Juan Antonio
15-09-2000, 02:07 PM
Hi, pakabra? Pengin nyapa temen2 lama V, rose, Ping, Benz, ai', Luci, ski, Avi, cB, buandel, tora, Ice, bule, hik, bvl, ann, sapalagi yah? Dan temen2 baru yg banyak sekali, nih ada crita lagi. Salam kompak wis! Kali ini stok kosong so jangan pesen mak & min yah.....sorry banget. :D :D :D :D
Have a nice weekend!
T e m a n
by : anonim
Teman adalah hadiah dari Yang Di Atas buat kita. Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.
Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.
Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, marah, dll. Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka.
Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKANlah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.
Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka "takut air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll.
It's a defense mechanism. Itulah cara mereka mempertahankan diri.
Mereka tidak akan bilang : "Aku tidak bisa menari"
Mereka akan bilang : "Menari itu tidak menarik."
Mereka tidak akan bilang : "Aku membutuhkan kamu"
Mereka akan bilang : "Tidak ada yang cocok denganku."
Mereka tidak akan bilang : "Aku kesepian"
Mereka akan bilang : "Teman-temanku sudah lulus semua"
Mereka tidak akan bilang : "Aku butuh diterima"
Mereka akan bilang : "Aku ini buruk, siapa yang bakal tahan denganku.."
Mereka tidak akan bilang : "Aku ingin didengarkan"
Mereka akan bilang : "Kisah hidupku membosankan.."
Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa-dengan-jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.
[diedit oleh Juan Antonio, 15-09-2000, 06:58 PM]
Have a nice weekend!
T e m a n
by : anonim
Teman adalah hadiah dari Yang Di Atas buat kita. Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.
Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.
Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, marah, dll. Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka.
Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKANlah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.
Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka "takut air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll.
It's a defense mechanism. Itulah cara mereka mempertahankan diri.
Mereka tidak akan bilang : "Aku tidak bisa menari"
Mereka akan bilang : "Menari itu tidak menarik."
Mereka tidak akan bilang : "Aku membutuhkan kamu"
Mereka akan bilang : "Tidak ada yang cocok denganku."
Mereka tidak akan bilang : "Aku kesepian"
Mereka akan bilang : "Teman-temanku sudah lulus semua"
Mereka tidak akan bilang : "Aku butuh diterima"
Mereka akan bilang : "Aku ini buruk, siapa yang bakal tahan denganku.."
Mereka tidak akan bilang : "Aku ingin didengarkan"
Mereka akan bilang : "Kisah hidupku membosankan.."
Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa-dengan-jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.
[diedit oleh Juan Antonio, 15-09-2000, 06:58 PM]