[bukan_pujangga]
06-04-2000, 06:26 PM
KETIKA PUJANGGA TOLOL JATUH CINTA PADA SANG DEWI
Betapa cantik wajahnya di bawah sinar senja yang menyelinap dari balik jendela kaca kantor nan pengap..
kutebak-tebak namanya pastilah dewi
dan kuberanikan diri ini menyapa barang satu-dua kata, walau ada juga rasa ragu
"mungkinkah dewi secantik dia mau menanggapi pujangga tolol seperti hamba"
oh, Tuhan betapa ingin ku ingin kumenjerit saat dia sebut namanya:"dewi"
memang,adinda sayang, kamu cantik seperti dewi...
oh, Tuhan andai ini mimpi pastilah saya sudah terjatuh, betapa cantik hatinya mau menanggapi saya yang tolol ini..
oh, Tuhan lihatlah pipinya yang kemerahan bila ia malu, dan matanya nan bersinar-sinar bila ia tertawa...
oh, Tuhan berapakah waktu yang dibutuhkan untuk mengklonning gadis secantik dia...
lihatlah rambutnya yang kemerahan..di bawah sinar mentari yang menyinari cerah aura wajahnya..
mungkinkah saya bermimpi, sampai saya ingat pertemuan saya dengan sang dewi setahun lalu..
oh adindaku, dewi...masihkah mungkin adinda mau mengenal saya..?
pujangga tolol yang berharap memeluk cinta seorang dewi
pujangga tolol yang bermimpi bisa membahagiakan seorang dewi
seorang dewi seperti dirimu.....
maafkan saya sebab saya hanya orang tolol
maafkan saya karena saya hanya seorang pengecut
maafkan saya, saya hanyalah pecinta yang gagal
sayalah sisa-sisa dari para pendekar cinta yang tak punya nyali untuk menyanyikan kidung cinta untuk sang dewi
sayalah sampah dari ampas-ampas pengais cinta
oh, dewi nan tiada cacat
sungguh pada dirimu semua mimpiku terukir...
sungguh pada dirimu aku telah menyerahkan seluruh cintaku..
namun apa dayaku aku hanyalah seorang pengecut, pecundang cinta yang tak bernyali tuk mencoba mengutarakan ketidak mampuanku..
sadarkah engkau, wahai dewiku sakitnya mengharapkan mencintai seseorang yang tak mungkin saya bahagiakan...
adinda sayang pantas mendapatkan seorang ksatria sejati
untuk semua kecantikanmu...
untuk semua keindahanmu...
untuk semua ketulusanmu..
untuk semua kesempurnaanmu..
untuk dewiku.....
Betapa cantik wajahnya di bawah sinar senja yang menyelinap dari balik jendela kaca kantor nan pengap..
kutebak-tebak namanya pastilah dewi
dan kuberanikan diri ini menyapa barang satu-dua kata, walau ada juga rasa ragu
"mungkinkah dewi secantik dia mau menanggapi pujangga tolol seperti hamba"
oh, Tuhan betapa ingin ku ingin kumenjerit saat dia sebut namanya:"dewi"
memang,adinda sayang, kamu cantik seperti dewi...
oh, Tuhan andai ini mimpi pastilah saya sudah terjatuh, betapa cantik hatinya mau menanggapi saya yang tolol ini..
oh, Tuhan lihatlah pipinya yang kemerahan bila ia malu, dan matanya nan bersinar-sinar bila ia tertawa...
oh, Tuhan berapakah waktu yang dibutuhkan untuk mengklonning gadis secantik dia...
lihatlah rambutnya yang kemerahan..di bawah sinar mentari yang menyinari cerah aura wajahnya..
mungkinkah saya bermimpi, sampai saya ingat pertemuan saya dengan sang dewi setahun lalu..
oh adindaku, dewi...masihkah mungkin adinda mau mengenal saya..?
pujangga tolol yang berharap memeluk cinta seorang dewi
pujangga tolol yang bermimpi bisa membahagiakan seorang dewi
seorang dewi seperti dirimu.....
maafkan saya sebab saya hanya orang tolol
maafkan saya karena saya hanya seorang pengecut
maafkan saya, saya hanyalah pecinta yang gagal
sayalah sisa-sisa dari para pendekar cinta yang tak punya nyali untuk menyanyikan kidung cinta untuk sang dewi
sayalah sampah dari ampas-ampas pengais cinta
oh, dewi nan tiada cacat
sungguh pada dirimu semua mimpiku terukir...
sungguh pada dirimu aku telah menyerahkan seluruh cintaku..
namun apa dayaku aku hanyalah seorang pengecut, pecundang cinta yang tak bernyali tuk mencoba mengutarakan ketidak mampuanku..
sadarkah engkau, wahai dewiku sakitnya mengharapkan mencintai seseorang yang tak mungkin saya bahagiakan...
adinda sayang pantas mendapatkan seorang ksatria sejati
untuk semua kecantikanmu...
untuk semua keindahanmu...
untuk semua ketulusanmu..
untuk semua kesempurnaanmu..
untuk dewiku.....