stey
30-05-2007, 02:37 PM
Tak habis-habisnya film horor diproduksi. Kini giliran Hilman Hariwijaya membuat film horor, bertajuk “The Wall”. Pria yang dikenal luas sebagai penulis novel teenlit ini menggandeng sineas India bernama Kumar Pareek untuk menggarap film produksi perdana Lupus Entertainment. Lebih jauh tentang “The Wall”, simak bincang-bincang wartawan Indosinema dengan Hilman Hariwijaya yang ditemuinya di sebuah villa di Bogor, berikut petikannya.
Kenapa Anda menulis film horor?
Karena horor itu nikmat, unsur hiburannya lebih terasa. Dengan kesadaran bahwa unsur hiburan itu lebih banyak di genre horor itulah, maka saya akhirnya memilih membuat film horor.
Ide ceritanya dari mana?
Saya eksplorasi dari teman-teman. Setiap orang punya pengalaman horor, dari situ saya meramu dan merangkai-rangkainya. Kemudian waktu kita hunting lokasi (Bogor--red) di sini, makin memperkaya unsur horor.
Di Bogor semua lokasinya?
Tidak semuanya, hanya 75 persen, sisanya pinggiran Jakarta, syuting days, 18 hari. Ini film Pur hiburan.
Pure hiburan?
Dari dulu saya cenderung ke hiburan, pop, bukan serius atau idealis.
Jadi nggak punya target festival dong...
Nggak ada, target saya laku ditonton...hahaha. Menurut riset pasar, segagal-gagalnya film horor ditonton 300 ribu.
Horor dituding film kurang mendidik...
Siapa bilang. Menulis cerita yang menarik, memikat penonton itu susah, perlu pengalaman. Maksud saya, suatu karya apapun pasti mengandung pesan-pesan tertentu yang mendidik. Dalam film ini ada pesan tentang nilai-nilai kepahlawanan. Menolong temannya yang terjebak, menjadi pahlawan juga 'kan?
Berapa lama menulis skenario ini?
Dua pekan saja. Prosesnya yang lama.
Film ini memakai sutradara orang India...
Ya, menurut saya bekerja itu harus dengan orang yang sehati. Saya sudah pernah mencoba dengan beberapa sutradara muda Indonesia, tapi nggak ada yang cocok. Karena nggak cocok secara alamiah kita nggak bisa menyatu...Saya merasa lebih sehati dengan kumar. Sebelum ini saya juga sudah lama berproses dengan dia waktu bikin sinetron.
Kabarnya post-pronya ke India juga?
Ya, kebetulan Kumar Pareek (sutradraanya--red) tahu lab yang bagus di India. Dulu di India Kumar bikin film juga. Kami ketemu waktu bikin sinetron, kami menulis bersama untuk sinetron. Dia dulu bekerja untuk MD Entertainment, Multivision, Rapi Film. Sekarang cocok dengan saya, kalau sudah cocok, tidak bisa lagi dibatasi etnik, atau kebangsaan.
Pemainnya pendatang baru semua?
Film horor itu memang nggak menjual nama bintang, tapi cerita. Lihat saja film horor lain pun jarang yang memakai pemain tenar. Selain itu karakter mereka cocok. Memang agak lama menggodok mereka. Kami menggandeng Eka D Sitorus untuk memberi kursus akting. Pemain yang sudah punya pada sibuk, biasanya tidak punya waktu untuk berlatih.
Sebagai produser, sejauh apa Anda mengintervensi sutradara?
Saya lebih ke konsep cerita, kalau sudah di lapangan, saya sadar ini sudah bagian kerja sutradara. Tapi malamnya kita diskusi.
Bukan pertimbangan budjet?
Itu juga...hahahha
Menurut Anda bagaimana film-film horor Indonesia?
Struktur ceritanya lemah, setannya jorok, ngaco....kemunculannya tidak didesign...akhirnya penonton jadi capek...
Apa yang paling mengkhawatirkan ketika Anda menggarap film ini?
Publikasi, gawat jika sampai film ini naik di bioskop orang banyak tidak tahu. Hanya itu.
Kapan rilisnya?
5 Juli, kira-kira...
Gimana seandainya tidak diterima masyarakat...
Saya nggak akan kapok. Dari awal saya bekerja bukan karena duit semata, tapi keinginan untuk membuktikan kemampuan bahwa saya bisa bekerja sebaik-baiknya. Lantas berpikir poistif, masa bikin sinetron ribuan bisa, film satu saja nggak..
Apa yang khas dari film ini?
Film horor yang struktur ceritanya kuat. Saya sangat memperhitungkan logika cerita.
Sebagai pengalaman pertama menjadi produser, kesulitan apa yang Anda hadapi?
Menurut saya, film lebih fair dari pada televisi. Karena film bisa langsung dilihat penontonnya. Sementara televisi sebetulnya sulit ngukurnya..saya melihat peluang baru di film ini. Tidak ada kesulitan berarti.
Kenapa Anda menulis film horor?
Karena horor itu nikmat, unsur hiburannya lebih terasa. Dengan kesadaran bahwa unsur hiburan itu lebih banyak di genre horor itulah, maka saya akhirnya memilih membuat film horor.
Ide ceritanya dari mana?
Saya eksplorasi dari teman-teman. Setiap orang punya pengalaman horor, dari situ saya meramu dan merangkai-rangkainya. Kemudian waktu kita hunting lokasi (Bogor--red) di sini, makin memperkaya unsur horor.
Di Bogor semua lokasinya?
Tidak semuanya, hanya 75 persen, sisanya pinggiran Jakarta, syuting days, 18 hari. Ini film Pur hiburan.
Pure hiburan?
Dari dulu saya cenderung ke hiburan, pop, bukan serius atau idealis.
Jadi nggak punya target festival dong...
Nggak ada, target saya laku ditonton...hahaha. Menurut riset pasar, segagal-gagalnya film horor ditonton 300 ribu.
Horor dituding film kurang mendidik...
Siapa bilang. Menulis cerita yang menarik, memikat penonton itu susah, perlu pengalaman. Maksud saya, suatu karya apapun pasti mengandung pesan-pesan tertentu yang mendidik. Dalam film ini ada pesan tentang nilai-nilai kepahlawanan. Menolong temannya yang terjebak, menjadi pahlawan juga 'kan?
Berapa lama menulis skenario ini?
Dua pekan saja. Prosesnya yang lama.
Film ini memakai sutradara orang India...
Ya, menurut saya bekerja itu harus dengan orang yang sehati. Saya sudah pernah mencoba dengan beberapa sutradara muda Indonesia, tapi nggak ada yang cocok. Karena nggak cocok secara alamiah kita nggak bisa menyatu...Saya merasa lebih sehati dengan kumar. Sebelum ini saya juga sudah lama berproses dengan dia waktu bikin sinetron.
Kabarnya post-pronya ke India juga?
Ya, kebetulan Kumar Pareek (sutradraanya--red) tahu lab yang bagus di India. Dulu di India Kumar bikin film juga. Kami ketemu waktu bikin sinetron, kami menulis bersama untuk sinetron. Dia dulu bekerja untuk MD Entertainment, Multivision, Rapi Film. Sekarang cocok dengan saya, kalau sudah cocok, tidak bisa lagi dibatasi etnik, atau kebangsaan.
Pemainnya pendatang baru semua?
Film horor itu memang nggak menjual nama bintang, tapi cerita. Lihat saja film horor lain pun jarang yang memakai pemain tenar. Selain itu karakter mereka cocok. Memang agak lama menggodok mereka. Kami menggandeng Eka D Sitorus untuk memberi kursus akting. Pemain yang sudah punya pada sibuk, biasanya tidak punya waktu untuk berlatih.
Sebagai produser, sejauh apa Anda mengintervensi sutradara?
Saya lebih ke konsep cerita, kalau sudah di lapangan, saya sadar ini sudah bagian kerja sutradara. Tapi malamnya kita diskusi.
Bukan pertimbangan budjet?
Itu juga...hahahha
Menurut Anda bagaimana film-film horor Indonesia?
Struktur ceritanya lemah, setannya jorok, ngaco....kemunculannya tidak didesign...akhirnya penonton jadi capek...
Apa yang paling mengkhawatirkan ketika Anda menggarap film ini?
Publikasi, gawat jika sampai film ini naik di bioskop orang banyak tidak tahu. Hanya itu.
Kapan rilisnya?
5 Juli, kira-kira...
Gimana seandainya tidak diterima masyarakat...
Saya nggak akan kapok. Dari awal saya bekerja bukan karena duit semata, tapi keinginan untuk membuktikan kemampuan bahwa saya bisa bekerja sebaik-baiknya. Lantas berpikir poistif, masa bikin sinetron ribuan bisa, film satu saja nggak..
Apa yang khas dari film ini?
Film horor yang struktur ceritanya kuat. Saya sangat memperhitungkan logika cerita.
Sebagai pengalaman pertama menjadi produser, kesulitan apa yang Anda hadapi?
Menurut saya, film lebih fair dari pada televisi. Karena film bisa langsung dilihat penontonnya. Sementara televisi sebetulnya sulit ngukurnya..saya melihat peluang baru di film ini. Tidak ada kesulitan berarti.