ayam.
Pengalaman mengelola peternakan ayam tersebut, membuat kepekaan bisnis Irawan kian terasah. Baginya, bisnis peternakan merupakan bisnis yang penuh resiko. Bila tidak ditata dengan manajemen yang cukup baik, bisa-bisa bisnisnya akan berantakan. Kenyataan ini sempat dialaminya, karena orang yang kepercayaannya ternyata tidak bisa menjalankan tugas yang telah diserahkan dengan baik. “Saya sempat terpuruk mengalami kerugian ratusan juga rupiah,” cerita Irawan.
Tapi menurut Irawan, kehancuran bisnis peternakan ayam tidak semata-semata masalah internal perusahaan, tapi juga disebabkan faktor internal yang berkaitan dengan kebijakan pemerintahan yang tidak tegas dalam soal impor daging ayam dari luar negeri. Itu terjadi tiga tahun lalu.”Sebelum isu flu burung kami sudah diserang badai ayam impor,” tukasnya.
Akibat banyaknya ayam gelap dari luar negeri yang masuk ke Indonesia tersebut, produk ayam Indonesia mengalami kemerosotan harga. Antara biaya produksi dengan hasil tidak imbang sama sekali. Untuk mengurangi kerugian tersebut, Irawan mencoba membuka usaha baru. Selain beternak, ia menjual mengolah sendiri daging tersebut untuk dijual langsung. Dengan berbagai cara, ia mencoba mempromosikan daging olahan tersebut. Ia lebih banyak memilih pasar hotel dan rumah makan. Ternyata upayanya membuahkan hasil. Ia bisa lega karena berhasil memasarkan ayam hasil peternakannya sendiri. “Paling tidak saya bisa meminimalkan kerugian,” ucapnya.
Dalam waktu yang tidak lama, Irawan berhasil menguasai puluhan rumah makan kafe dan hotel. Tapi persoalan kemudian muncul, karena mereka hanya memilih bagian tertentu dari daging ayam tersebut. Tegasnya, ada beberapa bagian seperti paha kepala dan sayap yang kurang peminat. Namun lelaki kelahiran Kediri, Jatim ini tidak kekurangan akal. Ia mencoba menjual paha, kepala dan sayap tersebut dalam bentuk fried chicken. Semula produk itu dijual keliling dengan gerobak sepeda.
Tapi sistem penjualan dengan gerobak kemudian ditinjau ulang karena dinilai tidak feasible secara bisnis. Antara hasil dan biaya operasional tidak imbang. Karena itulah, Irawan mulai melirik untuk mendirikan rumah makan dengan menu tetap fried chicken ditambah dengan aneka minuman pendukung. Maka lahirlah ide untuk mendirikan ayam goreng Dobbi. Tidak disangka, ketika dibuka pertama di kawasan Seturan, Jogja, sambutan masyarakat sangat bagus. Dari sinilah, Irawan mulai menyiapkan sistem manajemen karena ada beberapa konsumennya yang tertarik untuk bekerja sama membuka gerai baru.
Sulastri (34) yang membuka gerai di samping markas Polresta Solo, agaknya salah satu mitra bisnis yang sudah menikmati untuk dari ayam goreng Dobbi. Menurut pengakuannya sejak dibuka enam bulan lalu omset penjualannya lumayan. “Semakin hari omset kami terus meningkat,” kata Sulastri. Sulastri yang kini mempekerjakan dua orang karyawan optimistis tidak sampai satu tahun akan segera balik modal. ia juga berniat untuk membuka lokasi baru setelahy kesuksesan di lokasi yang pertama.
Devan 08-03-2006, 05:42 AM Peluang: Jangan Anggap Enteng Jual Pisang Goreng
http://i44.photobucket.com/albums/f35/devanization/pontiapisanggoreng.gif
Hanya pisang goreng biasa. Tapi perlu dikemas dengan baik, maka jajanan yang disukai oleh hampir semua masyarakat Indonesia ini akan menjadi bisnis yang besar. Robby Tjan telah membuktikannya dengan Pisang Pontia nya.
Laris manis bak kacang goreng, bukan lagi ungkapan basa-basi, bagi Robby Tjan. Sebab, melalui empat gerai pisang gorengnya yang dinamai Pontia, pisang gorengnya menjadi menu favorit bagi penggila makanan instan di Jakarta dan sekitarnya. Dan yang lebih penting lagi dia bisa meraup omset sebesar Rp13,5 juta hingga Rp14 juta semalam! Dan, berdasarkan pengamatan, diperkirakan omset ini akan terus membumbung di waktu-waktu mendatang. Padahal, modal yang ditanamkan hanya Rp800 ribu, sedangkan produknya cuma pisang goreng tepung.
“Pada dasarnya, Pontia hanyalah pisang goreng biasa. Mungkin, bedanya dengan pisang goreng pada umumnya yaitu terbuat dari pisang kepok Pontianak (pisang jenis ini lebih manis daripada pisang kepok pada umumnya dan saat digoreng tidak terlalu menyerap minyak, red.) yang dibungkus rapat dengan tepung terigu ¯ sehingga pisangnya sama sekali tidak kelihatan ¯ sebelum pisang itu digoreng. Kala dimakan, akan terasa manis dan renyah,” kata Robby. Di sisi lain, pisang-pisang ini ditempatkan dalam kemasan yang terbuat dari kertas karton (kardus, red.) berlabel Pontia. Selain itu, outlet Pontia juga bukan gerobak biasa, dan para karyawan yang melayani pembeli mengenakan pakaian seragam. Lebih dari itu semua, mungkin harga per bijinya yang hanya Rp2000,-, padahal “tampangnya” terbilang keren. “Nggak malu-maluinlah kalau dipakai untuk ngoleh-ngolehin calon mertua,” tambahnya.
Setiap kemasan, berisi lima pisang goreng. Tapi, Robby tidak pernah memaksa konsumennya yang selalu (antri) mengular, agar membeli minimal satu kemasan seperti aturan yang diberlakukan Dunkin Donuts, misalnya. “Konsumen boleh membeli berapa pun mereka mau,” ucapnya. Untuk variasi, Pontia juga menyediakan kacang hijau dan sukun goreng.
Pontia dibangun Robby yang awalnya hanya ingin menjalankan bisnis dengan modal kecil, setelah gagal dalam bisnis pelayaran yang modalnya miliaran rupiah. Tapi, saat itu dia belum tahu apa bentuk bisnisnya. Sampai kemudian, dia menyadari bahwa pisang goreng buatan istrinya yang selalu menjadi santapan sehari-hari keluarga ini, terasa makin lama makin enak. Lalu, terlintas dalam benaknya untuk membisniskan makanan kegemaran keluarganya ini. “Bagi saya yang biasa bermain di modal miliaran, modal berbisnis pisang goreng ini sangat kecil,” katanya, tanpa bermaksud sombong.
Melalui bantuan saudaranya, Robby yang memiliki apotik di kawasan Sunter, menggunakan ruangan yang tak terpakai di depan apotiknya sebagai tempat pertama berjualan Pontia, pada Agustus lalu. Hasilnya sangat menakjubkan. Karena, pada malam pertama pisang goreng yang dipasarkan dengan harga Rp1000,- per potong, omset sebesar Rp500 ribu bisa dia raup. Sekadar informasi, perbedaan harga Pontia di Sunter dengan cabang-cabang yang lain didasari daya beli masyarakat setempat dan Pontia di sini tidak ditempatkan dalam kemasan.
Sebulan kemudian, Robby membuka cabang Pontia di kawasan Kosambi.”Di sini, belum selesai dagangan digelar, sudah diserbu habis oleh konsumen!” ujarnya. Kondisi ini membuatnya berani membuka satu gerai lagi di kawasan Bintaro pada Bulan Oktober. Dan, hasilnya juga luar biasa, sehingga akhir 2005 dia membuka satu gerai lagi di Cibubur. Dari, empat outlet ini, setiap malam (Pontia dibuka dari jam 14.00 hingga jam 23.00, red.) Robby meraup Rp13,5 juta hingga Rp14 juta! Itu artinya, 6.750 buah pisang digoreng setiap malam!
Sebuah kenekadan atau spekulasi? “Tidak! Animo pembelilah yang mendorong saya membuka outlet ini secara beruntun. Selain itu, juga bukan untung-untungan. Sebab, investasi, kalau boleh ini dibilang investasi, di bisnis ini sangat kecil. Menurut saya, investasi itu berkaitan dengan angka yang besar sekali, sedangkan di bisnis ini investasinya sangat kecil. Dan, kalau terjadi sesuatu, tidak ada risiko apa pun yang harus ditanggung. Jadi, harap maklum kalau banyak orang berjualan pisang goreng, bukan karena prospeknya cerah, melainkan karena kecilnya modal, “ ucapnya.
Untuk promosinya, Robby menggunakan rasa penasaran konsumen. “Sebenarnya, saya sendiri agak kaget. Kenapa hanya pisang goreng bisa antri sepanjang ini,” katanya. Untuk mengatasi rasa penasarannya, sekaligus mengetahui berapa transaksi per malam, dia melakukan survai di Bintaro. Hasil penelitian sederhana tersebut yaitu dalam semalam terjadi 200–230 transaksi (pembelian) dan sekitar 150 di antaranya repeat di Pontia cabang Bintaro. Sedangkan, di Cibubur per malam dibukukan 100 transaksi. Sekadar informasi, Pontia cabang Bintaro merupakan gerai yang paling besar, karena di sini tersedia 13 penggorengan. Gerai kedua terbesar adalah Pontia cabang Cibubur yang menyediakan tujuh penggorengan.
Ke depannya, Robby berencana membuka gerai di Blok M, Puri Kembangan, atau Depok. “Banyak tempat di Jakarta ini yang masih bisa dijelajahi,” katanya. Selain itu, dia juga akan menggunakan sistem delivery, serta penjualan per kemasan atau paket.
Di sisi lain, berkaitan dengan Pontia yang mulai dilirik seorang pengusaha dari Singapura, Robby menawarkan kerja sama dengan ketentuan gerainya harus berpendingin ruangan serta dilengkapi dengan meja dan kursi, sehingga Pontia bisa dinikmati konsumen sambil kongko-kongko. Berbisnis dengan modal miliaran, tidak selalu memberi hasil yang sebanding. Sebaliknya, “berdagang” pisang goreng, yang oleh sebagian besar orang dipandang sebagai bisnis yang paling rendah,karena dilakukan oleh pengusaha kecil sekali, justru mampu menciptakan penjualan yang menakjubkan. Jadi jangan anggap enteng, biar hanya pisang goreng, tapi bisa menciptakan cash yang besar. Huh!!!
PISANG GORENG PONTIA
ROBBY DJAN
Jalan Mawar Nomor 63 Sunter Agung, Ancol, Jakarta Utara
Telepon: (021) 70778828
Devan 09-03-2006, 07:12 AM Martin “ Jual Konsep” Bengkel Motor HiTech
Bengkel motor biasa saja, sebenarnya sudah bisa menguntungkan, di tengah semakin meningkatnya pemakai sepeda motor. Dengan sedikit tambahan investasi untuk peralatan high tech, maka derajad bengkel motor Anda sudah layak disejajarkan dengan bengkel besar milik Yamaha, Honda dan lain-lain.
Setiap bisnis pasti membutuhkan modal, tetapi tidak benar bila tanpa modal (uang) bisnis tidak dapat berjalan. Seperti dua sisi mata logam, kalimat tadi bisa terdengar bombastis oleh orang baru akan memulai membuka bisnis. Sebaliknya barangkali menjadi klise bagi yang telah malang-melintang dalam rimba dunia usaha. Kedua anggapan bisa jadi benar, tergantung dari sudut mana arah memandang.
Apa yang dijalankan oleh Hendry Martin, pengelola bengkel sepeda motor bernama Dysha Motor Sport, di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan boleh menjadi contoh, satu di antara sekian ribu orang yang membuka usaha tetapi tidak ingin pusing urusan modal investasi. “Saya gila motor sejak dari kelas tiga SMP, ikut berbagai balapan motorcross, road race dan sebagainya sampai berhenti tahun 2002,” ceritanya mengawali tentang latar belakang usaha bengkel tersebut.
Martin pertama kali membuka bengkel sepeda motor pada tahun 2003 dengan modal Rp 20 juta. “Saya katakan bengkel yang tidak ada isinya,” tukasnya. Disebutkan, dari modal sebesar itu Rp 5 juta digunakan untuk membeli kompressor dan peralatan bengkel. Sisanya adalah untuk melengkapi spare part dan aksesoris tetapi hanya yang bersifat fast-moving spare parts , alias barang cepat laku. Seperti kaca spion, sticker, pedal cover dan barang lain yang sifatnya pendukung estetika sebuah motor.
Dari pengalamannya tersebut, Martin memiliki keinginan mengembangkan bengkel motornya agar tidak sekadar sama seperti bengkel sepeda motor yang ada. Dengan latar belakang hobi berikut komunitas motor yang diikutinya, costumer yang datang ke bengkelnya kebanyakan adalah para anggota klub serta komunitas motor yang jumlahnya ribuan. Konsumen ini, selain jumlahnya bertambah banyak, juga layanan yang dibutuhkan tambah beragam. Dari sekedar, ganti oli hingga memodifikasi bentuk fisik motor.
Seiring membanjirnya konsumen, plus kecepatannya dalam menggarap kebutuhan klien membuat bengkelnya semakin kondang. Bengkel kecil miliknya akhirnya menempati urutan teratas dari beberapa bengkel yang direkomendasikan oleh klub-klub motor, seperti Tiger, Scorprio 150 CC, Ninja dan sebagainya. Saking ramainya konsumen, khusus pada hari Sabtu dan Minggu bengkelnya buka selama 24 jam. Ia pun laris manis diminta menjadi pembicara dalam event sepeda motor yang diselenggarakan oleh motor bike clubers .
Potensi pasar yang lebih besar sering diperolehnya jika melayani para pemilik dan penggemar motor besar. Buka apa-apa. Biasanya mereka –yang rata-rata berkantong tebal—meminta layanan yang aneh-aneh. Enaknya sekali datang para big bikers ini tidak segan-segan merogoh saku cukup dalam, bila memang merasa puas. “Ada yang mengerti mesin, ada yang tidak, dan kita ngomongnya selalu jujur karena long-term relationship yang dicari, sehingga pernah kita dibayar Rp 2 juta hanya untuk servis kecil,” kisahnya.
Kalau begini-begini terus, Martin beranggapan kelangsungan bisnisnya tetap terjaga. Apalagi kalau hanya sekedar cari makan. Dia bermimpi agar satu saat bengkelnya jadi besar. “Kemudian saya berkeinginan membuka bengkel yang bagus. Tetapi masalahnya saya tidak pegang duit, tetapi saya punya konsep,” ujarnya. “Besar” yang dimaksud Martin tentu saja relatif bagi banyak orang. Tetapi setidaknya dalam benaknya, bengkel motor itu dikatakan besar jika peralatan pendukungnya benar-benar yang high-tech . Itu berarti perlu invetasi untuk membeli peralatan yang dimaksud.
Terus, kalau sudah ada investasi untuk membeli peralatan, maka langkah selanjutnya adalah adalah memberikan layanan yang total kepada konsumen atau lazim disebut one stop service. “Fokusnya begitu orang datang servis motor, terus mereka menginginkan bikin costum macam-macam, semuanya bisa dikerjakan di bengkel tersebut. Kalau ada yang mau bubut kita punya mesin bubut, kalau mau dipres kita punya mesin pres, kalau ingin tes performance kita punya engine performance testing,” paparnya.
Namun pria kelahiran Padang ini mengatakan, bahwa dana yang mesti dikeluarkan buat semua hal di atas tidaklah sedikit. Ia memperkirakan modal pengadaan alat-alat mencapai Rp 500 juta, belum termasuk lahan. Sehingga total yang dibutuhkan kurang-lebih sebesar Rp 600 juta. Akhirnya untuk mewujudkan konsepnya itu, selama setahun dia menyusun road map secara detil termasuk mengenai bentuk pengembangan usaha nantinya. Sedangkan bengkel miliknya yang dia pergunakan sebagai semacam prototipe. Hasilnya, seorang rekannya sangat tertarik mendanai berapa pun modal yang dibutuhkannya dengan sistem bagi hasil.
Martin optimis, dibutuhkan waktu tidak terlalu lama untuk mencapai break event point. Dikatakan bahwa selama ini dengan sistem manual, seorang mekanik hanya dapat memegang satu buah motor. Sebaliknya dengan memakai injeksi mesin, alat tinggal dicolokkan ke mesin, kompressor lalu dihidupkan, akan bekerja otomatis dan selesai dalam waktu 15 menit. Sementara itu pula bisa ditinggal untuk menggarap motor yang lainnya. Bila dianggap waktu efektif satu hari rata-rata 6 jam saja, dengan memiliki 2 buah alat, berarti dalam setiap jam mampu menggarap 8 buah sepada motor. Jika saja tariff servis rata-rata dikenai Rp 60 ribu, maka diperoleh Rp 60 ribu X 8 X 6 = Rp 2,88 juta per hari, atau Rp 86,4 juta per bulan hanya dari pendapatan servis. Belum untuk jenis layanan yang lainnya serta penjualan spare part dan aksesorisnya. “Paling lama dua tahun, sudah balik modal” ucapnya yakin.
Ia juga menegaskan bahwa rencananya tidak berhenti sampai di situ. “Pada tahun 2007 nanti, kita targetkan sudah memiliki lemabaga R&D (Research and Development),” ungkapnya. Dengan layanan tersebut maka Dysha akan sanggup melayani apa pun keinginan costumer. Baik memenuhi permintaan segala macam bentuk modifikasi bentuk, akselerasi, atau pun sekedar memperbaiki kendaraan yang cacat karena kecelakaan sehingga bisa tampil utuh seperti kendaraan baru. “Termasuk melakukan produksi bermacam-macam bentuk tools dan sebagainya,” tambahnya.
Diakui Martin, bahwa gagasan tersebut belum sepenuhnya terlaksana. Minimal mengamati perkembangannya, ia yakin angin keberuntungan berada di pihaknya. “Pada saat ini saya sudah punya costumer tetap, saya telah memegang kepercayaan, dan pelanggan tidak bakal lari kalau kita tidak buat kesalahan,” tandasnya. Maka untuk menjaga loyalitas konsumen, selain layanan yang profesional juga melalui pendekatan personal. “Anggota club atau pun komunitas berjumlah ribuan, satu orang pelanggan akan mengajak teman-temannya yang lain,” kilahnya. Well begun is half done!
Devan 18-03-2006, 04:03 PM http://i44.photobucket.com/albums/f35/devanization/quran.gif
Peluang: Cari Untung Dari Sampul AlQuran
Jadilah manusia kreatif seperti Noviera yang sukses membikin sampul untuk buku-buku seperti Alquran. Kendati tidak semata mencari untung, tapi peluang bisnis ini bisa dikerjakan dengan modal yang relatif kecil.
Agar tampil menarik, seseorang tidak hanya harus memakai baju yang bagus, tetapi juga serasi dengan aksesori yang dikenakannya. Sekali pun dengan tujuan beribadah atau mencari pahala, misalnya ke pengajian. Atas dasar ini, para wanita yang datang ke pengajian sebisa mungkin mengenakan busana muslim yang matching dengan kerudung, tas, sepatu atau sandal, serta perlengkapan salat, seperti mukena, sajadah, dan…sampul Alquran. Asal tahu saja, sampul Alquran kini juga telah menjadi bagian dari gaya berbusana sebagian muslimat Ibukota. Di sisi lain, sampul yang cantik cenderung akan memotivasi pemiliknya untuk rajin membaca Alquran setiap hari, bukan?
Selama ini, kitab suci umat Islam ini dilindungi oleh sampul yang terbuat dari bermacam-macam bahan, sebagai hasil berbagai modifikasi. Tapi, karena terlalu sering dibaca, sampul Alquran ini rusak atau setidaknya berubah menjadi kumal. Apalagi, sebagian dari sampul-sampul tersebut terbuat dari bahan atau hiasan yang tidak memungkinkan untuk dicuci. Di sisi lain, beberapa sampul Alquran terlihat sangat sederhana dan minimalis sehingga tidak sedap dipandang, misalnya berwarna putih polos atau berhiaskan bordir dengan satu warna benang (emas atau perak).
“Secara pribadi, saya tidak menyukai sampul semacam itu. Pada 2001, saya berinisitaif membuat sampul Alquran dari bahan dan benang berwarna warni, sehingga terkesan cantik,” kata Noviera, pemilik butik Nana Collection. Ternyata, animonya bagus.
Awalnya, Nana, begitu dia disapa, membuat cover ini dari sisa-sisa bahan yang tak terpakai. Karena itu, tidak ada modal khusus yang dia tanamkan di sini. Nana Collection yang berdiri pada 1999 di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, awalnya merupakan bisnis yang bergerak dalam busana muslim dan perlengkapan salat. Sampul Alquran hanya sebagian kecil dari bisnis ini. Kemudian dia berinovasi dengan mengkombinasikan warna bahan dan benang sedemikian rupa, sehingga sampul yang terbuat dari kain satin dan sutera Thailand ini tampil dengan manis. Menurut Nana, penggunaan kedua jenis kain tersebut, didasari pertimbangan bahwa kedua bahan tersebut kaku sehingga gampang dibentuk dan bersinar sehingga menarik perhatian.
“Semula, saya menggunakan sampul ini untuk membungkus Alquran saya sendiri. Ketika saya membawanya kepengajian, ternyata teman-teman pengajian saya menyukainya,” ujarnya. Dalam perkembangannya, orang-orang di luar komunitas pengajian yang dia ikuti juga tertarik untuk membeli dan memesannya. Bukan cuma itu, Nana yang rajin memasarkan dan mempromosikan produknya melalui berbagai bazar dan dari satu pengajian ke pengajian lain ini, juga menerima pesanan dari sebuah butik busana muslim di kawasan Kebayoran.
Diaku Nana bahwa ide pembuatan cover ini bukan berasal dari dirinya sendiri. “Sebenarnya cover semacam ini sudah banyak yang membuat, tapi yang saya buat lain daripada yang lain. Sebab, yang terbuat dari kain, boleh dikata, baru saya yang membuatnya. Apalagi, sampul Alquran saya ini bisa dan mudah dicuci,” katanya.
Dari sampul yang dijual dengan harga Rp35 ribu (seukuran buku Yassin dan hanya berhiaskan bordir sederhana, red.) hingga Rp250 ribu (seukuran Alquran ukuran besar dan dengan kombinasi bordiran penuh, red.) ini, Desember lalu, Nana meraup omset sekitar Rp10 juta. Sedangkan, setiap bulannya dia dapat menjual 50–70 buah. “Sebenarnya naik turunnya omset dan banyak sedikitnya sampul yang terjual tergantung ‘musim’. Dalam arti, bila sedang ‘musim’ haji, khususnya, atau peringatan meninggalnya seseorang ya banyak yang terjual atau pesanan meningkat. Tapi, sejauh ini, Alhamdulillah pesanan terus mengalir,” ujarnya.
Nana yang mempekerjakan 10 orang karyawan ini, setiap harinya mampu membuat 10 sampul dengan berbagai ukuran baik, untuk persediaan maupun pemesanan. Karena, setiap hari, dia rutin menerima pemesanan, setidaknya dua sampul. Sedangkan untuk yang memesan Nana punya standar untuk memesan minimal 50 buah sampul. Untuk pengerjaannya, Nana memperkirakan bisa menyelesaikannya dalam tempo dua minggu. Uniknya, sampul buatan dokter gigi ini bukan semata-mata untuk membungkus Alquran atau Yassin, melainkan juga buku pada umumnya, bahkan kitab Injil atau Bibel. “Pada dasarnya, saya membuat sampul ini bukan cuma untuk Alquran, melainkan lebih tergantung pada pemesanan, demikian pula dengan ukurannya. Sedangkan, konsumennya bisa siapa saja. Yang jelas, mereka merupakan orang-orang yang menyukai benda-benda bagus dan cantik,” ucap Nana yang pernah membuat sampul Alquran seukuran 50x35 cm.
Meski terbilang laris manis, Nana tidak sekali pun berminat menaikkan harga produknya. “Saya tidak mikir untung rugi, tapi saya melakukan ini demi ibadah (juga). Jadi, mudah-mudahan saya dapat pahala dari bisnis ini,” kata wanita yang produknya sudah merambah seluruh Jakarta dan Surabaya, serta berencana “melempar” produknya ke Malaysia dan Brunei Darussalam ini. Di satu sisi, dia merasakan kenikmatan tersendiri karena kreasinya disukai. Di sisi lain, mengingat bisnis ini sangat prospektif, dia ingin konsumen lebih dulu mengetahui dan mengenal produknya daripada berpikir tentang laba rugi.
Pada dasarnya, Nana menambahkan, sampul semacam ini mudah dibuat dan harga dapat ditekan sedemikian rupa untuk menghindari kerugian, tapi mau tidak mau kualitas akan turut berkurang. Karena itu, harap maklum bila sejauh ini belum ada pelaku bisnis yang mencoba ikut terjun dalam usaha ini. “Mereka nggak mau rugi. Sebab, bisnis sampul seperti ini boleh dibilang nggak ada untungnya,” ujar Nana yang membuat sendiri konsep bordir, serta kombinasi bahan dan warna benang sehingga dihasilkan satu sampul dengan satu motif, satu kombinasi bahan, dan satu kombinasi warna benang. Ibarat pepatah, sambil menyelam, minum air. Sambil beribadah, berbisnis pula.
Devan 07-04-2006, 04:53 AM Peluang: Briket Batok Kelapa Tersandung Modal
Kendati prospek pasar briket batok kelapa, sangat tinggi belum banyak pengusaha yang melirik. Kendala permodalan juga masih batu sandungan. Lilingga Lo Bonggo Lestari telah sukses melihat potensi bisnis tempurung kelapa ini.
Setelah munculnya “varian” bisnis baru berbasis pohon kelapa seperti minuman sari kelapa (nata decoco), virgin coconut oil (VCO), serta berbagai furniture batang kelapa beberapa tahun lalu. Kini, tempurung kelapa (batok) pun yang dulu dipandang sebagai sampah ternyata dapat menjadi lahan bisnis baru yang mulai dilirik karena siap memberikan keuntungan besar dengan permintaan pasar ekspor ke mancanegara cukup menjanjikan apabila diberikan sedikit sentuhan “inovasi produk”.
Capt. Iwan R. Niode, adalah sosok yang mulai tertarik melihat potensi bisnis batok kelapa dengan “inovasi produk” menjadi arang “briket” batok kelapa yang pertama di Indonesia. Inovasi Iwan sepertinya hadir tepat waktu, ketika melambungnya harga bahan bakar minyak yang membawa multiflier effect dengan kenaikan ongkos produksi bagi perusahaan maupun rumah tangga
Menurut Iwan, batok kelapa adalah komoditi ramah lingkungan dengan keuntungan sangat menjanjikan untuk menggantikan minyak tanah bagi masyarakat. “Apalagi adanya raw material yang bagus dan melimpah di Indonesia,” ungkap mantan pelaut ini. Seperti misalnya di daerah Sulawesi tepatnya Gorontalo yang terkenal dengan produksi kelapa kopranya ini. Selain itu ada 26 sentra kelapa di Indonesia diantaranya di Riau, Padang, Aceh, Jambi, Flores, dan lain sebagainya. Namun, sungguh ironi, meskipun dengan lahan yang lebih luas di bandingkan dengan Philipina dan India. Indonesia tertinggal sekitar 10 tahun dalam menerapkan teknologi tepat guna yang sederhana dalam mengelola bisnis perkelapaan.
Oleh karena itu, dalam masa pensiunnya serta setelah mendapatkan informasi dalam sebuah seminar mengenai komoditi kelapa yang diadakan Balai Penelitian IPB di Bogor di tahun 2000 ia mulai tertugah untuk menjadikannya sebagai bisnis barunya. Ia pun ingat, di kampung halamannya batok kelapa tak lebih dari limbah yang menggangu. Padahal dia tahu permintaan briket batok kelapa cukup besar dan menjanjikan keuntungan yang menggiurkan.
“Dari data Departemen Perdagangan dan Perindustrian terdapat sekitar 5000 ton setiap bulan batok kelapa yang terbuang atau hanya menjadi limbah yang tidak termanfaatkan. Padahal kalau kita ambil 10 persen saja yakni sekitar 500 ton sudah cukup bagus. Oleh karena itu, dengan bulat hati saya memulai usaha ini,” jelasnya.
Menurut Iwan pasar ekspor mancanegara menginginkan kadar fix carbon sebesar 82 persen. Menilik data yang ditemukannya tersebut, ia membawa sampel hasil pembakaran batok kelapanya ke Sucofindo. Hasilnya fantastis. Fix carbonnya mencapai 85 persen. “Artinya arang briket batok kelapa hasil percobaan saya fix carbonnya melampaui standar yang ditetapkan di Eropa dan Amerika. Padahal, dengan bahan baku yang melimpah masyarakat biasa dapat berharga US$ 170 sampai US$ 200 per kg dengan kandungan fix carbon 60%. Melalui pembakaran yang saya lakukan harganya bisa 4 kali lipat dari cara pembakaran yang biasa dilakukan masyarakat,” ungkapnya bangga.
Iwan mengaku briket batok kelapa bikinannya, sangat jauh berbeda dengan briket batubara karena hasil olahannya tersebut tidak berasap dan ramah lingkungan. Dengan melihat keadaan tersebut pasar Eropa sangat berminat untuk membeli briket tersebut darinya karena standar yang mereka inginkan sangat ketat terutama dalam hubungannya dengan kesehatan lingkungan hidup.
Tahun 2001 bermodal kurang lebih Rp.100 juta, ia mulai merakit mesin pencetak maupun pembakar arang batok kelapa yang dibuatnya di daerah Tegal. “Kalau saya lihat informasinya di internet harga mesin buatan India, Eropa sekitar Rp. 700 juta. Wah… mana kita mampu, maka dengan melihat standarnya dan improvisasi sendiri saya membuat mesin seperti mesin penghancur arang batok, mesin giling, mesin press hidrolik dan mesin oven di daerah Tegal bahkan bengkel las pagar pingir jalan dengan harga yang relatif jauh lebih murah,” kenangnya.
Perusahaan yang didirikannya bernama Lilingga Lo Bonggo Lestari mengusung merek dagang produknya Al-Misbah yang berarti : kilauan cahaya (pohon kelapa). Kini, dengan dibantu oleh sekitar 40 orang karyawannya, Iwan telah mengekspor rata-rata 3 kontainer perbulan dengan berat 36 ton senilai US$ 34 ribu atau sekitar Rp. 310 juta. Permintaan pun datang dari negara lain seperti : China, Korea, Jepang, Arab Saudi dan Eropa terutama Jerman dan Perancis hingga puluhan container perbulannya. Namun, Iwan mengaku belum dapat memenuhi semua permintaan tersebut karena berbagai keterbatasan.
Briket batok kelapa yang dihasilkan Iwan bervariasi bentuknya sesuai permintaan pasar. “Ada sekitar 4 macam bentuk seperti hexagonal (segi enam), square/cube (bulat), cylindrical (berbentuk silinder), disk/tablet (cakram). Hexagonal biasanya melayani permintaan rumah makan atau restoran sementara yang bulat khusus melayani pasar Timur Tengah untuk pembakaran alat penghisap rokok khas mereka,” tutur lelaki kerap nginap pabriknya di bilangan Ciomas Bogor ini.
Namun, usaha ini bukan tanpa kendala. Kendala utamanya adalah permodalan untuk mengembangkan permintaan pasar. Sebagai contoh, ia melanjutkan, permintaan pasar ekspor dari beberapa negara maupun peningkatan permintaan dari negara yang telah dilayaninya terkendala karena keterbatasan kapasitas produksi dari mesin yang dimilikinya. “Hingga sekarang kapasitas produksinya baru 36 ton per bulan, sementara permintaan melebihi kapasitas yang dihasilkannya sedangkan untuk membeli mesin baru harganya begitu mahal sekitar Rp. 700 juta,” ungkapnya.
“Bahkan saya pernah mengalami L/C (letter of credit) sebesar US$ 22.000 mati di tangan karena tidak memiliki modal sekitar Rp 170 juta untuk melayani permintaan suatu negara. Saya pernah mengajukan kredit ke bank dengan jaminan L/C tersebut namun mereka bergeming melihat usaha saya yang hanya usaha kecil,” kenangnya menerawang.
Kini ia mengajak setiap orang terutama pemerintah daerah yang tertarik pada bisnis briket ini untuk membangunkan “komoditi tidur” ini di daerahnya masing-masing dengan proses produksi yang sama dengan know how yang siap dibimbingnya. “bisnis ini bila diplasmakan sangat bagus,” tegasnya memberi keyakinan. Beberapa pemerintah daerah telah mengajaknya bekerjasama untuk mempergunakan teknologi tepat guna yang sederhana, ekonomis dan ramah lingkungan ini seperti : dari Jawa Barat, Pemda Riau serta seorang pengusaha dari Sumatera Barat. Bahkan Pemda Ciamis telah menjamin sekitar 36 kecamatan yang ada disana siap memakai kompor (briket) ciptaannya serta briket batok kelapa hasil olahannya.
“Bila saja pemerintah pusat memberi modal sekitar Rp. 10 milyar untuk menggerakkan 10 daerah propinsi yang masing-masing menerima Rp. 1 milyar dalam mendirikan bisnis ini, saya jamin multiflier effectnya sangat terasa bagi perekonomian rakyat. Insya Allah 5 tahun ke depan masih ada jaminan pekerjaan,” ungkapnya.
Bila dikonsumsi di dalam negeri saja, tambahnya, akan sangat membantu masyarakat luas. Iwan mencontohkan di Ternate harga minyak tanah pernah sekitar Rp. 10 ribu per liter apalagi di daerah lain yang memiliki keterbatasan tranportasi karena “keterasingan” geografisnya bisa lebih mahal. Dengan briket batok kelapa cukup sekitar Rp. 6.250 per kg, jelas Iwan, penggunaannya bisa untuk 6 jam.
“Belum lagi, apabila kita ingin melayani permintaan pasar ekspor pasti dapat menghasilkan devisa yang menguntungkan bagi Indonesia. Australia telah melakukan kontrak 10 kontainer per tahun, negara Eropa seperti Jerman dan Perancis siap menampung. Saudi Arabia pernah meminta sekitar 20 – 50 kontainer per bulan. Jadi peluang bisnis ini sangat menjanjikan baik bagi pemerintah maupun perorangan,” jelas pria yang tinggal di bilangan Bintaro ini.
Kini, melalui Forum Komunikasi Perkelapaan Indonesia (FOKPI), ia berharap banyak pemerintah pusat maupun daerah dapat membangunkan “komoditi tidur” ini dalam menggerakkan perekonomian rakyat Indonesia. Kehadiran, Prof. DR. Emil sebagai penasehat forum ini siap membantu memberikan solusi permodalan. Bukan itu saja, varian produk baru pun akan banyak bermunculan bila kita mengelolanya dengan baik dengan berbasiskan teknologi tepat guna yang sederhana.
Devan 07-04-2006, 05:02 AM http://i44.photobucket.com/albums/f35/devanization/washi.gif
Peluang: Boneka Washi Pantas Dilirik
Memang hanya boneka. Tapi ketika dibuat unik, berbeda dan khas, bonekapun bisa melanglang buana ke manca negara. Bagi pekerja seni dan dan kerajinan tangan (craft), boneka Jepang, bisa menjadi pilihan untuk mengembangkan produknya. Atau belajar pada Josephine yang telah memetik hasil jerih payahnya.
Dalam sejarah kehidupan manusia, boneka mempunyai peran yang sangat penting. Merunut ke belakang, pada awalnya, boneka bukan cuma berfungsi sebagai mainan atau penghias ruangan, melainkan juga digunakan sebagai obyek berbagai ritual keagamaan tertentu hingga ke hal-hal yang berbau ilmu hitam (black magic). Boneka, dalam kaitannya dengan upacara atau festival keagamaan, tidak mungkin pula dilepaskan dari hal-hal yang menyangkut kutukan atau mantera. Singkat kata, manusia dan boneka memiliki hubungan yang sangat erat.
Sama halnya dengan kebudayaan-kebudayaan lain, Jepang juga menggunakan boneka sebagai obyek ritual keagamaan sekaligus penghias ruangan. Hal ini tampak dari model rambut dan gaya berbusana boneka-boneka Jepang yang dipajang di lemari hias atau digantung di dinding. Bila semula, boneka-boneka ini dibuat dengan menggunakan kayu dan kain, dalam perkembangannya juga menggunakan washi (kertas yang terbuat dari lapisan kulit bagian dalam pohon Mulberry, Mitsumata, dan Gampi, red.) dan clay (sejenis kertas tradisional Jepang, red) atau styrofoam, sehingga lebih dikenal dengan nama boneka washi.
Boneka washi yang setiap bagian tubuhnya -wajah, rambut, dan pernak-pernik lainnya - dibentuk dari kertas washi ini, muncul di Jepang tiga abad lampau. Boneka buatan tangan dan berbentuk pipih ini biasanya mengambil karakter atau adegan dalam sandiwara Kabuki (sehingga wajahnya pun putih dan tanpa ekspresi) atau berbagai upacara tradisional Jepang.
Penggemar dan pembuat boneka washi tidak hanya bisa ditemui di Jepang, tetapi juga di Indonesia, tepatnya di Perkantoran Puri Niaga, Jakarta Barat. Josephine Tjen adalah pengrajin boneka washi yang (melalui tangan kedua) telah “melempar” hasil karyanya ini hingga ke Kanada dan Australia, bahkan ke Jepang. Dia memulai bisnisnya sembilan tahun lalu, dengan modal sekitar Rp80 ribu. “Pertama kali membuat kostum washi doll, saya menggunakan kertas kado. Karena, saya belum tahu di mana saya harus membeli material sebenarnya. Bentuknya memang bagus, tetapi hasilnya kurang bagus,” kata Josephine.
Di Singapura, tempat di mana dia untuk pertama kalinya menemukan buku tentang boneka washi dan pernak perniknya. Josephine pun membeli kertas washi. “Pada pembuatan washi doll yang kedua, saya menggunakan kertas washi. Sedangkan untuk bagian kepala dan badannya, saya menggunakan clay,” ujarnya. Di samping membuat washi doll, penyuka segala hal yang berkaitan dengan Jepang ini juga membuat happy doll, boneka modifikasi washi doll yang selalu berekspresi tersenyum atau bahagia. Kepala dan badan happy doll menggunakan styrofoam.
Kertas washi, Josephine melanjutkan, bervariasi harganya, minimal Rp60 ribu/lembar. Berkaitan dengan itu, untuk membuat satu boneka dengan karakter sederhana yang hanya memerlukan selembar washi, dibutuhkan modal sekitar Rp80 ribu. Sedangkan untuk yang berkarakter rumit, sehingga membutuhkan kertas washi dalam jumlah banyak, Josephine harus mengeluarkan dana hingga Rp200 ribu. “Berapa banyak bahan baku yang digunakan atau modal yang harus dikeluarkan tergantung pada sederhana rumitnya karakter boneka washi ini. Sebab, boneka semacam ini memang sangat ditentukan oleh karakternya,” katanya. Untuk happy doll, dia menggunakan styrofoam impor seharga Rp10 ribu/buah. “Untuk membuat satu boneka happy dibutuhkan modal sekitar Rp40 ribu,” tambahnya.
Berapa harga boneka Josephine? Josephine menjual washi doll berikut bingkainya dengan harga Rp500 ribu sampai Rp4,1 juta dan Rp80 ribu untuk happy doll beserta kemasannya. Sedangkan untuk modifikasinya (mengenakan kostum adat di Indonesia, red.), boneka yang berkarakter anak laki-laki dan anak perempuan ini dijual dengan harga Rp50 ribu hingga Rp300 ribu. Mahal? “Seni tidak bisa dinilai dengan uang, bukan?” ucapnya, bernada retoris. Untuk itu, baik washi maupun happy doll hanya bisa dijumpai di beberapa hotel di Jakarta dan Bali atau (melalui tangan kedua) di beberapa toko di Bandung, Surabaya, dan Makassar.
Meski boneka-boneka ini disukai oleh para konsumen kelas menengah ke atas dari Asia, tapi untuk meraih lebih banyak konsumen, Josephine juga memodifikasinya dengan karakter berbagai adat beberapa etnis di Indonesia, misalnya sepasang pengantin Batak, dengan tetap menggunakan kertas washi. Dan, respon besar datang dari para konsumen kelas menengah ke atas dari Eropa, di samping Asia tentunya. Tak pelak omset sebesar Rp10 juta/bulan, bisa dia raup dari boneka-boneka mungil ini. “Sehari, setidaknya satu washi doll dan 50 sampai 60 happy doll terjual, serta menerima pesanan hingga dua lusin,” ujar perempuan yang dalam sehari dapat membuat 20 pasang boneka ini.
Saat ini, Josephine telah membuat lima kostum daerah untuk happy doll dan 20 kostum daerah untuk washi doll (yang disebutnya boneka nusantara), di luar versi Jepang tentunya. “Happy doll saya buat dalam jumlah banyak, sedangkan washi doll limited edition atau satu daerah untuk satu boneka, jadi harganya lebih mahal. Bukan masalah mahal murahnya kertas washi (yang harganya di Indonesia lebih mahal daripada di Jepang), melainkan lebih pada rumitnya proses pembuatannya,” kata wanita yang aktif berpromosi melalui berbagai pameran ini. Berminat?
Devan 14-04-2006, 04:00 PM Peluang: Peluang Bisnis Itu Ya.. Talas
Saudara-saudara, jangan bingung cari lahan bisnis baru. Mari kita tanam talas sebanyak-banyaknya karena, pasarnya masih terbuka lebar di Jepang.
Diberitakan, bahwa satoimo (talas) yang merupakan salah satu komoditas makanan daerah tropis bakal menjadi primadona ekspor baru Indonesia. Konsorsium Satoimo Indonesia-Jepang yang dibentuk atas inisiatif Kadin Indonesia Komite Jepang, telah melakukan ekspor perdana setelah persiapan selama tiga tahun. “Setiap bulan akan diekspor 25 ton satoimo yang oleh pembeli, Global Seafood Limited, akan langsung dimasukkan ke supermarket-supermarket di Jepang,” ujar Ariful Y. Hidayat. Ketua Konsorsium Satoimo Indonesia-Jepang. Demikian dilaporkan CPAS, beberapa waktu lalu. Berita ini tentu saja mengingatkan kembali orang akan nilai ekonomis talas yang selama ini kurang serius dilirik Indonesia, padahal potensinya sangat besar dan hampir semua wilayah di Indonesia , talas agak mudah dibudidayakan.
Talas merupakan tanaman pangan yang bersifat menahun. Dilihat dari asal muasalnya, talas yang mempunyai nama lain Taro, Old cocoyam, Dash(e)en, dan Eddo(e) ini berasal dari Asia Tenggara, yang lalu menyebar ke Cina dan Jepang. Lantas, kembali lagi ke Asia Tenggara dan beberapa pulau di Samudra Pasifik.
Di Indonesia, tanaman yang di beberapa negara dikenal dengan nama Abalong (Filipina), Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaysia), Satoimo (Jepang), Tayoba (Spanyol), dan Yu-tao (Cina) ini, bisa dijumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan yang terletak 1000m di atas permukaan laut (sumber lain mengatakan 1.300 m di atas permukaan laut, red.) baik liar maupun dibudidayakan.
Bogor dan Malang merupakan kota-kota yang “ditunjuk” untuk “mengembangbiakkan” talas. Berbagai jenis talas terdapat di Kota Hujan ini, seperti talas sutera, talas bentul, talas ketan, talas paris, talas loma, talas pandan, dan talas lampung. Di sini juga dapat dijumpai talas mentega atau talas gambir atau talas hideung. Perlu diketahui, selain talas-talas yang telah disebutkan di atas, juga terdapat talas yang biasanya tidak dikonsumsi karena rasanya tidak enak atau gatal, seperti talas bolang. Selain itu, juga talas sente yang lebih sering digunakan untuk pajangan, sedangkan daunnya lebih banyak dipakai untuk makanan ikan. Sekadar informasi, berdasarkan data yang diperoleh, jumlah total produksi talas pada 1999 di Bogor mencapai 17.699 ton/tahun.
Secara komersial, talas bentul merupakan talas yang paling banyak dibudidayakan di kota ini. Sebab, talas yang rasa umbinya enak dan pulen ini, sangat cocok bila digoreng atau dibuat keripik dan hasil panennya banyak. Di samping itu juga talas loma. Budidaya talas loma dan diversifikasi produk olahannya, telah dilakukan oleh Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), sebagai pelaksanaan kegiatan Iptekda LIPI dengan memperbanyak bibit loma secara cepat dan massal.
Beberapa hal yang perlu diketahui bahwa untuk membudidayakan talas yaitu lingkungannya harus bersuhu 21° C–27° C, dengan kelembaban udara 50%–90%, adanya sinar matahari langsung, dan curah hujan 2.000 mm/tahun. Pada kondisi optimal, hasil produksi komoditi andalan Kota Bogor ini dapat mencapai 10 ton/hektar. Di sisi lain, talas gampang ditanam di hampir semua jenis tanah dan juga dapat ditumpangsarikan.
Di samping dikonsumsi sebagai makanan pokok dan makanan tambahan karena mengandung karbohidrat tinggi, protein, lemak, dan vitamin, tanaman yang mengandung asam perusi atau asam biru ini, juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Ambil contoh, umbi dan pelepah daunnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat, dan pembungkus. Daun, sisa umbi, dan kulit umbinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan secara langsung maupun setelah difermentasikan. Di luar itu semua, karena mampu tumbuh di lahan yang agak berair sampai dengan lahan kering, tanaman ini bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan dan penghijauan.
IPB mengubah talas menjadi produk bernilai tambah yaitu dengan mengembangkan suatu formulasi makanan sarapan cepat saji dengan rasa cokelat dan vanila yang gurih dan lezat, dengan menggunakan metode pengeringan. Produk yang dihasilkan berbentuk remah-remah kering berwarna putih kekuningan. Penyajian produk tersebut dilakukan dengan penambahan air hangat.
Dalam perkembangannya, talas bukan lagi makanan kampung. Pasalnya, Amerika Serikat dan sejumlah negara Uni Eropa kian menggemari talas dalam bentuk tepung. Demikian pula dengan Jepang, yang selama ini kebutuhannya dipasok oleh Cina. Saat ini, di negara-negara tersebut telah muncul pasar keripik talas loma yang berasal dari Hawai. Kondisi ini membuat peluang kita untuk mengekspor keripik talas, cukup besar. Apalagi, budidaya talas mudah dilakukan dan tidak bersifat musiman.
Kembali ke peluang pasar tadi. Peluang ekspor talas semakin terbuka di jepang karena produksi satoimo di Jepang terus menurun akibat biaya produksi terus meningkat. Selain itu, juga karena faktor musim yang tidak memungkinkan petani Jepang menanam satoimo sepanjang tahun. Rahedi Soegeng, Direktur Eksekutif Konsorsium Satoimo Indonesia-Jepang, mengatakan,”Konsumsi satoimo di Jepang mencapai 3 kg per kapita/tahun. Dengan asumsi, penduduk Jepang sekitar 120 juta, sehingga kebutuhan satoimonya mencapai 360 ribu ton/tahun “, kata Soegeng. Sekadar informasi, sejak 1996, produksi satoimo terus menurun hingga 250 ribu ton. Akibatnya, ada kekurangan pasokan sebanyak 110 ribu ton, yang dipenuhi dengan mengimpor dari Cina yang mampu memasok 65 ribu ton/tahun. Berkaitan dengan itu, masih ada peluang bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan itu sebanyak 45 ribu ton.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, Ariful menargetkan lahan satoimo seluas 70 hektar yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah dengan melibatkan petani setempat. Pada 2007, diharapkan ladang satoimo dapat meningkat menjadi 1.000 hektar. “Dan, pada 2008 bisa meningkat menjadi 3.000 hektar sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Jepang,” katanya.
Bila satu hektar lahan satoimo, Ariful melanjutkan, dikerjakan oleh lima petani, maka jika target 3.000 hektar lahan dapat direalisasi, bisnis ini dapat menyerap 15 ribu petani. Itu belum termasuk kebutuhan tenaga kerja pengolahan yang mencapai 11.250 orang.
ANALISIS USAHA
Analisis budidaya talas dengan lahan seluas 400 m2
dalam satu musim tanam (7 bulan) di daerah Bogor
pada 1999 oleh Institut Pertanian Bogor (IPB):
A. Biaya produksi
1.Sewa lahan Rp200.000,-
2.Bibit: 5.000 batang @Rp150,- Rp250.000,-
3.Pupuk: Urea 10 kg @Rp1.500,- Rp 15.000,-
4.Pestisida: Pembasmi serangga 1 botol Rp 25.000,-
5.Peralatan: Cangkul Rp 20.000,-
6.Tenaga kerja: Mencangkul lahan 3 OH @Rp10.000,- Rp 30.000,-
Menanam bibit 2 OH @Rp10.000,- Rp 20.000,-
7.Panen dan pascapanen: Panen 2 OH @Rp10.000,- Rp 20.000,-
Jumlah Rp 580.000,-
B. Pendapatan: 5.000 batang @Rp200,- Rp1.000.000,-
C. Keuntungan Rp 420.000,-
Devan 14-04-2006, 04:01 PM Peluang: Gurame Akan Tetap Ramai
Berbisnis ikan gurame diperkirakan akan tetap menarik, karena pasarnya masih luas. Pengalaman Julius Tirta Sendjaya membuktikan, permintaan pasar terkadang tak bisa dipenuhi. Kendati punya prospek, memahami kondisi riil praktek pasar gurame menjadi factor kritis dalam menjalankan bisnis ini.
Banyak yang mengatakan bahwa budidaya ikan adalah bisnis dengan high risk kendati dengan potential gain yang tinggi. Banyak sudah cerita di media massa mengenai peternak yang terpaksa gigit jari, pendapatan yang sudah hampir masuk kantong terlepas dari tangan karena kolam mereka diterjang banjir atau kena serangan penyakit mematikan. Namun faktanya tetap saja banyak menekuni usaha ini. Selidik punya selidik ternyata bisnis ini memang high risk, high profit.
Demikian seperti keterangan dari Julius Tirta Sendjaja, pemilik empang gurame di daerah Bogor. Berdasarkan perkiraan kasar, bahwa kebutuhan pasokan ikan gurame untuk wilayah Jabodetabek saja kurang lebih 10 ton per hari, atau sama dengan 300 ton dalam sebulan. Permintaan ini menurut Julius, semakin tahun akan semakin meningkat. Maka laki-laki yang meraih titel insinyur robotic ini optimis akan kemungkinan pengembangan usahanya. Terlebih dengan semakin meningkatnya kesadaran orang untuk memilih mengkonsumsi daging putih, hal ini semakin menambah semangatnya selama ini.
Sedangkan dari sisi besaran keuntungan (profit margin), secara umum budidaya ikan tersebut sangat menguntungkan. Meskipun dia mengakui tingginya resiko yang mungkin dialami. Bila usaha berjalan mulus, keuntungan yang diperoleh paling tidak sebesar 80% dari modal. Bayangkan, per bulan rata-rata ia menghasilkan 3 ton ikan, dengan harga ikan gurame berkisar antara Rp 20 ribu tiap kilogram, berarti uang sekitar Rp 60 juta masuk kantong. Sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan per bulan “yak lebih” dari Rp 10-15 juta. “Tetapi bila dua kali kita untung terus sekalinya rugi, saya katakan belum untung,” tukasnya.
Bahkan Uke, demikian ia kerap disapa, menceritakan bahwa bisnis perikanan yang dia kelola tidak serta-merta menghasilkan keuntungan seperti yang dibayangkan. Dia mulai menjalankan usaha ini pada tahun 1999, meski awalnya dari sekedar iseng. Sebelumnya laki-laki peraih gelar insinyur mesin robot ini sempat bekerja di Astra selama 3 tahun lamanya. Karena harus mengurusi orang tuanya yang sakit, ia keluar dari pekerjaan. “Pada saat sudah membaik dan saya akan bekerja lagi, orang tua saya malah minta bantuan buat mengurus perkebunan milik keluarga di Sukabumi, jadilah saya mengelola perkebunan dan empang ini,” tuturnya.
Lahan kolam ikan seluas 5 ha tersebut, awalnya adalah tanah keluarga yang tidak produktif. Mereka hanya mengupah orang untuk sekedar bersih-bersih. Maka berangkat dari sekedar coba-coba Uke, mengisi dengan bibit ikan mas. Dalam pikirnya paling tidak akan ada added value yang didapat dari tempat ini. Tetapi ternyata tidak segampang seperti dalam angan-angan. Ia rugi karena waktu itu belum punya pasar, sehingga harga ditekan oleh pemain lain. Penyebab lain pemain ikan mas sudah kelewat banyak, dan diperparah sistem pembayaran kurang jelas, sehingga tidak sedikit yang akhirnya tidak terbayar sampai sekarang.
Terlanjur basah, dari ikan mas, setahun berikutnya dia mencoba bisnis gurame. Disebabkan modal yang sudah cukup terkuras, dengan memilih usaha pembibitan, tidak perlu biaya pakan yang besar. Tetapi ternyata lagi-lagi ia salah perhitungan. Permintaan akan bibit ikan sifatnya hanyalah musiman, dengan begitu demand sangat tergantung pada pasar. Pada saat musim kering tidak ada yang membeli bibit ikan kepadanya. “Sementara pegawai mana mau mengerti, hingga akhirnya saya putuskan beralih ke konsumsi, selama orang masih makan, artinya mereka akan beli,” kenangnya.
Uke mengatakan bahwa pada tahun terakhir usahanya sudah mulai stabil. Meskipun pada saat memulai budidaya gurame ia bahkan belum memiliki pasar. Hanya dia yakin pasar gurame tidak sesulit ikan mas. Untuk mencari pembeli, pada awalnya juga mesti menawarkan produk kemana-mana. Selanjutnya, setelah ketemu pasarnya, tinggal berjalan menurut seleksi alam, artinya mana yang lebih menjanjikan pelayanan terbaik, akan lebih bisa diterima pasar. Apalagi dalam hal ini Uke punya prinsip yang menjadi pegangan bahwa dalam berbisnis orang tidak harus selalu menang. Satu kali kalah tidak apa-apa asalkan pada jangka long term sebuah hubungan bisnis bisa terjaga. “Baru, kalau dia sudah kita tolong tetapi tidak tahu balas budi, maka besok-besok kita tidak perlu menolong lagi,” ujarnya.
Salah satu contoh kerja sama saling menguntungkan dengan pembeli seperti di atas adalah, pada saat persediaan sedikit, padahal jumlah permintaan banyak, yang pertama kali diutamakan yaitu pelanggan baik. “Bila dia punya barang banyak lalu tidak mau ambil ke kita, maka giliran stok sedikit kita juga tidak perlu jual pada dia,” tuturnya.
Beban Uke semakin ringan karena saat ini dia tidak perlu setiap hari mengontrol empang miliknya. Pasalnya dia telah mempercayakan segala urusan kepada, Ivan, yang juga adik iparnya sendiri. “Awal-awal Pak Uke dapat pasar, saya terusin,” ujar sarjana Akuntansi Trisakti ini.
Berbicara menegenai pangsa pasar, Ivan membandingkan dengan ikan mas, menjual ikan gurame ibaratnya penjual bisa memilih pembeli. Sebaliknya kalau ikan mas si penjual yang mengejar-ngejar pembeli. “Di sisi lain, selama ini jumlah permintaan terhadap selalu lebih besar dari kemampuan menyediakan barang,” kata Ivan.
Padahal kalau hitung-hitungan harga, menurut Ivan, gurame jatuhnya lebih mahal. Alasannya dibutuhkan waktu lebih lama untuk pembesarannya dibandingkan dengan ikan mas, atau jenis-jenis ikan yang lain. Ikan lele, misalnya bisa panen dalam dua bulan, tetapi gurame dengan bobot 200 gram dibutuhkan sekitar 5 atau 6 bulan untuk mencapai berat jualnya, atau sekitar 5 atau 6 ons. Meskipun harga juga mengalami fluktuasi namun karena pasokan tidak sampai berlebihan, maka harga gurame menurut Uke relatif stabil.
Lama waktu yang dibutuhkan barangkali yang menjadi alasan mengapa tidak banyak orang mengambil resiko pada usaha ini. Padahal menurut Uke, justru di sinilah letak keunggulannya. Bila lele dengan turn over cepat, otomatis diperlukan kerja ekstra dalam pengelolaannya. Padahal dalam satu tahun, setelah dihitung, hasil keuntungannya tidak jauh berbeda.
Demikian pula untuk pengiriman pada saat memasarkan. Jenis-jenis ikan yang lain biasanya dilakukan pengiriman pada waktu malam hari, khususnya bila dikirim ke pasar-pasar tradisional. Sedangkan gurame yang menurut pengalaman Uke sudah kewalahan memenuhi kebutuhan restoran dan rumah makan, akan diambil oleh supplier pada siang hari. Dengan begitu tidak terlalu merepotkan baginya.
Melihat prospek yang cukup menjanjikan, maka ia tidak merasa ragu untuk meningkatkan omset produksi. Lebih-lebih diakui, selama ini dari seluruh lahan, baru 3 ha yang efektif, selebihnya belum produktif. Di samping itu cara lain dengan menambah kepadatan jumlah ikan yang ditanam pada tiap meter perseginya. Secara teori tingkat kepadatan ideal mencapai 18 ekor bibit per m2, sedangkan selama ini ia hanya mengisi dengan 10-12 ekor saja. “Kendalanya masih tentang ketersediaan modal dan sumber daya manusia (SDM),” ungkapnya.
Memang diakui, masih terdapat kendala lain, yaitu dalam memperoleh bibit. Bibit yang didapatkan dari petani sekitar, walau tidak selalu, acap tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diharapkan dalam hal volume. Masalahnya pada saat bersamaan, terkadang berebut dengan peternak lain, sehingga kalau pun toh akhirnya diperoleh juga, mau tidak mau harga pasti naik. Untuk menjamin pasokan, ia tidak berani membayar bibit di muka, misalnya, sebab bisa-bisa uang hilang, ikan juga hilang. “Dalam bisnis ini, petani dan supplier banyak mengajari kita,” tandasnya. Pengalaman adalah guru terbaik, benar juga.
Devan 27-04-2006, 06:53 AM Peluang: Boneka Berbusana Muslim, Boleh Juga
Membikin boneka dengan menonjolkan karakter keislaman, bisa jadi menjadi peluang bisnis yang cukup menggiurkan. Arrosa telah membuktikannya dengan mengalirnya pesanan setiap bulannya dari pasar dalam negeri dan mancanegara. Keuntungan usahannya lumayan menarik
Siapa tak kenal boneka? Semua orang, khususnya kaum hawa, dari bayi hingga dewasa, tentu mengenal alat permainan ini, setidaknya pernah melihat atau menyentuhnya. Menurut sebuah catatan, boneka muncul untuk pertama kalinya pada 3.000 tahun sebelum masehi. Awalnya, permainan ini dibuat untuk dijadikan obyek dalam ritual keagamaan atau upacara adat. Dalam perkembangannya, boneka juga mengalami evolusi baik aplikasi maupun penggunaannya. Boneka selain berfungsi sebagai mainan, juga sebagai penghias ruangan, koleksi, atau teman tidur bahkan sebagai gift untuk perisitiwa tertentu.
Selanjutnya, benda ini dijadikan pula sarana penunjang kegiatan pendidikan atau pengajaran dini untuk menebarkan nilai-nilai Islam, seperti yang dilakukan Arrosa, produsen boneka berkarakter nilai Islami. Arrosa sendiri dalam Bahasa Arab berarti boneka, juga merupakan merek dagang boneka berbusana muslimah. “Latar belakang munculnya Arrosa sebenarnya alternatif dari berbagai macam boneka yang sudah beredar di pasar. Tapi, karena boneka-boneka itu pada umumnya memakai busana biasa, kami mencoba menawarkan boneka yang berbaju muslimah ini,” kata Umining Dwi Kusminarti (Atiek), kreator Arrosa.
Selain itu, Asrul Iman melanjutkan, kehadiran boneka berbusana muslimah semacam ini sangat penting bagi anak-anak. “Sebab, sebaiknya, sedini mungkin mereka diperkenalkan atau dididik mengenai segala sesuatu dalam Islam, tanpa mengecilkan peran boneka-boneka lain, tentunya. Singkat kata, boneka Arrosa hanyalah alternatif sekaligus menginformasikan bahwa saat ini telah tersedia boneka yang khusus untuk muslimah,” ucap rekanan yang menangani bagian promosi, pemasaran, dan keuangan ini.
Arrosa untuk sementara ini cuma menyediakan boneka perempuan berbusana muslim. Ikhwal usaha boneka muslimah ini pertama kali muncul pada Agustus 2005 dengan modal awal sekitar Rp20 juta. Layaknya sebuah terobosan baru, dari 200 boneka yang didandani busana muslim ini, hanya puluhan yang diserap pasar. Tapi, setelah pasar mulai mengenalnya, dalam jangka waktu delapan bulan, 800 boneka laris manis bak kacang goreng. “Semula, penjualan berjalan sangat lamban. Sebab, hanya saya yang menjalankan. Tapi, setelah lebaran dan Asrul yang kebetulan mempunyai cukup banyak jaringan ikut bergabung, penjualan pun meningkat sedikit demi sedikit. Bahkan, saat ini kami sedang kewalahan memenuhi pemesan dari Balikpapan sebanyak 100 boneka,” kata Atiek.
Apa yang diungkapkan Atiek bukanlah sebuah kesombongan atas tanda-tanda sukses mereka. Lebih dari pada itu, Atiek mengemukakan sebuah “keluhan” atas kendala yang dihadapi bisnisnya. Permintaan besar namun kapasitas produksi masih terbatas. Sejauh ini, di bagian produksi, dia hanya dibantu oleh tujuh ibu rumah tangga di lingkungan Bojong Gede, lokasi workshop Arrosa. Status para “karyawan” inilah yang membuat Atiek dan Asrul tidak dapat mem-push mereka, untuk lebih giat lagi berproduksi sehingga target terpenuhi. Kondisi ini, juga membuat mereka menahan diri untuk tidak over expose. Karena, mereka khawatir tidak mampu memenuhi permintaan atau pemesanan. “Kami juga hanya dapat membayar mereka, berdasarkan berapa banyak yang bisa mereka hasilkan dalam kurun waktu tertentu,” ujar Asrul. Untuk mengatasi kondisi ini, Arrosa menjalin kerja sama dengan panti rehabilitasi cacat fisik pada Mei nanti, sebuah pesantren di Bekasi dan Ciawi, serta dengan departemen perindustrian dan penjahit profesional.
Arrosa tampaknya sangat paham akan kemauan konsumen. Bukan apa-apa “keluhan” para konsumen selama ini, adalah boneka yang ada di pasar didominasi produk Cina yang bertampang bule. Padahal konsumen ini menurut Atiek menginginkan boneka berwajah Asia atau negara-negara Islam lain. “Nanti, kalau Arrosa sudah berkembang, kami akan mencetak sendiri boneka yang lebih pantas untuk busana muslimah ini,” kata Atiek yang juga berencana mendadani boneka-bonekanya dengan busana pengantin muslim, berbagai baju adat di Indonesia, dan membuat baju muslim untuk boneka laki-laki, serta aksesori seperti sajadah, tasbih, dan musholla.
Arrosa yang menurut pengakuan Asrul memiliki standar kualitas 30% di bawah boneka Barbie ini, dijual dengan harga Rp55 ribu per buahnya. “Kami tidak menjual langsung ke end user. Melalui tangan kedua, boneka-boneka ini dijual dengan harga Rp75 ribu–Rp80 ribu,” ucap Atiek yang juga menyediakan busana-busana muslimah seukuran bonekanya dengan harga Rp25 ribu–Rp30 ribu. Dengan total penjualan dan pemesanan sebanyak 500 boneka, maka dalam sebulan Arrosa meraup omset lebih dari Rp20 juta.
Boneka yang digemari anak-anak hingga perempuan dewasa, terutama yang berkerudung ini, sebenarnya lebih banyak dibuat berdasarkan pesanan terutama dari Tuban (Jawa Timur), Yogyakarta, Bali, Bandung, Duri (Riau), Pekanbaru, Singapura, dan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab). Namun, bagi konsumen yang ingin membeli langsung, Arrosa juga membuka gerai di Mangga Dua dan Kalibata (Jakarta), Bojong Gede (Bogor), Bandung, Cimanggis (Depok), Pekayon (Bekasi), dan berikutnya di Cikarang (Bekasi).
Untuk menciptakan kesan eksklusivitas produknya (limited edition), Arrosa yang mereknya dipatenkan sejak Januari lalu cuma mendandani satu gaya busana baik kasual, semi formal, maupun formal dengan motif dan warna berbeda untuk setiap 50 boneka. “Kami mengistilahkannya dengan seri atau model sama tapi motif dan warna berbeda,” kata Atiek yang untuk busana bonekanya menggunakan bahan sifon, songket, satin, sari, dan piskin.
Arrosa adalah sebuah strategi diferensiasi produk yang gencar dilakukan oleh perusahaan di jaman yang serba kompetitif ini. Tujuan akhir tentu sudah mudah ditebak yakni mengisi ceruk pasar yang tidak bisa digarap oleh produsen yang ada (incumbent player). Lazimnya sebuah terobosan inovasi bisnis dan sebuah peluang usaha, potensi untuk meniru pasti selalu ada. Jika tidak menyiapkan langkah antisipasi untuk terus bertahan dengan sejumlah inovasi produk dan pasar, maka mereka akan tergerus oleh pesaing. Arrosa ibarat pepatah sambil menyelam minum air, sambil syiar sekaligus berbisnis, bukan begitu?
Umining Dwi Kusminarti (Atiek)
Bojong Gede Indah Blok GP/1 Bojong Gede,
021-8781529 dan Hp 08551064343
www.arrosa.net
Asrul Iman 021-8200318 dan Hp 085218301669 (rekan).
Devan 28-04-2006, 06:59 AM Peluang : Bisnis Pisang Goreng Makin Menarik
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/pisang.gif
Pisang goreng (PISGOR) kini jadi primadona bisnis baru yang layak terus dicoba oleh banyak pengusaha. Sejauh pisang menjadi makanan populer di sini, sebesar itu pula potensi pasar yang terbentang luas. Ta B’nana membuktikannya.
Segala bisnis yang berhubungan dengan kampung tengah atawa perut, dijamin kagak ade matinye. Sebab, selama seseorang masih hidup, selama itu pula ia akan terus makan. Selain itu, bisnis di bidang ini juga cepat balik modal. Apalagi, bila makanan yang disajikan lezat, spesial atau unik, dan halal. Meski ada tuntutan untuk kreatif, tapi juga tidak ada larangan untuk meniru atau (setidaknya) memodifikasi makanan yang sudah ada, kalau memang belum mampu menciptakan tren baru. Uniknya, dalam bisnis semacam ini baik produk asli, tiruan, maupun hasil modifikasi, tidak saling mematikan. Karena, jika sudah berbicara tentang lidah (baca: selera), dengan sendirinya pasar akan terbentuk. Ibarat kata, tak semudah itu memindahkan lidah.
Ambil contoh, pisang goreng. Makanan ini dapat dijumpai di tukang gorengan dengan tampang lecek, berminyak, hanya seukuran jari dan harga Rp250,-, tapi bisa pula ditemui di hotel berbintang dengan wajah manis, “berbedak” keju atau cokelat, seukuran telapak tangan pria dewasa, dan berharga puluhan ribu rupiah. Tapi, apa pun itu, dia tetaplah pisang goreng yang rasanya manis-manis sepat dan digemari oleh semua kalangan, tanpa pandang bulu.
Berkaitan dengan itu, tak salah kalau Majalah Pengusaha sekali lagi mengangkat tentang kisah pisang goreng ini, dengan pelaku bisnis yang berbeda, tentunya. Tersebutlah pisang goreng “bermerek” Ta B’nana yang bercokol di kawasan Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara. “Saat melihat orang membuat pisang goreng dengan ukuran kecil dan tampang lecek, terpikir oleh saya untuk melakukan sedikit inovasi yaitu membuat pisang goreng berukuran lebih besar tapi rasa pisangnya tetap terasa,” kata Ery Ashok, tentang alasannya berbisnis makanan yang disukai rakyat jelata hingga konglomerat itu.
Di samping itu, kreator Ta B’nana ini melanjutkan, sejak zaman dulu hingga sekarang, konsumen bukan cuma ingin makan pisangnya, melainkan ingin pula merasakan kerenyahan tepungnya. “Atas dasar inilah, saya dan istri (Mia) membuat pisang goreng yang tetap terasa rasa pisangnya sekaligus kerenyahan tepungnya,” ujar Ery yang meniru kerenyahan tepung pisang gorengnya dari kerenyahan tepung fried chicken.
Pisang goreng renyah ini, sebenarnya sudah dikonsepkan dua tahun lalu, namun baru beberapa bulan lalu (2006) dia realisasikan. Tak pelak, hingga wawancara ini dilakukan baru memiliki satu outlet. “Tidak berarti kami tidak ingin seperti bisnis serupa yang usianya lebih muda dari kami, tapi sudah memiliki banyak gerai. Kami harus berpikir panjang tentang sumber daya manusia, sumber bahan baku, standar “kerenyahan” tepung, cara menggoreng, dan sebagainya. Bisnis pisang goreng memang kecil modal dan risikonya, tapi untuk pengembangannya tidak semudah yang dilihat. Masih perlu waktu panjang untuk membuka gerai-gerai berikutnya,” ucapnya.
Ery mengambil contoh dari cara menggoreng Ta B’nana. Untuk menggoreng Ta B’nana, dilakukan dengan dua proses. Proses pertama dilakukan untuk mematangkan pisang. “Memerlukan waktu tersendiri untuk mematangkan pisang yang ukurannya memang lebih besar daripada pisang goreng pada umumnya,” kata Mia. Proses kedua dimaksudkan untuk membuat pisang goreng setengah matang ini menjadi matang sepenuhnya, sekaligus untuk menyerap minyak. “Sehingga, pisang goreng kami garing dan renyah,” imbuhnya.
Selain itu, Ta B’nana juga harus selalu menjaga mutunya baik pada rasa pisangnya maupun kerenyahan tepungnya, yang merupakan campuran antara tepung terigu, tepung beras, dan aneka bumbu. “Kami melakukan ini bukan karena masalah persaingan dengan bisnis sejenis. Sebab, kalau lidah sudah cocok dengan satu selera, biasanya tidak akan pindah lagi. Buktinya, banyak yang balik lagi ke sini setelah mencicipi pisang kami,” ucap Ery yang pisang gorengnya tidak cuma dilanggani penduduk sekitar Kelapa Gading, tetapi juga menerima pesanan dari Surabaya, Makassar, Papua, Medan, Palembang, Batam, dan Bandung. Bahkan, pisang seharga Rp1800,- ini juga pernah “terbang” ke Amerika Serikat dan Belanda.
Faktor lain yang juga menjadi pertimbangan serius Ery sebelum mengembangkan bisnisnya ini yaitu lokasi. “Kalau bisnis fast moving ini ditekuni, omset yang bisa diraup sangat baik (dalam sehari Ta B’nana membukukan omset Rp1,8 juta–Rp3,6 juta, red.). Tapi, hal ini sangat tergantung pada lokasi di mana outlet ini berdiri, di samping racikannya, tentunya,” ujarnya. Mencari tempat strategis tidaklah semudah membalik telapak tangan. Karena itu, selain ingin mengembangkan sendiri bisnisnya, Ery juga membuka peluang kerja sama kepada pihak-pihak yang berminat. “Nantinya, rekanan kami hanya menyediakan tempat, sedangkan operasionalisasinya kami yang mengendalikan demi menjaga mutu produk,” tambahnya.
Ta B’nana yang dibangun dengan modal awal Rp1 juta, dibuka mulai jam 12.00 hingga 21.00. Pada hari kerja, 1.000 pisang tergoreng, sedangkan pada akhir pekan, jumlah itu bisa meningkat hingga dua kali lipat. Di samping itu, Ta B’nana juga sering menerima pesanan melalui telepon yang jumlahnya berkisar 30–100 pisang baik untuk arisan, pesta perkawinan, atau acara pribadi. Ta B’nana yang awal April ini membuka cabang di kawasan Bintaro, juga menyediakan pelayanan pesan antar meski masih sebatas kawasan Kelapa Gading. “Untuk memudahkan konsumen saja, kok. Tapi kalau pesannya minimal 100 buah, kami siap mengantarkannya ke kawasan di luar Kelapa Gading,” kata Ery yang juga menyediakan talas (Pontianak) goreng, sebagai variasi.
Makanan yang sudah dikenal luas atau telah difranchisekan, Ery melanjutkan, lebih mudah dikembangkan. Sebaliknya, makanan yang diciptakan sendiri harus melakukan survai pasar berulang-ulang (untuk mengetahui apakah seleranya bisa diterima masyarakat atau tidak), sebelum dikembangkan. “Semuanya perlu waktu,” tegas Ery yang mempatenkan merek Ta B’nana, setahun lalu.
PISANG GORENG TA' BNANA
Mr. Ery Ashok
021-70228469
Devan 07-05-2006, 01:46 PM Peluang: Lampu Hias Dari Limbah Kayu
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/lampu.gif
Di tangan orang yang kreatif, barang apa saja bisa bernilai bisnis tinggi. Rudianto Handojo melihat peluang bisnis dari limbah kayu yang terbuang dengan menyulapnya menjadi lampu penghias ruang yang cantik dan indah. Produk bikinannya kebanyakan dihargai oleh kalangan ekspat.
Keindahan dan kemewahan sebuah rumah, bukan hanya terletak pada ukuran dan bentuk bangunannya melainkan juga pada bagaimana mengatur tata letak furniturenya dan furniture yang digunakan. Rumah yang berkonsep minimalis, misalnya, belum tentu berkurang keindahannya bila dibandingkan dengan rumah mewah berikut aneka furniturenya yang mahal dan bermerek terkenal, hanya karena menggunakan furniture “sederhana”.
Berkaitan dengan itu, kini banyak rumah berkonsep minimalis - ukuran bangunan tidak luas dan jumlah penghuninya tidak banyak - tapi ingin tetap terlihat indah dan nyaman, ditata dengan furniture “sederhana” tapi berfungsi ganda. Ambil contoh, lampu hias dari kayu limbah. Selain mampu menerangi setiap sudut ruangan, lampu-lampu artistik yang terbuat dari kayu (limbah) sengon, pinus, rami, sungkai, dan mahoni ini juga dapat memperindah ruangan-ruangan nan mungil sebuah rumah.
“Memang sejauh ini atau 70% peminat lampu hias kreasi saya ini masih kalangan ekspatriat. Karena, lampu-lampu semacam ini tidak mudah masuk ke suasana rumah orang zaman sekarang, yang lebih memilih produk-produk Da Vinci, misalnya. Lampu-lampu saya hanya diminati oleh orang-orang yang konsep rumahnya minimalis,” kata Rudianto Handojo, kreator lampu hias dari kayu limbah.
Rudy, begitu dia disapa, yang mulai “membisniskan” hobinya ini sekitar enam tahun lalu termasuk pencinta seni sejati. “Sebagai arsitek, tentu saya ingin membangun rumah yang bagus. Tapi, jika rumah yang bagus itu tidak dihias dengan bagus pula, maka ia tidak akan menjadi rumah bagus. Apalagi, bila tidak ditata dengan lampu yang bagus, keindahan sebuah rumah tidak akan tampak,” kata Rudy.
Sehubungan dengan hal itu, dia mencoba membantu membangun karakter sebuah rumah dengan elemen lampu hias seperti yang dia buat, yaitu lampu yang memerangkap cahaya. Lalu, dia biarkan cahaya itu mencari celah sendiri. Ketika akhirnya cahaya itu menemukannya, maka bentuk yang keluar adalah pantulan cahaya. “Ekspresi pantulan cahaya itulah, yang saya harapkan dapat membuat ruangan di mana lampu itu berada menjadi lebih bagus. Jadi, berbeda dengan lampu biasa yang memainkan cahayanya secara lepas,” jelasnya.
Untuk bahan bakunya, Rudy pun berburu sisa-sisa kayu sengon ke Sukabumi, limbah kayu rami di Klender, potongan-potongan tak terpakai kayu sungkai dari beberapa industri pembuatan furniture, dan sisa-sisa kayu pinus sebagai hasil pemotongan kayu legal yang dilakukan Perhutani. “Kayu-kayu ini warnanya terang atau muda, sehingga sangat bagus untuk memantulkan cahaya. Di samping itu, mereka itu jenis kayu lunak sehingga lebih mudah dibentuk,” ujarnya. Untuk aksentuasi, dia menggunakan kayu mahoni yang berwarna merah tua atau cenderung gelap.
Mengapa kayu? “Kayu itu mengandung unsur hangat. Selain itu, kayu di Indonesia bagus dan kita kaya akan jenis kayu. Jadi, mengapa tidak kita eksplor saja? Di sisi lain, saya menggunakan limbah sebab tidak ada yang menjual kayu dengan ukuran yang saya inginkan. Ada keterbatasan ketersediaan bahan baku,” kata Rudy yang terinspirasi oleh produk-produk IKEA (industri mebel dari kayu terbesar saat ini, red.) dan lampu buatan Skandinavia (negara penghasil kayu pinus terbesar di dunia, red.) “Unsur seni produk mereka sangat kuat, mirip dengan lampu yang saya buat,” jelasnya.
Lampu-lampu handmade ini dijual dengan harga Rp150 ribu–Rp900 ribu. Penetapan harga ini bukan terletak pada ukuran lampu, melainkan pada penggunaan bahan baku dan mood. “Dalam arti, kalau saya merasa kreasi saya ini indah meski gampang dibuatnya, ya, saya kasih harga mahal. Harga berdasarkan mood atau nilai seninya,” ucapnya. Dalam sebulan, Rudy yang menitipkan hasil karyanya di sebuah outlet di Kemang mampu menjual 5–15 lampu atau menerima pemesanan hingga 40 lampu. Karena itu, per bulan dia mencetak omset penjualan sekitar Rp20 juta.
Dengan modal awal sekitar Rp10 juta, kini dia dengan dibantu tiga karyawannya mampu menghasilkan 20–30 lampu setiap bulannya dari 25 item yang ada, di workshopnya yang terletak di kawasan Buncit, Jakarta Selatan. “Namun, tidak semua item dibuat dalam sebulan itu. Tergantung pesanan, kepuasan batin, dan mood. Di sisi lain, kadangkala dari satu item dihasilkan dua produk,” kata Rudy yang 70% konsumennya membeli floor lamp kreasinya yang dijual dengan harga Rp600 ribu–Rp900 ribu/buah. “Sebab floor lamp lebih mudah dipindah-pindahkan dan cocok dipadupadankan dengan mebel merek lain, serta bisa digunakan untuk memperindah semua bagian ruangan,” jelasnya.
Laiknya bisnis di Indonesia, pasti terdapat kendala ketika akan memperluas jaringan atau mengembangan sayap melalu ekspor. Demikian pula dengan “bisnis” Rudy. “Lampu tidak dapat dipisahkan dari listrik. Saya kesulitan dengan komponen listrik yang sifatnya paten. Sekadar info, semua produk IKEA menggunakan komponen listrik yang paten atau memenuhi standar listrik global. Karena itu, saya belum berani ekspor. Produk saya belum layak ekspor, belum memenuhi standar internasional tersebut. Saya berusaha mengatasinya dengan produk dari luar negeri tapi harganya luar biasa mahal. Jadi saya mundur dulu,” ujar Rudy yang terpaksa membatalkan ekspor ke Jerman dan Korea.
Kini, dia berusaha mendongkrak penjualan lampu-lampu setinggi 25 cm–160 cm ini, melalui pameran atau meminjamkannya untuk properti beberapa sinetron. “Sayang tingkat apresiasi konsumen belum nyambung. Sebab, ibarat lukisan, lampu saya ini sama dengan lukisan abstrak. Selain itu, hanya beberapa rumah yang matching dengan lampu hias semacam ini,” ucap Rudy yang berencana “melempar” lampu-lampunya ke berbagai hotel, perkantoran para ekspatriat, galeri lukisan, dan kafe
Devan 10-05-2006, 07:08 AM Peluang: Sandwich + Wedang Ronde = Untung Besar!
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/sandwitch.gif
Setelah 20 tahun lebih menjadi raja garmen, Yuyung Harjanto banting stir menjual wedang ronde dan sandwich bakar. Ratusan pengunjung menyerbu kedainya tiap malam
Puluhan pengunjung memenuhi ruangan. Puluhan lainnya menduduki bangku-bangku yang tertata rapi di sebelah luar ruangan. Sisanya rela antre sambil berdiri. Ini bukan sebuah perjamuan makan malam, tetapi ini adalah rutinitas pelanggan yang ingin menikmati wedang ronde dan sandwich bakar milik Yuyung Harjanto, di Jalan Pesanggrahan Raya 168, Jakarta Barat. “Ini hampir terjadi setiap malam,” ujar seorang juru parkir.
“Lebih dari 500 pelanggan yang berkunjung ke sini tiap malamnya,” ujar Yuyung Harjanto. “Delapan puluh persennya adalah ABG (anak baru gede) dan sisanya keluarga,” imbuh mantan salah satu pengusaha garmen terkemuka di Bandung ini.
Sejatinya Yuyung bukan ahli di bidang boga. Jalan hiduplah yang menuntunnya mendirikan kedai kopi sandwich bakar. Ini berawal dari kebangkrutannya sebagai pengusaha garmen yang telah ditekuninya puluhan tahun.
Terhantam krisis berkali-kali dan mendapat serbuan dari produk China membuat garmen milik Yuyung limbung. Ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan garmen dengan ratusan karyawannya, bahkan dengan mengecilkan skala usahanya. Namun upayanya tetap gagal. “Pemerintah tidak memberi dukungan. Kami tidak meminta disubsidi. Itu cengeng namanya. Kami hanya meminta dukungan pemerintah, tetapi tidak mendapatkannya,” ujar Yuyung.
Pabrik garmen yang ia rintis dari kecil akhirnya bangkrut total. Penjualan asetnya pun tidak mencukupi untuk membayar utang dan makan sehari-hari. Yuyung yang semula seorang bos dengan ratusan karyawan itu pun akhirnya menjadi karyawan sebuah perusahaan untuk bisa menyambung kehidupan keluarganya. Ini pun tidak bisa bertahan lama.
Kehidupan Yuyung dan keluarga benar-benar berada di titik nadir. Bahkan Yuyung menyebutnya di titik minus. Dalam kondisi tidak ada pilihan tersebut terlintas di benaknya untuk menjual wedang ronde, minuman khas yang selama ini menjadi favoritnya. Ia pun memutar akal karena modal yang ia pegang relatif kecil.
Gayung bersambut. Seorang teman Yuyung menawari teras showroom furniture untuk dijadikan tempat berjualan, setelah showroom itu tutup pada sore harinya. Mendapat kesempatan ini Yuyung bersama istrinya berusaha meracik wedang ronde, hingga menemukan rasa yang diterima banyak orang. Setelah berkali-kali melakukan trial and error, wedang ronde buatan istrinya siap untuk dijual di emperan toko milik teman Yuyung tersebut.
Yuyung yang dibantu anak sulungnya membuka kedai wedang ronde dan roti bakar di bawah sebuah tenda berukuran 3x4 meter. Berjuang selama tiga bulan, kedai tersebut akhirnya menunjukkan perkembangan yang pesat. Bahkan para pembeli rela untuk makan di dalam mobil mereka ketika hujan mengguyur.
Sepintas, wedang ronde yang dijual Yuyung tak berbeda jauh dengan wedang ronde yang dibikin penjaja minuman lainnya, apalagi minuman ini termasuk minuman popular bagi masyarakat Indonesia. Tetapi kalau diamati dan dicicipi ada perbedaan yang nyata. Isi wedang ronde Yuyung berwarna-warni, di mana masing-masing warna merepresentasikan rasa tersendiri. “Yang berwarna merah memiliki rasa kacang, yang berwarna hijau rasa bunga teratai dan yang berwarna coklat memiliki rasa coklat,” terang Yuyung.
Selain memiliki rasa yang berbeda untuk masing-masing warna, Yuyung menjamin makanannya tidak mengandung pengawet sehingga aman dikonsumsi. Strategi yang ia terapkan sebenarnya tidak terlalu muluk dan bahkan jamak dilakukan banyak penjaja makanan: ingin melayani pembeli, sebagaimana ketika ia ingin dilayani di suatu gerai makanan. Sederhana memang, tetapi tidak setiap orang bisa menterjemahkan strategi sederhana tersebut.
Sekalipun awalnya hanya kedai kaki lima, Yuyung menjaga kualitas rasa dan kebersihan tempat jualannya. Baginya, tempat yang bersih dan rapih bisa meningkatkan nilai jual barangnya. Jangan dikira, tempat jualan Yuyung tidak di-setting rapi, sebagaimana kebanyakan warung kaki lima lainnya. Bangku-bangku tempat jualan Yuyung diatur rapi dan dicat putih bersih.
Kiat dan taktik menjualnya cukup ampuh. Tak heran, hanya dalam tempo bulanan pelanggannya mencapai ratusan dan harus rela antre jika ingin membeli atau minum di sana. Pelanggan yang awalnya berdatangan dari pemukiman di sekitar Jalan Pesanggrahan, kini sudah melebar ke sampai ke Kelapa Gading dan Cibubur. “Selain melayani pelanggan yang datang langsung ke lokasi, kami juga menerima delivery order. Tetapi untuk sementara waktu, kami hanya bisa melayani pelanggan yang tidak terlalu jauh lokasinya,” ucap Yuyung seraya menambahkan minimal order Rp 40.000.
Respon positif dari pelanggan ini, membuat Yuyung berpikir untuk membuka cabang di lain tempat. Tetapi untuk sementara ini ia akan memperluas kapasitas dari gerai yang telah ada. Artinya, ruangan di atasnya yang semula digunakan untuk showroom mobil akan diubah seluruhnya menjadi gerai Kedai Kopi Sandwich Bakar.
Atas permintaan konsumen, Yuyung juga menambah menu makanannya. Kini, bukan hanya wedang ronde dan sandwich yang siap disajikan, tetapi juga ada steak. Namun, menurut Yuyung, sandwich tetap menjadi favorit utama Kedai Kopi Sandwich Bakar.
Dengan suksesnya usaha wedang ronde ini, Yuyung ingin menekankan bahwa selama kita memiliki kemauan kita pasti akan menemukan jalan. Ia tidak sekadar hafal glosarium tersebut tetapi sudah menerapkannya. Dirinya sendiri tidak pernah menyangka bahwa tekadnya bisa mendapatkan jalan dan hasilnya sungguh di luar dugaan.
“Saya bukan ahli boga. Dan tempat saya jualan juga tidak didapatkan melalui riset pemasaran yang njelimet. Saya hanya mempunyai tekad berjualan dan saya menemukan jalan. Ternyata dengan modal tekad, hasilnya bisa di luar dugaan,” tandasnya. Wedang ronde di tangan Yuyung telah naik kelas, dan menjadi peluang bisnis yang menggiurkan. Mau melakukan hal yang sama?
Sandwich Bakar
Jl. Pesanggrahan Raya No. 168, Jakarta Barat
Telp. 021-5820270
Devan 19-05-2006, 06:15 AM Peluang: Bisnis “Bersih-Bersih” Masih Prospektif
Banyak gedung, apartemen, kantor dan pabrik yang meng-outsourcing-kan pengelolaan kebersihannya. Suatu peluang untuk mendulang uang bagi pebisnis yang akan terjun ke jasa cleaning service alias bersih-bersih.
Salah sebuah hadits menegaskan bahwa kebersihan merupakan sebagian daripada iman. Kesadaran terhadap nilai kebersihan mungkin setua sejarah hidup manusia. Tetapi sebagai suatu bisnis, di Indonesia khususnya, fenomenanya baru muncul pada tahun 1980-an.
Pada tahun 1983 Sujarwo, Menteri Kehutanan Indonesia periode 1983-1988, berpikir keras bagaimana memelihara kebersihan Gedung Manggala Wanabhakti yang sebesar dan seluas itu. Tidak mungkin membersihkan gedung sebesar itu dengan cara manual, kain pel dan lap.
Kemudian Sujarwo menggandeng mitra untuk mendirikan PT Resik Cemerlang. Setelah mantan Menteri Kehutanan Kabinet Pembangunan IV itu meninggal dunia awal tahun 2004, kepemilikan dan pengelolaan diambil alih putri bungsunya, Budi Darmastuti. “Sebelumnya saya tidak terlibat bisnis ini karena saya belum selesai kuliah,” ujar lulusan Arsitektur Lanskap Trisakti ini.
Pada saat Budi Darmastuti mengambil alih tampuk pimpinan PT Resik Cemerlang, kliennya hanya 12 perusahaan dengan jumlah karyawan pelaksana 250 orang. Kini dalam kurun waktu dua tahun, klien perusahaan meningkat menjadi 80-an perusahaan dan jumlah karyawan pelaksana sekitar 700-an. Perkembangan yang sangat signifikan. “Sebelum saya pegang inovasinya agak kurang. Tetapi karena sebagai pioner posisi Resik Cemerlang selama kurun waktu 20 tahun nangkring di posisi atas,” ujar ibu dua orang putri ini.
Perjalanan waktu yang panjang, nilai kepioneran serta nilai kepercayaan pelanggan kepada Resik Cemerlang itulah yang digenjot Budi Darmastuti untuk melakukan ekspansi. “Binis jasa cleaning service itu bukan sekadar resik-resik (bersih-bersih) tetapi kepercayaan. Karena para karyawan harus membersihkan ruangan-ruangan. Kalau tidak jujur bagaimana?” kata Direktur Utama Resik Cemerlang yang juga Direktur Utama PT Tata Eksotik ini.
Dengan nilai kepercayaan yang dipegang teguh tersebut, Resik Cemerlang berhasil merangkul beberapa klien perusahaan ternama seperti Bank Danamon, Astra Honda Motor Cibitung, Sea World, Gedung Manggala Wanabhakti, PT Tunas Ridean, PT Charoen Phok Phan, Dankos Laboratories, HM Sampoerna, Citibank, Modern Photo Lab, Fortune Indonesia, THIESS Contractors, Maspion Plaza, General Motors Indonesia, dan Pewayangan Kautaman TMII serta Gedung Graha Wijaya.
Untuk mendapatkan karyawan yang jujur sehingga bisa memegang amanat kepercayaan, Budi Darmastuti memakai pendekatan hati selain memberikan gaji sesuai dengan Upah Minimum Provinsi dan Jamsostek karyawan. “Ada yang bagian ngasih tahu, ada yang bagian ngomelin, kalau saya bagian ngepuk-ngepuk (membesarkan hati dengan lemah lembut biasanya dengan mengelus-ngelus punggung tanda sayang dan perhatian),”kata Budi.
Oleh karena itu dalam negosiasi dengan klien Darmastuti memperhitungkan harga dengan memasukkan tingkat upah minimum propinsi (UMP), cost untuk seragam, aksesoris dan bahan chemical serta management fee. “Hak karyawan tidak kami utak-utik sama sekali. Kami hanya bermain di management fee untuk bisa mendapatkan profit. Itu pun tidak bisa terlalu besar,” imbuhnya.
Untuk menanamkan kejujuran kepada karyawan ini Budi Darmastuti juga memberikan contoh dengan bersikap jujur, misalnya tidak memotong sepeser pun hak karyawan. Ia juga sering membuat amsal, “kalau ada karyawan yang tega korupsi maka sama saja ia melubangi kapal yang kami tumpangi bersama. Kapal itu akan tenggelam bersama seluruh penumpangnya. Tampaknya semua menyadari hal ini,” tuturnya. “Amanat ayah saya adalah menjadikan perusahaan sebagai talang (saluran) rejeki bagi banyak orang. Tidak perlu membocorkan saluran tersebut, dengan menjadi saluran pun kami sudah kebasahan (kena rembesan),” imbuhya filosofis.
Selain memegang teguh kepercayaan, Budi Darmastuti juga berusaha sekuat mungkin untuk menghindari karyawannya melakukan demo. Karena beberapa klien sangat anti-demo, misalnya klien perbankan. “Alhamdulilah sampai sekarang karyawan kami belum pernah ada yang demo,” ucapnya.
Sekalipun bersikap lemah lembut terhadap para karyawannya, bukan berarti Budi Darmastuti tidak bersifat tegas. “Kalau ada karyawan yang mangkir tiga hari tanpa memberikan alasan maka dia kami pecat. Sebenarnya tidak tega melakukan ini tetapi peraturan perusahaan harus ditegakkan, selain hal ini memang erat kaitannya dengan kepercayaan yang telah dimandatkan klien kepada kami,” tandasnya.
Menurut Budi Darmastuti, klien yang sudah sangat percaya kepada Resik Cemerlang tidak pernah mempermasalahkan harga. Namun bagi klien baru, harga merupakan pertimbangan pertama untuk memakai jasa sebuah perusahaan cleaning service. “Saat ini banyak kompetitor yang banting-bantingan harga. Tetapi ternyata gaji karyawannya sangat kecil. Ujung-ujungnya klien juga kurang puas terhadap hasil kerja karyawan cleaning service dari perusahaan yang bersangkutan,” terangnya.
Budi Darmastuti mengetahui hal ini ketika mengambil alih pengelolaan kebersihan sebuah gedung dari sebuah perusahaan cleaning service lain. Dalam dunia bisnis jasa bersih-bersih ini ada suatu aturan tidak tertulis bahwa take over pengelolaan kebersihan suatu gedung juga melibat take over karyawan dari perusahaan yang lama. “Ketika saya tanya ada yang gajinya Rp 450.000 per bulan,” paparnya.
Meski kompetisi sangat ketat, ia mengakui bisnis jasa cleaning service masih prospektif. Terutama karena semakin banyaknya pengelola gedung yang meng-outsource pengelolaan kebersihan ini. “Saya melihat Singapura juga bertumpu kepada bisnis jasa. Tetapi negeri tetangga itu maju pesat meski tidak memiliki sumber daya alam. Dari situ saya melihat bahwa bisnis jasa akan selalu memiliki peluang dan pasar,”katanya mantap.
Oleh karena itu, walaupun kompetisi semakin tajam Budi Darmastuti masih berani mematok target ekspansi menambah karyawan pelaksana menjadi 1.000 pada tahun 2006 ini. Sedang tahun depan ia menargetkan pertumbuhan Resik Cemerlang bisa mencapai 30 persen.
Perusahaan cleaning service lain yang ikut menangguk untung dari bisnis ini adalah PT Seino Eranusa. Awalnya perusahaan ini mempunyai core business menjual alat pengharum ruangan otomatis. Karena setiap bulannya melakukan servis pengisian ulang cairan pengharum ruangan akhirnya perusahaan ini dikenal baik oleh para pelanggannya. “Dari situ saya tawarkan jasa lain yaitu jasa kebersihan dan ternyata mereka tertarik,” kata pengelola PT Seino Eranusa Didiet Prihatma.
Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, itu prinsip yang dilakukan Didiet. Selain, menjual pengharum dan jasa kebersihan, ia juga menjual jasa sebagai penyedia kebutuhan health care dan penyedia box untuk bekas pembalut wanita, terutama di gedung-gedung yang banyak memiliki karyawati.
Dengan berbagai produk jasanya tersebut PT Seino berhasil mengantongi omset Rp 150 juta- Rp 200 juta per bulannya. Dan ke depan Didiet menargetkan untuk meluaskan pangsa pasarnya sampai ke Jakarta, sehingga tidak hanya menggarap pasar di Bekasi.
Selain Resik Cemerlang, ada juga satu nama yang sebenarnya cukup besar dan profesional dalam arti manajemen; PT ISS. Perusahaan ini menurut para pemain di industri jasa ini, masuk ke berbagai hotel, serta beberapa bisnis terkait misalnya pest control (pemberantasan hama seperti rayap, tikus, ngengat), hingga ke building management .
Ada juga satu nama yang tak kalah berpengalaman adalah Trichem. Perusahaan ini beroperasi sudah belasan tahun. Hampir semua gedung perkantoran di Kawasan Sudirman, menjadi kliennya seperti Mid Plasa, Chase Plasa, Bapindo Plasa, hingga ke jaringan bioskop 21 milik Sudwikatmono. Sayang semua perusaaan yang berkategori besar ini enggan menyebut omsetnya. Hanya menurut seorang pemain di industri ini nilai tagihan mereka bisa mencapai puluhan miliar per tahunnya.
Devan 19-05-2006, 06:16 AM Peluang: TERTARIK FRANCHISE FURNITUR?
Grup Olympic lewat anak usahanya PT Garant Mobel Indonesia menjual brand MER, sebuah toko ritel furnitur dengan harga yang terjangkau. Meski baru beroperasi tiga tahun lalu, toko ini telah memiliki 19 gerai yang tersebar di beberapa kota. Prospeknya?
Nama Garant, mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pecinta produk-produk furnitur berkelas di dunia. Karena nama itu sudah menjadi brand dunia untuk sebuah toko furnitur. Berpusat di Jerman, toko furnitur dibawah bendera Garant Mobel International ini telah beroperasi sejak 47 tahun lalu. Toko ini sekarang telah tersebar di 20 negara dengan konsep waralaba, termasuk Indonesia. Total gerainya lebih dari 4000, dan salah satu dari bentuk gerai toko itu, beberapa di antaranya kini telah berdiri megah di beberapa kota di Tanah Air.
Di Tanah Air, bendera Garant adalah MER, sebuah toko ritel furniture yang menjangkau kalangan menengah dengan harga terjangakau. MER tidak hanya sebuah toko furniture. Tapi, merupakan sebuah paradigma baru di bisnis furnitur di Tanah Air. Dia tidak saja menjual berbagai produk furniture berkualitas, tetapi juga menawarkan sebuah konsep bisnis waralaba furniture. Pemegang hak waralaba MER disini adalah PT Garant Mobel Indonesia (GMI) yang berdiri sejak Februari 2003 lalu. GMI adalah anak usaha Grup Olympic—produsen furnitur terbesar di Tanah Air.
MER berdiri, karena manajemen GMI melihat prospek bisnis furniture di Tanah Air yang sangat bagus. Apresiasi masyarakat terhadap produk-produk mebel berkualitas makin meningkat. Ini bisa dilihat dengan naiknya permintaan pasar terhadap produk furnitur domestik maupun impor yang meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Asmindo (Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia), pada 2003 lalu impor mebel mencapai 5,75 ton atau US$ 6,04 juta. Pada 2004 jumlah tersebut naik 40%, dan diperkirakan tahun ini akan meningkat lebih besar lagi. “Atas dasar itulah kami mendirikan MER,” kata Andi Setiawan, CEO GMI.
MER tidak hanya menawarkan sebuah konsep toko ritel moderen. Namun lebih dari itu. Yakni merangkul semua pihak yang terlibat di bisnis furniture, mulai dari : produsen/manufaktur hingga konsumen. Artinya, semua pihak akan dilibatkan dalam bisnis ini dengan konsep win-win. Kendati MER adalah anak usaha Grup Olympic, namun dalam operasionalisasinya juga menjual produk lain yang menjadi kompetitor Olympic.
MER memberikan pelatihan dan inovasi serta pengembangan produk untuk para produsen. Para produsen ini dilatih dan membuat standar produk sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Di samping itu, MER juga melakukan technical assistant di bidang manajemen mulai dari visualisasi, marketing, service hingga sistem keuangan.
Untuk menjadi waralaba MER sangat mudah. Investor hanya wajib memiliki toko/tempat dan tinggal membayar Rp 250 ribu/m2. Semua produk, display toko dan interior semua ditanggung oleh GMI. Untuk produk, GMI didukung oleh 36 produsen furnitur terkenal di Tanah Air, seperti Grup Olymipic dan beberapa lagi lainnya. Pewaralaba bisa memilih produk yang diinginkan, lantaran GMI memiliki tak kurang dari 4 ribu item produk, seperti : bathroom set, mebel kantor, kursi, living room set, rak audio dan sebagainya. Investor tinggal memilih mana produk yang tergolong cepat laku dan slow moving. Ditambah dengan biaya lainnya, total investasi mencapai Rp 800 juta-an.
Tapi, menurut Andy, besarnya biaya yang harus dikeluarkan itu sebanding dengan benefit yang dipetik. Investor, berhak menggunakan nama MER selama enam tahun dengan royalty fee 0%. Selain itu, dukungan kampanye produk lewat media internal MER, menjadi membership Garant Mobel International, konsultasi, pelatihan manajemen menjadi salah satu keuntungan bagi investor, disamping desain dan lay out toko yang semuanya gratis.
Keuntungan lainnya? Lantaran produk yang dijual adalah produk yang cepat laku dengan harga terjangkau, MER memperkirakan titik impas pada tahun ketiga. “Namun itu tergantung luas toko,” jelas Eduard Sutarto, Module Manager GMI. Artinya, dengan perhitungan matematis bahwa per meter perseginya penjualannya sekitar Rp 500 ribu—asumsi ini berdasarkan pengalaman bahwa brand Olympic yang seharga Rp 2 – Rp 10 juta cukup laris di pasar—maka toko yang memiliki luas 350 m2—persyaratan toko MER minimal—memiliki omzet Rp 300 juta/bulan. “Makin luas, ya makin untung, karena produk yang dijual makin banyak dan beragam,” jelasnya.
Itu bicara manisnya. Bicara pahitnya, mungkin juga bisa terjadi. Alasannya, sebuah bisnis kalau tidak dikelola hati-hati akan hancur juga. Begitu juga berlaku di bisnis furniture. Pemilihan lokasi yang tepat/strategis, dekat dengan kawasan permukiman, akan lebih cepat laku ketimbang ditempat yang strategis.
Meski tergolong baru, MER kini telah memiliki 19 toko yang tersebar di berbagai kota.Di antaranya di Bandung, Serpong, Bintaro, Cibubur (semuanya Jakarta), Tangerang, Bogor, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Solo, Menado dan Palembang. Tahun ini MER menargetkan sekitar 20 toko baru. “Langkah ke arah sana sudah kami lakukan, tentu saja dengan promosi dan sosialisasi toko MER,” ungkap And
Devan 19-05-2006, 06:18 AM http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/combro.gif
Peluang: Memang Hanya Combro, Tapi...
Combro yang telah menjadi makanan populer di Jawa Barat ini, naik kelas dengan sejumlah inovasi di tangan Atmaja. Hasilnya, konsumen harus rela antri untuk hanya untuk membeli beberapa potong.
Gila! Hanya combro. Hari gini untuk bisa menikmati combro, yang merupakan makanan populer di masyarakat (Sunda: oncom di jero atau oncom di dalam, red.) saja, para penikmatnya harus berjuang. Telat sedikit, jangan berharap Anda kebagian. Itulah fakta yang terlihat dari antrian pembeli makanan khas masyarakat Jawa Barat yang mangkal di Jalan Suryakencana, Bogor, ini. Adalah Combro Atmaja alias combro rajikan Pak Atmaja yang mampu menyedot konsumen bukan hanya di sekitar Bogor, melainkan juga dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, bahkan Belanda, Jepang, dan Singapura.
“Padahal sebenarnya combro ini tidak ada bedanya lho dengan combro-combro lain. Mungkin, karena setiap hari saya selalu mengganti minyak gorengnya. Selain itu, barangkali karena bahan bakunya, saya menggunakan singkong Mangu yang kualitasnya paling bagus dibandingkan singkong-singkong lain. Juga menggunakan cabai kampung yang walau kecil dan ramping bentuknya, tapi pedasnya pas. Sedangkan, bahan oncom yang saya gunakan adalah oncom merah atau tanpa bahan pengawet. Lebih dari itu, tentu trik atau cara mengolahnya, termasuk cara menggulungnya,” kata Atmaja, mengira-ngira kelebihan produknya sehingga memancing orang menyemut.
Namun yang pasti, Atmaja yang dalam menjalankan usahanya dibantu dua saudara dan seorang tetangganya ini, lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas. Bahkan, boleh percaya boleh tidak, dia sendiri tidak terlalu menggubris apakah usahanya rugi atau untung. Bahkan dia tak terlalu mau tenggelam seharian mengurus bisnisnya. Hal ini terbukti dari “jam kerjanya” yang hanya tiga jam/hari. “Masalahnya yaitu tenaga kerja kami terbatas. Capeklah kalau harus berdagang seharian. Jadi begitu jualan kami habis, ya, kami pulang untuk beristirahat. Lalu, mempersiapkan bahan-bahan untuk berjualan keesokannya,” ujarnya, polos.
Di samping itu, ternyata bisnis Atmadja juga dibatasi oleh ketersediaan bahan baku. Seperti yang disebutkan di atas, salah satu bahan bakunya sangat spesial dan suplainyapun sangat terbatas. Singkong Mangu semakin sulit didapat dan kalaupun tersedia harganya mahal, sehingga dia terpaksa tidak lagi menggunakan singkong ini dan menggantinya dengan singkong lain, yang kualitasnya sedikit di bawah singkong Mangu. “Dulu, karena sangat mempertimbangkan kualitas, kalau kehabisan singkong Mangu saya memilih untuk tidak berjualan. Jadi dalam tujuh hari (seminggu, red.), kadang-kadang saya hanya berjualan tiga atau empat hari,” lanjutnya.
Dengan “jam kerja” dari jam 11.00 hingga jam 14.00, pada hari kerja Atmaja menggoreng (baca: menjual) 400 combro dari 20 kg adonan dan 800 combro dari 40 kg adonan pada hari libur atau akhir pekan. Dengan demikian, dari harga combro Rp1.200,- per buah, setiap hari dia mampu meraup omset sekitar Rp480 ribu sampai Rp960 ribu. Pendapatan ini di luar pesanan untuk pesta perkawinan dan dari lima pelanggan tetapnya, di antaranya beberapa hotel di sekitar Bogor, yang masing-masing memesan 100–200 buah per pelanggan. “Saya tidak bisa menerima pesanan lebih dari itu, khawatir tidak dapat memenuhi tepat pada waktunya. Di samping itu, juga kualitas singkong yang saya peroleh. Kalau hari itu saya tidak bisa mendapatkan singkong yang kualitasnya bagus, saya terpaksa menolak pesanan. Sebenarnya, kalau dituruti, saya bisa membuat 1.000–2.000 combro setiap harinya,” kata Atmaja yang tidak menerima pesanan, saat sedang berjualan.
Berbeda dengan combro lain yang lebih sedap disantap saat masih hangat, makanan berbentuk bulat lonjong made in dapur Atmaja ini masih tetap renyah, gurih, dan tentu saja lezat meski sudah dingin. Tapi untuk menghindari basi, untuk pesanan, combro Atmaja biasanya digoreng setengah matang. “Combro saya bertahan dua hari,” jelasnya. Sedangkan untuk pembeli ketengan (satuan, red.), tergantung permintaan konsumen apakah ingin digoreng matang atau setengah matang.
Usaha combro ini sebenarnya bisnis keluarga yang sempat terhenti pada 1998, karena berbagai situasi ekonomi yang sulit. Dengan mengerahkan modal harian Rp200 ribu hingga Rp250 ribu (setiap lima hari sekali, modal ini membengkak menjadi Rp400 ribu bila persediaan gas, kantung plastik, dan dus pembungkus habis, red.), laba kotor yang diraupnya hanya sekitar Rp250 ribu. “Jadi kalau dibilang harga combro saya kemahalan, saya kira itu keliru,” katanya.
Melihat minat konsumen yang semakin besar ini, ke depannya, Atmaja berencana membangun pabrik yang mampu menghasilkan 3.000–4000 combro per hari, dengan syarat singkong selalu tersedia.
Demikan pula dengan jumlah tenaga kerja yang bertugas menggulung parutan singkongnya harus diperbanyak. Lantas, untuk variasinya produknya akan ditambahkan misro, pisang goreng, tempe goreng, dan tahu goreng Sumedang, “Untuk sementara ini, saya hanya ingin memiliki ruangan khusus berukuran 4 x 4 meter untuk mengganti gerobak ini dan terus berusaha menjaga mutu produk.
Karena, sesepele apa pun pekerjaan itu, tidak ada yang boleh dikerjakan dengan main-main, termasuk dalam membuat combro,” tegas Atmaja yang belum berani membuka cabang di Jakarta. Memang hanya combro, tapi dengan berbagai terobosan dan inovasi, maka makanan “kelas rakyat” ini akan diminati orang dan tentu menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
Devan 11-06-2006, 04:47 PM Peluang: Clup-Clup: Mati di Jogja, Jaya di Ibukota
Omset Clup-Clup bisa mencapai Rp. 9 Juta per/bulan dengan margin keuntungan mencapai 30%. Para investor diundang jadi mitranya.
Untuk menjadi franchisee Clup-Clup, Anda hanya butuh modal Rp. 21.6 juta. Namun omset yang bisa diraih dari pengalaman yang sudah melakukan franchisee tergolong lumayan, yaitu dalam sehari bisa mengantongi omset minimal Rp. 300 ribu dengan keuntungan 30%. Apa saja yang ditawarkan dari bisnis franchise yang lahir di kota pelajar, Yogjakarta ini?
Awalnya Clup-Clup adalah jenis usaha waralaba yang berpusat di kota Gudeg, Yogyakarta. Kebetulan pula Budi Utoyo ikut bergabung dan mengembangkan bisnis ini dengan menjadi franchisee, sekaligus master franchise untuk wilayah Jakarta. Tapi kemudian dalam perkembangannya, Clup-Clup yang berada di Yogyakarta akhirnya mati.
Budi melihat bahwa makanan yang “serba rebus”, dan goreng ini sebetulnya merupakan makanan enak, dan bisa dinikmati siapa saja. Jadi kalau usaha ini dikelola dengan baik, Budi yakin bisnis ini akan berkembang. Maka mulailah ia membangun waralaba Clup-Clup ini di Jakarta. Dengan mengusung konsep makanan cepat saji yang bergizi tinggi, Budi Utoyo menawarkan kesempatan bagi siapa saja yang ingin mengambil franchise usaha ini.
Investasinya murah. Saat ini Clup-Clup sudah mempunyai 10 outlet di Jabotabek. Dua di antaranya milik Budi sendiri, dan delapan lainnya sudah difranchisekan. “Bagi orang yang sudah mempunyai freezer mereka cukup menyerahkan dana Rp. 17,5 juta ke saya. Tapi bagi mereka yang belum mempunyai peralatan apa-apa, cukup dengan Rp. 21,6 juta sudah bisa menjadi franchisee Clup-Clup,” jelas Budi.
Dengan investasi sebesar itu, investor sudah mendapatkan gerobak, kompor, genset, tempat sambal, panci-panci untuk merebus, tabung gas, gelas, dan alat lainnya serta training pegawai (keseluruhan senilai Rp. 17,5 juta). Sedangkan dana Rp. 2 juta lainnya digunakan untuk bahan baku, dan Rp. 2,1 juta untuk freezer dengan kapasitas 200 liter. Jadi mitra atau investor tinggal mencari tempat dan pegawai untuk mengurus jalannya bisnis ini sehari-hari. Untuk menjalankan bisnis ini, paling tidak dibutuhkan dua orang karyawan. Selain itu, franchise ini berlaku untuk tiga tahun. Setelah itu mereka hanya memperpanjang nama saja.
Adapun segmen pasar yang dituju untuk makanan ini adalah kalangan anak-anak sekolah, dan orang umum yang suka ngemil sehat. Oleh karena itu harga jualnya dibuat terjangkau, yaitu dari mulai Rp.1.000 sampai dengan Rp. 2.500. Jadi orang bisa memilih sesuai dengan isi yang ada di kantong mereka.
Bahan baku yang digunakan adalah seafood, daging dan ayam yang dimodifikasi sedemikian rupa. Misalnya saja untuk jenis makanan nuggets yang biasanya di pasar swalayan menggunakan bahan baku daging ayam, maka di Clup-Clup nuggets bisa dibuat dari salmon, cumi, udang atau tuna. Semua jenis makanan yang sudah diolah tersebut ditusuk seperti halnya sate. Dan pengolahannya, tinggal selera dari konsumen mau direbus atau digoreng.
Dalam menjalankan usaha, pasti orang sering menanyakan kapan akan balik modal. Menurut pria yang kini mempunyai 10 bidang usaha ini, dengan franchise Clup-Clup para calon investor bisa balik modal dalam waktu kurang dari satu tahun. “Sebenarnya dalam enam bulan mereka sudah bisa balik modal. Karena kalau saja dalam sehari mereka bisa dapat penghasilan Rp. 300 ribu, maka kurang dari satu tahun mereka sudah balik modal. Tapi kalau pendapatan si investor kurang dari Rp. 7,5 juta sebulan, maka saya bebaskan dari royalty fee,” ungkap Budi yang mengenakan royalty fee sebesar 5% dari omset kotor per bulan.
Devan 11-06-2006, 04:48 PM Peluang: Prospek Bisnis Sajadah Kain Perca
Sekelompok arsitek di Jakarta merintis memproduksi kain sajadah (alas solat) berbahan kain perca. Ekslusifitas dan sentusan seni yang tinggi membuat produk ini, banyak diminati orang termasuk konsumen dari Jepang.
Ingin membantu mengangkat kesejahteraan masyarakat kecil melalui teknologi untuk rakyat merupakan keinginan mulia. Tapi, ketika keinginan untuk mewujudkannya selalu terhalang oleh berbagai kendala, maka keinginan itu pun menjadi pepesan kosong alias harapan kosong yang mengawang-awang. Hal ini sangat disadari para arsitek yang tergabung dalam PII (Persatuan Insinyur Indonesia). Alhasil, mereka lalu banting kemudi dengan terlebih dulu mengangkat kehidupan orang-orang di sekitar mereka berkantor yaitu di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, baru memikirkan bisnis yang lain. Pertanyaan selanjutnya adalah bidang bisnis/kerja apa yang perlu dilakukan. Maka memproduksi sajadah dari bahan perca adalah salah satu pilihannya.
“Lingkupnya yang kecil-kecil saja dulu. Yang sederhana saja tapi bisa melibatkan mereka secara langsung. Akhirnya, terpikir kegiatan menjahit, kegiatan yang paling familiar di kalangan masyarakat kelas sosial ekonomi apa pun. Kebetulan, saya tertarik dengan dunia jahit menjahit meski saya tidak dapat menjahit, cuma bisa mendesain. Untuk workshopnya, saya menggunakan sebagian ruangan kantor kami ini,” kata Liliana Djamaluddin, pebisnis sajadah dari kain perca.
Dengan satu orang karyawan, yang kebetulan istri seorang petugas keamanan (SATPAM) yang bekerja di kantor mereka dan mesin jahit pinjaman orangtua, Lili, demikian wanita ini disapa, dan rekan-rekannya mulai mendesain sajadah. Mengapa sajadah dan bukan baju? “Busana itu merupakan produk yang sifatnya sudah umum. Sedangkan sajadah lekat dengan desain, dunia yang kami geluti, sehingga ketrampilan kami sebagai arsitek juga dapat dituangkan di sini. Walhasil, sajadah yang kami buat berbeda dengan sajadah pada umumnya,” ujarnya.
Bukan apa-apa, sajadah yang diberi merek Zahra ini tidak terbuat dari tenunan benang, tetapi potongan-potongan (bukan perca atau sisa-sisa, red.) kain satin, sutra, dan synil impor yang disambungkan satu sama lain, sehingga mirip dengan lukisan tiga dimensi. “Kami pernah mencoba menggunakan kain katun, tapi kesan yang muncul pucat dan datar. Sedangkan bahan bermotif terkesan biasa, sangat berbeda dengan bahan-bahan yang kami gunakan yang terkesan eksklusif. Perlu juga saya tekankan di sini bahwa motif sajadah kami menonjolkan permainan cahaya dan warna. Selain itu, di sini tidak sekadar menyambung dan menumpuk, melainkan juga memasukkan busa ke dalam sambungan antarkain sehingga bagian yang satu tampak lebih menonjol daripada yang lain. Juga penempatan warna kain yang inovatif, sehingga terkesan yang satu berada di depan yang lain, padahal sebenarnya posisi potongan-potongan bahan ini berdampingan,” katanya, panjang lebar.
Di samping itu, dalam pembuatannya, sajadah yang satu berbeda dengan sajadah yang lain baik dalam desain, gabungan antarkain yang digunakan, maupun detil-detil lainnya. “Tidak ada duplikat dalam sajadah-sajadah kami. Kami ingin Zahra tampak eksklusif, mengingat harganya tidak murah dan bahan yang digunakan merupakan bahan-bahan impor. Kami juga ingin membuat konsumen kami merasa spesial, sebab hanya dia yang memiliki desain semacam itu,” ucapnya. Untuk itu, Lili sangat ketat dalam kendali mutu. “Untuk soal yang satu ini, saya belum bisa mendelegasikannya kepada para karyawan saya,” tambah perempuan yang mengaku sangat detil dengan sense ini.
Sajadah yang lebih tebal daripada sajadah pada umumnya dan memiliki teknik quilting yang menarik ini, semula dibuat dengan tiga ukuran yaitu besar (64 cm x 111 cm), sedang (57 cm x 98 cm), dan seukuran kepala (40 cm x 40 cm). Dalam perkembangannya, tinggal sajadah besar yang dijual dengan harga Rp375 ribu (untuk desain sederhana) dan Rp395 ribu (untuk desain rumit), serta sajadah kepala seharga Rp125 ribu. Dalam penjualannya, saat Idul Fitri, Idul Adha, dan menjelang puasa bisa mencapai lebih dari 250 sajadah. Jumlah ini di luar penjualan Zahra yang dititipkan ke butik-butik muslimah dengan sistem konsinyasi.
Untuk meningkatkan penjualan “bisnis” yang dibangun dengan modal Rp5 juta, Zahra dibuatkan kemasan khusus untuk gift perkawinan, ulang tahun, atau hantaran perkawinan. “Untuk kemasan dengan boks khusus, kami tambahkan biaya Rp25 ribu,” ujarnya. Selain itu, juga mengikuti pameran minimal dua kali dalam setahun, terutama menjelang lebaran dengan menampilan desain-desain baru yang sketsanya dibuat dengan menggunakan komputer.
Mahal? “Tidak juga, karena harga yang saya tetapkan bukan ditentukan oleh bahan dasarnya, juga bukan pada masalah pintar menjahit atau membuat patchwork, melainkan lebih pada ide, detil, dan sense menggabungkan aneka warna kain sehingga menghasilkan efek tertentu,” kata Lili yang dalam sebulan memproduksi 36 sajadah, di luar pesanan, dengan perubahan desain setiap enam bulan sekali.
Alas salat yang ide gambarnya banyak mengambil dari buku arsitektur Islam ini, kini tersebar ke Surabaya, Sulawesi, Medan, dan (berikutnya) Malaysia. Uniknya, sebagian peminatnya, terutama konsumen non muslim dari Jepang dan Taiwan, membeli Zahra untuk menghiasi dinding rumah mereka dengan cukup menambahinya dengan slot (lubang) untuk tempat kayu masuk.
“Bisnis” ramai-ramai ini dibangun pada 2003 dan enam bulan kemudian ditake over oleh Lili karena kesibukan masing-masing pelakunya. Meski hampir berumur tiga tahun, Lili belum berani menyatakan bahwa usaha yang kini memiliki tiga karyawan ini pure bisnis, melainkan masih sekadar membuka lapangan kerja yang sebagian hasil penjualannya disumbangkan ke berbagai panti asuhan.
Ke depannya, Lili berencana merekrut karyawan lebih banyak lagi, sehingga dapat membantu kehidupan mereka dan menyumbang lebih banyak lagi ke berbagai panti asuhan. Di samping itu, juga ingin menambah jumlah desain agar dapat selalu selangkah lebih maju. “Tapi saya tidak akan mempatenkan Zahra, karena hal ini tidak menjamin desain saya tidak akan ditiru,” katanya. Menolong menjadi indah bila tidak diikuti dengan pamrih, sekali pun kadang dicurangi.
Devan 11-06-2006, 04:49 PM Peluang: Kaos Promosi Tetap OK
Bermodal sebuah mesin jahit dan satu mesin obras, Fauzi Ishak mengembangkan BeKaos menjadi perusahaan promotion support jempolan. Bagaimana kiat dari bos kaos ini?
Sebuah mesin jahit ‘uzur’ dipajang di ruangan depan kantor CV Bandung Prima Kencana di Jalan Batu Ampar I No 40, Condet, Jakarta Timur. Mesin jahit itu agaknya mempunyai nilai historis tersendiri bagi Fauzi Ishak, direktur utama sekaligus bos CV Bandung Prima Kencana.
“Pada waktu saya memulai usaha ini, modal saya cuma satu mesin jahit dan satu mesin obras,” ujar Fauzi beberapa waktu lalu. “Selebihnya modal saya cuma tekad dan keyakinan,” imbuhnya. Itu sebabnya, ketika usahanya terus berkibar Fauzi tidak lupa terhadap jasa mesin jahitnya tersebut. Bagi Fauzi mesin jahit ‘uzur’ itu merupakan monumen perjuangannya.
Fauzi mengawali usaha promotion support-nya dari sebuah ruang kontrakan berukuran 4x7 M2, di bilangan Mampang. Namun, sejatinya, Fauzi telah memulai usaha memproduksi kaos ini sejak ia masih sekolah SMA di Bandung. Kebetulan kakaknya juga seorang pengusaha kaos. Ketika kuliah di Universitas Pasundan, Fauzi mencari kos-kosan di pinggir jalan sehingga bisa nyambi untuk mengembangkan usaha kaosnya. Saking terlena dengan kemajuan bisnisnya, kuliahnya tidak kelar.
Menyadari hal tersebut, pilihan Fauzi menjadi jelas, yakni menjadi pengusaha. Namun ia tidak bisa terus bertahan di Bandung, karena usaha sejenis menjamur di Kota Kembang. Fausi mencoba menjajaki Surabaya sebagai kota basis usahanya. Namun berdasarkan survei yang dilakukan selama satu minggu, prospek bisnis kaos di Surabaya tidak terlalu bagus, karena sangat jauh dari sumber bahan bakunya yang berada di Bandung.
Maka Fauzi kemudian menjajaki kota Jakarta. “Dulu banyak pelanggan kakak saya yang berasal dari Jakarta. Dari situ timbul pikiran saya bahwa Jakarta merupakan temapt yang ideal untuk mengembangkan usaha,”katanya
Untunglah baru satu hari membuka usahanya di Jakarta ia sudah mendapat kepercayaan untuk membuat kaos olah raga SMA 1 Bekasi. Jumlahnya cuma sekitar 40 potong per kelas. Dari sisi nilai order, sebenarnya tidak terlalu besar, namun Fauzi melihat dari sisi yang lain yakni nilai kepercayaan. Dengan serius Fauzi bersama satu orang tukang jahit dan satu tukang obras mengerjakan pesanan tersebut sehingga pelanggan puas.
Untuk perusahaan skala mikro, seperti miliknya, word of mouth marketing merupakan strategi promosi yang paling jitu, karena tidak mungkin dia merogoh kocek terlalu dalam untuk melakukan promosi besar-besaran. Artinya, kepuasan pelanggan harus dinomorsatukan untuk mendapatkan efek word of mouth.
Ternyata pilihannya tepat. Pelanggan yang puas mengabarkan secara berantai kualitas produk CV Bandung Prima Kencana yang mengusung brand BEKaos. Bukan hanya individu atau kelompok saja yang akhirnya menjadi pelanggan BEKaos, dalam perkembangannya banyak perusahaan besar yang menjadi pelanggan setianya. “Telkom Jakarta Selatan, merupakan korporat pertama yang menjadi pelanggan saya,” ujar pria kelahiran Riau 7 Maret 1970 ini.
Namun Fauzi mengakui pada era 90-an pelanggan kelompok merupakan pelanggan terbesarnya. Dalam satu minggu ada 50 kelompok lebih yang memesan kaos ke BEKaos. Kelompok itu bisa terdiri atas anak sekolah, bisa juga kelompok remaja dengan hobi tertentu. “STM Budi Utomo (Budut) merupakan salah satu sekolah pelanggan utama saya,” ujar Suami dari Zuhaera yang telah setia mendampinginya selama 12 tahun.
Seiring perjalanan waktu, bapak dari Rafida Fahira, Kiftia Chairunnisa dan Meylisca Fauziah ini berhasil merangkul pelanggan individu, kelompok maupun korporat. Setelah perusahaannya berusia 10 tahun, BeKaos tercatat memiliki pelanggan korporat tetap, seperti Telkom, Trakindo, Garuda, PT Indosat, PT.Fumakila, Indofood, United Tractor, PT Harini Asri Bahari dan beberapa perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). “Ada salah satu PJTKI yang menjadi pelanggan saya selama 10 tahun. Omsetnya cukup bagus,” ujar pria yang juga menjadi pengurus HIPMI Jaya ini.
Belum lama ini Fauzi mendapat order dari Garuda Maintenance Fasility sebanyak 7000 set, terdiri atas celana, kemeja, jaket, seragam overhoule. “Kebetulan saya yang memenangkan tender senilai Rp 1,2 miliar itu. Padahal yang ikut tender perusahaan-perusahaan besar. Saya juga mendapat pesanan untuk Aerowisata Catering Service senilai sekitar Rp 400 juta,” tuturnya.
Apa kiat BEKaos bisa memenangkan order untuk korporat besar? “Harga yang kompetitif, mutu yang terjamin dan pengerjaan yang tepat waktu. Untuk bisnis special order ini pengerjaan tepat waktu sangat menentukan. Malah kadang-kadang harga tidak terlalu diperhatikan. Yang penting pengerjaan waktunya tepat. Misalnya ada perusahaan yang mau launching produk. Meski waktunya sudah mepet kami bisa mengerjakan order tepat waktu.”
Untuk memberikan garansi kualitas, Fauzi meyakinkan kepada konsumen bahwa BEKaos sendiri yang membuat produk tersebut. Sebelum deal terjadi, Fauzi mengajak calon konsumen untuk melihat fasiltas produksi BeKaos yang berdiri di atas lahan 1000 M2, di daerah Condet.
Dengan mempertimbangkan efisiensi dan supaya harga tetap kompetitif, Fauzi membatasi pesanan minimal 10 lusin. “Kalau pesanan banyak cost bisa kami tekan, baik dari sisi bahan baku maupun dari sisi tenaga kerja,” ungkapnya. “Namun untuk konsumen korporat saya bisa melayani pesanan di bawah 10 lusin. Tujuannya, agar perusahaan tersebut mengenal produk kami,”katanya.
Dengan berbagai strategi jitu tersebut Fauzi bisa mengibarkan BeKaos. Usaha yang awalnya dimulai dari sebuah ruang kontrakan ini kini sudah memiliki fasilitas produksi seluas 1000 M2. Karyawannya yang semula dua orang ini kini sudah mencapai sekitar 72 orang.
Bahkan Fauzi digandeng oleh Pemda DKI untuk membuat merchandise yang memiliki ciri khas DKI Jakarta. Merchandise ini akan dipasarkan di pusat-pusat wisata yang tersebar di DKI, misalnya Monas dan Ancol.
Bukan itu saja, Fauzi juga sudah merambah bisnis lain dengan mendirikan PT.ORBIT REKATAMA (Orbit.Comm) yang bergerak di bidang marketing communication. Ia juga berinvestasi di properti dengan membeli empat ruko. Ruko-ruko ini dimaksudkan untuk mendukung perkembangan BEKaos, namun untuk sementara masih disewakan kepada pihak lain.
Meskipun mulai merambah ke bidang bisnis lain, tetapi Fauzi mengaku tidak akan meninggalkan bisnis utama yang telah membesarkan namanya. Obsesinya, Fauzi ingin mendirikan pabrik garmen. “Ini karena keinginan saya yang sangat sederhana yakni bisa mempekerjakan lebih banyak orang. Saya sangat bahagia kalau bisa mempekerjakan lebih banyak orang,” pungkas anak keenam dari tujuh bersaudara hasil perkawinan dari H Ishak Arief dan H. Hamsiah ini.
Devan 23-07-2006, 10:42 AM Bisnis Katering Kian Nyaring
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/katering621.gif
MUNGKIN sudah tradisi, bulan Rayagung (Dzulhidzah) merupakan bulan hajatan. Maklum, bulan ini kerap dijadikan pilihan untuk mengadakan berbagai perayaan, mulai dari sunatan maupun perkawinan. Terbukti, hampir setiap hari atau memasuki akhir pekan selaluMulai dari jasa rias pengantin, sewaan kursi dan tenda hingga pengelola gedung. Dan, yang tidak kalah pentingnya yaitu para pengelola usaha jasa katering sebagai jasa penyedia makanan untuk jamuan para tamu undangan.
Bulan Rayagung, bisa jadi masa marema bagi para pengelola bisnis jasa katering. Maklum, meskipun tidak semua orang selalu memilih pada bulan Rayagung untuk hajatan, namun tak dipungkiri setiap memasuki bulan ini order untuk pesanan katering untuk hajatan bisa meningkat berlipat-lipat. “Selama bulan Rayagung order untuk hari Sabtu dan Minggu rata-rata penuh, bahkan untuk menjaga kualitas pelayanan terkadang kami harus rela membatasi order yang datang,” tegas Cosa Lucky AR, S.IP, Direktur Celdy Catering.
Beragam alasan orang kecenderungan menggunakan jasa katering, selain karena lebih praktis juga dari segi menu yang disajikannya cukup beragam. Mulai dari yang berbau tradisional hingga menu kelas internasional dapat disajikan, sedangkan kalau dikelola sendiri belum tentu bisa dan yang tidak kalah pentingnya tidak membuat sibuk yang punya acara.
Hal ini dirasakan oleh Celdy Catering, yang telah menggeluti bisnis ini sejak tahun 1989. Manisnya rayagungan, memang sudah dirasakan cukup lama, bahkan pada awalnya jasa katering ini lebih dominan untuk melayani hajatan seperti kawinan dan khitanan, meskipun belakangan kian melebarkan sayap hingga penyedia jasa katering untuk karyawan kantor dan pabrikan.
Beragam menu bisa menjadi pilihan, sesuai dengan budget yang dimiliki oleh calon konsumen. Dengan menu yang cukup beragam, yang jumlahnya bisa mencapai ratusan, Celdy menawarkan harga mulai Rp 32.500 - Rp 50.000 per porsinya. Bahkan, untuk masalah harga biasanya dapat disesuaikan dengan kondisi besar kecilnya gedung yang akan dipakai perhelatan.
Biasanya, calon konsumen akan diajak berdiskusi tentang menu dan jumlah tamu yang diundang. Namun, untuk acara-acara di gedung biasanya konsumen akan memesan rata-rata antara 750 - 1000 porsi. Sehingga untuk jumlah porsi seperti itu, setiap konsumen minimal harus merogoh koceknya antara Rp. 24.000.000 - Rp. 50.000.000 untuk satu kali perhelatan.
Menariknya, meskipun musim marema, Celdy hanya menerima maksimal dua order dalam satu harinya. Hal ini, dilakukan untuk menjaga kualitas rasa makanan dan kepuasan pelayanan. Padatnya order selama bulan Rayagung ini, seandainya Sabtu dan Minggu selalu penuh, maka dalam satu bulan order katering yang menggunakan jasa Celdy dapat mencapai 16 konsumen. Berarti, selama bulan Rayagung saja, lezatnya aneka makanan katering ini telah dicicipi antara 12.000 - 16.000 tamu undangan.
Begitu juga dengan Bayem Sebelas, masa marema Rayagung dijadikan untuk mengejar momen tahunan. Dengan harga paket antara Rp. 35.000 - Rp 50.000 per porsi, bulan-bulan biasa saja bisa meraih order antara 1-3 konsumen, apalagi bulan Rayagung hampir setiap Minggu order selalu penuh. Untuk acara perhelatan kawinan ini, menawarkan paket harga mulai Rp 35.000.000 - Rp 50.000.000 untuk satu kali perhelatan. Dengan asumsi minimal pesan 1.000 porsi, kalau kurang dari itu konsumen terkena charge sekitar 15 persen dari jumlah pesanan.
Meskipun setiap bulan rayagung order katering selalu meningkat, bukan berarti bisnis ini selalu manis. Bahkan kejadian yang tidak terduga pun kerap dirasakan, misalnya stok makanan yang disajikan telah habis sebelum waktu perhelatan berakhir, dan ini bisa menjatuhkan kredibilitas para pelaku jasa katering.
Biasanya masalah ini timbul karena jumlah porsi makanan yang dipesan tidak sesuai dengan jumlah undangan. “Untuk menjaga hal seperti itu terjadi, makanya perlunya ada keterbukaan dari konsumen, sehingga kejadian yang merugikan kedua belah pihak dapat dihindari,” tegas HR. Yogi Kusuma, Direktur bayam sebelas.
Devan 23-07-2006, 10:48 AM Hangat-hangat Empuk nya ABG eh.. maksudnya Bakmi ala ABG LOL ::ngakak2::
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/kuliner5125.gif
Satu lagi gerai bakmi yang menyemarakan khazanah kuliner Kota Bandung, bakmi khas Jakarta namun bercita rasa sangat Bandung ini menempati Gedung ABG di kawasan Pelajar Pejuang, Kota Bandung. Karena itu gerai bakmi yang dulunya bernama Noodle Spot ini tak pelak lagi, namanya yang simpel dan mudah diingat, plus lokasinya yang strategis menjadikan gerai bakmi ini sudah bergeliat sejak pukul 10 pagi. Sangat unik, sebelumnya jarang gerai bakmi yang sudah mulai ramai sejak pagi hari, segmen keluarga, kantoran, dan ABG, semua berbaur di gerai bakmi dengan penataan simpel namun serba leluasa dan bersih.
Dari namanya, menu bakmilah yang dijadikan andalan untuk menjaring konsumen. Namun ada beberapa jenis masakan oriental bagi yang ingin sajian utama yang lebih berat.
Bakmi ayam dengan jamur dan pangsit serta bakmi rica dengan daging sapi cincang pedas, adalah dua jenis bakmi yang banyak disukai para pelanggan. Semua bakmi disajikan dengan kuah terpisah. Sedangkan menu oriental di antaranya kwetiaw, nasi goreng ala ABG, atau nasi ayam cah jamur.
Bakmi ayam dengan taburan daging ayam kampung, jamur, dan pangsit dalam semangkuk kuah panas, bisa jadi tolok ukur kelezatan bakmi yang sangat populer di kalangan ABG, ibu-ibu, sampai para profesional muda.
Tekstur mi keritingnya sangat lembut dan bercita rasa gurih, sementara jamurnya sangat crispy dengan sedikit rasa manis, ditambah dengan potongan daging ayam kampung yang sangat lembut. Setiap bakmi disajikan dengan kuah terpisah yang berisi pangsit. Isi pangsitnya memang oke punya, cincangan daging udang, ayam, dan ebi bisa menghasilkan taste pangsit yang lembut dan sangat gurih.
“Setiap pagi saya harus mencicipi cincangan isi pangsit ini, jadi isian pangsit ini saya cicipi mentah lho, jadi cita rasanya bisa terkontrol,” cetus Fransiska Susana, Manajer Operasional bakmi ABG.
Secara keseluruhan, tekstur dan cita rasalah yang sangat ditonjolkan, bahkan kaum manula pun bisa menikmati sajian bakmi yang memang sangat lembut dan lezat ini dengan nyaman.
Apalagi nuansa desain interiornya yang tergolong modern dan serba leluasa, bikin betah para pemburu bakmi untuk berlama-lama di sini. Gerai bakmi ini termasuk salah satu buruan para penikmat jajanan dari Jakarta disaat weekend.
Bakmi ABG kendati disebut khas Jakarta, namun memiliki cita rasa yang khas Bandung. Bila bakmi asli Jakarta mempunyai cita rasa jahe yang cukup dominan, maka bakmi ABG memiliki cara penyajian yang sama, namun tidak diberi rempah jahe, jadi gurih kaldu ayamnya lebih dominan.
Harga yang ditawarkan pun tergolong enak di kantong, harga bakmi mulai dari Rp 11.000 hingga Rp 13.500, sedangkan harga hidangan oriental mulai dari 16.500 sampai Rp 18.500 per porsi. Malah ada paket happy hour segala, mulai dari pukul tiga sore hingga pukul lima sore, harga seporsi bakmi plus minuman cuma Rp 12.000-an.
Jika belum pernah nyicip Bakmi yang hanya ada di Kota Bandung ini, segera sisihkan waktu Anda, lalu meluncurlah ke kawasan Pelajar Pejuang saat sore hari, nikmati nuansanya dan nikmati sajiannya.
Devan 23-07-2006, 10:55 AM Bisnis Outbound “Mencetak” Kilat Manusia Tangguh Dan Juga Uang Untuk Pemilik Usaha-nya
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/outbond563.jpg
Dalam bisnis outbound, selain fun, challenging dan hobi, ini bisa mencetak duit lumayan besar bagi pebisnis yang rela menggeluti segmen ini..
BERANEKA macam materi permainan yang diberikan, tak ubahnya permainan yang kerap dilakukan oleh anak-anak. Namun, di balik permainan yang tidak begitu njelimet dan dapat dilakukan oleh siapapun, terdapat aspek pembelajaran yang mampu melihat potensi dan pOutbound Management Training, sekarang seolah menjadi tren baru bagi banyak perusahaan untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia yang dimilikinya. Pelatihan yang barbau petualangan di alam bebas ini, di beberapa negara maju seperti Eropa dan Amerika telah lama dikenal dan digunakan berbagai perusahaan.
Sistem pelatihan ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an, melalui sistem franchise yaitu Outwar Bound Indonesia dengan materi pelatihan yang diadopsi dari negara asalnya yaitu Inggris. Begitu besarnya efek yang dapat diperoleh, menjadikan usaha ini kian berkembang di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Materi pelatihan yang diberikan banyak yang disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia.
Melalui aneka permainan yang dikemas secara fun, pelatihan ini tidak begitu membebani secara fisik. Namun lebih menekankan kepada permainan yang menciptakan timbulnya kreativitas dan keberanian seseorang untuk dapat melakukan sesuatu yang diperintahkan melalui permainan tersebut. Dengan begitu diharapkan timbul sikap mental positif serta kemampuan untuk bekerjasama secara kelompok.
Beraneka macam permainan kerap digunakan dari mulai yang low impact hingga high impact, seperti berseluncur di atas tali, permainan tali di atas ketinggian 8-10 meter, menjatuhkan diri, permainan jaring laba-laba, menyusun balok kayu, melempar air dalam plastik, dll. Selain itu media diskusi juga kerap digunakan sehingga mampu memberikan pembelajaran bagi para peserta dalam menggali potensi diri yang dimilikinya. Dengan ditunjang tenaga psikolog dan medis.
Melalui program outbound management ini, peserta dilatih kemandirian. “Namun tujuan yang utama dari pelatihan ini yaitu untuk memperluas rasa antusias dan pemahaman diri sendiri, orang lain dan lingkungan untuk mempertinggi komunikasi antara individu dengan kelompok,” jelas Edi Djoewandi, Manager Canoe Adventure yang juga aktivis Wanadri.
Berbagai materi yang diberikan melalui permainan tersebut, diharapkan dapat memberikan masukan untuk bagian sumber daya manusia dalam menempatkan karyawan sesuai dengan kapasitas pribadinya. Diharapkan melalui pelatihan outbound ini, dapat terbangun kerjasama tim, membangun jiwa kepemimpinan, percaya diri. Biasanya pelatihan ini diikuti mulai dari level direksi hingga supervisor, bahkan bisa juga hingga level pelaksana.
Maraknya pelatihan ini, belakangan menjadikan lahan usaha bagi sebagian orang yang mempunyai hobi berpetualang. Dengan ilmu yang didapat selama di lapangan, biasanya menjadi bekal untuk mendirikan usaha seperti ini. Bahkan begitu maraknya usaha ini, di Bandung saja bisa mencapai 30-40 perusahaan.
Perusahaan yang menikmati tingginya kebutuhan akan pelatihan ini adalah Bina Wana Sarana (BWS) yang eksis sejak tahun 1995. Perusahaan ini dapat berkembang hingga empat cabang, yakni di Bandung, Jakarta, Semarang dan Surabaya. Klien yang kerap menjadi langganannya berasal dari berbagai perusahaan besar di Indonesia, seperti Telkom, perbankan, serta berbagai perusahaan swasta seperti PT. Pikiran Rakyat.
Sebelum melakukan pelatihan, biasanya BWS mengadakan riset diagnosis di bagian personalia untuk mengetahui kondisi SDM perusahaan yang menjadi kliennya. Hal ini untuk mengindentifikasi materi pelatihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Dengan cara ini dapat berimplikasi terhadap materi pelatihan, mulai aktivitas hingga simulasi permainan.
“Melalui pelatihan outbound training management ini, diharapkan perusahaan mendapatkan keuntungan lebih untuk meningkatkan SDM-nya. Karena pelatihan bisa disesuaikan dengan kondisi perusahaan untuk menempatkan karyawannya, melalui laporan kegiatan, baik untuk individu maupun kelompok,” kata Dadang M. Rizal, Kepala Kantor Usaha BWS Bandung.
Lama pelatihan yang dilakukan bisa bervariasi sesuai dengan kebutuhan perusahaan, sesuai dengan paket yang ditawarkan mulai dua hari, tiga hari hingga lima hari. Dalam satu kali even peserta dikenakan biaya Rp 650.000 - Rp 800.000/orang/hari. Dalam setiap pelatihan yang digelar, minimal harus diikuti oleh 45 orang.
Dalam setiap even, BWS telah mempunyai lahan khusus yang telah dibuat untuk outbound, bekerjasama dengan pihak Perhutani di kawasan Situ Gunung Sukabumi.
Lain lagi dengan pengalaman dari Eddy Djoewandi, Manager Canoe Adventure. Hobinya berpetualang di alam terbuka hingga ke berbagai tempat, memberikan pengalaman yang berharga untuk menggeluti usaha ini. Tergabung dengan Wanadri memberikan banyak ilmu tentang dunia petualang di alam terbuka.
Hobi yang dulunya memerlukan biaya yang cukup tinggi, ternyata tidaklah sia-sia. Sejak tahun 1995 mendirikan usaha dengan beberapa rekan di bawah bendera Canoe Adventure. Ternyata hobi yang digelutinya tersebut dapat menjadi penghasilan yang cukup lumayan, dengan mengadakan berbagai pelatihan Outbound Training Management.
Berbagai paket pelatihan ditawarkan dengan harga dan lama yang beragam tergantung permintaan klien yang disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya untuk paket gathering yang memerlukan waktu sehari saja, tarif Rp 150.000/orang/hari. Paket dua hari satu malam Rp 300.000/orang/, paket tiga hari dua malam Rp 800.000/orang/. Sedangkan untuk paket empat hari tiga malam setiap peserta dikenakan tarif Rp 1,5 juta/orang.
Besarnya biaya yang dikenakan, sudah termasuk transportasi dan akomodasi serta fasilitas yang dibutuhkan untuk pelatihan, peserta hanya membawa pakain yang dibutuhkan saja. Tingginya permintaan untuk pelatihan sangat dirasakan, bahkan dalam masa liburan dalam satu bulan bisa menyelenggarakan pelatihan hampir setiap akhir pekan. Yang menarik, metode outbound ini sudah banyak digunakan lembaga pendidikan sebagai media pengganti opspek, seperti klien tetapnya STMB Bandung dan beberapa lembaga pendidikan lainnya.
Memang di tengah tingginya persaingan bisnis, terkadang karyawan yang berkualitas menjadi aset yang begitu besar bagi perusahaan. Tidak heran apabila metode-metode pelatihan untuk meningktkan SDM kerap menjadi pilihan, begitu halnya dengan pelatihan outbound yang seolah menjadi kebutuhan bagi setiap perusahaan.
Devan 24-07-2006, 07:09 PM Peluang Bisnis Kamera Digital
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/KAMERA565.jpg
FILM negatif warna harganya sekitar Rp 12.000-an hingga Rp 20.000-an per rol, film negatif hitam putih pun demikian, bahkan ada yang lebih. Apalagi untuk jenis film slide warna, paling tidak kita harus punya Rp 35.000-an untuk satu rol film.Pendeknya, dengan dana Rp 50.000-an, baru kita bisa melihat hasil jepretan selama hunting foto kemarin-kemarin. Rp 50.000 untuk satu rol film bukan biaya yang sedikit untuk saat ini.
Dengan pertimbangan itulah, banyak para pemotret beralih ke era digital, selain lebih cepat dan praktis, hasilnya bisa langsung dinikmati untuk kemudian disimpan dalam file komputer/CD.
Apalagi saat ini harga kamera digital mulai dari kelas menengah hingga yang prosumer harganya sudah semakin terjangkau, semakin membuat penggunaan kamera konvensional (film) tersingkirkan.
Benarkah para pengguna kamera film semakin langka? Sementara gerai-gerai kamera bekas masih ada dan tetap bertahan di tengah gempuran digitalisasi dari hobi jepret-menjepret ini.
Tingginya harga perangkat fotografi yang memang semuanya impor ini sangat dirasakan oleh para fotografer amatir dan profesional. Namun, karena tuntutan profesinya, mereka cenderung beralih ke pasar fotografi bekas, tentu dengan kualitas barang yang tetap terjamin.
Dengan harga yang bisa berselisih sekitar 50% dibanding dengan harga barunya, para amatir maupun profesional rajin kasak-kusuk mencari bodi kamera, lensa, maupun segala aksesorisnya, ke toko-toko kamera bekas dengan reputasi terpercaya di Bandung, bahkan sering kali harus berburu hingga ke Jakarta.
Situasi seperti ini tentu mendatangkan peluang bisnis bagi beberapa individu untuk mulai membuka usaha bursa fotografi bekas, baik dengan menyewa ruang toko maupun dengan menyulap halaman rumah mereka menjadi sebuah toko perlengkapan fotografi bekas sederhana yang cukup nyaman.
Di Kota Bandung, nama-nama seperti bursa kamera bekas milik Dadan di Cihapit, Kamal Foto di Braga, Oase Foto di Jalan Cemara, bursa kamera milik Harry di Jalan Morse, Tokyo Foto, dan bursa kamera Morse, kerap menjadi lahan berburu para pemotret, demi mendapatkan barang incarannya.
Begitupun dengan Babe Foto, bursa kamera Mangga Dua, dan bursa-bursa kamera bekas di kawasan Benhil di Jakarta, kerap menjadi tempat berburu kamera bekas bagi pemotret asal Jakarta maupun Bandung, untuk mendapatkan peralatan fotografi berkualitas baik, dengan harga sangat miring.
Pehobi Tetap Gunakan Kamera Film
Canggihnya teknologi kamera digital tak urung membuat banyak praktisi fotografi mulai melengkapi persenjataannya dengan perangkat kamera digital. Menurut Andi (24) dari Tokyo Foto, hal tersebut secara signifikan membuat penjualan kamera film, terutama jenis SLR, mulai tersendat. Untuk mengimbanginya, ia memberanikan diri untuk menyediakan juga kamera digital baru dan bekas.
“Penjualan kamera SLR analog memang turun drastis, dulu kita bisa jual 3 hingga 5 bodi SLR per hari, sekarang, jual 10 SLR per bulan saja sudah bagus, pembelinya dari kalangan mahasiswa dan hobiis fotografi. Lain dengan penjualan kamera digital, yang bekas pakai dengan harga di bawah Rp 2 juta saja bisa laku 2 hingga 3 unit per hari, kebanyakan yang beli memang dari kalangan keluarga, selisihnya dengan yang baru lumayan juga, sekitar 30%-lah,” cetus Andi.
Dadan, pengelola kios kamera bekas di Cihapit yang juga seorang pehobi dan praktisi fotografi komersial, merasakan lambatnya perputaran uang dari penjualan kamera film.
“Buat jual kamera Nikon saja, minta ampun lamanya, padahal SLR merek Nikon tergolong kamera yang paling mudah terjual dengan harga tinggi, bisa disebut “Honda”-nya kamera SLR,” cetus Dadan.
Selain kamera, ia juga menjual aksesoris fotografi seperti filter, lampu kilat, tripod, dan tas kamera sekelas Domke atau Lowepro, harganya di atas Rp 100.000-an.
Namun, ia tidak berkecil hati dengan tersendatnya penjualan kamera SLR analog saat ini. “Sebab, masih banyak pemotret serius yang tetap memakai kamera analog untuk pekerjaan mereka yang tidak dikejar waktu, walaupun mereka juga sudah memakai digital untuk melayani pekerjaan yang perlu waktu cepat, bahkan, dari kalangan pewarta foto beberapa media cetak di Bandung, selalu hunting kamera dan lensanya kemari.”
Menurut beberapa pehobi fotografi termasuk Dadan, para pengguna film slide dan hitam putih tetap setia menenteng bodi kamera konvensionalnya.
“Ada beberapa pekerjaan foto komersial yang memang lebih praktis dan efisien dengan memanfaatkan teknologi digital, namun ada juga pekerjaan sejenis namun tidak terlalu diburu waktu, di sinilah paduan antara teknologi digital dan konvensional bisa saling menunjang.
Ada beberapa efek tertentu yang diinginkan klien dan hanya bisa didapat dengan film hitam putih misalnya, tentu kamera film yang jadi pilihan, ada juga yang ingin pemotretan dan editing dalam satu waktu, tentu digital yang dipilih, pada dasarnya kita tetap menggunakan keduanya,” ujar Deni, seorang fotografer profesional.
Menurut mereka, ada beberapa foto fine art yang tetap dianggap lebih asyik dan menantang dengan menggunakan kamera film. Kejutan di saat proses pengembangan negatif dan pencetakan adalah salah satu daya tarik tersendiri. Inilah salah satu faktor yang membuat kamera film tetap bertahan
Devan 03-08-2006, 09:09 PM SPOTBORDIR: Computerized Bordir, Tanpa Benang - Tanpa Jarum
Saat ini sudah dikembangkan sistem bordir computerized yang memudahkan
proses design & produksi secara otomatis, dengan hasil yang sangat
memuaskan. Sayangnya, investasi mesin tersebut sangatlah mahal dan
perawatan yang tidak mudah.
Beberapa kekurangan lainnya diantaranya:
1. Investasi sangat mahal, diatas Rp.300 juta
2. Proses lambat, karena memerlukan Set-Up yg cukup lama.
3. Tidak ekonomis untuk produksi satuan.
4. Manipulasi digital dari desain hingga siap produksi memerlukan
keahlian khusus.
SpotBordir merupakan perpaduan teknologi & bahan khusus yang dapat
menghasilkan seni bordir, tanpa benang & jarum. Fleksibilitas bahan
yang dapat digunakan sangat beragam, mulai dari bahan katun hingga
bahan kulit untuk dompet atau tas.
Kualitas SpotBordir sangat indah & eksklusif, selain warna standard,
bisa juga dihasilkan warna metallic, reflecting bahkan glow in the
dark (menyala dalam gelap), dengan ketahanan yang tinggi.
Selain keunggulan disisi kualitas, SpotBordir juga sangat murah,
sehingga bisa dinikmati oleh seluruh segmen market. Semua orang
memerlukan identitas yang unik, ekspresif & eksklusif, baik untuk
kebutuhan personal, organisasi maupun instansi. Dengan SpotBordir,
tentunya hal tersebut akan menjadi unik & eksklusif namun dengan harga
ekonomis.
Proses pembuatan sangat cepat.
Untuk penjualan retail, anda juga dapat membuat template design yang
sedang trendy dan siap pakai, sehingga cepat dalam pengerjaan.
PELUANG USAHA
Usaha SpotBordir merupakan usaha yang sangat Prospektif, Baru, Unik,
Tidak Pasaran, Target Market yang Universal sehingga sangat
menguntungkan, dengan potensi ROI (return of investment) yang sangat
singkat.
KEUNTUNGAN USAHA SPOTBORDIR
» Investesai yang sangat terjangkau
» BEP singkat
» Margin Profit yang tinggi
» Memperoleh Start-Up business Training & Guide
» Mendapat dukungan teknis yang memadai
» Setup Bisnis yang cepat
» Memperoleh suplai bahan baku bermutu
» Free Royalty
PAKET USAHA RTR (Ready to Run)
1. Display Eksklusif
2. Hardware, Software & Template design lengkap
3. Startup bahan baku (Bahan, kaos, Topi, dll)
4. Training Intensive (di workshop Bandung)
5. Franchise Fee
6. Brosur promosi
Investasi: Rp 65.000.000,-
Royalty: Se-ikhlas-nya
SYARAT USAHA
a. Lokasi usaha di Mall atau Pusat Perbelanjaan
b. Konsep Island, dengan space minimal 3x3 m
c. Karyawan minimal 2 orang (1 designer, 1 support)
d. Daya listrik minimal 4000 watt
SPECIAL PROMO
Dapatkan Harga Khusus untuk anggota EU, Hanya Rp 50 Juta
(Untuk 10 franchisee pertama)
Get the business, Be the First, Be The Pioneer, Be the Millionair
----------------------
Status: Pre Launch
official website: www.spotbordir.com
temporary web: www.panelneon.com/spotbordir
www
spotbordir will be officialy online on monday, may 22, 2006
(InsyaAllah) Numpeng Dulu
further info:
Hotline: 022-70-1234-40
Telp: 022-6629863/70 2323 28
Fax: 022-6644939/70-1234-41
eMail : info@spotbordir.com or sales@magickink.com
JPG Technology Inc.
Phone Office : 022 7019 1200/9110 6181
Fax : 022 664 4939
Website : http://warungbarokah.com
Devan 17-08-2006, 12:46 PM Peluang Usaha Tas Dari Bahan Kain Bekas Diekspor ke Brazil & Spanyol
Sisa-sisa potongan kain bekas dari limbah pabrik tekstil yang
biasanya banyak dibuang ke tempat sampah, namun bagi Titik Widarti
justru kain bekas bisa dimanfaatkan untuk bahan pembuatan kerajinan
tangan tas maupun souvenir rumah tangga.
Berawal dari hobinya menjahit bordil seprei dan sarung tangan,
pengusaha yang akrab disapa Titik ini, melakukan kreasi dari sisa
potongan kain bekas limbah itu untuk dibuat taplak meja, gordyn,
sarung bantal, seprei, dan berbagai jenis souvenir. Dan hasilnya pun
lumayan. Dari kerajinan yang dibordil itu ternyata banyak diminati
kalangan ibu-ibu peserta PKK dan arisan di tempat dekat rumahnya.
Berkat kejeliannya melihat peluang pasar itu, Titik mulai melebarkan
sayap usahanya dengan mencoba kecil-kecilan membuat tas belanja, tas
santai, dan tas untuk bepergian. Kerajinan tangan tas itu lalu ia
coba pasarkan ke berbagai daerah Bali, Kalimantan dan Jakarta. Dari
ketiga daerah yang ia jelajahi, rupanya hanya Bali yang banyak
pemesannya. "Sejak itu pula kerajinan tas saya mulai banyak diminati
para turis asing. Bahkan salah satu turis dari Brazil dan Spanyol
terus minta order hingga kini," katanya.
Sudah hampir lima tahun, kerajinan tangan tas berhasil menembus pasar
ekspor negara Samba dan Spanyol. Nilai ekspornya tak begitu besar.
Namun diakui Titik, meski nilainya hanya Rp 27 juta setiap bulannya,
tapi berjalan rutin hingga kini. "Nilai ekspornya kecil, tapi saya
merasa puas karena saya bisa banyak belajar menciptakan berbagai
model tas sesuai pesanan eksportir itu," ungkapnya.
Dia mengakui kalau ketrampilan dalam membuat berbagai kerajinan
tangan tas itu diperolehnya dari pengalaman ekspor. Karena setiap
model yang dibuatnya mengikuti pesanan yang datang dari
eksportir. "Saya merasa dipandaikan oleh konsumen. Saya yang tadinya
ngga bisa bikin tas beragam model, sekarang saya bisa. Jadi, saya
bisa punya ketrampilan seperti ini karena konsumen," selorohnya.
Usaha kerajinan yang dirintis sejak 1995 dengan bendera Tiara
Handycraft itu awaknya hanya bermodalkan Rp 500 ribu, plus dua unit
mesin jahit. Untuk memulai usahanya ia merekrut enam orang pekerja
dari penyandang cacat tuna rungu dan anak-anak yang putus sekolah.
Dengan modal kecil ia tak perlu kontrak untuk tempat usahanya, tapi
memanfaatkan rumahnya sendiri di daerah Sidosermo Surabaya. "Mula-
mula enam orang yang mau kerja itu merasa kaget, dikira saya cuma
main-main. Karena mereka melihat bahan kain yang saya pakai limbah
pabrik tekstil. Tetapi setelah saya jelaskan kalau bahan kain bekas
limbah ini punya nilai ekonomis, eh.. mereka malah kaget," ujarnya.
Setelah hampir 10 tahun, Tiara Handycraft dengan menerapkan konsep
manajemen bakulan ternyata terus menapak meraih berbagai penghargaan
tingkat nasional maupun internasional. Pada 2005 lalu Titik pernah
memperoleh penghargaan dari PBB karena dinilai berhasil melakukan
pembinaan terhadap pekerja penyandang cacat. Memang dari sejumlah 70
pekerjanya sekitar 80 persen terdiri dari penyandang cacat tuna
rungu, tuna wicara dan tuna daksa. Sedangkan 20 persennya lagi
berasal dari anak-anak yang putus sekolah.
Selain itu penerapan manajemen bakulan pada bidang usahanya yang
dinilai sukses mengatasi berbagai kesulitan, juga menorehkan
penghargaan Komite Nasional Pencanangan Tahun Mikro-Kredit
International pada 1995. "Entah, saya nggak tahu apa kriterianya.
Cuma dari awal saya memperoleh pinjaman dana jumlahnya tak pernah
besar. Tapi selalu Tunas. Pertama kali saya dapat kredit dari Pemkot
Surabaya cuma Rp5 juta, kedua dari FTP Rp4 juta, ketiga dari PLN Rp4
juta. Dan sekarang PLN memberi pinjaman Rp30 juta. Ini pinjaman tanpa
agunan," cetus Titik.
Sebenarnya ia ingin mengembangkan usahanya dari pinjaman bank atau
lembaga keuangan lain, namun karena tak memiliki agunan maka usaha
kecil seperti ini tidak pernah mendapat fasilitas kredit.
"Jangankan dari swasta, pemerintah pun yang sudah tahu prestasi usaha
saya, tak sedikit pun ada perhatian terhadap nasib usaha kecil
seperti saya. Padahal aset dalam usaha saya sudah mencapai Rp150
juta, tapi kenyataannya saya sulit mendapat pinjaman," keluh Titik.
Kain bekas itu diperolehnya- secara barter dari pabrik tekstil. Titik
mengambil limbah potongan kain bekas untuk dipakai bahan tas, lalu
produk jadinya (tas) dibeli dengan harga pokok 40 persen lebih
rendah. "Kalau seumpama harga pokok penjualan tas itu RplOO ribu,
maka saya harus menjualnya dengan harga Rp60 ribu kepada pabrik yang
saya ambil limbahnya. Berarti nilai bahan kain bekas itu seharga Rp40
ribu untuk satu tasnya," paparnya.
Selama ini dalam praktik barter yang sudah berlangsung antara Titik
dengan pabrik tekstil dilakukan tanpa ada transaksi lagi pembelian
bahan kain bekas tersebut. "Maksudnya, saya tinggal mengambil bahan
kain bekas dari limbah pabrik itu, lalu setelah saya bikin tas,
produk jadinya langsung dibayar seharga 40 persen lebih rendah dari
harga pokok penjualan." Produk kerajinan tangan Tiara Handycraft ini
memang dipasarkan melalui dua cara penjualan. Pertama, hasil
kerajinan tangan jenis tas langsung dibeli oleh pabrik tekstil tempat
mengambil limbah bahan kain bekas, dan kedua, dipasarkan sendiri
melalui penjualan langsung kepada buyers lokal maupun asing.
Harga jenis kerajinan tas untuk kualitas ekspor paling murah Rp85
ribu sampai yang paling mahal Rp250 ribu/unit. Sedangkan untuk produk
souvenir dijual seharga terendah Rp12.500-Rp25.000/ unit Produk
souvenirnya sendiri hanya dipasarkan untuk buyers lokal. "Memang
untuk produk souvenir ini belum bisa menembus ekspor. Karena
kebanyakan produknya berupa?pernikpernik seperti asesoris gantungan
tas dan lain-lain," ucapnya.
Devan 20-08-2006, 06:22 PM Peluang Sewa Setrum Anti Byar-Pet
Maraknya bisnis penyewaan genset
Gara-gara listrik PLN suka byar-pet, bisnis penyewaan genset jadi marak. Pemain besar dan perusahaan asing agresif membidik pasar sewa di atas 1 megawatt. Tapi, penyewaan kelas retail juga tidak kalah ramai.
Anda tentu merasa masygul kalau mendengar pemberitahuan PLN tentang pemadaman listrik. Walaupun begitu, diam-diam Anda tetap membeli lilin untuk persediaan di rumah, siapa tahu PLN melakukan pemutusan tanpa berita. Nah, bagaimana kalau byar-pet itu menimpa sebuah pabrik atau kantor? Jelas si pemilik perusahaan tidak bisa mengganti listrik dengan lilin! Satu-satunya alat yang bisa menolong mereka adalah genset atawa generator set. Namun, harga per unit genset lumayan mahal. Lihat saja, untuk kapasitas 100 kilovolt ampere (KVA) harganya bisa mencapai Rp 140 jutaan. Kapasitas segitu sebenarnya terbilang masih ecek-ecek.
Untuk menyiasati mahalnya harga genset, banyak perusahaan yang pilih untuk menyewa. "Sekarang kecenderungan untuk menyewa genset makin besar," kata Syarifudin, Partner Rental PT Aneka Genset. Maklum, tidak ada jaminan dari PLN bahwa aliran listrik tidak akan mati, terutama setelah kenaikan harga BBM tahun lalu. "Waktu ada pengumuman pemadaman listrik, banyak permintaan kepada kita, tapi tidak semua bisa terpenuhi," kata Syarifudin yang hanya mempunyai sekitar 50 mesin genset.
Harga sewa genset tergantung jenisnya. Syarifudin menyebutkan, untuk genset berkapasitas 20 KVA harga sewanya Rp 8 juta per bulan; sedangkan genset 1.000 KVA (setara dengan daya listrik 1 megawatt) hampir mencapai 80 juta per bulan. "Harga itu belum termasuk bahan bakar," tambah Syarifudin.
Permintaan sewa genset untuk kelas ritel umumnya datang dari rumah produksi entertainment, untuk syuting, dan konser band. Genset yang mereka gunakan biasanya berkapasitas 20 KVA hingga 100 KVA. Industri tekstil, perusahaan perkebunan, dan pengelola gedung lazimnya menyewa genset dengan kapasitas 250 KVA sampai 500 KVA.
Di atas kelas ritel, permintaan sewa genset datang dari perusahaan tambang, minyak, telekomunikasi, dan pembangkit listrik. Mereka ini membutuhkan genset yang kapasitasnya jauh lebih besar, yakni antara 1 megawatt sampai 15 megawatt. Tentu saja harga sewanya jauh lebih besar ketimbang genset kelas ritel, dengan sistem sewa tahunan. Ongkos sewanya? "Tidak sampai satu miliar," kata Andra Darmidjas, Area Sales Manager Aggreko International Project (AIP) Asia, tak bersedia menyebut angkanya.
Pemain asing tak berani masuk ritel
Sebenarnya, kata Syarifudin, maraknya penyewaan genset sudah dimulai sejak lima tahun terakhir; dan ketika harga solar naik Oktober 2006 penyewaan genset menjadi lebih marak lagi. Maklum, komponen solar bagi mesin genset mencapai empat per enamnya sehingga biaya operasional genset akan lebih mahal. Umumnya pengusaha enggan mengambil risiko investasi dengan membeli genset, karena biayanya besar. "Lebih praktis dengan menyewa, karena penyewa menyediakan semuanya," tambah Syarifuddin, yang menyewakan genset sejak tahun 1991.
Syarifudin melihat peningkatan bisnis penyewaan genset saat ini mencapai 20%. Hal tersebut diamini oleh Andra. Melihat maraknya penyewaan genset, Aggreko yang terbilang pemain dunia untuk penyewaan genset itu menargetkan pengembangan pasar Indonesia sampai 45% lebih besar daripada negara Asia lain. "Khusus Indonesia, kita melihat pasarnya sedang sangat menarik," kata Andra.
Aggreko memilih untuk membidik pasar genset di atas 1 megawatt. Pasarnya jelas perusahaan pertambangan dan perusahaan publik besar, seperti PLN sendiri. Penyewa genset kelas berat ini tidaklah banyak. Yang cukup dikenal publik adalah Aggreko, GE Rental, dan Sewatama yang merupakan anak perusahaan Trakindo. Maklum, hanya segelintir pemain lokal yang bisa main di kelas berat tersebut. Di antara yang segelintir itu ada Kerta Bumi yang memperoleh kontrak sewa dari Petro China.
Perusahaan persewaan genset berkapasitas di atas 1 megawatt sudah menyediakan genset berbahan bakar gas. Selain biaya operasionalnya murah, genset gas rendah polusi. Misalnya, dari 1.300 genset Aggreko sekitar 15%-nya berbahan bakar gas. "Tingkat penyewaan genset gas kami mencapai seratus persen, bahkan sampai antre," ujar Andra.
Sementara itu para pemain lokal seperti Syarifudin dan Dudy Supriadi, pemilik Kerta Bumi, masih berkutat pada sulitnya pengadaan mesin genset berbahan gas. Ini akibat regulasi yang dinilai terbalik. Pasalnya, mesin genset berbahan bakar gas masih terkena bea masuk, sementara mesin genset berbahan bakar solar bebas bea masuk. "Ini kan terbalik. Kalau memang kita ingin beralih ke energi alternatif, seharusnya yang tidak kena bea masuk adalah genset berbahan bakar gas," tukas Dudy.
Demi memikat penyewa, para pemain lokal banyak memberikan iming-iming harga murah plus pelayanan yang lebih oke. Di medan bisnis genset di bawah 1.000 megawatt, para pemain lokal menjadi jawaranya, karena pemain besar tidak berani masuk akibat persaingan harga. "Di pasar ritel ini pemain besar tidak bisa masuk karena harganya sudah tidak rasional. Di situ banyak mesin China," ucap Andra, yang perusahaannya tergolong pemain besar.
Devan 20-08-2006, 06:25 PM Peluang Bisnis Menjaring Laba dari Pencari Pekerja ala BINUS CENTRE
Pusat pelatihan Binus Center menawarkan kesempatan kerja sama waralaba. Modal dan biaya operasionalnya sangat besar. Jika roda bisnis berjalan sesuai dengan rencana di atas kertas, tak sampai tiga tahun franchisee sudah bisa balik modal.
Sebagai universitas, nama Bina Nusantara atawa Binus cukup tersohor di Indonesia. Tapi, tak banyak yang tahu jika gurita bisnis Binus juga sudah merambah ranah pendidikan nonformal. Ya, mulai tahun 1991, dengan bendera Binus Center, Binus telah menyelenggarakan berbagai pelatihan persiapan kerja.
Awalnya, Binus Center mengembangkan jaringan dengan membuka cabang sendiri. Ada empat cabang yang telah dibuka: di Jalan Syahdan (Binus Center Pusat), Grogol, Kedoya, dan di Kampus Anggrek (Kebon Jeruk). Tapi, demi mempercepat pertumbuhan, mulai tahun 2002, Binus Center mengubah pola pengembang bisnisnya menjadi waralaba (franchise).
Hingga kini, waralaba Binus Center sudah tersebar hingga Padang, Medan, Batam, serta Bali. Total jenderal, sudah terdapat 10 gerai waralaba Binus Center di seluruh Indonesia. "Target tahun ini, kami membuka enam outlet baru. Dua baru saja beroperasi dan empat lainnya dalam persiapan," terang Dhyana P. Lim, Direktur Binus Center.
Jika berminat, Anda bisa bergabung menjadi terwaralaba Binus Center. Cuma, usaha ini jelas bukan usaha kecil-kecilan. Artinya, modal awal yang harus Anda miliki juga lumayan besar; yaitu bisa mencapai sekitar Rp 1,7 miliar. Duit segitu dibutuhkan untuk pengadaan tempat (sewa), renovasi, membeli komputer dan infrastruktur, dan membeli perlengkapan-perlengkapan lain. Selain itu, dana itu juga dipergunakan untuk membayar franchise fee Rp 200 juta untuk periode lima tahun.
Butuh bangunan yang luas
Jangan lupa untuk menyisihkan Rp 100 juta pada tiga bulan menjelang beroperasinya gerai Anda. "Itu untuk training instruktur, pemasangan, dan kebutuhan belanja keseharian lain," terang Dhyana.
Oh, ya, khusus soal tempat, Anda kudu mempersiapkan bangunan yang berukuran minimal 300 m2; di atas tanah seluas 400 m2. Di dalam gedung tersebut, setidaknya harus tersedia empat ruang kelas. Satu ruang berisi 12 kursi, sementara tiga ruang lainnya berisi 14 kursi. Di masing-masing meja tersebut wajib tersedia satu set komputer.
Jika gedung siap dioperasikan, bersiaplah untuk membukanya tempat kursus Anda dari pukul 8.00 hingga 21.00. Jam buka tersebut dibagi menjadi empat shift-pagi, siang, sore, malam-yang rata-rata terdiri dari tiga jam.
Sesuai dengan bidang keahliannya selama ini, Binus Center melayani berbagai pelatihan seputar teknologi informasi. Namun, pada tahun ini ada tambahan "menu" pelatihan berupa pelatihan bahasa. "Ada bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, Jerman, dan bahasa Prancis," tutur Dhyana. Enaknya, semua modul pelatihan itu sudah disediakan Binus Center Pusat. Jadi, terwaralaba tinggal memilih modul pelatihan mana saja yang akan ia ambil.
Selain program yang sudah baku itu, terwaralaba juga bebas menciptakan program-program pelatihan lain; asalkan masih sesuai dengan panduan kantor pusat. "Kami membuka pelatihan komputer bagi siswa SD hingga SMU," tutur Ruri, staf bagian pemasaran Binus Center Bintaro mencontohkan.
Yang menarik, Binus Center ternyata tak hanya mampu menggaet para lulusan universitas yang sedang mencari pekerjaan. Asalkan jeli, Anda bisa menggaet perusahaan menjadi pelanggan lembaga ini. Jadi, Binus Center merancang dan melaksanakan pelatihan bagi para karyawan perusahaan tersebut. Langkah semacam ini sudah dilakukan banyak cabang Binus Center.
Institusi yang berhasil digaet cukup banyak, mulai dari instansi pemerintah atau BUMN sampai perusahaan swasta. Beberapa perusahaan yang pernah mencicipi program pelatihan Binus Center adalah Telkom, Pertamina, Jamsostek, Bank Indonesia, Bentoel, IBM, Grup Orang Tua, Sucofindo, Sumarecon Agung, Gramedia Media Asri, dan masih banyak lagi. "Saat ini kami sedang menjajaki kerja sama dengan Nokia Training Center," kata Dhyana.
Agar bisa menyediakan pelatihan yang berkualitas, tentu saja, setiap Binus Center harus memiliki instruktur yang ahli. Semakin banyak program yang disediakan, semakin banyak pula instruktur yang dibutuhkan. Ambil contoh Binus Center Bintaro yang memiliki 50 orang pengajar. Sementara itu, Binus Center Pusat memiliki 60 orang instruktur. "Instruktur di pusat juga mengajar di tiga cabang lain," imbuh Dhyana.
Biaya operasionalnya ratusan juta
Upah instruktur ini dihitung per giliran (shift) atau per tiga jam. "Instruktur pemula tarifnya Rp 150.000 per shift, lama-lama bisa menjadi Rp 500.000 per shift," tutur Dhyana.
Sampai di sini, Anda bisa membayangkan bahwa selain membutuhkan modal yang lumayan besar, bisnis ini juga butuh biaya operasional yang tak kecil pula. Pertanyaannya: bagaimana potensi keuntungannya?
Jawabannya tentu saja tergantung dari banyaknya peserta pelatihan yang ikut program dan jumlah program pelatihan yang Anda jual. Para peserta pelatihan itu akan membayar biaya kursus yang besarnya dipatok Rp 25.000 per jam. Tapi, ini hanya patokan saja, lo. "Masing-masing Binus Center bisa menentukan tarifnya sendiri asal tidak seenaknya banting harga," tutur Dhyana. Karena itu, tak perlu heran jika ada Binus Center yang memasang tarif Rp 35.000 per jam.
Nah, jumlah pendapatan Anda per bulan adalah total jam kursi terisi (seat hour) dikalikan tarif kursus tadi. Target yang dipasang Binus, kursi yang ada di Binus Center sebaiknya rata-rata terisi sekitar 67,5% atau sekitar 5.100 seat hours per bulan. Dengan asumsi tarif kursus Rp 25.000 per jam tadi, artinya target pendapatan Binus Center Anda adalah sekitar Rp 127,5 juta per bulan.
Pada prakteknya, tentu saja, total pendapatan yang diperoleh Binus Center bisa melampaui angka itu. Contohnya Binus Center Bintaro yang bisa mengantongi omzet di atas Rp 500 juta per bulan. Angka itu bisa tercapai lantaran cabang ini memiliki tujuh kelas dan berhasil menjual sekitar 3.000 seat hours lebih per minggu. Sudah begitu tarif kursus yang dipasangnya juga Rp 35.000 per jam.
Tapi, tak semua pendapatan itu menjadi hak terwaralaba. Pasalnya, masih ada royalty fee yang harus Anda bayarkan. Tarif royalti ini agak unik. Besarnya 20%, tapi tidak dihitung berdasarkan total pendapatan, melainkan dari harga pokok seluruh pendapatan pelatihan itu. "Semacam biaya produksi kalau di industri barang. Harga pokok tersebut bisa 40% dari harga jual, bisa juga lebih, tergantung dari bobot modul," ungkap Dhyana. Royalti ini disetor setiap tiga bulan.
Selain itu, Anda juga harus menanggung biaya operasional Binus Center dan gaji pengajar yang besarnya bisa mencapai ratusan juga per bulan. Dengan skema seperti itu, "Balik modalnya enggak sampai dua setengah tahun," janji Dhyana. Berminat? "List kami panjang, lo," ungkapnya
Devan 20-08-2006, 06:41 PM Peluang Bisnis Sewa Tas & Asesoris Perempuan Buat Kaum Socialite
Demi Gengsi, Janganlah Risi
Serunya bisnis sewa tas Smart Diva
Ketimbang membeli tas pesta yang mahal, sebenarnya orang bisa berhemat dengan menyewa tas bermerek. Celah bisnis ini lantas disambar Smart Diva.
Sebagai pemerhati selebriti, Anda tentu tidak asing dengan nama-nama Paris Hilton atau Christina Aguillera. Mereka adalah secuil selebriti kenamaan yang kerap disebut sebagai trend setter. Nah, sebagai warga Indonesia, sebenarnya tidak sulit mengikuti dandanan ala Paris Hilton. Baju dan perlengkapannya, seperti sepatu serta tas, tidak harus asli, to? "Beli saja di Blok M. Banyak kok pilihannya," celetuk seorang teman.
Tentu saja, tidak semua penduduk Indonesia mau mengaduk-aduk kawasan Blok M, Mangga Dua, atau Tajur demi mendapatkan sebuah tas mirip kepunyaan Paris Hilton. Maklum, bisa dipastikan kalau tas-tas di sana itu serupa tapi palsu. "Kalau kita datang ke event tertentu dengan tas palsu, kita pasti malu," tukas Jessica Schwarze, seorang manajer pemasaran sebuah perusahaan komputer kelas dunia.
Tambah lagi, menurut pengalaman pribadi Jessica, orang-orang yang mengikuti mode harus selalu belanja tas, karena tuntutan penampilan. "Tapi, habis itu tasnya jarang dipakai lagi," ucapnya. Acara belanja tas bermerek ini, tentu saja, membuang uang sampai puluhan juta rupiah. Pasalnya, konsumen kalangan atas lebih suka berburu tas di gerai-gerai mal kelas satu.
Itu sebabnya, Jessica dan temannya, Amanda Sari, membayangkan ada perusahaan penyewaan tas bermerek di Indonesia. "Saat search di internet, saya menemukan Bagsborroworsteal di Amerika," kata Jessica. Perusahaan tersebut menyewakan tas bermerek ke seluruh Amerika.
Tanpa menunggu lama, Jessica dan Amanda pun segera membikin bisnis penyewaan serupa. "Itu ide yang bagus dan mereka sudah punya ratusan tas," kata Jessica. Ia meramalkan bahwa bisnis penyewaan tas bermerek sangat cocok di Jakarta, karena masyarakatnya brand-minded. Selain itu, mulai banyak acara di Indonesia yang ada karpet merahnya. Karpet ini bukan sembarang gelaran menuju pintu masuk saja, karena lazimnya di kanan kiri karpet dipenuhi oleh fotografer berbagai media. Alhasil, bagi sebagian orang, karpet merah menjadi catwalk. "Pasti semua orang ingin tampil oke di red carpet," ujar Jessica.
Dua bulan lalu, Jessica dan Amanda membuka penyewaan tas dengan nama Smart Diva dengan modal Rp 100 juta. Selain untuk berbelanja tas, duit itu juga untuk membeli sepeda motor bekas untuk urusan antar-jemput tas kepada pelanggan. "Harga sepeda motornya lebih murah daripada tas," cetus Jessica sambil tertawa.
Dengan modal itu, mereka bisa memiliki 27 koleksi tas malam bermerek yang dibeli di gerai resmi di dalam dan luar negeri. "Kami enggak beli di butik," tutur Jessica yang menjamin 100% keaslian tas Smart Diva. Harga tas itu beragam, dari Rp 1,5 juta sampai Rp 30 juta. Maka, mereka pun menentukan harga yang bermacam-macam pula untuk para penyewa tas. Harga sewanya berkisar antara Rp 150.000 sampai Rp 2 juta per tas untuk dua hari. "Paling laku yang mid-range, yang harga tasnya Rp 3 juta sampai Rp 10 juta. Yang harga sewa maksimum Rp 1 juta," jelas Jessica.
Menjamin kerahasiaan klien penyewa
Bisnis Smart Diva ini tergolong baru. Maklum, masyarakat Indonesia tidak memiliki budaya sewa pakaian dan perlengkapannya, kecuali untuk keperluan perkawinan atau pentas. Jessica menyadari hal itu, dan giat melakukan promosi melalui e-mail. "Bahkan, superstar Amerika di red carpet, dari ujung kepala sampai ujung kaki, sewa semua. Itu tidak apa-apa," ucapnya. Hasil promosi itu lumayan juga, dalam dua bulan mereka bisa menghimpun sekitar 100 anggota.
Selain masalah budaya, Jessica juga mengaku terbentur masalah internet. Untuk menghemat investasi, Smart Diva dipasarkan melalui dunia maya. Masalahnya, baru segelintir orang di Jakarta yang melek internet. Itu pun bukan semua target pasar Smart Diva. "Banyak sekali ibu yang kaya-kaya dan sering ke pesta itu enggak tahu dan enggak sempat buka internet," ujar Jessica serius. Mereka ini lebih suka menelepon dan melihat tas sebelum menyewa.
Alhasil, Jessica harus mengakomodasi pasar. Dalam waktu dekat, mereka akan membuka gerai di Kemang. Jumlah tasnya pun sudah bertambah menjadi 100 unit. "Itu termasuk daybag-nya," kata Jessica. Maklumlah, menurut pengalaman Bagsborroworsteal di Amerika, daybag alias tas kerja termasuk hot item yang banyak penggemarnya.
Dari penyewaan tas kerja inilah, napas Bagsborroworsteal bisa terus berembus. Pasalnya, seperti pengalaman Jessica, penyewaan evening bag hanya ramai saban akhir minggu. Tentu saja, perhitungan sewa daybag ini tidak harian melainkan mingguan. Harganya juga disesuaikan. "Kami kasih harga khusus," jelasnya.
Kendati ingin terus meluaskan pasar, Jessica tetap selektif memilih member Smart Diva. Sebelum diterima sebagai anggota, mereka akan melakukan survei kecil-kecilan, seperti mengecek orang, alamat, KTP, dan si anggota haruslah tinggal di Jabotabek. Menurut Jessica, sebagai imbalan untuk menjaga gengsi, Smart Diva menutup rapat identitas si anggota. "Antar-member enggak saling tahu," bisiknya.
Dengan kondisi pasar yang seperti sekarang, Jessica optimistis bisa kembali modal dalam setahun. Tentu saja, yang ada dalam hitungan itu adalah modal awal, belum termasuk belanja tas untuk gerai.
Devan 31-08-2006, 11:29 AM Peluang Usaha : Tambah Untung dari Kurir VIP, Peluang usaha agen RPX layanan premium
Dengan modal Rp 17 juta, Anda sudah bisa menjadi mitra agen RPX. Jika bisnis berjalan lancar, modal segitu bisa kembali dalam satu tahun.
Siapa pun yang mempunyai barang atau dokumen berharga sudah pasti akan menjaganya dengan hati-hati. Apalagi jika Anda ingin mengirim barang atau dokumen itu kepada pihak lain yang memiliki hubungan penting dengan Anda. Kalau bisa, tentu Anda ingin mengirimkan barang itu sendiri. Dengan begitu, selain bisa menjaga sendiri keutuhan barang tersebut, Anda juga bisa memastikan bahwa barang tersebut sampai ke alamat yang ingin dituju.
Mengirimkan barang sendiri seperti itu bisa Anda lakoni jika jarak tempuhnya tidak jauh-jauh amat. Tapi, jika lokasi yang ingin dituju berada di luar kota, luar pulau, atau luar negeri; tentu Anda akan kerepotan. Kebutuhan pengiriman yang spesial seperti inilah yang kemudian menjadi kue bisnis yang sangat menarik bagi perusahaan jasa titipan kilat. RPX menjadi salah satu perusahaan kurir dan kargo (logistik) yang serius menggarap pasar ini.
Baru-baru ini, RPX meluncurkan tiga layanan terbaru yang dikhususkan bagi para pelanggan yang membutuhkan jasa pengiriman barang spesial. Servis yang pertama bernama golden package. Sesuai dengan namanya, jasa kurir yang satu ini benar-benar eksklusif. Bagaimana tidak? Setiap pengiriman satu barang akan ditangani oleh satu kurir khusus; sejak mulai pengambilan barang sampai pengirimannya. Kurir itu juga akan ikut naik pesawat dan langsung menyerahkan barang kiriman ke alamat yang dituju dalam hitungan jam. Kelebihan lain, keberadaan kurir bisa dilacak. "Jadi, produk ini sifatnya langsung, tanpa melalui customer service untuk melayani," ujar M. Kadrial, Direktur Pengelola RPX Group.
Layanan berikutnya adalah premium package yang menawarkan solusi pengiriman barang bagi pelanggan yang menginginkan kirimannya tiba di tujuan pada hari yang sama. "Tapi, kurirnya tidak ikut naik pesawat," kata Kadrial. Terakhir adalah mid-day package. Ini merupakan servis pengiriman barang yang akan tiba di tempat tujuan di wilayah Indonesia pada hari berikutnya; sebelum jam 12.00 siang.
Cocok untuk bisnis sampingan
Tapi, RPX tak ingin menjajakan sendiri servis-servis VIP-nya itu. Selain melalui cabang-cabang RPX, produk-produk baru itu juga akan ditawarkan melalui mitra agen resmi RPX yang disebut RPX-Authorized Ship Center (ASC). Karena itulah, skema kerja sama ASC mengalami sedikit perubahan. Selain menjadi mitra ASC yang standar , para mitra agen RPX yang sudah beroperasi juga bisa menjadi mitra ASC yang menawarkan produk-produk baru tadi.
Jika memilih pola terakhir ini, artinya mitra ASC bakal menawarkan lima produk; tiga produk baru dan dua produk yang sudah ada sebelumnya, yakni pengiriman paket domestik (priority package) dan internasional (international priority). Cuma, dari total ASC yang berjumlah 100 buah, belum tentu semuanya bisa menjajakan tiga jasa pengiriman terakhir tadi. "Kita akan melihat dan menyeleksi berdasarkan potensi pasarnya," ujar Kadrial. Dus, RPX akan melakukan penjajakan terlebih dahulu, apakah ketiga produk baru itu akan terjual oleh masing-masing ASC atau tidak.
Devan 06-09-2006, 07:54 PM Peluang: Menakar prospek bisnis toko buku diskon
Labanya Tak ikut ter-diskon lho !
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/usaha-labanya.gif
Kebutuhan masyarakat akan buku memang seolah tak ada habisnya. Karena itulah, usaha yang satu ini tetap menjanjikan. Apalagi kalau buku-buku itu dijual dengan harga murah, pembeli bakal antre. Mari, simak seluk-beluknya.
Sore itu, Mimin, anak kelas dua SMA, kecewa karena barang yang hendak dibelinya tak kunjung ada. Sudah sekian lama dia menyelami setiap kios buku di kawasan Terban, Yogyakarta. Sebenarnya, yang diubernya hanyalah sebuah buku pelajaran biologi. Maklum, kala itu semester baru. "Stok sudah habis sejak kemarin. Saya harus segera kontak penerbitnya," tutur Sutarti, pemilik kios buku Erty, yang terletak di kawasan Terban.
Larisnya buku yang diburu ini membuat Sutarti wajib belanja tiga kali seminggu. Bujet rata-rata sekali belanja Rp 1 juta. Seusai semester baru bagi anak sekolah, tibalah kalender baru bagi anak kuliah. Di hari-hari biasa, para murid, pengajar, aktivis, ataupun pengajar les privat juga memburu buku bacaan. Rezeki seakan tiada henti mengalir. Saat ini, setidaknya omzet Rp 300.000 bergerincing masuk ke kantongnya. "Kalau memang sedang ramai, omzet Rp 1 juta sehari juga bisa," ungkapnya sambil tersenyum.
Sutarti tak sendiri. Dengan resep harga diskon sebagai kekuatan dagang, ada 30 kios buku diskon yang hidup berderet di sepanjang jalan yang membelah gedung kampus Universitas Islam Indonesia (UII) dan gedung BRI. Lahan itu disediakan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menggiatkan UKM. Tak perlu biaya sewa, hanya cukup bayar karcis harian Rp 400.
Praktis, sejak lima belas tahun lalu, Sutarti hanya bermodal gerai dan stok awal sediaan. Hanya, sebagian besar buku yang disediakan adalah buku akademik atau bacaan yang "agak intelek"-semacam kajian teori sosial maupun politik. Harga buku di kiosnya sekitar puluhan ribu rupiah. "Paling mahal sekitar Rp 150.000," tutur Sutarti sembari menunjuk buku latihan tes TOEFL.
Tak melulu seputar bangku sekolah, sebenarnya ada segmen lebih luas yang bisa digarap. Para remaja atau ibu rumah tangga tentu menyukai novel ringan, komik, atau setidaknya resep masakan. Kesempatan itulah yang ditangkap Fauzan Haryosoedigdo.
Setelah mengakhiri profesi wartawan, sejak Maret 2005 lalu, dia membuka toko buku di Jalan Haji Asnawi, Depok. Fauzan mengisi 9 x 4 meter ruangan ruko sewaannya dengan tujuh rak buku untuk memajang koleksinya. Total investasi Rp 20 juta, selain biaya sewa tahunan Rp 12,5 juta. Hanya, Fauzan mengaku, saat ini omzetnya belum sebesar omzet Sutarti.
Tak hanya kelas kios, bisnis toko buku diskon terbukti bisa berkembang menjadi toko buku besar yang menggurita. Contohnya toko buku Toga Mas. Didirikan 15 Desember 1990 oleh Johan Budhie Sava di Kota Malang, kini Toga Mas sudah berbiak menjadi sembilan gerai. Gerai-gerai itu tersebar di Malang, Yogyakarta, Semarang, Jember, Surabaya (dua toko), Bandung, Denpasar, dan Jakarta.
Tak semua gerai Toga Mas itu milik Johan. Sadar bermodal terbatas, Johan mengajak mitra untuk mendirikan toko di Denpasar, Jakarta, Bandung, serta beberapa tempat lain. Syaratnya: si mitra menyediakan bangunan siap pakai minimal seluas 100 m2. "Bangunan milik sendiri. Kalau sewa nanti hanya mikir cepat balik modal," Johan mewanti-wanti. Walhasil, si investor harus siap-siap merogoh minimal Rp 100 juta untuk sebuah toko seluas 800 m2. Gerai seluas itu membutuhkan 40 orang tenaga kerja. Asal tahu saja, gerai Toga Mas Yogyakarta mencapai 1.500 m2.
Sebagai jaringan toko buku diskon terbesar di Indonesia, kini setiap gerai Toga Mas disambangi ribuan pengunjung-dengan mendulang omzet jutaan rupiah per hari.
Lebih baik beli putus
Tertarik ingin menjajal bisnis sumber ilmu pengetahuan ini? Hal terpenting dalam memulai bisnis ini tentu saja pasokan buku yang harganya memang murah. Dengan begitu, kita bisa menjual buku dengan harga diskon.
Umumnya, toko buku diskon memperoleh pasokan buku dari para agen. Pola kerja sama dengan agen bisa berupa konsinyasi atau titipan. Dalam pola ini, si agen menitipkan buku ke gerai-gerai. Dalam jangka waktu tertentu-biasanya bulanan-si agen secara rutin memasok stok baru sambil menarik kembali sisa stok lama yang tak laku.
Keuntungannya, si pengusaha tak perlu membeli stok terlebih dahulu. Selain itu, stok tak perlu menggunung karena pihak agen rutin mengambil sisa. Namun, "Diskon yang diberikan pihak agen lebih sedikit," tutur Sutarti. Hal ini diamini oleh Johan. Lagi pula, "Bagi pemain baru, agen penerbit masih pikir-pikir menitipkan bukunya," sambung Johan.
Pola lain, beli putus dari agen. Dengan pola ini, pemilik toko dapat memainkan diskon yang lebih besar. Kalau memakai pola konsinyasi, agen hanya memberikan diskon rata-rata 30%. Nah, dengan beli putus, "Kami memberi potongan 35% per buku," tutur Setiawan Budi Wibowo, agen penerbit Raja Grafindo Persada, salah satu penerbit besar di Yogyakarta. Selain diskon yang lebih besar, jika pedagang buku sudah punya hubungan baik dengan pemasok, dia tak harus membayar tunai alias bisa kredit.
Dengan diskon lebih besar dalam sistem beli putus ini, pedagang tentu bisa menjual buku dengan diskon lebih besar. "Saya bisa jualan dengan diskon 30%," terang Sutarti. Adapun Toga Mas mematok diskon 15%-30% dari harga jual.
Namun, dalam sistem beli putus ada risiko. Yakni, jika buku tak laku, stok akan menggunung. Karena itu, umumnya pemilik toko hanya membeli buku-buku yang laris-manis di pasaran. Misalnya, buku pelajaran sekolah, kuliah, kamus, atau buku best seller.
Buku seken boleh juga
Namanya saja toko buku diskon, tentu salah satu daya tariknya terletak pada harganya yang miring. Jika ingin menservis pelanggan dengan harga supermurah, tak ada salahnya menjual buku seken. Seken bukan berarti sudah kuno, kumal, dan lecek, lo. Melainkan, sudah pernah dibaca atau setidaknya dipakai oleh pemiliknya. "Kalau jualan buku seken, saya bisa memberi diskon hingga 50%," ungkap Fauzan.
Cuma, berbeda dengan toko buku baru yang disambangi agen, Anda kudu sedikit repot kulakan ke pasar loak. Sebulan, Anda bisa berbelanja empat kali. "Minimal saya bisa belanja Rp 6 juta sebulan," ujar Fauzan. Buku seken yang tetap banyak peminatnya antara lain komik, novel, kumpulan resep memasak, dan hiburan.
Fauzan tetap optimistis jualan buku seken tetap berprospek. "Jika harga buku saat ini makin melonjak, buku seken bisa jadi pilihan karena murah," ujarnya mantap.
Ada satu hal penting lagi yang harus Anda miliki jika hendak melakoni bisnis ini. "Anda harus cinta buku," ujar Sutarti. Begitu pula pesan dari Johan dan Fauzan. Dengan begitu, Anda bisa membaca tren dan kebutuhan pasar. Yang tak kalah penting, pedagang buku jangan mengejar keuntungan besar melulu. Pertahankan harga murah, yang menjadi kekuatan utama bisnis ini.
Baca tabel dibawah ini !!! (hanya untuk yang browser nya bisa FLASH !!)
TABEL SIMULASI BISNIS TOKO BUKU DISKON (http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/simulasitokobukudiskon.swf)
Devan 06-09-2006, 09:00 PM Peluang usaha pembuatan stiker digital
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/usaha-menggambar.gif
Menggambar Untung, Memotong Laba
Usaha pembuatan stiker dengan cara digital (cutting sticker) semakin menjamur. Modal yang dibutuhkan terbilang cukupan. Syarat utamanya: Anda harus jago mendesain dan menggambar.
Anda memiliki mobil atau sepeda motor? Jika ya, kemungkinan besar Anda pernah mendandani mobil atau motor Anda dengan aneka gambar tempel atawa stiker (sticker).
Maklum, semakin lama model stiker memang semakin unik dan menarik. Bukan cuma corak dan warnanya, desainnya pun semakin lama semakin menawan. Gambar atau tulisan yang rumit-rumit pun sekarang sudah bisa dibikin stiker.
Kemungkinan lain, mobil Anda pernah menjadi "korban" penempelan stiker oleh orang lain. Misalnya, ketika Anda sedang parkir di sebuah kebun binatang, mobil Anda ditempeli stiker yang menampilkan logo kebun binatang tersebut. Atau, begitu keluar dari bengkel, ternyata mobil Anda sudah "dihiasi" stiker yang mempromosikan bengkel tersebut.
Pertanyaannya: dari manakah asal stiker-stiker itu? Apakah para pedagang stiker atau bengkel-bengkel itu membuatnya sendiri? Ternyata tidak. Mereka tak perlu repot-repot membikin stiker sendiri. Mereka bisa memesan dari para pengusaha pembuat stiker; atau sering disebut pengusaha cutting sticker.
Tapi, jangan salah, para pengusaha ini bukan pengusaha kelas pabrikan, lo. Kelasnya juga bukan pengusaha stiker yang biasa mangkal di pinggir jalan itu. Para pengusaha cutting sticker itu biasanya memiliki tempat yang permanen. Selain itu, dalam membuat stiker mereka juga menggunakan teknologi dan peralatan yang modern.
Jika kita telusuri, ternyata hampir di setiap daerah usaha cutting sticker ini sedang marak. Salah satunya di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Lewat bendera Oz Product, Fauzi sudah sepuluh tahun menggeluti usaha pembuatan stiker ini. Usahanya pun makin lama semakin tumbuh. Kini, dengan mempekerjakan lima karyawan, Fauzi sudah bisa meraup omzet sekitar Rp 15 juta setiap bulan.
Lain lagi pengalaman Murwanto. Melihat banyak pengendara sepeda motor yang mendandani tunggangannya dengan pernak-pernik stiker, ia pun jadi berketetapan hati untuk berbisnis cutting sticker. Ia kemudian mengubah haluan bisnis utamanya dari alarm motor ke cutting sticker. Walau baru berumur satu tahun, usaha Jogja Cutting Sticker milik Murwanto sekarang sudah bisa menghasilkan laba hingga Rp 5 juta per bulan.
Satu contoh pengusaha cutting sticker lainnya adalah Mansur, yang membuka gerai di bilangan Larangan, Ciledug. Begitu memperoleh modal dari sang kakak berupa bahan baku stiker, ia tak menyia-nyiakan peluang ini. Mansur kemudian menjajal peruntungan di bisnis cutting sticker ini lewat bendera Mega Warna.
Bisa belanja alat lewat internet
Nah, kalau Anda tertarik mengikuti jejak langkah ketiga pengusaha ini, ada beberapa tahap yang harus Anda lalui. Pertama-tama, tentu saja Anda harus mempersiapkan tempat usaha yang layak. Menurut Fauzi, ada baiknya Anda memilih lokasi yang strategis; terutama yang ramai dilalui kendaraan bermotor. "Tapi, kalau bisa cari lokasi yang belum ada pemain ini," imbuhnya.
Murwanto punya pendapat yang sama soal lokasi usaha. Menurutnya, lokasi yang ramai mempercepat proses pengenalan gerai cutting sticker-nya. Maklum, Murwanto, juga Mansur dan Fauzi, tidak pernah melakukan promosi. "Saya menunggu pelanggan yang datang saja," ujar Mansur. Tapi, ada syaratnya: "Pasang dong, papan reklame cutting stiker yang bisa dilihat orang," tambahnya.
Ruang usaha yang diperlukan untuk usaha pembuatan ini tidaklah besar-besar amat. Lihat saja Murwanto yang hanya menempati ruang usaha satu lantai berukuran 3 m x 4 m di daerah Joglo, Jakarta Barat. "Saya ikut terjun bekerja dan hanya dibantu satu tenaga kerja saja," katanya. Adapun Fauzi menggunakan ruangan yang lebih luas, yakni sekitar 5 m x 10 m. Fauzi membagi gerainya menjadi dua, yaitu ruang pelayanan dan ruang produksi.
Setelah tempat sudah oke, langkah berikutnya adalah membeli peralatan dan bahan baku.
Ini ada kaitannya dengan proses pengerjaan stiker. Asal tahu saja, proses pembuatan stiker -baik berupa gambar maupun tulisan- memerlukan beberapa tahap. Mula-mula Anda harus menuangkan ide atau gagasan pelanggan di dalam layar komputer. Maka, perangkat komputer sangat diperlukan dalam usaha ini. Komputer yang disarankan adalah yang sanggup mengoperasikan program-program desain semacam Freehand, Coreldraw, Adobe, serta program cutting sticker semacam Art Cut dan Casmate. "Saya beli komputer seharga Rp 6 juta tiga tahun lalu," ungkap Mansur.
Selain komputer, Anda wajib memiliki alat yang menjadi nyawa usaha ini, yakni alat pemotong stiker (sticker cutting machine). Fungsi alat ini adalah untuk memotong stiker sesuai dengan apa yang telah dibentuk di komputer. Harga alat ini lumayan mahal, yaitu antara Rp 15 juta hingga Rp 40 juta per buah; tergantung dari jenis dan mereknya.
Uniknya, para pengusaha cutting sticker biasanya memiliki cara sendiri untuk memperoleh alat pemotong stiker tersebut. Misalnya, Murwanto membeli mesin pemotong stiker bermerek Suda (Taiwan) secara online di internet. "Tinggal browsing di internet saja, banyak kok yang jual alat pemotong stiker ini," ujarnya. Selain Suda, Murwanto menggunakan alat bermerek Graphtech yang ia beli dari seorang temannya.
Total modal bisa sampai Rp 80 juta
Selain peralatan, usaha cutting sticker juga membutuhkan bahan baku utama berupa bahan stiker polos. Cukup mudah mendapatkan stiker ini. Anda bisa membelinya di bilangan Mangga Dua atau langsung menghubungi para dealer merek-merek stiker ternama; seperti 3M, Aslan, Oracal, Kiwalite, dan lain-lain. "Saya sarankan pilih yang impor. Walau agak mahal, tapi kualitasnya lebih bagus," kata Murwanto.
Soal warna, ada baiknya Anda memilih stiker berwarna dasar saja. Biasanya, warna-warna ini yang paling banyak dicari orang. Sedangkan varian warna selain warna dasar hanya sebagai pelengkap saja. Yang penting sediakan jenis stiker yang komplet; mulai dari jenis yang bersinar (scotlite), warna lembut, mengkilap (glossy), dan transparan.
Anda juga harus memiliki perlengkapan penunjang kerja lainnya. Misalnya, kamera digital, scanner, mesin pencetak (printer), hingga perkakas cutting sticker semisal gunting, pinset, selotip transparan, dan lain-lain. Semua alat ini diperlukan sebagai penunjang Anda bekerja dan berkreasi.
Jika semua peralatan tersebut lengkap, Anda harus mengeluarkan anggaran kurang lebih Rp 70 juta-Rp 80 juta sebagai modal awal. Tapi, ada satu modal lagi yang tak boleh ketinggalan, yakni penguasaan komputer, teknik gambar, dan teknik desain. Asal tahu saja, ketiga pemain cutting sticker tadi memang punya hobi yang sama, yakni doyan melukis. Sudah begitu, Anda juga harus terus-menerus mengasah keterampilan Anda dan mencari ide-ide desain terbaru. Singkat kata, Anda harus kreatif.
Walau pemain sudah mulai bermunculan, menurut Fauzi, usia bisnis ini bisa bertahan hingga lima tahun ke depan. Memang tidak terlalu lama. Pasalnya, menurut Murwanto, sekarang sudah muncul pesaing serius yang mengancam pasar cutting sticker. Mereka tak lain adalah usaha percetakan digital (digital printing). "Sudah begitu, yang bermain adalah para pemodal yang lumayan besar," ujarnya. Nah, siapkan Anda bersaing dengan mereka?
Baca tabel dibawah ini !!! (hanya untuk yang browser nya bisa FLASH !!)
TABEL SIMULASI BISNIS Sticker Digital (http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/simulasibisnisstickerdigital.jpg)
Devan 09-09-2006, 09:09 PM "TIPS FRANCHISE 1!" (http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/tipsfranchise1.jpg)
"TIPS FRANCHISE 2!" (http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/tipsfranchise2.jpg)
"TIPS FRANCHISE 3!" (http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/tipsfranchise3.jpg)
"TIPS FRANCHISE 4!" (http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/tipsfranchise4.jpg)
"TIPS FRANCHISE 5!" (http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/tipsfranchise5.jpg)
"R.O.I Franchise"" (
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/ROIfranchise.jpg)
"10 Prinsip Franchise!" (http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/10prinsipfranchise.jpg)
"Langkah Kunci Bisnis Franchise !" (http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/langkahkuncifranchise.jpg)
Franchise vs Business Concepts
Kita mengetahui bahwa Franchise adalah suatu konsep bisnis (Business Concept), akan tetapi apakah Business Concept bisa dibilang selalu franchise? jawabanya tidak.
Dimana perbedaannya?
Well.. sebuah Franchise adalah kristaliasi dari sebuah Business Concept yang telah teruji dan terstruktur dengan baik untuk demi menghasilkan result atau hasil yang dalam hal ini berupa return on investment.
Sebuah Franchise dituntut untuk telah memenuhi kriteria kriteria seperti:
- Telah sukses memiliki proven track record, catatan yang membuktikan keberhasilan, yang umumnya ini menunjukkan pada pengalaman usaha yang telah dijalani atau jam terbang yang dimiliki sehingga mempunyai kiat kiat bisnis yang mengatasi masalah masalah yang dihadapi dan dapat pemecahannya dan jalan keluarnya
- Telah memiliki flag stores atau prototype gerai usaha yang dijadikan basis patokan untuk pembuatan gerai berikutnya
- Dengan pengalaman, usaha franchise ini tetap unggul dan diminati pelanggan nya dan telah berjalan minimal 5 tahun keatas
- Memiliki ke unikan, suatu nilai inggul atau nilai lebih yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain dalam industri yang sama, hingga dapat dikatakan memiliki "competitive edge". Ke unikan ini mengarah pada efektivitas, efisiensi dan produktivitas dalam mengelola usaha franchise ini.
Dengan kriteria diatas, maka semua Business Concepts tidaklah dapat dibilang franchise sebelum melewati urutan proses pembentukan yang paten dan dapat di pertanggung jawabkan.
Namun patut di ingat bahwa cikal bakal sebuah franchise adalah satu konsep bisnis awal yang diperlukan sebelum pengejawantahan nya dalam suatu franchise yang dapat di adopt semua orang.
Apa yang Membuat Franchising adalah suatu konsep bisnis yang unggul?
Franchise muncul sebagai hasil dari tantangan dan kendala yang dihadapi para pebisnis dalam menjalankan usahanya.
Sebagai suatu strategi peluasan dan konsep pemasaran, para pebisnis berusaha untuk meningkatkan produk pelayanan mereka kepada para pelanggan dan mencari jalan keluar mengatasi masalah masalah SDM dan pendanaan. Mereka berusaha meningkatkan pangsa pasar dan menjangkau pelanggan yang lebih banyak dalam waktu yang lebih cepat.
Dalam mengembangkan usahanya mereka ingin tetap menjaga mutu produk dan pelayanannya pada para pelanggan yang lebih banyak dan waktu yang lebih cepat. Untuk itu sebelumnya mereka telah menjadikan beberapa outlet usahanya sebagai pilot project untuk nantinya dijadikan prototipe yang telah sukses dan kemudian direplikan di tempat lain. Proses pematangan usaha ini tidak terjadi dalam hitungan bulanan atau 2/3 tahun namun untuk jangka waktu yang lebih lama.
Dengan ketekunan dan kerja keras disertai dengan entrepreneurship mereka menempuh jam jam terbang pengalaman agar bisa mendapatkan kiat kiat bisnis dalam menjalankan usahanya. Dalam menjalankan usahanya ini, mereka juga telah menciptakan atau menemui keunikan keunikan dalam berbisnis sehingga menikmati keunggulan keunggulan yang tidak dimiliki pesaing pesaingnya.
Sebuah awal yang berupa konsep bisnis yang sudah melalui waktu yang cukup lama dan sudah mapan menghadapi gelombang gelombang yang bergejolak serta mengatasi berbagai kendala, mereka telah dengan sukses bertahan dan malah berkembang lebih lanjut, hal ini membuktikan keunggulan mereka serta keberhasilan dalam merebut pangsa pasar yang lebih besar.
Sebagai suatu usaha yang telah mapan, maka berarti telah menguasai berbagai tehnik, sistem atau proses yang memungkinkan mereka memiliki keunggulan keunggulan , penguasaan penguasaan yang tidak dimiliki oleh perusahaan lain.
Business Opportunity (BO)
Akhir-akhir ini banyak usaha bermunculan di shopping centers dan mal mal berupa resto, rumah makan, kios kios dan counter-counter makanan/ minuman mau-pun usaha-usaha jasa berupa outlet ujung tombak maupun usaha-usaha yang berdiri sendiri sebagai usaha baru. Demikian pula kita melihat dalam franchise dan peluang bisnis, terdapat lebih banyak usaha-usaha B.O. ini daripada usaha-usaha franchise. Kita mengetahui bahwa suatu usaha franchise merupakan suatu usaha unggulan, yang telah mempunyai pengalaman yang cukup lama, sehingga menguasai kiat-kiat bisnis dan telah memenuhi kriteria franchise. Memang kriteria-kriteria franchise ini yang membedakan apakah usaha tersebut suatu franchise atau suatu B.O. Sebuah Business Opportunity pada umumnya tidak memiliki konsep unggulan, track record pengalaman maupun prototype gerai yang dijadikan flagship store.
Namun yang lebih membedakan antara sebuah Business Opportunity dengan Franchise adalah bahwa, bagi para pembeli business opportunity :
- Tidak ada biaya royalty fee bulanan/tahunan tertentu yang dipotong oleh penjual BO
- Tidak ada kontinuitas support dari penjual yang dapat di andalkan sewaktu waktu kita membutuhkan
- Tidak ada pengeluaran biaya besar karena tidak ada standard prosedur maupun ketentuan bagaimana si pembeli BO akan menjalankan usahanya, bebas menentukan bagaimana tampilan toko/gerai yang mau dibangun
Devan 10-09-2006, 11:29 AM http://www.idealminds.net/franchise/270waralabadirektori_Page_1.jpg
Devan 10-09-2006, 11:30 AM http://www.idealminds.net/franchise/270waralabadirektori_Page_2.jpg
Devan 10-09-2006, 11:31 AM http://www.idealminds.net/franchise/270waralabadirektori_Page_3.jpg
Devan 10-09-2006, 11:31 AM http://www.idealminds.net/franchise/270waralabadirektori_Page_4.jpg
Devan 10-09-2006, 11:35 AM http://www.idealminds.net/franchise/270waralabadirektori_Page_5.jpg
Devan 10-09-2006, 11:36 AM http://www.idealminds.net/franchise/270waralabadirektori_Page_6.jpg
Devan 10-09-2006, 11:36 AM http://www.idealminds.net/franchise/270waralabadirektori_Page_7.jpg
Devan 10-09-2006, 12:24 PM http://www.idealminds.net/franchise/270waralabadirektori_Page_8.jpg
Devan 10-09-2006, 12:26 PM http://www.idealminds.net/franchise/270waralabadirektori_Page_9.jpg
Devan 10-09-2006, 12:27 PM http://www.idealminds.net/franchise/270waralabadirektori_Page_10.jpg
Devan 12-09-2006, 02:44 PM Peluang Bisnis kedai kopi Gloria Jeans Coffees
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/waralaba-berani.gif
Berani Bersaing di Kedai Kopi?
Gloria Jeans Coffees, kedai kopi asal Amerika, menawarkan peluang waralaba. Dengan modal tak sampai satu miliar rupiah, investor dijanjikan bisa balik modal sekitar tiga tahun. Tapi, hati-hati, persaingan bisnis ini sudah sangat ketat.
Anda yang suka kongko-kongko sambil mengopi pasti mengenal Gloria Jeans Coffees. Pasalnya, mirip dengan Starbuck, Gloria Jeans memiliki jaringan yang cukup banyak di Indonesia. Di dalam kota Jakarta saja ada lima gerai: di Mal Taman Anggrek, Plaza Semanggi, EX Center Plaza Indonesia, Cilandak Town Square, dan kawasan Kemang. Selain itu, Gloria Jeans juga bercokol di Bandung dan Bali.
Jika kita mau menghitung jaringannya yang ada di luar negeri, jumlahnya akan lebih banyak lagi. Menurut M. Taslim, Direktur Utama PT Penta Fili Investama, master franchise Gloria Jeans di Indonesia, jumlah kedai Gloria Jeans Australia mencapai 320 buah, sedangkan penduduk Australia hanya sekitar 20 juta jiwa. "Gloria Jeans di sana ibarat rumah makan padang di Indonesia," ujar Taslim.
Di Amerika Serikat (AS), jumlah gerai Gloria Jeans juga tak kalah banyaknya. Maklum, kedai itu aslinya berasal dari Amerika; bukan Australia. Tiga dasawarsa silam, adalah Ed dan Gloria Jean Kvetko yang pertama kali menemukan racikan kopi yang disajikan di Gloria Jeans. Setelah ngetop di AS, baru kemudian gerai Gloria Jeans menyebar ke Australia dan juga Indonesia.
Nah, Anda pun kini punya kesempatan untuk menjadi terwaralaba (franchisee) Gloria Jeans Coffees. Taslim sendiri mengaku pengin membuka sekitar lima gerai Gloria Jeans lagi hingga akhir tahun. "Target kami adalah kota-kota besar," ucapnya.
Sebelum membuka gerai Gloria Jeans, pertama-tama, tentu saja Anda harus menyiapkan sebuah tempat yang letaknya strategis. "Pilihannya adalah mal," ungkap Taslim.
Cuma, malnya harus kelas menengah dan atas; bukan mal ecek-ecek. Maklum, harga satu cangkir kopi Gloria Jeans berkisar Rp 20.000-Rp 30.000.
Lantaran tempatnya di mal, harga sewa tempat menjadi mahal. "Harga sewa di mal bisa mencapai Rp 300.000-Rp 500.000 per meter persegi," kata Taslim. Karena itu, gerainya tak perlu terlalu luas. Cukup sekitar 80 meter persegi saja.
Bisa menjajal lokasi non-konvensional
Asalkan Anda cermat, di kota besar macam Jakarta ini masih cukup banyak mal kelas menengah atas yang layak menjadi lokasi Gloria Jeans. Lazimnya, tempat yang paling strategis di mal adalah di lantai dasar. Tapi, selalu ada pengecualian, lo. Di Plaza Semanggi, misalnya, menurut Taslim tempat yang paling ramai justru lantai dua. Agar tak salah, "Pilihlah tempat yang paling ramai lalu-lintas pengunjungnya," saran Taslim.
Sebenarnya aturan soal tempat itu tak terlalu kaku. Franchisee bisa saja membuka gerai di luar mal, asalkan tempat itu memang layak. Misalnya, ada satu terwaralaba Gloria Jeans yang membuka gerai di Prima Sport Club yang terletak di kawasan perumahan Taman Kedoya Permai, Kebon Jeruk. "Setelah ditelusuri, pengunjungnya tidak cuma pengunjung Sport Club; tapi juga pengunjung lain yang memanfaatkan aula di sana," katanya.
Kalau sudah punya ancar-ancar tempat, hal terpenting yang harus Anda siapkan tentunya modal. Menurut Taslim, untuk membuka Gloria Jeans di sebuah pusat perbelanjaan, investor mesti menyediakan dana sekitar Rp 650 juta. Dana segitu sudah mencakup pembelian mesin pembuat kopi, franchise fee selama lima tahun, serta training pengenalan produk dan manajemen pengelolaan kedai kopi. Cuma, kebutuhan dana itu belum menghitung biaya renovasi tempat dan furnitur. Untuk melengkapi kebutuhan yang terakhir ini, terwaralaba masih harus menyediakan dana tambahan sekitar Rp 200 juta. Dus, total jenderal investasi awal yang harus disediakan sekitar Rp 850 juta.
Namun, hitungan jumlah modal itu masih bisa dipangkas. Sekali lagi, contohnya adalah gerai yang ada di Sport Club tadi. Menurut Taslim, modal yang dibutuhkan si terwaralaba di sana cuma Rp 500 juta. Ini lantaran si terwaralaba menggabungkan kedai kopi Gloria Jeans dengan restoran miliknya. Jadi, ada beberapa item yang tidak perlu dibeli, seperti mesin pembuat es dan mesin pompa air yang nilainya bisa mencapai Rp 50 juta.
Harus gencar promosi biar laris
Jika urusan modal dan tempat sudah final, langkah selanjutnya adalah training pengenalan produk dan pengelolaan kedai Gloria Jeans selama tiga minggu. Dalam periode ini, para karyawan akan dilatih meracik pelbagai minuman kopi. Variannya cukup banyak, lo; bisa mencapai 40 jenis. Oh, ya, training ini tidak semata diikuti oleh para calon tenaga pegawai saja. Si terwaralaba juga harus ikut. Tujuannya agar ia paham betul tentang seluk-beluk bisnis kedai kopi kelas atas ini.
Mengenai pasar, Taslim bertutur bahwa kedai-kedainya dalam sebulan bisa menghasilkan omzet kurang lebih Rp 100 juta. "Bahkan, untuk yang di Mal Taman Anggrek bisa lebih," ucapnya. Nah, jika posisi omzet ini tetap terjaga, modal yang ditanamkan investor bisa balik tidak lebih dari dua tahun saja.
Cuma, target segitu belum tentu selalu tercapai, lo. Terkadang, untuk bisa balik modal, terwaralaba harus menunggu lebih lama lagi. Ambil contoh Ansye Gunawan, salah seorang terwaralaba yang membuka Gloria Jeans di Plaza Adorama, Kemang. "Target balik modal saya delapan tahun," ucapnya. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan gerai Gloria Jeans milik Ansye. Saban hari kedai kopinya disambangi lebih dari seratus pelanggan. Tapi, jumlah kedai kopi belakangan juga semakin banyak. Dengan kata lain, lantaran sadar dengan persaingan yang sangat sengit ini, Ansye tak mau memasang target yang terlalu optimistis.
Sudah begitu, modal yang ditanamkan Ansye tidak sedikit. Soalnya, ia menyewa ruangan yang luasnya di atas rata-rata. Walhasil, biaya sewanya pun menjadi membengkak. "Lantas promosi yang dilancarkan pihak Penta Fili terasa kurang," ungkapnya sambil menyebut pesaing terberatnya: Starbucks, yang kerap melakukan pelbagai promosi. Promosi inilah yang menyebabkan brand mereka begitu kuat di pasar. Lantaran itulah, kini, Ansye memilih untuk melakukan promosi sendiri di lingkungan sekitar gerainya.
Devan 12-09-2006, 02:45 PM Peluang usaha kelas gerobak dari Indomaret
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/usaha-tinggal.gif
Tinggal Cari Dagangannya
Indomaret menawarkan peluang usaha bagi para pengusaha mikro dan kecil yang ingin berjualan di gerai-gerainya. Indomaret akan menyediakan gerobak dan lokasi usaha dengan sewa terjangkau, sekaligus memberi pelatihan dan pembinaan usaha.
Menjadi orang kecil itu repot melulu. Itulah keluhan yang kerap terlontar dari bibir para pengusaha kecil atau yang biasa dikenal sebagai pengusaha mikro. Mereka tentu berniat membuka usaha untuk mengangkat taraf ekonominya. Namun, langkah mereka sering terhambat oleh modal yang terbatas. Akibatnya, kalaupun bisa membuka usaha, skalanya tetap kerdil lantaran mereka tak punya cukup duit mengembangkan usaha tersebut.
Di luar kendala modal, perkara lain yang sering jadi penghambat adalah: di mana mereka bisa membuka usahanya? Mau sewa tempat, mahalnya bukan main. Mereka pun terpaksa memilih lokasi usaha atau berdagang di emperan atau kaki lima. Namun, ini juga ada biayanya. Sebut saja jatah preman atau uang keamanan. Sudah begitu, mereka juga harus siap diuber-uber petugas ketenteraman dan ketertiban (tramtib).
Boleh jual apa saja, asal legal
Nah, buat para pengusaha mikro dan kecil, jaringan minimarket Indomaret masih membuka tawaran program kemitraan. Nama program ini: Mitra UMKM Indomaret. "Kami ingin membina pengusaha kecil jadi mitra usaha yang bisa mandiri dan berkembang," kata Laurensius Tirta Widjaja, Direktur Operasional PT Indomarco Prismatama.
Walaupun program yang sudah berjalan setahun ini berlabel UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), namun PT Indomarco Prismatama sebagai pemegang merek Indomaret lebih menargetkan pada pengusaha sektor mikro dan kecil. Lewat program ini, Indomaret membantu menyediakan lahan bagi para pengusaha mikro dan kecil untuk menjajakan produknya. Mereka akan diberi tempat di teras depan gerai Indomaret.
Indomaret tidak sebatas menyediakan tempat buat berjualan, namun juga menyediakan gerobak buat para pengusaha mikro dan kecil itu untuk menjajakan dagangannya. Tentu saja, gerobak dan tempat berdagang yang disediakan Indomaret tersebut tidak gratis. Para pengusaha yang menjadi mitra harus membayar biaya sewa gerobak dan sewa tempat. "Tapi, biayanya saya jamin tidak memberatkan," ujar Laurens, panggilan akrab Laurensius.
Pernyataan tersebut diamini Gunawan, salah seorang pengusaha kecil yang sudah bergabung dengan program ini semenjak diluncurkan setahun yang lalu. "Modalnya bisa lebih kecil dibandingkan kalau menyiapkan sendiri," papar Gunawan.
Menurut pria asal Surabaya ini, dengan memperhitungkan gerobak yang sudah disediakan Indomaret, modal awal yang harus disiapkan untuk berusaha bisa ditekan sampai separonya. "Sekarang membikin gerobak sendiri itu modalnya hampir Rp 2 juta, lo. Uang satu juta sudah enggak dapat," ungkap Gunawan.
Karena gerobak sudah disiapkan Indomaret, para pengusaha mitra tinggal menyiapkan isi gerobak, alias barang dagangan. Pada dasarnya, Indomaret mengizinkan para pedagang menjual apa saja. "Asalkan barang yang diperdagangkan tidak dijual di Indomaret, dan barangnya tidak ilegal," kata Laurens.
Indomaret nantinya menyediakan gerobak yang disesuaikan dengan barang dagangan si pengusaha. Ada tiga tipe gerobak yang ditawarkan Indomaret. Pertama gerobak tipe standar, yang penggunaannya cocok untuk berjualan es, pizza, jus, kue basah atau kue tradisional, jajan pasar, bahkan untuk berjualan nasi rames atau nasi padang. Untuk gerobak tipe ini pedagang harus membayar sewa sebesar Rp 50.000 per bulan.
Pilihan kedua adalah gerobak tipe etalase. Gerobak tipe etalase ini memiliki ruang pajang produk dari kaca dengan ukuran yang cukup luas. Karena itu, gerobak ini cocok untuk berjualan aksesori ponsel, baju, kosmetik, aksesori pakaian, juga majalah. Harga sewanya sebesar Rp 61.150 per bulan.
Kalau tidak laku bisa pindah tempat
Pilihan ketiga adalah gerobak tipe food. Ini cocok untuk berjualan produk-produk makanan yang penyajiannya membutuhkan perangkat memasak. Misalnya, bakso, siomay, burger, mi ayam, martabak, dan sebagainya. Gerobak tipe food ini dilengkapi dengan wadah untuk meletakkan kompor, plus satu meja lipat ukuran 150 cm x 20 cm. Biaya sewanya sebesar Rp 62.700 per bulan.
Semua biaya tadi hanya untuk biaya sewa gerobak. Selain itu, mitra UMKM Indomaret juga harus membayar sewa teras, yang besarannya antara Rp 150.000 hingga Rp 250.000 per gerai per bulan, tergantung lokasi dan ramai tidaknya gerai Indomaret tersebut.
Berkaitan dengan urusan sewa-menyewa ini, Indomaret mensyaratkan kerja sama minimal tiga bulan dengan pengusaha yang tertarik menjadi mitranya. Oleh karena itu, mitra UMKM Indomaret harus membayar sewa minimal untuk tiga bulan pertama. Sebagai insentif, Indomaret memberikan fasilitas gratis sewa selama satu bulan. "Itu kami berikan sebagai masa free trial buat dia," ujar Laurens.
Mitra bisa memilih lokasi di salah satu toko Indomaret untuk membuka gerainya. Namun, biasanya pihak Indomaret menyarankan untuk membuka gerai di Indomaret yang berdekatan dengan tempat tinggal si mitra.
Kalau setelah usaha berjalan ternyata terbukti barang dagangannya di wilayah tersebut tidak laris, mitra bisa meminta pihak Indomaret untuk melakukan relokasi bagi usahanya. "Kami akan mencarikan dia tempat di Indomaret lain, yang pasarnya cocok dengan usaha yang digelutinya," tambah Laurens.
Memang, program ini sudah berjalan setahun. Namun, peluang untuk bergabung menjadi mitra UMKM Indomaret sendiri masih terbuka luas. Pasalnya, Indomaret mengharapkan satu toko Indomaret bisa ditempati oleh dua sampai tiga mitra. Saat ini penyewa teras di Indomaret, termasuk mitra UMKM, baru 2.242 penyewa; sementara per akhir Juni 2006 Indomaret sudah membuka 1.564 toko yang bisa menampung 3.128-4.692 mitra UKM. Artinya, masih ada peluang untuk sekitar 886-2.450 penyewa teras.
Jumlah ini akan terus bertambah seiring terus bertambahnya jumlah gerai Indomaret. "Sampai akhir tahun 2006 kami menargetkan paling tidak toko Indomaret akan mencapai 2.000," tambah Laurens. Masih banyak kesempatan, kan?
+++++
Jadi Mitra sekaligus Binaan
Selain memberikan peluang untuk membuka usaha, Indomaret juga memberikan pembinaan bagi mitra UMKM-nya. "Indomaret akan memberikan pelatihan-pelatihan kepada mereka," ujar Laurensius Tirta Widjaja, Direktur Operasional PT Indomarco Prismatama, pemegang merek Indomaret. Pelatihan itu meliputi bagaimana menjalankan bisnis, mengatur manajemen keuangan, serta bagaimana memasarkan dagangan. Indomaret juga memberikan saran kepada mitra mengenai produk apa yang cocok untuk dijual di wilayah tertentu.
Indomaret pun memfasilitasi pelatihan si mitra dengan pihak di luar Indomaret. Misalnya, mengikuti pelatihan dari Bogasari. Untuk mengikuti pelatihan-pelatihan ini, mitra sama sekali tidak dipungut biaya. "Kami tidak akan melepas mitra kami. Kami akan terus berikan pendampingan," papar Laurensius.
Karena Indomaret sudah mempersiapkan lahan dan sarana berjualan, mitra tinggal menyiapkan barang dagangannya saja. Dan, itu tentu menekan modal yang perlu dikeluarkan mitra, sehingga balik modalnya juga bisa lebih cepat. Seperti yang dialami Gunawan, mitra UMKM Indomaret yang berjualan jajanan pasar. "Saya sudah balik modal dalam empat bulan," tutur dia.
Devan 12-09-2006, 03:00 PM Peluang Bisnis Makanan & Minuman Organik, Sehat dan Bergizi Tinggi
http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/waralaba-kantong.gif
Membedah tawaran waralaba toko makanan dan minuman organik
Healthy Choice Indonesia menawarkan waralaba untuk membuka toko dan restoran organik. Peluangnya masih terbuka lebar, tapi modal yang dibutuhkan lumayan besar. Terwaralaba juga harus tekun mempromosikan produknya.
Empat tahun lalu, banyak orang memandang sebelah mata bisnis yang dirintis Stevan Lie. Bagaimana tidak? Di saat penikmat makanan organik masih sangat terbatas, Stevan nekat membuka sebuah toko yang khusus menjual makanan dan minuman organik bernama Healthy Choice Indonesia. Di tempat itu, ia juga membuka restoran yang khusus menyajikan resep-resep makanan dan minuman organik. "Waktu itu, kami benar-benar seperti orang aneh," kenang Stevan, yang juga menjabat sebagai Direktur Operasional Healthy Choice.
Kenekatan Stevan itu tentu saja mengandung risiko. Di awal-awal bisnisnya, ia pun sering merugi karena harus membuang bahan makanan dan minuman yang kedaluwarsa. Maklum, biarpun lebih sehat, harga makanan dan minuman bisa tiga sampai empat kali lipat harga makanan dan minuman biasa. Jadi, tak perlu heran jika bahan-bahan yang dibuang itu jumlahnya acap jauh lebih banyak dibandingkan dengan bahan-bahan yang berhasil dijual. Tapi, kondisi ini tak lantas membuat Stevan menyerah. Ia tetap bertahan sambil terus mempromosikan manfaat bahan-bahan organik.
Sekarang, keuletan Stevan sudah mulai membuahkan hasil. Dari waktu ke waktu jumlah konsumen Healthy Choice terus bertambah. Menurut Stevan, ada tiga jenis konsumen di Healthy Choice. Yang pertama, orang-orang berusia 40 tahun ke atas yang mulai ingin mencari-cari makanan sehat. Lalu, yang kedua adalah orang-orang yang "terpaksa" mengonsumsi makanan organik karena pernah mengalami masalah kesehatan yang serius seperti bypass jantung atau stroke. Terakhir, konsumen Healthy Choice berasal dari pasangan-pasangan muda yang ingin memberikan makanan yang terbaik bagi bayinya. "Biasanya mereka masih belum mau membeli makanan organik bagi diri mereka sendiri; tapi mereka membeli makanan organik untuk bayinya," tutur Stevan.
Nah, kelompok terakhir inilah yang berkembang dengan sangat cepat. Apalagi selain bayinya, belakangan, para pasangan muda itu sendiri juga mulai ikut mengonsumsi makanan maupun minuman organik. Memang, tidak semua pasangan muda masuk dalam golongan ini. Umumnya, penggemar makanan organik itu datang dari lapisan orang-orang di kelas ekonomi A dan A plus. Meskipun begitu, secara total, pertumbuhan pasar Healthy Choice tetap menakjubkan. "Dalam satu tahun terakhir saja, pasarnya bisa tumbuh empat kali lipat," kata Stevan lagi.
Lantaran melihat perkembangan pasar yang sangat pesat itulah, Stevan ingin terus membuka gerai-gerai Healthy Choice baru. Total, saat ini Stevan mengaku telah memiliki lima gerai Healthy Choice plus beberapa konter di Sogo Department Store. Sayangnya, ia merasa tak akan sanggup untuk bisa mengawasi terlalu banyak gerai sekaligus; apalagi kalau gerai itu yang berada luar kota Jakarta. So, mulai tahun ini, Stevan berusaha mencari mitra baru melalui skema waralaba (franchise).
Ada dua jenis paket waralaba yang ditawarkan Stevan. Yang pertama, paket waralaba gerai Healthy Choice. Ini adalah gerai toko swalayan dan restoran yang menjual berbagai bahan makanan dan minuman organik. Sebenarnya, konsep gerai Healthy Choice yang asli mengusung konsep 3 in 1, yakni terdiri dari toko, restoran, dan klinik detox. "Tapi, untuk klinik kami belum berani mewaralabakan karena rekanannya harus memiliki keahlian khusus," terang Stevan.
Butuh modal awal Rp 1 miliar hingga Rp 2,5 miliar
Untuk bisa membuka gerai Healthy Choice ini, tentu saja, pertama-tama calon terwaralaba (franchisee) harus memiliki tempat usaha yang memadai dan strategis. Kawasan rumah toko (ruko) yang berada di dekat perumahan bisa menjadi tempat yang ideal untuk usaha ini. Memang, terwaralaba bisa juga membuka gerai swalayan dan restoran organik ini di mal. Konsekuensinya, ia harus menanggung ongkos sewa yang supermahal. Soalnya, untuk membuka gerai ini, franchisee harus menyediakan lahan hingga 150 m2. "Padahal, sewa mal kelas A sudah mencapai Rp 100.000-150.000 per m2. Nanti biaya sewanya bisa-bisa puluhan juta per bulan," ujar Stevan lagi.
Jika tetap ingin membuka gerai di mal, calon terwaralaba bisa menjajal paket waralaba yang kedua, yakni paket gerai Organic To Go. Gerai ini hanya membutuhkan ruangan yang luasnya minimal 70 m2, sehingga cocok dibuka di mal atau kawasan perkantoran.
"Bentuknya semacam gerai yang menyediakan fast food tapi bukan junk food," terang Stevan.
Selain tempat, tentu saja, calon franchisee juga harus menyediakan modal berupa duit tunai. Lumayan besar, lo. Untuk paket waralaba gerai swalayan dan restoran Healthy Choice, modal awal yang harus disediakan sekitar Rp 2,5 miliar. Sementara itu, modal awal untuk membuka Organic To Go sekitar Rp 1 miliar. Uang sebanyak itu akan dipakai untuk membiayai beberapa keperluan: mulai dari franchise fee, renovasi tempat, peralatan, dan pelatihan karyawan.
Cuma, menurut Stevan, memiliki tempat strategis dan modal besar doang tak cukup untuk bisa membuka gerai Healthy Choice maupun Organic To Go. Ada satu persyaratan lagi: calon terwaralaba harus memahami seluk-beluk makanan maupun minuman organik. Kalau perlu, ia juga melahap makanan tersebut. "Kan susah menerangkan kepada orang lain kalau dia sendiri belum menerapkan hidup sehat," tambah Stevan.
Harus sabar menggarap pasar
Biar cepat berhasil, terwaralaba harus mau terjun langsung mengurus bisnisnya. Kalau perlu ia harus ikut cerewet mempromosikan dan menjelaskan kelebihan produk-produk yang dijajakannya. Bayangkan, seorang ibu rumah tangga biasa tentu akan bingung melihat satu kemasan selai stroberi organik diberi banderol harga Rp 80.000. Padahal, di toko biasa, selai serupa hanya dijual dengan harga Rp 20.000. Nah, terwaralaba harus bisa menerangkan bahwa selai itu tanpa pewarna, tanpa pengawet, dan berasal dari bahan-bahan organik yang bebas pestisida.
Shierley Boedihartono, terwaralaba Healthy Choice Indonesia, melihat prospek bisnis ini akan bagus. Tapi, "Kami harus banyak melakukan edukasi untuk bisa mengembangkan pasar," ungkap Shierley, yang membuka gerai di Surabaya. Dia yakin, dalam setiap keluarga pasti ada anggotanya yang mengalami masalah kesehatan. "Tapi, untuk bisa mengubah kebiasaan makan memang susah," tambah Shierley.
Jika semuanya lancar, menurut hitungan Stevan, dalam waktu sekitar dua sampai dua setengah tahun modal terwaralaba akan kembali. Cuma, pada prakteknya, bukan tidak mungkin waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi. Shierley, misalnya, mengaku mengalami awal-awal bisnis yang agak berat. Maklum, di Kota Buaya itu jumlah masyarakat yang mengenal makanan organik memang masih sedikit. "Saya belum menghitung kapan bisnis ini akan balik modal," cetus Shierley.
Baca tabel dibawah ini !!! (hanya untuk yang browser nya bisa FLASH !!)
TABEL SIMULASI BISNIS Makanan & Minuman Organik healthy choice (http://i70.photobucket.com/albums/i88/idealminds/waralaba-simulasi.jpg)
Devan 17-09-2006, 07:11 AM Peluang Usaha : Jadi Mak Comblang ke Dunia Maya
http://img99.imageshack.us/img99/9239/waralabajaditw8.gif
Menghitung peluang waralaba penyedia jasa internet
Bisnis internet memang bertumbuh pesat. Sayang, banyak orang enggan menjajal. Selain sarat teknologi, modal berbisnis penyedia jasa internet juga besar. Tapi, kini ada tawaran waralaba dari Diginet, penyedia jasa internet dengan sistem nirkabel, yang hanya butuh modal Rp 201 juta. Simak peluang dan tantangannya.
Koneksi internet 24 jam sehari dengan biaya hanya Rp 200.000 per bulan! Penawaran ini jelas bakal menarik minat para eksekutif, karyawan, siswa, atau siapa saja yang sudah kecanduan atau membutuhkan keleluasaan mengakses internet. Selama ini orang sering terpaksa mengekang diri agar tidak terlalu berlama-lama berselancar di dunia maya. Maklum, biayanya mahal, Bo! Apalagi jika harus bayar sendiri.
Ambil contoh, jika kita melakukan koneksi internet dengan jaringan Telkomnet Instan, biayanya Rp 165 per menit atau Rp 237.000 untuk 24 jam, atau Rp 7,11 juta sebulan. Mau akses internet di warnet terdekat, biayanya juga tetap mahal. Saat ini tarifnya sekitar Rp 5.000-Rp 10.000 per jam atau Rp 120.000-Rp 240.000 dalam 24 jam.
Melihat tarif yang mahal itu, jika ada tawaran akses internet 24 jam selama sebulan penuh dengan tarif hanya Rp 200.000, boleh jadi akan banyak yang tertarik. Adalah PT Digital Wireless Indonesia yang mengusung nama dagang Diginet, satu dari sedikit pemain, yang belakangan ini gencar menawarkan akses internet murah.
Diginet mengaku sedang gencar memasang jaringan internet dengan memakai gelombang radio (wireless) di Jakarta dan sekitarnya. Sebagai penyedia jasa internet, Diginet tinggal memasang menara base transceiver station (BTS) setinggi kira-kira 35 meter. Selanjutnya, rumah-rumah yang berada di dalam radius 2 km dari BTS dan telah memasang antena khusus bisa langsung terhubung dengan internet. "Kami mulai Januari 2006, dan kini sudah menjaring lebih dari 400 rumah sebagai pelanggan," ujar Andi Santoso, Direktur Utama PT Digital Wireless Indonesia.
Meski perolehan pelanggannya tak spektakuler, Andi yakin sebenarnya pasar yang bisa digarap masih sangat besar. Cuma, untuk itu mereka butuh tambahan modal yang cukup besar. "Makanya kami menawarkan waralaba," kata Andi.
Tanggapan pasar lumayan positif. Sejak ditawarkan April 2006, Diginet berhasil menjaring beberapa mitra waralaba di wilayah Kelapa Gading, Kemang, Bogor, dan Bekasi. Kini, kata Andi, Diginet masih menawarkan waralaba untuk wilayah-wilayah yang masih kosong. Oh, ya, satu wilayah itu dalam kategori Diginet luasnya 5 km2 - 6 km2 yang berisi lebih 10.000 keluarga.
Pasar internet terus berkembang
Dalam sistem waralaba ala Diginet ini, terwaralaba hanya bertugas memasarkan, memasang, dan melakukan service serta maintenance di wilayahnya. Untuk itu, terwaralaba harus mempunyai internet service point dan sebuah gerai seluas 3 m x 4 m.
Untuk membangun semua fasilitas dan menjalankan bisnis waralaba ini, terwaralaba harus menyiapkan modal yang besarnya minimal Rp 201 juta termasuk franchise fee. Ya, meskipun umumnya sistem waralaba ditawarkan oleh perusahaan yang sudah terkenal dan telah beroperasi minimal 5 tahun, Diginet tetap memungut franchise fee. Besarnya Rp 49,5 juta untuk 3 tahun (lihat tabel: Ilustrasi Bisnis Waralaba Diginet).
Laiknya sistem waralaba, tentu Diginet akan memberikan pelatihan sistem dan hak penggunaan namanya pada terwaralaba. Namun, lantaran Diginet juga baru berdiri dan belum benar-benar terkenal, tentu terwaralaba tak bisa terlalu mengandalkan nama pewaralabanya itu.
Toh, menurut Andi, cukup banyak yang berminat jadi terwaralabanya. Salah satunya Rudi Wanto, terwaralaba Diginet yang membuka usahanya di Kelapa Gading sejak sebulan lalu. "Pasarnya yang besar dan pemainnya yang sedikit membuat saya yakin pada prospek bisnis ini," ujar Rudi. Cuma, ia mengaku belum bisa memastikan bagaimana tanggapan pasar. Soalnya, "Saya belum melakukan promosi besar-besaran, menunggu habis musim liburan ini," paparnya lagi.
Dengan penduduk yang begini banyak, bisnis internet di Indonesia memang masih menjanjikan. Sebab, jumlah pemakai internet di Indonesia masih sedikit dan akan terus bertumbuh cepat. Menurut data Diginet, sampai 2005, jumlah pelanggan internet di Indonesia baru 16 juta. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah cepat. Lihat saja, dalam empat tahun terakhir pertumbuhan jumlah pengguna internet bertumbuh cepat. Tahun 2000, pertumbuhannya baru 14,8%. Tahun lalu pasarnya telah bertumbuh 37,94%.
Hati-hati, teknologinya rentan
Bagaimana keuntungan bisnis ini? Menurut Andi, terwaralaba akan memperoleh 30% dari iuran bulanan sebesar Rp 220.000 dari pelanggan rumahan di daerahnya. Terwaralaba juga bisa memperoleh penghasilan tambahan jika berhasil menjaring korporasi sebagai pelanggan. Terwaralaba akan memperoleh pembagian pendapatan 10% dari tarif korporasi yang besarnya Rp 2,2 juta sampai 30 juta per bulan. "Jika terwaralaba bisa mendapatkan 1.000 keluarga saja, dalam 2 tahun sudah balik modal," ucap Andi.
Namun, bagi mereka yang berminat pada waralaba Diginet ini, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan di luar soal usia Diginet yang masih muda tadi.
Pertama, terwaralaba harus jeli memilih wilayah operasionalnya. Pasar yang bisa digarap memang besar, namun tidak semua keluarga ingin dan mampu memasang internet di rumahnya. Menurut Andi, target utama mereka adalah wilayah perumahan kelas menengah yang biasanya ada di pinggiran Jakarta.
Kedua, kalaupun sudah ketemu pasar yang berminat pada internet, belum tentu mereka mau memakai sistem koneksi internet wireless. Teknologi ini memang murah meriah. Tapi, dia juga rentan terhadap berbagai gangguan, sehingga koneksi internet nirkabel yang seharusnya bisa berkecepatan 64 kbps itu bisa saja tak bekerja. Contohnya, antena di atap rumah pelanggan tidak boleh terhalang pohon atau bangunan agar gelombang dari BTS bisa tertangkap.
Selain itu, gelombang frekuensi radio 2,4 GHz yang dipakai untuk koneksi internet ini adalah frekuensi bebas yang bisa dipakai siapa pun. Artinya, kalau ada orang lain yang memasang pemancar kuat di daerah antara BTS dan pelanggan, koneksi internet juga bisa terganggu; bahkan bisa tak bekerja sama sekali. "Kalau sudah begini, biasanya kami akan mencari orangnya dan duduk bareng. Frekuensi itu kan punya 12 kanal, kita aturlah supaya bisa berbagi," kata Andi.
Nah, setelah mengetahui peluang, potensi keuntungan dan kendalanya, sekarang silakan Anda memutuskan sendiri, mau masuk atau tidak ke bisnis ini.
TABEL SIMULASI BISNIS Mak Comblang Dunia Maya Ala DigiNet (http://img154.imageshack.us/my.php?image=ilustrasidiginetio8.jpg)
Devan 17-09-2006, 07:20 AM Peluang Usaha: Montir Tersedia Fulus Mengalir
http://img90.imageshack.us/img90/6885/waralabamontirff3.gif
Menjajal tawaran waralaba bengkel HMTC
Populasi sepeda motor yang sangat besar dan terus bertumbuh membuat bisnis bengkel tetap berkibar. Salah satu jalan masuk ke bisnis ini adalah lewat waralaba seperti yang ditawarkan HMTC Workshop. Jika berhasil menggaet pelanggan dan mampu bersaing, terwaralaba bisa segera balik modal.
Mencari ladang bisnis yang pas memang susah-susah gampang. Melakukan bisnis di seputar hobi atau menjajal bisnis yang sedang marak, itu merupakan rumus yang banyak dipakai orang. Satu lagi, melakoni bisnis yang pasarnya memang besar.
Untuk yang terakhir ini, bisnis di seputar sepeda motor-seperti bengkel-bisa menjadi alternatif. Maklum, pasarnya memang luar biasa besar. Saat ini populasi sepeda motor di Indonesia diperkirakan mencapai 35 juta unit. Tentu, jumlah ini akan terus bertambah seiring turunnya suku bunga dan mahalnya harga BBM.
Dengan pasar sebesar itu, tak heran jika bisnis bengkel seolah tak ada matinya. Malah jumlahnya terus bertambah dari hari ke hari. Ada yang menjadi bengkel resmi salah satu merek sepeda motor. Tapi, ada juga yang membuka bengkel independen yang melayani sepeda motor dari segala merek. Bahkan, kini orang juga bisa membuka bengkel dengan sistem waralaba.
Salah satu pihak yang menawarkan waralaba bengkel adalah HMTC, singkatan dari Hartomo Mechanical Training Center. Betul, HMTC adalah sekolah montir yang cukup terkenal. Sejak Februari 2006 lalu, HMTC telah membuka usaha bengkel sepeda motor independen, dengan nama HMTC Work Shop. "Gagasannya muncul dari peserta kursus montir, yang sehabis kursus ingin membuka bengkel dengan nama HMTC," ujar Hartomo Koes Alam Syahrir, Presiden Komisaris PT Hartomo Cipta Mekanik, sekaligus pendiri HMTC
Hartomo pun menyambut gagasan itu dan membuka bengkel HMTC Workshop, sekaligus untuk mewadahi alumni HMTC yang sudah berjumlah belasan ribu mekanik. Nah, lantaran Hartomo sudah membuka sekolah montir di pelbagai kota lewat skema waralaba, ia pun mengembangkan bengkelnya dengan jalur serupa.
Walau HMTC masih terbilang hijau berkiprah di dunia bisnis otomotif roda dua, toh Hartomo yakin waralaba bengkelnya bakal sukses. "Saya berkunjung ke pelbagai daerah, dan pada umumnya mereka tahu apa itu HMTC. Jadi, saya yakin," ujarnya. Selain itu, menyiasati ketatnya persaingan di bisnis perbengkelan sepeda motor, HMTC pun memilih bermain di segmen pasar menengah bawah. Dengan begitu, gerai HMTC tidak akan berhadapan langsung dengan bengkel-bengkel besar atau bengkel resmi dari sebuah merek.
Sejak ditawarkan enam bulan lalu, HMTC sudah menjaring tiga pewaralaba. Satu di Depok, Jawa Barat; dan dua lagi di wilayah Jakarta Timur. "Ada 4 calon terwaralaba lagi yang berminat," ujar Nengah Saputra, General Manager PT Hartomo Cipta Mekanik.
Modal dan iuran waralaba pakai dolar
Laiknya sistem waralaba, HMTC juga mematok sejumlah persyaratan bagi investor yang berminat. Ada dua persyaratan utama. Pertama, calon terwaralaba harus memiliki lokasi bengkel yang memadai. Lokasinya harus strategis, yakni ramai dilalui kendaraan roda dua. Selain itu, lokasi tersebut juga berjarak minimal 5 kilometer dari gerai HMTC lain.
Kalau sudah punya lokasi, calon terwaralaba harus menghubungi kantor HMTC terdekat. Selanjutnya, tim HMTC Workshop akan menyurvei lokasi Anda, lalu kemudian membuat bagan (lay-out) bengkel. Jika Anda sreg dengan bagan itu, HMTC akan membuat rancangan awal perjanjian kerja sama yang mengatur antara hak dan kewajiban antara HMTC dan mitranya.
Persyaratan kedua: modal. HMTC mematok jumlah investasi dalam mata uang dolar AS. Yakni, sebesar US$ 4.000 untuk bengkel ukuran 30 m2-50 m2. "Kami pakai dolar karena sekitar 70% peralatan bengkel adalah impor," ujar Nengah. "Lagi pula ini untuk menghindari ketidakpastian harga," timpal Hartomo.
Oh, ya, dana sebanyak US$ 4.000 itu akan dipakai buat pengadaan peralatan bengkel, pembuatan logo, promosi, serta iuran waralaba (franchise fee) sebesar US$ 1.500 untuk tahun pertama. Tahun selanjutnya, si terwaralaba harus membayar franchise fee kembali sebesar US$ 1.500 per tahun. "Franchise fee ini untuk biaya operasional kami dalam menunjang pengembangan bisnis mitra," kata Nengah.
Selain dana sebesar US$ 4.000 itu, terwaralaba juga harus menyediakan dana tambahan yang jumlahnya sekitar Rp 35 juta lagi. Dana ini untuk biaya merenovasi bengkel, membeli suku cadang, aksesori sepeda motor, dan lain sebagainya.
Harus tahu politik bengkel
Kalau urusan renovasi dan penyediaan barang dagangan sudah beres, terwaralaba tinggal mengelola bengkelnya. Bagaimana soal tenaga montir yang menjadi ujung tombak bisnis ini Tak usah repot dan pusing mencari tenaga montir yang kadang susah didapat. Pasalnya, HMTC-lah yang akan menyediakan tenaga-tenaga montir hasil didikan di sekolah montirnya sendiri. "Kami memberikan mekanik yang terbaik," janji Nengah.
Selanjutnya, terwaralaba akan memperoleh pelatihan mengenai seluk-beluk bisnis bengkel sepeda motor dan strategi pemasaran dari HMTC. "Atau istilahnya politik perbengkelan," kata Nengah.
Nengah memberi contoh. Katakanlah di satu wilayah terjadi banyak bengkel yang menyebabkan persaingan merebut konsumen menjadi sengit. Ada baiknya si mitra membuat terobosan. "Misalnya, buat promo lima kali servis dapat satu kali gratis," tuturnya, "Atau, gaet para tukang ojek dengan biaya servis yang lebih miring."
Nah, jika semua berjalan lancar dan saban hari bengkel meladeni minimal lima transaksi, Nengah yakin, dalam waktu sekitar setahun terwaralaba sudah bisa balik modal. Namun, target lima pelanggan per hari itu ternyata agak susah juga tercapai. Setidaknya itulah yang dialami gerai HMTC Workshop di Depok yang baru berusia sebulan. Menurut sebuah sumber di situ, setiap hari paling ada dua pelanggan. Dan, baru pada akhir pekan jumlahnya naik menjadi lima pelanggan.
Meski begitu, Johanes Wardi, seorang konsultan keuangan, tetap tertarik dan siap membuka gerai HMTC Workshop di bilangan Bukit Duri, Jakarta Selatan, September ini. "Saya yakin bisa jalan karena ikut HMTC yang sudah punya nama," tambahnya.
TABEL SIMULASI BISNIS Bengkel HMTC (http://img141.imageshack.us/my.php?image=waralabahitunganmz1.jpg)
Devan 17-09-2006, 07:26 AM Peluang Bisnis: Dapur Ngebul dari Masakan China Peranakan (Nyonya Dish)
Menimbang tawaran waralaba Kedai Tiga Nyonya
Meski pemainnya sudah banyak, bisnis gerai makanan bisa terus ngebul. Syaratnya: harus punya konsep kuat, lokasi bagus, dan makanannya harus enak. Bagaimana dengan tawaran waralaba masakan china peranakan dari Kedai Tiga Nyonya?
Bicara soal makanan, chinese food termasuk salah satu jenis masakan yang paling terkenal dan banyak penggemarnya di dunia. Tak aneh bila bisnis makanan Negeri Kuil Shaolin ini pun terus ngebul dari zaman ke zaman. Tentu saja, kebulan asap rezeki dari dapur kedai atau restoran chinese food itu sebagian besar dihirup oleh orang-orang China peranakan yang memang terkenal jago masak; entah itu masakan berdasarkan resep nenek moyang maupun hasil racikan dari kreasi berdasarkan sumber bahan makanan dan selera lidah masyarakat lokal.
Di jazirah Melayu, hasil kreasi koki-koki keturunan China itu telah menghasilkan makanan hasil percampuran resep China, Melayu, dan Belanda yang lumayan terkenal. Sayang, tidak seperti di Malaysia atau Singapura, di Indonesia baru sedikit orang yang mengangkat makanan-makanan tersebut menjadi makanan kelas restoran.
Salah satunya adalah Kedai Tiga Nyonya. Restoran ini mencoba mengangkat makanan peranakan China yang berasal dari Semarang dan Timur Indonesia. Saat ini, gerai Kedai Tiga Nyonya bisa kita temui di kawasan Tebet dan Menteng, Jakarta.
Ya, pendiri jaringan restoran Tiga Nyonya, Paul B. Nio dan istrinya, memang peranakan China. Kalau Paul adalah peranakan China-Semarang, istrinya peranakan China-Papua. "Jadi, kami mengumpulkan resep masakan dari keluarga kami sendiri. Saat ini kami sudah memiliki lebih dari 100 menu yang kami sajikan di Kedai Tiga Nyonya," beber Paul. Sebut saja lumpia semarang, brenebon, atau menu jagoan mereka, yaitu ikan bakar spesial Kedai Tiga Nyonya. "Kami buat dari ikan pecah kulit yang terkenal di Indonesia bagian timur. Cuma, di sini kami harus mencarinya di Muara Angke," ujar Paul.
Kuncinya, lagi-lagi, lokasi yang pas
Paul mengaku sudah membuat standardisasi pembuatan semua menu makanan peranakan yang dibuatnya tanpa vetsin dan halal. "Saya sengaja membuat menu yang halal supaya makanan kami bisa dinikmati oleh orang muslim juga," tandas Paul.
Menu makanan rumahan dari Kedai Tiga Nyonya ini rupanya menarik selera cukup banyak orang, termasuk orang-orang penting. Mantan presiden B.J. Habibie dan beberapa menteri dalam kabinet sekarang ini pernah mampir di kedainya. Bahkan, menurut Paul, beberapa pejabat di Bank Indonesia menjadi pelanggan yang kerap memesan ke kedainya. "Saya rasa orang-orang yang bekerja di kantoran lebih suka dengan makanan rumahan," simpul Paul.
Melihat pasar yang cukup menjanjikan plus telah adanya standardisasi pengolahan makanan ala Kedai Tiga Nyonya, Paul pun kemudian menawarkan sistem waralaba. Tak hanya kepada masyarakat keturunan Tionghoa, tapi juga seluruh masyarakat. Baik yang sudah jago masak, maupun yang tidak. Maklum, laiknya sistem waralaba makanan, pihak Kedai Tiga Nyonya bukan hanya akan berbagi resep, melainkan juga akan melatih para juru masak dari gerai terwaralaba, hingga mereka mampu menyajikan makanan sesuai standar yang sudah ditentukan.
Hasilnya, kata Paul, peminatnya cukup banyak. Namun sayang, hingga kini Paul belum menemukan terwaralaba yang pas. Umumnya karena terwaralaba tak memenuhi persyaratan lokasi dan tempat usaha.
Paul memang menjadikan tempat usaha sebagai persyaratan utama buat calon terwaralabanya. Paul mensyaratkan, kedai Tiga Nyonya itu berbentuk rumah dengan luas 150 m2-250 m2 yang bisa menyediakan tempat duduk minimal 90 buah. Ini, ujar Paul, untuk mencegah melubernya tamu-tamu sehingga kabur ke rumah makan sebelah. Tak sembarang rumah, untuk menjadi gerai rumah itu harus pula mempunyai cukup jendela, sehingga pencahayaannya bisa alami. "Kalau terlalu banyak lampu, biayanya mahal dan nanti suasananya menjadi tidak homey," papar Paul.
Nah, mencari rumah yang memenuhi syarat sebagai gerai Kedai Nyonya di kota besar macam Jakarta tentu bukan perkara mudah. Padahal, pangsa pasar utamanya memang masyarakat kelas atas di perkotaan. Maklum, harga makanannya lumayan mahal, yakni rata-rata Rp 70.000 sampai Rp 80.000 perporsi.
"Makanya ada calon terwaralaba kami yang mau membuka kedai di Surabaya minta saya kami mempertimbangkan lagi harga jualnya di sana," kata Paul yang tengah bersiap menawarkan waralabanya di luar negeri. Menanggapi permintaan itu, Paul mengaku tak mau ngotot. Dia setuju harga makanan di gerai-gerai waralabanya berbeda dari harga gerai di Jakarta, asalkan gerai terwaralaba itu memang berada di luar kota Jakarta.
Persyaratan kedua, setelah tempat usaha, tentu saja adalah modal. Jumlahnya lumayan besar, yakni sekitar Rp 1,25 miliar. Ini sudah termasuk franchise fee untuk lima tahun pertama, seluruh perlengkapan masak, dan persiapan gerai (lihat tabel: Menakar Kepulan Rezeki Dapur Tiga Nyonya). Namun, modal segitu belum termasuk sewa tempat dan modal kerja awal.
Meskipun butuh modal lumayan besar, Paul yakin waralaba yang dia tawarkan ini tetap menarik. Dengan margin laba bersih sekitar 30%, Paul memperkirakan, terwaralaba bisa balik modal dalam waktu 2 tahun. Tentu, dengan syarat: terwaralaba bisa menemukan lokasi yang tepat, yaitu dekat perkantoran dan perumahan.
+++++
Empat Petunjuk dari Pietra Sarosa
Selagi manusia hidup dan butuh makan, bisnis makanan memang akan terus hidup. Makanya, bisnis makanan memang layak menjadi salah satu incaran mereka yang hendak memulai usaha sendiri.
Bagi orang-orang yang kepingin masuk dalam bisnis makanan tapi tidak jago masak, waralaba memang bisa menjadi jawaban. "Cuma, kalaupun tidak lihai masak, sebaiknya Anda suka makan. Jadi, sense of entrepreneurship-nya akan muncul," ungkap Pietra Sarosa, konsultan waralaba dari Sarosa Consulting.
Nah, sebelum memutuskan waralaba makanan mana yang akan Anda ambil, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut saran Pietra:
Jangan membeli waralaba jika Anda tak mau terjun mengurusnya sendiri. Anda memang tidak harus ada setiap hari di gerai, tapi minimal Anda harus berada di gerai 2-3 hari dalam seminggu, minimal selama 2-3 jam;
Sistem waralaba umumnya memang dirancang bisa berjalan tanpa harus diawasi sepenuhnya oleh pemilik. Namun, kehadiran Anda di gerai akan membuat Anda mengerti benar berbagai macam komplain dari konsumen, sehingga bisa langsung melakukan langkah-langkah perbaikan;
Adakan investigasi kecil-kecilan untuk bisa memperkirakan track record return on investment pada gerai-gerai yang sudah ada. Jangan mau menerima begitu saja asumsi-asumsi yang dilemparkan pewaralaba;
Bandingkan harga jual dan rasa menu dari beberapa waralaba yang Anda incar. Dari situ Anda akan mengetahui ada tidaknya menu andalan mereka, serta apakah harga yang mereka tawarkan wajar atau tidak. Ini bisa Anda gunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih serta bernegosiasi dengan pewaralaba.
Devan 19-10-2006, 08:26 AM Peluang Usaha: Katakan dengan Buku
Peluang baru: bisnis buku eksklusif
Kini mulai ngetren membuat buku eksklusif yang berisi kisah hidup, roman, atau tema lain yang dibuat khusus sebagai hadiah untuk seorang yang istimewa atau cendera mata pada sebuah pesta. Tentu ini menjadi ladang bisnis baru yang menarik, apalagi pemainnya masih sangat sedikit.
Kapan ibu, pacar, pasangan hidup, atau orang-orang terdekat Anda berulang tahun? Tentu, jauh hari Anda sudah merencanakan hadiah yang berkesan buat mereka. Setangkai bunga, sebutir berlian, atau ponsel seri terbaru memang merupakan hadiah yang romantis, tapi sudah tidak terlalu spesial lagi. Atau, jangan-jangan tahun lalu, Anda sudah memberikannya.
Tak usah bingung. Kenapa Anda enggak mencoba memberinya sebuah buku yang dibuat dan dicetak khusus untuk seseorang yang istimewa? Isinya bisa berupa kisah perjalanan hidup ibu yang sudah berjuang keras membesarkan Anda. Atau, cerita roman perjalanan cinta Anda dengan sang kekasih. Bisa juga berupa kumpulan puisi dan surat cinta yang dipadukan dengan foto-foto Anda berdua. Ditanggung yang menerima bakal terharu, dan surprise, deh!
Membuat buku pribadi yang dicetak secara eksklusif macam ini memang mulai ngetren. Tak hanya untuk hadiah bagi orang terdekat, belakangan mulai banyak pula orang yang menjadikannya sebagai cendera mata pesta perkawinan, ulang tahun perkawinan, atau event bermakna lainnya.
Soal pembuatan tak usah khawatir. Anda tak perlu pusing menulis buku itu sendiri, sementara Anda tak berbakat menulis. Soal jumlah eksemplar buku, terserah Anda, mau satu eksemplar, ratusan atau jutaan eksemplar. Anda tinggal memesannya pada perusahaan yang kini menawarkan jasa pembuatan buku pribadi dan eksklusif ini. Tarifnya beragam, mulai dari berapa ratus ribu hingga jutaan per eksemplar.
Ya, munculnya kebutuhan untuk membuat buku-buku yang dibuat dan dicetak dalam jumlah sedikit ini tentu saja telah memunculkan peluang bisnis baru. Namanya juga bisnis baru, pemainnya masih sedikit, mungkin cukup dihitung dengan jari di sebelah tangan.
Salah satu pemain terbesarnya adalah Kisah Personal Publishing yang mulai menawarkan jasa pembuatan buku eksklusif ini sejak 2004. Awalnya, kata Christian Soeseno, Managing Director Kisah Personal Publishing, dia mencoba membuat sebuah wedding story book, dan ternyata berhasil. "Produk baru mendapat sambutan sangat bagus, permintaannya pun ada," ungkapnya bersemangat.
Kini, salah satu divisi perusahaan Subur Printing Network ini tak hanya menawarkan pembuatan buku eksklusif untuk pernikahan. Dia juga bisa membikin potongan-potongan cerita kehidupan, otobiografi, baby book, atau tema lain sesuai dengan permintaan pelanggan. Soal jumlah pesanan, teknologi cetak digital memungkinkan pelanggan bisa mengorder satu eksemplar sekalipun. "Kami bisa menerima order walaupun hanya satu atau dua eksemplar," ujar Christian.
Ladang bisnis baru bagi percetakan
Tren memberi hadiah atau cendera mata berupa buku eksklusif ini jelas menjadi peluang usaha yang menarik untuk dijajal. Apalagi, pemainnya sampai saat ini memang masih amat sedikit. Peluang usaha ini bisa dilakukan banyak kalangan. Baik oleh mereka yang sudah punya bisnis percetakan seperti Subur, maupun oleh para penulis, fotografer, atau oleh mereka yang yakin bisa mencari banyak pelanggan.
Yang paling mudah masuk ke bisnis ini tentu saja mereka yang sudah bergerak di bisnis percetakan. Dengan begitu, mereka tak perlu keluar modal untuk membeli mesin cetak. Maklum, harga mesin cetak lumayan besar. "Untuk membeli seunit mesin cetak sederhana, Anda butuh modal sekitar Rp 45 juta-Rp 50 juta," ujar Galuh Wahyono, pemilik PT Inti Warna, percetakan yang berlokasi di Bintaro, Tangerang.
Kalau sudah punya mesin, tentu Anda tinggal mencari tenaga penulis untuk menulis atau menyusun buku tersebut. Urusan mencari penulis ini tidak susah. Selain ada begitu banyak penulis lepas, banyak pula para penulis atau jurnalis yang bersedia menulis di luar tugas tetapnya sebagai pekerjaan sampingan. Tapi, tentu Anda harus memilih yang benar-benar bisa menulis dengan struktur bahasa dan logika yang baik, serta indah.
Agar bisa menghasilkan buku yang merupakan karya seni dan koleksi yang baik, "Konsep buku itu harus dipikirkan dengan matang," ujar Christian. Konsep ini bisa merupakan gabungan ide Anda, penulis, fotografer, dan tim desain Anda.
Oh, ya, selain penulis, pemilik percetakan juga sebaiknya menjalin kerja sama dengan seorang fotografer. Ini untuk mengantisipasi jika koleksi foto-foto milik si pelanggan ternyata tak cukup untuk dimuat di buku pesanan pelanggan. Dan, tentu saja, Anda juga harus merekrut tenaga desain grafis yang andal, sehingga setiap buku memiliki tata letak dan cover yang khas dan eksklusif.
Bagi para pengusaha percetakan, jika berhasil mendapatkan order, bakalan bisa menikmati tambahan penghasilan yang lumayan. Sebab, menurut Christian, dari tarif Rp 300.000 hingga Rp 7 juta per eksemplar yang ditawarkannya ke pelanggan, pihaknya bisa menikmati margin hingga 25%.
Peluang bisnis bagi para penulis
Tak hanya bagi pemilik usaha percetakan, bisnis pembuatan buku ekslusif ini juga bisa menjadi ladang bisnis bagi para penulis atau Anda yang mahir menulis dengan baik. Anda tinggal mencari pelanggan, lalu membuat konsep dan isi buku yang bagus. Soal percetakan, Anda tinggal menyerahkan ke percetakan. Di pasaran ada banyak percetakan dengan teknologi digital yang siap mengerjakan pesanan dalam kuantitas kecil. Dan, kalau Anda rutin memperoleh orderan, Anda bisa memperoleh diskon khusus.
Usaha begini sebenarnya sudah cukup banyak dilakoni oleh para penulis atau jurnalis. Salah satunya seperti dilakoni Imran Hasibuan, seorang penulis dan juga Direktur Q Communication, sebuah perusahaan konsultan media. Lewat jaringan perkenalannya yang lumayan luas sebagai penulis dan konsultan media, Imran telah mengerjakan banyak buku berisi otobiografi orang-orang terkenal, salah satunya otobiografi Taufik Kiemas.
"Untuk mencari pelanggan, saya enggak pakai marketing khusus, cukup dengan kedekatan sama calon klien," beber Imran. Soal percetakan, bekas wartawan Majalah Forum ini mengaku tak melulu pakai percetakan tertentu. Setiap ada order, dia mencari percetakan yang layanannya bagus dan harganya bersaing. "Yang penting dalam memilih percetakan adalah kualitas cetaknya, karena kualitas cetakan sangat penting dalam bisnis ini," tambah Imran yang mematok fee sekitar 30% dari tiap buku yang ia kerjakan.
Ya, yang paling penting dalam bisnis ini memang memperoleh order. Kalau sudah dapat order, meski tak punya percetakan sendiri atau bahkan juga tak bisa menulis, Anda tetap bisa menikmati untung. Kuncinya, Anda harus punya jaringan yang kuat serta kreatif menciptakan konsep buku yang menarik bagi pelanggan. Tertarik untuk mencoba?
Baca tabel dibawah ini !!! (hanya untuk yang browser nya bisa FLASH !!)
TABEL SIMULASI BISNIS BUKU EXCLUSIVE (http://img246.imageshack.us/img246/442/simulasibukueksklusifrl1.jpg)
Devan 19-10-2006, 08:38 AM Peluang Usaha: Juragan Kos-kosan di Dunia Maya
Peluang usaha webhosting
Di tengah persaingan yang sengit, masih ada peluang di bisnis penyewaan server internet atawa webhosting. Kunci suksesnya, Anda harus kreatif menciptakan pasar.
Masa-masa kejayaan (booming) bisnis dotcom memang telah lama berlalu. Alih-alih berkembang, kini, justru banyak perusahaan dotcom -seperti toko online atau situs berita online- yang bangkrut. Tapi, jangan salah; tak semua bisnis yang berbau internet gulung tikar, lo. Masih ada bisnis-bisnis di seputar internet yang tetap bertahap hidup, dan bahkan berkembang pesat. Salah satunya adalah bisnis penyewaan ruangan server penyimpanan data-data situs internet atawa webhosting.
Buat yang masih awam, agar sebuah situs bisa diakses setiap saat, pemilik situs harus menyimpan semua informasi yang ingin ditampilkan di situs tersebut dalam sebuah komputer server yang selalu terhubung 24 jam dengan internet. Secara teori, server ini sebenarnya bisa dimiliki dan dikelola sendiri oleh setiap pemilik situs (website). Tapi, pada prakteknya, sangat sedikit pemilik website -baik perseorangan maupun perusahaan- yang melakukan hal ini. Pasalnya, selain tak mau repot, mereka juga tak memiliki keahlian dalam pengelolaan data-data situs. Sudah begitu, jika menggunakan server sendiri, pemilik situs juga harus mengeluarkan biaya besar buat pembelian komputer untuk server maupun penyewaan koneksi internet yang harus 24 jam tadi.
Peluang inilah, kemudian, yang ditangkap oleh para perusahaan webhosting seperti masterwebnet. com, rumahweb.com, indekos. com, centrin.net.id, cakraweb. com, dan masih banyak lagi. Para pengusaha webhosting menyediakan solusi yang dibutuhkan oleh para pemilik situs internet. Yang paling utama, pengusaha webhosting menyewakan ruangan server sebagai tempat penyimpanan data-data situs internet. Kapasitas media penyimpanan -berupa hard disk- komputer server ini umumnya sangat besar sehingga bisa disewakan kepada beberapa pemilik situs sekaligus. "Jadi, seperti kita mau buka kos-kosan," ujar Dhiar L.A., Chief Executive Officer PT Master Web Network.
Selain itu, pengusaha webhosting juga menghubungkan server tersebut dengan server milik perusahaan penyedia jasa internet (internet service provider, ISP). Tujuannya adalah agar situs-situs tadi selalu bisa diakses di dunia maya selama 24 jam non-stop.
Sebagai usaha sampingan, para pengusaha webhosting pun menyediakan berbagai jasa yang masih erat kaitannya dengan situs internet. Misalnya, mereka umumnya menyediakan jasa pengurusan dan penyewaan nama domain. Ini adalah alamat sebuah situs -berakhiran .com, .org, .gov, .co.id, dan sebagainya- yang memudahkan situs tersebut diakses di dunia maya. Selain itu, pengusaha atau perusahaan webhosting biasanya juga menyediakan jasa desain maupun pembuatan website.
Ini bisnis kepercayaan, Bung
Terdengar rumit? Memang, apalagi kalau Anda termasuk orang yang masih awam soal teknologi komputer dan internet. Karena itu, sebelum memulai bisnis webhosting ini, ada baiknya Anda mempelajari terlebih dahulu seluk-beluk teknologi komputer maupun internet. Tak perlu menjadi ahli, yang penting Anda memahami konsep dasarnya.
Selanjutnya, setelah memahami seluk-beluk teknologi komputer dan internet, Anda bisa mulai berinvestasi. Pertama-tama, karena bisnis utama webhosting adalah penyewaan ruangan server, tentu saja, Anda harus membeli sejumlah komputer server. Spesifikasi setiap komputer server ini jelas tak boleh ecek-ecek, dan harus supercanggih. Misalnya, ia harus merupakan komputer yang memiliki beberapa prosesor berkecepatan tinggi sekaligus (umumnya 2 sampai 4 prosesor). Selain itu yang paling penting, server itu pun harus memiliki hard disk dengan kapasitas ekstrabesar. Misalnya, server itu bisa berisi 4 hard disk yang masing-masing berkapasitas 60 gigabytes (GB). Jadi, server Anda akan memiliki total kapasitas 240 GB.
Harga server dengan spesifikasi seperti itu tentu saja tak murah; yaitu bisa berkisar US$ 5.000-US$ 10.000 per unit. Jika dirupiahkan dengan kurs Rp 9.500, artinya untuk setiap unit server Anda harus merogoh dana sekitar Rp 47,5 juta-Rp 95 juta.
Masalahnya, saat ini ada dua aliran utama (platform) pengembangan situs di pasar; yakni berbasis sistem operasi Linux dan Windows. Karena itu, kalau mau lengkap, Anda harus menyediakan dua server utama; satu berbasis Linux dan satu lagi berbasis Windows. Selain itu, Anda juga harus menyediakan server pendukung (back up) untuk masing-masing server tersebut. Untuk total empat server itu, artinya Anda harus mengeluarkan dana minimal Rp 190 juta.
Terlalu mahal? Tenang; untuk tahap awal, Anda bisa memulai dengan skenario yang lebih sederhana. Karena sistem Linux lebih banyak dipakai, bisa saja Anda cuma menyediakan satu server berbasis Linux plus satu server sebagai back up. Dengan cara ini, Anda bisa menekan modal awal yang harus Anda keluarkan.
Selanjutnya, Anda juga harus merekrut ahli komputer untuk menjadi penjaga dan pengelola (administrator) server-server Anda. Calon administrator itu harus memiliki keahlian lengkap, mulai dari desain dan pembuatan situs, pengelolaan dan keamanan (security) data base, sampai ke pembangunan dan pengelolaan jaringan. Dengan begitu, si administrator bisa menyelesaikan dengan cepat setiap masalah yang muncul ketika para konsumen sudah mulai menyewa server tersebut. "Kecepatan ini merupakan salah satu poin utama dalam bisnis webhosting," imbuh Dhiar. Karena server harus online 24 jam sehari, sebaiknya jumlah administrator yang tersedia juga lebih dari satu, yang kemudian bekerja secara bergiliran (shift).
Meskipun bukan syarat mutlak, sebaiknya Anda juga memiliki kantor yang layak. "Dilihat dari segi teknologi, semua usaha ini bisa tanpa kantor; tapi dari segi kepercayaan konsumen tentu saja butuh tempat," ujar Vici Ristia, Presiden Direktur PT Solusi Intelligent Expert.
Ingat, bisnis ini adalah bisnis kepercayaan karena konsumen mempercayakan pengelolaan data-data penting mereka kepada Anda. "Kalau alamatnya, teleponnya, dan fisik kantornya jelas, orang akan lebih percaya," kata Dhiar lagi. Selain itu, jika ada masalah, penyewa server juga bisa dengan mudah menghubungi kantor tersebut.
Harus kreatif mencari pasar
Setelah semuanya siap, Anda tinggal menjaring para konsumen yang bersedia penjadi penyewa server Anda. Karena jumlah perusahaan webhosting sangat banyak, tentu saja Anda harus kreatif mencari pasar. Sebagai gambaran, Anda bisa membidik segmen pasar perorangan, artis-artis, kantor-kantor pemerintah, perusahan-perusahaan kecil dan menegah (UKM), sampai perusahaan-perusahaan besar.
Agar bisa menjaring konsumen sebanyak-banyaknya, Anda bisa mencontoh trik perusahaan-perusahaan webhosting besar yang membuat paket-paket produk. Ambil contoh Masterweb yang membuat tiga paket produk webhosting Linux: paket ekonomi, paket binis, dan paket eksekutif. Paket ekonomi yang berharga Rp 5.000 per bulan menyediakan ruang server sebesar 5 megabytes (MB) plus beberapa servis tambahan.
Sementara itu, paket bisnis menyediakan kapasitas antara 25 MB hingga 100MB, dengan harga sewa sekitar Rp 17.500 sampai Rp 47.500 per bulan. Adapun paket eksekutif menyediakan kapasitas server antara 500 MB sampai 2 GB. Harga sewa paket yang paling lengkap ini antara Rp 175.000 sampai Rp 675.000 per bulan.
Dengan penjualan sistem paket itu, Masterweb sukses menjadi pemimpin pasar webhosting di Indonesia dengan jumlah pelanggan sekitar 6.000 situs. Di antara para pelanggannya ada nama-nama besar seperti Toyota, Aqua, dan Pam Jaya. Selain itu ada pula Ditjen Bea dan Cukai serta Departemen Agama.
Baca tabel dibawah ini !!! (hanya untuk yang browser nya bisa FLASH !!)
TABEL SImulasi Bisnis Juragan Webhosting (http://img151.imageshack.us/img151/2654/usahawebhostingjy0.jpg)
Devan 19-10-2006, 08:41 AM Peluang Usaha: Untung Besar di Ujung Kuku - Bisnis Nail Painting -
http://img96.imageshack.us/img96/6082/waralabamejikuuy7.gif
Menjajal tawaran waralaba salon kuku Meji Mejiku
Tren tato kuku alias nail painting mulai menjalar di Indonesia. Ini jelas peluang usaha yang lumayan menjanjikan. Maklum, peminatnya terus bertambah, sementara pemainnya masih sedikit. Salah satu jalan pintas masuk ke bisnis ini adalah lewat waralaba, seperti ditawarkan Meji Mejiku.
Tampil cantik, modis, bahkan unik, sudah menjadi gaya hidup masyarakat modern, apalagi yang tinggal dan bergaul di perkotaan. Demi penampilan, orang tak segan bergonta-ganti cat rambut sesuai warna pakaian atau mobil tunggangan, menghiasi gigi dengan behel, berlian, tato, atau menindik alis, lidah, bibir, serta bagian tubuh lainnya. Pokoknya, sekujur tubuh kudu dipermak, mulai dari ujung rambut hingga ujung kuku.
Bicara soal kuku, kini tak cukup lagi hanya medi-pedi atau diolesi kutek. Di pentas fashion dunia, mulai ngetren nail painting alias tato kuku. Bagian ujung jari-jemari tidak sekadar diwarnai, melainkan juga digambari dengan berbagai motif dan bentuk.
Di negara-negara lain, seperti Jepang, nail painting ini sudah begitu beken. Tapi, di tanah air kita, tren tato kuku memang baru mulai. Itu pun baru ada di kota-kota besar macam Surabaya, Bandung, dan Jakarta.
Di Indonesia, salah satu pemain yang paling besar dan paling terkenal adalah PT Pacific Macronic Industry, pemegang waralaba Meji Mejiku yang asal Jepang. Dalam pengerjaan gambar pada kuku, Meji Mejiku menggunakan mesin yang bentuknya mirip ATM. Pelanggan tinggal memilih gambar, lalu meletakkan tangannya di salah satu bagian di alat ini. Lewat monitor yang juga ada di mesin itu, pelanggan bisa melihat letak posisi kukunya. Jika sudah pas, proses penggambaran kuku pun mulai. "Kami menggunakan teknologi yang diadopsi dari Jepang," ujar Suprapto Siman, Franchise Development Manager Pacific Macronic.
Oh, ya, di samping tato kuku, gerai-gerai Meji Mejiku menyediakan layanan lain seperti manicure dan pedicure, dan menjual produk perawatan kuku seperti kutek serta zat pembersih kutek. Bahkan, gerai Meji juga menjual mug, gantungan kunci, maupun berbagai pernak-pernik lainnya.
Meski baru, penggemar tato kuku ini ternyata lumayan banyak. Buktinya, setiap gerai Meji Mejiku selalu dikunjungi peminat. Bahkan, pada hari libur atau akhir pekan pengunjung gerai Meji bisa dua kali lipat lebih ramai ketimbang hari biasa.
Peminat tato kuku ternyata bukan hanya cewek-cewek ABG. Perempuan di atas 30 tahun, bahkan kaum lelaki, banyak pula yang kesengsem menghiasi kukunya dengan tato. "Pas Piala Dunia sekarang ini banyak yang minta kukunya diwarnai dengan warna bendera negara peserta Piala Dunia," ujar Yani Kamajaya, terwaralaba Meji Mejiku yang membuka gerai di CiWalk, Bandung.
Melihat besarnya minat pasar pada layanan tato kuku, dan pemainnya yang masih sedikit, Suprapto yakin bisnis nail painting yang dia lakoni bakal berkembang lebih pesat. "Prospek untuk berkembang sangat banyak, karena masih banyak kebutuhan di pasar yang belum terisi," kata Suprapto. Bermodal keyakinan itu, Pacific Macronic selaku master franchise Meji Mejiku di Indonesia kini mulai gencar menawarkan waralaba.
Menggaet terwaralaba lewat diskon
Untuk menjadi terwaralaba Meji Mejiku tidak perlu keahlian khusus atau pengalaman berbisnis. Sebab, laiknya sistem waralaba, pewaralaba akan memberikan pelatihan, baik kepada terwaralaba maupun karyawan. Selain itu, terwaralaba juga akan memperoleh mesin tato kuku dari Meji Mejiku. Untuk memperlancar operasional gerai si terwaralaba, pewaralaba akan menempatkan seorang supervisor di gerai terwaralaba selama satu minggu. Ada pula kegiatan promosi.
Tentu, terwaralaba mesti membayar semua biaya itu. Untuk memulai bisnis ini, terwaralaba harus memiliki modal sekitar Rp 135 juta. Dana ini antara lain untuk membayar franchise fee selama tiga tahun sebesar Rp 95 juta. Lantas ada biaya untuk membeli mesin tato kuku dan perlengkapan salon, seperti perlengkapan manicure-pedicure, cat kuku, dan sebagainya.
Oh, ya, agar bisa menjaring banyak terwaralaba dengan cepat, Pacific Macronic tak segan-segan memberi diskon besar-besaran kepada calon terwaralabanya. Untuk 15 terwaralaba pertama, Pacific Micronic memberi diskon investasi awal sebesar Rp 40 juta atau 29,6%, sehingga calon terwaralaba cukup menyediakan dana awal Rp 95 juta. "Saat ini sudah ada 7 terwaralaba yang mendapatkan diskon, berarti tersisa tempat untuk 8 investor lagi," ujar Suprapto dengan nada-nada penuh promosi.
Yang harus diingat, dengan setoran investasi awal tadi terwaralaba memang memperoleh satu mesin. Bila ingin menambah jumlah mesin, terwaralaba harus membayar lagi Rp 40 juta per unit mesin. Nah, mesin tato kuku ini statusnya hanyalah barang sewaan, bukan milik terwaralaba. Jika setelah 3 tahun terwaralaba tak berminat melanjutkan kerja sama, dia harus mengembalikan mesin ke pewaralaba.
Selain modal duit, terwaralaba juga harus menyediakan ruang usaha dengan luas minimal 20 m2. Pacific tentu akan menyurvei lokasi gerai untuk memastikan letaknya memang strategis. "Tempat yang pas untuk gerai Meji adalah dekat kampus, sekolah, tempat nongkrong, atau dekat kantor. Yang paling enak di mal," ujar Suprapto.
Untuk mal, lanjut Suprapto, pilihlah mal untuk masyarakat kelas menengah atas yang sesuai dengan target pasar Meji Mejiku. "Jangan membuka gerai di trade center, di situ prospeknya kurang," imbuhnya.
Setelah mendapatkan lokasi yang cocok, maka terwaralaba bisa melakukan renovasi dan dekorasi sesuai standar desain yang sudah ditentukan pewaralaba. Sembari itu, terwaralaba bisa sekaligus menyiapkan pegawai. Jumlahnya minimal lima orang. Satu orang untuk kasir, satu untuk promosi, dan sisanya untuk mengerjakan manicure dan pedicure. Pegawai-pegawai ini nantinya mendapat pelatihan dari pewaralaba.
Kalau semuanya berjalan dengan lancar, Suprapto yakin investasi terwaralaba akan kembali dalam waktu 2 tahun. "Itu hitungan konservatif. Kalau hitungan agresif, satu tahun, sih, sudah balik," ujarnya optimistis.
Yang juga perlu diperhitungkan, mudah-mudahan saja tren nail painting ini berumur panjang.
Devan 19-10-2006, 08:46 AM Peluang Usaha: Banjir Untung dari Polikultur
http://img154.imageshack.us/img154/3268/usahabanjirkg5.gif
Peluang usaha agribisnis dengan sistem polikultur
Usaha agribisnis dengan sistem polikultur yang memadukan budi daya rumput laut, udang windu, dan bandeng dalam satu kolam mulai naik daun. Simbiosis mutualisme yang tercipta antara ketiganya membuat petani bisa memanen untung Rp 15 juta per bulan.
Sabtu siang, 10 Juni itu, matahari bersinar garang di atas Dusun Sembilangan, Desa Hurip Jaya. Namun, angin yang berembus sepoi membuat kita tetap betah berlama-lama di kawasan pinggir laut yang mulai naik daun sebagai lokasi budi daya rumput laut.
Omong-omong, di mana, sih, Dusun Sembilangan itu? Bisa dimengerti jika belum banyak yang mengenalnya. Desa yang terletak di Kecamatan Babelan, Bekasi, ini memang cukup sulit dijangkau. Jalan yang menuju daerah tersebut masih berupa jalan tanah. Kalau hujan lebat turun, beceknya bukan main. Beberapa bagian jalan mengalami kerusakan. Mobil yang melewati jalan tersebut seolah-olah sedang melakukan off road.
Ditambah lagi, untuk benar-benar sampai di Dusun Sembilangan, kita tak bisa menempuhnya dengan berkendara mobil. Sebab, wilayah Dusun Sembilangan dipisahkan oleh kali yang lebarnya kurang lebih 10 meter. Memang ada jalan yang melewati proyek Pertamina, tapi jalan itu masih rusak dan susah dilewati. Untuk menyeberang sungai, kita harus menggunakan perahu eretan. Sebenarnya ini bukan benar-benar perahu, namun rakit dari papan yang ditarik dengan tali, tidak menggunakan dayung.
Sampai di Dusun Sembilangan, barulah kita tersadar betapa dahsyatnya agribisnis terpadu di daerah ini. Di antara rumah penduduk yang tersebar, tampaklah hamparan tambak dengan berbagai ukuran. Sesekali, dari permukaan air tambak yang tampak begitu hijau lumut itu muncul ikan bandeng berenang di permukaan air. Kalau kita perhatikan lebih teliti lagi, ternyata kolam hijau itu juga berisi rumput laut dan udang windu.
Berkat kolam-kolam rumput laut, udang, dan bandeng yang dibiakkan bersamaan itulah penduduk dusun ini hidup berkecukupan. Jadi, meskipun jalannya jelek dan rumah penduduknya sederhana, masyarakat dusun ini bisa dikategorikan cukup sejahtera. Buktinya, dalam sebulan penghasilan mereka bisa mencapai paling sedikit Rp 3 juta. "Bahkan ada yang penghasilannya Rp 15 juta-Rp 20 juta per bulan," tutur Handy Pardjoko, Managing Director PT Ohama Indonesia.
Bisa panen tiap bulan
Sejak 2001, Dusun Sembilangan memang menjadi pusat pengembangan budi daya produk perikanan organik dengan menggunakan sistem polikultur. Adalah PT Ohama Indonesia yang memperkenalkan sistem tersebut kepada penduduk Dusun Sembilangan.
Apa, sih, polikultur itu? Polikultur sebelum ini sudah dikenal dengan istilah tumpang sari. Nah, dengan sistem polikultur ini, penduduk Dusun Sembilangan melakukan usaha budi daya rumput laut glacilaria di tambak. Selain itu, di dalam tambak tersebut juga dibudidayakan udang windu dan ikan bandeng.
Sistem polikultur ini memang jauh lebih menguntungkan ketimbang mengusahakan tambak biasa. Hal itu dirasakan para petambak di Sembilangan. Penduduk dusun ini memang sudah menjalani usaha tambak udang sebelumnya. Hanya, para petambak jarang bisa menikmati hasil usaha mereka. Banyak kendala yang kerap mereka alami. Salah satunya limbah yang keluar dari pabrik-pabrik yang ada di pesisir utara Jakarta yang dialirkan ke laut. Limbah tersebut kerap masuk dan mengendap di tambak mereka.
Akibatnya, panen petani Sembilangan sering tidak maksimal, bahkan gagal total. "Kalau dalam dua bulan saja ada petambak yang bisa memanen udangnya, saya acungkan jempol," kenang Sahid, Ketua RT 06 Dusun Sembilangan, mengomentari kondisi saat itu.
Padahal, para petambak tentu saja tetap harus mengusahakan biaya untuk menghidupi keluarga. Dengan hasil panen yang tidak menentu, tentu saja sangat sulit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. "Waktu saya pertama kali datang ke sini, bisa saya katakan penduduknya berada di bawah garis kemiskinan," ujar Handy.
Dengan melaksanakan sistem polikultur ini, para petambak bisa melakukan panen tiap bulan. Pasalnya, ada tiga produk yang bisa dipanen dari sini, yakni: rumput laut, bandeng, dan udang windu. "Jadi, mereka memiliki cash in tiap bulan," papar Handy.
Sekarang, masyarakat Dusun Sembilangan sudah bisa menikmati manisnya usaha polikultur yang mereka tekuni. Dalam sebulan, mereka mendapatkan penghasilan bersih minimal Rp 2,5 juta dari setiap 1 hektare tambaknya. Maka tak heran, para petambak di desa ini mampu menyekolahkan anak-anak mereka di perguruan tinggi mahal di Jakarta.
Lebih untung pakai tambak bekas
Anda juga tertarik untuk memasuki bisnis polikultur? Jangan khawatir, prospek bisnis ini masih menjanjikan. Pasalnya, kebutuhan rumput laut glacilaria yang merupakan bahan baku agar-agar masih sangat besar. Menurut Handy, kebutuhan rumput laut glacilaria secara nasional sekitar 40.000 ton setahun, sedangkan pasokan dari seluruh Indonesia hanya sekitar 22.000 ton setahun.
Akan halnya udang windu dan ikan bandeng, pasarnya jelas sangat besar. Udang windu banyak dibutuhkan untuk restoran seafood dan untuk konsumsi masyarakat. Permintaan masyarakat terhadap bandeng juga masih sangat besar, khususnya menjelang Tahun Baru China.
Lalu, apa yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ini? Sebelum masuk menjalani usaha polikultur ini, Anda harus memiliki pengetahuan mengenai bagaimana mengelola tambak. Kalau Anda tak begitu mengerti, pastikan Anda menggaet mitra yang benar-benar paham seluk-beluknya. Pasalnya, mengelola tambak ini susah-susah gampang. "Kalau misalnya dia tidak tahu air sedang tawar, dan dia main buka pintu air sembarangan, air di tambak bisa jadi tawar, sehingga isi tambak bisa mati semua," jelas Sahid.
Untuk lokasi tambak, Handy menyarankan investor untuk mencari bekas tambak yang sudah tidak produktif, ketimbang membeli lahan yang belum jadi tambak. Pasalnya, "Ongkos gali untuk membuat tambak bisa sama mahalnya dengan membeli satu bekas tambak," kata Handy.
Harga bekas tambak mencapai Rp 30 juta-Rp 50 juta satu hektarenya. Untuk mendapatkan hasil tambak yang maksimal, idealnya luas tambak mencapai 5 hektare. Jangan bingung tidak kebagian bekas tambak. Menurut data yang dimiliki Handy, di Indonesia ada sekitar 400.000 hektare bekas tambak. "Di antara itu yang produktif cuma sekitar 1.000 hektare," ucap Handy.
Tapi, jangan asal caplok tambak. Lokasi tambak untuk polikultur juga harus berada di dekat pantai, sehingga dia memiliki akses ke air asin. Selain itu, harus tersedia pula sumber air tawar untuk menurunkan salinitas atau kadar keasinan air. Pasalnya, kalau air tambak terlalu asin, rumput laut tidak bisa tumbuh maksimal. "Rumputnya jadi kerdil," jelas Handy. Air tambak juga tidak boleh menjadi sangat tawar, yang bisa menyebabkan rumput laut mati. Minimal salinitas air tambak adalah 20 ppm (part per million).
Setelah tambak siap dan sudah diisi air, Anda harus menyiapkan modal kurang lebih Rp 4 juta untuk pembelian bibit. Ini meliputi bibit rumput laut, udang windu, dan bandeng. Bibit pertama yang disebar adalah bibit rumput laut. Setiap hektare tambak diperlukan bibit rumput laut sekitar 1 ton-1,5 ton.
Sekitar 10 hari setelah itu, klekap-sejenis jamur yang biasa tumbuh di rumput laut-mulai tumbuh. Klekap ini adalah makanan alami ikan bandeng. Artinya, bibit bandeng bisa mulai disebar. Jumlah bibit yang disebarkan sekitar 1.500 ekor per hektare. Setelah itu, seminggu kemudian bibit udang windu sejumlah 5.000 ekor mulai bisa ditebarkan.
Pemilik tambak sebaiknya sering-sering mengecek tambaknya. "Untuk mengecek air dan membuka-menutup pintu air untuk mengganti air," ucap Sahid. Penggantian air dilakukan setiap tiga hari sekali. Ini dilakukan agar air tidak terlalu keruh, sehingga rumput laut bisa menyerap sinar matahari.
Devan 19-10-2006, 08:46 AM Sekali tebar bibit bisa panen berkali-kali
Kalaupun pemilik tambak tidak bisa selalu mengecek kondisi tambaknya, dia bisa menempatkan pegawai untuk mengelola tambak. Tentu saja, pegawai tersebut harus memahami cara-cara mengelola tambak.
Panen bandeng dan udang windu sudah bisa dilakukan dua sampai tiga bulan setelah penyebaran bibit. Namun, harus diingat, jangan sampai semua bandeng dan udang windu dipanen. Soalnya, bandeng berfungsi memakan klekap yang biasanya menempel di rumput laut. Supaya fungsi tersebut tetap berjalan, setelah sebagian bandeng dan udang windu dipanen, bibit baru harus langsung disebarkan.
Panen perdana rumput laut bisa dilakukan setelah mencapai usia empat bulan atau paling cepat tiga bulan. Setelah rumput laut dipanen, rumput laut harus dibersihkan dalam tambak. Gunanya agar spora rumput laut bisa menyebar lagi, dan rumput laut baru bisa tumbuh.
Saat tambak dibersihkan, biasanya tangkai rumput laut akan patah dan jatuh ke dasar kolam. Tangkai itu kemudian tumbuh, berkembang; dan bila pertumbuhannya bagus, dalam waktu 45 hari kemudian rumput laut sudah bisa dipanen kembali. Demikian seterusnya, hingga setelah panen kedelapan, baru pemilik tambak mengganti rumput lautnya dengan bibit yang baru untuk hasil yang maksimal. Bahkan, Sahid mengaku mulai pertama menanam sampai sekarang belum pernah sekalipun mengganti bibit rumput lautnya.
Kalau pengelolaan tambak dilakukan secara benar, dalam setiap kali panen petambak bisa menghasilkan sekitar 1,5 ton rumput laut kering dari satu hektare tambak. Sementara, setiap tambak bisa menghasilkan udang sekitar 75 kilogram. Untuk bandeng hasil per tambak bisa mencapai sekitar 300 kilogram.
Oh, ya, untuk melakukan panen rumput laut, para petambak di Babelan biasanya menyewa kuli. Kuli-kuli ini nantinya yang akan melakukan panen, menjemur hasil panen, mengepaknya dan membawanya ke gudang. Untuk lima hektare tambak, biasanya petambak menyewa tenaga kuli dua tim; satu tim terdiri dari dua orang. Mereka dibayar per kilogram, sesuai dengan banyaknya hasil panen yang mereka kumpulkan. "Satu tim biasanya dibayar Rp 800-Rp 1.000 per kilogram," tandas Sahid.
Karena petambak di Babelan bermitra dengan PT Ohama Indonesia, hasil panen rumput laut tersebut dibeli lagi oleh PT Ohama Indonesia. Harga pembelian rumput laut dari PT Ohama Indonesia berkisar Rp 2.000-Rp 3.500 per kilogramnya. "Tergantung dari kualitas rumput lautnya," jelas Handy.
Adapun untuk bandeng dan udang windu, biasanya ada pengepul yang datang membeli ke petambak. Per kilogramnya, bandeng bisa dihargai Rp 10.000. Adapun harga jual udang windu tergantung dari ukurannya. Untuk udang windu ukuran 20 (dalam satu kilogram ada sekitar 20 ekor udang), harga sekilogramnya bisa mencapai Rp 75.000-Rp 80.000. Udang windu ukuran 10 (dalam satu kilogram ada sekitar 10 ekor udang) harganya bisa mencapai Rp 100.000 per kilogram .
Dengan begitu, setiap kali panen petambak bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 12 juta. Dalam sebulan, penghasilan bersih petambak bisa mencapai Rp 15 juta. Hmm, menarik bukan?
Baca tabel dibawah ini !!! (hanya untuk yang browser nya bisa FLASH !!)
TABEL SIMULASI BISNIS POLYKULTUR (http://img132.imageshack.us/img132/156/usahaagripolikulturpx5.jpg)
Devan 19-10-2006, 08:49 AM Peluang Usaha: Memacu Peruntungan si Roda Dua
http://img222.imageshack.us/img222/8731/waralabarajamotorsl1.gif
Melongok supermarket onderdil dan aksesori Raja Motor
Populasi sepeda motor saat ini lebih dari 30 juta unit, dan akan terus bertambah. Hal ini membuat bisnis onderdil dan aksesori sepeda motor bisa terus berputar. Bagi yang ingin mengadu untung bisnis ini, namun tak mau repot memulainya sendiri dari nol, tawaran waralaba Raja Motor bisa jadi alternatif.
Bisnis sepeda motor Indonesia saat ini boleh saja loyo terkena imbas naiknya harga BBM tahun lalu. Namun, bisnis di seputar tunggangan roda dua itu -seperti toko onderdil dan aksesori- tetap berputar kencang. Maklum, populasi kendaraan roda dua yang ngider di jalanan saat ini luar biasa besar, lebih dari 30 juta unit. Meskipun pertumbuhan pasarnya kini menciut, bisa dipastikan populasinya akan terus bertambah, apalagi jika ekonomi kita membaik.
Berbekal optimisme itulah, sejak awal Mei lalu Raja Motor, pemilik jaringan toko aksesori dan onderdil sepeda motor, gencar menawarkan waralaba tokonya. "Beberapa tahun terakhir kan penjualan motor sangat pesat, sehingga pasti ada kebutuhan spare parts dan aksesori dengan pelayanan yang praktis dan dijamin keasliannya," ujar Erie Riza Nugraha, pemilik Raja Motor.
Oh, ya, Raja Motor yang didirikan tahun 1996 oleh pasangan suami istri Erie Riza Nugraha dan Entjik Tachiyah mengusung konsep self service layaknya supermarket. "Kami yang pertama dan satu-satunya toko komponen dan aksesori motor yang menggunakan konsep supermarket seperti ini," klaim Erie. Selain memiliki gerai di Cibubur dan Ciledug, Raja Motor juga sudah lama bekerja sama dengan gerai Rumah Matahari dan juga beberapa toko Alfa Mart.
Raja Motor, kata Erie, menawarkan layanan one stop shopping. Di sini konsumen bisa memperoleh suku cadang, aksesori kendaraan roda dua, spare part racing, kostum motocross, modifikasi, pengaman seperti alarm dan helm, perawatan, sampai pemasangan aksesori. Produk yang dipasarkan di sini mencapai 6.000 item. Dus, perusahaan yang sudah membukukan omzet miliaran per bulan ini juga menerapkan sistem money back guarantee alias jaminan uang bisa kembali apabila kondisi barang yang dibeli mengecewakan pelanggan.
Nah, kepada terwaralaba, Erie menawarkan kemudahan melakoni bisnis ini. "Calon mitra tidak perlu belajar meretas bisnis aksesori motor sejak awal," ujar Erie bernada promosi.
Laiknya sistem waralaba, pihak Raja Motor selaku pewaralaba akan memberikan pelatihan kepada terwaralaba dan pegawainya. Pelatihan yang makan waktu sebulan itu akan ditangani A Action International, sebuah perusahaan konsultan bisnis. "Kami tidak mau main-main menggarap bisnis waralaba ini," imbuh Erie bersemangat.
Selain itu, Raja Motor yang sudah bekerja sama dengan 350 vendor akan memasok berbagai jenis barang dagangan kepada terwaralabanya. Soal harga barang, Erie menjamin, harga di jaringan toko Raja Motor lebih kompetitif dibanding dengan toko aksesori sejenis.
Peminat waralabanya lumayan banyak
Tambah lagi, dengan sistem supermarket, pelanggan tidak perlu tawar-menawar harga sampai mulut berbusa dan khawatir dibohongi. Sebab, semua harga item yang dijual di Raja Motor sudah harga pas (fixed price). "Pada setiap barang, kami juga memberi label berisi hotline telepon, faksimili, e-mail, dan SMS, untuk memudahkan pelanggan yang mau komplain," ujar Erie.
Dengan berbagai kelebihan itu, masih kata Erie, tawaran waralabanya mendapat sambutan cukup baik dari pasar. Hampir sebulan ditawarkan, Raja Motor sudah menerima 35 calon terwaralaba yang serius menyatakan minatnya.
Pada prinsipnya, tandas Erie, Raja Motor menawarkan waralaba secara umum. Dia tidak membatasi jumlah terwaralaba berdasarkan area. Jadi, di satu kota bisa terdapat beberapa terwaralaba. Untuk tahap awal ini, target utama pengembangan jaringan waralaba Raja Motor adalah Jakarta, Surabaya, Samarinda, Balikpapan, dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia.
Siapa pun yang tertarik pada tawaran ini tentu kepingin tahu berapa besar modal awalnya. Nah, untuk menjadi terwaralaba, Anda harus menyediakan dana sedikitnya Rp 340 juta.
Dana ini sudah termasuk franchisee fee sebesar Rp 50 juta untuk 5 tahun kontrak kerja sama. Selain itu, ada porsi biaya untuk set up toko, legal fee, dan modal kerja awal sebesar Rp 20 juta. Modal kerja ini digunakan sebagai cadangan jikalau usaha Anda belum menunjukkan perkembangan di bulan-bulan pertama, padahal Anda harus tetap bayar karyawan dan biaya operasional lain.
Modal itu juga sudah termasuk modal yang Anda butuhkan untuk membeli persediaan barang dagangan dengan nilai sekitar Rp 125 juta. Tapi, modal itu belum termasuk sewa gedung atau toko yang besarnya bergantung pada lokasi dan daerah yang Anda pilih.
Selain modal, terwaralaba tentu harus pula memiliki tempat usaha yang baik. Lokasinya, kata Erie, haruslah strategis dan gampang diakses oleh pelanggan. "Lokasi toko harus bisa dilalui sepeda motor," ungkap mantan manajer di IBM ini. Luas ruangnya minimal 50 m2.
Sistem waralaba ini bebas royalti
Setiap toko milik terwaralaba harus menyediakan minimal 1.000 item barang. Terwaralaba tak bebas menentukan sendiri harga barang yang dijualnya. Sebab, pihak pewaralabalah yang akan mematok harga jual. Dengan begitu, harga yang berlaku di semua toko Raja Motor seragam, dan terwaralaba tidak bisa sembarangan menaikkan atau menurunkan harga barang.
Erie menargetkan, setiap gerai terwaralaba harus bisa mencetak omzet Rp 5 juta sehari atau Rp 150 juta per bulan. Terwaralaba Raja Motor tak perlu membagi keuntungan dari omzet itu dengan membayar royalty fee kepada pewaralaba. Sebab, sistem waralaba ini bebas biaya royalti.
Tapi, Erie buru-buru menambahkan, apabila ada acara promosi, pihaknya akan memungut biaya promosi sebesar 5% dari laba bulan berjalan. Biasanya promosi ini diadakan 3 bulan-6 bulan sekali, tergantung dari event yang tengah digelar.
Mitra terwaralaba Raja Motor akan mendapat keuntungan 5%-20% dari omzet yang diperolehnya. Jika target omzet tersebut terpenuhi dan terwaralaba bisa mengoperasikan gerainya dengan efisien, maka menurut hitungan Erie, waralaba ini akan balik modal dalam waktu sekitar 3 tahun.
Namun, yang harus diperhatikan, persaingan di bisnis jual beli onderdil dan aksesori motor ini cukup ketat. Itu artinya, terwaralaba harus bersiap bersaing dengan bengkel-bengkel konvensional yang biasaya juga menyediakan aksesori dan onderdil motor.
Baca tabel dibawah ini !!! (hanya untuk yang browser nya bisa FLASH !!)
TABEL SIMULASI BISNIS ONDERDIL ASESORIS RAJA MOTOR (http://img219.imageshack.us/img219/7360/waralabarajamotormm1.jpg)
Devan 19-10-2006, 08:56 AM Peluang Usaha: Jadilah Saudagar hingga ke Pelosok
http://img81.imageshack.us/img81/2390/usahajadilahdr2.gif
Menjajal tawaran minimarket syariah ala PNM
Minimarket di kota memang sudah berjibun. Tapi, di daerah dan desa, peluang bisnisnya masih besar. Jika tertarik, ada tawaran minimarket syariah dari PNM. Dengan pasokan minimal 1.000 item barang berharga grosir, usaha bermodal Rp mulai 225 juta ini bisa balik modal dalam 3 tahun.
Minimarket bisa dikatakan kembangnya jalan di kota-kota besar. Di Jakarta dan sekitar misalnya, minimarket telah bercokol hampir di semua ruas jalan, mulai jalan besar hingga kompleks perumahan. Saking banyaknya, belanja di toko ritel modern ini sama gampang dengan belanja di warung tetangga.
Tapi, di pelosok pedesaan, kehadiran toko modern dengan pendingin ruang plus aneka barang tertata apik, hmm..., ini termasuk baru. Apalagi jika harga jualannya tak kalah dari harga barang di pasar atau warung, tentu minimarket bakal menyedot banyak pembeli.
Inilah yang sedang ditawarkan Permodalan Nasional Madani (PNM) lewat jaringan minimarket miliknya: Madani Mart. "Orang desa kalau mau belanja sembako atau elektronik kan selalu ke kota, jadi harus keluar ongkos transportasi," ujar Erwin Mardjuni, Direktur PNM. "Dengan kehadiran Madani Mart, mereka tak perlu ke kota. Duit ongkosnya bisa ditabung, deh," sambungnya.
Setelah sukses dengan proyek pionir Madani Mart di Aceh pasca-tsunami, kini perusahaan plat merah ini menawarkan kerja sama pembukaan gerai Madani Mart ke masyarakat luas. Tapi, untuk saat ini, peluang baru terbuka di daerah yang sudah memiliki PNM Daerah atau afiliasinya yang saat ini sudah ada di 18 provinsi. Oh, ya, meski fokus di daerah-daerah, peluang membuka Madani Mart juga terbuka di perkotaan, asal pasarnya ada.
"Ini sistemnya waralaba plus atau kami sebut mitralaba," kata Budi Hartanto, Kepala Bagian Business & Trade Services PNM. Seperti waralaba, PNM lewat perpanjangan tangannya, PT Madani Mart Indonesia (MMI), akan memberikan pembinaan, mencarikan pasokan barang, dan memberi hak penggunaan nama Madani Mart kepada si mitra.
Berbeda dari franchise konvensional, dalam sistem mitralaba yang menganut paham syariah ini tak ada franchise fee. "Kami memungut biaya inisiasi, dan ini hanya dibayarkan sekali," tandas Budi. Selain itu, dalam sistem mitralaba ini juga tak ada royalty fee atau management fee yang besarnya dihitung dari omzet.
Nah, sesuai prinsip syariah, dalam sistem mitralaba ini ada sistem bagi hasil kepada pihak-pihak yang terkait operasional gerai. Dan, memang cukup banyak pihak yang akan menikmati bagi hasil ini.
Pertama, PNM selaku pemegang merek akan memperoleh bagi hasil sebesar 5% dari laba bersih per bulannya.
Kedua, MMI selaku national head office (NHO) akan memperoleh pembagian keuntungan 15%. MMI bertugas menyiapkan sistem serta koordinasi jaringan secara nasional. Perusahaan yang mempekerjakan beberapa mantan pegawai di perusahaan ritel besar inilah yang melakukan deal dengan produsen barang seperti Unilever dan perusahaan consumer goods lainnya. "Kami memperoleh harga yang sama dengan harga pembelian hipermarket," imbuh Budi.
Ketiga, PNM Daerah yang bertugas melakukan koordinasi di daerah akan memperoleh pembagian keuntungan 10%.
Keempat, regional holding office (RHO), yang mengurusi pasokan barang ke seluruh gerai Madani Mart, menentukan harga jual di setiap gerai. RHO memperoleh pembagian keuntungan 15%.
Barang tambah banyak, pembeli meningkat
Pihak kelima, adalah si mitra yang memiliki dan mengoperasikan gerai Madani Mart sendiri. Mitra ini bisa berupa koperasi, perusahaan, atau individual. Ada tiga tipe investasi yang bisa jadi pilihan calon mitra dengan modal sekitar Rp 225 juta-Rp 325 juta dengan luas ruang 50 m2-150 m2 (lihat tabel: Tiga Paket dari Madani Mart).
Oh, ya, selain berbagai barang industri yang pengadaannya dikoordinasikan secara nasional, sekitar 40% dari barang dagangan juga bisa berupa produk lokal. Misalnya, bahan makanan yang cepat rusak. "Pemilik gerai bisa mengajukan produk lokal yang ingin dijualnya kepada RHO," tandas Budi.
Yang unik pada sistem mitralaba Madani Mart ini adalah sistem harga berjenjang. Ada lima tingkatan harga di Madani Mart yang juga berfungsi sebagai grosir besar. Harga jual termurah diberikan kepada pembeli grosir sedang, disusul ke grosir kecil, pedagang warung, ke anggota, dan yang paling mahal ke pembeli ritel biasa.
Pemilik gerai ini akan memperoleh pembagian keuntungan sebanyak 55% dari laba bersih gerai per bulan. Angka ini boleh jadi tampak kecil. Lalu, apa enggak mendingan buka toko sendiri saja?
Budi meyakinkan, keuntungan pemilik toko dalam jaringan Madani Mart lebih besar dari pemilik toko biasa. "Dengan masuk ke jaringan Madani Mart, item barang yang mereka jual akan banyak, minimal 1.000 item, harganya pun murah," tandasnya. Dengan item barang lebih beragam dan harga bersaing, menurut Budi, penjualan akan meningkat.
Setidaknya, hal ini sudah dibuktikan Madani Mart milik KUD Usaha Tani yang berlokasi di Desa Air Putih, Indragiri Hulu, Riau. Sebelum bergabung dengan Madani Mart, toko yang berada di tengah perkebunan sawit ini hanya menjual sekitar 100 item barang. "Kami paling hanya bisa memenuhi 10% kebutuhan masyarakat di sini," beber Sutarno Kudin, Ketua KUD Usaha Tani. Kini, setelah menjadi minimarket dengan lebih dari 1.000 item dagangan, kata Sutarno, mereka bisa memenuhi hampir semua kebutuhan masyarakat sekitarnya.
Walhasil, omzet Madani Mart KUD Usaha Tani yang mulai beroperasi 28 Februari 2006 ini pun melejit. "Dulu omzet kami paling Rp 110 juta setahun. Setelah jadi Madani Mart, kini sebulan penjualan kami sudah sekitar Rp 165 juta sebulan, dengan laba bersih Rp 8 juta," beber Sutarno gembira.
Dengan keuntungan segitu, Sutarno yakin modal sekitar Rp 250 juta yang mereka tanamkan bakal kembali dalam 3 tahun. Nah, Anda ataupun koperasi Anda kepengin jadi juragan minimarket di daerah?
Baca tabel dibawah ini !!! (hanya untuk yang browser nya bisa FLASH !!)
TABEL SIMULASI BISNIS MINIMARKET DI DAERAH (http://img80.imageshack.us/img80/9885/usahaminimarketdaerahgd8.jpg)
Devan 27-11-2006, 08:30 PM Peluang Usaha : Tatoo Kuku Buat Funky Lifestyle
Kukuku Nail Art ( www.KukukuNailArt.com ) adalah distributor tunggal mesin
tato untuk kuku / digital nail art printer di Indonesia.
Dengan alat ini, akan membuka peluang usaha yang BARU untuk anda yang mau memulai
usaha dengan modal yang relatif kecil dengan peluang pendapatan menjanjikan.
Jenis Usaha:
- Jasa pembuatan art diatas kuku dengan mesin secara OTOMATIS. Disediakan gambar-gambar untuk pencetakan +/- 2000 design2x diatas kuku-kuku baik jari tangan maupun kaki. Gambar juga bisa diambil dari kamera digital, HP Kamera dll.
- Bisa juga dicetak di atas handphone anda.
Potensi Tempat Usaha:
Salon-Salon, Mall-Mall, Sekolah-Sekolah, eksebisi , gedung2x di
sudirman (pekerja)
Target Market:
Executive muda wanita, pelanggan salon, Anak2x ABG, dll
Harga mesin:
mulai dari 10 jutaan - 15 jutaan termasuk training pemakaian alat.
Selain untuk mencetak di kuku jari bisa juga untuk mencetak di kuku kaki, handphone dll.
Jasa ini Per kukunya rp 5.000, 2 tangan Rp. 50.000.
Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi bapak willy di
willy@kukukunailart.com atau kunjungi website kami di
http://www.kukukunailart.com
Devan 08-12-2006, 07:50 AM Peluang Usaha : Bisnis Ikan Hias
Menerabas Bisnis Ikan Hias
Bagaimana mengatasi ketergantungan pada pembeli Singapura?
Potensi ekspor ikan hias Indonesia cukup besar. Sayangnya, masih banyak kendala. Ekspor ikan hias, misalnya, masih didominasi pembeli dari Singapura. Mereka pun leluasa mendikte harga.
Seorang eksportir ikan hias yang namanya, sebut saja, Rudy, kesal benar dengan Departemen Kehutanan. Pasalnya, dia tetap tidak bisa mendapatkan izin menjadi eksportir ikan arwana Irian atau schlerrophagus jardini. Padahal, Rudy mengaku sudah mengurus berbagai persyaratan administratif.
Pantas saja kalau Rudy merasa kesal. Soalnya, arwana yang habitat asalnya di sungai-sungai Merauke ini merupakan ikan yang laku keras di pasar internasional. Bagi eksportir ikan hias, mengekspor ikan arwana berarti membawa keuntungan tersendiri, karena, biasanya sang importir juga lantas membeli ikan-ikan yang lain. "Dengan begitu, kalau bisa mengekspor arwana, bargaining power kepada pembeli di luar negeri lebih besar," kata Rudy.
Ternyata, yang mengeluh soal ketentuan ekspor arwana bukan hanya Rudy. Hendra Iwan Putra, pemilik Harlequin Aquatics, unit usaha yang melakukan ekspor impor ikan hias, juga mengatakan hal serupa. Sebenarnya, ia sudah mengusahakan agar Departemen Kehutanan bisa mengizinkan lebih banyak pelaku eksportir arwana. Namun, sampai sekarang belum berhasil juga.
Menurut Hendra, Departemen Kehutanan mempermasalahkan kelestarian arwana, jika eksportir jenis ini terlalu banyak. Wajar saja. Soalnya, harga arwana juga tidak jelek-jelek amat. Untuk itu, Hendra sudah mengusulkan agar ekspor arwana dibatasi dengan kuota. "Tapi, belum berhasil juga," kata Hendra, yang juga Sekretaris Jenderal Indonesia Tropical Fish Exporters Association (Inafish) ini. Departemen Kehutanan tetap melarang ekspor arwana, kecuali ikan hasil penangkaran.
Masalah yang membelit ekspor arwana, ternyata cuma satu dari sekian banyak masalah dalam bisnis ikan hias Indonesia. Alhasil, meski Indonesia memiliki banyak sekali koleksi ikan hias, para eksportir kita bak tidak bergigi di pasar internasional.
Kok, kalah jauh dengan Singapura
Sebagaimana terungkap dalam salah satu seminar Indonesia Fish akhir September lalu, sebenarnya Indonesia telah menjadi eksportir ikan hias sejak 1970-an. Pasarnya Singapura dan Hongkong, dengan nilai ekspor sekitar US$ 100.000 setahun. Dari dua negara tersebut ikan hias Indonesia diperdagangkan ke seluruh penjuru dunia.
Menurut data, tercatat tidak kurang dari lima puluh negara sudah menjadi pasar ikan hias Indonesia. Tapi, karena melalui tengkulak di Singapura dan Hongkong, devisa yang kita peroleh dari perdagangan ikan hias internasional ini tidak terlalu besar. Sejauh ini, devisa ikan hias tertinggi adalah US$ 12 juta, pada 2002.
Ironisnya, Singapura justru mengungguli Indonesia dalam hal perdagangan ikan hias. Mereka mendominasi pasar Eropa sampai 25%, sementara ekspor Indonesia ke sana cuma tercatat 9%. Singapura juga memegang 30% pangsa ikan hias Amerika, sementara Indonesia hanya 6%.
Namun, sebagian eksportir Indonesia rupanya sudah puas dengan memasok ikan hias pada para pembeli Singapura. "Padahal, para eksportir Singapura ini bisa menjual kembali dengan harga berlipat-lipat ke pembeli di negara lain," kata Hendra. Dulu, Hendra mengaku juga menjual ikan ke Singapura, tapi belakangan ia merintis sendiri pasar Eropa dan Amerika. Alhasil, para pembeli di Singapura memegang peran yang penting dalam penentuan harga.
Hendra memberi contoh fenomena ikan botia yang berasal dari Pontianak dan Jambi. Ketika sedang panen, harga ikan botia cuma Rp 2.000 seekor. Pembeli Singapura menetapkan harga Rp 2.000 per ekor, dan eksportir Indonesia pun sepakat. Biasanya, pembeli Singapura memborong ikan botia dalam jumlah besar dan menyimpannya. Ketika panen berakhir, mereka akan menjual ikan tersebut dengan harga berlipat ganda. Padahal, saat itu pula, biasanya importir dari Eropa dan Amerika mencari ikan langsung dari sumbernya di Indonesia. Tapi, apa daya, ikan yang sama sudah diborong pedagang Singapura. Hal ini terjadi berulang kali. Menurut Hendra, pedagang kita jadi sangat bergantung pada Singapura.
Mempertemukan eksportir dan importir langsung
Sumpeno Suryo, Dirjen Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran, Departemen Kelautan dan Perikanan, sepakat bahwa para eksportir Indonesia harus melepaskan ketergantungannya pada Singapura. Itu sebabnya, departemennya secara rutin menyelenggarakan pameran ikan hias di dalam negeri dan luar negeri. Misalnya, mereka pergi ke Jerman, RRC, dan Taiwan. "Tahun depan kami juga akan pameran di Jepang," kata Sumpeno. Melalui pameran itu, para eksportir Indonesia bisa bertemu langsung dengan importir dari Amerika dan Eropa.
Di sisi lain, Sumpeno mengakui bahwa para eksportir Singapura mempunyai kelebihan sehingga bisa menguasai pasar ikan hias di berbagai negara. "Mereka bisa menjaga kontinuitas pasokan, jumlah, mutu, dan ukuran," katanya. Hal ini bisa dilakukan karena mereka memiliki fasilitas raiser untuk membesarkan ikan hias. Fasilitas serupa itu baru saja dibangun di Cibinong.
Selain harus sering-sering mempertemukan eksportir dan importir langsung, menurut Hendra, pemerintah juga harus membenahi beberapa aturan yang relevan. "Banyak ketentuan pemerintah yang tidak mendorong daya saing ikan hias Indonesia," katanya. Ia menunjuk ketentuan soal ekspor arwana tadi.
Menurut Hendra, Menteri Kehutanan menetapkan arwana hanya sebagai satwa buru untuk upacara adat, pangan, dan penangkaran. Tapi, akibat aturan tersebut, ikan ini lantas banyak dicari dan harganya menjadi mahal. Tambah lagi, "Ikan ini tetap bisa keluar negeri lewat penyelundup," kata Hendra. Soalnya, jardini ini tidak masuk daftar larangan CITES. Maka, kata Hendra, ada pembeli Eropa yang heran karena ia tidak bisa mendapatkan arwana di Indonesia, tapi malah bisa membelinya di Singapura. Nah, lo!
Tawarkan Ikan Andalan
Hendra Iwan Putra, Sekretaris Jenderal Indonesia Tropical Fish Exporters Association (Inafish), mengatakan bahwa Indonesia merupakan surga bagi ikan hias. "Negara kita itu sumber ikan hias yang bagus," ujar Hendra. Ia mencontohkan, banyak ikan hias dari Afrika yang bisa dibudidayakan di sini, lalu diekspor. Saat ini saja, kita sudah membudidayakan sekitar 300 jenis ikan hias.
Selain ikan hias hasil budi daya, ada dua ikan asli habitat Indonesia yang banyak peminatnya. Yakni arwana dan botia. Ada tiga jenis arwana: arwana jardini dari Papua, arwana super-red dan hijau dari Kalimantan, serta arwana golden red yang bisa diperoleh di Sumatra, Riau, dan Jambi. Adapun sentra ikan botia adalah Pontianak dan Jambi. Ikan hias jenis ini belum ditangkarkan, karena pasokannya konon bisa sampai ratusan juta ekor saat sedang musim. Dua jenis ikan inilah yang seharusnya bisa mendongkrak lagi popularitas Indonesia di pasar ikan hias internasional.
Raiser Ikan Hias Cibinong
Departemen Kelautan dan Perikanan telah membangun pusat pengembangan dan pemasaran ikan hias di Cibinong. Menurut Suwandi Surya, Direktur Raiser Ikan Hias di Cibinong ini, mereka membuat raiser untuk menampung ikan dari petani dan kemudian menjualnya kepada eksportir. Jadi, nantinya di sini bisa menjadi pusat perdagangan ikan hias di Indonesia.
Raiser tersebut berdiri di atas lahan seluas 17,6 ha, tapi sampai sekarang baru 5 ha yang selesai dibangun. Fasilitas yang sudah selesai pembangunannya, antara lain, gedung pengelola yang terdiri dari dua lantai untuk ruang pameran dan memajang ikan hias asli Indonesia. Kemudian ada gedung karantina, yang terdiri dari akuarium berukuran 1 m x 0,5 m x 0,5 m sebanyak 396 buah, gedung raiser dengan 108 akuarium, dan bak penampungan berukuran 2 m x 2 m x 0,5 m sebanyak 216 buah.
Devan 08-12-2006, 10:58 PM Peluang Usaha: Juragan Kedai Kelas Mal
http://img375.imageshack.us/img375/4995/usahajuraganii9.gif
Seluk-beluk bisnis gerai di foodcourt
Membuka gerai di foodcourt berpeluang menguntungkan. Kalau tak mempunyai modal ratusan juta untuk menyewa ruang, Anda bisa membuka gerai dengan sistem bagi hasil. Tak sampai setahun modal Anda bisa kembali.
Mal atau pusat perbelanjaan kini lebih terkenal sebagai tempat rekreasi ketimbang tempat belanja. Hampir seluruh anggota keluarga, mulai si kecil sampai neneknya, ketagihan jalan-jalan ke mal. Tak perlu takut dompet terkuras buat belanja. Orang sudah cukup puas memandangi pelbagai barang-barang keluaran terbaru yang terpajang elok di etalase toko.
Yang penting, kalau sudah capek memandang-mandang etalase, kita akan mengaso dan bersantap di berbagai gerai makanan yang ada di mal tersebut. Tempat makan-baik gerai yang berdiri sendiri maupun gerai di kawasan jajan alias foodcourt-juga menjadi tempat nongkrong mereka yang datang ke mal untuk menonton film atau janjian dengan pacar.
Ini membuat bisnis foodcourt terus berkibar dan layak menjadi alternatif bagi Anda yang tengah mencari ladang usaha yang prospektif. Modalnya tak mengikat, belasan juta juga bisa. Keuntungannya lumayan besar, dan bisa balik modal dalam waktu setengah tahun.
Sistem sewa bagi yang modalnya tebal
Ada dua skema gerai di foodcourt yang bisa Anda pilih. Pertama, sistem sewa ruang. Untuk skema ini, Anda tinggal menanyakan ke pengelola mal apakah ada ruang di foodcourt yang kosong. Kalau ada dan harganya cocok, Anda bisa langsung bersiap membuka gerai. "Untuk mal baru prosesnya paling hanya 1-2 bulan, tapi kalau mal lama bisa 1-2 tahun," ujar Yerati Niolawati, pengelola gerai Crystal Bar di Mal Kelapa Gading.
Laiknya penyewa lain di mal, penyewa ruang foodcourt juga harus membayar sewa ruang plus biaya pemeliharaan (maintenance fee). Rosaline Stella Lie, Senior Associates Director Procon Indah-perusahaan yang memasarkan berbagai ruang perbelanjaan-mengatakan bahwa tarif sewa foodcourt kelas satu di Jakarta rata-rata US$ 75-US$ 100/m2 per bulan. Ini belum termasuk maintenance fee yang berkisar US$ 15 sampai US$ 25/m2 per bulan. Oh, ya, kurs di bisnis ruang mal saat ini adalah Rp 6.000/US$.
Sekilas sewa foodcourt ini lebih mahal dari sewa ruang bila membuka gerai makanan khusus di luar foodcourt, yang sewanya rata-rata hanya sekitar US$ 50-US$ 75/m2 per bulan. Namun, sebenarnya, modal awal membuka gerai makanan di luar foodcourt jauh lebih besar.
Untuk membuka gerai sendiri, selain harus membayar sewa beberapa waktu ke depan, Anda juga harus mengeluarkan duit untuk membeli meja, kursi, AC, alat-alat memasak, dan perlengkapan makan. Di foodcourt, penyewa tak perlu berinvestasi meja, kursi, dan pendingin ruang. Semuanya sudah disediakan pengelola gedung.
Kontrak sewa ruang umumnya jangka panjang, rata-rata 3-5 tahun. Dan, sewanya harus dibayar di muka. Karena itu, gerai sewa hanya cocok untuk mereka yang memiliki modal besar dan nama kedainya sudah cukup terkenal.
Bagi hasil bagi yang modalnya pas-pasan
Kalau modal awal Anda terbilang cekak, ada pilihan kedua, yakni sistem bagi hasil. "Saya memilih sistem bagi hasil karena tak sanggup membayar uang sewa," beber Juju Juriah, pemilik Kedai SK yang berjualan makanan Sunda di foodcourt Mal Ciputra.
Modal awal untuk membuka gerai dengan skema bagi hasil cukup beberapa belas juta rupiah saja (lihat boks simulasi). Selain tak perlu berinvestasi untuk meja, kursi, pendingin ruang, pemilik gerai tak perlu membayar sewa ruang. Sebagai imbalan atas berbagai fasilitas yang dinikmatinya, pemilik gerai harus merelakan sebagian pendapatannya dibagi untuk pengelola foodcourt.
Dengan berbagai kelebihan itu, tak heran peminat foodcourt bagi hasil begitu membeludak. "Dari 40 gerai di foodcourt kami, 80%-nya adalah sistem bagi hasil," ujar Inge Sidharta, Foodcourt Manager Pasar Senggol, Mal Ciputra. Saking banyaknya peminat, daftar tunggu (waiting list) gerai bagi hasil di berbagai mal terkenal itu begitu panjang. "Tadinya saya mau membuka gerai di sebuah mal terkenal, tapi waiting list-nya lebih dari 250. Jadi, saya menyewa saja di tempat yang baru buka," aku Nurat, pemilik gerai di foodcourt ITC Kuningan dan ITC Permata Hijau.
Namun, sistem bagi hasil ini juga menuai kritik. Umumnya pemilik gerai tak puas pada sistem bagi hasil yang ditetapkan pengelola mal. Ambil contoh, pengelola foodcourt Mal Ciputra menarik bagi hasil sebesar 30% dari omzet gerai yang ditargetkan minimal Rp 20 juta sebulan. Jatuhnya Rp 6 juta. Artinya, bila omzet gerai naik, katakanlah menjadi Rp 30 juta, pemilik gedung akan menikmati bagi hasil Rp 9 juta, "Tapi, kalau omzet saya turun menjadi Rp 15 juta, saya tetap harus menyetor bagi hasil Rp 6 juta," keluh seorang pengusaha yang sudah empat tahun membuka gerai di situ.
Selain itu, pengusaha juga mengeluhkan sistem di beberapa mal yang mengharuskan pemilik gerai menyewa peralatan makan dari pemilik foodcourt. Kalau dihitung-hitung, biaya sewa untuk beberapa bulan saja cukup untuk membeli semua perabotan makan yang bisa dipakai bertahun-tahun.
Jangan lupa siapkan menu andalan
Nah, sistem apa pun yang Anda pilih, sewa atau bagi hasil, untuk membuka gerai di foodcourt Anda harus bersiap menghadapi seleksi yang amat ketat. Seleksi pertama, makanan Anda harus lezat dan tak boleh sama dengan gerai lain. Kalau kebetulan ada beberapa calon dengan menu sama, "Kami akan memilih yang masakannya paling sedap," terang Inge. Jumlah dan jenis makanan yang bisa dijual sebuah gerai di foodcourt juga amat terbatas. Paling hanya 5-6 jenis masakan, itu pun harus dari rumpun yang sama. Misalnya, semua masakan harus khas sunda, tak boleh ada menu masakan China-nya.
Pemilik gerai juga harus benar-benar disiplin. Mereka harus membuka dan menutup gerai sesuai dengan jadwal yang ditetapkan pengelola foodcourt. Persediaan makanan pun harus cukup. Bila melanggar, pemilik gerai bisa kena tegur bahkan kena denda. "Kami mendenda Rp 50.000 untuk setiap pelanggaran," ujar Inge. Bahkan, bila pelanggaran dianggap keterlaluan, si pemilik foodcourt bisa saja "mengusir" si pemilik gerai dari malnya.
Bisnis ini memang menggiurkan, tapi menjalankannya membutuhkan ketekunan, kesungguhan, dan disiplin.
Tabel kalkulasi investasi klik ---> disini (http://img454.imageshack.us/img454/5595/simulasibisnisfoodcourtom9.jpg)
Devan 11-12-2006, 11:36 AM Peluang Usaha: Seni Bisnis Pengelola Galeri Lukisan
Bertahan dalam Kanvas Berbingkai
Membuka galeri lukisan gampang-gampang susah. Para pengelolanya harus memiliki jaringan luas sebagai andalan pasar mereka. Sungguh untung gede kalau bisa menjual karya maestro.
Bisnis lukisan memang tidak ada matinya. Ketika bidang usaha lain tiarap karena krisis, orang tetap getol berburu lukisan. Wajar kalau galeri lukisan independen terus bermunculan bak jamur di musim hujan. Ada pemain lama, banyak pula pemain baru. Tentu saja masing-masing punya pasar dan penggemar tersendiri.
Salah satu pemain lama yang masih bertahan adalah Edwin Gallery yang dikelola oleh Edwin Rahardjo. Sudah 20 tahun lebih Edwin menggeluti bisnis ini. "Seni rupa itu tidak pernah selesai dan berkembang terus," ujar Edwin. Tidak mudah tetap bertahan di dunia bisnis lukisan selama dua dekade, namun Edwin melakukannya dengan membentuk jaringan. Selain kerap mendatangkan pelukis mancanegara untuk berpameran di Edwin Gallery, ia juga merangkap jadi manajer sejumlah pelukis.
Kalau sudah begini, bisnis galeri memang tak bisa lepas dari hobi. Maka, Edwin enggan bicara terbuka soal omzetnya. Maklum, bikin galeri bukan semata mengejar keuntungan, tapi bisa pula menjadi lembaga klarifikasi terhadap lukisan seseorang. Selama ini, menurut Edwin, ia menetapkan harga lukisan di galerinya bersama dengan si pelukis. Pembeli pun tidak setiap hari datang ke galerinya ini. "Kadang sebulan enggak laku. Tapi bisa juga sampai 50 lukisan terjual," paparnya pula.
Yang jelas, membangun galeri memang bukan tergolong investasi jangka pendek. Hal itu dirasakan betul oleh Budi Santoso, pemilik Fabulous Gallery, yang baru berdiri setahun lalu di kawasan Kebayoran Baru. Untuk mendirikan galeri ini, Budi merogoh kocek sampai Rp 2 miliar. Sampai sekarang, ia baru sukses menjual sekitar 100 lukisan dengan harga bervariasi.
"Mulai dari kelas lukisan Rp 5 jutaan sampai Rp 300 jutaan," ujar Budi. Jumlah itu tentu tidak cukup untuk segera mengembalikan modalnya. Maklum, untuk operasional saja Budi memerlukan uang sekitar Rp 50 juta sebulan. Karena itu, dia pesimistis akan cepat balik modal. "Ini investasi jangka panjang. Jangan harap setahun dua tahun bisa balik modal," katanya pula.
Dua puluh lukisan dengan untung tipis
Meski omzetnya tidak menentu, banyak galeri independen yang bertahan, seperti milik Edwin. Tengok saja Linda Gallery. Di sana terpajang koleksi pelukis beken seperti Affandi, Hendra Gunawan, Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Dullah, Trubus, dan bahkan pelukis luar negeri seperti Shihu, Walasse Ting, atau Lis Huji. "Galeri saya berdiri sejak 12 tahun lalu," ujar Linda Ma, pemilik Linda Gallery, yang kini sudah memiliki dua cabang, di Kemang dan Singapura.
Menurut Linda, pasar lukisan galeri miliknya adalah kalangan kelas menengah atas. Maklum, Linda menjual lukisan dengan harga mulai Rp 500.000 sampai miliaran. Tentu saja, harga lukisan sangat bergantung pada siapa pelukisnya. Linda mengaku pernah menjual lukisan seharga lebih Rp 4 miliar.
Dalam sebulan Linda bisa menjual minimal 10 lukisan. Tapi ia mengaku sulit untuk menghitung omzet. Linda membuat perbandingan, menjual 20 lukisan bisa jadi untungnya tipis-tipis saja, tapi sekali menjual lukisan maestro, untungnya bisa sangat besar.
Untung saja, Edwin, Budi, dan Linda yakin bisnis ini akan terus berkembang. "Selama proses kreatif terus muncul dunia seni lukis ini pun akan terus berkembang," timpal Edwin pula.
Mereka mengakui bahwa jaringanlah yang mendukung bisnis galeri seperti ini. Tak aneh kalau Edwin dan Budi kerap menggelar pameran lukisan di galeri mereka. Bahkan Edwin sering membawa pelukisnya berpameran di luar negeri. "Saya membawa pelukis saya sendiri, karena lebih mudah bekerja sama," tukas Edwin. Di Fabulous, setiap bulan ada pameran yang wajib digelar.
"Pesertanya bisa 3 sampai 4 orang. Bahkan ada kalanya pameran ramai-ramai sampai 40 pelukis," imbuh Budi.
Lewat pameran itulah hubungan antara kolektor dan penjual lukisan bisa berjalan harmonis. Di samping itu, fungsi pameran adalah untuk saling mengasah pengetahuan. "Jangan sampai ada kolektor yang jadi korban lukisan hasil gorengan," tekan Edwin.
Susah Bernafas di Mal
Galeri tak hanya tumbuh di kawasan permukiman elite. Di pertokoan atau mal hadir pula galeri lukisan independen. Misalnya, Uki Art Studio di Gajah Mada Plaza yang umurnya belum genap setahun. "Baru Desember tahun lalu buka," ujar Andre Hariatmanto, salah satu pelukis dan pengelola Uki Art Studio. Tersedia dua macam lukisan di Uki Art, yakni siluet dan pastel. Harga lukisan siluet lebih murah karena bikinnya sederhana. Membuat sebuah lukisan siluet hanya perlu waktu lima menit. Sedangkan yang pastel bisa sekitar 15 menit.
Harga lukisan, kata Andre, tergantung dari tingkat kesulitan pembuatannya. "Kayak foto bisa 10 hari. Untuk wajah hitungannya per kepala Rp 1 juta. Jadi, kalau suami istri Rp 2 juta," ujar Andre. Namun ia mengaku pernah menjual lukisannya sampai Rp 10 juta.
Ini memang bukan bisnis biasa. Sama dengan Edwin Gallery, tak jarang dalam sebulan sama sekali tak ada pembeli mampir di Uki Art. "Bisnis lukisan memang susah," ujar Andre. Lebih sulit lagi galeri yang bertempat di mal, karena mereka harus berbagi dengan pengelola mal.
Lebih Cemerlang dari Berlian
Koleksi lukisan bukan cuma buat pajangan, tapi juga investasi. Linda Ma, pengelola Linda Gallery, bahkan mengatakan bahwa investasi lukisan bisa lebih menguntungkan daripada investasi berlian. Dia menggambarkan, tiga atau empat tahun lalu lukisan Hendra Gunawan bisa ditawar dengan harga rendah.
"Tapi sekarang bisa berharga belipat-lipat," ujar Linda. Bahkan, harganya bisa sampai sepuluh kali lipat untuk karya yang tergolong master piece. Karena itu, Linda betah menyimpan berlama-lama karya Affandi, Hendra Gunawan, Basuki Abdullah, Popo Iskandar, dan lain-lain. Sedangkan Budi Santoso, pemilik Fabulous Gallery, masih setia menyimpan lukisan Affandi untuk koleksi galerinya.
Yang perlu diperhatikan, kebanyakan kolektor Indonesia menyukai lukisan beraliran realis-ekspresionis. Ciri lukisan ini, bentuk objeknya masih kelihatan jelas. Termasuk juga yang tergolong laku adalah aliran dekoratif-ekspresionis. "Lukisan foto malah tidak begitu laku," urai Budi.
Lukisan kontemporer lebih sulit dijual. Peminatnya masih terbatas, meski pembeli asing sering sangat menyukai aliran ini. Untuk aliran surrealis, persentase lakunya paling tinggi hanya 10%. "Sebenarnya surrealis itu kan hiperrealis. Itu kurang juga. Kita belum sampai ke sana," tukas Budi.
Devan 11-12-2006, 11:45 AM Peluang Usaha: Jajanan Dari Tepung Instan
http://img184.imageshack.us/img184/4299/usahajajanancc9.gif
Menjajaki tawaran usaha makanan dari Bogasari
Ada tawaran paket usaha makanan berbasis tepung instan dari Bogasari. Modalnya mulai Rp 8,8 juta hingga Rp 50 juta. Kurang dari setahun modal Anda bisa balik; asal lokasinya tepat dan Anda kreatif mengembangkan menu masakan.
Banyak orang ragu memulai bisnis sendiri. Kalaupun ada modal, orang belum tentu tahu harus terjun ke bisnis apa. Bila Anda mengalami masalah seperti ini, jangan berlama-lama larut dalam kebingungan. Tawaran paket bisnis makanan dari Bogasari bisa jadi alternatif. "Kami menawarkan berbagai paket usaha yang bisa dengan mudah dijalankan siapa pun," kata Henny Koesoemaharjati, Manajer Food Technology Research Center Bogasari Flour Mills.
Tawaran usaha dari pabrik tepung terigu terbesar di dunia ini bukan waralaba. Jadi, mitra (pembeli paket usaha) tak perlu membayar franchise fee dan royalti. Si mitra cukup membeli paket usaha membuat dan menjual suatu jenis makanan yang bahan bakunya berupa tepung buatan Bogasari.
Selanjutnya, si mitra akan memperoleh peralatan mengolah dan memasak makanan, serta kemudahan memperoleh bahan baku dari Bogasari. "Harga tepung untuk mitra lebih murah dari harga pasar," beber Henny. Ambil contoh, tepung pembuat crepes di pasaran harganya Rp 15.000 sekilo, sedangkan para mitra cukup membeli dengan harga Rp 11.000 sekilo.
Bogasari juga akan memberikan resep-resep pada para mitra sekaligus memberi pelatihan memasak dan menggunakan alat-alat. Pelatihannya hanya 1-2 hari. Henny berkata, waktu segitu cukup karena proses pengolahan makanannya memang sederhana. Bahan baku utamanya berupa tepung campur (premix) siap pakai. Penjual tinggal mencampurkan tepung instan itu dengan bahan tambahan seperti air atau mentega sehingga menjadi adonan siap masak.
Pilih-pilih paket usahanya
Saat ini Bogasari menawarkan empat paket usaha. Satu paket sudah ditawarkan setahun silam. Tiga paket lagi baru diluncurkan awal Oktober lalu. Untuk paket baru ini, Bogasari sudah menjaring 57 mitra baru dari Jakarta, Yogyakarta, Solo, Riau, Makasar, dan daerah lain. Berikut keempat pakat tersebut:
~ Paket Usaha Crepes dan Coins
Paket yang ditawarkan sejak setahun silam ini sudah menjaring 12 mitra. Untuk paket komplet seharga Rp 38 juta, si mitra akan memperoleh 2 unit mesin crepes listrik (alat berbentuk lempengan logam bundar yang panas untuk membuat crepes), 1 chiller (meja stainless yang dilengkapi pendingin).
Selain biaya paket, untuk memulai bisnis jualan kue crepes dan coins ini Anda juga harus menyediakan berbagai biaya lain (lihat tabel 1). Menurut Henny, usaha ini sebaiknya Anda buka di pusat perbelanjaan atau tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang.
~ Paket Usaha Noodle (Mi)
Paket usaha yang bisa dibuka di samping rumah atau pusat keramaian ini harganya Rp 27,5 juta. Isi paket ini terdiri dari: 1 unit meja bain marie (meja stainless yang dilengkapi alat pemanas untuk menyimpan kuah mi), 1 penggorengan, 2 kompor gas berikut tabung dan selang, dan training selama sehari (lihat tabel 2). Menu andalan Bogasari untuk usaha mi ini adalah mi bumbu lada hitam dan mi seafood.
~ Paket Usaha Martabuck
Usaha kelas gerobakan ini paketnya seharga Rp 8,5 juta. Paket ini berisi: 1 unit gerobak desain kanopi, 1 kompor gas burner, 1 cetakan martabak, dan pelatihan selama sehari (lihat tabel 3). Pilihan martabaknya saat ini ada tiga, yakni martabak manis, isi tuna, dan isi stroberi.
~ Paket Usaha Crispy Burger
Harga paketnya Rp 45 juta. Isinya: mesin pembuat crispy burger, chiller, dan training 1 hari (lihat tabel 4). Melihat wujud crispy burger yang berupa lapisan-lapisan tipis nan renyah dengan aneka isi, terkesan pembuatannya rumit. Jangan keder dulu. "Kami menyediakan lembaran-lembaran adonannya, kok," kata Henny.
Harus kreatif mengembangkan resep sendiri
Yang mana pun dari keempat paket itu yang Anda pilih, kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan lokasi yang strategis. Selain itu, kendati semua masakan berbasis tepung instan, untuk menggaet banyak pembeli Anda harus kreatif membuat isi dan bumbu. Bila hanya mengandalkan menu awal dari Bogasari, lama-kelamaan pembeli tentu bosan dan penjualan Anda akan menurun.
Ini dialami Letisia, mitra Bogasari di Lampung yang membeli paket usaha crepes coins. "Awalnya saya bisa mencapai target penjualan, tapi belakangan penjualan menurun, karena produk crepes tak berkembang," keluhnya. Dia juga mengeluhkan sistem paket usaha ini membuat si mitra seolah tak punya ikatan dengan Bogasari. "Mereka seakan enggak mau pusing lagi dengan perkembangan kami," keluh Letisia.
Untuk mengatasi persoalan macam ini, Henny mengatakan, Bogasari berkomitmen terus mengembangkan produk-produk baru. "Paling tidak, dua kali setahun kami akan meluncurkan produk baru, dan kami akan membagikannya secara gratis bagi seluruh mitra," tandasnya. Untuk crepes coins, misalnya, Bogasari baru meluncurkan dua resep baru, yakni tiramisu dan black forest.
Henny mengakui, karena para mitra Bogasari tersebar di berbagai daerah yang selera pasarnya berbeda-beda, urusan membuat produk baru ini memang tak bisa memuaskan semua mitra secara bersamaan. Crepes tiramisu dan black forrest misalnya, digemari orang di kota besar seperti Jakarta, tapi tidak di Lampung. Karena itu, bila benar-benar hendak sukses, Anda tak boleh terlalu bergantung pada pihak lain. Berusahalah sendiri mengembangkan menu dan produk baru.
Tabel kalkulasi investasi klik ---> disini (http://img183.imageshack.us/img183/6961/usahapaketyy0.jpg)
Devan 11-12-2006, 12:12 PM Peluang Usaha: Membuka Warung Nasi Ala Kantong Mahasiswa
Bisnis Makanan Warung Mendulang Sukses di kalangan mahsiswa/pekerja kantor
Banyak kota di Indonesia memiliki sentra pendidikan. Sebut saja kota pendidikandi seperti Jogjakarta, Bandung, Depok, Malang, Jember dan lainnya. Ribuan lulusan sekolah lanjutan atas setiap tahun mendatangi kota-kota tersebut dengan tujuan melanjutkan pendidikan. Ada yang Cuma setahun untuk mengambil Diploma 1, ada yang 3 tahun D3 atau bahkan ada menjadi mahasiswa abadi sampai 7 tahun.
Ribuan orang ini tentunya menjadi aset tersendiri bagi daerah, apalagi di musim Otonomi Daerah. Ada pemilik kos-kosan, pemilik rumah kontarkan, developer perumahan, rumah makan, delaer motor, mall, toko buku, ojek, penarik becak, sopir dan lainnya. Semuanya diuntungkan dengan adanya mahasiswa. Naah, ini kan peluang usaha bagi kita.
Dalam tulisan ini saya mencoba mengupas bagaimana membuka warung nasi. Kenapa warung nasi? Jawabannya mudah. Semua orang butuh hidup. Untuk hidup perlu makan dan minum. Jadi, warung nasi merupakan peluang usaha dengan pasar yang tidak terbatas. Konsumennya bisa mahasiswa, pekerja dan lainnya.
Warung juga tidak hanya terbatas di sekitar kampus, tapi bisa juga di dekat kawasan industri di kota Anda.
Disamping itu, warung nasi memiliki cash flow harian, sehingga modal yang diputar tidak lah terlalu besar, tapi berpeluang menghasilkan keuntungan sebesar 100%. Memang kalau kita tidak memiliki tempat, harus menyewa tempat dengan lokasi yang strategis dan dekorasi awal tentu membutuhkan modal yang lumayan.
Tulisan ini diasumsikan bahwa yang menjalankan usaha adalah orang lain. Dengan kata lain kita memiliki karyawan yang terampil dibidangnya. Sehingga tidak perlu lama-lama ikut kursus masak, tapi carilah orang yang pintar masak. Orang yang dicari bisa berasal dari sekitar lokasi usaha agar memudahkan transportasi atau dari luar kota untuk menekan gaji.
Tahap Persiapan
Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk membuka warung? Ada beberapa hal yang memang perlu dipersiapkan. Urutan berikut ini tidak harus diikuti. Apa yang bisa dilakukan terlebih dahulu, lakukan lah.
1. Pemilihan lokasi.
Usahakan di lingkungan yang banyak anak kos. Tempat ini biasanya disekitar kampus.
Perlu juga diperhatikan, mau mengontrak rumah atau hanya kios. Ini penting untuk memperhitungkan dimana karyawan akan menginap jika didatangkan dari luar kota atau dimana kita akan masak. Apakah masak di rumah dan dibawa ke kios atau tempat itu pula sebagai dapur dan warung. Fasilitas yang sudah ada juga perlu dipertimbangkan, apakah ada sumber air, kamar mandi, tempat cuci piring, tempat masak, dan lainnya.
2. Menentukan menu masakan.
Secara basic, menu masakan bisa dikelompokkan menjadi menu khusus atau umum (banyak ragam menu). Mau berjualan khusus seperti lalapan lele, nasi goreng, sate & gule atau menu campuran.
Kalau mau membuka warung menu khusus, tentunya harus mencari pasar yang lebih luas, karena tidak semua orang suka menu tersebut. Dengan menyediakan menu beragam, setiap orang bisa berganti menu dan setiap hari bisa menjadi pelanggan. Kalau misalnya setiap jam makan kita memiliki pelanggan setia 20 orang saja, tentunya 60 menu terserap setiap hari.
3. Tukang Masak.
Koki bisa dibilang sebagai kunci Utama warung. Ciri khas rasa ada ditangan koki.
Carilah koki yang memiliki cita rasa tinggi. Sesuaikan dengan menu yang akan dijual.
Negosiasikan gaji yang diinginkan. Berilah insentif bila penjualan mencapai target agar mereka betah.
4. Supplier murah
Mencari supplier murah tentu menjadi penting. Dengan supply barang murah, kita akan mampu menekan harga jual atau mendapatkan keuntungan lebih. Jangan membeli barang murah dengan kualitas jelek. Pilihlah kualitas bagus dengan harga lebih murah.
Pencarian bisa dilakukan di pasar, di toko grosir terdekat atau pedagang keliling. Keuntungan pedagang keliling adalah barang diantar ke rumah dan bisa mendapatkan pembayaran tunda. Tapi fasilitas ini pun bisa didapat di pasar/pedagang grosir untuk jarak yang tidak terlalu jauh.
5. Interior & Perabot
Dekorasi warung akan memberikan kesan kepada konsumen. Apakah mau didesain konvensional dengan etalase dan meja memanjang, dengan meja kecil berhadapan atau lesehan. Sesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Kalau memulai warung dari nol, tentunya perlu mencari etalase, meja, kursi & perabot dapur. Kalau ada pasar second di kota Anda tentu bisa menjadi alternatif.
Piring, gelas dan sendok memiliki seni tersendiri. Pemilihan yang tepat akan menambah kenyamanan konsumen.
Faktor pendukung sukses
Ada beberapa faktor pendukung kesuksesan warung, di antaranya:
Harga dan rasa. Bagi mahasiswa menengah bawah, harga adalah nomer 1 dengan mempertimbangkan rasa. Untuk menengah atas, rasa bisa nomer 1 dengan mempertimbangkan harga. Jadi antara harga dan rasa ini setali tiga uang. Makanya, rasa yang enak dengan harga yang terjangkau untuk kalangan mahasiswa merupakan kunci sukses warung nasi.
Menu tambahan. Menu tambahan menjadi daya tarik tersendiri dan juga menambah keuntungan. Menu tambahan bisa berupa variasi minuman seperti soft drink, juice, dll. Menu tambahan bisa juga berupa menu khusus pada hari-hari khusus, misal hari Minggu menyediakan menu khas Bakar Lele.
Kebersihan. Meskipun menyediakan menu murah meriah dan lezat, akan sangat nikmat makan di tempat yang bersih dan rapi. Janganlah memnjual menu yang sudah basi.
Ramah. Pelayanan yang ramah akan membuat pelanggan tidak segan kembali lagi. Carilah karyawan bagian depan yang murah senyum dengan penampilan rapih dan enak dipandang.
Promosi. Promosi bisa dilakukan dengan spanduk, menyebar brosur atau pun memberikan door prize untuk bulan-bulan tertentu.
Jadwal kerja. Membuka usaha warung memang ribet. Pagi-pagi harus sudah belanja dan masak. Bisa jadi siang hari akan menambah masakan atau menghangatkan masakan. Tentunya karyawan akan merasakan kelelahan. Bila kondisi ini terjadi, perlu dipikirkan untuk penjadwalan kerja karyawan.
Jadwal warung pun harus dijelaskan kepada konsumen. Jangan terkesan kadang buka kadang tutup. Tapi pilihlah jadwal tutup yang konsisten.
Warung dengan cash flow harian memiliki konsekuensi bertemu pelanggan yang sama. Tentunya menjalin hubungan lebih dekat akan membuat mereka menjadi pelanggan setia.
Resiko Basi
Setiap bisnis tentu memiliki resiko. Warung juga memiliki resiko tidak laku dan membuat masakan menjadi basi.
Sebagai pengelola warung, tentunya perlu tahu trend ramai dan sepinya warung. Pengelola harus tahu kapan jadwal ujian dan jadwal mahasiswa pulang kampung.
Biasanya ada beberapa lauk yang tahan 2 hari. Jangan beresiko untuk menahannya sampai 3 hari. Misal seperti ikan, pada hari pertama dimasak goreng dan hari kedua dimasak pakai kuah.
Penutup
Ternyata warung memiliki potensi pasar yang tidak terbatas untuk mahasiswa tapi juga lainnya. Membuat warung juga tidak lah serumit yang kita bayangkan. Meski pun ada resiko, tentu resiko itu bisa dimanage dan bisa diminimalkan.
Devan 11-12-2006, 12:26 PM Peluang Usaha: Pempek ala Lampung
http://img184.imageshack.us/img184/2223/kedaipempekqu4.gif
Pempek ternyata merupakan pilihan oleh-oleh dari Lampung, selain kopi dan keripik pisang. Ada sepotong jalan di ibu kota provinsi ini yang dipenuhi pedagang pempek.
Menyebut penganan pempek, pikiran kita tentulah melayang ke Palembang. Maklum saja, makanan dari ikan ini terkenal sebagai hidangan khas Palembang. Kendati belakangan pedagang pempek sudah tersebar di seluruh pelosok Indonesia, tetap saja ada pemeo, belum ke Palembang kalau tidak mencicip pempeknya.
Namun, ternyata oleh-oleh pempek bukan cuma milik wong kito. Dari Lampung kita juga bisa menenteng pempek yang masih mentah dan berbungkus tepung. Pempek lampung bahkan sudah menjadi pilihan oleh-oleh, selain kopi dan keripik pisang. Tak usah bingung, soalnya kebanyakan pedagang pempek di Lampung ya keturunan orang Palembang juga.
Meski namanya sama-sama pempek, ternyata ada perbedaan antara pempek lampung dan palembang. Menurut Hendrayatie, pengelola kedai Pempek 75, pempek lampung kebanyakan diolah dari ikan tengiri, bukan ikan belida. "Kalau di sini, sulit cari ikan belida," ujarnya. Aroma ikan tenggiri, lebih amis ketimbang ikan belida. Untuk menghilangkan rasa amis itu umumnya pembeli minta pempeknya digoreng. "Tapi kalau sudah biasa, ya tidak terasa amisnya," sambung Hendrayatie.
Selain diburu para wisatawan, penduduk setempat juga suka menyantap pempek lampung. Biasanya pemilik kedai sudah menyediakan mangkuk kecil di tiap meja untuk menaruh kuah cuka. Si pembeli akan mencocolkan pempek yang sudah digoreng ke dalam kuah. Tapi, aturan ini cuma berlaku untuk pempek yang berukuran kecil. Kalau pempek kapal selam, lazimnya, disajikan bersama mi putih, irisan mentimun, dan ebi, serta diguyur kuah banyak-banyak. Nah, jangan kaget kalau pempek juga menjadi menu sarapan warga sekitar.
Lantas, di mana berburu pempek untuk oleh-oleh dari Lampung itu? Gampang, susuri saja sepanjang Jalan Mayor Salim Batubara, Bandar Lampung. Di situ, tak kurang dari sebelas toko pempek berderet menanti pembeli. Kebanyakan pembeli pempek meminta agar belanjaan mereka dibungkus. Para penjualnya juga sudah terbiasa mengemas pempek mentah untuk oleh-oleh, caranya dengan melumuri pempek tersebut dengan tepung sehingga bisa tahan lebih lama. Umumnya, pempek mentah dapat disantap sampai seminggu ke depan, jika disimpan dalam freezer.
~ Pempek 75
Inilah kedai pelopor pempek lampung. Sampai kini, Anda juga masih bisa mencicipi racikan sang perintis, yakni Ny. Aten. Pasalnya, menurut Hendrayatie, pengelola Pempek 75, kendati sudah berusia 68 tahun, Ny. Aten masih meracik sendiri adonan pempek ikan tengirinya seperti tempo doeloe. "Tapi, untuk mengurus warung, Mama sudah tidak kuat lagi," ujarnya. Dalam sehari, Ny. Aten harus mengolah 5 kg ikan. Kebutuhan itu akan meningkat dua kali lipat saat akhir pekan atau liburan.
Di sini, pembeli bisa memilih varian pempek lenjer, telur, pastel, lenggang, kapal selam, model, serta tekwan. Harganya antara Rp 1.500 sampai Rp 15.000 seporsi. Menurut Hendrayatie, mereka membuat cuka untuk kuah dari cuka putih biasa. "Tidak pakai campuran asem, biar lebih terasa cukanya," cetusnya. Kuah cuka untuk menyantap Pempek 75 dibikin dari cuka, cabe, bawang putih, gula merah, serta kecap manis.
~ Pempek 88
Toko pempek ini sudah berumur sepuluh tahun. Menurut Zaenury, pengelola Pempek 88, mereka menyediakan pempek gelondong, lenggang, rujak tahu, tekwan, model, kapal selam, keriting, bulat, dan pastel. "Favorit di sini adalah pempek bulat yang kayak bakso," ujarnya.
Saat melongok daftar harga, ternyata pempek di kedai tersebut agak lebih mahal ketimbang toko pempek lain. Kata Zaenury, penyebabnya adalah karena mereka menggunakan ikan belida sungai. "Harga ikan kami bisa Rp 60.000 sekilogram," katanya. Lebih lagi, ikan tersebut tidak bisa dicari di Lampung, jadi harus didatangkan dari Kalimantan, Pekanbaru, Riau, atau Jambi.
Bukan tanpa alasan kalau mereka memilih ikan belida yang mahal. Pasalnya, Zaenury bilang, pempek nomor satu ya pakainya ikan belida. "Kalau pakai belida, pempeknya lebih pulen dan gurih," sambungnya.
~ Pempek Mawar 88
Rika, pemilik Mawar 88, mengatakan bahwa kedainya ini baru berumur dua tahun. Meski demikian, ibunda Rika sudah pernah berdagang pempek di kawasan tersebut beberapa tahun lalu. Namun, usaha itu tak berjalan lama, karena mereka tak punya tempat. "Sayang, dong, kan sudah banyak orang tahu," cetus Rika. Maka, mereka pun lantas mendirikan Mawar 88.
Tak beda dengan toko lain, di sini ada varian lenggang, model, tekwan, kapal selam, dan rujak tahu. Harganya antara Rp 1.250 sampai Rp 12.500 satu porsi. Bahan pempeknya menggunakan ikan tengiri. "Kalau pas ramai, sehari bisa habis 20 kg ikan tenggiri," kata Rika. Di hari biasa, mereka cukup mengolah 15 kg ikan saja. Di Mawar 88, rasa kuah cukanya agak berbeda karena diimbuhi potongan tongcay. "Supaya rasanya lebih sedap dan wangi," kata Rika.
Menguntit Sukses Ny. Aten
Sepotong Jalan Mayor Salim Batubara di kawasan Kupang Tebahan, Bandar Lampung, sudah terkenal sebagai pusat pempek lampung. Ada sekitar sebelas kedai pempek. Perintis kawasan pempek lampung tersebut adalah Ny. Aten, yang masih meracik sendiri pempeknya di Kedai Pempek 75.
Waktu itu, sekitar tahun 1960-an, Ny. Aten berjualan pempek keliling kampung dengan tas pasar yang besar. "Dulu di sini masih kayak hutan. Rumah masih jarang," kata Hendrayatie, anak Mama Aten yang kini mengelola Pempek 75. Keahlian sang ibu mengolah pempek diperoleh dari nenek. Maklum saja, Ny. Aten adalah orang asli Palembang. "Orang Palembang kan rata-rata bisa bikin pempek dan kerupuk," kilahnya.
Lelah berkeliling, pada tahun 1979 Ny. Aten membuka kios pempek kecil di depan rumah. Lantaran rumah mereka pas di sebelah kelurahan, pempek bikinan Ny. Aten ini kondang dengan sebutan Pempek Sebelah Kelurahan atau Pempek Aten. Empat tahun lalu, barulah mereka membuat toko yang lumayan besar dan menamainya dengan sebutan Pempek 75, sesuai nomor rumah mereka.
Devan 11-12-2006, 12:32 PM Peluang Usaha: Memerah Untung dari Susu Kambing
http://img186.imageshack.us/img186/6816/usahamemerahnw2.gif
Peluang usaha jualan susu kambing
Kini susu kambing disajikan dalam aneka rasa. Bukan cuma bikin sehat, susu kambing diyakini mujarab mengobati aneka penyakit, bisa menambah gairah seksual, dan merawat kecantikan. Simak peluang bisnisnya.
Konon, setiap bepergian ke luar negeri, Mahatma Gandhi selalu membawa serta kambingnya. Bukan apa-apa, pemimpin karismatik India ini rupanya tidak mau absen dari kebiasaannya meminum susu kambing khas India. Ada juga mitos, ratu yang terkenal karena kecantikannya, Cleopatra, juga pecinta berat susu kambing. Tapi, bukan untuk diminum, Ratu Mesir ini rutin merawat dan merendam tubuh moleknya dalam susu kambing.
Di Indonesia, susu kambing diyakini banyak orang merupakan obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit paru-paru. Di antaranya penyakit asma dan paru-paru basah. Dan, khasiat yang tak kalah heboh, susu si embek bisa menjadi obat kuat yang amat "greng".
Dengan berbagai manfaat dan mitos serupa itu, tak heran peminat susu kambing dari hari ke hari semakin banyak. "Sekarang ini saya sampai kerepotan menangani pesanan yang datang," tutur Dwi Susanto, produsen sekaligus penjaja susu kambing bermerek Prima-Fit dari Ciherang Bogor.
Apa lagi, belakangan bau prengus susu kambing yang selama ini membuat orang enggan menyantapnya sudah bisa dikurangi. Para penjaja susu kambing berhasil mengakalinya dengan cara: menambahkan berbagai rasa dan bahan tambahan ketika mengolah susu murni, sehingga baunya tak lagi menyengat. "Banyak perempuan yang tadinya malas minum susu murni. Tapi, begitu diolah dengan berbagai rasa atau dijadikan yoghurt, mereka menyukainya," jelas Dwi
Kian banyaknya peminat susu kambing tentu saja membuat bisnis pengolahan dan jual beli susu kambing kian menjanjikan. Ini sudah dibuktikan Benny Yusuf, pemilik PT Primaselma, perusahaan penjual susu kambing yang beroperasi di daerah Condet Jakarta. Kini, pengusaha yang menekuni bisnis susu kambing sejak 1997 ini bisa menjual 4.000 liter susu kambing setiap bulan. "Saat-saat tertentu malah bisa sampai 10.000 liter," cetus Benny. Dengan harga jual susu Rp 14.000-Rp 20.000 per liter, Benny mengantongi omzet Rp 56 juta-Rp 80 juta per bulan. Bahkan, di saat permintaan memuncak, Benny bisa mengantongi omzet Rp 200 juta sebulan.
Sukses serupa juga dirasakan Dwi. Saat ini dia bisa menjual 120 liter susu kambing per hari. Dengan harga jual rata-rata Rp 15.000 per liter saja, Dwi mengantongi omzet Rp 1,8 juta sehari atau Rp 54 juta sebulan. Bila kita berasumsi tingkat keuntungan bersih dari bisnis jualan susu kambing ini sama dengan keuntungan bisnis jualan makanan dan minuman lain, yakni 30%, hitung sendiri berapa laba bersih yang dikantongi Benny dan Dwi.
Berminat mengekor sukses mereka? Peluang pasar bisnis susu kambing masih cukup besar. Permintaannya terus bertambah seiring semakin dikenalnya susu kambing, sementara pemainnya belum terlalu banyak. Bila Anda hendak mencoba bisnis ini, modalnya bervariasi, tergantung dari besarnya skala usaha yang akan Anda jalankan. Untuk skala kecil, Anda sudah bisa memulai bisnis ini dengan modal tak sampai Rp 28 juta (lihat tabel: Hitung-hitungan Usaha Penyalur Susu Kambing Skala Kecil).
Harus jeli mencari pasokan
Hal utama dan pertama yang harus Anda persiapkan adalah pasokan susunya, yakni susu segar dari kambing peranakan ettawa. Soalnya, susu kambing segar memang tak bisa diperoleh dengan mudah. Pasokannya pun kalah banyak dari susu sapi. Keterbatasan pasokan ini pulalah yang membuat banyak penjaja susu kambing kelabakan jika mendadak ada permintaan susu kambing dalam jumlah besar.
Maklum, petani memang kurang semangat beternak kambing ettawa. "Kurangnya promosi membuat pamor susu kambing kalah jauh dari susu sapi dan susu pabrik," papar Amelia Yani, pendiri Koperasi Tirta Yani Utama. Saat ini koperasi yang berlokasi di daerah Yogyakarta ini membina dan menampung susu dari 1.000 peternak kambing ettawa.
Kendari pasokannya terbatas, asalkan jeli, Anda bisa memperolehnya. Caranya, seperti dilakukan Dwi. Selain beternak kambing ettawa sendiri, dia juga membeli susu kambing segar langsung dari peternak kambing yang tersebar di berbagai daerah. Selain daerah Yogyakarta, tepatnya di Kulon Progo, sentra-sentra peternakan ettawa juga terdapat di Tegal, Bogor, Sukabumi, dan Lampung.
Kalau tak mau repot-repot berhubungan dengan begitu banyak petani, Anda tinggal berhubungan dengan koperasi-koperasi penampung susu seperti Koperasi Tirta Yani Utama. "Kalau ada yang mau mencari pasokan, kami bisa menyediakan," sambut Amelia Yani.
Kalau pasokan susu segar sudah dapat, faktor penting lainnya yang harus kita perhatikan adalah menjaga kualitas produk. Seperti susu pada umumnya, susu ettawa juga mudah sekali ditumbuhi bakteri, hingga cepat masam dan busuk. Untuk mencegahnya, susu harus selalu berada di suhu yang benar-benar dingin. Karena itulah, begitu susu diperoleh dari peternak dia harus disimpan dalam alat pendingin. "Pada suhu minus 40 derajat Celcius, susu bisa bertahan 3-4 bulan," jelas Benny. Oh, ya, agar susu bisa bertahan lama, dia juga harus melalui proses pasteurisasi (dipanaskan sampai suhu 72 derajat Celcius).
Lebih mahal dengan kreasi sendiri
Urusan pemasaran juga menjadi salah satu kunci sukses di bisnis ini. Maklum, seperti disebutkan tadi, susu kambing memang belum populer di Indonesia. Untuk itu, para pedagang susu kambing harus pandai-pandai memperkenalkan dan mempromosikan produknya kepada khalayak luas.
Bagaimana menarik minat konsumen yang enggan menenggak susu kambing segar lantaran tak tahan bau dan rasanya? Anda bisa mengolahnya. Dengan menambahkan aneka rasa tambahan pada susu segar, selain memperluas pasar, Anda ini juga bisa memetik keuntungan yang jauh lebih besar. Sebab, harga susu olahan lebih tinggi dari susu segar.
Contohnya, Dwi menjajakan susu kambing yang sudah dikreasikan dengan tambahan kelapa muda. Selain itu dia juga menjajakan ramuan susu kambing khusus untuk pembangkit gairah seksual. Dengan tambahan bahan seperti gula, lada hitam, telur, atau kelapa muda yang biayanya tidak sampai Rp 1.000 per gelas, Dwi bisa menjual susu kambingnya dengan harga Rp 6.000 per gelas isi 200 ml. Padahal, harga susu segar tak sampai Rp 3.000 segelas. Dwi yang membuka kafe kecil khusus minuman susu kambing di daerah Ancol ini juga mengolah susu kambing menjadi yoghurt. Harganya Rp 40.000 per liter.
Selain untuk minuman, susu kambing juga bisa dipergunakan untuk perawatan kecantikan. "Satu kali luluran dengan susu kambing biayanya bisa Rp 300.000," tambah Dwi yang juga memasarkan susu kambingnya ke berbagai pusat kecantikan. Nah, ada cukup banyak pasar yang bisa kita sasar. Tinggal kita tentukan saja mau ambil yang mana.
Tabel kalkulasi investasi klik ---> disini (http://img186.imageshack.us/img186/6/usahasusukambingvg4.jpg)
Devan 11-12-2006, 07:37 PM Peluang Usaha: Bisnis Cat Spesialis Wajah
http://i105.photobucket.com/albums/m214/theglint/mukekuoke.jpg
Devan 12-12-2006, 07:39 AM Peluang Usaha: Manisnya Laba Jagung Manis
http://img245.imageshack.us/img245/880/usahamanisnyabk5.gif
Menjajal usaha jagung manis gerobak
Usaha jualan jagung manis kelas gerobak amat menguntungkan. Modal awalnya hanya Rp 8 juta. Keuntungannya lebih dari 20% dan bisa balik modal dalam beberapa bulan.
Syahdan, Ema Holiza tengah berjalan-jalan di kawasan Pondok Indah Mal (PIM), Jakarta. Tanpa sengaja, matanya tertumbuk pada sebuah gerai kudapan jagung manis berlabel Daily Fresh yang tengah dikerubungi puluhan pembelinya. "Saya heran, kok gerobak itu ramai sekali," kenang Ema. Penasaran, Ema pun berburu informasi cara membuka gerai jagung manis tersebut. Kebetulan, sudah cukup lama dia berniat membuka usaha sendiri.
Ema pun menghubungi PT Daily Fresh Indonesia, perusahaan yang menawarkan kerja sama penjualan jagung manis. Dia mengaku tertarik dengan skema kerja sama yang ditawarkan Daily Fresh. Berbeda dari tawaran waralaba yang biasanya memerlukan modal puluhan sampai ratusan juta rupiah, modal untuk membuka gerai Daily Fresh hanya Rp 8 juta. Sudah begitu, tidak ada biaya tetek-bengek seperti royalty fee dan franchise fee atau biaya bagi keuntungan. "Skema ini cocok untuk pengusaha pemula seperti saya yang tidak kuat pada risiko yang tinggi," ujar Ema.
Oktober 2003 lalu, Ema pun resmi membuka gerai jagung manisnya yang pertama di Rumah Sakit Siloam Gleneagles. Begitu buka, gerai kudapan jagung manisnya langsung diserbu pembeli. Per hari ia bisa menjual sekitar 150 cups (gelas plastik yang digunakan sebagai kemasan untuk menjual jagung manis).
Sukses di Siloam, Ema pun mengembangkan sayap bisnis jagung manisnya ke berbagai lokasi lain.
Kini, Ema sudah memiliki empat gerai Daily Fresh, yakni di RS Siloam, RS Husada, Mal Pluit, dan Mal Kartini (Lampung). Setiap gerai miliknya mampu menjual minimal 100 cups jagung manis per hari. Dengan harga jual Rp 6.000 per cup, dari keempat gerai jagung manisnya, paling tidak Ema mengantongi omzet sekitar Rp 2,4 juta per hari atau Rp 72 juta per bulan (dari 4 gerai).
Tidak menggunakan skema waralaba
Manisnya usaha gerai jagung manis juga dibuktikan Agus Santosa, pemilik gerai Daily Fresh di Yogyakarta dan Solo. "Kini saya sudah punya tujuh gerai, enam di Yogyakarta dan satu di Solo," ujar Agus bangga. Ketujuh gerainya kini bisa menjual minimal 1.000 kg jagung manis per bulan. Jika 1 kg jagung manis bisa dijual dalam 10 cups, tiap bulan Agus menjual 10.000 cups jagung manis. Dengan harga Rp 6.000 per cup, omzet Agus mencapai Rp 60 juta per bulan.
Bila Anda juga ingin mencoba peruntungan di bisnis jagung manis ini, caranya tidak sulit. Anda tinggal menghubungi perusahaan-perusahaan yang menawarkan kerja sama penjualan jagung manis tersebut. Saat ini setidaknya ada dua perusahaan yang menawarkan kerja sama semacam itu, yakni: Daily Fresh Indonesia dengan merek Daily Fresh dan PT Anvic Multi Bisnis yang mengusung label Fresh Corn.
Daily Fresh dan Anvic sama-sama menawarkan pola kerja sama sederhana yang skemanya kurang lebih sama. "Pola kerja samanya seperti proses dagang atau jual-beli jagung manis biasa," ujar Andy Christoper, Direktur Anvic Multi Bisnis. Dalam kerja sama itu, Daily Fresh dan Anvic menjadi pemasok jagung manis. Mereka menjual jagung manisnya dengan harga antara Rp 18.000 hingga Rp 27.000 sekilogram. Sementara itu, Anda menjadi agen yang menjual jagung tersebut kepada konsumen dalam bentuk jagung manis matang. "Jadi, ini bukan waralaba," tandas David Basuki, Managing Director Daily Fresh Indonesia.
Karena bukan waralaba (franchise), Daily Fresh dan Anvic tidak memungut franchise fee dan royalty fee. Namun, mereka menetapkan berbagai ketentuan yang harus dipatuhi para agennya.
Ketentuan pertama, menyangkut bahan baku jagung manis. Para agen dilarang membeli jagung manis dari perusahaan lain; selain dari kedua perusahaan itu. "Agen juga tidak boleh mencampur jagung manis kami dengan jenis jagung lain. Kalau ketahuan bisa kami cabut izinnya," ujar David. Dia berkata, bibit jagungnya yang ditanam di daerah Sukabumi dan Cianjur itu khusus didatangkan dari Amerika. "Tingkat kemanisannya sudah kami ukur," tambahnya.
Harus pandai memilih tempat
Ketentuan lain, Daily Fresh dan Anvic menerapkan standar dalam pengolahan dan penyajian si jagung. Untuk itu, kedua perusahaan ini menyediakan paket investasi seharga Rp 8 juta. Dengan duit segitu, agen sudah memperoleh seluruh perlengkapan untuk berjualan jagung manis. Mulai dari gerobak, banner (logo), pendingin (freezer), pengukus (steamer), dan seragam untuk penjaga gerai tersebut. "Pelatihan pengolahan jagung juga sudah termasuk dalam paket ini," terang Andy.
Sebagai agen, Anda juga tidak bisa menjual jagung manis itu dengan harga yang asal-asalan. "Jagung manis biasa harganya Rp 6.000 per cup, sedangkan yang pakai keju harganya Rp 6.500 per cup," ujar Agus. Oh, ya, si agen juga harus membeli cup yang menjadi wadah jajanan jagung manis itu dari Daily Fresh atau Anvic. Harganya sekitar Rp 500 per cup.
Soal lokasi usaha, Anda memang bisa menentukan sendiri, sebab Daily Fresh maupun Anvic tidak mematoknya. Meski begitu, bila ingin sukses, Anda harus pintar memilih lokasi. Jangan hanya terpaku pada mal, trade center atau pusat perbelanjaan. Langkah Ema, yang membuka pasar-pasar baru di rumah sakit, bisa menjadi contoh. Selain itu, "Anda juga harus tahu bahwa makanan jagung manis ini bukan makanan yang mengenyangkan. Jadi, tidak cocok berada di food court," ujar Ema berbagi strategi. Menurut Ema, karena merupakan camilan, jagung manis ini lebih cocok dijajakan di tempat lalu-lalang orang seperti dekat pintu masuk atau eskalator.
Untuk ruang usaha, Anda memang harus mengeluarkan uang sewa di luar investasi yang Rp 8 juta. Umumnya, ongkos sewa ruangnya tidak mahal, sebab ruang yang Anda butuhkan untuk menaruh gerobak dagangan cukup sekitar dua meter persegi saja. Bila tak mau atau tak mampu membayar uang sewa, Anda bisa mengajukan pola bagi hasil dengan pemilik tempat.
Biaya lain yang harus Anda keluarkan adalah biaya bahan tambahan seperti garam, susu, dan keju yang diperlukan dalam mengolah jagung manis. Selain itu, bila Anda tak bisa mengurus sendiri gerai jagung tersebut, Anda tinggal mempekerjakan orang lain.
Nah, bila semua sudah beres, Anda tinggal memulai usaha dan memetik keuntungan. Bila lokasi Anda bagus dan semua berjalan lancar, Anda bisa mengekor sukses Ema yang dalam tempo 1-3 bulan sudah balik modal (untuk gerai di RS Husada dan RS Gleneagles). Hmm...manis jagungnya, manis pula labanya.
Tabel kalkulasi investasi klik ---> disini (http://img174.imageshack.us/img174/7193/bisnisjagungmaniscn1.jpg)
PT Sarana Pangan Makmur (Daily Fresh Indonesia)
Jl. Asem 2 No. 10
Cipete, jakarta Selatan
Telpon 7504688/7504694
Fax 7504693
contact : Mr. Herman, Marketing & Sales Franchise Division
Info untuk menjadi agen antara lain:
Sistemnya beli putus dengan biaya sbb:
1. Biaya Rp 10,000,000,- ( termasuk freezer kapasitas 50kg jagung), belum termasuk jagungnya sendiri.
2. Jika tanpa freezer, Rp 8,000,000,- belum termasuk jagungnya.
3. Kita akan terus berhubungan dengan PT. Sarana Pangan Makmur ini dalam hal pembelian jagung serta peralatan yang dibutuhkan dalam penjualan seperti cup, tutup cup dan sendoknya.
Sebagai pembeli kita perlu menyiapkan tempat juga penjaga - ilustrasi di Kontan yang disebutkan diatas, kira-kira akan memerlukan dua orang dengan gaji @Rp. 1,000,000,-/bulan.
Cara aplikasi:
Ajukan applikasi via fax ke bagian marketing dengan mencantumkan nama, alamat, telpon, fax, copy KTP juga lokasi yg akan dipakai berjualan.Selanjutnya menunggu follow up dari mereka untuk masalah pembayaran dan kontrak.
Devan 12-12-2006, 07:43 AM Peluang Usaha: Bisnis RingTone Musik
http://img184.imageshack.us/img184/7876/bisnislababr8.gif
Laba Dering tak Pernah Kering
Industri musik berbisnis suara dering
Kalangan industri musik mulai melirik bisnis ring tones yang menjanjikan keuntungan besar. Di mancanegara hal tersebut sudah berjalan dengan rapi, termasuk pembayaran royalti kepada sang artis penyanyi. Di Indonesia, bisnis ini mulai marak.
Bayangkan kalau di tempat umum tiba-tiba ponsel Anda berdering. Kalau deringnya cuma sekadar krang-kring atau bunyi-bunyi aneh yang diberikan produsen ponsel, sih, itu sudah ketinggalan zaman. Coba kalau dering ponsel Anda mengalunkan lagunya Jet bertitel Look What You Have Done yang kerap diputar di MTV. Bisa dipastikan semua mata akan memandang pada Anda.
Begitu juga kalau seseorang kebetulan menghubungi ponsel Anda dan harus menunggu Anda menjawab. Kalau nadanya cuma tut... tut... tut..., semua ponsel juga bisa. Belakangan, ada operator yang menyediakan jasa ring back tones sementara menanti jawaban Anda. "Lagunya pakai penyanyi, persis kalau kita mendengarkan kaset," ujar Marcella Dewi, Direktur Marketing Sony Music Entertainment Indonesia, yang juga turut dalam kerja sama dengan Telkomsel itu. Jadi, sembari sang relasi menanti ponsel diangkat, ia bisa mendengarkan alunan suara 10 to 5, Ada Band, atau Seurius. Tergantung Anda berlangganan lagu apa.
Layanan musik digital di dalam ponsel ini rupanya merupakan ladang bisnis yang sedap. Tengok saja, beberapa tahun lalu, saat ponsel mulai marak digunakan, paling-paling orang cuma bisa membikin ring tones sendiri dengan mencari nada di internet atau majalah. Itu pun nadanya masih monophonic karena produsen ponsel juga cuma mengeluarkan varian ponsel seperti itu.
Belakangan, produsen ponsel melengkapi produk mereka dengan fasilitas polyphonic, sekaligus dengan beberapa ring tones lagu yang populer. Tambah lagi, banyak kalangan sudah melirik peluang di bisnis ini. Hal itu terlihat dari penjualan ring tone lewat premium call atau lewat boks di pusat perbelanjaan. Mereka ini, tentu saja, menjual ring tones berupa lagu-lagu terkenal yang dibawakan artis ternama.
Rezekinya dibagi-bagi beberapa pihak
Itu sebabnya, industri rekaman lantas menganggap layanan musik digital sebagai peluang besar untuk mereka. Saat ini penjualan ring tones lewat boks di pusat perbelanjaan memang masih tampak, namun jumlah iklan yang menawarkan premium call menurun drastis. Posisinya digantikan oleh industri musik yang memasarkan ring tones bersuara artis mereka. Maka, nantinya suara ring tones tidak cukup sekadar polyphonic saja. "Di masa depan bakal ada true tones. Suaranya seperti kalau kita mendengarkan kaset saja," jelas Marcella.
Ario Swastanto Tamat, New Media & Mobile Manager PT Universal Music Indonesia, mengatakan bahwa besarnya pasar ring tone di Indonesia belum bisa dipastikan. Namun, di dunia, pasar ring tone saat ini mencapai US$ 4 miliar. Jumlah itu akan membengkak menjadi US$ 13 miliar pada 2008. Indonesia merupakan pasar yang kinclong lantaran salah satu pengguna ponsel terbanyak ada di Asia Tenggara. "Perkembangan teknologi ponsel lebih edan di Indonesia ketimbang Amerika," ujar Ario.
Hanya, ada perbedaan yang mencolok ketika industri musik mulai terjun ke bisnis ponsel. Jika pengusaha biasa membikin bisnis ring tones, bisa dipastikan sebagian besar pendapatan bakal masuk ke kantongnya sendiri. Menurut Ario, dalam bisnis ini, banyak pihak yang terlibat. Ada operator, Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) yang mewakili pencipta lagu, penerbit musik yang mewakili artis penyanyi, perusahaan content provider, serta perusahaan rekaman yang merekam lagu tersebut. Tak heran kalau pendapatan dari konsumen pun harus dibagi-bagi di antara mereka.
Saat ini umumnya perusahaan content provider yang resmi menjual ring tones dengan harga Rp 3.000 per lagu. Dari harga itu, Rp 350 adalah biaya SMS pada content provider. Lalu operator biasanya mendapat 50% dari sisa pendapatan. Selanjutnya ada mechanical royalty yang besarnya 10% atau sekitar Rp 500 kepada perusahaan rekaman, ada likeness fee pada penerbit musik sebesar 15%, yang terakhir adalah public performance fee kepada YKCI sebesar 6,25%. Menurut Ario, pengguna ponsel harus membayar public performance fee karena sifat ring tones adalah bunyi yang bisa didengar oleh orang lain. "Makanya dianggap sebagai public performance," ujarnya.
Adapun likeness fee tetap harus dibayar, karena bagaimana pun ring tones yang diperdengarkan selalu mengusung nama artis tertentu. Ario menunjuk artis Sum 41. "Kalau enggak ada Sum 41-nya kan enggak bakal laku," ujarnya. Tapi, meski rezekinya harus dibagi-bagi, tetap saja bisnis ini sangat menjanjikan untuk industri musik. Soalnya, satu industri tidak mungkin cuma memayungi satu artis atau hanya punya satu lagu andalan saja.
Ternyata ada sistem subsidi silang
Hal itu diamini Marcella, karena Sony Musik bekerja sama dengan beberapa perusahaan content provider. "Tapi, yang terbesar adalah Jatis," ujarnya. Mereka mengenakan tarif Rp 3.000 untuk nada monophonic dan Rp 5.000 untuk polyphonic. Permintaannya dalam sehari rata-rata mencapai 1.000 download. Permintaan itu bisa meledak kalau kebetulan ada event tertentu. Misalnya, setelah kompetisi AFI berakhir, permintaan download lagu Menuju Puncak bisa mencapai 3.000 sehari.
Masih ada peluang lain, yakni menjual ring back tones yang melibatkan lebih sedikit pihak. "Untuk ring back tones, kami bekerja sama langsung dengan operator," kata Marcella. Saat ini, di Indonesia, baru Telkomsel yang menyediakan jasa tersebut. Harga langganannya sebesar Rp 9.000 per satu lagu untuk sebulan. "Sekarang, pelanggannya sudah puluhan ribu," sambung Marcella.Adapun bagi perusahaan content provider, penyediaan ring tones merupakan salah satu aspek bisnis mereka saja. Pasalnya, "Content ini bentuknya banyak, enggak cuma ring tones. Ada kuis, horoskop, dan sebagainya," kata Darma Putra, Chief Operation Officer Iguana Technology, salah satu perusahaan content provider.
Iguana yang berkantor pusat di Singapura ini menjual ring tones, baik yang mono maupun poly. Darma mengakui bahwa jualan ring tones mono merupakan jual rugi. Namun, mereka tertolong oleh harga ring tones polyphonic yang lebih mahal. "Jadi, pembeli ring tones poly akan menyubsidi yang mono," katanya.
Belakangan, menurut Darma, penjualan ring tones di perusahaannya malah turun. Kalau dulu bisa menyumbang 70% dari pendapatan perusahaan, belakangan mereka mengalami penurunan pendapatan sampai 15% dari penjualan ring tones. Penyebabnya bukan karena pasarnya berkurang atau rezekinya harus terbagi ke banyak pihak, seperti operator dan industri musik. Tapi, "Karena market share kami diambil oleh pemain lain," ujarnya. Maklum, pemain di bisnis content provider juga bertambah dari hari ke hari.
Devan 12-12-2006, 07:47 AM Peluang Usaha: Bisnis Edutainment Anak Anak
http://img176.imageshack.us/img176/3340/hdrkidszh6.jpg
Menjajal bisnis edutainment yang lagi ngetren
Bisnis edutainment (hiburan sekaligus pendidikan) amat menjanjikan. Bila ingin menjajalnya namun tak mau memulai dari nol, beli saja waralaba Mad Science. Modalnya memang besar, minimal Rp 700 juta. Tapi, potensi keuntungannya juga gede dan bisa balik modal kurang dari setahun.
Menanggap wayang semalam suntuk untuk merayakan ulang tahun anak, itu mah sudah kuno. Mengundang badut-badut untuk meramaikan pesta hari jadi si kecil juga ketinggalan zaman. Kini yang lagi ngetren, khususnya di kota-kota besar, adalah menggelar aksi hiburan yang mendidik, atau bahasa kerennya edutainment.
Lewat edutainment, anak-anak (usia 5-12 tahun) diperkenalkan pada "keajaiban" ilmu pengetahuan. Bocah-bocah yang tengah berpesta itu bisa terkagum-kagum menyaksikan benda padat bisa mendadak menyublim menjadi gumpalan-gumpalan asap putih. Atau, bagaimana zat-zat kimia--tentu yang tak berbahaya--bila dicampurkan bisa berubah-ubah warnanya, atau menghasilkan bau-bauan yang wangi. Contoh sajian edutainment lainnya antara lain: cara kerja es kering (dry ice), sinar laser, magnet, atau efek-efek film. Dalam sajian edutainment ini, anak-anak tak hanya menjadi penonton, tapi juga ikut mempraktekkannya, sehingga tanpa sadar mereka belajar.
Edutainment yang kian dikenal luas itu kini telah menjadi ladang bisnis yang amat menggiurkan. Pasarnya amat luas. Lihat saja sukses yang diraih Mad Science, perusahaan edutainment asal Kanada yang baru buka di Indonesia beberapa bulan lalu. Tak hanya melayani bisnis edutainment untuk pesta ulang tahun dan membuka kelas khusus, Mad Science Indonesia juga sudah menjalin kerja sama dengan banyak perusahaan. Di antaranya hotel mewah (misal Four Season, Shangri-La, Hotel Mulia, dan Jakarta Intercontinental), restoran (15 cabang Popeyes dan Bebek Bali), atau perusahaan (Bank Danamon, beberapa perusahaan farmasi dan consumers goods), hingga sekolah (28 sekolah).
Perusahaan umumnya menggunakan edutainment untuk mempromosikan produk atau jasanya kepada orang tua anak-anak yang mengikuti acara tersebut. Ambil contoh Bank Danamon menyebar undangan gratis menonton acara Mad Science kepada anak-anak, dengan syarat mereka harus datang bersama orang tuanya. "Petugas Bank Danamon nanti akan menawarkan produk-produknya pada orang tua dengan bonus ikut acara Mad Science untuk 4 sesi lagi," terang Markus Toko Tara, Franchise Development Manager Mad Science Indonesia.
Terwaralaba bisa menjual waralaba
Adapun sekolah-sekolah umumnya bekerja sama dengan Mad Science untuk kegiatan ekstrakurikuler. Karena bisa leluasa masuk ke sekolah, kata Markus, beberapa perusahaan bersedia mensponsori acara edutainment di sekolah-sekolah. Tentu dengan syarat, perusahaan itu bisa mempromosikan produk-produknya di sekolah tersebut. "Kalau perusahaan kan susah menembus sekolah. Kalau kami kan misinya pendidikan, jadi bisa lebih gampang masuk," ujar Markus.
Dengan pasar yang begitu lebar, prospek bisnis edutainment jelas amat cerah. Apalagi, pemain di bisnis ini juga belum terlalu banyak. Bila Anda tengah mencari ladang usaha baru, bisnis ini bisa menjadi alternatif yang menarik.
Jalan pintas untuk memasuki bisnis ini adalah membeli waralaba seperti yang ditawarkan Mad Science. Dengan membeli waralaba, selain bisa menggunakan nama Mad Science yang sudah cukup kondang di Amerika, Anda juga tinggal mengikuti semua kurikulum dan menu acara Mad Science. Mad Science juga akan memasok berbagai peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan.
Selanjutnya, Mad Science akan melatih karyawan dan instruktur yang menjadi ujung tombak bisnis ini. "Instruktur tak harus seorang ilmuwan. Asal dia sayang anak dan ceria sudah cukup. Latihannya gampang kok," ujar Markus. Mad Science sudah menyediakan video dan buku-buku pelajaran yang gampang dipahami.
Ada dua pola waralaba yang ditawarkan Mad Science, yakni:
Waralaba Teritorial
Pembeli waralaba kelas teritorial akan menguasai pasar di satu kota. Franchise fee-nya tergantung dari luas kota. Untuk Kota Surabaya yang luas misalnya, franchise fee-nya US$ 100.000. Tapi, untuk kota yang kecil macam Bogor, franchise fee-nya hanya US$ 35.000. "Itu franchise fee untuk lima tahun," ucap Markus. Di luar itu, pembeli waralaba harus menyediakan dana untuk membeli peralatan dan biaya-biaya lain, yang kalau ditotal modalnya bisa mencapai Rp 1,5 miliar.
Modal yang besar itu sebanding pula dengan cakupan bisnis yang luas. Selain melayani pesta-pesta dan membuka kelas sendiri, terwaralaba teritorial berhak menggarap pasar korporat. Yang istimewa, dia juga merupakan pemegang hak waralaba (master franchise) di kotanya. Artinya, dia berhak menjual waralaba Mad Science kepada gerai-gerai di kotanya dan mengantongi franchise fee-nya. "Agar tidak kanibal, di setiap kota maksimal hanya ada empat outlet," tandas Markus.
Waralaba Kelas Outlet
Untuk membuka waralaba kelas gerai, terwaralaba harus memiliki dana sekitar Rp 700 juta. Sebagian modal itu untuk membayar franchise fee yang besarnya tergantung dari pemegang master franchise di kotanya. Untuk kota sebesar Surabaya misalnya, ancar-ancar franchise fee-nya adalah US$ 25.000 (5 tahun). Selain itu, terwaralaba--baik kelas gerai maupun teritorial--harus membayar royalty fee sebesar 10% dari omzetnya ke Mad Science Kanada.
Sebanding dengan modalnya yang lebih kecil, pasarnya juga lebih sempit. Pemilik gerai hanya bisa menggarap pasar pesta dan membuka kelas. Dia tak bisa menggarap pasar korporasi yang menjadi ladang teritorial. Namun, bila ada perusahaan yang tak bisa ditembus si teritorial, gerai bisa menggarapnya. Tapi, sebagian penghasilannya harus diserahkan kepada terwaralaba teritorial.
Waralaba Mad Science memang membutuhkan modal yang tak sedikit. Namun, keuntungannya juga besar. "Margin keuntungannya 50%-70%," ujar Markus. Kunci sukses bisnis ini adalah kemampuan menembus pasar. Semakin banyak kelas yang dibuka dan semakin banyak order, baik dari pesta maupun korporasi, semakin cepat terwaralaba balik modal.
Kalau semua lancar, "Bisnis waralaba Mad Science ini akan balik modal dalam waktu tak sampai setahun," ujar Markus. Sebaliknya, bila gagal membidik pasar, modal Anda bisa tertanam untuk waktu yang cukup lama.
Mad Science of Indonesia
Graha Indorama 7th Fl, Suite 7B H.R. Rasuna Said X-1, Kav 1-2
Jakarta, 12950
Freddy Walla
Fax: 62-21-5830-4190
freddywalla@yahoo.com
Devan 14-12-2006, 08:00 AM Peluang Usaha: Bisnis Tower Provider Telekomunikasi
(Swasembada)
Dari Agen Perangkat Telekomunikasi Menjadi Raja Menara BTS
Naluri bisnisnya yang tajam mampu mengendus peluang usaha besar di balik berkembangnya bisnis telekomunikasi nasional, yakni bisnis penyewaan menara BTS.
Bagaimana liku-liku Sakti Wahyu Trenggono – dengan Indonesian Tower – merintis dan menguasai bisnis yang relatif baru ini?
Coba bayangkan jika semua operator telekomunikasi di Indonesia saling geber membangun menara (tower) baru untuk memasang base transciever station (BTS) mereka! Boleh jadi, negeri ini – setidaknya di beberapa kota besar – akan menyerupai hutan menara! Dan, mungkin saja kehadiran menara-menara BTS itu akan merusak keindahan kota.
Memang, sesungguhnya para operator itu tak harus membangun sendiri menara BTS mereka. Pasalnya, mereka bisa menyewanya, baik dari operator lain yang memiliki menara maupun dari perusahaan penyewaan menara BTS. Keuntungan menyewa tentu tak perlu investasi besar-besaran, tapi cukup mengeluarkan ongkos operasional penyewaan, yang biasanya dibayar bulanan. Di kawasan Asia, pola menyewa BTS sebenarnya sudah dipelopori oleh kalangan operator telekomunikasi di Indonesia. Namun, dalam perkembangannya justru kalah oleh para operator di negara lain semisal India yang kini seluruhnya menggunakan pola penyewaan menara secara bersama-sama.
Berkembangnya tren inilah yang berhasil diendus oleh Sakti Wahyu Trenggono, yang kini terhitung sukses berbisnis penyewaan menara BTS. Walau tentunya, jalan mencapai sukses itu tak berlangsung mulus.
Bagi Sakti, dunia teknologi informasi dan telekomunikasi (information & communication technology/ICT) sejatinya bukan hal baru. Maklum, selain mengantongi gelar sarjana bidang Manajemen Informatika dari Universitas Bina Nusantara, ia juga pernah berkiprah selama 6 tahun membenahi sistem TI di Federal Motor (kini Astra Honda Motor). Mantan Manajer MIS & Strategi Korporat Federal Motor ini termasuk tim yang terlibat dalam proyek business process reengineering, khususnya pada implementasi sistem supply chain management anak usaha Grup Astra itu. Ia juga membantu implementasi sistem manufaktur dan distribusi perusahaan ini. Hengkang dari Federal Motor, Sakti kemudian berkarier di Inkud (1995-1998) hingga menjadi Direktur Perencanaan & Pengembangan Bisnis. Ia kemudian memutuskan untuk berwirausaha menjadi pemasok kayu, tapi gagal.
Sakti lalu merasa ia harus memanfaatkan kompetensinya di bidang yang terkait dengan dunia ICT. Maka, berbekal modal Rp 250 juta, Sakti bersama dua koleganya – Abdul Satar dan Abdul Erwin – pada 1999 mendirikan PT Solusindo Kreasi Pratama (SKP). Sebagai pemegang saham mayoritas (80%), kelahiran Semarang, 3 November 1962 ini memegang jabatan Presdir; sedangkan Satar (15%) sebagai Direktur Pembangunan; dan Erwin (5%) sebagai Direktur Keuangan & Administrasi.
Bisnis yang mereka garap pada mulanya adalah menjual perangkat telekomunikasi dan TI. Jelasnya, SKP berperan sebagai agen pemasaran produk Lucent Technologies di Indonesia. Di samping itu, SKP juga mengageni sejumlah produk peralatan telekomunikasi dari vendor asal Jepang dan Korea.
Sakti kemudian melihat ada hal menarik di balik berkembangnya bisnis telekomunikasi yang digarap kalangan operator telekomunikasi. Yakni, ekspansi mereka
selalu membutuhkan keberadaan menara BTS. “Ini sebuah peluang emas,” begitu pikirnya. Karena itu, pada 2001 SKP pun mengalihkan usahanya ke bidang penyewaan menara. “Kami melihat di negara-negara maju, para operator tak lagi membangun menara, tapi mereka melakukan alih daya (outsource). Nah, kami ingin mengembangkan industri baru itu di Indonesia,” ucap Sakti. Kebetulan pula waktu itu Lucent memutuskan menghentikan keagenan produknya di Indonesia.
Bersama dua mitranya tadi – belakangan masuk nama M.G. Gatot Tetuko yang kini sebagai salah seorang direktur – Sakti dibantu 9 karyawannya dengan penuh semangat mulai dari menawarkan dagangannya ke semua operator. Bercermin dari negara-negara maju, Sakti sangat optimistis jasa yang ditawarkannya bakal diminati pasar. Namun, rupanya ia terlalu yakin. Jasa yang ditawarkannya tidak memperoleh respons bagus dari para operator. Maklum, kala itu masih banyak operator yang beranggapan bahwa dengan semakin banyak menara yang bisa mereka bangun akan semakin luas jangkauan (coverage) mereka, sehingga bisa makin unggul dalam persaingan.
Walau begitu, kondisi bertepuk sebelah tangan itu tak membuat bapak tiga anak ini patah arang. Upaya pendekatan dan penjelasan ke operator terus dilakukan. Dalam presentasinya, Sakti selalu menekankan bahwa ke depan persaingan di bisnis operator telekomunikasi bukan terletak pada jangkauan, melainkan pada biaya murah dengan fasilitas konten yang komplet. “Di negara-negara maju, persaingan itu bukan soal coverage, karena coverage ini sudah diserahkan ke perusahaan yang menyewakan menara,” katanya. Oleh karena itu, ditekankan pula kepada para operator tentang manfaat dan keuntungan melalui cara menyewa menara. “Kami terus meyakinkan para operator bahwa melalui cara outsourcing menara, akan lebih menguntungkan mereka,” papar Sakti.
Begini ia menggambarkannya. Jika operator membangun menara sendiri, investasi yang mesti ditanamkan untuk satu lokasi BTS mencapai Rp 750 juta-1 miliar. Itu belum termasuk: biaya akuisisi tanah yang luasnya rata-rata 200 m2; perizinan; listrik; retribusi; dan sebagainya. Total biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 1,5 miliar. Sementara kalau menyewa, operator cukup membayar uang sewa Rp 15-20 juta per bulan, tergantung pada ketinggian menara yang disewa: 32 m, 52 m dan 72 m.
Nah, tarif sewa menara tersebut bersifat menyeluruh. Artinya, biaya tersebut tidak semata untuk penempatan BTS, melainkan sudah mencakup biaya pengeluaran lainnya, seperti: biaya listrik; retribusi kepada pemda setempat; back up diesel; dan biaya perawatan (maintenance). “Jadi, operator tinggal memanfaatkan menara ini untuk memasang receiver atau BTS-nya di ketinggian tertentu. Semuanya kami yang urus,” ujarnya bersemangat. Toh, SKP juga membolehkan sang klien hanya memakai jasa sewa menara – biaya lain (termasuk perawatan) ditanggung sendiri – dengan tarif sewa sekitar Rp 10 juta per bulan.
Devan 14-12-2006, 08:01 AM Membangun menara sendiri memang bukan pilihan menarik. Selain masalah akuisisi tanah, kesulitan lain yang sering muncul jika mengembangkan menara sendiri adalah pemeliharaannya, termasuk dari gangguan warga setempat. Karena itulah, Sakti sengaja merekrut karyawan dari daerah setempat. Mereka dididik selama dua bulan di Jakarta dan dikembalikan ke daerah asalnya untuk menjadi maintenance field officer, di mana setiap orang bertugas mengawasi 15 menara. Untuk mereka disediakan sepeda motor guna memudahkan pengontrolan menara. Lantas, untuk memudahkan pemeliharaan menara, SKP menginstal sistem aplikasi yang disebut Site Management Control. Aplikasi ini bisa diakses oleh handset para teknisi dan bisa langsung berkomunikasi ke kantor pusat. “Jika terjadi trouble di suatu titik, kami bisa langsung melacak dan menyelesaikannya secara cepat,” ujar Sakti.
Bukan itu saja. Untuk penduduk di sekitar menara – yang diukur dari radius menara bila dalam posisi ditidurkan – Sakti menyediakan asuransi (kerugian dan jiwa) bilamana terjadi musibah rubuhnya menara yang bersangkutan.
Sakti pun menawarkan beragam keuntungan bagi para operator penyewa. Dalam sistem sewa yang dibuatnya, penyewa pertama akan memperoleh pengurangan biaya sewa jika ada penyewa berikutnya yang masuk. Perlu diketahui, model penyewaan seperti ini belum tentu berlaku juga di provider menara lainnya. Selain itu, beban biaya penyewa awal juga akan terus berkurang jika semakin banyak operator yang turut menempatkan BTS-nya di menara yang bersangkutan.
Gambarannya begini. Katakanlah Telkomsel ingin memperluas jangkauannya di suatu daerah. Lalu, ia memakai menara milik Indonesian Tower – nama merek perusahaan penyewaan menara ini – untuk menempatkan BTS-nya. Nah, kepada Telkomsel akan dipungut tarif sewa Rp 15-20 juta per bulan. Jika kemudian masuk operator lain – misalnya Indosat – yang ingin menempatkan BTS-nya di menara yang sama, maka biaya sewa untuk Telkomsel dikurangi 15%. Katakanlah, selanjutnya Excelcomindo Pratama (XL) ikut memakai menara yang sama, maka Telkomsel cukup membayar sewa 65%-70%, sedangkan Indosat 85%. “Bagi operator yang menyewa tentunya sangat menguntungkan, karena kami terus memberikan diskon,” Sakti menegaskan. Secara keseluruhan, ia memperhitungkan dengan pola sewa seperti ini, operator bisa menekan efisiensi hingga 30%.
Dengan memaparkan model penyewaan menara yang menarik tersebut, disertai kegigihan, Sakti akhirnya berhasil menggaet pelanggan. Pada 2002, permintaan pertama pun datang dari Telkom (Flexi) yang membutuhkan sejumlah menara. Namun, ada masalah yang masih mengganjal, yakni Sakti kesulitan mendapatkan pinjaman dana untuk membiayai pembangunan menara – yang pembuatannya sebenarnya dialihdayakan SKP kepada PT Krakatau Steel. “Saat akan mendirikan menara banyak bank yang kami ajukan proposal, tapi tidak ada yang mau,” katanya mengenang.
Tak mau kehilangan peluang yang ada di depan mata, Sakti bertekad agar proyek pertamanya tersebut bisa kelar. Bermodal dana dari kocek sendiri ditambah pinjaman dari sejumlah relasi, Sakti pun menemui pihak pembangun menara (Krakatau Steel) untuk memp |