Mr. Lucky Guy
27-07-2008, 09:57 PM
Ini kita berandai2 saja, namun bisa juga bagi kita yang mengalami kenyataan ini. Ada suatu kasus yang terbagi menjadi berbagai macam kasus, namun menjadi satu - kesatuan. Adapun kasus2 itu seperti :
Kasus 1 = Seandainya kita jadi korbannya
Sudah pasti banyak kenyataan yang anggota keluarga si korban tidak menerimanya karena anggota keluarganya wafat, luka parah, luka ringan dan berbagai macam kasus lainnya.
Kasus 2 = Si pelaku tidak merasa menyesal telah melakukan sesuatu
- Dalam kasus ini apabila kitalah sang pelaku pastilah kita sendiri tidak akan menyesali atas perbuatan kita karena si korban sudah menerima ganjarannya.
- Apabila sebagai masyarakat awam yang mengetahuinya dari pak RT, dari tetangga, dari Polisi, bahkan dari media massa apapun pasti akan menuai banyak dukungan positif apabila kita tahu kalau si korban emang orang yang ngeselin. Namun, akan negatif apabila masyarakat umum semisal kita mengenal si korban dikenal baik.
Keluarga korban, dukung si pelaku
Apabila kasusnya mencuat mewakili banyak golongan masyarakat tertentu, maka keluarga si pelaku akan mendukung penuh si pelaku. Namun, apabila atas tindakan kecerobohan si pelaku, maka keluarga korban akan hanya mampu meminta ma'af kepada minimal para korban dan para keluarga korban. Kalau perlu diberi santunan atau cara - cara apapun.
Kasus 4 = Masyarakat Awam Akan Mencari Sesuatu
Sudah pasti segala kasus yang terjadi akan menjadi rasa penasaran kita untuk menelusuri ke akar - akarnya kenapa kejadian ini sampai terjadi. Meski kita tidak mengalaminya dan bukan siapa - siapanya korban, bisa saja kita marah kesal dan benci dengan si pelaku. Bisa saja kita senang dan siap mendukung karena memang diketahui letak kebenarannya.
Kasus 5 = Membela Siapakah Kita?
Nah.... ini yang sangat sulit untuk kita ketahui kebenarannya. Sudah menjadi kenyataan bahwa kita tidak dapat melihatnya langsung karena saat kejadian kita tidak mengetahui siapa dan bagaimana bisa terjadi. Berawal dari si A sebagai tokoh utamanya. Si A kesal dengan si B hingga memberi keluhan ke si C. Kebetulan si C cuma pendengar saja. Begitu si A cerita ke si D barulah reaksi kebencian kepada si B muncul karena secara langsung si D bisa saja menyaksikan perilaku jelek si B. Bisa juga semisal si D merasakan dampak dalam kehidupannya karena ulah si B. Hanya berbekal visualisasi cerita saja tidak cukup tanpa pembuktian. Dengan media elektronik apapun akan diduga unsur trik kamera, permainan komputer dan lain sebagainya.
Katakan kita berada di posisi sebagai si E yang cuma awam dengar2 saja dari si A dan D. Akankah kita mempeercayai perbuatan si B? Ataukah kita meyakini si A telah memprovokasi si B?
Buat yang bingung coba tolong dibaca sekali 2x atau brapa kali lagi. Anggap saja kasus2 yang gw maksud ini tergolong kasus kecil sampai besar. Yah... semisal kasus kecil kasus berantem sama teman2 sepermainan kelereng. Kasus besar yah... seperti yang mencuat belakangan ini, yaitu mutilasi dan masih banyak lagi...
Sumber = dari kenyataan pahit bahwa dunia ini panggung sandiwara... Ceritanya mudah berubah.....
Kasus 1 = Seandainya kita jadi korbannya
Sudah pasti banyak kenyataan yang anggota keluarga si korban tidak menerimanya karena anggota keluarganya wafat, luka parah, luka ringan dan berbagai macam kasus lainnya.
Kasus 2 = Si pelaku tidak merasa menyesal telah melakukan sesuatu
- Dalam kasus ini apabila kitalah sang pelaku pastilah kita sendiri tidak akan menyesali atas perbuatan kita karena si korban sudah menerima ganjarannya.
- Apabila sebagai masyarakat awam yang mengetahuinya dari pak RT, dari tetangga, dari Polisi, bahkan dari media massa apapun pasti akan menuai banyak dukungan positif apabila kita tahu kalau si korban emang orang yang ngeselin. Namun, akan negatif apabila masyarakat umum semisal kita mengenal si korban dikenal baik.
Keluarga korban, dukung si pelaku
Apabila kasusnya mencuat mewakili banyak golongan masyarakat tertentu, maka keluarga si pelaku akan mendukung penuh si pelaku. Namun, apabila atas tindakan kecerobohan si pelaku, maka keluarga korban akan hanya mampu meminta ma'af kepada minimal para korban dan para keluarga korban. Kalau perlu diberi santunan atau cara - cara apapun.
Kasus 4 = Masyarakat Awam Akan Mencari Sesuatu
Sudah pasti segala kasus yang terjadi akan menjadi rasa penasaran kita untuk menelusuri ke akar - akarnya kenapa kejadian ini sampai terjadi. Meski kita tidak mengalaminya dan bukan siapa - siapanya korban, bisa saja kita marah kesal dan benci dengan si pelaku. Bisa saja kita senang dan siap mendukung karena memang diketahui letak kebenarannya.
Kasus 5 = Membela Siapakah Kita?
Nah.... ini yang sangat sulit untuk kita ketahui kebenarannya. Sudah menjadi kenyataan bahwa kita tidak dapat melihatnya langsung karena saat kejadian kita tidak mengetahui siapa dan bagaimana bisa terjadi. Berawal dari si A sebagai tokoh utamanya. Si A kesal dengan si B hingga memberi keluhan ke si C. Kebetulan si C cuma pendengar saja. Begitu si A cerita ke si D barulah reaksi kebencian kepada si B muncul karena secara langsung si D bisa saja menyaksikan perilaku jelek si B. Bisa juga semisal si D merasakan dampak dalam kehidupannya karena ulah si B. Hanya berbekal visualisasi cerita saja tidak cukup tanpa pembuktian. Dengan media elektronik apapun akan diduga unsur trik kamera, permainan komputer dan lain sebagainya.
Katakan kita berada di posisi sebagai si E yang cuma awam dengar2 saja dari si A dan D. Akankah kita mempeercayai perbuatan si B? Ataukah kita meyakini si A telah memprovokasi si B?
Buat yang bingung coba tolong dibaca sekali 2x atau brapa kali lagi. Anggap saja kasus2 yang gw maksud ini tergolong kasus kecil sampai besar. Yah... semisal kasus kecil kasus berantem sama teman2 sepermainan kelereng. Kasus besar yah... seperti yang mencuat belakangan ini, yaitu mutilasi dan masih banyak lagi...
Sumber = dari kenyataan pahit bahwa dunia ini panggung sandiwara... Ceritanya mudah berubah.....