PDA

View Full Version : Catatan KataKata Kasat Mata


komporminyak
15-10-2008, 05:01 PM
Banyak agenda yang mungkin hanya segelintir yang didatangi.
Tentang berbagai macam yang dapat mengubah nuansa dan menambah warna.
Katakata pun sengaja diciptakan untuk mencegahku menjadi gila.

Beberapa copas dari thread di forum sebelah atau blog pribadi.
Tapi semua itu orisinil tulisan dari si pemosting.
Atau kalian bisa juga ikut meramaikannya di sini. Nuhun.

I'M NOT THE ONLY ONE

Sebuah tontonan Dance Theater ala Germany hasil besutan koreografer Constanza Macraz | Dorky Park. Mungkin jika tanggal sore itu seorang kawan bernama sireum tidak berkirim kabar melalui sms, aku tidak akan menonton Art Summit Indonesia 2007, International Festival on Contemporer Performance Arts pada tanggal 22-23 November 2007 di Graha Bhakti Budaya, TIM.

http://bp0.blogger.com/_40dY1bXLuNY/R00sdhRndDI/AAAAAAAAAPs/TDwWPS96GIQ/s320/dorkypark.jpg
Sedikit kutipan dari brosur

Mengapa aku langsung berminat ikut begitu kudengar kabar tentang Theater? Iya. Mungkin sekedar angin segar dari penat keseharian yang begitu penuh. Ah itu salah. Bukan sekedar, tapi aku ingin betulbetul menciptakan nuansa yang berbeda. Meski tak harus teduh di tengah rimbunnya pohon. Tapi setidaknya ada malam yang pekat. Menikmati rasa bersama kawan. Bwahahahhha seperti rasa pecel lele yang dikatakan kawanku. Yang mungkin ingin menandingi Tango rasa Susu Vanilla. Entahlah rasanya akan menyenangkan ketika kita bisa berbagi cerita.

Hmmm, waktu masih saja belum jenuh bercerita. Rutinitas kehidupan di sekeliling jalur rel yang begitu lurus kadang membuat ingin berteriak. Mencoba sesuatu yang berbeda dari yang kemarin-kemarin. Uh! Alangkah bebasnya mereka berekspresi dan berapresiasi. Hari pertama, ada: Knut Berger, Jill Emerson, Jared Gradinger, dan Hyoung-Min Kim bertampil begitu lugasnya. Terlalu jujur dan brutal barangkali. Bwahahahha seperti tanya seorang teman kantor, "Ada pornonya ga?". Lalu kujawab, "semi". Bukan porno yang kutatap, tapi nuansa kebebasan expresinya. Dengan balutan art tentunya. Bukankah semua itu relatif. Bukankah ciuman bibir termasuk porno? Toh hidup tak bisa sekedar dipahami dan dijalani. Bukankah kita belajar untuk memaknainya?

Hari kedua, Nabih Amaraoui, Nir De-Volff, Hyoung-Min Kim, Gail Sharrol Skrela, dan Tatiana Diara. Para pemain itu bermain brutal. Hahahhahha betapa tidak, bahkan perilaku anjing pun ditirukannya. Hmmmm, bukankah I'm not the only one?


http://bp1.blogger.com/_40dY1bXLuNY/R00sdxRndEI/AAAAAAAAAP0/Gei55nTwDlY/s320/DorkyPark1.jpg
Sisi A, brosur kecil tentang Constanza Macraz | Dorky Park


http://bp2.blogger.com/_40dY1bXLuNY/R00seBRndFI/AAAAAAAAAP8/YkwluObF6NE/s320/DorkyPark2.jpg
Sisi B, brosur kecil tentang Constanza Macraz | Dorky Park


http://bp3.blogger.com/_40dY1bXLuNY/R00seRRndGI/AAAAAAAAAQE/QeNvIUSHpFU/s320/tiket.jpg
Secuil tiket yang menyisakan pertemuan.

Jika mainstream itu tak dituruti, maka akan banyak warna. Seperti menatap malam yang tak hanya gelap. Bukankah masih ada kerlip bintang? Lalu bagaimana dengan buser yang hendak menangkap orang yang kamu kenal itu? Aku tidak memikirkannya. Ah bohong aku mengatakan itu semua. Bohong aku tidak terpengaruh oleh kabar itu, sampaisampai pagi ketika duduk di kursi tempat biasa aku kerja seorang kawan bertanya, "Lagi suntuk?". Pffff.. ok anggaplah kabar itu tak benar.

Jika manusia bisa hidup dengan keteraturan? Bukankah hidup juga harus ditaklukan? Sekalipun malam tak dikatakan bersahabat untuk perempuan. Sekalipun norma yang dipegang oleh sekeliling harus dihadang. Setidaknya perempuan yang kukenal itu berlaku 'benar' untuk menjalani harihari di hidupnya.

Aku ingin melihat pohon.
Sama seperti ketika aku dalam diam menatap keong yang sedang terjebak oleh pasir laut di pulau kecil yang bernama Karang Lebar, Kep. Seribu 9 Sept lalu. Betapa childishnya?! Itu yang terlintas dalam benakku saat melihat gambarku sendiri. Dan agaknya kawanku menangkap nuansa itu lalu dengan diamdiam mengambil foto ini.

http://bp0.blogger.com/_40dY1bXLuNY/RvimDcrVLjI/AAAAAAAAAHE/LhT6AhM86T4/s320/kepserisep0700457jongkok.jpg

Ditambah lagi rambut yang belum terlalu cepak itu kini lebih dibabat menjadi pendek lagi. Biar tambah rapi, itu alasan bencong dekat pasar yang memotong rambutku. Dan aku hanya tersenyum dikulum.

Ah ya, aku masih ingin menatap hening. Sambil mengendapkan rasa.


Medio 28 Nov 2007 05:40 pm

komporminyak
15-10-2008, 05:05 PM
JOGJA - 22 Des 2007

Ketika sebuah pesan singkat sengaja kutebarkan kepada kawankawan semasa kuliah dulu. Spontan, selama perjalanan ke kota Jogja membuat semua kenangan itu mulai berhamburan.

Sungguh, semuanya mampu membuatku tersenyum sendiri di dalam bus yang membawaku ke kota itu. Betapa tidak, aku teringat ketika mobil yang ditumpangi beberapa orang kawanku termasuk diriku tentunya singgah ke rumahku setelah perjalanan dari Surabaya dalam rangka menghubungi kegiatan kampus. Aku juga teringat manakala tanpa sengaja sekitar 24 orang kawan seangkatanku malam itu satu persatu mendatangi rumahku hanya garagara ada tugas mata kuliah pilihan yang harus dikumpulkan keesokkan harinya. Malam hingga larut, dan hanya berdua saja yang mengerjakan tugas sementara yang lainnya copy paste?!! Hahahhha bandel sekali waktu itu.

Sebelum menjumpai mereka, aku singgah ke toko buku langgananku. Kami bercengkerama lama dengan penanggung jawab toko itu. Ketika di Yogya dan ingin membeli buku aku pasti singgah di toko kecil itu. Ku katakan padanya, "Di Gramedia atau Gunung Agung tidak akan dijumpai servis seperti ini".

Dia hanya tersenyum. Perempuan itu bercerita bahwa dia menyukai membuat relasi. Hingga pernah ketika kakaknya kecelakaan dan harus berurusan dengan hukum, sementara ia sangat buta tentang hukum. Mujur, seorang pelanggan lama yang kebetulan mendalami soal hukum datang ke toko itu. Pelanggan itu sudah lulus sebetulnya lalu bekerja, dan pada akhirnya kembali ke kota Yogya untuk melanjutkan studinya S2 dan kembali dia menyinggahi toko itu.

Aku melihat perempuan penjaga toko itu begitu sederhana, tentang keinginannya yang lumrah sebagaimana seorang perempuan. Usianya sudah 37 tahun, namun ia belum menikah. Ketika tibatiba datang seorang lelaki tua yang menjajakan makan siang dalam bungkusan yang dijual Rp.5.000,00 per bungkus. Dia mengajakku untuk membeli makanan itu. Iya makan siang yang cukup membuat dagangan lelaki tua itu laku.
Dia berkata, "Mbak, rumahnya bapak itu dulu hancur akibat gempa di Jogja, tapi dia masih bertahan menghadapi hidup. Aku salut dengan mereka, setidaknya masih mau bekerja."

Lalu dia mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan itu kecil dan penuh buku dan agak pengap, agaknya inilah gudang kecil untuk menampung buku sebelum dijual. Kami hanya duduk di lantai beralaskan kertas. Meskipun hanya berlantai ubin lama yang ditutup dengan plastik. Kami lalu makan bersama sambil bercerita tentang kehidupan. Bagaimana tentang detikdetik terakhir menjelang ayahnya meninggal, sementara keinginannya adalah orangtuanya melihatnya menikah. Tapi Tuhan berkehendak lain rupanya.

Inilah jamuan kota Jogja yang kurindukan, dengan masyarakatnya yang ramah. Sekalipun baru kali itu aku berbincang panjang lebar dengannya. Pertemuan usai, aku segera menghubungi dua orang kawanku. Tapi rupanya yang satu masih bekerja dan yang satunya masih di Gunung Kidul.

Setelah itu aku berjalan ke luar toko, sempat membeli pulsa lalu tibatiba ponselku berbunyi. Kawan kuliahku ingin menjumpaiku. Pada mulanya memang tidak lancar, salah seorang kawanku sepertinya enggan untuk mendatangi kampus. Malah dia meminta untuk berkumpul di AmPlas.
"Apaan AmPlas?", tanyaku.
"Ambarukmo Plasa." jawabnya singkat.
"Halagh... kok ke Mall siy? di Jakarta kan udah kebanyakan Mall!" sergahku.
"Laahhh, wong ndeso kok disuruh ke desa lagi." jawabnya.

Suasana jadi tidak nyaman. Aku melihat tatapan Sigit juga berubah. Aku tahu Arie jauhjauh dari Kep. Riau atau tepatnya dari Pulau Bengkalis untuk mendatangi calon istrinya yang juga diajak siang itu. Aku sempat mengamati, perempuan calon istrinya tampak sederhana namun anggun dan berpendirian kuat. Seorang perempuan yang bersahaja, mungkin karena karirnya adalah seorang perawat yang dengan ketulusan hati mengobati para pasien. Sementara Arie, lelaki anak juragan Salak itu memang masih dengan postur tubuh yang tegap dengan dibalut kemeja warna hijau senada dengan warna mobil barunya. Kulitnya yang sawo matang masih sama dengan yang dulu juga sorot matanya yang tajam.

Kristo, dosen di salah satu Univ. di Palembang yang saat ini sedang melanjutkan studi S2 di UGM itu menengahi pembicaraan itu.
"Ya sudah, kami ke kampus dulu lalu nanti kami menyusul ke AmPlas."
"Ya deh... ." kata Arie.
Akupun mengiyakan, sementara itu aku juga masih menunggu Moko yang masih bekerja setengah hari.

Akhirnya kami bertiga tiba di kampus yang dibangun itu menjadi utuh satu bagian. Menjadi kampus yang begitu hijau dan segar seperti yang tampak di foto. Bisa dibayangkan, seakan bangunan itu menggeliat menginginkan suatu bentuk perubahan menjadi lebih berpotensi.

http://bp3.blogger.com/_40dY1bXLuNY/R3Hu1y0diPI/AAAAAAAAARk/T99UJ_p1u0Q/s320/IMG_0273_.jpg
Sudut kampus dengan nuansa dedaunannya yang begitu segar.


http://bp0.blogger.com/_40dY1bXLuNY/R3Hu2C0diQI/AAAAAAAAARs/lL_li9jRzlY/s320/IMG_0272.jpg
Lagi salah satu sudut Kampus.


http://bp1.blogger.com/_40dY1bXLuNY/R3Hu2S0diRI/AAAAAAAAAR0/k4uTV1zaoBw/s320/IMG_0279.jpg
Rektorat bagian belakang, diambil dari lorong penghubung gedung unit I dan gedung unit IV.


http://bp1.blogger.com/_40dY1bXLuNY/R3Hu2S0diSI/AAAAAAAAAR8/rVir4-jwUto/s320/IMG_0276.jpg
Moko, Kristo dan Sigit berjalan di lorong kampus.

Sigit berkata, "Kalian sudah sukses ya? Sementara aku cuma ngendon di Yogya aja."
"Halah, jangan begitu, liat saja dua tahun lagi jika kita bertemu pasti akan ada perubahan, perubahan yang lebih baik tentunya," jawabku.
Sigit tersenyum.
Moko langsung menimpali, "Koyo aku iki loh, manut ortu, diminta kerja di Jogja aja."
Kami pun tertawa bersama... . Nice. Banyak pembicaraanpembicaraan yang hangat tercipta. Nuansa sepi kampus yang sedang libur Natal menambah syahdu kenangan yang berhamburan itu.

Seusai dari kampus kami ke Amplas. S-i-a-l! Ternyata Arie sudah meninggalkan kami. Aku tahu waktunya hanya sampai pukul 15.00 dan jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 15.00. Sudahlah... ada yang menyelinap pertanyaan mengapa Arie menjadi berbeda. Benarkah ia telah berubah? Seiring logatnya yang juga sudah berubah menjadi logat Riau? Aku setengah tidak percaya, bagaimanapun dia dulu pernah begitu dekat dengan kamikami. Tentang bagaimana amarah dia pada anakanak yang lain. Apa alasan dia menggebrak meja sementara yang lain tak pernah tahu alasannya.

Entahlah. Malamnya ku kirim pesan singkat padanya. Kukatakan tentang ucapan terimakasih karena telah bertemu di bilangan gejayan, kukatakan permintaan maafku karena setengah memaksa untuk ke kampus. Lalu ku baca balasan dia. Lega. Rupanya dia menginginkan dibuat acara di rumahnya, jadi tidak sekedar ngumpul tapi ada suguhan di dalamnya. Bwahahahahah... dia masih seperti yang dulu rupanya.
Iya pertemuan itu memang begitu mendadak. Bahkan di pagi hari dia baru datang dari Riau lalu aku datang ke Jogja menjelang siangnya. Tapi semua yang terjadi di hari itu sudah lebih dari cukup. Aku serupa anak kecil yang meloncat-loncat riang untuk meraih semua kenangan yang berhamburan di kepala. Iya. Cukup berterimakasih karena diijinkan sesaat untuk mencicip semua rasa bersama kawan.

komporminyak
15-10-2008, 05:11 PM
Tentang Ayah

Ayah sudah sepuh, usianya 66 tahun saat ini. Thx God for that.
Dulu semasa kecil, tidak seperti layaknya anakanak saat ini.
Karena sang ibu meninggal di saat usia masih sekitar 5an tahun, dan sang adik yang masih balita dan batita juga meninggal dan entah dimakamkan dimana. Saat itu masih jaman perang. Untuk meneruskan hidup ayah selalu dititip-titipkan ke manamana. Karena kakek harus mengabdi kepada negara.

Aku masih ingat, suatu ketika ayah digandeng kakek di jembatan mbacem. Lalu tibatiba dihadang tentara Belanda. Kakek agak waswas, karena semasa itu untuk membedakan antara petani tulen atau abdi negara adalah pada letak kaki. Bila kaki keras karena sepatu lars, maka sudah pasti tentara Belanda akan menangkapnya. Tapi dugaan itu salah, sang tentara Belanda memanggil ayah lalu tangannya mengulurkan bungkusan yang berisi roti... .

Kakek menghela nafas lega. Anak lelaki satusatunya rupanya menjadi penyebab si tentara Belanda menjadi iba. Lalu mereka meneruskan berjalan. Ke tempat nenek.

Aku tak pernah melihat nenek, ibu kandung ayahku. Ayahku saja hanya mampu mengingat rambutnya yang panjang sedikit brintik, badannya yang lencir putih. "Pandang budhemu, beliau sangat mirip nenekmu." kata ayah. Nenek ulet berdagang pakaian bekas. Iya pakaian bekas, meski bekas, pakaian bekas pada jaman dahulu sudah merupakan barang mewah, karena pada saat itu masih banyak yang menggunakan baju terbuat dari karung goni.

Setiap ayah ke pasar, nenek selalu membelikan aneka jajan pasar. Dan nenek selalu akan marah bila mendapati kakek memberi makan ayah berupa bubur. Kenangan itulah yang sangat diingat ayah tentang nenek.

"Jika kamu ulet dalam bekerja, artinya kamu mewarisi sifat nenekmu."
"Ingatlah, ojo sok ngelirwa'ake gawean, simbah kakung juga sering berkata seperti itu." lanjut pesan ayah padaku. Artinya jangan pernah menganggap remeh pekerjaanmu meskipun itu mungkin terkesan sepele. Kerjakanlah sungguh-sungguh. Meski nenek hanya berdagang kain rombeng dan kakek adalah juru tulis di Kraton tapi mereka menekuni pekerjaan dengan sungguh. Sebelum akhirnya kakek menjadi polisi intel dan mengabdi pada negara.

- to be continued -

komporminyak
15-10-2008, 05:13 PM
Pada suatu ketika ayah dititipkan di rumah pak liknya.
Keadaan sedang paceklik saat itu.
Ketika sedang asik bermain. Tibatiba pak lik memanggil ayah, lalu di suruh berdiri di bawah terik matahari. Ayah masih sangat kecil waktu itu, masih duduk di bangku SR (Sekolah Rakyat, atau setara dengan Sekolah Dasar).

Lama ayah disuruh berdiri, dia hanya melihat mata sang pak lik menentang matahari yang sedang garanggarangnya. Dan dilihatnya mulut pak lik komat kamit seperti mengucapkan sesuatu.

ternyata sang pak lik sedang menatap pilu kehidupan ayah yang tak menentu, hidup di masa sulit dan hanya mengecap kasih sayang dari orangorang yang dititipinya. Pak lik bersumpah, "Tuhan, apapun yang aku miliki, aku akan berikan pada anak itu. Agar dia bisa hidup panjang, tidak seperti adikadiknya yang entah di mana. Meskipun saat ini aku juga tak punya apaapa"

Dan ayah masih ingat, ada air mata yang meleleh keluar dari pelupuk mata Pak Liknya.

Hmmmm Pak Lik sudah lama tiada menyusul nenek dan kakek.
Tapi aku masih ingat betul sosok beliau, juga cerita ayah tentang ini.

Ayah juga punya citacita. Tapi kakek melarang kuliah ke Bandung ambil Teknik. Lalu ayah pengin masuk AU tapi lagilagi kakek tidak mengijinkannya. Akhirnya ayah kuliah di Jogja. Dengan nada ketidaksukaan di bangku kuliah, tapi dia menjalaninya meski harus bertahuntahun lamanya. Gilak selama 11 tahun! Tapi angka fantastis itu memang harus dijalani karena bejibunnya kegiatan organinsasi kampus yang diikuti sampe ke luar Jawa hanya untuk rapat sanasini. Main drum. Ikut jadi tokoh pemain wayang orang. Lalu jadi sales untuk menyambung kuliah. Sempat terhenti kuliah karena gonjangganjingnya jaman G30S/PKI. Sempat pula di penjara semalam hanya garagara membawa diktat kuliah yang ada gambar palu arit karena buku terbitan Russia.
Lalu ada atasan kepolisian mengenali anak kawannya di dalam penjara,
"Loh ngapain kamu di sini?"
Lalu ayah menjelaskan duduk perkaranya. Akhirnya dia pun dibebaskan.

Ohya semasa PKI ada cerita sendu..

- to be continued -

luciyoung07
16-10-2008, 05:52 PM
"Ingatlah, ojo sok ngelirwa'ake gawean, simbah kakung juga sering berkata seperti itu." lanjut pesan ayah padaku. Artinya jangan pernah menganggap remeh pekerjaanmu meskipun itu mungkin terkesan sepele. Kerjakanlah sungguh-sungguh.
Nasehatnya menyejukan hati dan memberi semangat...coz gue udh ngalamin sendiri...mengerjakan hal2 kecil dgn sungguh2 (walopun diremehin en diketawain org), dan pada akhirnya mendapatkan berkahnya, diberi tanggung jawab yg lbh besar...keteguhan hati gak pernah sia2...dan hanya waktu yg bisa menjawab...kesabaran emang gak berbatas :)

komporminyak
17-10-2008, 07:47 AM
alo luciyoung07,
met kenal... makasih udah mampir.

Iya. Bersyukur saya dapat dekat dengan keluarga, ayah dan ibu.
Banyak sekali nasehat atau ajaran tingkah laku yang saya dapatkan dari mereka.
Tapi saya juga menyadari, bahwa mereka just a human being.
Kadang mereka juga salah... toh menjadi orang tua itu tidak gampang.
Mereka juga masih terus belajar...

oh ya nanti aku copas lagi kelanjutan cerita di atas :)

komporminyak
17-10-2008, 01:37 PM
Ini tulisan yang dulu pernah kubuat dan mangsup dalam salah satu Antologi
Kata ganti orang pertama, menunjuk pada ayah. Pengalaman beliau semasa masih sangat muda.
Oh ya semua cerita di sini adalah based on true story.



Kematian Orang PKI

Bapak Rahajo tertangkap Senin lalu,
kaki kanannya bengkak sebesar buah kelapa
Kabarnya ia salah satu orang besar pengikut,
:sama rata, sama bahagia
Jika Ayah memergokiku di sini,
Pasti aku akan digampar dan disuruh pulang
“Mulih kono! Ngopo ndelokdelok koyo ngene!”
Barangkali seperti itu yang keluar dari bibir kerasnya.

Jempol tangan diikat di belakang dan talinya menjerat leher
Bersama yang lainnya dinaikkan ke truk seperti kambing
Mungkin kambing lebih martabat cara menaikkannya
Aku mengenalnya. Kami satu sumur di kampung.

Ia memanggilku, Ya.. jelasjelas ia memanggilku
“dik, tulung katakan pada ibu, dia boleh menjual meja kursi dan almari untuk makan adikadik”
“nggih Pak”
Ada semburat kelegaan di antara guratan wajahnya,
Padahal dinding kalbuku menjawab dengan tercabik dan miris.
Meski di sana kusisakan sebuah senyum dan harapan.
Sebenarnya aku tahu:
:istri Pak raharjo juga telah ditangkap dua hari yang lalu
Tanpa sepengetahuan Pak Rahajo
Dua anakanaknya diungsikan ke batas kota provinsi

Raungan orangorang berseragam itu menggelegar memecah desau angin
“sebentar lagi mereka akan diangkut!!!”
Diangkut? Ya.. diangkut tapi bukan untuk dipindahkan semata seperti buah catur
Posisi siap seperti sapi yang hendak dijagal!

Lehernya Pak Raharjo disuruh menunduk hingga
ujung bibirnya yang kering mencium ujung besi jembatan tua itu.
DOR!!!
Pangkal tengkuk belakang lehernya ditembak!
Ia tewas seketika meski raganya masih berdiri terkulai di pinggir jembatan
Jemari itu sudah tak lagi mengepal
Kakinya dicengkeram dan dijungkalkan ke kali
Aku masih sempat melihat tubuh tetanggaku melayang bebas seperti halnya roh jiwanya

Empat ratus dua puluh lima detik berlalu
Jasad Pak raharjo ternyata semampir pepohonan di pinggir kali
Aku turun ke bawah, beberapa kali menyodokkan tubuhnya dengan batang bambu
Mayat itu akhirnya berenang mencari kebebasannya sendiri
Hanyut ikuti aliran sungai yang tak lagi berwarna jernih
Kelam, seperti warna kehidupan negara kita.
Kala itu bangkai manusia bergelimpangan di manamana,
Ibarat nyamuk yang terkena obat semprot pembasmi serangga.

Tiga puluh delapan tahun telah bergulir,
Sementara kebobrokan tak kunjung menggantungkan jubahnya
Lalu, bagaimana akan benahi ibu pertiwi kita ini?

Solo, 01,10.2003 08:36:33 pm


Catatan:
sama rata, sama bahagia adalah salah satu slogan yang dipropagandakan PKI
untuk menghasut rakyat kebanyakan dan membuat resah kaum borjouis serta kapitalis.

Jun-ah
18-10-2008, 01:37 AM
rasanya cerita disini lebih homy daripada di diary lu....

bahasanya nyaman banget.....
apa karena budaya Jogja kita yang sama..?? atau mungkin karena kita memang berbeda...

BatmanFans
19-10-2008, 08:02 AM
rasanya cerita disini lebih homy daripada di diary lu....

bahasanya nyaman banget.....
apa karena budaya Jogja kita yang sama..?? atau mungkin karena kita memang berbeda...

hah juon suka buka2 diary heheheheheh::hihi::

Jun-ah
19-10-2008, 08:52 AM
hah juon suka buka2 diary heheheheheh::hihi::

Huhuuhu.....
lu kudu berkunjung ke diary gw...::hihi::
*iklan mode ON

komporminyak
20-10-2008, 08:12 AM
rasanya cerita disini lebih homy daripada di diary lu....

bahasanya nyaman banget.....
apa karena budaya Jogja kita yang sama..?? atau mungkin karena kita memang berbeda...

heh! emang Juon berkebudayaan Jogja?
huhuhuhu bukannya dirimu orang sumatra tah? ::hihi::
eniw, thx atas taking' picturenya cafetaria kampus kita :)
jadi tahu viewnya kampus saat ini coz dulu ga ada.

@BatmanFans,
met kenal yak :)

jojox
20-10-2008, 10:57 AM
woooh...nderek langkung....
ceritanya based on true story yho...sip2...merinding jeung.!
vivid bgt! nice2...

komporminyak
20-10-2008, 11:06 AM
woooh...nderek langkung....
ceritanya based on true story yho...sip2...merinding jeung.!
vivid bgt! nice2...

Yup all based on true story. :)
makasih atas perkunjunganna, met kenal yak.
weh napa mesti merinding bro?

ntar yak, gw copas lagi.
sebenarnya pengen nulis baru, dah ada ide di otak.
tapi feel nya untuk nulis belum dapat :)

komporminyak
20-10-2008, 04:08 PM
Kali ini tentang pertemanan.... .


Sebuah pesan singkat datang siang ini.
Segera kuraih ponsel yang ada di atas meja kerjaku.
Kulihat nama kawan berbicara semalam tertera di layar kaca ponselku

31.10.07 13:30
“Wahai langit hujanlah hari ini, prnh suatu hari pergi ke suatu tmpt ma x,
saat itu sedang gerimis dia bilang gini ‘saat2 sprti ini gak akan bs dilupain”

Kubalas pesan singkatmu... .
Jangan hujan.. gw merana kalo pulang gawe khujanan. Tambah macet.. kdg air dah naik & angkot suka mogok. Beside that takut sakit. Sori, gw realistis aja.

Dan betul, sore itu terjebak dalam hujan deras. Ketika hendak menurunkan penumpang dan tibatiba mesin mati, mobil koasi berwarna merah itu mogok. Sementara hujan semakin deras mengguyur. 10 menitan barangkali kami terperangkat dalam diam di koasi.
Hingga hujan agak reda, tapi air masih basah menuruni bumi. Kami keluar satu persatu memasuki koasi yang berbeda.
Fantastis, dari kantor pukul 16.48 dan tiba sampai rumah pukul 21.00

31.10.07 17:55
I’m sorry about my rain

Jika manusia memiliki ingatan pada kekasih pada saat medio hujan, namun justru aku memiliki ikatan˛ dalam ingatan tentang pertemanan.
Aku masih mengingat medio ketika hujan.

Waktu berlalu saat itu pukul 18.32, meski dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara air dari gigir genting yang jatuh ke tanah. Semuanya menjadi komplit mana kala listrik pun mati. Aku sampai duduk terdiam bersimpuh pada sang waktu di lantai.

“It’s just a moment, right? Hanya sebuah gathering bersama kawan. Bukan sesuatu hal yang prinsipil untuk diwujudkan. Apakah tak pantas? Terlalu mulukkah keinginan ini?

---- to be continued

komporminyak
20-10-2008, 04:24 PM
Hari itu ada acara pelepasan di fakultas. Melelahkan. Karena acara dilaksanakan seusai kami melakukan gladi bersih. Salah satu kawan karibku yang berasal dari Lampung tak bisa hadir, karena ia agak sakit. Lalu Sabtu kami wisuda. Biasanya usai wisuda ada acara foto-foto. Tapi kami sekeluarga langsung pulang, karena ayah tampak lelah sekali. HP ku matikan karena sempat card error. Saat itu rupanya teman-teman (2 temanku: Nida dari Lampung dan Tuana dari Bali) menungguku untuk berfoto bersama. Sayang aku tak bisa ikut. Thanks God, ayah bisa hadir di acara wisudaku. Karena jauh-jauh hari sebelumnya beliau berencana untuk tidak mendatangi acara wisuda itu. Lucu kedengarannya karena kalau dipikir-pikir jarak Solo-Yogya adalah dekat. Namun itulah adanya. Dan semua itu sempat mengganggu pikiranku. Tapi sekali lagi Thx God ayah bisa hadir akhirnya.

Sabtu pukul 15.00 ortu pulang ke Solo, sementara aku masih tinggal di Yogya. Lelah.

Pukul 18.00 pintu rumahku diketok, teman˛ datang ke rumah. Tuana membawa toga dan jubah untuk minta tolong dikembalikan hari Senin. Karena Senin pagi˛ dia sudah pulang ke Bali, sementara Nida memang sengaja ingin silaturahmi dengan ortuku. Karena mereka belum sempat bertemu. Sayang sekali, padahal usai dari Wisuda dia langsung mandi dan ke rumah kostnya Tuana sekitar pukul 16.00. Tapi niat ke rumahku tertunda oleh karena Tuana masih ke studio foto. Di sana malah bertemu teman kami yang udah kerja yang kebetulan singgah di kota Yk. Tzen.

Kami berempat, lalu ngobrol di rumahku. Sebuah atmosfer yang menyenangkan saat itu. Lalu kami merencanakan Minggu sore pukul 18.00 jalan˛ ke kampus. For the last time bersama teman˛ dalam suasana kampus.

---- to be continued

komporminyak
20-10-2008, 04:25 PM
Langsung aku kontak teman˛ by sms. (kebetulan aku yang punya data teman˛ sekampus). Banyak yang protes kok dadakan. Aku juga berpikir, sayang waktunya malam, karena lokasi kampusku agak nun jauh terpinggirkan. Bis jika senja makin jarang. Tapi hanya waktu itu yang "terpaksa” kami ambil. Karena Tuana hendak berlibur ke Borobudur bersama keluarganya.

Waktu terus berjalan. Mendung pun mulai berarak˛an. Rasa cemas mulai melingkupi. Duh… . aku mulai mengusir cemasku dengan bersiap hendak membayar iuran satpam ke bu RT yang tinggal di sebelah rumah. Waktu itu pukul 17.50. Aku menuliskan memo di teras depan rumah.
“Lagi ke t4 bu Rt bayar satpam. Tungguin.”

Selesai menuliskan memo itu, TIBA-TIBA…. BRESSS!!!! Hujan turun sangat lebat. Aku hanya bisa menarik nafas dengan mata terpejam. “Tuhan, jadikan pertemuan ini jadi… semoga inginku ini sesuai dengan kehendakMu.”

Mau tak mau aku melangkah masuk ke dalam rumah. Dalam keheningan ku baca ulang sms tadi siang, hingga datang sms˛ berikutnya dari temanku.

Waktu berlalu saat itu pukul 18.32, meski dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara air dari gigir genting yang jatuh ke tanah. Semuanya menjadi komplit mana kala listrik pun mati. Aku sampai duduk terdiam bersimpuh pada sang waktu di lantai.

“It’s just a moment, right? Hanya sebuah gathering bersama kawan. Bukan sesuatu hal yang prinsipil untuk diwujudkan. Apakah tak pantas? Terlalu mulukkah keinginan ini?"

Tak pernah mudah sepertinya. Jika pada kawan yang lain begitu mudahnya menciptakan pertemuan, tapi tidak buatku. Pada masa itu harus selalu dengan perjuangan, perjuangan yang mungkin dianggap remeh oleh orangorang. Mumpung masih bisa berkumpul, mumpung belum pulang ke pulau masingmasing. Karena dalam satu dasawarsa belum tentu akan tercipta nuansa yang sama.

----- to be continued

komporminyak
27-10-2008, 10:53 AM
Aku masih ingat betul isi sms dari Nida:
28.11.20xx 18:08 Ujan gede bgt ni, angin lg. Ga jd aja kali ya. Tp Nida ngikut baiknya aja.. tungguin kbr selanjutnya.

Juga sms Nida yang harusnya dikirim ke Tuana tapi sempat salah kirim ke nomorku:
28.11.20xx 18:19 Tuana, Nida ga jd ksana ya. Ujan gede. Nida di pinggir gang ga bs pulang. Masuk warnet de jdnya. Nunggu terang.

Ada perasaan feeling quilty pada Nida yang menyelinap. Duh.. tuw anak padahal gi sakit abis kehujanan dan kecapekan kemarin. Tubuhnya aja sampe habis. Kurus banget. Dari berat badan 50 susut jadi 39 kg. Gilak banget kan? Mungkin karena abis bulan puasa kemarin. Dunno. Tapi ada hal lain. Dia ada sakit. Sakit tumor. Ada 3. Meski tumor didefinisikan sebagai kanker jinak. Tapi tetep saja aku risau. Apalagi ketahuan di bulan Mei yang kemudian musti minum obat setiap hari selama berbulan-bulan. Sakitnya tidak menunjukkan perkembangan yang bagus. Tumornya sangat sedikit sekali berkurangnya. Gak tahu neh, aku sayang banget ama dia, apalagi dia paling gak neko-neko di antara kami. Dia paling ga banyak protes ataupun ngeluh. Sekarang wajahnya pucat gak seger. Bener-bener aku merasa bersalah, apalagi membayangkan dia kedinginan di tepian toko. Lalu dia terpaksa masuk warnet agak kehujanan dalam kondisi batuk-batuk. Kalau saja dia tadi gak usah berangkat, tentu dia gak akan kedinginan… hmmm speechless.

Hmmmm belum tentu kami akan bertemu dalam kondisi bersama-sama. Besok satu persatu akan pulang, Tuana Senin pagi ke Bali, Nida Senin sore ke Sumatera, lalu Indra, akan pulang ke Atambua, Timor. Apakah salah jika aku ingin membuat sebuah pertemuan bagi mereka? Aji mumpung. Mumpung masih bisa ketemu. Bolehkah Tuhan? Apakah inginku ini terlalu selfish? Karena sebenarnya ada hal yang lebih penting? Spt kesehatan misalnya. Tapi aku masih memikirkan peny yang masih di pinggir jalan. Duhh…. Aku sampai tak menyadari ada bulir air yang hangat menetes begitu deras. Aku berdoa, aku meminta Tuhan untuk menjadikan ini jadi. Entah bagaimana caraNYA, tapi aku hanya mencoba belajar mengimani, bahwa ini akan DIA selesaikan with HIS way!!


---------------- to be continued

komporminyak
27-10-2008, 10:54 AM
Tzen sms aku, menanyakan kelanjutannya. Langsung ku telpon dia, ternyata dia ada di sekitar kampusku. Itu berarti sudah dekat dengan rumahku.

Malam itu hujan belum juga reda, listrik pun belum menyala. Tzen, kawan seangkatanku yang sudah bekerja datang dengan membawa mobil fasilitas kantornya. Tze, masih Tzen yang dulu ku kenal. Akhirnya satu per satu menjemput teman kami. First Nida di daerah Gejayan, sepanjang jalan aku membalas sms teman˛ yg lain dengan HP Tzen. Mumpung pulsa dia, adalah pulsa fasilitas dari opisnya. Di jalan aku sempat sharing dengan dia. Bahkan dia tanya kenapa Nida badannya sampai habis begitu. Aku masih ingat, aku memayungi Nida untuk masuk ke mobil itu. Hiks.. speechless. Lalu menjemput Indra ke kostnya yang lumayan sempit untuk jalan masuk mobil. Blah! Mana gelap gulita lagi! Kami harus turun untuk memberi komando layaknya seperti tukang parkir. Lalu kami mencoba ke kampus. Siapa tahu ada teman kami yang nungguin di sana. Karena tadi janjiannya di depan hall kampus. Secara umum kampus gelap. Hanya beberapa teras yang lampu pijarnya menyala karena bantuan arus listrik dari generator. Tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Hanya tampak di parkiran banyak motor karena di kampus kami, PSM sedang mengadakan konser.

Kami lalu ke kost Tuana. Di sana kami memaksimalkan waktu yang ada dgn ngobrol, tertawa, canda dsb. Aku sempat melirik Nida yang makin pucat kedinginan, lalu kami pun membuat teh panas sambil maem kue kering yang sengaja aku bawa dari rumah. Nice.. . Duh lagi˛ aku speechless untuk cerita karena semua peristiwa itu begitu dalam menggurat di hati, serupa lukisan tanpa pigura. Kost Tuana ada jam malam. Hanya sampai 21.00. padahal kami tiba sudah larut. Mungkin sekitar pukul 19.45. Aku lupa. Thx God, ibu kostnya mau memperpanjang jam tamu hingga pukul 21.30.


----- to be continued

komporminyak
27-10-2008, 11:07 AM
Waktu berlalu. Kami pun pamit. Kalau kepulangan Tuana 2 bulan yg dulu aku bisa tidak memperlihatkan air mata, meski orang˛ begitu menangis melepaskannya, tapi kali ini… kali ini menjadi lain. Mungkin karena malam. Mungkin karena sebelumnya Nida begitu erat memeluk Tuana hingga tangis merebak. Indra pun nangis. Aku masih belum menitikkan air mata. Tapi aku mengingat satu hal. Ketika berpamitan dengan ibunya Tuana. Waktu itu aku hanya salaman. Lalu teman˛ yang lain pada sun pipi kiri dan kanan.
Aku pun berseloroh, “Loh bu, saya kok ga dicium?”
Kami pun mengulangnya kembali. Tapi ada rasa yang bergolak di sini. Dia tidak saja menciumku, tapi juga memelukku erat. Aku ingat betul teman˛ yg lain tidak ada yang dipeluk. Kami bahkan berpelukan lama. Padahal aku bertemu dengan ibunya Tuana baru kali ini. Berpelukan kala pisah dengan teman karib saja sudah bikin sedih, apalagi ibundanya ikut memelukku erat.

Pada Tuana aku belajar tentang makna persahabatan, bukan sekedar kata, tapi dalam segala hal. Meski kondisi ditimpa susah, tapi masih ingat untuk membantu kawan. Aku pun belajar dengan kata “janji”.

Pada Nida aku belajar tentang kesabaran, diam dan tenang dalam segala kesesakan. Tanpa mengeluh.

Pada Indra aku belajar tentang sebuah arti keyakinan. Tentang karunia dan belajar bersyukur oleh kasih karunia Tuhan.

Sepulang dari kost Tuana kami mengantar Nida dahulu. Perjalanan begitu lambat, di mana alunan audio dari mobil Tzen sangat mendukung. Really speechless Aku masih ingat kata˛ Tzen, "Kalian jangan menangis oleh karena airmata kekalahan. Karena itu artinya kamu sudah mengecewakan sahabat˛ kamu."


-----------------------------------------------------::EHDn::

gambarceki
08-11-2008, 10:47 AM
ga nyangka yu kompor pinter nulis...