PDA

View Full Version : koleksi renungan-renungannya si DaveL (jangan bikin thread baru lagi!)


DaveL
07-09-2008, 01:27 AM
MENGAPA ANDI NOYA KELUAR DARI METRO TV ???

Senin, 25 Agustus 2008 23:55 WIB

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin
redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang
yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena 'pecah kongsi' dengan Surya
Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak
menyenangkan.
Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan 'power' yang luar
biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya
mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan
sulit.
Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke
IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi
Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah.
Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari
Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya
kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa
mengapa saya keluar dari Metro TV. ''Andy ibarat ikan di dalam kolam.
Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan
tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.''

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak
lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya
ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi
Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka
hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu
selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan
habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika
keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain.
Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun
persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak
sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat
lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya 'dipindahkan' oleh
seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak
perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia
memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang
hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu
sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi
sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak
dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa
nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi
perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah,
dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas
waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang
menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang
mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang
selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari 'keju' itu
sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti 'lentera jiwa'
saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul 'Lentera Jiwa' yang
dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan
yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati
saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak
orang.

Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa
tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang
sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing,
mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata
tidak membuatnya bahagia. Dia merasa 'lentera jiwanya' ada di ajang
pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai
dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah
mapan berantakan.
Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga
menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka
tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi
apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata
putus
juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak
mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak
bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008),
kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar
dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan
Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis
untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih
menjadi koki.
Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu
pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran
sendiri.
''Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini,'' ujarnya.
Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai
dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk
menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat
beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi.
Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka
mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.

Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak
sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan.
Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan
bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan
yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak
tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang
dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu
gembira dalam menikmati hidup. ''Bagi saya, bekerja itu seperti
rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya,'' ujar Yon Koeswoyo, salah
satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling
Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji.
Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon
mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. ''Semua
karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta
saya. Hidup saya,'' katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka
yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah
menemukan lentera jiwa mereka.
::nangis3::::nangis3::::nangis3::::nangis3::::nangis3::

red_pr!nce
08-09-2008, 02:32 PM
gw nonton episode yang Lentera Jiwa itu. :D
kisah Gede Prama yang meninggalkan kehidupan duniawinya yang materialistis ke arah kehidupan spiritual yang damai bagus banget. ::up::
it moved me. ::nangis::

jarang-jarang pangeran kaya meninggalkan istananya untuk mencari arti kehidupan di antara rakyat miskin dan menjadi pertapa.

Ceban
09-09-2008, 11:44 AM
sometimes i m thinking, its easy for ppl looking for another "cheese" when he/she already have it. But how with ppl with no "cheese" at all?

Draculy
09-09-2008, 11:56 AM
gw nonton episode yang Lentera Jiwa itu. :D
kisah Gede Prama yang meninggalkan kehidupan duniawinya yang materialistis ke arah kehidupan spiritual yang damai bagus banget. ::up::
it moved me. ::nangis::

jarang-jarang pangeran kaya meninggalkan istananya untuk mencari arti kehidupan di antara rakyat miskin dan menjadi pertapa.

kalo pangeran merah meninggalkan apa dan mencari apa nih? :D

red_pr!nce
09-09-2008, 12:37 PM
wah kayaknya belum punya inspirasi buat meninggalkan sesuatu dan mencari sesuatu nih. :D
kan baru memulai kehidupan yang lebih baik dari hari ke hari. :D

singkat kata, masih terlalu dini untuk bisa sampe levelnya andy noya atau gede prama yang udah veteran.

Pepohonan
12-09-2008, 02:09 PM
keberanian belum ada..... untuk meninggalkan comfort zone ini dan menuju area yg penuh tantangan.... dan juga peluang.

fensliq
19-09-2008, 01:01 PM
nice Post,....

ogud orang yg juga akan keluar dari kenyamanan n ingin mencari sesuatu yg menjadi pilihan hidup :D

smoga smuanya bisa berjalan dengan baik :D

Arthurus
20-09-2008, 03:34 PM
Orang masih aja terobsesi...kl mau mencari kehidupan spiritual dia harus berlaku.."meninggalkan apa yang sudah di capai dgn sebegitu besar.."

menimbulkan ide buat orang lain.. "ah gw belum sekaliber orang itu, belum siap kl harus mencari sekarang, belum ini belum itu lah dsb.."

mo nyari apaan sih ? kapan nyampenya ? :D

sensei gw bilang "pencerahan.. ya makan kl lapar, minum kl haus" ::hihi::

kita gak perlu keluar dari zona kenyamanan...tp jadikan semua zona menjadi zona kenyamanan...

kl bisa sih ;D ::kabur::

melanz cloud
20-09-2008, 03:57 PM
Malaikat Hitam Tpi Putih,,malaikat Putih Tapi Hitam


Hikz,,,

masterklik
20-09-2008, 10:45 PM
sungguh kejadian yang sangat langka,orang setenar itu masih mencari ketenaran lagi

purple_orchid
21-09-2008, 01:21 AM
jadi inget cerita ttg anak rajawali, anak sudah merasa nyaman dalam sarang mereka, setipa hari kebutuhan mereka dipenuhi oleh sang induk, namun pada suatu hari sang induk terbang dan menabrak2 sarang indah anak rajawali, anak rajawali itu terjatuh, namun ketika ia mencoba mengepakan sayapnya, dan terus mengepakkan sayapnya akhirnya dia dapat terbang, lalu setelah terbang dia melihat dunia luar yang jauh lebih indah daripada sarangnya.

manusia untuk lebih berkembang perlu meninggalkan sarangnya dan terbang melihat dunia yg jauh lebih indah, tapi tentu saja kita membutuhkan sayap yang siap mengarungi dunia

DaveL
20-10-2008, 10:47 PM
Kaca Spion
oleh Andi F. Noya ::nangis3::

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan
Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari
ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk
baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan.
Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga
suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa
lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya
mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan
dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi
mengapa rasanya jauh berbeda?
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal
rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu
mampir ke perpustakaan
Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya.
Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib
yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya
merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika
masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum
buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang.
Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak
gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna
hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero
Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan
sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah
satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya
bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang
Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter
di Harian Bisnis Indonesia
. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus
meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan
Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di
sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya
menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan
kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi
menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu
hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan
punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi
sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya .. Sejak
kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan
menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya
bersama seorang
teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda
milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion
mobil itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer
saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah
saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang
sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi
mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap
menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma
enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat
tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di
ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar.
Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah
dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan
mobilnya.


Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak
bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca
spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang
senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang
mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos
menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua
minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada
tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit
itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup
sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap
akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil
uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan
uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap
akhir
bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu
ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah
artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat
kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah
ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik
mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci
orang kaya.

Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban
mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya..
Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya.
Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka
adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya
putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu
berkali-kali.
Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang
terbalaskan.

Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya
di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal
jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak
punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa
kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu
tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah
berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan
kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa
bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena
sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan.. Dulu
mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang,
apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan
yang
enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat
saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, 'Kamu berhak untuk
itu.. Sebab kamu sudah bekerja keras.'

Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama
sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang
kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya
terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak
lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado
yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi
sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak
sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca
spionnya saya tabrak.

Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam
kehidupan sehari-hari sering menghadapi
ujian. Salah satunya ketika
mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang
dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak
dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin
melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya
terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan
kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi.
Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok..

Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat
itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang
merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang
ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf
atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha
meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak
menuntut ganti rugi.
Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera
luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya.
Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah
artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan
begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu
saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang
pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup
yang pahit.
::unggg::::unggg::::unggg::

St.Leonhart
22-10-2008, 11:09 PM
Andy F Noya tuh yg presenter Kick Andy yah, gua beli bukunya yg ttg Kick Andy.
byk cerita2 bagus disana.

Sabbath & Nami
23-10-2008, 12:31 AM
mengharukan banget...


bener yah ... kdg kt merasa sesuatu berubah. pdhal mungkin kitanya yg uda berbeda ...

gw mau nyari bukunya ah... bagus bgt. tengs buat Davel for sharing this story.

DaveL
23-10-2008, 01:13 PM
@St.Leonhart :
iya bro bagus2 hehe , mirip chicken soup gt ::hihi::

@Sabbath & Nami : u' r welcome bro ^^

BatmanFans
11-11-2008, 02:04 PM
copy paste dari mana nih...mau dunk source link nye

kupooinc
11-11-2008, 02:06 PM
copy paste dari mana nih...mau dunk source link nye

http://www.kickandy.com/?ar_id=MTEyOQ==

www.kickandy.com ::hihi::

DaveL
11-11-2008, 02:15 PM
http://www.kickandy.com/?ar_id=MTEyOQ==

www.kickandy.com ::hihi::
klo ak dari EMAIL sih bro ::hihi::

DaveL
11-11-2008, 02:15 PM
btw di kick andy .com bagus2 juga yach ::ngakak2::

DaveL
12-11-2008, 11:43 PM
Ini ada kisah seorang Office Boy, semoga bermanfaat terima kasih.

Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri

seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan,

dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki

masa pensiun dari perusahaan tersebut.



Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan

dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih

dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut,

yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy

yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.



Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, "Y ang

terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan
kata

"tolong",
setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah

tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah

mengucapkan "maaf", saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha

memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin

saya merubahnya menjadi kebaikan.



Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan "terima kasih"

kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk

Bapak.Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang

kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan

sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan

dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya.

Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak

Direktur berada. Amin."



Setelah sejenak
keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk

tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap

genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati

seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan

seluruh isi kantor.



Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan

yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan

biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti

si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena

seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan

kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di

perusahaan itu.



Kawan2 ,

Tiga kata "terimakasih, maaf, dan tolong" adalah kalimat
pendek yang

sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa

kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak

langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia

yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada

bawahannya.



Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap

keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu

membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga

tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.



Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan kata-kata pendek

seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan

siapa pun kita berhubungan. Dengan mampu menghargai orang lain
minimal

kita telah menghargai diri kita sendiri.

::jempol::

DaveL
20-11-2008, 11:43 PM
Kata orang Singapore tentang Indonesia

Suatu pagi di bandar lampung, kami menjemput seseorang di bandara. Orang
itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak.

Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat bicara gaya
melayu , english, (atau singlish?) beliau menceritakan pengalaman2
hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis,
spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe..

"Your country is so rich!"

Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu..

"Indonesia doesnt need d world, but d world need Indonesia"
"Everything can be found here in Indonesia, u dont need d world"
"Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan,
dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia !"

"Singapore is nothing, we cant be rich without indonesia . 500.000orang
indonesia berlibur ke singapura setiap bulan. bisa terbayang uang yang
masuk ke kami? apartemen2 dan condo terbaru kami yang membeli pun
orang2 indonesia, ga peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah
rumah sakit kami, orang indonesia semua yang berobat."

"Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan
indonesia masuk? ya benar2 panik. sangat berasa, we are nothing."

"Kalian ga tau kan klo agustus kemarin dunia krisis beras. termasuk di
singapura dan malaysia ? kalian di indonesia dengan mudah dapat beras"

"Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2.. lihatlah negara kami,
air bersih pun kami beli dari malaysia . Saya pernah ke kalimantan,
bahkan pasir pun mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada
matahari bersinar. Petani disana menjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik
China. Dan si pabrik menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya
melihatnya sendiri"

"Kalian sadar tidak klo negara2 lain selalu takut meng-embargo
Indonesia ? Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut
kalo kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. harusnya
KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Beli lah dari petani2
kita sendiri, beli lah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri. Tak perlu
kalian impor klo bisa produksi sendiri."

"Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, Indonesia
will rules the world.."

DaveL
13-12-2008, 02:35 PM
---HOAX---

deleted

__________________

"Hidup itu mudah,manusia yang membuatnya susah."
-Grim_Reaper-
"Orang bijak adalah orang yang menyelesaikan masalah atau membuat masalah besar menjadi kecil.Orang bodoh adalah orang yang mempermasalahkan masalah atau membuat masalah kecil menjadi besar."
-My Father-
"Teman sejati adalah orang yang membicarakan kebaikan kita dimuka umum.Musuh dalam selimut adalah teman yang membicarakan keburukan kita dimuka umum."
-Grim_Reaper-

DaveL
25-12-2008, 01:15 AM
http://members.iinet.net.au/~toh/Aik/anime/xmas/xmas%20(7).jpg

MET NATAL ALL ^^

harnadi
26-12-2008, 10:46 PM
itu cerita stanford vs harvard adalah hoax. http://www.stanford.edu/about/history/

dan artikel mengenai hati.. di sini bukan tempat yang tepat.

bung davel, mohon lebih diperhatikan konten thread ini. jangan asal copy and paste aja. kalo gak gua bakal tutup thread ini.

DaveL
26-12-2008, 10:51 PM
itu cerita stanford vs harvard adalah hoax. http://www.stanford.edu/about/history/

dan artikel mengenai hati.. di sini bukan tempat yang tepat.

bung davel, mohon lebih diperhatikan konten thread ini. jangan asal copy and paste aja. kalo gak gua bakal tutup thread ini.

::maap:: sori bro , klo itu beda yach ? thx warn nya ::maap::

btw baru tau itu hoax aj