View Full Version : Tadi Malam Rada Nonton........


Rada
12-02-2000, 01:15 PM
Fatal Error

Tadi malam (11 Feb 2000) gue nonton film ini di VCD. Di Amrik sana ini adalah untuk konsumsi TV (Superstation). Begitu tau di bagian awal film bahwa ini adalah konsumsi TV dan Ratingnya juga PG, sebenarnya gue udah mo matiin tuh player gue, tapi ternyata pembuat film ini tau bahwa sama seperti presentasi, bagian awalnya harus semenarik mungkin, adegan-adegan awal film ini cukup menarik minat gue untuk ngabisinnya sampe The End.

Fatal Error berkisah ttg sejenis Virus yg aneh, karena mendadak datang menyerang beberapa (atau bahkan cuma 1) orang lalu hilang tak tentu rimbanya untuk kemudian menyerang di tempat lain. Serangan pertama terjadi di sebuah ruangan ketika beberapa org sedang mengikuti Video Conferencing. Virus itu begitu mematikan, mengubah tubuh manusia menjadi semacam kapur dalam hitungan menit!
Seorang petugas kesehatan (Antonio Sabato Jr.)yg pertama kali sampai di lokasi penasaran dengan peristiwa itu tapi dihalang-halangi pihak militer yg dengan cepat sampai ke lokasi kejadian. Virus ini rupanya menarik minat militer juga. Tapi karena keahlian Sabato, akhirnya oleh seorang spesialis penyakit (Janine Turner) dia diajak ikut bergabung memburu dan memusnahkan virus tsb sebelum menyebar ke seantero Amerika.
Hal yang baru dari film ini adalah gagasannya yg unik, yaitu bagaimana virus komputer yg paling-paling cuma bisa merusak hardware, bisa bermutasi menjadi virus organik yang menyerang manusia.
Robert Wagner ikut bermain sebagai tokoh antagonis di belakang serangan virus ini.

Untuk pengisi waktu luang film ini lumayanlah untuk disewa. Tapi ngga usah beli karena ngga cukup berharga untuk dikoleksi.

Nah...moga-moga entar malam gue nonton film lain lagi, biar besok posting ini nambah.

Atau ada judul VCD tertentu yg elo-elo pengen tau sebelum diliat? Sebutin judulnya ya, atau apa yg elo ingat ttg VCD itu deh. OK?

buyung
13-02-2000, 04:05 AM
dari pada lo cerita panjang lebang mending lo kirimin gue tuh film

bOO
13-02-2000, 07:03 AM
SSSSSETUJU

bOO
13-02-2000, 07:03 AM
SSSSSETUJU

Rada
13-02-2000, 01:41 PM
DIPLOMATIC SIEGE


Ini adalah film yg sama yang bakal diputar di jaringan Twenty One di bawah judul Enemy Of My Enemy. Dibintangi Peter Weller, Daryl Hannah dan Tom Berenger. Weller berperan sebagai pakar komputer yg dikirim ke Kedutaan A.S di Bukarest untuk menjinakkan sebuah bomb. (Rupanya pada waktu perang dingin dulu A.S menanam bom nuklir di bawah setiap gedung kedutaannya sebagai senjata pamungkas kalau-kalau terpaksa bentrok dgn negara tsb). Di sana Weller bertemu dengan kekasihnya Hannah, sesama pakar komputer. Keadaan menjadi gawat karena gedung kedutaan tsb diserbu dan dikuasai kelompok teroris Serbia yg menyandera puluhan org termasuk anak laki-laki Weller. Para teroris meminta pembebasan pemimpin mereka yg beberapa bulan lalu diculik tentara Amerika. Selama permintaannya tidak dituruti, seorg sandera akan dibunuh tiap 1 jam, dimulai dengan sang Dubes sendiri. Sementara itu bomb di bawah gedung belum sempat di non-aktifkan Weller dan Hannah yg lolos dari penyanderaan tapi tetap berada di dalam gedung. Menyadari situasi gawat, pemerintah A.S mengutus Berenger untuk mengatasi keadaan dengan cara apapun, termasuk membumihanguskan gedung gitu. Dan rupanya Hannah sendiri punya motif tersendiri dalam keseluruhan peristiwa itu dan membuatnya bentrok dengan Weller.

Dengan plot yang lumayan menarik dan adegan aksi yg paling tidak masih lebih baik dari semua filmnya Lorenzo Lamas http://www.kafegaul.com/board/ubbhtml/smile.gif plus gambar yg cukup bagus untuk ukuran film baru dalam format VCD film ini memang cocok buat pecinta film aksi yg ingin tinggal di rumah daripada ke bioskop. Tom Berenger walaupun muncul setelah hampir 1/2 jalan tapi sangat meyakinkan berperan sebagai Jenderal Swain.
Endingnya memang agak membingungkan khususnya apa yg terjadi antara Hannah dgn Pemimpin Teroris, tapi ketegangan film ini lumayan terjaga. jadi daripada bengong di rumah, pergi sewa dan tonton film ini. Tapi jangan dibeli karena cuma pantas ditonton sekali untuk dilupakan saja.

kinanti
14-02-2000, 11:19 AM
Rada, gue mau tanya apa elo sudah nonton stigmata di vcd, dan apa sih ceritanya? apa worth buying?, juga the beach,snow day, green mile, eye oh the beholder. Soalnya gue mau beli vcdnya, jadi kayaknya gue butuh saran elo deh! Thanks.

Rada
16-02-2000, 11:49 AM
Kinanti, aku rasa vcd dengan kwalitas gambar dan suara seburuk yg
ada sekarang (untuk film-film baru) ngga pantas dikoleksi. Cukup disewa
aja untuk ditonton sekali aja. Tapi kalo kamu memang ngga keberatan
soal itu nih data yg aku dapet ttg judul-judul yg kamu sebutin:

Stigmata: syukurlah aku belum nonton VCD nya karena akhirnya
segera akan diputar di bioskop di Jkt. Ttg ceritanya Macaddict sudah
jelasin panjang lebar di Posting Ada yg demen film horor kaga.

Green Mile: Film yg diangkat dari novelnya Stepehen King ini
berkisah ttg Paul Edgecomb (Tom Hanks) seorang sipir di Deathrow (sel
khusus untuk napi yg menunggu eksekusi hukuman mati). Sel tsb
kedatangan seorang napi baru yg bertubuh tinggi besar, berkulit hitam
dan bertampang sangar, John Coffey. Coffey dipidana karena dinyatakan
bersalah membunuh 2 anak kecil. Pengalaman khas penjara yg keras,
brutal, dan tanpa toleransi yg dijalani Edgecomb berubah drastis sejak
kedatangan si Coffey ini, yg ternyata berhati begitu sensitif, gampang
menangis dan takut tidur tanpa lampu! Dan ternyata selain itu Coffey
juga memiliki "bakat" yg menakjubkan yg mengubah kehidupan para napi
dan petugas di Deathrow itu.

Di ajang Golden Globe, Michael Dunkan yg jadi si napi Coffey mendapat
nominasi sbg Aktor Pembantu terbaik.

The Beach (kenapa, karena si Leo ya http://www.kafegaul.com/board/ubbhtml/smile.gif ) . Tapi ini adalah film serius yg mengajak merenung, bukan film "ngepop" ala Titanic atau Romeo & Juliet. Sutradaranya adalah org yg sama dgn yg bikin Trainspotting. Kisahnya ttg Leonardo yg suka mengembara untuk menemukan dan mengalami hal-hal yg baru, dan akhirnya sampai ke Thailand, dimana dia menemukan sekelompok pengembar seperti dia juga yg hidup secara sembunyi-sembunyi. Dia masuk menjadi anggota komunitas dan menjalani kehidupan "sebenarnya", "sorga" yg sudah lama dia cari-cari. Tapi ternyata tidak ada yg namanya sorga dunia.

Eye of The Beholder adalah campuran antara roman & thriller. Berkisah ttg Ewan Mcgregor, seorang Agen Rahasia Inggris yg terjepit diantara tugas dan obsesinya thd Ashley Judd, target yg dicurigai sebagai pelaku pemerasan seorang petinggi Inggris. Ewan yg kehilangan istri dan putrinya dan menyalahkan diri sendiri ternyata tidak mampu mengemban tugas yg satu ini. Dalam melacak dan mengikuti Ashley dia malah terobsesi dengannya, mengikuti dari dekat tanpa menangkapnya, dari satu pembunuhan ke pembunuhan yg lain.

Snow Day adalah Teen Comedy tapi cocok untuk seluruh keluarga. Kisahnya ttg bagaimana murid-murid berusaha memmperpanjang musim salju supaya sekolah tetap libur.

kinanti
16-02-2000, 03:05 PM
Rada, thanks berat ya? dan masalah dengan sewa kadang2 suka udah kurang bagus, yah terpaksa jadi beli. Tapi kayaknya stigmata belum ada, juga the beach dll, jadi I guess sabar dulu. O.K once again for your information I deeply am thanking you. Bye.

nutty
17-02-2000, 07:16 AM
Radaaaa...lo rada2 dehhh !! http://www.kafegaul.com/board/ubbhtml/biggrin.gif http://www.kafegaul.com/board/ubbhtml/biggrin.gif
te ha o be ha !!!

[This message has been edited by nutty (edited 17-02-2000).]

Rada
19-02-2000, 12:10 AM
Waaaa....kemana "ulasan" Rada ttg The Insider? Kok bisa ngilang? Udah capek-capek bikinnya kok ngga nongol di sini? Gimana nih Pak LURAH, kok bisa begini? Waaaa....mana gue ngga nyimpan kopiannya lagi. Pls don't do it again OK?


[This message has been edited by Rada (edited 19-02-2000).]

Rada
19-02-2000, 11:59 AM
Best Laid Plans

Bukan, ini bukan Best Laid Plans nya Sydney Sheldon. Ceritanya sama sekali berbeda.
Sayangnya susah mengomentari film ini tanpa membuka sedikit plot nya yg justru menjadi daya tarik utamanya. Bisa dibilang ada sedikit "bau" Usual Suspect dicampur dengan A Simple Plan. What would you risk to save the one you love? Bagi Lissa (Reese Witherspoon) jawabannya adalah: tidur dengan org lain dan melakukan pencurian. Kalau dalam Indecent Proposal Woody Harrelson mengijinkan Demi Moore istrinya tidur dengan Robert Redford demi US$ 1 juta, dalam Best Laid Plans Witherspoon melakukannya demi menyelamatkan kekasihnya yg ditagih hutangnya oleh gangster (you know what they can do when you don't pay). Pengorbanan yg diakhir film begitu bikin hati keduanya begitu pedih karena ternyata sebenarnya tidak perlu dilakukan, karena ......AWAS JANGAN TERUSKAN BACA KALO MASIH PENGEN NONTON FILM INI...........yg namanya gangster itu ternyata tidak ada, hanya ulah temannya sendiri yg amatiran.

Yang cukup menarik adalah gaya penggarapan Mike Barker sang Sutradara, dibuka dibagian tengah, lalu kisahnya mundur ke belakang lalu kembali ke tengah untuk diakhiri sampai ending. Meski lumayan menarik sebagai tontonan alternatif diluar film-film yg diputar dibioskop, ada beberapa kelemahan dalam skenarionya. Misalnya adegan kebakaran yg melalap daerah yg cukup luas, sama sekali tidak relevan dengan keseluruhan cerita. Begitu juga dialog yg terasa dipaksakan mengikuti rencana sang penulis skenario sehingga sipemain kelihatan seperti orang dungu yg tidak punya pilihan-pilihan dalam memutuskan apa yg harus dilakukan. Ini kelihatan sekali dalam scene ketika Bryce (Josh Brolin) dan Nick (Alessandro Nivola) berdebat ttg apa yg mesti dilakukan thd Witherspoon yg disekap di kamar karena mengancam akan mengadukan Brolin atas tuduhan perkosaan.

Reese Witherspoon cewek berwajah cute dan innocent, walaupun memerankan karakter cewek yg mau berkomplot melakukan kejahatan, tetap saja tidak bisa lepas dari image "cewek baik-baik" yg biasa dibawakannya (ingat Cruel Intention, Freeway). Josh Brolin (The Mod Squad, Flirting With Disaster, Nightwatch) lebih sering berteriak panik dalam perannya yg memang menuntutnya harus kelihatan panik. Alessandro Nivola (yg jadi adiknya Nick Cage di Face/Off)cukup baik memerankan tokoh yg terpaksa mengalami getirnya hidup tapi masih memiliki cinta.

Kalo ada yg cukup menyukai Usual Suspect, Indecent Proposal atau "A Simple Plan", tontonlah film ini. Gambarnya juga cukup bagus, bukan dishoot dalam bioskop tapi kopian dari Screening Copy. FYI Screening Copy (ditandai dengan tulisan yg berjalan di bagian bawah layar misalnya dengan kata-kata "For Preview Purpose Only" dan sejenisnya, adalah copy video yg khusus diedarkan ke distributor atau tempat penjualan Video di Amrik sebagai promosi sebelum video versi resminya beredar. Inilah yg lalu digandakan entar oleh siapa lalu entah cara bagaimana sampai juga ke Indonesia)



[This message has been edited by Rada (edited 19-02-2000).]

Rada
21-02-2000, 01:50 PM
Eye of The Beholder

Ini adalah salah satu drama yg cukup memikat bagiku yg biasanya tidak terlalu menyukai thema ini. Mungkin karena ada unsur sunspensenya juga sih, makanya tanpa aku bisa menontonnya tanpa terusik oleh apapun (kecuali dering telepon yg bikin kesal ketika film sudah hampir selesai, he..he..)

Eye of The Beholder adalah kisah tentang obsesi seorang agen pemerintah Inggris ber-codename The Eye, yang diperankan oleh Ewan McGregor (Nightwatch, Star Wars Ep.1). Entah disengaja oleh sutradaranya entah tidak, mengherankan juga kenapa McGregor sedikitpun tidak terlihat seperti seorang agen, malah seperti yg diucapkan seorang perawat dalam film ini, lebih bertampang salesman. Biarpun dia adalah seorang yg begitu obsesif, paling tidak dia adalah seorang agen bukan? Sasaran obsesi The Eye adalah Joanna karakter yg oleh diperankan dengan bagus oleh Ashley Judd (Kiss The Girls, Double Jeopardy). Joanna adalah seorang pembunuh, yg melakukan kejahatan itu disaksikan oleh The Eye sendiri. Tapi sesuatu dalam diri wanita itu mengingatkannya akan putrinya sendiri yg diambil pergi dari sisinya ketika istrinya minggat, kejadian yang menimbulkan rasa kehilangan dan sesal yg begitu besar dalam diri The Eye sampai-sampai dia sering berkhayal berbicara dengan gadis kecilnya.
Bukannya menangkap Joanna, The Eye malah membuntuti kemanapun wanita itu pergi, kota demi kota (bahkan sampai ke kutub!), memonitornya dgn kamera tersembunyi, tinggal di apartemen sebelah . Adegan dia menyentuh dinding ketika tau dibaliknya Joanna sedang mandi dengan jelas menunjukkan betapa dalam obsesinya thd wanita itu. Tapi beda dengan film-film lain ttg obsesi pria thd wanita, ini bukanlah obsesi bersifat seksual, melainkan obsesi yg bersifat "penyembuhan diri", walaupun makin lama jelas bahwa dia menginginkan wanita itu. Dalam diri Joanna The Eye melihat bayangan putrinya sendiri, gadis yang kehilangan kasih sayang ayahnya dan menjadi pribadi yg labil.
Dan bisa ditebak, The Eye lama-lama tidak tahan juga hanya mengawasi dari jauh, sementara korban lain mulai jatuh. Maka keduanyapun "bertemu". Tidak jelas apakah Joanna tewas di akhir film, tapi menurutku ya.
Banyak adegan malam hari dalam film ini dan mengingat VCD bajakan seperti ini gambarnya selalu gelap, bisa dibayangkan gimana jadinya. Tapi itu tidak terlalu mengganggu menikmati kisahnya. Musiknya cukup baik, dan dalam beberapa bagian (violin tunggal) mengingatkan aku akan musik di bagian awal RONIN.

Rada
24-02-2000, 05:59 PM
The Limey

Kisahnya sederhana saja: Dave Wilson (Terence Stamp), seorang mantan napi baru saja keluar penjara dan terbang dari London ke LA untuk mencari tahu ttg kematian putrinya. Di sana si Inggris tua gaek ini menjelajahi sudut kota LA ditemani Ed (Luiz Gusman) sesama mantan napi yg dijumpainya di sana, tanpa gentar sampai masuk ke sarang gangster LA. Dan berbekal tambahan informasi dari Elaine (Lesley Ann Warren), seorang aktris paruh baya, Wilson mengetahui bahwa Terry Valentine (Peter Fonda) seorang produser rekaman kaya raya punya kaitan dengan kecelakaan yg menewaskan anak gadisnya itu. Seperti bisa diduga di Ending mereka berduapun berhadap-hadapan untuk menuntaskan masalah ini.

Dengan bintang gaek ubanan yg bertubuh kurus dan adegan action yg hampir tidak dijumpai di dalamnya, apakah film ini patut ditonton? Well, pertama-tama coba lihat siapa sutradaranya: Steven Soderbergh. Penggemar film bermutu pasti ingat dengan film kontroversialnya $ex, Lies and Videotape yg mendapat penghargaan di berbagai Festival termasuk Cannes yg terkenal itu. Terakhir kita bisa menikmati Out of Sight yg sayangnya lebih mengikuti kecenderungan Hollywood dibanding film-filmnya yg lain.
Dalam The Limey Soderbergh memperlihatkan kepiawaiannya mengungkapkan apa yg ingin diungkapkannya dengan cara-cara yg tidak konvensional. Sering dia cuma menyorot close up wajah Terence Stamp dan membiarkan penonton membaca raut wajahnya dan menangkap sendiri apa yg hendak dinyatakan adegan itu. Atau cara dialog yg unik dimana seringkali seorang tokoh mengucapkan sepenggal kalimat dalam adegan tertentu dan menyelesaikan kalimat itu pada adegan lain yg sudah berganti sama sekali. Bahkan beberapa kali karakter tertentu sedang berbicara tapi yg kelihatan di layar adalah sosok karakter itu yg sedang diam. cara-cara non konvensional itu sangat efektif dan memikat dalam memberi informasi dan "makna" keseluruhan film itu.
Soal akting, Terence Stamp adalah salah seorang aktor paling brilliant yang aku pernah lihat di dalam film. Biasanya aku suka tidak sependapat dengan penilaian para kritikus film thd aktor atau aktris terbaik, tapi khusus mengenai si Inggris tua ini aku harus setuju 100%. Kastingnya sebagai mantan napi yg keras dan tak punya rasa takut begitu pas dibawakannya. Dan dalam film ini dia tidak cemerlang sendirian. Masih ada Peter Fonda, veteran yg dengan baiknya memerankan jutawan produser rekaman yg charming dan memikat hati gadis-gadis muda tapi punya bisnis haram dibalik usaha resminya.

Jadi dari cerita sesederhana di atas, apa sebenarnya "isi" film ini? Well, yang bisa aku tangkap sebenarnya adalah dibalik usaha mencari kebenaran ttg kematian putrinya, Wilson sebenarnya ingin menemukan apa yg hilang dari hubungan ayah-anak yg hampir tidak pernah terjalin mengingat lamanya dia dipanjara. Bahkan ketika putrinya sudah tidak ada dia masih ingin menebus waktu-waktu yg hilang di antara mereka. Dan adegan terakhir ketika Wilson tidak melakukan apa yg dari awal sudah dia rencanakan akan lakukan, menunjukkan bahwa pada dasarnya siapapun yg membunuh putrinya tidaklah lebih jahat dari dia sendiri.

Kalo kamu memang ingin film yg "beda" dan suka dengan gaya non konvensional dalam menggarap film, tontonlah dan nikmatilah film ini. Kalo kamu lebih suka film hollywood ala There's Something About Mary atau Dia Hard, kamu akan tertidur sebelum pemutar VCD mu menunjukkan angka 15 menit.

Rada
15-03-2000, 01:40 PM
The War Zone

Kapankah terakhir kamu nonton film dan masih merasa terganggu dgn apa yang disajikan dalam film itu lama sesudah menontonnya? Pernahkah kamu nonton sebuah film dan selama pemutarannya hatimu merasa sesak dan perasaanmu tertekan oleh rasa sedih dan terpesona sekaligus? Kalau belum (dan kalau kamu sudah berumur 17 thn) tontonlah film ini, karena begitulah perasaanku menyaksikannya.

The War Zone bukanlah film perang atau semacamnya, bukan pula film aksi (Kalau di cover VCD nya kamu melihat seorg yg memegang pistol atau pesawat helikopter, itu tidak ada). Tak ada kekerasan dalam film ini. Paling tidak bukan kekerasan dalam pengertian yg biasa seperti layaknya digambarkan dalam film-film populer.

The War Zone mengisahkan kehidupan sebuah keluarga British (benar, ini adalah film British, bukan Amerika) di sebuah desa terpencil di Inggris. Kisahnya bergulir dari sudut pandang Tom, ABG yg pendiam dan introvert. Tidak lama setelah adik bungsunya lahir, Tom mengetahui suatu rahasia yg begitu pedih: ayahnya melakukan incest dgn kakak perempuannya! Benar, ini adalah film ttg incest dalam keluarga yg kelihatan tenang dan damai di permukaan tapi menyimpan rahasia di bawahnya. Thema yg lalu dieksplorasi oleh Sutradara Tim Roth (aktor yg lumayan dikenal di Hollywood, diantaranya pernah bermain dalam Four Rooms, Rob Roy, Pupl Fiction) dengan adegan-adegan miskin ekspresi emosi dan kata-kata, digabung dengan sorotan kamera yg menyuguhkan lanskap daerah pedesaan tepi pantai, kombinasi begitu efektif mencuatkan kepahitan dan tragedi yg terus terang membuat perasaanku terganggu dan bertanya-tanya bagaimana mungkin hal ini terjadi dalam sebuah keluarga.

Keempat tokoh utama (Tom, kakaknya Jessie, Ayahnya dan ibunya) diperankan aktor/aktris Inggris yg namanya kemungkinan besar belum pernah kamu dengar sama sekali.

Aku tidak menyarankan kamu yg dibawah umur 17 thn menonton VCD ini. Selain diwarnai adegan telanjang, themanya memang kelihatan belum cocok buat kamu-kamu. Bahkan untuk org dewasa thema ini masih terbilang kontroversial, apalagi digarap dengan lugas seperti film ini. Aku tidak merasa terhibur menonton film ini. Di satu segi aku merasa senang telah menikmati sebuah film yg digarap dengan baik dan berbobot dgn penggarapan yg jauh berbeda dengan cita rasa Hollyowood, tapi di lain pihak aku merasa menyesal mengapa harus menonton film dengan thema yg disturbing dan tragis ini.
Ini jelas bakal menjadi salah satu film yg tidak akan aku lupakan dengan gampang.

Rada
29-03-2000, 02:52 PM
VIVID

Keindahan total Kari Wuhrer dan erotisisme cat, itulah kesan yg aku tangkap ketika menonton film ini. Di rental VCD judul ini mungkin diletakkan di rak film-film kategori "semi" dan mengingat adegfan erotis/bugil yg mendominasi sepanjang film, penempatan itu sudah tepat.
Kenal Kari Wuhrer? Cewek berbodi imut tapi padat dan seksi ini (my favorite is her breasts) memang dalam banyak filmnya menyuguhkan apa yg yg dia punya: keindahan tubuhnya. Dalam VIVID ini keindahan itu bisa dinikmati sepuasnya dalam adegan-adegan pose nude untuk lukisan maupun dalam scne-scene ML.

Kisah VIVID sederhana saja bahkan cenderung klise (karena jelas memang cerita bukanlah tujuan utama film ini). Cole Purvis, seorang pelukis sedang mengalami "buntu inspirasi" untuk melukis. Bukan cuma tidak bisa mangangkat kuas untuk melukis, bahkan ke"buntuan" itu sampai ke masalah "nafkah batin" thd kekasihnya, Bille
Reynolds. Billie, cewek yg "super" pengertian dan (I wish a had a girl like her) berupaya semampunya mendorong semangat sang kekasih. Tapi bahkan pose bugilnya pun tidak mampu mengembalikan gairah Cole. Sampai ketika tiba-tiba Cole menyiramkan sekaleng cat ke tubuh bugil Bille. Cat menempel di sekujur tubuh yg indah. Dan dari situ mulailah erotisme bergerak bergelora dalam bentuk bercinta berbalut cat di atas kanvas.

Untuk yg ingin menikmati hiburan ringan dan sensual tapi tidak jorok, film ini recommendable (buat yg sudah lewat ambang batas umur tentunya). Apalagi dengan musik yg cukup bagus ditambah beberapa soundtrack yg pas, film ini memang film "semi" erotis, tapi erotis yg indah, yg berkesenian


[This message has been edited by Rada (edited 30-03-2000).]

tukanggosip
29-03-2000, 03:37 PM
rada : udah nonton lost highway-nya david lynch belum ? review-nya dong tolong....gue nyari vcd gak dapet2 !

moi
30-03-2000, 02:36 PM
Rada, the best laid plansnya sidney sheldon yang main siapa aja yah? Kalo novelnya saya udah baca and memang bagus. cerita tentang politik tingkat elite.
Kalo best laid plansnya witherspoon mah jelek sekali yah.

Udah nonton the talented mr ripley, bagus deh filmnya, cuman terakhirnya ngegantung.

penjor
30-03-2000, 03:00 PM
rada, ngeliat beberapa ulasan kamu tentang film yang udah kamu tonton, gue jadi pengen kenalan ama kamu nih. boleh gak minta email kamu. email gue di penjor@australia.edu.

Rada
30-03-2000, 06:59 PM
tukanggosip, aku harus nonton ulang lagi film ini karena aku tontonnya udah lama. Tunggu besok ato lusa aku kasih reviewnya ya.

moi, sorry kalo kalimatku bikin kesan kalo Best Laid Plans nya Sheldon ada filmnya. Ngga kok. Maksudku karena judulnya sama orang bisa aja berpikir film itu diangkat dari Novel tsb. BTW kebanyakan novel Sidney Sheldon diangkat menjadi Mini Series ato Movie-for-TV.

penjor, email gue: ikezor@yahoo.com
BTW Gue bukan seorang yg paham film ato bisa memberi kritik kaya' yg dibahas di posting "Buat Brigitta and All Film Lovers" (gue bahkan ngga berniat nonton AMERICAN BEAUTY). Dengan posting gue, gue bukanlah bermaksud meniru Leila S Chudori ato Roger Ebert. Gue cuma seorang pria yg kebetulan punya hobi nonton film dan menuliskan kesan-kesan thd beberapa film yg gue tonton, siapa tau ada gunanya.



[This message has been edited by Rada (edited 30-03-2000).]

Rada
02-04-2000, 03:22 PM
Lost Highway

Di pesta di rumah temannya Fred bertemu dgn seorang misterius, yang mengatakan kalau mereka pernah berjumpa. Fred menjawab,"Sepertinya tidak. Menurutmu di mana kita pernah bertemu?
"Di rumahmu tentu saja," jawab si pria bersetelan dan bermata hitam itu, "Malah saat ini juga saya sedang ada di rumahmu. Kalau tidak percaya, nih telpon, hubungi ke rumahmu"
Dan benar saja, di ujung sana si pria yg sama menjawab.
Belum cukup dengan keanehan itu, Fred kemudian menerima kiriman videotape yg memperlihatkan dia membunuh istrinya padahal Renee, istrinya ada di kamar sebelah. Ketika isrinya lenyap, Fred pun di tangkap dan dipenjara. Seakan keanehan itu belum cukup, Fred tiba-tiba secara harafiah (?) lenyap dari selnya digantikan Pete Dayton, seorang pemuda mekanik.

Misteri? Persekongkolan jahat? Barang siapa mengharapkan jawaban di akhir film berdurasi 135 menit ini, silahkan kecewa. Se nylenehnya film, tetap ada logika keabsurd-annya sendiri yg bisa ditelusuri dari awal ke akhir film yg paling tidak membuat penonton bisa mencernanya. Dalam Lost Highway ini, hal itupun tidak didapatkan. (Bahkan Roger Ebert setelah menonton 2 kali tetap mengaku tidak bisa memahami film aneh ini)

David Lynch memang dikenal sebagai pembuat film-film noir. Film-filmnya seperti Blue Velvet, Wild At Heart dan TV series Twin Peaks menancapkan namanya sebagai sutradara pembuat film dengan semangat absurditas yg percaya bahwa ada pesa-pesan yg tidak efektif disampaikan lewat gaya penuturan biasa (jalan cerita dan dialog-dialog yg logis). Sayangnya dalam Lost Highway ini bahkan pesannya itu sendiri tidak terbaca. Yg kita saksikan adalah karakter-karakter yg berinteraksi satu sama lain, kisah yg berputar-putar tapi tanpa makna yg jelas.

Secara visual David Lynch memang bisa dikatakan seorang pakar. Kegelapan, entah memang dimaksud sebagai salah satu bagian dari themanya, mendominasi keseluruhan adegan. Karakter-karakternya selalu dibalut kegelapan: kamera menyoroti ruang gelap, lalu pelan-pelan seseorang muncul mendekati kamera sampai terlihat, atau sebaliknya dari dekat kamera mundur sampai hanya ada kegelapan. Dalam satu adegan bercinta, entah meniru dari film anime, tubuh kedua karakternya berubah putih bercahaya diiringi sebuah lagu yg begitu moody. Begitu juga beberapa adegan bisa mengalahkan efek tegang film seram hollywood.

Bill Pullman dengan tampang dingin dan sinisnya berperan baik sebagai Fred yg hilang di tengah film untuk kemudian muncul lagi di bagian akhir. Tapi yg menjadi favoritku adalah Patricia Arquette yg berperan ganda. Selain menikmati aktingnya yg begitu mengesankan, juga mendengar suaranya yg sooooooo $exy, sekaligus memperoleh kesempatan menikmati kemulusan tubuhnya.
Robert Blake yg muncul sebentar-sebentar sebagai Pria misterius yg bisa muncul di 2 tempat sekaligus mempertontonkan wajahnya yg menimbulkan perasaan seram, seperti memandang ke alam kematian (penjelmaan alam maut itu sendiri?)
Beberapa sountrack film ini cukup enak dinikmati, dimulai dan diakhiri suara David Bowie dengan "I'm deranged", plus 1 tembang Smashing Pumpkins, dan beberapa dari Marilyn Manson.
Akting yg bagus, visualisasi yg unik dan saoundtrack yg cool, sepertinya film yg bagus. Tapi ibarat sebuah pidato, film ini adalah pidato yg kaya ekspresi, di sampaikan dengan gerakan tubuh yg indah, bahasa yg begitu melimpah dengan metafora, tapi sayang sungguh sayang, isinya hampir tidak dimengerti. Seperti kata Richard Corliss dari TIME, orang sekaliber Lynch seharusnya tau, "Noir" adalah sebuah genre, tapi "Aneh" bukan.

BTW ini adalah film thn 1997. Aku beruntung sempat membeli VCD (bukan original tentu), tanpa teks thn 1998. Jadi hampir pasti sudah lenyap dari pasaran, sementara versi Originalnya setahuku belum ada.

[This message has been edited by Rada (edited 02-04-2000).]

tukanggosip
02-04-2000, 07:05 PM
rada, makasih buat review-nya, appreciated. kayaknya gue gak bakalan nyari, terlalu absurd for me :) :)

brigitta
03-04-2000, 01:25 PM
Rada, you've made a great review!! Two thumbs up! Ngiri berat nih kamu dapat VCD-nya, tanpa teks lagi...
Aku juga makasih untuk beberapa review yang udah kamu kasih yang ternyata ngebantu banget. The Limey dan --terutama-- B.Monkey yang aku seneeeeeng banget film itu. Ilustrasi musiknya luar biasa. Ide character building lewat ilustrasi musik luar biasa betul. Makasih ya Rada... :)

Rada
03-04-2000, 05:15 PM
tukanggossip & brigitta, thanks buat apresiasinya. You don't know how glad I am to read your postings.
Moga-moga aku jadi bosenin dengan komentar-komentar film berikutnya. Di rumah sudah menunggu VCD Very Bad Things.

Rada
04-04-2000, 12:44 AM
Very Bad Things

Lima pria pergi ke Vegas mengadakan Bachelor Party bagi Kyle (Jon Favreau), salah seorg diantara mereka yang akan segera menikah dengan Laura (Cameron Diaz). Dintara kelima org itu terdapat Boyd (Christian Slater) yg merencanakan perjalanan itu, seorang pria yg mempunyai gaya bicara meyakinkan dan didengarkan keempat temannya.
Laura sendiri, yg begitu obsesif dengan rencana pernikahannya, sangat cerewet mengingatkan Kyle ttg apa-apa yg harus dipersiapkan, termasuk meminta Kyle jangan macam-macam dalam perjalanan ke Vegas itu.

Judi, alkohol, drugs dan ditambah cewek stipper/penghibur itulah yg mereka kerjakan di sana, dan mereka seharusnya bisa pulang dengan senang kalau saja Nia sang cewek penghibur tidak tewas di kamar hotel mereka karena kecelakaan. Boyd yg dominan mengusulkan menyembunyikan saja mayat Nia di gurun dan melupakan masalah itu, tapi rencana itu tidak segampang yg yg mereka pikirkan. Kematian yg satu disusul oleh kematian yg lain, dan yg lain, dan itu berlangsung sangat cepat!

Very Bad Things dimasukkan kedalam genre Dark Comedy, dan setelah menontonnya aku bisa mangatakan ini adalah film yg benar-benar dark, tapi tak menemukan alasan kenapa bisa disebut komedi. Ke"dark"-an film ini ditandai dengan para karakternya yg bermoral jelek (They've been bad, very bad) dan berkelahi satu-sama lain dan adegan-adegan yg menijijikkan seperti memotong-motong mayat agar muat dalam koper, adegan penikaman berkali-kali dsb. Walaupun ada beberapa adegan yg menimbulkan senyum (misalnya adegan di pemakaman) tapi secara keseluruhan film ini adalah film serius, bukan hanya sekedar serius tapi serius yg mengundang rasa jijik. Entah apa tujuan penulis/sutradara Peter Berg dan entah siapa target penonton yg hendak dia capai dengan film nya ini. Dan apa pula alasan importir memasukkannya ke Twenty One??

Bagi kamu yg merasa There is Something About Mary sudah keterlaluan disgusting nya, jangan tonton film ini karena kadarnya lebih besar. Kalopun kamu penggemar Cameron Diaz percayalah, she is no sweet baby here!

BTW, ini adalah film keluaran thn 1998, jadi sudah telat 2 thn baru masuk bioskop sini. Aku sendiri nonton di VCD yg kelihatannya dipindahformat-kan dari DVD sehingga gambarnya bagus walaupun terjadi penurunan kwalitas yg ditandai pecahnya gembar di beberapa bagian.

Info buat kaum cowok: Did you notice how great the stripper's T1ts are? :) :) :)

[This message has been edited by Rada (edited 04-04-2000).]

Yosi
09-04-2000, 09:55 AM
Rada, thanks for your reviews!! tadinya gue pikir Best Laid Plans itu emang dari Sidney Sheldon's novel. i'm a big fan of the guy, but BLP basi banget. i think the plan ****s!
mutu tulisan dia udah agak drop belakangan ini, but anyway, we're not here to talk about novels.
lo bisa kasih tau gue tentang Boys Don't Cry? don't give away the story, lho, just a sneak review. gue liat trailernya di kantor kayaknya hillary swank emang deserves the oscar. so, can u help? :)

btw, gue juga nggak minat nonton american beauty.

[This message has been edited by Yosi (edited 09-04-2000).]

deadvoid
15-04-2000, 01:24 AM
just fyi, yg nyari lost highway kayaknya banyak rental laser yg punya film ini. paling nggak yg gue tau di PIM ada satu rental yg punya.

Rada
17-04-2000, 02:52 PM
Being John Malkovich

Being John Malkovich adalah salah satu film ter-absurd yg pernah aku tonton. Themanya begitu unik dan merupakan terobosan baru ditengah keseragaman cerita ala hollywood. Bagaimana tidak, kalau seseorang bisa masuk ke tubuh orang lain, melihat apa yg ia lihat, mendengar apa yg ia dengar, merasakan apa yg dia rasakan, dan orang lain itu bukan sembarang orang melainkan John Malkovich!
Craig Schwartz (John Cusack) lah yg pertama-tama menemukannya. Merasa karirnya sebagai seniman boneka tidak cerah, dia banting setir dan menjadi klerek di sebuah perusahaan yg terletak di Lantai 7 1/2 sebuah gedung, dimana ruangan kantornya berlangit-langit begitu rendah sampai orang harus menunduk untuk bergerak dari di dalamanya. Dan di sana, di salah satu dinding yg tersembunyi di belakang filing cabinet, Craig menemukan sebuah pintu. Ketika dia mencoba masuk, terjadilah hal yg paling aneh: dia terseret dalam sebuah terowongan kecil yg berujung di..........dalam kepala John Malkovich, aktor panggung & film besar yang disegani di antara sesama aktor. Selama 15 menit dia melihat apa yg John lihat, merasakan apa yg ia rasa dan mendengar apa yg dia dengar, sampai tiba-tiba dia terlempar kembali ke luar. Merasa mendapat "pencerahan" dengan kejadian itu, Craig mengajak istrinya Lotte (Cameron Diaz) ikut mengalaminya. "Pencerahan" yg dialami Lotte begitu luar biasa sampai-sampai dia merasa bahwa dia adalah seorang transeksual, jatuh cinta kepada Maxine (Catherine Keener) teman sekerja Craig, bahkan berencana menghubungi dokter untuk operasi kelamin! Maxine sendiri yg diam-diam diinginkan Craig menyukai Lotte juga, tapi hanya kalau Lotte sedang berada dalam tubuh John Malkocvich! Keadaan makin kacau ketika John Malkovich (yg diperankan tentu saja oleh orangnya sendiri) jatuh cinta kepada Maxine. Ketika Malkovich menyadari adanya orang lain di dalam dirinya dia marah besar. Craig yg terpukul dengan hubungan cinta Lotte-Maxine akhirnya berhasil bertahan secara permanen dalam diri John bahkan menguasainya seperti dia menguasai perilaku boneka-bonekanya.

Ini adalah film yg endingnya tidak terlalu penting dibanding keabsurdan dan konsekwensinya yg bergerak sepanjang film berdurasi hampir 2 jam ini, yg mempengaruhi jalan hidup ke-4 orang tersebut. John Cusack, Cameron Diaz, Catherine Keener dan John Malkovich bermain begitu bagus. Cameron Diaz sendiri yg berperan sebagai ibu rumah tangga yg lusuh dan sehari-hari berteman dengan segala jenis hewan piaraan mulai dari iguana sampai simpanse, hampir tidak dikenali dengan tata rias dan rambutnya yg jelek. John Malkovich...oh...aktor ini memang begitu brillian. Dipilihnya "kepala" aktor ini sebagai portal yg bisa dimasuki orang lain bukanlah pilihan asal-asalan. Walaupun belum pernah mendapatkan Academy Awards (dinominasikan 2 kali lewat In The Line Of Fire dan Places in the Heart) tapi inilah THE Actor bagi sesama aktor lainnya.

John Malkovich akhirnya memang bebas dari "pendudukan" Craig, sedangkan Craig sendiri bernasib malang ditinggal Lotte & Maxine, yg memulai hidup baru bersama. Endingnya memang kurang memuaskan, tapi seperti tadi aku bilang, apalah arti ending kalau sepanjang film ini kita dibuat terkesan dengan surrealisme ala cerpen Putu Wijaya yg memberikan pencerahan pikiran, paling tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan baru diluar batas cakrawala pemahaman manusia tentang dirinya sendiri.
Seperti kata orang sono, film ini adalah A MUST SEE




[This message has been edited by Rada (edited 17-04-2000).]

Rada
18-04-2000, 06:17 PM
Reindeer Games

Butiran demi butiran salju melayang-layang turun di malam Natal, tapi sesosok tubuh bersetelan Santa Clause diam tergeletak di atas kap mobil, asap mengepul dari tubuhnya yg rupanya baru terbakar. Begitulah Reindeer Games, film terbaru garapan John Frankenheimer dibuka.

Ben Affleck, aktor yg dalam Armageddon dengan gagah berani berjuang menyelamatkan umat manusia dari kemusnahan, kali ini berperan sebagai Rudy Duncan yg mati-matian berusaha menyelamatkan nyawanya sendiri dari komplotan yg memerangkapnya. Rudy Duncan yg masuk bui karena tertangkap dalam salah satu aksi pencurian mobil (yang merupakan profesinya) akan segera mengakhiri masa hukumannya dalam beberapa hari. Selama di bui Rudy berkenalan dan menjadi akrab dengan Nick, teman satu selnya yg juga akan keluar pada hari yg sama dengannya. Nick sendiri mengisi hari-harinya dengan berkorespondensi dengan seorang gadis bernama Ashley, menceritakan ttg gadis ini pada Rudy, bahkan menempelkan foto gadis cantik itu di dinding sel mereka. Ternyata Nick tidak sempat bebas, karena dalam satu kerusuhan dia tewas tertikam. Rudy akhirnya tergoda mengaku sebagai Nick ketika Ashley (yg diperankan Charlize Theron) datang menjemput di hari kebebasan mereka. Dua orang itu jelas kelihatan saling tertarik dan bahagia bisa bertemu lalu bercinta. Rudy terlupa akan rencananya untuk mengerjakan satu hal begitu keluar dari penjara: pulang ke rumah, minum secangkir coklat panas dan kue pie nikmat.

Di sini kisahnya terasa seperti awal dari kisah cinta yg melodramatis (cinta yg lebih kuat dari sekedar identitas, ingat misalnya While You Were Sleeping). Karenanya Rada merasa tagline film ini yg berkata: Perangkap Sudah Dipasang, Permainanpun Dimulailah (The Trap is Set, The Game is On) kedengaran terlalu berlebihan.

Ternyata cerita mulai bergerak ke arah lain: Ashley ternyata punya kakak, Gabriel (Gary Sinise) seorang pria yg bosan menjadi pekerja kasar dan dengan komplotannya bertekad mengambil jalan pintas untuk kaya dengan merampok Kasino di tempat mana Nick pernah menjadi penjaga. Rupanya surat-surat Nick kepada Ashley yg menceritakan ttg masa lalunya itu sampai juga ke tangan Gabriel. Di bawah ancaman, Rudy dipaksa membantu komplotan itu. Di bagian ini kisahnya terasa lain lagi, seperti awal dari komedi (salah identitas merupakan bahan yg bagus untuk sebuah komedi yg baik, ingat misalnya Blue Streak)
Baru ketika kemudian cerita bergulir terus, Rada mengakui betapa tepatnya tagline film ini. Tentu saja kisah berikutnya tidak akan Rada beberkan karena merupakan MAJOR SPOILER yg akan sama sekali merusak keasyikan menonton film thriller ini. Apalagi pada bagian ending, bahkan Rada sendiri kaget dengan kejeniusan Ehren Kruger, sang penulis skenario (dia jugalah yg menulis script Scream 3 dan Arlington Road). Walaupun membuat plotnya terasa terlalu sempurna dan sukar dipercaya dapat direncanakan dalam dunia nyata, tapi yg jelas plot itu menghibur.

Ben Affleck sendiri berakting standar, tidak begitu mengesankan sebagai Rudy Duncan yg terus menerus berada dalam ancaman bahaya sambil memutar otak bagaimana menyelamatkan dirinya. Charlize Theron sendiri lumayan berani mengambil kasting sebagai cewek yg "bukan gadis manis" (selain itu berani pula meperlihatkan dadanya, :) :) :) ) tapi memang rasanya lebih baik dia lain kali kembali dengan tipikal gadis manisnya. Yang mengejutkan adalah penampilan Gary Sinise. Tampil sebagai bajingan yg nekad, kejam tapi tidak terlalu pintar, Sinise benar-benar bikin pangling dalam penampilannya yg berambut gondrong, bertolak belakang dengan penampilan gagahnya dalam Snake Eyes, tapi dengan akting yang sama bagusnya. John Frankenheimer adalah sutradara yang juga membesut RONIN yg adegan kejar-kajaran mobilnya merupakan salah satu adegan Car Chase terbaik.

Rudy Duncan akhirnya sampai juga di rumah, menemui orang-orang yg dikasihinya. Sementara itu salju masih turun, tapi sesosok tubuh bersetelan Santa Clause diam tergeletak di atas kap mobil, asap mengepul dari sekujur tubuhnya yg hangus terbakar.


Note: tagline adalah kalimat singkat yg menyertai judul film, yg mencoba menjelaskan film itu tentang apa, dengan kalimat yg singkat tapi semenarik mungkin. Ingat misalnya Robocop punya tagline: Part Man. Part Machine. All Cop. Atau Blue Streak yg ber-tagline: He's a Cop That's Not. Believe That..


[This message has been edited by Rada (edited 18-04-2000).]

[This message has been edited by Rada (edited 21-04-2000).]

uwee
18-04-2000, 07:20 PM
Rada... bisa cerita, dari mana sebenarny ide awal film 'Being John Malkovich' itu?... Gue sendiri suka film-film dia dan permainannya dalam setiap filmnya... Tapi, tetap nggak menjawab pertanyaan... Kenapa mesti dan bisa dia terpilih jadi bagian cerita?.... kalau hanya karena dia aktor yang hebat, masih ada aktor lainnya yang juga hebat kan?.... Tapi gue juga seneng-seneng aja dengn ide film itu... hanya ya itu... KENAPA!?!...

Rada
19-04-2000, 07:20 PM
uwee, interview dengan sang penulis, Charlie Kaufman mungkin bisa menjawab keingintahuanmu. Masuk aja ke sini (http://www.indiewire.com/film/interviews/int_Kaufman_Charlie_991027.html)

Yosi
19-04-2000, 07:25 PM
Rada, gue boleh tau email atau icq lo?

uwee
20-04-2000, 10:35 PM
Rada... thanks!

Iya!... adegan kejar-kejaran bermobil di Ronin memang keren banget!
Tapi... Cameron Diaz di Being John... kok ancur banget juga ya... hahahahahaha

Rada
21-04-2000, 12:35 AM
Rules of Engagement

Drama berlatar belakang Militer sudah beberapa kali dituangkan ke layar perak. Beberapa di antaranya adalah A Few Good Men, Courage Under Fire, The General's Daughter.

Kini muncul Military Courtroom Drama terbaru, Rules of Engagement. Bukan Aturan-aturan Pertunangan, tapi artinya kira-kira Aturan-aturan Untuk Memulai Serangan, yang dalam film ini didakwakan tidak ditaati oleh Kolonel Terry Childers (Samuel L Jackson) ketika dia ditugaskan menyelamatkan Dubes AS dari serangan orang-orang setempat di gedung kedutaan AS di Yaman. Ketika sampai di sana, Kol. Terry Childers mendapati snipers yg menembaki gedung kedutaan dari atap gedung sebelah sementara gerombolan massa berjumlah banyak berada di halaman depan gedung kedutaan. Dalam situasi baku tembak itulah Kol. Terry Childers yg melihat 3 anak buahnya tewas, memerintahkan mulai "engange", menembaki massa itu, peristiwa mana menimbulkan korban jiwa 83 org dan ratusan orang luka-luka, termasuk ibu-ibu dan anak-anak.

Terry Childers minta bantuan rekan sesama marinirnya Kol. Hayes Hodges (Tommy Lee Jones) menjadi pembelanya. Hodges pernah diselamatkan nyawanya oleh Childers di Vietnam dan lalu pindah karir sebagai pengacara walaupun tidak begitu sukses.

Ketika sebuah kaset vodeo surveilence dari gedung kedutaan AS itu ditemukan, terungkaplah bahwa gerombolan massa yg ditembaki itu ternyata memegang senjata dan lebih dahulu menembaki mereka. Dalam hukum militer rupanya ada ketentuan yg menyatakan: sipil yg mengangkat senjata sudah tidak termasuk sipil lagi, dan ketika mereka menyerang adalah tindakah yg sah membalas serangan mereka. Tapi kepala penasehat Keamanan AS, yang kuatir pemerintah AS lah yg akan mendapat kecaman atas insiden itu melenyapkan kaset itu untuk menimpakan kesalahan pada Kol. Childers seorang.
Maka dimulailah proses penyelidikan dan pengadilan yg diakhiri dengan adegan sidang pengadilan yg panjang.

Dibanding dengan A Few Good Man film ini kehilangan gregetnya. Adegan perang dibagian awal kelihatan berusaha meniru Saving Private Ryan dalam menggambarkan realisme pertempuran. Dan endingnya, sayang sekali termasuk ending yg buruk karena tidak ada klimaks yg cukup membuat penonton berdebar-debar menunggu kejutan yg muncul, kecuali pembacaan verdict/putusan yg kurang kuat untuk membuat ending yang bagus dalam Courtroom Drama seperti ini. Akting kedua aktor veteran itu lumayan baik (kalo kedua orang tua ini berakting buruk, siapa lagi yg bisa bagus?), tapi bukanlah akting terbaik yg pernah mereka tampilkan. Guy Pearce malah lebih meyakinkan sebagai Oditur Militer (jaksa penuntut) yang begitu determined menghukum Childers, kasting yg mirip dengan perannya di LA Confidential.

William Friedkin dikenal sebagai sutradara handal lewat film klasiknya: The Exorcist. Di indonesia kita mengenal karyanya yg lain: Jade. Sayangnya Rules of Engagement ini, walaupun saat ini merajai tangga Box Office di Amrik, tidak lebih baik dari kedua karya terdahulu Friedkin itu.

Note: Film ini hampir ngga mungkin diputar di bioskop-bioskop kita, karena adegan orang-orang Yaman (yg notabene muslim) menyerang dan menembaki gedung kedutaan AS akan menyinggung perasaan umat Muslim kita. Bayangkan, diperlihatkan gadis kecil berusia 10 thn pun ikut mengangkat senapan dan menembaki gedung itu! Belum lagi rekaman kaset berbahasa Arab yg mengajak kaum muslim menyerang semua orang Amerika yg mereka temui. Siapa yg mau mengambil resiko mengimpor film semacam ini?

[This message has been edited by Rada (edited 22-04-2000).]

Rada
21-04-2000, 11:22 AM
Yosi, ICQ Rada ngga punya. Email? Coba tanya brigitta, mungkin dia tau :) :) . Tapi Rada orang yg ngga terlalu rajin bales email (tanya aja brigitta kalo ngga percaya)

uwee, kelihatannya Diaz di Being John Malkovich memang sengaja dikasting begitu. Aktingnya di sana menurut gue bagus.

brigitta
22-04-2000, 01:14 PM
Rada, gue nggak mau jadi humas loe! :)
Tolong dong Bang Rada, pernah denger film Frequency (Gregory Hoblit)? Kayaknya tu film dapet kredit bagus... tontonin duluan dong, trus ceritain...

Rada
23-04-2000, 02:06 PM
brigitta, di Amrik sendiri Frequency baru diputar 28 April 2000. Ini adalah salah satu film yg ngga bakalan aku tonton di vcd, mending nunggu diputar di Bioskop ato kalo ngga VCD Originalnya.

Frequency termasuk genre campuran antara Fantasy/Thriller. Dibintangi Dennis Quaid (suami Meg Ryan, terakhir kita lihat di Dragonheart) dan disutradarai Gregory Hoblit (Primal Fear, Fallen).

Kisahnya ttg seorang pria yg hidp di thn 1999, karena peristiwa kosmis yg aneh bisa berkomunikasi lewat radio amatir dengan ayahnya yg hidup 30 thn yg lalu (1966). Mereka jadi bisa mengenal satu sama lain tapi lalu menyadari apa saja yg mereka ucapkan dan bicarakan akan sama sekali mengubah masa depan mereka berdua. Thrillernya adalah bahwa mereka berdua bekerja sama menyibak misteri pembunuhan (kematian si ayah?).
Itu aja yg aku tau.

http://www.hundland.com/posters/f/Frequency-B.jpg

[This message has been edited by Rada (edited 23-04-2000).]

NuttyBoy
23-04-2000, 03:18 PM
Ada yang udah nonton film U-571.....torpedo on the water...dive, dive, dive.....Aye, aye sir...!!!!

tukanggosip
23-04-2000, 04:15 PM
rada dan temen2 yg lain : request gue kedengerannya bodo tapi tolongin donk informasi utk sewa vcd dimana ? tempat gue udah go down the drain....thanks :) :)

Rada
23-04-2000, 04:52 PM
The Skulls

The Skulls adalah debut Joshua Jackson (si Pacey dari Dawson's Creek) sebagai pemain utama, setelah jadi pemeran pembantu dalam Cruel Intention & Urband Legend. Sayang sekali dia memilih film yg buruk sebagai filmnya yang pertama.

Buruk bagaimana?

The Skulls adalah sebuah kelompok rahasia di Universitas Yale (tapi anehnya semua mahasiswa pernah mendengarnya) dimana hanya orang tertentu yg terpilih menjadi anggotanya. Joshua berperan sebagai Lucas McNamara, seorang yg masuk ke Yale karena dia atlit perahu dayung yg baik. Kelihatannya dia tidak mungkin melanjut ke Sekolah Hukum yg dia inginkan selepas dari Yale mengingat dia butuh 45.000 dollar sedangkan tabungannya cuma bersisa 20 dollar. Tiba-tiba dia terpilih menjadi anggota The Skulls, dan tiba-tiba rekeningnya bertambah 20.000 dollar!, belum lagi kemudahan untuk masuk ke Sekolah hukum yg dia idam-idamkan.
Apa sebenarnya The Skulls ini, apa tujuannya, apa kegiatannya sama sekali tidak dijelaskan, kecuali bahwa mereka adalah kelompok rahasia, punya upacara peresmian anggota baru dengan mencap besi panas di pergelangan tangan, punya dana yg cukup banyak untuk memberi tiap anggotanya mobil baru dan sejumlah uang di rekening. Tagline film ini berkata: A secret society so powerful, it can give you everything you desire... at a price.
Tapi sepanjang film kita tidak tau apa yg menjadi price nya karena masalah yg timbul belakangan adalah kematian Will, teman baik Lucas karena kenekatannya menyelidiki kelompok itu. Sampai akhir film ini kita tidak tau apa yg akan ditagih dari para anggota the Skulls sebagai balasan dari keanggotaan dan kemewahan itu. Lucas diburu hanya karena dia ingin tau siapa yg membunuh sobat baiknya, bukan karena dia berusaha melepaskan diri dari kelompok itu.

Kalo ini adalah sebuah Film thriller sebagaimana disebut orang, maka ini adalah thriller yg payah, baik dialog maupun plotnya. Skenarionya sangat buruk dan banyak "lubang logika" ceritanya di mana-mana. Yang cukup bagus adalah kerja kamera yg cukup dinamis. Akting Joshua Jackson sendiri cukup bisa dinikmati, tapi masih kalah dengan aktingnya Paul Walker sebagai Celeb Mandrake, teman sesama anggota the Skulls.

Apa memang mungkin sebuah thriller ber Rating PG-13 bisa menjadi Thriller yg bagus? Well, menonton film ini rasanya jawabannya tidak.

BTW VCD nya, walaupun sebagaimana film-film baru ber"versi" Direkam di dalam bioskop, lumayan bagus dibanding film-film baru lainnya. Gambarnya tidak terpotong kiri kanan karena dishoot cukup jauh dengan mengorbankan layar atas bawah, yg biasa untuk film-film berformat letterboxed/ cinemascope.

inertia
24-04-2000, 11:50 AM
Rada..
ada informasi tentang pelem "Reach The Rock" & "Where's Marlowe"?
lebih mantap lagi kalo ada resensinya.. thanks in advance, mate! ;)

Rada
24-04-2000, 02:30 PM
tg coba ke rental online/ by phone deh di www.indo.net.id/online/ (http://www.indo.net.id/online/)

inertia, sayang kedua judul itu ngga termasuk yg Rada mau tonton. Sorry bro.

Rada
24-04-2000, 02:40 PM
Final Destination

Apa yg akan kamu lakukan kalau kamu punya "penglihatan" akan apa yg akan terjadi, khususnya bila itu sebuah kecelakaan pesawat terbang? Itulah yg terjadi pada diri Alex Browning (Devon Sawa). Tepat pada jam & hari ulangtahunnya di sedang berada di dalam pesawat bermuatan dua ratusan orang termasuk guru dan teman-teman sekolahnya, hendak piknik ke Paris. Sesaat sebelum take off, tiba-tiba dia diserang penglihatan yg mengerikan: pesawat itu akan meledak di udara segera sesuah take off. Percaya akan penglihatannya, Alex segera berteriak-teriak dan terjadilah keributan yg melibatkan pihak keamanan Bandara. Alex dan 6 orang lain (termasuk seorang guru) akhirnya ditinggal, dan menjadi penumpang yang selamat dari kecelakaan yg memang segera terjadi itu.
Untunglah kisahnya tidak berhenti pada kecurigaan pihak berwajib thd Alex. Cerita berkembang lebih lanjut, malah merambah ke bidang yg lebih filosofis: bisakah orang "menipu" kematian, mengelak darinya? Alex medapat pengertian bahwa kematian tiap-tiap orang sudah ditentukan dari sononya, sudah ada disainnya. Lalu bagaimana kalau seperti Alex yg punya "pengetahuan" akan apa yg terjadi, berusaha merubah disain itu sebelum terjadi? Dengan kata lain, mengelak darinya? Begitu menyadari bahwa mereka bertujuh seharusnya ikut tewas dalam pesawat itu dan tetap akan segera mati, Alex berjuang "menipu" kematian dengan mencoba menyelamatkan nyawa satu demi satu dari mereka, termasuk dirinya sendiri, sementara FBI mengawasinya. Berhasilkah Alex?

Ini adalah thriller yg cukup mencekam, meramu ketegangan dengan kejutan-kejutan (termasuk kejutan ala Samuel-Jackson-Diterkam-Hiu dalam Deep Blue Sea) dalam plot yg unusually interesting, walaupun tetap saja dengan penceritaan ala hollywood yg dangkal dan ringan (kalau saja ini film serius, endingnya pasti akan dibuat sedemikian hingga orang akan merenungkan ttg makna takdir, kematian dan siapa yg menentukan umur manusia). Cuma beberapa adegan agak terlalu dipanjang-panjangin (coba perhatikan adegan kematian si ibu guru), sehingga ketegangannya sedikit terganggu walaupun masih tetap terpelihara.

Devon Sawa pernah kita saksikan memenggal tangannya yg jahat dalam Idle Hands. Sedangakan sutradara/screenwiter James Wong pernah menyutradarai beberapa episode serial TV The X-Files.



[This message has been edited by Rada (edited 24-04-2000).]

uwee
24-04-2000, 03:02 PM
Waaa... kayaknya 'Frequency' asik ditunggu nih...
Rada, kalo Cameron Diaz sengaja dipasang sampai musti dibuat kayak bakmi gitu rambutnya... kenapa nggak pakai Meg Ryan aja ya....?!

inertia
24-04-2000, 03:47 PM
Rada,
lah?
ngga mau tonton karena emang belum masuk atau karena ngga suka sama kedua film ini?

kiara
24-04-2000, 06:32 PM
Rada... STIGMATA bagus nggak???

tukanggosip
24-04-2000, 08:00 PM
Rada : thank u bro !.....I know I could count on ya... :D :D :D
Kiara : Stigmata..ehmm, so-so...agak2 nyeleneh gitu...but biar bang Rada aja deh buat resensinya... :) :)

Rada
30-04-2000, 01:16 PM
Hide and Seek

Di situs IMDB film ini dengan judul Cord tercatat masih dalam tahap produksi. Kelihatannya di Amrik sana bakal langsung diedarkan dalam bentuk video, bukan untuk konsumsi bioskop.

Hide and Seek berthema thriller dan benar, sepanjang film ini Rada benar-benar merasakan thrill yg kuat yg membuat Rada menyelesaikan film ini dan mengomentarinya sebagai film yg cukup baik, tidak rugi menontonnya.

Daryl Hannah berperan sebagai seorang istri yg setelah pernah keguguran, merasa hamil kembali. Suaminya (diperankan Bruce Greenwood) tentu saja gembira, tapi setelah mereka mengecek ke sebuah klinik, ternyata perasaan mual yg dialami Hannah bukan tanda kehamilan.

Kemudian Hannah diculik!

Penculiknya tidak lain daripada dokter di klinik itu (Vincent Gallo) yg rupanya membuat laporan palsu karena Hannah sebenarnya memang hamil, dan Gallo bersama istrinya (Jennifer Tilly) menginginkan bayi itu. Tilly pernah hamil tapi karena kesalahan yg dilakukan suaminya ia keguguran dan tidak bisa hamil lagi. Agar Hannah tidak dicari-cari, dibuat seolah-olah dia tewas dalam kecelakaan mobil. Namun suaminya tetap punya firasat Hannah masih hidup dan berusaha dengan sia-sia mencari-cari petunjuk yg paling kecil sekalipun.

Bagian terpanjang film ini adalah kisah bagaimana Hannah disekap di kamar di lantai bawah, bagaimana dia mencoba melarikan diri, bagaimana dia hampir diperkosa oleh Gallo. Bayangkan, seorang disekap berbulan-bulan menunggu sampai ia melahirkan dan bayinya akan diambil oleh orang lain!

Seperti yg Rada katakan, ini adalah thriller yg cukup baik. Ketegangan-ketegangannya dibangun dengan rapi dalam berbagai kesempatan, misalnya ketika Hannah mencoba memberitahu bahwa dia korban penculikan kepada seorang salesgirl popok bayi yg datang ke sana, juga kepada seorang dokter yg memeriksanya dan beberapa scene lain. Apalagi dengan akting yg bagus dari keempat tokoh tersebut. Jennifer Tilly (Bound, Bride of Chucky) patut mendapat acungan jempol dengan berakting begitu bagus sebagai seorang wanita yg kehilangan kewarasannya sejak kehilangan bayi dalam kandungannya.

Sydney J Furie biasa menyutradarai film-fil kelas dua, film-film berbudget kecil, bukan yg diproduksi oleh Major Studios. Tapi itu tidak berarti film-filmnya selalu jelek. Ini adalah salah satu diantara yg tidak jelek.

Rada
01-05-2000, 02:39 PM
Snow Falling On Cedars

Seorang pria Amerika. Seorang gadis Jepang. Jepang membom Pearl Harbor. Bisakah hubungan mereka bertahan?
Snow Falling On Cedars menggambarkan dengan indah tragedi hubungan 2 anak manusia akibat prejudice/prasangka sasial dengan setting sebelum, ketika dan segera sesudah Perang Dunia II, di sebuah desa nelayan di tepi Samudera Pasifik. Ishamel Chambers (Ethan Hawke), putra seorang pengusaha dan pengelola harian lokal memuja Hatsue Miyamoto (Youki Kudoh) sejak masih kecil. Hatsue sendiri yg lahir di desa itu lahir dari keluarga Jepang yg sudah membaur dengan masyarakat di sana, yg kebanyakan bekerja sebagai nelayan atau petani. Mereka bergaul sejak kanak-kanak, saling tertarik, hubungan mana terus berlanjut sampai mereka dewasa. Ibu Hatsue melarang putrinya bergaul dengan orang Amerika, mengajarinya tatacara tradisional Jepang dengan harapan Hatsue tidak melupakan akarnya. Tapi diam-diam mereka tetap berhubungan, bersembunyi di ceruk pohon Cedar yg besar ketika hujan, saling mencurahkan isi hati masing-masing.

Kemudian Jepang membom Pearl Harbor. Disinilah hubungan mereka terancam. Perseteruan Jepang-Amerika membawa akibat dalam kehidupan masyarakat di desa itu. Hubungan antar ras menjadi penuh prasangka, bahkan orang-orang Jepang "terpaksa" diasingkan ke sebuah kamp, kejadian mana memutuskan hubungan sepasang kekasih itu.

Film ini sendiri dimulai dengan tewasnya seorang nelayan dan diadilinya Kazuo Miyamoto atas tuduhan membunuhnya. Kazuo adalah suami Hatsue, pria Jepang yg dengan kesadaran dia nikahi ketika di kamp. Ini kejadian thn 1950. Ishmael sendiri yg masih sendiri dan masih memendam cintanya kepada Hatsue telah menjadi reporter untuk hariannya sendiri. Dia mengikuti persidangan itu dengan perasaan ini, mencoba menemui Hatsue tapi tetap ditolak. Sementara itu sentimen anti Jepang masih terasa di desa itu. Mungkinkah Kazuo diperiksa dengan cara yg adil, ketika semua petugas hukum adalah orang kulit putih? Dari situasi sidang pengadilan inilah kisah film ini bergulir dalam adegan-adegan kilas balik yg sedikit demi sedikit menguak kisah cinta mereka.

Dengan mengisahkannya dari sudut pandang Ishmael, film ini memaparkannya kepada penonton dengan sinematografi yg begitu memukau. Gambar-gambar yg indah, flashback demi flashback yg padu dan tidak mengganggu, setting pedesaan yg alami, hujan, salju, raut wajah Ishamel yg memendam cinta bahkan ketika Hatsua sudah punya suami dan 2 anak. Robert Richardson pantas mendapat pujian untuk hasil pekerjaannya ini. Rada sendiri belum membaca Novelnya (ini adalah adaptasi Novel bestseller karya David Guterson dengan judul yg sama) tapi kelihatannya Scott Hicks sang sutradara berhasil memindahkan nafas novel itu ke pita selluloid. Sebagai catatan Scott Hicks jugalah yg membesut Shine yg menganugerahkan gelar aktor terbaik Academy Award kepada Geoffrey Rush. Snow Falling on Cedars sendiri dinominasikan untuk Best Cinematography.

Anjuran Rada, tontonlah film ini. Kecuali kamu suka film-film hiburan yg kamu tonton hanya untuk membuat happy, menghilangkan bete, tontonlah kisah cinta ini. Ada perasaan hangat, perasaan ikut sedih, perasaan mengharu biru yg anehnya enak untuk dirasakan seusai menonton film ini. Well, mungkin Rada seorang yang "cengeng" dan kamu ngga akan merasakan hal yang sama. Tapi kamu akan setuju bahwa ini adalah film yang bagus.
Dan 2 jam lebih waktu yg kamu habiskan tidak akan sia-sia.

Data Film:

Genre: Drama
Diproduksi oleh: Universal Pictures

Rated: PG-13 for disturbing images, sensuality and brief strong language.

Masa tayang: 126 menit

Cast:
Ethan Hawke .... Ishmael Chambers
James Cromwell .... Hakim Fielding
Richard Jenkins .... Sheriff Art Moran
James Rebhorn .... Alvin Hooks
Sam Shepard .... Arthur Chambers
Zeljko Ivanek .... Dr. Whitman
Eric Thal .... Carl Heine Jr.
Max von Sydow .... Nels Gudmundsson
Youki Kudoh .... Hatsue Miyamoto
Rick Yune .... Kazuo

Rada
03-05-2000, 06:40 PM
Mercy

Siapa suka Peta Wilson? Cewek cakep berbody dan bersuara alluring ini begitu pas jadi La Femme Nikita yg tangguh tapi punya sisi kewanitaan di Layar gelas. Rada sesekali berpikir "I wonder how she will look when naked" :) :) :) . Well, kesempatan itu akhirnya ada juga lewat film Mercy ini.

Mercy adalah film detektif biasa: pembunuhan-penyelidikan-pemecahan kasus. Kali ini detektif Catherine Palmer (Ellen Barkin, pernah kita kenal lewat Sea of Love bareng Al Pacion) dipusingkan oleh pembunuh serial. Para korbannya adalah wanita-wanita cantik yg ditemukan tewas telanjang di ranjang dalam posisi rapi tapi dengan tubuh luka-luka dan kelopak mata terpotong. Penyelidikan Catherine membawanya kepada Vickie Kittrie (Peta Wilson), seorang tersangka yg adalah teman salah satu korban. Vicky lalu memperkenalkan Catherine ke dunia lesbianisme dan S&M dengan membawanya ke klub wanita-wanita yg tidak memerlukan pria. Catherine sendiri yg single dan punya sisi liar (antara lain dengan tidur dengan pria yg dijumpai di bar) menghadapi godaan dari Vicky yg begitu menggairahkan bahkan bagi wanita tangguh seperti dia. Ikut masuk daftar tersangka adalah Dr. Broussard (Julian Sands, yg terkenal lewat Boxing Helena yg kontroversial itu), psikiater yg punya kebiasaan memakai pakaian wanita di luar jam prakteknya .

Meski tergolong hiburan biasa-biasa saja, film ini dari beberapa segi cukup menarik, terutama chemistry yg timbul diantara kedua wanita itu yg ditampilkan begitu baik. Dan bagi Rada yg sudah menonton banyak judul film, melihat tubuh polosnya Peta Wilson di film ini sudah cukup untuk membuatnya merekomendasikan film ini :) :) :) . Hei...at least film ini ngga bakal bikin ngantuk.

Data Film

Production Company: Jazz Pictures & Franchise Pictures

Sutradara: Damian Harris

Masa Tayang: 93 menit

Rated R untuk penggunaan bahasa, tingkahlaku seksual menyimpang termasuk kekerasan dan adegan telanjang.

Cast
Ellen Barkin .... Detective Catherine Palmer
Wendy Crewson .... Bernadine Mello
Peta Wilson .... Vickie Kittrie
Karen Young .... Mary
Julian Sands .... Dr. Dominick Broussard


[This message has been edited by Rada (edited 03-05-2000).]

Rada
08-05-2000, 03:15 PM
If These Walls Could Talk 2

Wahai para Lesbian, bergembiralah. Ini adalah film buat kamu-kamu. Di-eksekutifproduseri dan dibintangi oleh aktris lesbian Ellen Degeneres dan disutradarai oleh aktris lesbian lain Anne Heche (1 dari 3 segmen). Terlebih lagi Michelle Williams (Dawson Creek), Chloe Sevigny (Boys Don't Cry) dan Sharon Stone! ikut membintangi film yg di Amrik sana adalah konsumsi TV.

Film ini terdiri dari 3 segmen yg terpisah satu sama lain, tapi dengan benang merah yang sama berupa setting cerita di rumah yang sama (beda kurun waktu) dan ceritanya ttg kehidupan 3 pasang lesbian. FYI If These Walls Could Talk yang pertama dibuat dengan konsep yg sama tapi mengenai problematika aborsi.

Yang menarik dari film ini adalah thema kehidupan pasangan lesbian digarap dari sudut pandang mereka sendiri tanpa pretensi membela atau meneriakkan hak mereka. Yang kita lihat adalah bahwa mereka ada dan mereka punya masalah-masalah praktis khas para lesbian.

Segmen pertama (1961) mengisahkan duka seorang lesbian tua (diperankan dengan begitu gemilang oleh Vanessa Redgrave) yg dalam menghadapi kematian teman wanitanya bukan hanya harus merasakan kesepian tapi juga ketidakmengertian orang lain thd hubungan mereka selama ini. Ini ditunjukkan dengan begitu menyentuh ketika dia tidak boleh menemani kekasihnya pada saat-saat terakhir, karena dia bukan "family")

Segment kedua (1972) mengisahkan kebingungan Linda (Michelle Williams) mengenai kelesbianismeannya. Ditengah-tengah masa revolusi seks di Amerika, Linda adalah mahasiswa yg aktif berdemonstrasi menentang kemapanan dan memberontak dalam hal seks dengan memilih teman sejenis. Namun ketika bertemu dan tertarik dengan Amy (Chloe Sevigny) yg bercelana dan berkemeja jeans, naik motor, rambut potong pendek, Linda jadi bingung: kalau dia memang lesbian kenapa malah menyukai seorang yg lebih mirip laki-laki?

Segmen terakhir (2000) agak lucu. Kisahnya ttg pasangan Fran dan Kal (Sharon Stone dan Ellen Degeneres) yg bingung memikirkan cara mendapatkan anak. Kal yg berperan jadi "bapak" mengucapkan kata-kata yg membuat kita merenung, "Kita capek-capek meninggalkan laki-laki, tapi anehnya untuk memilik anak kita harus membutuhkan mereka." Di lain waktu dia berkata "Kenapa sih seorang anak tidak bisa lahir hanya dari buah cinta kita? Seandainya saja dengan kekuatan cinta kita berdua tiba-tiba kamu bisa hamil"

Buat kamu yg "kebetulan" lesbian, mungkin ini bisa menjadi film yg menarik. Bagi Rada sendiri yg bukan lesbian menonton film ini bukanlah pemborosan waktu. Well, paling tidak Rada bisa melihat sosok Micelle Williams "lebih banyak" daripada yg dia tampilkan di Dawson Creek :) :) :)

brigitta
08-05-2000, 11:29 PM
Bang Rada, kalo nggak salah ada film barunya Dario Argento, ya: Phantom of the Opera. Abang kan penggemar Dario, ceritain dong... VCD bajakannya bagus nggak kualitas gambarnya?

[This message has been edited by brigitta (edited 08-05-2000).]

Rada
09-05-2000, 05:56 PM
brigitta, soal kwalitas gambar, VCD Phantom Of The Opera lumayan bagus, ngga beda jauh dengan yg original. Tentang ceritanya kamu pasti udah tau karena ini sudah termasuk "legenda". Di tangan Dario Argento film ini menjadi sebuah horor lengkap dengan "gore" nya. Namun sayang ini adalah salah satu film Argento yg mendapat nilai rendah, walaupun masih cukup bisa dinikmati. Dibintangi oleh Putrinya sendiri, Asia Argento (yang kamu udah liat di B Monkey. Gimana rasanya mensyut bugil putri sendiri ya) yang berpasangan dengan Julian Sands.

http://images.amazon.com/images/P/1578482542.01.LZZZZZZZ.gif

inertia
10-05-2000, 12:18 AM
Rada..
gimana ceritanya bisa suka dario argento?
penggemar lucio fulci juga kah?

^Z_triball^
10-05-2000, 05:38 AM
Rada, bisa tolong review film Pitch Black ngga??
soalnya aku lagi mao nonton nih, tapi ngga tau bagus apa ngga, tolong ya sekalian kasih ratingnya

langit_biru
10-05-2000, 09:47 PM
Rada....gue mo' usul, boleh?
Knapa loe gak bikin aja klub nongton, kayak kine klub gitu.....dirumah loe...or dimana kek.....khan asyik tukh.

Kebetulan gue di bdg ada semacam klub nongton kecil2an.....yg pertama di rumah s'org pelukis yg kebetulan koleksi LD....trus tiap hr minggu do'i puter film (laser) di workshopnya...kecil2an....paling2 yg dtg 10-15 org.....udah gitu, didiskusiin / diobrolin deh. Tiap bulan ada tema2nya (mis: filem2 asia, filem pop, filem2 shakespeare)

yg kedua, di sebuah kafe, namanya "kafe ruang tengah", di sini juga tiap minggu malem puter film/laser....tp baru 2X (the piano'n english patient).....pesertanya juga 10-20 org lah. kebetulan ni kafe agak2 cozy, konsepnya ngikutin centralperk di Friends.

yaaa.....ini cuma usul loh, Rada.... :)

Rada
11-05-2000, 06:25 PM
inertia, mungkin Rada suka Dario Argento karena suka gore, visualisasi adegan-adegan serem/sadis di film.

^Z_triball^, gue sengaja belon nonton VCD Pitch Black karena berharap bakal masuk bioskop Jakarta (malah Mission To Mars yg udah pasti masuk). Jadi gue ngga bisa kasih ulasannya. Yang jelas ini film science fiction/horror/action yg bercampur jadi satu. Kisahnya ttg pesawat luar angkasa yang terdampar di sebuah planet asing. Diantara para penumpang yg selamat terdapat seorang napi pembunuh, tapi bukan cuma itu yang jadi masalah. Mereka kehabisan air. Lalu sang napi melarikan diri. Lalu datanglah malam dan bersamaan dengan itu keluarlah makhluk-makhluk mengerikan dari balik bebatuan.

langit_biru, maaf sekali Rada ngga punya niat untuk itu. Mungkin bisa dilakukan temen-teman yang lain?

Rada
11-05-2000, 06:28 PM
Halloween H20

Michael Myers, "saudara seperguruan" Freddy Krueger beraksi kembali.
Sudah 20 tahun berlalu sejak Halloween yang pertama, namum Myers masih terus gentayangan dan belum tenang selama Laurie Strode, saudaranya sendiri yg lolos darinya di Halloween 1 dan 2, masih hidup. (Bisa dibilang ini adalah family problem yang berkepanjangan). Laurie sendiri setelah memalsukan kematiannya, pindah ke kota lain, berganti nama menjadi Keri Tate dan berkarir sebagai pimpinan sebuah sekolah, dimana putranya Charlie juga belajar. Namun di tempat itu Laurie masih saja dihantui mimpi-mimpi buruk dan kenangan-kenangan masa lalu.

Lalu mimpi buruk itu kembali menjadi kenyataan.
Halloween tiba.
Michael Myers datang lagi.

Dari segi penceritaan, Halloween H20 ini (yg merupakan seri ke 7) seolah-olah menafikan keberadaan Halloween 2-6. Apalagi dengan munculnya kembali Jamie Lee Curtis yg juga memerankan Laurie Strode di Halloween 1.

Dengan 7 seri, apakah ada yg baru dari Halloween yang satu ini? well, Rada sendiri tidak bisa membandingkan karena belum menonton seri-seri sebelumnya. Tapi Kalau diulas tanpa menghubungkan dengan prequelnya, Rada bisa mengatakan bahwa film ini, sesuai dengan genrenya, cukup menakutkan. Sekenarionya sendiri punya kelemahan terutama di bagian tengah yang kurang menggigit dan terasa longgar sehingga orang bisa menonton 10 menit bagian awal dan 30 menit bagian akhir tanpa merasa kehilangan sesuatu yg menakutkan. Apalagi beberapa kejutan-kejutan adalah adegan-adegan kejutan klise yg tidak menyatu dengan cerita (misalnya tiba-tiba dikagetkan oleh ketukan di dinding, berbalik dan tiba-tiba bertabrakan dengan orang lain dsb). Untunglah musiknya begitu bagus, begitu mendukung dalam membangun ritme ke"seram"an sepanjang masa tayang. Kalau tidak percaya cobalah menonton film ini sendirian dengan membesarkan volume speakermu (Rada sendiri menggunakan Headphone yg distel lumayan full).

Jamie Lee Curtis bermain bagus sebagai Laurie Strode yang tangguh, yang akhirnya tidak mau melarikan diri lagi tapi menghadapi mimpi buruknya dan menumpasnya once and for all. Sayangya kasting-kasting yang lain, termasuk Michelle Williams (Dawson's Creek) kurang begitu menonjol.

FYI VCD Halloween H20 ini setahu Rada beredar dalam 3 versi. Yang pertama sudah beredar thn kemaren (ini adalah film produksi 1998) dan seperti biasa dishoot dari dalam bioskop dengan camcorder. Yang kedua dengan gambar yg lebih bagus dan berteks chinese tapi digunting sensor, jadi not recommendable at all! Carilah yang ketiga yg dikopi dari Laserdisc.

uwee
11-05-2000, 09:19 PM
H2O?.... Bukannya mau diputar di 21?!

Rada
12-05-2000, 11:34 AM
uwee, kamu benar. Halloween H20: Twenty Years Later bakal segara diputar di Studio21.

uwee
16-05-2000, 07:41 PM
Rada... Elo liat di HBO ya 'If Walls Could talk' itu?
Gue sempet liat iklan-nya di sebuah majalah entertainment... Kira-kira, VCDnya berdar nggak ya?... Gue pengen nonton!

Hmm... berarti peran Chloe Sevigny disini nggak beda jauh sama perannya di Boys Don't Cry ya?!...

LadyDi
16-05-2000, 11:47 PM
Rada, elo kerja di Badan Sensor Film yah?

brigitta
17-05-2000, 12:01 AM
hihihi :D :D kerja di BSF :D hihihi. Ada juga yang bilang bang Rada punya rental VCD :D :D

Rada
17-05-2000, 12:09 AM
uwee, SEMUA film yang Rada komentari di forum ini, Rada tonton di VCD yang beredar di Jakarta. Beberapa Rada beli, sisanya Rada sewa. If These Walls Could Talk 2 Rada sewa.
Ini juga menjawab pertanyaan mengenai pekerjaan Rada :) :) :)

Rada
18-05-2000, 12:27 AM
The Messenger: The Story Of Joan of Arc

Joan of Arc adalah legenda sejarah, bukan cuma bagi Perancis tanah airnya tapi juga dunia. Sejarah mencatatnya sebagai pahlawan pembebasan tanah Perancis dari pendudukan Inggris dalam Perang Seratus Hari di abad XV. Di masa ketika tempat kaum wanita adalah mengurus rumah dan bekerja di ladang, Joan of Arc justru mengenakan baju zirah, menghunus pedang, menunggang kuda dan berdiri di barisan paling depan memimpin para pria dalam pertempuran demi pertempuran, di usia yang masih sangat belia, belasan tahun. Tapi di masa itu pula berlaku hukum Inkuisisi gereja yg secara semberono mengadili dan akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepada gadis butahuruf ini, dengan cara dibakar hidup-hidup. Joan of Arc menjadi Martir, di usia 19 tahun.

The Messenger adalah film kesekian yg mencoba memvisualisasikan kisah hidup Joan. Di tangan Sutradara/Penulis Luc Besson , berbeda dengan versi sebelumnya yg menggambarkannya sebagai wanita saleh yang menerima panggilan dari Tuhan untuk membebaskan negerinya dari penjajahan dan rela menanggung akibatnya, Joan adalah seorang wanita religius sinting yang mengira dirinya sebagai alat Tuhan yang dipanggil untuk maju berperang (sesuatu yg dikisahkan baru disadarinya sebentar sebelum dia dihukum bakar). Besson begitu setia dengan pendekatan ini frame demi frame sehingga penonton tidak melihat Joan sebagai gadis yg determined, taat pada panggilan, tidak gentar menghadapi apapun, tapi kita melihatnya sebagai gadis yg terlalu banyak menghayal, yg kacau pikirannya, yg nekat tanpa perhitungan dan akhirnya, sebagai gadis malang yang pantas dikasihani.

Dengan setting peperangan yg melibatkan banyak orang, seharusnya kita bisa melihat adegan pertempuran yang kolosal, tapi sayangnya Luc Besson kelihatan menyepelekan scene-scene pertempuran, jadinya adegan-adegan itu terlihat asal-asalan, tidak realistis, jauh kalau dibandingkan adegan dalam Braveheart misalnya.

Milla Jovovich dalam kesetiaanyya thd sosok Joan versi Besson, berhasil menunjukkan akting yg bagus. Sayang dia kelihatan terlalu cute untuk menjadi Joan dan tubuhnya yg kecil untuk ukuran Eropa kelihatan tidak seperkasa seharusnya ketika mengayun-ayunkan pedang ke tubuh musuh.

John Malkovich, Faye Dunaway dan Dustin Hoffman (tau sebagai apa?) ikut meramaikan film ini.

Dengan panjang film 160 menit, bisa dipastikan akan ada yang terpotong pada format VCD 2 keping. VCD (kopian) nya sendiri beredar di Jakarta dalam 2 versi: yg pertama sudah ada sejak tahun lalu, seperti biasa diambil dari dalam bioskop; yang kedua dikopi dari DVD, letterboxed tapi dengan subtitle Indonesia yg begitu besar sehingga mengganggu.

[This message has been edited by Rada (edited 18-05-2000).]

uwee
18-05-2000, 05:00 PM
gue tau sebagai siapa!... :)

Skywalker
18-05-2000, 07:19 PM
Halo Rada, TheMovieMaster
Hebat juga ya pengetahuan lo mengenai film, gue salut dech!(Two thumbs up)
Eh, bahas dong filmnya Meg Ryan(favorit gue), Hangin' Up (kalo nggak salah), soalnya kayaknya tu film nggak masuk sini deh. Menurut elo film ini bagus nggak?
Terus elo punya info nggak mengenai film sequelnya Forrest Gump, Gump & Co? Jadi nggak sih ni film dibikin? Apa bener Tom Hanks nolak tawaran maen film ini?

Skywalker
18-05-2000, 07:19 PM
Halo Rada, TheMovieMaster
Hebat juga ya pengetahuan lo mengenai film, gue salut dech!(Two thumbs up)
Eh, bahas dong filmnya Meg Ryan(favorit gue), Hangin' Up (kalo nggak salah), soalnya kayaknya tu film nggak masuk sini deh. Menurut elo film ini bagus nggak?
Terus elo punya info nggak mengenai film sequelnya Forrest Gump, Gump & Co? Jadi nggak sih ni film dibikin? Apa bener Tom Hanks nolak tawaran maen film ini?

deadvoid
19-05-2000, 02:10 AM
eh rada ulas dong tentang film2nya wim wenders...sutradara jerman yg bikin film wings of desire sama faraway, so close...
thank you nih kalo emang mau mengabulkan permintaan gue...

tukanggossip
19-05-2000, 07:53 AM
Rada, udah nonton The Talented Mr. Ripley belum ? Kalo udah, what do you think ? I found it disturbing.... :) :)

Wonk Jhowo
19-05-2000, 08:55 AM
walaaahh...rupanya disini ada master of the cinema....ngomong-ngomong udah nonton film Emanuelle belom? atawa Scandalous Behaviour? atawa find Up? kasih komentar donks.........

qiera
19-05-2000, 09:42 AM
Gue suka tuh film The Talented Mr. Ripley... Matt Damon maennya bagus... filmnya juga "dalem"....
Tentang seseorang yang terjebak dalam lingkaran kebohongan... dan akhirnya harus terus-menerus membunuh untuk mempertahankan kebohongannya... Walaupun tidak tertangkap oleh hukum... tetapi dia semakin terperosok dalam "kegelapan" yang diciptakannya sendiri.... wuih!

Rada
21-05-2000, 12:26 AM
Skywalker, Rada cuma ngomentari film yang Rada udah tonton dan terus terang Hanging Up ngga termasuk judul yg bakal Rada tonton. Sorry Bro..

deadvoid, satu-satunya filmnya Wim Wenders yang pernah beredar dalam format VCD di Jakarta cuma The End of Violence itupun kopian/bajakan. Dibintangi oleh Bill Pullman, Andie MacDowell dan Gabriel Byrne, ini adalah film drama biasa yang mencoba menggambarkan efek de-humanisasi teknologi terhadap kehidupan sehari-hari. Film nya sendiri mendapat kritik kurang ramah dari para kritikus dan dianggap sebagai salah satu karya buruk Wenders.

tukanggossip, Rada ngga nonton The Talented..... Sayang qiera cuma kasih ulasan singkat ttg film itu. Gimana qiera, bisa kamu ulas lebih panjang lebar lagi?

Rada
21-05-2000, 01:16 PM
From Dusk Till Dawn 2: Texas Blood Money

Melanjutkan From Dusk Till Dawn (1996) yang sukses, kini muncul sequelnya yang ditambah embel-embel: Texas Blood Money. Sebenarnya jilid 2 ini dibuat untuk langsung diedarkan dalam bentuk VHS, tapi Dimension Films tertarik memindahformatkan ke layar lebar. Mungkin fakta ini perlu kamu-kamu pikirkan waktu nonton ini di bioskop (bakal diputar di Twentyone). Kenapa? karena itu berarti budjet pembikinannya yang kecil membuat special effect yang ditemukan di film ini dibawah standard, hampir mirip special effect film-film Indonesia.

Tapi bukan itu saja kekurangan film ini dibanding yang pertama. Duo Rebert Rodriguez-Quentin Tarantino (masih ingat Desperado?) lepas tangan dari urusan penutradaraan dan skenario, tinggal cuma jadi Executive Producer. Padahal di kedua bidang itulah letak kekuatan FDTD yang pertama. Quentin Tarantino adalah penulis skenario yg sangat piawai. Karya-karyanya banyak mendapat pujian seperti misalnya Reservoir Dogs, Four Rooms, True Romance, Jackie Brown dan Pulp Fiction. Sedang Robert Rodriquez dikenal sebagai Sutradara pembawa genre baru yg mendobrak tradisi kaku, lewat karyanya El Mariachi dan Desperado.

Sebagai ganti mereka berdua, muncullah Scott Spiegel sebagai Sutradara sekaligue penulis skenario. Spiegel yang sebelumnya pernah menyutradarai film-film kelas 2 (B-Movies) kelihatan kalah kelas dari duo di atas, baik soal membesut film maupun membuat skenario yang bagus. Perhatikan saja bagaimana scene demi scene dan dialog demi dialog yang hampir bikin bosan kalau saja tidak ada vampir dan darah di dalamnya. Satu-satunya dialog yg cukup menarik adalah adegan menonton film bokep di motel murahan sambil saling berkomentar bagaimana cara mereka melakukannya dengan cewek masing-masing.

Mengenai bintangnya, bisa dimengerti pula kalau yg dipakai bukan bintang papan atas. Kalau dalam FDTD 1 kita menemukan bintang kelas atas seperti George Clooney, Tarantino, Harvey Keitel dan Juliette Lewis, dalam FDTD 2 ini yang ada cuma Robert Patrick dan diramaikan oleh Bo Hopkins dan Danny Trejo.

Trivia: Scene di awal film ketika 2 org kantoran diserang sepasukan kelelawar, ada yang tau siapa pemeran kedua korban itu?

Oh ya, kisahnya sama sekali bukan lanjutan dari yang pertama. Buck (Rober Patrick) yang baru keluar dari penjara tergoda lagi melakukan perampokan atas ajakan temannya. Mereka merekrut beberapa orang lain. Kali ini sasaran mereka adalah sebuah bank. Malangnya ketika para anggota komplotan itu akan bertemu di sebuah motel, salah seorang dari mereka diserang oleh vampire, dan berubah menjadi vampire juga. Sementara rencana itu dilaksanakan, satu persatu anggota komplotan ditulari. Puncaknya adalah terkepungnya mereka di dalam bank sementara malam sudah akan menjelang pagi.

Untuk penggemar film-film horor/thriller vampire, film ini mungkin cukup menghibur. Tapi kalau kamu baru menonton FDTD 1 pasti kamu akan kecewa thd film ini. Saran Rada, sewa saja VCD nya.

Oh ya, sekedar info, FDTD 3: The Hangman's Daughter juga sudah beredar dalam format VCD.

Enrique
21-05-2000, 09:14 PM
Rada, gue setuju soal terobosan-terobosan yang dibuat Tarantino. Tapi orang itu bukan tanpa kontroversi. Film-filmnya sendiri banyak sekali dipengaruhi banyak pihak. Misalnya Reservoir Dogs adalah 'remake' dari film Cina berjudul City of Fire. Bahkan banyak dialog-dialog dalam RD adalah pemindahan dari COF.
Kemudian Tarantino sendiri banyak dipengaruhi oleh Eric Stoltz. Beberapa skenario yang mereka tulis berdua dibeli sepenuhnya oleh Tarantino untuk kemudian diakui sebagai karyanya sendirian. True Romance sebenarnya ditulis lebih banyak oleh Stoltz, tetapi Tarantino mendapat kredit lebih besar dari sini.
Menurut gue sejauh ini Pulp Fiction adalah puncak keberhasilan Tarantino dan dia belum berhasil mengulanginya.

qiera
21-05-2000, 09:49 PM
Hi Rada... gue mo coba nyeritain film itu... gue suka banget sih...

Cerita bermula pada saat si Tom Ripley (Matt Damon) main piano di taman. Sebenernya dia cuma nolong temennya.. soalnya yang bertugas maen piano tangannya sakit. Maennya bagus sih, walaupun yang menjadi "bintang" saat itu adalah temennya yang nyanyi lagu seriosa (or something like that). Ternyata ada bapak2 yang perhatiin dia.. kenapa? soalnya dia pake jas sekolah sebuah univ. terkenal (gue lupa namanya). Nah, si Bapak itu anaknya juga sekolah di sana... dia nggak tau aja itu jas pinjeman. Anak si Bapak itu foya-foya en nggak mau pulang.

Si Bapak lalu nawarin 1.000 dolar untuk bawa pulang anaknya, Dickie (Jude Law) dari Italia. Kebetulan banget kan.. padahal si Ripley itu cuma penjaga toilet di sebuah opera. Ya udah, dia akhirnya cabut ke Itali. Ketemu deh sama si Dickie... ngibul sana-sini.. akhirnya dia bisa akrab sama si Dickie.. lihai banget bo' ngibulnya...

Dickie udah punya pacar, Marge (Gwyneth Paltrow). Si Dickie itu cakep banget en lifeboy. Nggak cuma cewek-cewek yang naksir.... hehe.... si Tom juga naksir (!). Hehe... hombre bo' ternyata.....

Lama-lama ketauan juga.... en si Dickie jadi jijay.. soale si Tom rada-rada cembokuran.. Pas si Tom ngaku... abis deh! Si Dickie marah-marah.. mereka berantem en nggak sengaja si Tom ngebunuh Dickie....

Dari sini deh.... si Tom jadi ahli banget ngebohong sana-sini... nyamar jadi Dickie yang tajir... soalnya si Tom ini pandai niruin tanda-tangan... jadi dia hidup sebagai Tom en Dickie... lihai abis deh.... bunuh sana sini... en selalu mujur...

Sebenernya bukannya nggak nyesel.. dia pengen banget manghapus saat-saat pertama ketemu si Bapak itu... jadi dia nggak akan terjebak dalam lingkaran kebohongan ini.. tapi mau gimana lagi... udah terlanjur... Dia mengibaratkan hatinya sebagai sebuah gudang gelap yang ingin dia buang kuncinya.. Terakhir.. dia sampe harus bunuh si Peter yang dia suka banget(!).. sambil nangis lo bunuhnya.... ruang gelap di hatinya benar-benar sudah terkunci....

Tadi gue nonton "Play it to The Bone".. Iiiiiiiii... jelek banget... :(

inertia
21-05-2000, 09:50 PM
ada yg tau sutradara cult/b-movies, PAUL BARTEL (Eating Raoul, Death Race 2000)?kabarnya dia baru aja meninggal dunia.
RIP.

Rada
27-05-2000, 03:49 PM
Mission To Mars

Rada adalah penggemar film ber-genre Sci-fi dan ketika Mission To Mars (kita singkt M2M) mulai di bioskop Rada tidak bisa menunggu sampai weekend menontonnya.
M2M adalah film "besar": Diproduksi dibawah nama besar Touchstone Pictures dengan bujet US$ 90 juta, didukung oleh 2 raja Efek Khusus (ILM dan Dream Quest), ditukangi oleh seorang empu lain: Brian De Palma. Wajar kalau Rada berharap bisa pulang dari Anggrek 21 dengan puas dan mulut mengucapkan kata "Waw, That was really something".

Tapi apa yang terjadi, kombinasi di atas ternyata tidak berdaya menbuat M2M menjadi sebuah film yang bagus, bahkan lumayan juga tidak. Biang keroknya tidak lain dari skenario nya yang jelek (Rada sendiri heran kenapa De Palma mau menerima order ini karena dari membaca skenarionya sendiri sudah bakal kelihatan kalau M2M tidak akan bagus). Dialog-dialognya sangat lemah dan tidak hidup, miskin konflik dan tidak terstruktur rapi membangun sebuah jalinan film yg bagus. Kalau saja bukan karena spesial efeknya yg di beberapa bagian sangat bagus, Rada sudah tertidur sebelum lewat 1/2 jam. Bahkan dialog yg lemah itu sudah dimulai sejak scene awal, ketika para awak misi kumpul-kumpul lengkap dengan keluarga masing-masing. Contoh lain adalah ketika terjadi kebocoran pesawat, dialog-dialog yg keluar sangat lemah, tidak menunjukkan ketegangan atau kegawatan situasi. Bahkan aktor sekaliber Gary Sinise dan Tim Robbins tidak mampu mambuat film ini lebih baik, karena mereka sendiri "terperangkap" dalam skenario yg jelek itu.

Oh ya, M2M berkisah ttg Missi berawak manusia ke planet Mars thn 2020. Ketika team yg dipimpin Luc menginjakkan kaki di Mars, mereka diserang semacam tornado pasir (adegan ini mengingatkan Rada pada adegan The Mummy, ketika badai pasir berbentuk mulut mengejar-ngejar pesawat capung). Semua tewas kecuali Luc yg sempat mengirimkan sinyal ke pangkalan. Maka dikirimlah missi kedua untuk menyelamatkan Luc. Apa yang mereka temukan di sana sungguh mengejutkan karena menyibak rahasia planet Mars dan menggugurkan pengetahuan manusia selama ini bahwa tidak ada kehidupan di Mars. Bahkan menurut film ini, hewan-hewan yg kita kenal sekarang dulunya berasal dari Mars!

Tapi apakah M2M begitu buruk? Ada juga beberapa hal yg cukup bagus ttg film ini. Antara lain ya Spesial Efeknya. Perhatikan misalnya adegan Jerry O connel berjalan di bagian stasiun ruang angkasa yg bundar dan berputar sementara awak yg lain sedang asyik di ruangan masing-masing ikut berputar vertikal tanpa terjatuh. Atau adegan tornado pasir tadi, lalu special effect di bagian akhir film yg mengisahkan sejarah Mars. Semuanya cukup menghibur. Lalu akting Gary Sinise dan Tim Robbin yang bagus.

Begitupun Rada tetap kecewa menonton film ini. Kalau Rada yg jadi pihak pengimpor film, bukan M2M yang akan Rada impor, tapi Pitch Black yang lebih mencekam (katanya). Tapi kalo kamu punya adik di bawah umur, memang M2M cocok jadi tontonan buat dia.

[This message has been edited by Rada (edited 27-05-2000).]

inertia
27-05-2000, 11:55 PM
Rada,
adegan jerry o'connel sedang lari diputaran itu pernah dibuat berpuluh2 tahun sebelumnya. film 2001 a space odyssey (1968) sempet mengetengahkan pola spesial efek ini dan efeknya menurut saya jauh lebih mengesankan. begitu pula bentuk helmet astronaut yg dipake, berikut inti cerita ttg eksistensi manusia ngga jauh beda dgn 2001. sepertinya M2M merupakan semacam tribute dari sutradara brian de palma utk film stanley kubrick 2001.

qiera
28-05-2000, 12:09 AM
Hehe.... tu film emang gokil en "lucu".... Anak esde bisa bingung nontonnya... sejarah terbentuknya bumi yang dipelajari di sekolah diobrak-abrik....
Tapi sedih juga sih pas si Woody "bunuh diri" di tengah ruang angkasa di depan mata istrinya..... hiks.... :(
Si Jim konyol ah! Masa dia ikutan mahluk Mars itu menyebarkan kehidupan di planet2...

^Z_triball^
29-05-2000, 11:11 AM
Itu Charlie's angel sama 102 Dalmatians kapan keluarnya ya?? ada yg tau?? atau mungkin bisa dikasih reviewnya???

Rada
05-06-2000, 04:11 PM
The Last Broadcast

Sudah nonton The Blair Witch Project (TBWP)? Film ini dipandang banyak kritisi sebagai salah satu film yg sangat orisinal dalam penggarapannya, karena dibesut dengan pendekatan dokumenter dan peng-adeganan yg sangat realistis. Begitu realistisnya sehingga banyak yang tertipu menyangka ini adalah sebuah liputan nyata ala program TV Hard Copy (atau acara Fakta di ANTEVE) dan bukan sebuah film.

Tapi ternyata TBWP bukanlah film yg orisinil, karena terlalu banyak kemiripannya dengan The Last Broadcast (TLB) yang dibuat setahun sebelumnya (TBWP dibuat thn 1999, sedangkan TLB thn 1998). Kalau dalam TBWP kisahnya adalah ttg 3 student pembuat film yang memasuki hutan dekat Burkittesville, Maryland untuk membuat dokumenter ttg legenda Blair Witch di daerah itu, maka dalam TLB kisahnya ttg 4 kru acara TV lokal "Fact or Fiction" yang memasuki daerah pedalaman Pine Barrens di New Jersey untuk menyiarkan secara langsung liputan ttg legenda Jersey Devil. Kalau dalam TBWP tidak ada satupun dari ketiga siswa tsb yg kembali, maka dalam TLB 2 diantara keempat kru tsb ditemukan tewas, seorang hilang dan seorang lagi kembali untuk diadili dan dipidana sebagai pembunuh ketiga rekannya. Kalau dalam TBWP keseluruhan film adalah footage/hasil rekaman kamera yg ditemukan 1 thn kemudian, makan dalam TLB filmnya dikemas sebagai hasil akhir dari investigative program ttg kasus itu yg terdiri dari wawancara-wawancara, footage yg didapat dari rekaman kru tsb dan dokumen-dokumen yg ada.
(Menurut rumor, pembuat TBWP melihat TLB di Sundance Festival, lalu membuat versi mereka sendiri).

The Last Broadcast sangat baik dalam mebuat penonton percaya bahwa ini bukanlah sebuah film melainkan liputan investigatif ttg kasus yg menggegerkan tsb. Di bagian awal tampillah David Leigh sang produser program yg menjelaskan apa yg mendorongnya membuat liputan ttg kasus pembunuhan di Pine Barrens tsb. Mulai dari sana ditampilkanlah cuplikan-cuplikan wawancara dengan pihak-pihak yg terkait, potongan-potongan hasil rekaman para kru yg bisa dilihat, liputan sidang pengadilan dst. Dengan kata lain, kalau kamu pernah nonton acara Fakta di ANTEVE, begitulah kesan yang akan kamu alami menonton TLB. Sayangnya endingnya membuyarkan sama sekali mood tsb karena mendadak dibuat seperti film biasa yg menunjukkan siapa pembunuh sebenarnya (sesuatu yg berbeda dengan TBWP dimana pembunuhnya tetap jadi misteri).

Kalau TBWP bikin pusing penonton dengan kamera yg bergerak ke sana ke mari dan kebanyakan adegannya dalam gelap dengan cahaya yg minim, menyaksikan TLB tidak sepusing itu. Karena digabung dengan wawancara dan liputan-liputan lain, pembuat program invertigasi itu telah menyusun kepingan-kepingan data dengan baik sehingga bisa dinikmati dengan enak.

Dalam soal suspense memang TBWP lebih mencekam (apalagi di adegan-adegan akhir). Walaupun mengandung ketegangan, TLB lebih mirip misteri daripada horor.

Begitupun kalau kamu suka dengan TBWP, coba jugalah menonton film ini, dan berikan komenmu ya.

Oh ya...The Last Broadcast dijual dalam format VCD di Jakarta dengan embel-embel judul palsu (yg dicetak justru lebih besar) "The Blair Witch Project 3"

themaker
05-06-2000, 08:05 PM
Rada
Ulasan lo tentang Being John Malkovich memang tepat.
Film ini memang wajib di tonton, terutama dari segi ide cerita yg nggak umum.
Menurut pandangan pribadi gue, ini semua nggak lepas dari peranan sang sutradara (spike jonze) sendiri yang memang selama ini punya ide ide yg sangat kontroversial.
Hal ini bisa dilihat dari beberapa video klip yg disutradarai oleh dia, misalnya: beastie boys (sabotage) yg tentang penjahat dan polisi, fatboy slim (praise you) yg dokumenter street dance.
Dari referensi tersebut bisa dibayangkan film itu bagaimana jadinya.

Skywalker
06-06-2000, 05:49 PM
Rada film frequency itu produksi mana(Warner,21CF,Columbia, ato yang lainnya)?

Film frequency ini setahu gue bukan menyelidiki konspirasi pembunuhan ayahnya, tapi ayahnya itu mati karena sebuah kecelakaan. Nah si anak berusaha memperingatkan ayahnya akan kecelakaan tsb melalui studio kecil siaran ayahnya, yg gak tau gimana caranya, tiba-tiba bisa berhubungan dg ayahnya yang udah mati 30 th yg lalu. Nah di tengah jalan barulah mereka bekerja sama untuk membongkar suatu konspirasi pembunuhan.

Oh iya kemaren gue nonton Bats, jelek banget, special effectnya pas-pasan beda banget ama special effectnya sleepy hollow

Rada
07-06-2000, 01:59 PM
^Z_triball^, kedua judul yg elo tanya menurut update terakhir bakal keluar bulan November ini, jadi masih lumayan lama. Sabar ya.

Skywalker, gue belon nonton Frequency, makanya soal pembunuhan itu gue taruh di dalam tanda kurung plus tanda tanya karena gue sendiri ngga tau persis itu pembunuhannya sapa. Filmnya sendiri keluaran New Line Cinema, jadi kalopun bakal keluar VCD originalnya, bukan oleh Vision ato Dutamitra tapi yang satunya (gue lupa itu perusahaan apa, tapi yg logonya gambar anjing kecil(?) dalam buletan) dan lebih murah harganya.

[This message has been edited by Rada (edited 07-06-2000).]

Dénk
07-06-2000, 02:32 PM
Eh tau nggak film apa yg lagi maen di Kota gua Disturbing Behaviour

Nyebelin banget khan. Setelah sekian lama gua nggak nonton bioskop. Ntar malem gua mau nonton juga. Abis bosen liat VCD terus. Nih film bagus nggak ya????

Besok deh gua ceritain.

brigitta
07-06-2000, 03:07 PM
hai Rada, memang benar bahwa The Last Broadcast memang mirip dengan TBWP. Tapi TLB juga bukan yang pertama! Yang pertama membuat film semacam itu adalah Rob Bonks dengan Strawberry Estates yang dibuat tahun 1994. Seperti juga TBWP, film ini ceritanya mengisahkan pemfilman sebuah mental asylum. SE ini sebenarnya tergolong b-movies. Ini ada sitenya: http://www.b-movie.com/scvpnews/estates.html

[This message has been edited by brigitta (edited 07-06-2000).]

angel-z
08-06-2000, 02:56 PM
Rada , puleaseeee review film-film Natalie Portman (terutama Where The Heart Is) .
I'm a big fans of Natalie !!!!!!

Rada
08-06-2000, 05:00 PM
Mission: Impossible 2

Apa yang kita harap dari sebuah sequel? Well, sesuatu yg lebih baik dari pendahulunya tentunya. Mission: Impossible 2 (M:I-2) lebih baik dalam rekor box office dibanding M:I (1996) yang juga sukses secara komersil. Tapi apakah filmnya sendiri lebih baik?

Dari segi plot dan cerita, M:I-2 bergeser makin jauh dari pakem seri Mission: Impossible -yang terpelihara dengan baik dalam serial TV nya- , dan makin kelihatan lebih mirip sebagai salah satu episode film aksi lain, James Bond misalnya. Oke, kita masih melihat merek dagang M:I seperti penggunaan topeng (yg dalam M:I-2 ini dilakukan dengan menakjubkan berkat kecanggihan CGI), dan penyusupan ke gedung ber-pengawalan super ketat. Tapi coba perhatikan scene penyamaran itu. Setelah yang pertama di pesawat, scene-scene penggunaan topeng berikutnya begitu bisa ditebak dan terlalu sering dilakukan. Soal penyusupan? Sama sekali pengulangan dari M:I yg pertama, kali ini dengan cara yg lebih cepat (dan lebih jelek).

Yang membuat M:I-2 makin jauh dari versi TV nya dan makin dekat dengan film aksi lain adalah sang sutradara sendiri: John Woo. Woo adalah sutradara asal Hongkong yang di Hollywood banyak dijadikan panutan dalam penggarapan film-film aksi (ciri khasnya bahkan dijadikan aliran tersendiri: wooism). Dengan ciri khas Woo- aksi spektakuler, slow motion di sana sini, perkelahian yg penuh ritme seperti tarian, penggunaan banyak kamera dalam satu scene, dan aksi menembak dgn pistol di kedua tangan, untuk menyebut beberapa trade marknya- M:I-2 dipenuhi dengan "tanda tangan" Woo. Harus diakui adegan aksi garapan Woo sepanjang film ini begitu spektakuler. Lihat misalnya adegan kebut-kebutan mobil antara Cruise-Newton, kejar-kejaran motor, atau perkelahian di bagian akhir. Tapi betapapun spektakulernya adegan-adegan itu (sampai-sampai terkesan berlebihan/overdone/hyper-stylized), semua adegan aksi itu cuma pengulangan dari film-film Woo terdahulu tanpa ada terobosan baru. Masih ingat dengan Face/Off? Burung dara yg menghiasi adegan baku tembak di kapel di film itu kembali muncul di M:I-2, juga sebagai "hiasan" dalam adegan serupa. Begitu juga tendangan Cruise dalam slow motion meniru film terdahulunya Woo: Hard Target dimana Van Damme melakukannya dengan lebih baik. Bahkan beberapa scene mengingatkan akan fim Matrix.

Tom Cruise kelihatan berusaha keras membuat tokoh Ethan Hunt mewujud dalam dirinya. Dua hal yang harus Cruise atasi: adegan perkelahian dan adegan roman. Harus diakui untuk 2 hal ini Cruise tidak begitu bisa diandalkan. M:I garapan De Palma untungnya tidak banyak menggarap kedua segi itu dan sebagai gantinya memusatkan keseluruhan film pada segi impossible nya misi mereka. (Untung juga bagi penonton karena De Palma memang tidak berpengalaman menggarap adegan-adegan aksi perkelahian atau baku tembak). Dalam M:I-2 Woo mahir menyembunyikan kekurangmantapan bagian-bagian tubuh Cruise dalam melakukan perkelahian (sebaliknya menonjolkan kemampuan panjat tebingnya yg konon dilakukan Cruise sendiri), tapi untuk adegan romantis Cruise masih belum berhasil. Entah kenapa paras dan mata Cruise kurang bisa menunjukkan kesan jatuh cinta pada Newton padahal elemen "jatuh cinta" itu sangat penting untuk plot berikutnya. Untunglah kekurangan itu ditutupi oleh bagusnya rangkaian adegan slow motion baik ketika Hunt dan Hall saling beradu pandang dari antara celah-celah tubuh-tubuh yg sedang menari Spanyol, maupun ketika mobil mereka beradu dalam adegan kebut-kebutan yg gila-gilaan.

Thandie Newton yg menjadi Nyah Nordolf-Hall, maling professional yg direkrut, lalu dicintai dan akhirnya harus diselamatkan Hunt bermain baik dalam film ini. Untunglah perannya bukan hanya sebagai cewek pemanis atau tempelan. Sebaliknya karakter Nordolf-Hall sangat sentral untuk keutuhan cerita M:I-2. "Damn, you're beautiful", kata Hunt, dan betapa benar dia. Newton yg kelahiran Afrika bisa dilihat antara lain dalam Besieged karya Bernardo Bertolucci (VCD kopiannya sudah lama beredar).

Yang cukup mengecewakan adalah casting Dougray Scott sebagai sang antagonis Sean Ambrose. Tampang dan cara bicara Scott (yang pernah jadi pangerannya Cinderella di Everafter) sama sekali tidak cocok jadi baj1ngan. Bahkan itu tanpa sengaja kelihatan dari reaksinya ketika mengetahui tujuan sebenanya kembalinya (mantan) pacarnya, Hall. Untuk tokoh jahat yg sedikitpun tak ragu memotong jari pengawal pribadinya dengan pemotong cerutu, Scott kelihatan terlalu lembek.

Anthony Hopkins sendiri cuma berperan cameo, cuma muncul sebagai pimpinan IMF dalam 2 scene.

Jadi apakah M:I-2 lebih baik dari M:I? Bagi penggemar fanatik konsep Mission: Impossible film ini tentu bikin kecewa. Tapi bagi yg tidak peduli dengan konsistensi dan menginginkan aksi yang cool dan gaya yang mengharapkan hiburan bukan pencerahan, yang menikmati imajinasi bukan realisme, tiket Rp.15 - 20 ribu perak tidaklah berarti apa-apa untuk aksi spektakuler dan hiburan sepanjang 2 jam.




[This message has been edited by Rada (edited 08-06-2000).]

Rada
08-06-2000, 05:23 PM
brigitta: Oh ya? I didn't know that. Gue kasih review The Last Broadcast karena beredar di Jakarta dan gue nontonnya. The Strawberry Estate seinget gue belon pernah beredar. Sayang ya...

angel-z, Rada cuma bisa kasih review film-film yg:
- Rada tonton sendiri (ngga lucu dong kasih "review" tapi ngga nonton)
- Sedang/baru beredar entah di bioskop ato dalam format VCD.

Where The Heart Is belon Rada tonton dan ngga termasuk dalam daftar yg bakal Rada tonton. Sedang filmnya Natalie yg lain: Star Wars the Phantom Menace mungkin baru akan Rada tonton (akan beli VCD originalnya)

Mungkin temen-temen lain ada yg bisa bantu angel-z?

Tentang diri dan segala sesuatu mengenai Natalie Portman bisa kamu temui di www.natalieportman.com (http://www.natalieportman.com) atau di http://us.imdb.com/Name?Portman,+Natalie

Enrique
08-06-2000, 06:17 PM
halo angel, gue juga suka sama natalie, meskipun belum nonton film terakhirnya.
Yang gue suka adalah penampilan dia di Leon (a.k.a The Professional).
Leon adalah film dari sutradara Prancis Luc Besson. Sedikit cerita tentang Besson. Dia sempat membuat kejutan ketika membuat film berjudul Le Grand Blue. Kayaknya di Indonesia film ini hanya beredar dalam format LD dengan judul Big Blue. Film ini bercerita tentang kecintaan seorang penyelam terhadap laut. Kecintaan itu diterjemahkan Besson dengan sangat baik dengan menggunakan gambar-gambar indah tentang laut. Kesan yang muncul adalah: keindahan itu muncul dari sudut pandang si tokoh ini.
Nah, Besson juga bagus sekali ketika membuat La Femme Nikita yang diadaptasi dengan sangat buruk oleh Hollwood (Warner Brothers) menjadi The Assassin (Point of No Return).

Nah, Leon adalah film pertama Besson yang diproduksi Hollywood. Di film ini, Besson memasang aktor andalannya, Jean Reno. Reno bermain sebagai seorang pembunuh bayaran sangat profesional. Sebagai gambaran profesionalismenya, menurut Leon, puncak ketrampilan seorang pembunuh bayaran adalah apabila berhasil membunuh dengan pisau. Leon digambarkan sebagai seorang pembunuh bayaran kesepian yang tidur dengan satu mata terbuka dan pistol di tangan. Leon tidak punya teman kecuali sepucuk pohon yang tumbuh di sebuah pot yang diletakkan di jendela flat-nya.

Di flatnya, Leon bertetangga dengan keluarga berantakan. Ayah dari keluarga itu terlibat perdagangan narkotika. Sekeluarga mereka dibunuh oleh polisi korup dari kesatuan anti narkotik (DEA) yang dipimpin Gary Oldman. Gary Oldman bermain luar biasa baik dalam film ini sebagai seorang polisi pemadat.
Dari pembunuhan itu, seorang anak mereka ternyata selamat. Anak berusia 10 tahun inilah yang diperankan oleh Natalie Portman. Leon berperan dalam menyelamatkan anak tersebut. Kemudian terjalin hubungan aneh antar mereka. Si anak itu minta diajarkan oleh Leon menjadi pembunuh bayaran. Leon menolak. Bahkan ia tidak suka dengan adanya seorang anak kecil dalam hidupnya yang merupakan beban berat.

Begitulah hubungan mereka berlanjut sampai Leon akhirnya merasakan bahwa kehadiran anak perempuan ini (namanya udah lupa...) membawa perubahan dalam hidupnya. Ia menjadi lebih manusiawi. Ia mulai bercanda, membawakan oleh-oleh dan berpikiran untuk 'punya akar'. Natalie sempat memprotes Leon soal pohon itu karena menurutnya membiarkan pohon itu dalam pot berarti membuat pohon itu tumbuh tanpa akar yang kuat.

Sementara itu Gary Oldman mulai mencium keberadaan Natalie yang bisa menjadi duri dalam daging dan mengirimkan satu pasukan lengkap ke tempat Leon. Terjadilah pertempuran hebat antara pasukan anti narkotik yang bersenjata lengkap (termasuk bazook) dengan seorang pembunuh bayaran profesional. Film ini tidak berakhir dengan ceria. Leon dan Natalie digambarkan nyaris berhasil meloloskan diri dari kepungan, tapi gagal. Natalie selamat sementara Leon harus tewas di tangan Gary Oldman. Tapi ia sempat membawa mati Gary Oldman dan membalaskan dendam Natalie. Film berakhir dengan adegan Natalie menanam pohon teman Leon itu di tanah.... kemudian ditutup dengan lagu Shape of My Heart dari Sting.

Meskipun film ini dianggap sebagai sebuah degradasi dari film-film besson sebelumnya, tetapi gue pribadi merasa film ini sangat bagus. Terutama dalam soal casting dan akting. Jean reo, Gary Oldman dan Natalie Portman sangat sempurna untuk peran-peran mereka. Terasa sekali bahwa Natalie ternyata mampu menandingi kemampuan akting Oldman maupun Reno.

Film ini sendiri sudah lama beredar di jaringan 21, dan tersedia dalam format VCD (original, harganya 35 rebuan). Kalo emang demen Natalie, tonton film ini!

Shocking Blue
08-06-2000, 08:30 PM
Sori Rada, gue mo ikut numpang nge-post.

Tentang The Talented Mr. Ripley, itu film sungguh membuat gue bermuram durja. Terutama endingnya yang membuat gue pengen protes.

Si Peter kan begitu mencintai Ripley, si Ripley juga suka sama dia. Terus, kenapa dia harus membunuh Peter, yang nota bene gue pikir sebenernya memahami Ripley dan gue duga Peter sebenernya udah mencium gelagat perbuatan Ripley tapi bisa dia terima karena cinta.

Yang aneh, Ripley membunuh Peter hanya karena ketemu dengan si cewek jutawan itu dan dia ingin tetap mempertahankan kebohongannya. Bagaimana dia mau tetap mengaku pada cewek itu bahwa dia adalah Dickie, sementara (kalo gue ngga salah mengerti) Dickie telah secara resmi dianggap meninggal dunia (bunuh diri ataupun menghilangkan diri).

Kalo dia mau tetap mengaku sebagai Dickie pada si cewek anak juragan kapal itu, yang notabene keluarganya mengenal atau paling tidak tahu tentang keluarga Greenleaf (sebagai sesama konglomerat), ngga mungkin banget kan kalau kebohongannya itu dapat terus bertahan.

Sebenarnya gue pengen endingnya seperti ini: Ripley mengaku pada si cewek bahwa dirinya waktu itu cuma becanda ngaku sebagai Ripley. Udah itu say goodbye sama itu cewek dan hidup bahagia bersama Peter. Jadi dia tidak harus "terkunci dan terkubur dalam ruang gelap itu".

Thanks.

:)
Blue

Shocking Blue
08-06-2000, 08:33 PM
Ralat: Paragraf terakhir posting gue:

Ripley mengaku dirinya cuma iseng ngaku sebagai Ripley

seharusnya:

Ripley mengakui dirinya cuma iseng ngaku sebagai Dickie

:D :D

Rada
09-06-2000, 12:32 AM
Shocking Blue, Anthony Minghella, sutradara sekaligus penulis script The Talented Mr. Ripley bilang gini: Ripley yang selalu mencari cinta, mencari seseorang untuk mencintai dan dicintai, menyabot (sabotages) kesempatannya demi cinta. Dengan meniadakan diri sendiri (dengan cara menjadi orang lain) Ripley membuat dirinya terkutuk, tidak akan bisa bebas menjadi dirinya sendiri...........Pembunuhan atas Dickie terjadi tanpa rencana, tapi berlangsung begitu saja secara tiba-tiba didorong kemarahan (rage) Ripley atas penolakan Dickie.....Ripley ibarat seorang anak kecil yg mengotori meja dengan air jeruk. Dan dalam usahanya menutupi kekotoran itu dia menjatuhkan teko, memecahkan piring, membuat meja dan rumahnya sekalian hangus terbakar.

Kalo mau tau lebih banyak ttg komentar Minghella, masuk aja ke http://movies.yahoo.com/shop?d=hv&id=1800350099&cf=prod

angel-z
09-06-2000, 12:41 AM
Enrique----> thanks buat review Leon:The Profesional. Gua udah pernah nonton filmnya di layar emas RCTI tapi udah lamaaaa banget, gua juga belom suka Natalie waktu itu. Anyway, elo lupa namanya Natalie di sono ya? Namanya Mathilda. Oh ya Rique, elo udah pernah nonton Beautiful Girl ngak?

Rada----> Where The Heart Is emang belom keluar, tapi gua baca di internet katanya itu film ngak terlalu bagus (malah cuma dapet grade D). Penyebabnya cuma satu ,katanya para pemainnya kurang menghayati peran. kecuali Natalie and Ashley Judd. ngak pa-pa lah , yang penting: that is Natalie's movie !!!!!

Enrique
11-06-2000, 09:32 PM
hai angel, beautiful girl belom nonton.
gue kelewat semangat ngasih review ya hehe... maklum gue demen film-filmnya besson..

Nitewing
11-06-2000, 09:45 PM
rique, elo mesti nonton Beautiful Girl!
biarpun bukan filmnya Luc Besson,
tapi cukup bagus kok!...
Natalie tampil 'cute' banget!
jauh lebih bagus ketimbang di 'Episode 1'!

angel-z
15-06-2000, 03:18 PM
gua setuju sama Nitewing, porsi Natalie Portman di Star Wars terlalu dikit

Rada
22-07-2000, 12:52 AM
:) :) :)

Rada
22-07-2000, 02:25 PM
Gone In 60 Seconds

Gone in 60 Seconds (Gi60S) adalah kolaborasi ke-3 Jerry Bruckheimer-Nicolas Cage setelah The Rock dan Con Air yg sukses. Bruckheimer dikenal sebagai produser film-film aksi berbiaya besar yg dalam film-filmnya bayak biaya dikeluarkan untuk menciptakan adegan-adegan spektakular dan ledakan-ledakan dahsyat, dimana benda-bendalah yg membuat action, bukan tokoh-tokohnya.

Nicolas Cage berperan sebagai Memphis Raines, mantan maling pro yg terpaksa kembali ke Long Beach demi menyelamatkan Kip (Giovanni Ribisi), adiknya yg disandera bos para pencuri mobil gara-gara kegagalan Kip dalam sebuah operasi pencurian mobil. Raines dipaksa melakukan pencurian 50 mobil mewah dalam semalam baru Kip dibebaskan. Raines lalu kembali mengumpulkan teman-temannya, termasuk Sara "Sway" Wayland (Angelina Jolie) dan Otto Halliwell (Robert Duvall).

Dengan mengambil setting dunia maling mobil professional ditambah judul yg povokatif: Lenyap dalam 60 detik, kita bisa harapkan film ini akan banyak diisi dengan adegan kebut-kebutan, adu balap kecepatan tinggi dan ledakan-ledakan menggelegar. Tapi sayangnya film ini jatuh menjadi lebih sebagai sebuah drama daripada aksi. Sampai 1/2 jalan film ini kita tidak menemukan adegan kebut-kebutan, dan ketika akhirnya itu terjadi, penggarapannya mengecewakan. Dan ciri khasnya Bruckheimer tidak membekas dalam keseluruhan film ini. Secara keseluruhan Gi60S hampir membosankan kalau saja tidak ada Cage, Duvall dan Delroy Lindo yg cukup bermain baik. Bahkan Angelina Jolie cuma tampil jadi karakter pemanis saja, sama sekali tidak ada artinya dalam plot cerita.

angel-z
22-07-2000, 06:27 PM
Rada , bahas donk tentang Crouching Tiger Hidden Dragon. Menurut gua, filmnya BAGUUUUUS BANGETTTTT

Skywalker
23-07-2000, 05:47 AM
Hallo Rada....Lama nggak keliatan....kemana aja?
Gue jadi susah untuk ngeliat ulasan film2x baru dari elo...

Eh btw elo udah pernah ngebahas The Green Mile bln sih? Kemaren gue nyewa VCDnya. Wah ceritanya keren banget...

O iya bahas dong Perfect Storm n Chicken Run, kaya'nya tu film bagus juga..

Yosi
23-07-2000, 09:19 AM
Skywalker, baru nonton The Green Mile ? ceritanya emang top abiss! udah baca bukunya? :)

snowlike
24-07-2000, 12:12 AM
Berhubung rada gape banget cerita film, tanya dooonggg... kalo film ini gimana:

Till There Was You
She's the One
Autumn in New York

Makasih sebelomnya...

krycek
24-07-2000, 12:21 AM
Rada, how many thumbs you give for Reindeer Games?

Rada
24-07-2000, 01:33 PM
Crouching Tiger, Hidden Dragon

Ang Lee. Sutradara Cina ini mendapat tempat terhormat dalam perfilm-an dunia sebagai sutradara yang piawai menggarap drama dengan unsur realisme sosial yang kental. Dimulai dengan film-film berbahasa dan berlatar belakang Cina (maaf buat kamu-kamu yang menganggap kata Cina sebagai istilah yg kasar, Rada sedikitpun tidak bermaksud kasar), belakangan Ang Lee menunjukkan pada kita bahwa dia juga mampu menyerap lalu menggambarkan dunia dan kultur Barat, lewat beberapa film berlatar belakang Inggris maupun Amerika.

Sakarang, lewat Crouching Tiger Hidden Dragon (CTHD) Ang Lee memperlihatkan kemampuan yang makin meluas, karena untuk pertama kalinya dia menggarap thema silat/perkelahian. Ang Lee membuat fim silat? Hm....apa jadinya ya?

Dengan skenario yg berdasarkan buku karya Wang Du Lu, kisah CTHD berpusat pada kehidupan (dan akhirnya tragedi) 3 orang: Jen (Zhang Zi yi) seorang gadis muda yang kebingungan dalam mencari jati dirinya; Li Mu Bay (Chow Yun Fat) seorang pendekar yang ingin mundur dari dunia persilatan namun kembali terseret kedalamnya, dan Yu Shu Lien (Michelle Yeoh) pendekar wanita yang saling mencintai dengan Li Mu Bay namun tidak pernah saling mengungkapkannya sampai akhirnya semuanya terlambat.

Pada dasarnya Jen adalah seorang yang baik, namun digembleng oleh orang yang salah, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik namun jiwanya makin menjauh dari kebijaksanaan seorang pendekar. Padahal menjadi seorang pendekar adalah keinginannya. Ketika tindakan gegabahnya membuat dia harus bentrok dengan pendekar Li Mu Bay terungkaplah bahwa yang melatih dia selama ini adalah Jade Fox, tokoh yg selama ini dicari-cari untuk balas dendam atas kematian gurunya. Li Mu Bay yang melihat jauh ke dalam diri Jen bermaksud menjadikannya muridnya, namun pengaruh jahat dalam diri Jen ternyata sudah begitu dalam. Masalah pedang ini, pertemuan kembali dengan pembunuh gurunya, membuat Li Mu Bay kembali harus menghunus pedang lagi, tindakan yang menunda terjalinnya ikatan resmi dengan kekasihnya, pendekar Shu Lien, untuk selama-lamanya. Ketika akhirnya Jen sadar dan menemukan jati dirinya, segala sesuatu sudah terlambat. Film diakhiri dengan tragedi cinta dua pasang kekasih.

Sebagai sebuah film silat, CTHD adalah salah satu film silat dengan adegan-adegan perkelahian terbaik yang pernah Rada saksikan. Jarang ada perkalahian yang seindah dan se-artistik ini; Rada hanya bisa menyebut 1 sebagai perbandingan: The Blade garapan Tsui Hark. Kalau perkelahian ala
Jet Lee adalah perkelahian yang fantastik (penuh khayalan) dan perkelahian ala Jackie Chan adalah perkelahian yang akrobatik (seperti akrobat saja) maka dalam satu kata, perkelahian dalam CTHD adalah: artistik. Yen Ho Ping yang dalam Matrix mampu membuat perkelahian oleh Bule-yang-tidak-bisa-bela-diri kelihatan sangat believable, dalam CTHD makin menegaskan posisinya sebagai penata laga yg mumpuni, yg sudah berada di level Guru, dimana perkelahian bukan lagi asal baku hantam, tapi perkelahianpun punya keindahan, seni tersendiri. Walaupun adegan lompatan-lompatan tinggi yang menentang gravitasi bumi kelihatannya berlebihan, namun untuk sebuah film silat bersetting jaman kuno, penggunaan ginkang tingkat tinggi itu masih bisa diterima. Apalagi digarap dengan teknik yg begitu tinggi yang pastilah persiapannya amat sangat rumit.

Tapi dimanakah andil Ang Lee sebagai Sutradara dalam CTHD? Rada tidak familiar dengan film-filmnya, namun unsur dramatik dalam CTHD sangat terasa. Rasa saling cinta antara pendekar Li Mu Bay dengan Shu Lien begitu kentara tanpa kata-kata, bahkan sejak film dibuka. Begitu juga pergolakan yang dialami Jen dieksplorasi dengan baik sekali Ang Lee. Sayang sekali skenario yang lemah dalam banyak segi tidak sanggup ditambal bahkan oleh seorang Ang Lee sekalipun. Misalnya konflik pribadi dalam diri pendekar Li Mu Bay yang membuatnya tidak juga menyunting kekasihnya, tidak mendapat porsi yg cukup untuk meyakinkan penonton. Begitu juga keseluruhan kisah yang tidak memusat kepada salah satu tokoh melainkan 3 membuat fokus penonton menjadi terpencar (mungkin inilah resiko memunculkan 2 bintang dalam sebuah film yang inti kisahnya justru pada seorang yang diperankan bintang pemula yg lain). Ditambah lagi dengan beberapa karakter yang muncul dan cukup menyita waktu tayang namun tidak relevan dalam inti cerita. Ambil contoh misalnya karakter polisi yang menyamar dan putrinya, atau si pengawal yang menggelikan. (Melihat adegan putri mendiang Polisi yang meminta pengawalnya masuk membuat Rada mengira akan menonton kisah cinta 3 pasangan, ternyata adegan itu tidak relevan sama sekali).

Chou Yuen Fat kelihatan terlalu kaku mengintrepretasikan sosok pendekar Li Mu Bay. Lihat saja raut mukanya yang tidak berubah sepanjang film (walaupun pernah sekali tertawa) sehingga pergolakan jiwanya tidak terbaca oleh penononton. Michelle Yeoh sebaliknya bermain baik sebagai seorang wanita perkasa namun tetap seorang wanita yang menunggu dan berharap prialah yang menyatakannya lebih dahulu. Namun yang paling menonjol adalah penampilan Zhang Zi Yi sebagai Jen yang begitu gemilang. Sosoknya yang kecil dan wajahnya yang cantik tidak menghalanginya memperlihatkan kemampuan akting yg begitu menawan sebagai pribadi yg mendua, antara gadis pesolek yang halus tutur sapa dan petarung tangguh yang gelisah, galak dan kadang-kadang kejam. Dan Rada juga terkesan dengan peran Cheng Pei Pei sebagai nenek tua jahat Jade Fox, yang mengingatkan Rada akan Farida "Nenek Lampir" Pasha.

Salah satu kelemahan yang sangat mengganggu dalam menikmati CTHD adalah subtitle/teks nya. Rada tidak mengerti bahasa Mandarin, namun rasanya banyak kalimat yang tidak tepat terjemahannya. Sepertinya penerjemahnya melakukan alih-bahasa secara terlalu harafiah, tidak melihat konteksnya dengan keseluruhan kalimat.

Menurut perkiraan Rada, penonton Indonesia akan menonton CTHD karena ini adalah sebuah film Silat, bukan karena ini adalah filmnya Ang Lee (yg di Indonesia sendiri kurang dikenal). KAlau begitu, tontonlah film ini. Walaupun pecinta film silat sejati mungkin akan kurang puas dengan kurang banyaknya adegan perkelahian di dalamnya, tapi itu terbayar dengan keindahan penggarapan tiap adegan perkelahian yang ada. Rada tidak menyarankan "jangan tonton" bagi pecinta film drama, karena Rada yakin bukan pecinta drama yang akan ke bioskop menyaksikan film ini.

lavender
24-07-2000, 06:29 PM
Dear Rada,
Nanya dong ?! Gimana sih sinopsis-nya film RETURN TO ME (David Duchovny, Minnie Driver) dan juga film BOYS AND GIRLS (Freddie Prinze Jr. , Claire Forlani) ??
Terima kasih !!

angel-z : Apakabar ?? Terima kasih banget buat support moral yg elu dan teman2 lainnya (chocobo, qierra, hansel, etc udah berikan pada gue !! I miss you guys !! Love to talk to you all again !! :) :) :)

angel-z
24-07-2000, 07:08 PM
Rada , elo betul banget kalo teks di CTHD itu kacau balau semua. Kalo ngerti bahasa mandarin , pasti nontonnya lebih asyik.

Rada
27-07-2000, 08:29 AM
skywalker, sayang sekali judul yg elo sebutin belon Rada liat: Perfect Storm nunggu diputar di bioskop Jakarta, Chicken Run kayanya bakal ngga Rada liat deh. Juga buat snowlike ngga satupun judul yg elo sebutin Rada tonton, kan ngga lucu kalo diulas tanpa diliat dulu.

krycek, no thumbs for Reindeer Games. Cukup bagus tapi ngga sampe ada Thumbs Up.

lavender, karena yg elo minta cuma sinopsis, Rada bisa kasih biarpun Rada ngga nonton:
Return to Me, film komedi romantis yg bercerita ttg Bob Rueland (David Duchovny) seorang kontraktor yg kesepian ditinggal mati istrinya dalam kecelakaan mobil. Sementara itu Grace Briggs (Minnie Driver) seorang pelayan restoran yg mengalami kelainan jantung, menerima jantung baru. Masing-masing berusaha hidup normal setelah mengalami kejadian itu, dan nasib mempertemukan mereka hingga mereka menyadari dari mana jantung itu berasal. Kalo elo suka While You Are Sleeping, elo pasti suka film ini. Disutradarai seorang cewek: Bonnie Hunt, film ini banyak dipuji sebagai film komedi romantisnya orang dewasa yg indah dan bersih dari adegan-adegan "jorok".

Boys and Girls sebaliknya adalah komedi remaja yg walaupun ber-rating PG13, themanya cukup dewasa: *** change everything. Kisahnya simple: sepasang sahabat baik yg akhirnya melakukan hubungan seks, dan sejak itu hubungan meraka jadi rusak. Banyak dicerca sebagai film yg boring predictable dan nyontek film-film terdahulu. Not recommendable.

amos
27-07-2000, 03:51 PM
Hai..salam kenal gue newcomer nih..he he..
cuman mo' ikut ngomentarin..boleh khan???...
Seneng banget ternyata ada juga yg getol banget ngepost resensi/sinopsis/kritik about movies (no..I mean 'movies') he he. Walaupun kayaknya beberapa sadurannya dari internet...gue sendiri sering banget ngider di website movies since that's one of my greatest hobbies.
Yah..keep the good work ajah deh..tapi gue mau tauk nih karya film baru-baru ini yang eloe (ato siapapun) anggap paling...paling apa yah...yah pokoknya yang paling deh (dgn arti positif) in a whole production apa sih..
dan faktor apa yg eloe anggap paling menentukan dalam sebuah film..apakah aktor yg bermain bagus,plot/tema/alur yg bagus,sinematografi,editing,visual effects,screenplay,sutradaranya,produsernya,ph-nya etc....yang bisa bikin eloe bilang film itu setidaknya lumayan baguslah...
okay segitu ajah dulu... ;)

FloodBoy
27-07-2000, 04:34 PM
Minggu lalu aku nonton Me, My Self ANd Irene
:) :) gilaa kocak amat plus jorok ya...hehehehe..gimana komentar teman teman??
Terus ada yang udah nonton battlefield earth blon??
sama U571 dan Holowman ?
gimana pendapatnya???

lavender
28-07-2000, 11:48 AM
Terima Kasih Rada buat info-nya !! Kira2 Return To Me bakalan masuk ke Indonesia, nggak yah ?? HOPE SO !! :) :) :)

Rada
28-07-2000, 03:28 PM
Scary Movie

Scary Movie, Film seram menakutkan. Tapi jangan mau tertipu. Jauh dari sebuah "Scream" yang lain, Scary Movie (SM) adalah sebuah film komedi, tepatnya sebuah Parodi. Sebagaimana parodi-parodi yang lain, SM dipenuhi cuplikan adegan-adegan film lain, tentunya yang diplesetkan dengan tujuan biar lucu. Mulai dari trilogi Scream, I know What You Did Last Summer, Blair Witch Project, Sixth Sense, bahkan film non-horor lain seperti Usual Suspect atau Matrix diplesetkan dalam SM.

SM adalah proyek keluarga Wayans. Disutradarai Keenen Ivory Wayans (pernah kita lihat main di Glimmer Man dan Most Wanted), ditulis dan dibintangi Wayans yang lain: Shawn dan Marlon Wayans. Cerita dasarnya diambil dari Scream tapi ya itu tadi, sepanjang film kita disuguhi potongan plesetan adegan-adegan film terkenal lain.

Karena tujuannya memang melucu, apakah SM memang lucu? Satu hal yg bisa Rada bilang adalah: Yang ada dalam pikiran kedua penulis di atas tidak jauh-jauh dari yg jorok-jorok, yang tergambar dari adegan-adegan dalam SM. Sepertinya mereka menganggap bahwa untuk menciptakan kelucuan, seks harus dilibatkan, tanpa seks tidak ada kelucuan (mungkin karena keduanya masih muda). Kalau kamu cukup jijik dengan humor dalam There is Something About Mary, atau merasa kelucuan Me Myself and Irene terlalu kasar, siap-siaplah untuk merasa mual dengan SM. Bahkan dalam salah satu adegan jelas diperlihatkan pen1s pria, yang (maaf) menembus kepala seseorang. Kamu bisa tertawa melihat plesetan adegan pembunuhan di toilet bioskop dari awal Scream 2 itu? Rada tidak bisa. Ada beberapa adegan menggelitik, tapi secara keseluruhan, humor yg kurang cerdas membuat film ini walaupun tidak membosankan, tidak terlalu berhasil mencapai level parodi berkelas ala Zucker bersaudara.

krycek
28-07-2000, 10:54 PM
Rada, pernah dengar Joe vs. The Volcano? Ceritanya apaan sih? Padahal 'kan mempertemukan Tom Hanks dan Meg Ryan juga?

krycek
28-07-2000, 10:56 PM
Rada, pernah dengar Joe vs. The Volcano? Ceritanya apaan sih? Padahal 'kan mempertemukan Tom Hanks dan Meg Ryan juga? BTW, Joan of Arc aka The Messenger kenapa ngga' pernah jadi diputer di bioskop?

Rada
29-07-2000, 01:10 PM
krycek, benar, Joe vs The Volcano adalah film pertama yg mempertemukan Tom Hanks & Meg Ryan (thn 1990). Uniknya dalam film ini Ryan memerankan 3 karakter yg berbeda!. Kisahnya sendiri walaupun mengandung roman tapi pada intinya tentang pergulatan seseorang menghadapi kematian.
Joe Bank divonis dokter cuma punya umur 6 bln lagi. Joe meninggalkan pekerjaannya untuk menikmati sisa hidupnya, pergi ke sebuah Pulau terpencil, dan berkenalan dengan Patricia dalam perjalanan ke sana.
Di pulau Waponi Woo itu Joe berusaha memahami arti kehidupan dan kematian, antara lain dengan memutuskan untuk menjadi sesajen untuk menenangkan dewa penghuni gunung dengan cara melompat ke dalamnya.

Gue juga heran kok Joan of Ark ngga jadi-jadi diputar. Kalo udah miss the timing kaya gini, kecil kemungkinan bakal laris.

[This message has been edited by Rada (edited 29-07-2000).]

krycek
30-07-2000, 12:28 AM
Thanks buat infonya. Rada pengagum Zucker atau Abrahams? In case you didn't know yet, chat live with Jim Abrahams and David Zucker about "Airplane!" (Wednesday 6 p.m. ET/3 p.m. PT) at http://www.eonline.com.

Rada
30-07-2000, 01:26 PM
Big Momma's House
Martin Lawrence pastilah merasa lebih baik dan lebih lucu dari Eddie Murphie ketika menyetujui main dalam Big Momma's House. Atau dia merasa punya lapisan penggemar sendiri yg akan menontonnya meskipun film itu "tiruan" dari beberapa film lain (Mrs.Doubtfire, Nutty Professor bahkan segera bersaing dengan Nutty Professor 2).

Kisah Big Momma's House (BMH) sangat sederhana, cukup sekadar ada
untuk kemudian diisi penuh dengan kelucuan-kelucuan khas ala Martin Laurence. Martin berperan sebagai Malcolm yang bersama rekannya John (si tampang lucu Paul Giamatti) berusaha melacak keberadaan Lester (Terence Howard yang tampangnya kurang meyakinkan sebagai penjahat kejam) yang kabur dari penjara. Lester dipidana kerena merampok bank di mana pacarnya Sherry (si hitam cantik Nia Long) bekerja. Sherry sendiri yg mendengar kabar kaburnya Lester segera mengungsi bersama putranya ke tempat neneknya, yg kebetulan harus bepergian beberapa lama. Malcom, yg ahli dalam penyamaran melihat kesempatan itu dan menjelmalah dia menjadi Big Momma berbobot seratus kilo. Mengenal Sherry yg juga dicurigai menyimpan hasil rampokan Lester, Malcolm malah jatuh cinta.

Sebagai sebuah panggung komedi, bisa dibilang BMH adalah panggungnya Martin Lawrence seorang. Dialah sang bintang yang memenuhi seluruh masa tayang film dengan adegan-adegan dan ucapan-ucapan menggelikan. Dan beberapa adegan cukup membuat tertawa, misalnya adegan Big Momma membantu persalinan, atau pengakuan di gereja. Untungnya BMH tidak memaksa memasukkan adegan-adegan repotnya bergonta-ganti antara Malcom-Big Momma, yang secara baik ditampilkan dalam Mrs.Doubtfire.
Secara pribadi Rada menilai BMH lebih lucu dari The Nutty Professor. BMH mengekspose kelucuan Martin dengan adegan-adegan dan situasi yg sangat cocok buatnya, sehingga walaupun konsepnya bukan konsep yg original, kita masih bisa menikmatinya karena memang komedilah yg kita harapkan dari film semacam ini. Terkadang dalam film yg bintangnya berkulit hitam kita sulit tertawa melihat komedi yg mereka bawakan, tapi itu tidak kita temui dalam BMH.
Kisahnya sendiri, apalagi endingnya yg lemah dalam penyelesaian konflik baik antara Malcom dan Lester maupuan konflik cinta Malcolm-Sherry menjadi tidak terlalu penting, selama tidak terlalu mengada-ada.

Kalau kamu cukup suka dengan Blue Streak nya Martin Lawrence, tontonlah film ini.

Rada
31-07-2000, 03:17 PM
Battlefield Earth

Sebagai pecinta Science fiction, Rada punya high expectation waktu mau pergi nonton Battlefield Earth (BE). Apalagi mengingat film ini dibintangi aktor sekaliber John Travolta. Biarpun banyak pengulas mencerca BE sebagai film jelek, bahkan ada yang bilang "probably the worst film of the century", tapi Rada pikir "Hey....bisa sejelek apa sih film genre favorit dan dibintangi aktor John Travolta?" Dan melangkahlah Rada ke dalam bioskop. Dan sepulang dari sana Rada berkata "Seandainya gue denger kritikus-kritikus itu....."

BE adalah sebuah bencana dalam dunia perifilm-an, khusunya film science-fiction. Membaca judul keren, Medan Perang Bumi yg diangkat dari novel L.Ron Hubbard, wajar kalu kita membayangkan petualangan seru antar galaksi, perang antar manusia melawan makhluk asing untuk menyelamatkan peradaban, makhluk-makhluk dan pesawat-pesawat aneh bersileweran. Tapi menyedihkan dan mengecewakan sekali, sebaliknya hampir selama 2 jam penonton diusuguhi drama yg membosankan mengenai persaingan di dalam sebuah perusahaan, kisah tentang office politics. Sepanjang sejarah Rada menonton film, baru kali ini Rada beberapa kali melirik jam sambil bertanya-tanya kapan bencana ini berakhir (hanya karena keinginan yg kuat menuntaskanlah Rada bisa bertahan biarpun dari belasan kursi yg terisi, beberapa sudah ditinggal di tengah film). Hampir tidak ada petualangan atau aksi. Padahal ketika aksi itu ada, Sutradara Roger Christian membesutnya dengan cukup bagus, misalnya adegan pengejaran di reruntuhan Mall atau pertempuran di akhir film yg mengingatkan kita pada Independence Day. Skenario yg sangat buruklah penyebab kegagalan film ini. Entah kenapa Corey Mandell yg belum pernah menulis skenario dipilih mengangkat novel BE ke dalam bentuk skenario film, tugas yang bahkan untuk penulis kawakanpun bukanlah tugas yg mudah.

BE bersetting thn 3000, ketika bumi ditaklukkan oleh ras asing, Psychlos, yang lalu menguras sumber daya bumi, sedangkan sisa-sisa umat manusia (yg disebut man animal) terpaksa hidup seperti binatang atau dipekerjakan di pertambangan. Terl (John Travolta) pimpinan Psychlos di bumi sudah muak dengan keadaan bumi yg rusak parah, tapi dipaksa tetap di sana untuk waktu yg lama. Ker (Forest Whitaker) adalah wakil Terl yg ingin menjadi pimpinan, saling beradu taktik dengan Terl. Tertangkapnya Jonnie Goodboy Tyler (Barry Peper), manusia yg punya semangat berapi-api untuk membebaskan umatnya dari penjajahan alien membawa masalah baru bagi "perusahaan" Psychlos. Semangat Tyler membakar teman-temannya yg lain dan pada akhirnya manusia berhasil merebut kembali kemerdekaannya.

Kisah seperti ini sebenarnya cukup sebagai dasar film fiksi ilmiah, kalau saja konfliknya lebih dieksplorasi pada pertentangan antara yg baik dan yg jahat dan diselang-selingi pertunjukan visual effect yang disukai semua orang, dan dibumbui dengan sedikit roman, bukan terpusat pada office politics tadi. Kalaupun ada sedikit unsur roman dalam BE, kesannya terlalu dibuat-buat dan sangat "kampungan" untuk sebuah film Hollywood berbiaya besar. Sayang sekali. Jadinya kemampuan akting John Travolta yg sekali lagi mempertunjukkan kwalitas yg meyakinkan sebagai tokoh antagonis (setelah Broken Arrow dan Face/Off) dan juga Forest Withaker yg selalu tampil bagus, begitu disia-siakan untuk sebuah sampah seperti BE. Sedang Barry Pepper sendiri yang selalu bertampang serius, malah menggelikan karena bertingkah lebih mirip kera daripada seorang warrior yg tidak percaya pada takdir.

Jadi kalau masih sempat, menjauhlah dari BE. Biarlah Rada yang menanggung kekecewaan dan menginformasikannya kepada kamu-kamu :)

Kembalikan uangkuuuuuuuu.....................

Rada
06-08-2000, 03:24 PM
The Patriot

http://lavender.fortunecity.com/foxybrown/515/pat8.jpg


Belum puas bertempur mati-matian melawan Inggris dalam Braveheart, Mel Gibson kembali mengangkat senjata menentang penjajah yang sama, kali ini bersetting revolusi Amerika thn 1776. Gibson bermain sebagai Benjamin Martin, veteran perang Perancis dan Indian yang berusaha menjadi Ayah yang baik bagi ke-7 anaknya sepeninggal sang istri. Pengalaman perang yang traumatis, ditambah lagi dengan tanggungjawabnya melindungi anak-anaknya menyebabkan Benjamin enggan angkat senjata lagi. Ketika dewan Carolina Selatan, dimana Banjamin tinggal, mengadakan rapat untuk memutuskan apakah akan angkat senjata melawan penjajah Inggris, Benjamin menolak usul itu. Namun dia kalah suara, dan Carolina Selatan menyatakan perang terhadap Inggris. Tanpa persetujuan Benjamin, putra sulungnya Gabriel mendaftar ikut bertempur, sedang Benjamin memilih mundur ke rumahnya di pertanian bersama ke-6 adik Gabriel.
Namun apa yang ditakutkan Benjamin menjadi kenyataan. Peperangan menjalar sampai ke halaman rumahnya dan membunuh putranya yg lain. Kejadian ini membuat darah Benjamin menggelegak dan mengubahnya menjadi seorang pembunuh yang menakutkan dan musuh yang menggentarkan pihak Inggris. Bersama Gabriel dia mengorganisir perlawanan, mengangkat semangat patriotisme penduduk setempat dan terus menerus berjuang mencapai kemerdekaan. Namun Benjamin masih harus berkorban lebih banyak lagi sebelum akhirnya kemenangan tercapai.

The Patriot walaupun disebut-sebut sebagai film perang, memuat lebih banyak dari itu. Di dalam the Patriot kita memang melihat peperangan antara pihak Amerika sebagai bangsa terjajah melawan pihak Inggris sebagai penjajah. Dalam beberapa bagian kita melihat apa yang kita ingin lihat dari genre film semacam ini: adegan pertempuran (yang digarap dengan apik). Tapi dalam The Patriot kita melihat drama, humor, tragedi, dan roman yang oleh terjalin begitu baik dan mengesankan selama hampir 3 jam, berkat skenario yang "lengkap" dari Robert Rodat dan penggarapan yang begitu brilliant sutradara oleh Roland Emmirich. Emmirich yang terbiasa menggarap film aksi Hollywood semacam Universial Soldier, Independence Day dan Godzilla ternyata peka juga terhadap hal-hal yang dramatik dan menyentuh. Beberapa adegan mengharukan menunjukkan hal itu, antara lain kematian Thomas putra Benjamin atau ketika putri bungsu Benjamin akhirnya mau berbicara kepadanya (adegan ini sempat membuat mata Rada berkaca-kaca). Begitu juga beberapa humor diselipkan dalam beberapa kesempatan tanpa mengurangi sedikitpun kesan serius film ini. Dan beberapa adegan romantis, walaupun singkat, bahkan menimbulkan kesan yg jauh lebih menyentuh daripada banyak film romantis Hollywood yang akhir-akhir ini membuat kata "romantis" kehilangan makna atau cuma sekadar "seks".

Banyak kritikus yang mencerca keakuratan historis The Patriot, misalnya mengenai pekerja kulit hitam di pertanian Benjamin yang digambarkan sebagai orang bebas padahal di thn 1776 perbudakan masih berlangsung. Begitu juga penggambaran bangsa Inggris yang terlalu berlebihan sebagai bangsa yang barbar dan suka membunuhi sembarang orang. Tapi memangnya siapa yang menonton film ini untuk belajar sejarah? Menurut Rada itu masih dalam batas toleransi untuk sebuah film yang tidak mengkalim sebagai film sejarah. Kelemahan film ini menurut Rada adalah pada beberapa bagian yang terlalu mengikuti selera pop Hollywood untuk menimbulkan kesan dramatik sehingga terasa klise. Ini misalnya kelihatan dalam adegan akhir perkelahian Gabriel dengan kolonel Tavington, juga perkelahian Benjamin dengan kolonel yg sama di akhir film. Lalu beberapa adegan terlalu "keras"/banyak darah sehingga kurang cocok untuk anak kecil, padahal thema tentang patriotisme, atau keluarga cocok untuk anak usia muda.


Mel Gibson bermain sangat baik dalam The Patriot. Dibanding dengan film-filmnya terdahulu di sini Gibson dituntut untuk mengekspresikan lebih banyak situasi bathin yang berbeda-beda, dan dia melakukannya dengan baik. Heath Ledger sendiri banyak dipuja-puja sebagai calon bintang masa depan, tapi aktingnya sebagai Gabriel tidak terlalu mengesankan. (FYI Heath Ledger bisa kita lihat tiap Minggu siang di serial Roar di RCTI). Jason Isaacs lebih mengesankan, berperan sangat cocok sebagai sebagai kolonel Tavington yg kejam dan tidak berperikemanusiaan, berhasil menimbulkan antipati dari penonton. Lisa Brenner yang berperan sebagai Ny.Gabriel sempat Rada kira Mary Elisabeth Mastrantonio, kalau bukan karena kamudaannya.

Secara keseluruhan The Patriot adalah film bagus. Sangat direkomendasikan buat pecinta film bermutu, yang ingin sekali-sekali menjauh dari film-film ringan Hollywood.

[diedit oleh Rada, 08-06-2000, 04:47 PM]

Rada
06-08-2000, 04:36 PM
Passion Of Mind

Note: Sudah masuk Indonesia, tinggal menunggu jadwal putar di 21.


Setelah bermain di Gi Jane, Demi Moore menghilang. Passion if Mind (PoM) adalah comebacknya setelah absen selama 3 tahun. Mungkin untuk menebus waktu 3 thn ini, dalam PoM Demi Moore berperan sebagai 2 orang sekaligus. Well, tepatnya adalah sebagai satu orang yang mempunyai 2 kehidupan yang bertolak belakang sama sekali. Di dunia yang satu Demi adalah Marie, ibu 2 gadis kecil yg cantik-cantik, tinggal di daerah pinggiran di Perancis dan bekerja sebagai pengulas Buku. Dia sangat mencintai anak-anaknya. Sementara di dunia lain, dia adalah Martie, wanita single tanpa anak, tinggal di New York, bekerja di agen penerbitan. Dia sangat mencintai pekerjaannya. Tiap kali Marie tidur, Martie bangun di New York sana, dan ketika saatnya Martie tidur, Marie pun bangun di Perancis sana. Marie/Martie menyadari penuh adanya keberadaan dunia yang satunya itu, tapi bingung karena dia tidak tau yang mana dunia nyata, yang mana dunia mimpi. Itu karena keduanya terasa sama-sama nyata. Di Perancis Marie punya psikiater yang mencoba menjelaskan bahwa kehidupannya sebagai Martie di New York hanyalah mimpi, sebagai pelampiasannya atas keinginan tersembunyinya untuk menjadi seorang wanita karir, bukan ibu rumah tangga. Tapi di New York Martie juga punya psikiater yang menciba meyakinkannya bahwa kehidupannya sebagai Marie di Perancis cuma mimpi, pencerminan "keinginan dari dalam" untuk menjadi seorang ibu yang suka bercengkerama dan melewatkan waktu dengan anak-anaknya. Belum cukup pusing dengan itu, Marie jatuh cinta dengan seorang Pria yang sangat baik dan sangat mencintainya, tipe orang yang sangat cocok dengan dia. Tapi di New York, Martie juga jatuh cinta dengan seorang pria lain yang sangat baik dan sangat mencintainya, tipe yang juga sangat cocok buatnya.

Bingung kan? Dan menarik? Tentu, thema yg unik ini walaupun bukan sesuatu yg orisinil, cukup menarik untuk menjadi dasar plot sebuah film. Genre Psikologi Thriller/Drama punya cukup banyak penggemar setia.

Tapi sayangnya PoM punya satu kelemahan, dan kelemahan itu justru mengganggu totalitas penikmatan film ini. Penggarapannya membosankan, terlalu lambat untuk mencapai titik tertentu. Untuk sebuah film dari negeri Eropa (Perancis misalnya) cara penggarapan seperti ini masih bisa diterima, pencerminan dari aliran yang berbeda dari gaya Amerika/Hollywood. Tapi PoM yang dibuat di Amerika terasa terlalu lamban, sampai akhirnya penonton tidak punya rasa tertarik lagi akan akhir kisah Marie/Martie ini, tidak punya rasa penasaran lagi ttg dunia yg manakah yg real yg mana yg mimpi, dan kenapa itu bisa terjadi. Jadi, thrillernya sama sekali tidak ada, mengecewakan. Mengingat bahwa sutradaranya, Alain Berliner adalah orang Belgia, hal ini tidak mengherankan. Endingnya juga tidak memuaskan. Jangan harap akan bilang "Ooo.....begitu rupanya", karena kamu akan pulang dengan tetap bertanya-tanya.

Demi Moore sendiri kelihatan kurang berhasil menghayati perannya dalam Pom (apa karena harus bermain sebagai 2 karakter ya). Yang cukup mengherankan adalah pemilihan Stellan Skarsgard dan William Fitchner sebagai pria-pria yang jatuh cinta kepada MArie/Martie. Dengan peng-karakteran sebagai orang-orang yg baik hati, tulus tanpa pamrih, jujur, kedua aktor ini sebnarnya tidak cocok untuk itu. Skarsgard misalnya lebih mirip sebagai pengintai daripada orang baik-baik. Sedang Fitchner walaupun ketulusannya cukup kelihatan, tapi karakternya kelihatan lemah dan tidak bisa mengimbangi karakter Martie.

Kalau kamu bisa menikmati film yang bergerak lamban tanpa konflik yg tajam, atau kamu pecinta Demi Moore, film ini masih bisa dinikmati. Tapi kalau tidak, lebih baik jangan tonton, daripada bikin kesal.

[diedit oleh Rada, 08-06-2000, 04:59 PM]

Countmeout
11-08-2000, 05:20 PM
Rada, kalo menurut gue, The Patriot ngga sebagus yang elo bilang, tapi sebaliknya Passion of Mind ngga sejelek yang elo bilang. (Kok bisa gitu ya). Gimana menurut yg laen soal pilem-pilem yg Rada komentarin? Kasih komen juga doooong!

krycek
12-08-2000, 05:08 PM
Countmeout berbeda pendapat sama Rada soal kedua film yang dimaksud dalam hal atau segi apanya? Dijelaskan dong di mana jelek atau bagusnya. Dengan bergabungnya Countmeout dan Rada 'kan pasti membuat pembahasan film-film dalam forum ini jadi makin kaya dan menarik, siapa tahu Countmeout dan Rada bisa jadi Siskel & Ebert-nya Indonesia (kalo Countmeout tidak tertarik, saya masih available).
Ngomong-ngomong, mau nanya nih sama Rada:
1. Awalnya forum Rada 'kan ditujukan untuk membahas film-film yang "terlewatkan" sama kita, tapi belakangan terjadi pergeseran ke film-film new release. Why?
2. Bagaimana kalo disebutkan juga distributor film yang dibahas? Biar dari major studios macam Warner Bros atau Universal, sampai ke small budget studios macam Pepin-Merhi ataupun Vivid (kalo ada). Biar lebih mudah mencari VCD-nya, mengingat hampir semua major studios Hollywood sekarang sudah punya distributor home video-nya di Indonesia (kecuali Paramount, kapan nih?).

FloodBoy
14-08-2000, 05:42 PM
Kalo menurut gue bagus kok Patriot....
Ada sedih, lucu dan seru nya...
Pokoknya bagus deh jalan ceritanya. Mungkin CountmeOut nggak begitu suka film perang kali ya??

Eh bagaimana pendapat Rada atau teman teman lainnya mengenai film perang Thin Red Line ? bagus nggak sih?

nutty
15-08-2000, 09:51 AM
Rada, dear, *cieeh*

pernah nonton film chicken run nggak? kalo belom, nontonlah...trus ceritain ke aku :D

krycek
16-09-2000, 07:27 AM
Kemana perginya sang Rada, ya?

Rada
17-09-2000, 10:28 AM
Hi guys....
Sorry berat ngga bisa nulis serajin dulu, banyak kerjaan nih, padahal nontonnya jalan terus. Anyway ini film yg sempet aku komentarin:

The Cell

Jennifer Lopez. Bermain film, menyanyi, dan sekarang kembali ke film dalam sebuah film horor/thriller garapan Tarsem Singh.

Lopez berperan sebagai Catherine Deane, psikolog yang terlibat dalam proyek yang menggunakan metode terbaru dalam menyembuhkan pasien-pasien yang mengalami kondisi koma/tidak sadar yang berkepanjangan. Dengan menggunakan teknologi dan obat psikotropik terbaru, Deane dapat masuk ke dalam alam bawah sadar si pasien dan berkomunikasi dengannya, dengan demikian diharapkan si pasien dapat dibawa kembali ke alam sadar.

Ketika FBI berhasil menangkap Carl Stargher, pembunuh serial yg sudah lama dicari-cari, Deane dimintai pertolongan karena mendadak Stargher jatuh koma. Sedangkan salah satu gadis korbannya yg diyakini masih hidup belum ditemukan, terkurung dalam sebuah sel berdinding kaca bikinan Stargher, yang secara otomatis akan dipenuhi air dalam waktu 40 jam. The clock is ticking.....
Tapi cerita bukan cuma soal mengejar waktu itu saja, karena ketika Deane masuk ke dalam alam bawah sadarnya Stragher, dia mengerti kenapa Stragher tumbuh menjadi seorang pembunuh berantai sakit jiwa, dan jadi bersimpati kepadanya. Dengan begitu persoalannya makin rumit. Dan seperti the Matrix dimana kematian di alam maya bisa membawa kematian di alam nyata, teknologi ini juga punya efek yang sama, yang membuat resiko Deane makin besar.

The Cell adalah film yang sangat menawan dari segi visual. Tarsem Singh yang baru pertama kali membesut film (sebelumnya menggarap video clip, termasuk Losing My Religion nya R.E.M) punya waktu yang cukup banyak dan "alasan" yg cukup kuat -yakni alam bawah sadar- untuk memperlihatkan kepada penonton gambar-gambar yg absurd, [/i]twisted[/i], [/i]surreal[/i], mengerikan sekaligus menawan. Kalau dalam Silence of the Lambs kita memahami Hannibal Lecter dari luar dan ketakutan karenanya, dalam The Cell kita masuk ke dalam dunia bawah sadar Stargher dan merasa ngeri melihatnya. Inilah horor/thriller yang tidak mengekor film-film sejenis yg lain, tapi muncul dengan orisinalitasnya sendiri.

Eiko Ishioka dan April Napier, keduanya disainer kostum, patut mendapat pujian dalam film ini. Kostum-kostum yang mereka ciptakan begitu kuat mendukung visualisai film, termasuk dengan warna-warnanya. Kostum, warna dan setting tempat adalah 3 unsur yg wajib kamu perhatikan baik-baik supaya the Cell bisa dinikmati dengan baik.

Beberapa adegan mungkin akan terasa bikin neg buat kamu yg tidak tahan dengan adegan sadis. Punggung yang di tusuk dengan kait kait besi lalu diangkat, usus yang ditarik keluar perut lalu dililitkan ke kawat duri yg berputar dll memang terasa bikin mual. The Cell bukan untuk semua orang. Jadi, kamu sudah diperingatkan.

Semua aktor/aktris the Cell bermain bagus, termasuk Vince Vaughn yg bermain sebagai agent Novak. Tapi yg paling brilliant adalah Vince D'Onofrio sebagai si psikopat Stargher, apalagi dengan bantuan make-up yang menyeramkan.

Ditengah-tengah thema-thema seragam film Hollywood yg membanjiri bioskop dan vcd, the Cell terasa menyegarkan yang wajib ditonton pecinta film horor/thriller ala The Silence of The Lambs atau Psycho.

Oh ya, buat pecinta Jennifer Lopez, you won't see her naked in this movie :) Cukup puaslah dengan bokongnya.

http://moviemedia.ign.com/pics/horned_donofrio-sm2.jpg
You don't wanna see this man in your dream, do you?

funky bitch
18-09-2000, 11:40 PM
woooooooooooooooooooooooooooooooooooooooohhoooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo............. .............
the cell rules, baby!!!! a definitely must see!!



[diedit oleh funky bitch, 19-09-2000, 12:31 AM]

Rada
20-09-2000, 03:57 PM
Frequency

Frank Sullivan adalah seorang anggota Dinas Pemadam kota New York yang amat berdedikasi pada tugasnya. Tapi ketika suatu hari dia menjalankan tugas seperti biasanya, Frank tewas ketika mencoba menyelamatkan seorang anak kecil. Dia gugur dalam tugas, meninggalkan Istrinya Julia dan putranya John yang berusia 6 thn. Itu adalah tahun 1969.

Tahun 1999. John sudah menjadi seorang polisi, dan tinggal sendirian di rumahnya yg dulu, sementara ibunya tinggal di tempat lain. Kehilangan ayah sejak berumur 6 tahun John tumbuh menjadi seorang pemurung dan dia baru saja bertengkar dengan kekasihnya. Iseng-iseng John membongkar gudangnya dan menemukan sebuah ham radio (semacam radio orari) . Ketika dinyalakan, dia mendengar suara seseorang di ujung sana, yang ternyata adalah ayahnya. Ayahnya masih hidup! Ini tidak mungkin, pikir John. Baru lama-lama dia sadar bahwa saat ini, thn 1999, ayahnya memang sudah meninggal. Tapi suara yg didengarnya adalah suara ayahnya ketika masih segar bugar, sedang duduk persis di tempat John duduk sekarang, menggunakan ham radio yg sama dengan yg dia nyalakan sekarang, di tahun 1969, beberapa hari sebelum kebakaran yg merenggut nyawa ayahnya terjadi. Apa yang akan dilakukan John tentu saja bisa ditebak: dia berusaha mencegah ayahnya pergi bekerja pada hari naas itu. Kalau ayahnya selamat dari kebakaran itu, dia pasti masih hidup sampai hari ini, pikir John.

Tapi plot Frequency tentu saja tidak sesederhana itu. Karena hukum sebab-akibat yg tak terelakkan, upaya John merubah jalan sejarah itu memicu serangkaian akibat-akibat yg tidak disangka-sangka baik pada diri Frank di masa-masa pasca kebakaran itu maupun di kehidupan John pada masa kini, termasuk munculnya pembunuh berantai yang mengancam nyawa ayah dan ibunya di masa itu sekaligus mengancam nyawa John di masa kini, dalam alur yang menegangkan dan membingungkan.

Perjalanan waktu adalah konsep yang menarik untuk dituangkan dalam bentuk film. Beberapa kali kita melihat thema seperti ini singgah di layar bioskop/TV, misalnya Time Tunnel (TV series), trilogi Back to the Future, 12 Monkey, Time Cop dll. Frequency sendiri walaupun berkonsep serupa, tapi sebenarnya berbeda karena dalam frequency orang-orang tidak berpindah dari masa yang satu ke masa yang lain, mereka hanya berkomunikasi antar-masa.

Namun jangan mencoba mencerna Frequency berdasar logika karena skenario karya Toby Emmerich ini begitu membingungkan sehingga sulit diurai dalam hukum sebab-akibat yg jelas dan konsisten. Begitu kita bisa menerima frequency sebagai sebuah film fantasi/thriller tanpa berpretensi menjadi film fiksi-ilmiah, barulah kita bisa menikmatinya sebagai sebuh film yang sangat menghibur. Salah satu unsur yg menghibur ya konsep tadi; bagaimana orang bisa mengubah masa lalu tanpa menyadari apa akibatnya di masa depan. John merubah masa lalu tapi dengan demikian dia menjadi tidak yakin apa masih akan ada saat ini, begitu perubahan masa lalu itu terjadi. Apalagi perubahan itu menyangkut seorang pembunuh serial. Bukankah itu menggelitik?

Dan sutradara Gregory Hoblit cukup mampu meramu kisah ini dengan ketegangan yg terpelihara dalam adegan bolak-balik antara kisah Frank di thn 1969 dan John di thn 1999 serta komunikasi diantara mereka. Dengan Rating PG-13 cukup mengagumkan bahwa Frequency yang pada dasarnya berkisah tentang hubungan ayah dan anak dan kesempatan memperbaiki hubungan itu, dapat benar-benar dinikmati pecinta genre thriller sejati tanpa harus dipenuhi adegan-adegan kekerasan dan seks.

Sementara Dennis Quaid cukup baik membawakan perannya sebagai Frank Sullivan, James Cavizel kelihatan kurang cocok berperan sebagai tokoh protagonis, karena raut wajahnya. Lagipula dia terlalu muda untuk menjadi seorang pria berumur 36 tahun.

Sayang sekali Frequency kehilangan momentumnya dalam hal masa edarnya di Studio21, karena sama seperti Joan Of Ark, film ini sudah terlalu lama disimpan sebelum diputar (di USA Frequency mulai diputar 28 April 2000).

Begitupun sebuah film bagus tetaplah sebuah film bagus. Jadi Rada rekomendasikan film ini untuk kamu tonton. Terutama buat kamu-kamu yg lagi bermasalah dengan ayahmu, ajaklah dia menonton film ini.





[diedit oleh Rada, 20-09-2000, 04:06 PM]

Cuthbert Chastity
22-09-2000, 06:22 PM
Rada, udah nonton The Ninth Gate apa belon? Gue pikir filmnya asik dan terus terang gue menikmati ceritanya walaopun sempat rada bosen namun masih penasaran... apalagi gue emang suka film yang rada-rada gothic gitu... (tapi The Ninth Gate itu gothic apa bukan ya???) Yah, pokoknya film itu gelap dan lamban...

Anyway, singkat cerita, yang bikin gue gemes itu adalah endingnya....huuh.. sebeeeel deh... asli gue ngga ngerti gimana cerita itu berakhir... Kalo Rada tau, tolong kasi tau gue ya...?

Sebelumnya emang ada penggambaran pemanggilan setan yang menurut gue lucu dan ************... Ah, entahlah, pokoknya gue ngerasa sebel aja pas terakhirnya...padahal gue udah menunggu-nunggu ending yang spektakuler...hiks...

Rada
23-09-2000, 12:56 PM
Cuthbert Chastity, bukan cuma loe aja yg kecewa dengan film tergresnya Roman Polanski ini. Gue beli VCD transferan dari DVD dengan subtitle English (ada yg jual di jkt seharga Rp.27.000) karena gue kira filmnya bagus apalagi themanya Supernatural Thriller ala End of Days dan Stigmata. Kalo End Of Days aja udah kurang bague menurut gue, yang ini malah jauh lebih jelek lagi. Padahal Polanski bukan sutradara sembarangan. Rosemary's Baby, Frantic, China Town adalah film-filmnya yg cukup dipuji.

Jalan cerita Ninth Gate yg lamban bikin gue bosen, dialog-dialognya juga kurang menggigit. Dan endingnya? Bukan cuma loe dan gue yg kecewa dan bingung dengan ending yg antiklimaks dan ngga jelas artinya. Bahkan seorang Roger Ebert sendiri malah bilang "you tell me" ttg apa arti ending itu.

BTW, Emmanuelle Seigner yg meranin cewek misterius jago kungfu dan bisa terbang itu ngga lain dari istri Polanski sendiri (lucky b@stard)

butaqiu
24-09-2000, 02:21 AM
rada,

tau film angel heartnya mickey rourke, nggak?

ada vcd originalnya nggak sih?

hansel
24-09-2000, 02:48 AM
"Angel Heart"? Hmmm! Kepengin liat Lisa Bonet ya But ? ;(

Rada
24-09-2000, 03:20 PM
butaqiu seinget gue Angel Heart nya Alan Parker ini ngga ada VCD originalnya. Ini film thn 1987, jadi udah 13 tahon. Seinget gue ini pernah jadi kontroversi di badan sensor film karena thn 1987 waktu jaman sensornya masih ketat banget, BSF lolosin adegan yg kasih lihat buah dadanya Lisa Bonet. Alasan dibolehinnya, katanya karena dalam adegan itu Lisa nya udah dead, jadi payudara mayat ngga apa-apa dikasih lihat (spolier ngga ini ya?)
[diedit oleh Rada, 24-09-2000, 03:37 PM]

megananda
26-09-2000, 07:44 PM
Tapi kalo sekarang mungkin ada lagi guys yg orginal..soalnya sensor udah nggak ketat,,jadi breastnya bisa diliatin..:D:D:D

Rada
04-10-2000, 07:57 AM
The Watcher

Apakah tiap aktor yang baik bisa menjadi tokoh antagonis yang baik? Banyak aktor yg ketika memerani peran jahat kita benar-benar merasakan aura kejahatan itu memancar dari dalam dirinya, bukan cuma dari kata-kata yg "diperintahkan" oleh skenario untuk diucapkan, tapi terlebih dari caranya mengucapkan dan bahasa tubuh dan mimiknyanya baik ketika berbicara atau melakukan sesuatu. Kita kagum dengan aktor-aktor seperti Gary Oldman, John Malkovich atau Anthony Hopkins (dan kecewa dengan Harrison Ford) karena kwalitas keaktorannya begitu terlihat ketika mereka menjadi orang jahat, villain, someone you love to hate.

Keanu Reeves mungkin ingin menjadi aktor yg "lengkap" dengan menerima peran antagonis dalam film The Watcher. Bukan sembarang peran antagonis, melainkan seorang pembunuh berantai bernama David Allen Griffin. Lawan mainnya adalah James Spader sebagai detektif Joel Campbell. Campbell yang merasa gagal karena tidak kunjung bisa menangkap Griffin selama beroperasi di Los Angeles, pindah ke Chicago untuk melupakan kasus itu. Namun di sana dia selalu diganggu mimpi-mimpi buruk dan terpaksa mengunjungi Polly (Marisa Tomei), seorang psikiater secara teratur. Griffin yg terobsesi dengan detektif ini malah ikut pindah karena "keadaan tidak berjalan bagus dengan penggantimu", katanya pada Cambell. Lalu rangkaian pembunuhanpun kembali dimulai. Uniknya Griffin selalu mengirimkan foto korban berikutnya untuk menantang Cambell menemukannya sebelum korban itu tewas. Klimaksnya adalah ketika Polly yang diculik dan akan menjadi korban berikutnya.

Apakah Keanu Reeves bermain baik? Sebenarnya dia bukan aktor yang jelek, tapi sebagai tokoh jahat seharusnya ini adalah kasting pertama dan terakhir yang menjadi pelajaran buat dia. Walaupun dengan rambut gondrong tetap saja wajahnya tidak punya kemampuan menunjukkan watak jahat, belum lagi bahasa tubuhnya yang miskin dan kurang interpretasi thd peran yg dibawakannya. Ketika dia berjalan, kita cuma melihat seorang anak muda biasa, bahkan tidak ada rasa was-was dalam hati kita ketika dia mendekati korbannya. Dengan kata lain, Keanu Reeves bukanlah tokoh antagonis yang baik. Karenanya pula film ini kehilangan gregetnya sebagai sebuah thriller dan lebih terasa sebagai drama kriminal biasa.

James Spader sendiri bermain cukup intens dalam perannya. Dia memang selalu bermain baik dalam film-filmnya, terutama ketika bermain dalam film-film indie berbudjet kecil, walaupun kastingnya dalam film ini kurang begitu berhasil. Sebagai polisi-penjahat yg saling terobsesi satu sama lain, tidak ada chemistry yg terasa diantara Spader-Reeves dan itu sangat disayangkan sekali.

Merupakan debut sutradara Joe Charbanic (Joe siapa??) the Watcher mengandung banyak adegan kilasbalik (mimpi buruk Campbell) yang mengganggu. Semestinya mimpi buruk itu c-kup diperlihatkan sekali saja secara utuh, tidak dipotong-potong seperti itu. Skenarionya sendiri lebih baik dituangkan ke Movie-for-TV daripada ke layar lebar karena penonton bioskop patut mendapat yang lebih baik dari ini.

The Watcher bukanlah film yang bagus.
[diedit oleh Rada, 04-10-2000, 08:01 AM]

tukanggossip
04-10-2000, 08:52 PM
Hi Rada, gue baru nonton Ninth Grade kemarin. Geewheez.. bener2 jelek buanget. Akting si Johnnie ogah2an, ceritanya seenak udelnya, terutama endingnya (apa maksudnya si Johnnie balik ke castle tsb?). Trus, si iblis cewe itu kok malah rada2 baik ? Yah, untunglah masih ada si Seigner....:)

Rada
05-10-2000, 02:04 PM
tukanggossip, check judulnya lagi :) :) :)

tukanggossip
05-10-2000, 07:27 PM
oh blast...gate !!!! malu nehhh....:)

Rada
09-10-2000, 01:25 PM
Under Suspicion

Dua aktor kawakan kelas Oscar beradu akting dalam drama yang kekuatan utamanya adalah dialog-dialog, itulah Under Suspicion. Morgan Freeman, aktor gaek yg tiga kali masuk nominasi Academy Award, dipertemukan dengan Gene Hackman, peraih 2 Academy Awards dalam drama arahan Stephen Hopkins.

Henry Hearst (Hackman) seorang pengacara sukses dan makmur di Puerto Rico, menemukan mayat seorang gadis kecil di semak-semak ketika sedang jogging, lalu melaporkannya kepada polisi setempat. Film dibuka dengan persiapan Henry dan istrinya yg muda Chantal (Monica Bellucci) yg hendak menghadiri acara malam pengumpulan dana dimana Henry akan berpidato mengetuk hati para hadirin. Tapi datang panggilan dari Kapten polisi Victor Benezet (Freeman) untuk datang sebentar ("only ten minutes", katanya) ke kantornya sehubungan dengan keterangan Henry ttg penemuan mayat anak kecil itu. Apa yang dijanjikan cuma 10 menit berkembang jadi semalaman karena dari pemeriksaan Victor dibantu detektif Felix Owens yg gampang naik darah (Thomas Jane) keterangan Henry makin menimbulkan kecurigaan. Apalagi sebelumnya mayat seorang gadis kecil lain juga ditemukan dan Henry ketika itu diketahui berada di dekat sana.

Adegan pemeriksaan inilah yang mendominasi masa tayang Under Suspicion. Membosankan? Tentu saja, bagi mereka yang mengharapkan aksi atau adegan-adegan cepat. Tapi bagi Rada, sangat mengasyikkan menyaksikan kedua aktor besar ini saling berinteraksi lewat pertanyaan-dan-jawaban dari posisi yang berlawanan. Gaya Hackman dalam film ini mengingatkan Rada dengan gaya yang sama yang dibawakannya ketika bentrok dengan Denzel Washington dalam Crimson Tide.

Kekuatan lainnya film ini adalah bahwa penonton hanya memperolah fakta sepotong demi sepotong sementara interogasi terus berjalan, dan dengan demikian, walaupun sejak awal penonton diarahkan untuk percaya bahwa Henry adalah pelakunya, tetap saja dengan rasa penasaran dan ketidakyakinan. Di tengah interogasi misalnya terungkap bahwa Henry sudah lama tidak mendapat "nafkah bathin" dari Chantal, istri cantiknya yg jauh lebih muda, dan alasan dia terlihat dekat dengan lokasi mayat gadis yg pertama ditemukan adalah karena dia mabuk dan tertidur di sana sepulang dari rumah iparnya. Tapi itu semua adalah kata-kata Henry sendiri. Chantal pun akhirnya ikut ditanyai dan fakta-fakta yang terkuakpun makin banyak.

Dari segi penceritaan, hampir saja layar bioskop diperlakukan tak ubahnya seperti panggung teater oleh Stephen Hopkins dengan adegan yang cuma bersetting kantor polisi dan didominasi oleh interogasi sepanjang film. Untungnya dengan cerdik Hopkins membuat adegan-adegan itu lebih menarik dengan "memindahkan" Victor dan Henry ke waktu dan tempat kejadian sementara tanya jawab berlangsung.

Under Suspicion adalah re-make film Perancis Garde a' Vue (1981) yang didasarkan pada novel "Brainwash" karya John Wainwright. Menurut kabar, sejak menonton film ini Hackman sangat terkesan dan ingin membuat ulang dan membintanginya, namun baru thn 2000 keinginan itu tercapai dengan kesediaan Freeman ikut mendanai (mereka berdualah Produser Eksekutif film ini). Kalau kamu jeli dengan judul novel "Brainwash" tentu kamu bisa menebak ending film ini, tapi setelah yakin brain siapa yang di-wash tentunya.

Rada
10-10-2000, 02:25 PM
BELLE EPOQUE atawa SPANISH GIRL

Melihat cover depan VCD atau poster film Spanish Girl ini, apalagi ditambah dengan cap X besar yg lebih menonjol dari judulnya, kamu-kamu mungkin mengira ini adalah salah satu dari film-film yang biasa diberi cap "semi" atau "eros collection". Tapi tahu ngga? Film Spanyol ini adalah peraih piala Oscar 1994 untuk kategori film berbahasa asing terbaik (The Best Foreign Language Film) mengalahkan Farewell to My Concubine nya Gong Li. Dan kalau "erotisme" itu yang kamu inginkan waktu mau menonton film ini mungkin kamu akan terkejut karena kamu menemukannya, tapi bukan dengan cara yang kamu harapkan.

Belle Epoque (kalau tidak salah artinya The Age of Beauty) bersetting daerah pedalaman Spanyol, thn 1931. Ketika itu monarki Spanyol diambang keruntuhan dan rakyat Spanyol terbagi-bagi kesetiannya antara monarki, republik dan fasisme, yang melahirkan perang saudara. Fernando, seorang serdadu desertir perang Saudara Spanyol terdampar di sebuah pedesaan dan menjadi tamu di rumah seorang pelukis bernama Manolo. Ketika tiba waktunya hendak pergi, kebetulan empat putri Manolo pulang untuk liburan musim panas. Melihat betapa cantiknya keempat wanita itu, Fernando pun "ketinggalan kereta" dan kembali tinggal di rumah si Tua Manalo. Ternyata keempat wanita itu sama-sama tertarik pada siganteng tapi lugu Fernando. Dan dasar Fernando memang lugu, tiap kali dia digoda oleh salah seorang dari mereka, dia selalu menurutinya.

Memang thema BE adalah thema yang dewasa dan erotis, tapi ide erotisisme itu digarap bukan dengan visualisasi yg vulgar, bahkan sebaliknya cenderung minimum. Walaupun ini adalah tentang empat-cewek-berlomba-menarik-seorang-cowok-ke-ranjang, tapi yang kita rasakan adalah sensualitas yang hangat, yang membuat tersenyum karena lucunya, dan yang membuat bersyukur manusia itu punya "citarasa erotis". Dialog-dialognya juga sangat menggelitik, dan dengan brilliannya "menangkap" kondisi sosial-politik semasa itu dengan baik dan kadang-kadang sangat filosofis. Si tua Manolo misalnya, mengeluarkan pengakuan bahwa dia adalah seorang anarkis tapi tidak punya apapun untuk ditentang. "Ada tiga frustasi dalam hidupku," katanya, "Pertama adalah bahwa bahwa aku lahir di tengah-tengah keluarga beragama (dengan demikian tidak bisa berbuat jahat tanpa merasa bersalah); kedua bahwa aku punya kaki yang tidak sehat, tidak bisa ikut mendaftar jadi serdadu (dengan demikian tidak bisa melakukan desersi); dan ketiga bahwa "itu" ku cuma bisa "berdiri" kalau berhubungan dengan istriku (dengan demikian tidak mungkin berselingkuh)" Menggelitik bukan? Bahkan adegan awal yang sederhana, ketika Fernando ditangkap 2 tentara yg kebetulan adalah mertua dan menantu, dan penangkapan itu berakhir tragis bagi mereka berdua, menurut Rada adalah adegan yang sangat bagus karena dengan halus mengungkapkan sesuatu tentang manusia.

Inilah satu film yang Rada usulkan kamu para pecinta film tonton.
[diedit oleh Rada, 10-10-2000, 02:33 PM]

Rada
26-10-2000, 01:50 PM
Lost Souls

Thema Exorcism (pengusiran setan dari dalam tubuh seseorang) banyak digarap dalam film-film bergenre horor, dan satu yang dianggap paling berhasil adalah The Exorcist karya William Friedkin. Film keluaran tahun 1973 ini memang menakutkan dan dipandang sebagai salah satu film horor terbaik sepanjang jaman, dan baru-baru ini kembali di re-release di bioskop-bioskop Amerika.

Dan bersamaan dengan re-release The Exorcist, beredar pula Lost Souls, horor dengan thema serupa, garapan Janusz Kaminski yang dibintangi Winona Ryder, Ben Chaplin dan John Hurt. Setelah ditunda beberapa lama entah kenapa LS ini berani bentrok dengan The Exorcist. Hasilnya: LS langsung terkapar dan dilupakan, sementara The Exorcist masih merebut penonton di jajaran Box Office.

LS sebenarnya adalah gabungan antara The Exorcist dengan End Of Days. Maya Larkin (Ryder) adalah seorang wanita yang sering menyertai pastor Lareaux (John Hurt) dalam upacara-upacara pengusiran setan dari orang-orang yg kerasukan. Maya sendiri terlibat dalam kegiatan ini setelah dirinya sendiri dilepaskan dari kerasukan setan oleh sang pastor dan beberapa anggota jemaatnya. Suatu hari upacara yang mereka lakukan thd seorang seorang pembunuh bernama Henry Birdson berakhir dengan kegagalan: Birdson jatuh koma sedangkan Pastor Lareaux juga sakit keras. Maya menemukan kertas-kertas penuh angka-angka hasil coretan Birdson, yang setelah diterjemahkan ternyata menyingkap nama Peter Kelson, yang telah ditentukan akan dijadikan sang Setan sebagai tubuh jasmaninya dalam rencana besar menguasai dunia dan menandai akhir zaman. Peter Kelson sendiri (Ben Chaplin) adalah seorang penulis dan tidak percaya sama sekali akan adanya Setan sebagai sebuah pribadi. Maka ketika Maya berusaha meyakinkannya dia sama sekali tidak perduli sampai kejadian-kejadian berikutnya membuatnya harus berpikir kembali.

Janusz Kaminsky yang sudah diakui kepiawaiannya dalam hal Cinematography dengan merebut 2 piala Oscar, kali ini harus mengakui bahwa Cinematographer yang bagus bisa jadi sutradara yang jelek, seperti terbukti dengan LS ini. Kaminsky memang sudah berusaha membangun keseraman dengan menempatkan kamera disudut-sudut yang aneh dan warna-warna bleached (hitam-putih kusam dengan blur) atau kilasan-kilasan shot yang cepat dan pendek-pendek, tapi sayangnya adegan-adegan yg membutuhkan cara seperti itu tidak cukup banyak ditemukan dalam skenario untuk cukup membangkitkan ketakutan penonton. Yang cukup baik adalah adegan pengusiran setan yg singkat atau halusinasi Maya di toilet yg cukup menakutkan. Tapi di luar itu penonton hampir dipenuhi dengan kebosanan terutama dibagian ketika karakter Petel Kelson ditampilkan.

Satu hal lagi yang dilalaikan oleh Kaminsky (atau Pierce Gardner sang penulis skenario) adalah bahwa penonton "perlu" punya rasa simpati thd tokoh protagonis film. Dalam LS karakter Maya atau karakter lain tidak dieksplorasi dengan cara yg menimbulkan simpati penonton, sehingga film ini makin membosankan. Ini berbeda dengan misalnya End of Days yg lumayan jelek tapi paling tidak penonton punya "ikatan" rasa simpati thd karakter Jericho sehingga tidak jatuh membosankan.

Dan yang paling bikin "bete" adalah endingnya! Entah kenapa kebanyakan film yang menggarap thema supernatural tidak konsisten dalam penyelesaian konflik dengan thema supernatural itu sendiri. Film seperti Total Recall atau Robocop tentu dapat diakhiri dengan baik dengan peluru atau senjata tanpa menimbilkan kebingungan, tapi kekuatan supernatural masa bisa dikalahkan dengan sesuatu yang natural seperti peluru?

Jadi tidak usahlah repot-repot nonton LS kecuali kamu pecinta berat horor yang tidak terlalu pilih-pilih, atau pecinta berat Winona Ryder yang kangen melihatnya, yang dalam film ini sama sekali tidak kelihatan cute, malah lebih kelihatan seolah-olah dialah yang kehilangan jiwa.

krycek
27-10-2000, 12:46 AM
Komentarin U-571 dong! Kalo elo jadi produsernya, bagaimana elo meyakinkan penonton film ini bukan rip-off Das Boot-nya Wolfgang Petersen?

butaqiu
27-10-2000, 02:00 AM
iya,

u-571 mirip banget ato gagal melepaskan diri dari bayang-bayang das boot yang jauh lebih keren.

menurut gue...

Rada
27-10-2000, 11:43 AM
Highlander: End Game

Permainan Akhir, rasanya cukup tepat dipakai sebagai Sub-judul jilid ke-4 seri Highlander versi bioskop ini. Apakah itu menyiratkan bahwa tidak akan ada lagi sequelnya? Mengingat kisahnya yang kelihatannya "menyimpulkan" apa-apa yang terjadi di 3 seri pertama dan serial TV-nya, kemungkinan memang ya.

Bagi penggemar seri Highlander, Highlander: End Game (HEG) merupakan film wajib tonton. Bukan hanya karena di film ini untuk pertamakalinya Connor MacLeod dipertemukan dengan Duncan MacLeod, dengan demikian menggabungkan tokoh layar lebar dengan tokoh serial TV-nya, tapi juga karena film ini menandai berpindahnya "tampuk kepemimpinan" dari Connor ke Duncan sekaligus menghilangkan banyak kebingungan akan inkonsistensi cerita baik di antara 3 versi layar lebar maupun dengan serial TV-nya.

Tentu saja HEG tetap memasang Christopher Lambert sebagai Connor dan Adrian Paul sebagai Duncan, terlepas dari kenyataan bahwa para Immortal tidak akan bertambah tua sedangkan Christopher Lambert jelaaaaas sekali main tua dan lemah dan logatnya masih saja logat Perancis padahal MacLeod adalah seorang Scott! Walaupun akting Lambert merupakan salah satu nilai minus HEG, tapi apa boleh buat, sosok Connor McaLeod sudah lekat dengan aktor ini dan mungkin penonton tidak terlalu peduli dengan akting.

Ketika untuk kesekian kalinya kehilangan orang yang dikasihinya akibat perseteruan sesama Immortal, Connor akhirnya memutuskan mundur dari dunia "lomba penggal kepala" dan memasuki The Sanctuary. Itu adalah tempat dimana para Immortal yang capek saling bunuh mengasingkan diri dengan duduk diam dan kesadarannya dikontrol oleh mesin dan cairan yang dialirkan ke dalam tubuh.
Tapi ketenangan yang ditemukan Connor di sana tidak berlangsung selama yang dia harapkan, karena seorang Immortal jahat bernama Joseph Kell (Bruce Payne) dibantu beberapa Immortal anakbuahnya memasuki tempat suci itu dan membunuhi para Immortal yang ada di sana dan menghisap kekuatan mereka. Tujuannya jelas: ingin menjadi Immortal terakhir, karena dalam dunia Higlander, "in the end, there can be only one". Padahal salah satu kode etik bagi para Immortal adalah: Tidak boleh membunuh di atas tanah suci. Ternyata Kell, bukan cuma sekedar seorang Immortal jahat, tapi juga musuh bebuyutan Connor sejak masa-masa awal Connor menjadi seorang Immortal.

Sementara itu Duncan MacLeod yang ternyata sudah mengenal Connor lama sekali, bahkan di masa lalu pernah menjadi muridnya dalam hal menggunakan pedang dan dalam banyak hal lain, sudah bertahun-tahun mencari-cari mentornya itu. Akhirnya Duncan bertemu juga dengan Connor yang ternyata luput dari keganasan Kell.

Seperti diketahui, kekuatan seorang Immortal akan bertambah setiap kali dia berhasil menebas putus kepala Immortal lainnya. Dibanding dengan "rekor" Connor maupun Duncan, rekor Kell jauh lebih tinggi dan itu menakutkan mereka berdua. Sedangkan salah satu kode etik lain dari dunia Immortal adalah: perkelahian harus satu melawan satu (duel), tidak boleh dua melawan satu. Penyelesaiannya? Kamu tentu bisa menebak bukan?

Menonton HEG sebenarnya lebih terasa seperti menonton episode panjang dari serial TV nya dibanding menonton sebuah film Bioskop. Ini terasa benar bukan hanya karena kehadiran Adrian Paul dengan gayanya yang sama, tapi juga karena biaya produksi yang kecil terasa benar di keseluruhan penggarapannya. Bahkan special efeknya sangat buruk untuk ukuran film layar lebar, dan mengecewakan.

Walaupun begitu tentu saja ada beberapa kelebihannya dibanding salah satu episode di layar kaca. Yang paling menyenangkan adalah bahwa dalam HEG adegan duel pedangnya (yang merupakan salah satu "inti" Highlander) digarap dengan sangat baik, jauh lebih menawan dibanding serial TV bahkan dibanding 3 film bioskop sebelumnya. Bukan cuma dengan pedang, tapi HEG diramaikan juga dengan adegan perkelahian dengan tangan, dan rentetan senjata api. Di sini masuklah Donnie Yan (Chen Che Tan, salah satu aktor kungfu Hongkong yang benar-benar jago kungfu) yang mencuri perhatian dengan peran sebagai salah seorang anak buah Kell. Di pemunculannya yang singkat Donnie Yan memperlihatkan apa yg dia mampu dan melakukannya dengan baik sehingga menambah nilai plus HEG (cukup menarik juga bahwa debutnya di Hollywood dimulai dengan peran kecil sebagai tokoh jahat, sama dengan Jet Lee).

Secara keseluruhan HEG akan disukai penggemar Highlander. Bagi mereka yang akan bertanya "Highlander what?", well... selain membingungkan film ini mungkin akan mengecewakan mereka.

Rada
27-10-2000, 11:48 AM
krycek & butaqiu

Sayang sekali kedua film itu belon gue liat. U-571, gue belon liat karena pengen nonton di bioskop (kabarnya udah masuk).

Rada
28-10-2000, 12:52 PM
Meet The Parents

Robert DeNiro sungguh aktor serba bisa. Ke-bisa-annya adalah dalam arti bahwa dia bisa menampilkan akting yg sama terpuji ketika bermain dalam genre film yang berbeda bahkan bertolak belakang, crime-drama dengan komedi misalnya. Dalam film-film drama serius DeNiro sudah tidak diragukan kepiawaiannya (cukup bila Rada sebutkan: Godfather II dan The Untouchable). Dalam komedi? Kehandalannya sudah teruji sejak Midnight Express dan Analyze This untuk menyebut dua diantaranya.

Dan kini DeNiro berkomedi-ria kembali, kali ini berpasangan dengan Ben Stiller, aktor yang kita ketahui selalu bermain dalam genre komedi. Kerjasama kedua aktor beda generasi ini ternyata menghasilkan sebuah film komedi yang , sesuai dengan tujuannya, lucu sekali.

Stiller berperan sebagai Greg Focker , yang dari namanya saja kita sudah tahu bakal ada olok-olok tentang ini. Belum cukup dengan namanya, Focker juga harus mendapat olok-olok dari banyak orang sehubungan dengan jenis profesinya: perawat, Male nurse!. Tapi dia mencintai dan dicintai oleh Pam (Teri Polo) dan bermaksud segera melamarnya. Pam lalu mengajak Greg menemui kedua orangtuanya. Greg yang sangat ingin menikahi Pam berusaha memberi kesan yang baik di depan kedua orangtua Pam, tapi karena sang ayah adalah Jack (Robert De Niro), well, kita bisa berharap bahwa akan ada trouble. Ketidaksukaan Jack (yg overprotektif thd putrinya) terhadap Greg bahkan sudah terlihat sejak penyambutan di depan pintu. Keadaan diperparah dengan kegemaran Greg berbohong kecil-kecilan yang makin memperbesar kesalahfahaman sampai mengancam hubungan Greg dengan Pam.

Sementara Rada hampir tidak bisa tertawa dengan komedi semacam There's Something About Mary atau Me Myself and Irene, tapi bisa menikmati sitkom semacam Friends atau Everybody Loves Raymond, Rada bisa mengatakan bahwa MTP ini adalah sebuah film yang lucu. Mungkin itu karena komedi yang tercipta bukan merupakan sesuatu yang dipaksakan, atau hasil dari kejadian-kejadian ekstrim atau keterlaluan. Bahkan kedua aktor dengan baik sekali tidak berusaha untuk kelihatan lucu, tapi justru menimbulkan tawa. Memang tidak ada sesuatu yang baru dalam penciptaan kelucuan-kelucuan di film ini (kita masih melihat seekor kucing yang pasti akan ada apa-apa dengannya, isi toilet yang membajiri halaman tempat resepsi pernikahan akan diadakan, rumah yang terbakar dll) tapi satu persatu unsur itu dikemas dengan baik tanpa ada kesan dipaksakan.

Tapi jangan salahkan Rada kalau kamu menganggap sebaliknya, bahwa MTP tidak lucu sama sekali. Selalu ada faktor umur, inteligensi dan latar belakang kultural yang membedakan sense of humor tiap orang. Walaupun humor itu universal, apa yang lucu bagi seseorang belum tentu sama lucunya bagi orang lain.

[diedit oleh Rada, 09-11-2000, 02:22 PM]

butaqiu
29-10-2000, 10:01 PM
midnight express?
midnight run kali?

Rada
09-11-2000, 02:27 PM
Oooops......butaqiu, loe jeli juga ya. Tks anyway.

Rada
09-11-2000, 02:33 PM
BOOK OF SHADOWS: THE BLAIR WITCH 2

Tanggapan orang terhadap film The Blair Witch Project (thn 1999) terpecah 2: sebagian menyebutnya sebagai film yang brillian karena berhasil membuat penontonnya sangat ketakutan dengan pendekatan dokumenternya; tapi sebagian lagi menyebutnya sebagai film amatiran yang bikin mual dan pusing tanpa ada yang menarik di dalamnya.

Tapi satu hal sudah jelas: TBWP laris dimana-mana dan merupakan film terlaris sepanjang masa dilihat dari rasio biaya-pemasukannya. Jadi tidak heran kalau kemudian muncul sequelnya, BOOK OF SHADOWS: THE BLAIR WITCH 2 (BOS).

Yang cukup menarik dalam BOS adalah bahwa kreator (penulis/sutradara) Blair Witch yang pertama, Daniel Myrick dan Eduardo Sánchez tidak campur tangan dalam penggarapan sequel ini kecuali sebagai produsernya. Penulisan dan penyutradaraan diserahkan ke Joe Berlinger yang baru kali ini menggarap film cerita setelah beberapa film dokumenternya mendapat pujian. Myrik dan Sanchez sendiri sedang sibuk menggarap Blair Witch 3.

Di tangan Berlinger, BOS kembali ke gaya penggarapan film biasa tanpa mensyut dengan kamera jinjing yang memusingkan itu walaupun dalam beberapa kesempatan gaya home-video itu masih ditampilkan. Ini menghilangkan kesan "peristiwa yang sebenarnya" yang membuat TBWP 1 menjadi begitu terkenal bahkan mengecoh banyak penonton. (Karena itu penggunaan nama asli para pemeran sebagai nama karakter di BOS yang meniru TBWP 1 menurut Rada tidak ada gunanya, karena unsur "realistis" itu sama sekali hilang dari BOS). Berlinger membuat BOS menjadi sebuah "Scream yang lain" walaupun menurut Rada BOS lebih merupakan sebuah film misteri daripada horor.

Dimulai dari suksesnya The Blair With Project, orang-orangpun berdatangan ke Burkitsville, Maryland, tempat dimana Blair Witch itu dipercayai berdiam. Kota kecil itupun mendadak jadi tempat tujuan wisata, padahal pihak pembuat TBWP sudah menegaskan bahwa film itu hanya fiksi semata. Bahkan Sherif setempat marah-marah dengan membanjirnya turis-turis ke hutan Burkitsville. "Pergi kalian semua dari sini! Tidak ada yang namanya Blair Witch!!" . Seorang pemuda setempat, Jeffery Donovan mencari udang dengan menjual merchadise Blair Witch mulai dari ranting pohon, kaos, topi dll. Dia bahkan membuat website dan mengadakan tur semalam ke hutan Burkitsville dengan nama "The Blair Witch Hunt". Ternyata ada 4 orang yang tertarik dengan tur itu: pasangan muda yang sedang menyelesaikan buku tentang psikologi dibalik kehebohan Blair Witch, seorang gadis Wiccan (sebutan untuk penganut white magic), dan seorang gadis psychic lainnya yang berpakaian serba hitam ala Gothic. Berlima mereka memasuki hutan Burkitsville dengan membawa peralatan kamera dengan maksud menangkap fenomena gaib yabg mungkin terjadi sepanjang malam mereka menginap di sana.

Tapi ternyata terjadi peristiwa yang aneh, dan berkembang makin lama makin aneh dan menakutkan! Dimulai dengan minum-minum, meraka terbangun pagi harinya dalam keadaan terkejut! Semua peralatan kamera hancur berantakan, kertas-kertas hasil tulisan pasangan penulis beterbangan dalam bentuk serpihan-serpihan, dan mereka sama sekali tidak ingat apa yang terjadi selama 5 jam kehidupan mereka sejak minum-minum itu. Mabuk? Well, di sinilah BOS berputar dalam pusaran misteri dan hororr yang makin lama makin membingungkan, yang melibatkan, ritual keagamaan, hantu-hantu di gelap jalanan, kecurigaan yg satu thd lain, dan pembunuhan.

Sebagai film misteri/horor, BOS cukup menarik seandainya diberi judul lain yang terlepas sama sekali dari The Blair Witch, karena memang ini adalah film "lain". Penggemar TBW 1 pasti akan kecewa dengan BOS karena sama sekali diluar pengharapan mereka, film ini tidak lebih menakutkan dari yang pertama. Memang dalam beberapa bagian ada unsur-unsur horor yg dikemas dengan cukup baik, tapi seperti yang Rada katakan tadi, ini lebih merupakan sebuah film misteri daripada sebuah horor. Kalau BOS ditonton dalam perspektif sebiah film "lain" maka film ini tidaklah mengecewakan, walaupun penyelesaiannya terasa begitu "kasar". Rada sendiri merasa seram bukan ketika menonton BOS ini tapi satu dua hari setelahnya, ketika mengingat-ingatnya.

Kalau TBWP tidak masuk bioskop Indonesia, Rada berharap BOS bisa masuk karena bagaimanapun menyaksikan di bioskop bisa memberi sudut pandang baru dalam menilai sebuah film.

Rada
09-11-2000, 04:33 PM
Bedazzled

Waktu nonton Bedazzled Rada teringat kembali salah satu episode X-Files dimana Mulder mendapat hadiah 3 wishes dari seorang jin seksi. Bedazzled yang juga tentang seorang pria yang mendapat 7 wishes dari setan seksi adalah sebuah film komedi, sedang X Files bukan. Tapi percaya tidak? Rada malah menganggap episode X Files itu lebih lucu daripada Bedazzled. Kok bisa?

Bedazzled yang menjadi cover majalah CINEMAGS edisi November adalah re-make film berjudul sama buatan thn 1967. Ketika itu bintangnya adalah komedian Dudley Moore dan Peter Cook. Re-make buatan thn 2000 ini dibintangi oleh si tampang blo'on Brendan "George Of The Jungle" Fraser dan si seksi Elizabeth "Austin Powers" Hurley. Sutradaranya adalah Harold "Analyze This" Ramis. Rada sendiri tidak sempat nonton Bedazzled yg buatan thn 1967 tapi menurut para kritisi versi lawas itu masih jauh lebih baik dari versi 2000 ini. Dan menonton film garapan Ramis ini Rada dengan gampang bisa percaya pendapat itu.

Bedazzled mengisahkan tentang Elliot Richards (Fraser), seorang pemuda pegawai perusahaan jasa komputer yang berusaha mati-matian agar disukai dan diterima oleh orang lain tapi malah sikapnya lebih dianggap mengganggu oleh rekan -rekan sekerjanya, membuat dia sering dijauhkan dari pergaulan. Ketidakmampuannya "masuk" dalam sosialisasi menjadikan Elliot seorang pria kesepian. Sudah lama Elliot memendam rasa cintanya kepada Alison Gardner (Frances O'Connor. Ketika dalam keputusasaan dia berkata kepada dirinya sendiri "Aku akan melakukan apa saja demi mendapatkan dia", Whallaaaa...muncullah The Devil (Hurley) yang menggoda Elliot dengan iming-iming 7 permintaan asal di amau menjual jiwanya. Tujuh permintaan, apa saja pasti terkabul dan Elliotpun tergoda. Tapi sejak permintaan pertama saja yang diinginkan Elliot -yg dia kira selalu adalah permintaan yang paling tepat demi mendapatkan Elison- selalu berakhir dengan kekacuan. Permintaan pertama misalnya, Elliot minta menjadi seorang yang kaya raya dan berkuasa plus menikah dengan Alison. Ketika permintaannya dikabulan, Elliot yg berambut pirang pendek mendadak bangun mendapati rambutnya hitam dan panjang plus kumis hitam, dan lancar berbahasa Spanyol! Di sampingnya berbaring istrinya Alison. Sebentar kemudian Elliot baru sadar kalau dia sudah berubah menjadi seorang bos kartel obat bius Kolombia! Dia memang menikah dengan Alison tapi Alison malah berselingkuh dengan guru bahasa Inggrisnya! Berganti-ganti Elliot menjadi bos kartel, ke pemuda paling sensitif (yg langsung menangis melihat sunset), lalu menjadi pemain basket tinggi besar (tapi ber-pen1s keciiiiil), intelektual pemenang pulitzer (tapi gay!) bahkan menjadi presiden AS sementara kekacauan demi kekacauan terjadi sementara persediaan wish nya makin menipis.

Dengan script yang begitu luas untuk mengeksplorasi kelucuan-kelucuan seharusnya tidak belebihan mengharapkan Bedazzled menyentuh "urat tawa" penonton, tapi sayangnya itu tidak terjadi. Dan ini tentu mengecewakan. Kekeliruan-kekeliruan terus terjadi tapi penonton tak kunjung tertawa. Memang ada satu dua yg cukup lucu (misalnya ketika sebagai pemain basket dia diwawancarai sementara dari keringatnya keluar bagai banjir). Bahkan ketika ketahuan bahwa "burung" si tinggi jangkung itu ternyata keciiiiillll sekali (bagian dari permintaan yg kurang detail) dimana semestinya bisa lucu sekali, tetap tidak mampu mengangkat situasi lucu. Benar-benar mengecewakan.

Perubahan fisik Brendan Fraser dari peran yang satu ke peran yang lain memang menimbulkan kekaguman dengan bantuan tata rias dan efek khusus yang cukup, tapi Fraser tetaplah Fraser. Dalam perannya sebagai intelektual yg menguasai segala bidang ilmu kita tetap bisa melihat Fraser yang agak blo'on. Hurley sendiri terlihat bukan sedang berakting, tapi dalam arti negatif. seksi sih seksi tapi Hurley tidak kelihatan meyakinkan sebagai The Devil yang biar dalam genre komedi sekalipun mestinya menimbulkan kesan "jahat" atau "kejam". Frances O'Connor sendiri sebagai cewek dambaan Fraser tidak mempunyai chemistry yang cukup untuk membuat Fraser rela menjual jiwanya pada Setan. Malah dalam beberapa kali pertemuan chemistry itu malah lebih kelihatan antara Elliot dengan sang Setan! Nah lho.

Jadi memang Rada merasa episode X Files di atas masih lebih lucu dibanding Bedazzled ini. Paling tidak Rada bisa tertawa lebar ketika di serial itu seseorang minta dirinya bisa menghilang, dan ketika itu betul-betul terjadi, dia ditabrak truk ketika menyeberang jalan! Dan tawa itu tidak Rada keluarkan sama sekali ketika menyaksikan Bedazzled selama 1 1/2 jam yg mengecewakan

[diedit oleh Rada, 09-11-2000, 04:35 PM]

Rada
11-11-2000, 11:17 AM
WOMAN ON TOP

Woman On Top (WOT) adalah sebuah judul yang catchy, yang menimbulkan imaji "liar" bagi yang membacanya, apalagi untuk sebuah film dengan genre komedi-romantis seperti ini. Ketahuilah, Woman On Top bukan sekadar judul asal-asalan demi menjerat perhatian saja, tapi soal Wanita Di Atas ini erat hubungannya dengan keseluruhan cerita.

Tersebutlah seorang gadis cantik bernama Isabella yang tinggal di Bahia, Brazil. Bukan hanya fisik dan penampilan Isabella yang gampang membuat para pria jatuh hati, tapi kepiawaiannya memasak juga bisa meluluhkan pria manapun: love at first bite. Namun dia manjatuhkan pilihannya pada Toninho yang pintar menari dan bernyanyi, kepada siapa Isabella jatuh cinta pada pandangan pertama dan sebaliknya. Pasangan yang saling mencintai itupun menikah dan membuka restoran.

Tapi ada sedikit masalah, yang akhirnya menimbulkan persoalan besar: Isabella mengidap penyakit motion sickness, yaitu sejenis penyakit yang ditimbulkan oleh gerakan. Praktisnya, Isabella akan sakit kalau naik lift, naik mobil atau aktivitas-aktivitas bergerak lain kecuali kalau gerakan itu berada dalam kontrolnya. Jadi dia lebih memilih naik tangga daripada naik lift, dan kalau naik mobil dia yg mesti menyetir (ini akan menimbulkan kelucuan ketika dia naik taksi di San Fransisco). Bahkan dalam hubungan seks dia akan sakit kecuali dia yang in control, dengan kata lain dialah yang mesti di atas (dari sinilah judul film ini diambil). Toninho yang macho memang sangat mencintai Isabella, tapi hubungan seks gaya Woman On Top ini membuatnya senewen dan dia berselingkuh dengan tetangganya hanya untuk bisa Man On Top. Seperti teriakannya pada Isabella ketika tertangkap basah,"I am a MAN! I have to be on top simetimes". Tapi hati Isabella kadung hancur dan dia terbang ke San Fransisco meninggalkan Toninho. Dia bahkan melakukan upacara ritual kepada Dewi Laut untuk memutuskan cintanya terharap Toninho.

Di negeri Paman Sam Isabella melamar di beberapa tempat untuk menjadi koki tapi kemujuran malah datang dari stasiun televisi setempat. Dia menjadi terkenal karena acara masak-memasaknya meroket ratingnya. Bagaimana tidak, penampilan dan aroma masakannya secara harafiah mampu menyeret orang dari tempatnya masing-masing dan dalam keadaan terbius mengikuti Isabella, persis seperti para wanita mengikuti bintang AXE di TV. Toninho sendiri tidak mau menyerah, datang menyusul Isabella ke SF, dan karena sedikit kekacauan malah diikutsertakan dalam acara masak memasaknya Isabella sebagai penyanyi latar padahal mereka selalu bertengkar. Sementara itu Cliff, produser acara itu berusaha menaklukkan hati Isabella. Siapa pemenangnya?

Rada sering tidak mengerti apa pertimbangan importir film kita dalam memutuskan memutar atau tidak memutar sebuh judul tertentu di bioskop. Satu alasan yang Rada kira selalu benar adalah alasan komersil: apakah dengan biaya impor sejumlah ini bisa diharapkan nilai penjualan tiket yang lebih besar, dengan demikian meraih untung yang signifikan. Tapi dalam kasus WOT ini Rada bingung, dan curiga jangan-jangan hanya karena judulnya. Dilihat dari daftar para pemainnya, yg cukup familiar adalah nama Penelope Cruz (yg bermain sebagai Isabella), tapi nama itupun Rada yakin hanya dikenal oleh penonton yg serius, bukan penonton musiman atau yg menonton hanya untuk fun. Sedang dari segi filmnya sendiri, tidak ada apapun yang khusus dari film ini yang membuat para importir mengatakan "mari kita putar film ini di bioskop".

Sebagai film komedi-romantis WOT terasa datar, kecuali kesan sweet yang timbul dari penggunaan musik etnic dan lagu-lagu berbahasa Portugis yang merdu merayu sepanjang film. Penampilan Cruz sebagai Isabella sendiri tidak buruk (siapa sih yang bisa tahan dengan penampilannya dalam pakaian merah, woman in red), tapi ekplorasi romance antara dia dengan Toninho baik sebelum maupun sesudah konflik tidak menggigit sebagaimana sebuah romance yg memikat. Penonton perlu diyakinkan bahwa Toninho adalah cinta sejati Cruz tapi itu tidak terlihat sejak pasangan ini bertemu. Begitu juga dengan unsur persaingan cinta dengan sang produser TV tidak muncul ke permukaan sehingga penonton sudah bisa mengira-ngira ending WOT ini.

Jadi, kalau kamu menonton WOT dengan pasanganmu, lebih baik menikmati alunan musik dan suara merdu Toninho karena perasaan romantis yg timbul darinya lebih dalam daripada perasaan menonton film itu sendiri.



[diedit oleh Rada, 11-11-2000, 11:25 AM]

Rada
11-11-2000, 01:49 PM
RUN LOLA RUN


Run Lola Run (RLR). Perhatikan penggunaan kata Run yang sampai 2 kali. Benar sekali, dalam film ini kita akan banyak melihat Lola berlari. Bukan hanya itu. Lola akan berlari secara berulang-ulang sebanyak 3 kali, dan kita dibuat takjub bukan hanya dengan ketangguhan cewek ini tapi juga dengan kenyataan bahwa sebuah film dari Eropa (tepatnya Jerman) yang digarap dengan gaya MTV dan dengan kisah yang begitu sederhana mampu memancarkan energi yg meluap-luap sekaligus menyodorkan permasalahan filosofis mengenai bagaimana satu hal yang berbeda akan menimbulkan rangkaian akibat yang berbeda pula.

RLR (judul aslinya adalah Lola Rennt) pertama kali dipertunjukkan kepada publik Amerika pada Festival Film Toronto thn 1998 dan langsung mendapat pujian dari para kritisi. Bahkan pada Festival Film Sundance thn 1999 film garapan Tom Tykwer ini meraih Audience Award disamping berbagai penghargaan dari serangkaian ajang Festival Film lainnya. Baru tahun ini setelah diawali dengan Jiffest, RLR masuk bioskop kita dan tinggal menunggu jadwal penayangannya.

Seperti diutarakan di atas, kisah RLR sangat simple: Lola (Franka Potente) meneriman telpon dari kekasihnya Manni (Moritz Bleibtreu) dari sebuah kios telepon umum, mengabarkan kalau uang hasil transaksi drug yang baru dilakukan Manni hilang tertinggal di kereta. Manni jadi panik karena dalam 20 menit dia harus menyerahkan uang itu ke bos nya atau dia akan mati. Lola yang sangat mencintai Manni berusaha menyuruhnya tenang dan menunggu selama 20 menit sementara dia akan mengusahakan uang sebesar 100.000 DM itu. Manni akhirnya setuju tapi dia akan melangkah ke supermarket terdekat dan merampok kalau dalam 20 menit Lola tidak muncul. Maka mulailah Lola berlari secepat dia mampu.

Uniknya, beda dengan film lainnya, sequence berlarinya Lola ini digarap 3 kali dengan akibat yang berbeda satu dengan yang lain, seperti menawarkan 3 penyelesaian terhadap masalah ini. Pertama kali, dia berlari ke kantor ayahnya yg bankir tapi gagal mendapatkan uang itu, dan akhirnya tiba ke tempat yang dijanjikan ketika Manni sudah di dalam supermarket menyuruh semua orang tiarap, dan berakhir dengan tertembaknya Lola (tewas?). Lalu tiba-tiba Lola ada di rumahnya kembali dan waktu mundur kembali ke saat segera setelah Manni menelpon dan Lola bersiap-siap berlari. Dan Lolapun kembali berlari, kali ini menimbulkan rentetan kejadian yang berbeda dengan yang pertama kali dan akibat yang berbeda pula. Lola melakukan itu sebanyak 3 kali, masing-masing berakhir dengan cara berbeda. Walaupun diperlihatkan secara berurutan, 3 peristiwa itu sebenarnya paralel satu sama lain, terjadi pada waktu yang sama, seolah olah sutradaranya bertanya "Bagaimana kalu begini" sebanyak 3 kali.

Disinilah persoalan filosofis itu muncul, seolah-olah menyodorkan pernyataan bahwa setiap hal itu mempunyai relasi, bahwa perbedaan yang sekecil apapun akan menimbulkan rentetan akibat yang berbeda pula, bahkan menyangkut destiny. Akibat itu bukan hanya mengenai diri kita, tapi bahkan mengenai orang-orang yang tidak kita kenal yg kita jumpai di jalan . Misalnya seorang nenek tua yang hampir ditabrak Lola, dalam tiga sequence itu masa depannya (ditunjukkan dengan teks "Later") yang diperlihatkan dalam rangkaian still photography cepat, berubah-ubah sebanyak 3 kali pula, seolah-olah menyatakan kalau Lola melakukan ini si nenek tua itu akan mengalami ini sedang kalau Lola melakukan yang lain maka yang akan dialaminya pun akan berbeda pula. Dalam beberapa karakter yang dijumpai Lola di jalan hal yang sama diperlihatkan pula.

Tom Tykwer menggarap LRL gaya vedeo musik MTV lengkap dengan musik techno yang lebih menegaskan energi film ini. Dia mengkombinasikan penggunaan kamera 35mm dan video digital, bahkan animasi. Tapi bukannya menjadi sebuah film yang terkesan terlalu "sok stylish" atau "terlalu banyak maunya sutradara", LRL menjelma menjadi sebuah film yg sangat hidup, menawan dan sekaligus menawarkan bahan pemikiran tanpa berubah menjadi sebuah film yang "berat". Apalagi mengingat ini adalah buatan Eropa yang terkenal dengan stereotype foreign movie yang lamban dan berat, LRL adalah sebuah kegairahan tersendiri.

Cuthbert Chastity
25-06-2001, 08:31 AM
;( Rada ke mana ya???

CBZ
25-06-2001, 10:04 PM
review lost in space dunks

krycek
11-11-2002, 12:38 PM
Originally posted by Rada
butaqiu seinget gue Angel Heart nya Alan Parker ini ngga ada VCD originalnya. Ini film thn 1987, jadi udah 13 tahon. Seinget gue ini pernah jadi kontroversi di badan sensor film karena thn 1987 waktu jaman sensornya masih ketat banget, BSF lolosin adegan yg kasih lihat buah dadanya Lisa Bonet. Alasan dibolehinnya, katanya karena dalam adegan itu Lisa nya udah dead, jadi payudara mayat ngga apa-apa dikasih lihat (spolier ngga ini ya?)
Tahun lalu sudah keluar tuh VCD Original-nya.
Iseng banget ngga' sih gue?