PDA

View Full Version : Seputar September 1965


Halaman : [1] 2 3 4

Sapta Nugraha
06-02-2001, 10:03 PM
ini merupakan salah satu sejarah hitam dalam urutan sejarah Indonesia tercinta. Gue ngga ada maksud apa - apa dengan mosting mengenai Tragedi September 1965 jadi mohon jangan disalah artikan ... :)

mohon untuk tidak memakai topik ini sebagai propaganda politik dan lain sebagainya karena dalam topik ini gue hanya berbagi cerita mengenai apa yang gue ketahui dari petikan sejarah September 1965.

Kalau ada kesalahan dalam penyajian (udah kayak nulis buku :D ) mohon dimaafkan dan mohon dimaklumi .. :)

:) :)

rojali
06-02-2001, 10:07 PM
ngunyah kacang mede en minum teh, sambil nungguin sapta nyang mo berbagai cerita:D

akuaja
06-02-2001, 10:13 PM
elho....belum mulai toch ceritanya :o :o

Sapta Nugraha
06-02-2001, 10:14 PM
kesaksian para pelaku gerakan september 65 ini merupakan hal yang penting bagi jalannya proses rekonstruksi sejarah Orde Baru. Sayangnya, sangatlah disayangkan ada yang tercecer dari kesaksian para tokoh kunci gerakan tersebut hingga terjadilah missing link yang masih misterius sampai dengan sekarang.

Akibat yang paling fatal adalah pertanyaan yang paling mendasar dan legendaris sampai dengan saat ini yaitu : siapakah dalang dan otak sesungguhnya dari gerakan 30 September tersebut ? ;(

Ketidakjelasan nasib para tokoh PKI dan juga para pelaku langsung G 30 S, ikut menambah rumit konspirasi yang terjadi. Beberapa dari tokoh inti sudahlah jelas dan terang nasibnya dengan mengalami eksekusi secara resmi di depan regu tembak seperti eks Kol. Untung, eks Brigjen Sopeardjo, Sudisman yang anggota Politbiro PKI dan Dipa Nusantara Aidit yang menjadi Ketua PKI.

Sementara itu Nyoto tidak diketahui sampai sekarang rimbanya. Alkisah tanggal 11 Maret 1966 sepulangnya dari sidang kabinet (Nyoto adalah salah satu mentri di kabinet soekarno), ia diculik oleh sekelompok orang yang tidak diketahui identitasnya dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di Jl. Tirtayasa. Ada beberapa tapol yang pernah melihatnya di Rutan Salemba tapi setelah itu mereka tidak melihat lagi karena kemudian terhembus kabar burung bahwa Nyoto sudah dieksekusi di salah satu kepulauan Seribu di Teluk Jakarta.

Yang menjadi suatu fenomena menarik adalah perlakuan ekstra judistrial bagi para elite politik PKI. Jika ditelaah dan diperhatikan, mereka tidak pernah diadili secara hukum dan menjalani tahap persidangan.

:) :)

bersambung ..

Sapta Nugraha
06-02-2001, 10:29 PM
sambungan ..

Letkol Untung bin Syamsuri, tokoh kunci Gerakan September 1965 adalah salah satu lulusan terbaik Akmil. Pada masa pendidikan ia bersaing dengan Benny Moerdani, perwira muda yang sangat menonjol dalam lingkup RPKAD (kelak Benny Moerdani menjadi tokoh legendaris dalam Misteri Tragedi Tanjung Priok). Mereka berdua sama-sama bertugas dalam operasi perebutan Irian Barat dan Untung merupakan salah satu anak buah Soeharto yang dipercaya menjadi Panglima Mandala.

Sebelum ditarik ke Resimen Cakrabirawa, Untung pernah menjadi Komandan Batalyon 545/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang. Batalyon ini memiliki kualitas dan tingkat legenda yang setara dengan Yonif Linud 330/Kujang dan Yonif Linud 328/Kujang II. Kelak dalam peristiwa G 30 S ini, Banteng Raiders akan berhadapan dengan pasukan elite RPKAD dibawah komando Sarwo Edhie Wibowo.

Setelah G 30 S meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan menghilang beberapa bulan lamanya sebelum kemudian ia tertangkap secara tidak sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. Ketika tertangkap, ia tidak mengaku bernama Untung. Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G 30 S. Setelah mengalami pemeriksaan di markas CPM Tegal, barulah diketahui bahwa yang bersangkutan bernama Untung.

Setelah melalui sidang Mahmilub yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1969, 4 thn setelah G 30 S mengobarkan pemberontakannya.

Bagi Soeharto, Untung bukanlah orang lain. Hubungan keduanya cukup erat apalagi dulunya Soeharto pernah menjadi atasan Untung di Kodam Diponegoro. Indikasi kedekatan tersebut terlihat pada resepsi pernikahan Untung yang dihadiri oleh Soeharto beserta Ny. Tien Soeharto. Pernikahan tersebut berlangsung di Kebumen beberapa bulan sebelum G 30 S meletus. Kedatangan Komandan pada resepsi pernikahan anak buahnya adalah hal yang jamak, yang tidak jamak adalah tampak ada hal khusus yang mendorong Soeharto dan istrinya hadir pada pernikahan tersebut mengingat jarak Jakarta - Kebumen bukanlah jarak yang dekat belum lagi ditambah pada masa tahun 1965 sarana transportasi sangatlah sulit.

Kembali, suatu misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang, apakah hubungan Soeharto dengan Untung dan kaitannya dengan peristiwa September 1965 ? ;(

:) :)

bersambung..

rojali
06-02-2001, 11:37 PM
hmmm, ngunyah kacang mede en minum teh lage:D

sapta, berat man{:

Sapta Nugraha
07-02-2001, 01:01 AM
sambungan ..

Menyusul terjadinya tragedi September 1965, Latief sempat menjadi buronan beberapa saat. Bersama Untung dan Kapt. Inf. Suradi, mereka melarikan diri ke arah selatan sampai di desa Cipayung, Pasar Rebo, Jakarta. Setelah kelar menamam semua senjatanya di desa Kebon Nanas, Bogor. Latief pada keesokan harinya berusaha menemui Presiden Soekarno melalui Brigjen Soepardjo namun usaha tersebut menemui kegagalan. Karena usaha untuk bertemu gagal, maka Latief bersembunyi di daerah Pejompongan dan setelah dua malam bersembunyi, akhirnya ia tertangkap oleh sepasukan tentara yang menggeledah daerah tersebut. Dengan luka pada kaki kirinya dia masuk penjara sebagai tapol dan mengalami persidangan berkali - kali.

Semula Latief mendapat hukuman mati kemudian Mahkamah Militer Agung pada tahun 1982 mengganti vonisnya menjadi vonis seumur hidup. Setahun kemudian pada tahun 1983, Latief resmi menjadi narapidana politik di LP Cipinang. Latief lalu mengajukan permohonan hukuman seumur hidup diubah menjadi hukuman terbatas. Soeharto melalui salah satu keppresnya akhirnya menambah hukuman Latief selama lima tahun sampai dengan 18 Januari 1988 tapi setelah masa itu lewat, Latief tak kunjung dibebaskan.

Pada 17 Agustus 1994, Omar Dhani mantan Menpangau, Dr. Soebandrio mantan Menlu dan Ketua BPI serta Brigjen Pol. Sutarto serta Kol. Latief mengajukan grasi pada Presiden Soeharto. Semua mendapat grasi kecuali Kol. Latief. Akhirnya pada era pemerintahan Habibie lah baru Latief mendapatkan grasinya.

:) :)

bersambung ..

Sapta Nugraha
07-02-2001, 03:46 AM
sambungan ..

Eks Sersan Mayor Boengkoes adalah salah satu pelaku langsung dari Tragedi September 1965. Dia dibebaskan dari LP Cipinang pada tanggal 25 Maret 1999.

Sebagai Komandan Peleton Kompi C Batalyon Kawal Kehormatan Cakrabirawa yang berada di bawah Kol. Untung, dia mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah atasannya yaitu Lettu Dul Arief.

Ia diperintahkan untuk 'mengambil' Mayjen MT. Haryono, hidup atau mati. Sebelum dilakukan pengambilan tersebut, dia diberi penjelasan oleh atasannya tersebut bahwa ada sekelompok jenderal yang menamakan dirinya "Dewan Jenderal" yang bertujuan meng-coup Presiden Soekarno.

Ketika ditanya apakah Boengkoes mengerti dengan yang dimaksud "Dewan Jenderal", dia menjawab dalam masa G 30 S tersebut ada dua kubu yang tampaknya lagi berkonflik dalam kemiliteran terutama di Angkatan Darat. Yaitu apa yang disebut sebagai "Dewan Jenderal" dan "Dewan Revolusi".

"Dewan Jenderal" adalah yang berniat melakukan coup pada Presiden Soekarno sedangkan "Dewan Revolusi" adalah yang berniat menyelamatkan Presiden Soekarno. Menurut Boengkoes ada ketidaserasian dalam Angkatan Darat tidak hanya menyangkut Soekarno.

Sekitar pukul setengah tiga dini hari semua unsur pasukan yang bertugas untuk melakukan penangkapan dikumpulkan dan diberi briefing akhir. Pasukan dibagi dalam tujuh sasaran dengan dalam tiap titik sasaran terdiri atas satu peleton pasukan. Waktu 'pengambilan' sangat singkat, antara 15 - 20 menit dan tidak dihitung dengan waktu berangkat. Dan sebelum pukul 06.00 harus sudah dibawa ke semua tujuh orang Jenderal tersebut.

Waktu itu Serma Boengkoes mendapat sasaran Mayjen MT. Haryono. Sebelum penangkapan, Serma Boengkoes melakukan observasi dulu. Yang dia ingat adalah waktu itu pintu menghadap ke selatan. Setelah Boengkoes mengetuk pintu dan meminta ijin untuk kedua kalinya, pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Waktu itu keadaan gelap sekali karena oleh pemilik rumah semua lampu dimatikan.

Dalam hati Boengkoes timbul pertentangan antara melanjutkan atau tidak tetapi sebagai seorang tentara dia teringat akan perintah komandannya yang harus dituruti. Akhirnya didobraknyalah pintu tersebut dan ketika itu Boengkoes terkejut karena melihat kelebatan bayangan putih dan secara reflek dia menarik pelatuk dan terjadilah penembakan itu. Gugurlah satu bunga bangsa .. Mayjen MT. Haryono. Menurut pengakuan Boengkoes pada saat dia melakukan penembakan, dia tidak mengetahui bahwa yang ditembaknya adalah Mayjen MT. Haryono.

Pukul 05.30 pagi tanggal 01 Oktober, Boengkoes dan pasukannya sudah tiba di tempat semula. Baru ketima matahari sudah panas dilakukanlah eksekusi terhadap para jenderal yang masih hidup. dan itupun dilakukan dnegan sopan dengan dipapahnya para jenderal sampai bibir sumur dan baru kemudian ditembak.

:) :)

bersambung ..

tukanggossip
07-02-2001, 09:46 AM
sadiz man....btw, konon Yani en Nasution itu berseberangan tapi kok dua2nya bisa berada dalam satu kubu Dewan Jenderal lantas diculik ?...ehmmmmm..

rojaly matey, how's it hanging dude ?...:)

joke
07-02-2001, 10:33 AM
nyimak sambil nyamik

rojali
07-02-2001, 06:40 PM
u're telling me, mate:D

tukgos, life is really not as simple as what we perceived at uni. sometimes it's unbearable:)

how's it with u, man:D

btw, misterius seputar 65 emang bikin geregetan. ada nyang cerita (bekas orang kuat kambtib), bahwa lettu tendean mustinye nggak usah jadi korban. tapi entah kenapa pengawal nasution (sularso bekas pangdam brawijaya), tiga hari sebelon hari h, diganti tendean. jadilah lettu tendean korban tak bersalah. tak tau papa, korban konspirasi:)

banyak misteri seputar orang nyang kebetulan jadi pengawal, atawa punya hubungan khusus ma tokoh tertentu masa pra en paska 65, kemudian jaman orba jadi tokoh terkenal en ketiban limpahan rejeki luar biasa:)

mereka pasti punya banyak cerita nyang kalo dirangkai bisa jadi fakta menarik tuk rangkai kejadian sebenernye:o

jamal
07-02-2001, 07:01 PM
wah....
waktu ituh daku belon lair sich..
jadi gak tau kejadian aslinya :D

ayoklah
07-02-2001, 09:47 PM
Originally posted by rojali
hmmm, ngunyah kacang mede en minum teh lage:D


Nyeruput Kopi susu sambil nyomot kacang medenya rojali...
bagi ya bang... :D

weeehh... t'rus... t'russ...???

rojali
07-02-2001, 10:41 PM
he,he,he, ayoklah:D

TarzanBoy
07-02-2001, 11:54 PM
duduk sambil makan kambing guling :D

yak kawan sapta silakan lanjutkan ceritanya :D

akuaja
08-02-2001, 12:06 AM
hahhh ;0 ;0 tarzan mangsih online ;(
besuk kagak ngantor yach...:D ::devil:: :D

Sapta Nugraha
08-02-2001, 12:24 AM
lagi nyiapin draft terusan cerita .. ::bentar2: ,terheran-heran melihat sohib yang katanya pamitan dari jam 23.17 tapi kok jam 23.54 misik online .. ::hhh::

Yaaaakk cerita akan saya lanjutken ... :)

:D :D

akuaja
08-02-2001, 12:37 AM
elho....belom dilanjutken toch ;(....:D ::devil:: :D

Sapta Nugraha
08-02-2001, 01:18 AM
naaahh .. duduk yang rapi, ta' lanjutken yaa ceritanya .. :D.

"Bang jalee, cuba itu kacang mede nya bagi dikit buat sayah .. ::devil::"

"Hmmm .. ::bentar2: .. sampai mana yaa tadi .. ;( .. "

sambungan ..

Menurut pengakuan Boengkoes tidaklah benar kalau ada pesta dan nyanyi-nyanyi seperti yang ditampakkan pada film G 30 S tersebut. Suasana saat itu benar-benar sepi. Boengkoes mengatakan bahwa pada saat itu hanya terdengar tiga suara (yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang di telinganya jika mengingat kejadian tersebut), yaitu suara desiran angin di pepohonan, suara tangis bayi dan suara ayam berkokok **iiih .. gue kok merinding yaa .. ** . Semua orang yang ada disitu terdiam dan tentara pun seperti robot bahkan air putih pun terasa pahit.

Boengkoes mengatakan bahwa dia benar-benar merasakan penyesalan yang terdalam dan hatinya hancur begitu mengetahui semuanya .. . Bahkan ketika keluar dari penjara pun terbersit banyak pertanyaan apakah nanti ia mampu hidup layak dan wajar di tengah-tengah masyarakat.

Sebagaimana disebut tadi, menurut pengakuan Boengkoes, waktu penembakan atau eksekusi para jenderal adalah jam setengah sembilan pagi.

Malam hari pada tanggal 01 Oktober pasukan Boengkoes dipindah ke suatu tempat, entah ke mana. Yang jelas mereka melintasi lapangan udara. Tanggal 02 Oktober, Boengkoes pulang ke Asrama. Setelah diterima oleh Kepala Asrama, kemudian Boengkoes dibawa ke suatu tempat yang ternyata adalah LP. Cipinang.

:) :)

[b]bersambung ..[/i]

rojali
08-02-2001, 06:04 PM
terbirit-birit bawain kacang mede buat bang sapta nyang mo lanjutin cerita:D

nyerumput teh, pait, sembari ngeliat boengkoesan nyang diumpetin pemoeda tempo doeloe:D:D

tukanggossip
08-02-2001, 07:26 PM
nyamber kacang mede bang jali sambil bawa chocolate milk shake....:D

ayoklah
09-02-2001, 08:10 PM
Originally posted by TarzanBoy
duduk sambil makan kambing guling :D



WAAKKKK... kambing guling....
bagi dooooong.... *terbirit birit ngambil piring, trus ngacak ngacak lemari makan...* :D

yak... bang sapta.. lanjutin lagi dong ceyitanya... :D

rojali
09-02-2001, 09:03 PM
wuah, tamunye makin banyak. ayoklah, bang tukgos, noh kacang medenye diabisin:D

btw, bang sapta mo makan kacang mede ma minum teh dulu pa mo ngelanjutin cerita:D

dah nggak sabar dengerin nasib boengkoesan njang dioempetin pemoeda tempo doeloe:D

Sapta Nugraha
10-02-2001, 12:35 AM
eeeh .. wis podo ngumpul .. sik yoo ta mangan kacang mede dulu karo teh pait .. lhaa kok suasananya tahun 65 sekaleee dengan teh pait .. hihihi .. :D

Sebentar lagi ta' lanjutken ceritanya ... :)

:) :)

Sapta Nugraha
10-02-2001, 12:51 AM
sambungan ..

Sekarang kita bicarakan tentang Sjam Kamaruzzaman, tokoh Peristiwa September 1965 yang paling misterius.

Nama aslinya adalah Sjamsul Qamar Mubaidah. Dia adalah tokoh kunci G 30 S dan orang nomor satu di Biro Khusus PKI yang bertugas membina simpatisan PKI dari kalangan ABRI dan pegawai negeri sipil. Sjam kelahiran Tuban, Jawa Timur, 30 April 1924. Pendidikannya hanya sampai kelas tiga Land & Tunbow School dan Suikerschool, Surabaya. Karena Jepang keburu masuk ke Indonesia, maka Sjam tidak menamatkan sekolahnya. Pada tahun 1943 dia masuk sekolah dagang di Yogyakarta tapi itu pun hanya sampai kelas 2.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Sjam ikut berjuang memanggul senjata dalam pertempuran di Magelang tahun 1945 - 1946, Ambarawa dan Front Mranggen, Semarang. Dia sempat memimpin kompi laskar di Front Semarang Barat. Sekembalinya dari Front tersebut, ia menjadi anggota Pemuda Tani dan menjadi pemimpin Laskar Tani di Yogyakarta.

Tahun 1947, menjelang Agresi Militer Belanda I (Clash I), ia membentuk Serikat Buruh Mobil, sebuah organisasi buruh yang beraliran kiri. Pada akhir 1947, ketika SBKP (Serikat Buruh Kapa dan Pelabuhan) didirikan, Sjam juga menjadi pimpinan, bahkan kemudia menjadi ketua. Ia banyak mempelajari teori Marxis pada periode tersebut.

Tahun 1950, dia menajdi Wakil Ketua SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) Jakarta Raya. Tahun 1951 sampai 1957. dia menjadi staf anggota Dewan Nasional SOBSI. Dan barulah semenjak tahun 1957, dia menjadi pembantu pribadi DN. Aidit. Mulai tahun 1960, Sjam ditetapkan menjadi anggota Departemen Organisasi PKI. Empat tahun setelah itu, dia memperkenalkan bentuk pengorganisasian anggota-anggota PKI yang berasal dari ABRI. Lahirlah apa yang disebut Biro Khusus Sentral pada tahun 1964.

Sjam mengaku bahwa dia ditugaskan oleh Aidit untuk memimpin biro khusus tersebut. Suatu biro yang menangani pekerjaan khusus yaitu pekerjaan yang tidak dapa dilakukan melalui aparat-aparat terbuka yang lain, terutama di bidang militer dan bidang lainnya yang harus dikerjakan secara klandestin atau bawah tanah.

:) :)

bersambung ..

alif muhammad
10-02-2001, 01:11 AM
Kang Sapta, ane amat sangat tertarik dengan cerita '65, karena masih misterius banget sih. Masak di sekolah kite kan hanya dijejali teks sejarah buatan orba, ya meski itu dikarang oleh sejarawan top eks Pak sartono Kartodirdjo and Pak Taufik abdullah, tapi itu kan pesanan orba. Jadi ane yakin itu banyak manipulasi data dan fakta.

Ane yakin deh, Kang Sapta udah baca buku Pledoi Latief, biografi Subandrio and Omar Dani. Disitu disajikan data dan fakta baru. Tapi lagi-lagi ini biografi, unsur subyektifitasny relatif tinggi, sehingga untuk disarikan menjadi fakta memang membutuhkan tenaga ekstra tinggi. Setidaknya sih, bisa dijadikan tambahan wacana untuk melihat sejarah 65 yang hingga kini masih kelabu.

Boleh saja orang bilang, sekarang era reformasi tapi kang Sapta tentu tahu yang paling berperan dalam sejarah '65 itu kan TNI AD, dan sekarang masih berkuasa lho. Tapi apakah sejarah yang ada saat ini salah, tentu jawabanya bukan salah atau benar, tapi obyektif atau tidak. Dan mengapa banyak tokoh utama dalam sejarah yang bisa dirajut untuk mencari kebenaran kasus '65 itu hilang, tentu itu terkait dengan upaya mencari obyektifitas sejarah. data boleh banyak, namun seberapa banyak yang bisa jadi fakta.

Ups, kok kayaknya membuka ladang diskusi ya Kang. Tapi, aku tertarik untuk ikuti terus. plase.....

Sapta Nugraha
10-02-2001, 04:54 AM
alif .. aduuh thanks banget buat tanggapannya .. :)

ndak apa kok kalo mau sambil diskusi .. biar lebih variatif kan .. ndak diisi dengan satu nara sumber aja or diisi dengan dongengnya gue aja .. ;) :D

anyway, monggo kalo mau diskusi asal aja keluar dari alur dan ndak membahas masalah aliran politik dan ini itu .. :) kan yang mo kita kupas dan telaah adalah sejarahnya, kejadiannya serta akibatnya ..

::bye:: .. salam ..

:) :)

tukanggossip
10-02-2001, 05:38 PM
monggooooo, dipun sekecak aken...:D bener gak seh ?

Tasha
10-02-2001, 08:13 PM
wah ikutan juga dong, gue telat dateng nih
wah kacang medenya mana udah abis ya, bagi dong..

catshade
11-02-2001, 12:48 AM
D'ya all forget the X-Factor : C.I.A ? Mereka juga punya rencana menjatuhkan Soekarno, lho...

Sapta Nugraha
11-02-2001, 05:29 AM
yes .. tell the truth .. I don't know whether it is true or not regarding CIA and the conspiration to make Soekarno fell down .. but later on in my story there will be a story about it :)

:) :)

Sapta Nugraha
11-02-2001, 01:29 PM
sambungan ..

Ketika mulai dekat dengan Aidit, Sjam menjalin hubungan dengan anggota ABRI. Channel nya dia sangatlah mengagumkan. Ia pernah menjadi informan Moedigdo, seorang komisari polisi. Kelak salah satu anak Mudigdo diperistri oleh Aidit. Sjam juga disebut-sebut pernah menjadi intelnya Kolonel Soewarto, direktur seskoad pad tahun 1958. Melalui cabang-cabang di daerah, Sjam berhasil mengadakan kontak-kontak tetap dengan kira-kira 250 perwira di Jawa Tengah, 200 di Jawa Timur, 80 sampai 100 di Jawa Barat, 40 hingga 50 di Jakarta, 30 - 40 di Sumatera Utara, 30 di Sumatra Barat dan 30 di Bali.

Sjam ibarat hantu yang bisa menyusup kemana saja ia mau. Sehingga banyak orang yang yakin bahwa sesungguhnya Ia adalah agen ganda. Dia bukan cuma bekerja untuk PKI, tetapi juga bertugas sebagai spionase untuk kepentingan-kepentingan lain. Ada lagi yang meyakini bahwa Sjam adalah agen rahasia ganda untuk KGB dan CIA. Lalu ada juga yang bilang bahwa Sjam itu adalah orang sipil yang menjadi informan tentara.

Sjam dianggap sebagai tokoh terpenting dalam peristiwa september 1965 ini yang membuat bukan saja PKI, tetapi juga kekuatan-kekuatan politik nasionalis, runtuh dalam beberapa hari seperti layaknya rumah kertas.

Setelah G 30 S meletus dan kemudian gagal (atau didesain untuk gagal), Sjam pun menghilang.

:) :)

bersambung ..

alif muhammad
12-02-2001, 04:19 PM
Kang Sapta, terlepas Sjam sebagai agen ganda, sepengetahuanku keberadaan PKI bukanlah untuk mengkudeta rezim Soekarno. Pasalnya, PKI yang bergantung pada Soekarno apalagi dengan ide Nasakom-nya. PKI hanyalah ingin membangun kekuatan massa untuk mengambil moment pada pemilu. Bukankah, PKI pernah meraih kursi nomor 4 pada pemilu 1955.
Nah, ketika September 1965 itu memang kalau diibaratkan, ibu pertiwi sedang hamil tua. Maka isu dewan jenderal itu dimanfaatkan untuk menelikung para jenderal yang setia pada negara dan Soekarno.
Sekali lagi terlepas dari politik saat ini, Soeharto adalah pemimpin pelaksana harian AD apabila Jenderal A Yani berhalangan. menurut referensi yang aku miliki, baik pengakuan latif maupun Soebandrio, moment itu ditunggangi oleh Soeharto beserta crew-nya. Nah disinilah terjadi pemutar balikan fakta, seolah-olah Soeharto-lah yang berhasil menumpas kerusuhan itu.
Kalau kita menggunakan logika dasar saja, siapa yang mampu menumpas operasi intelijen komunis sampai keakarnya, akalu tidak menguasai benar seluk beluknya secara detail. Aku sangat mendukung data yang Kang Sapta ungkap, bahwa ketika Untung menika Soeharto bersama ibu Tien (alm) menyempatkan diri untuk berkunjung.
Selain itu ada kejanggalan lain dari sejarah yang ditulis oleh orba, yakni ketika pembunuhan jenderal itu terjadi Soeharto sedang menunggu Tommy Soeharto (yang kini buron), dan Latief melaporkan kegiatan yang terjadi. Lapaoran apa Latief, kok setelah G 30 S PKI ditumpas Latief langsung dibuang. Pemimpin mana yang tega membuang anak buahnya yang setia tanpa sebab jelas?
Aku kira disini dulu, kayaknya gado-gado ku udah mau bau angin nanti bisa kembung perutku, thank's Kang.

rojali
12-02-2001, 04:44 PM
dalam mereka sejarah perlu detil ma kronologis rentetan kejadian tuk bisa menegaskan asumsi. bahkan detil bisa sangat kaya ma real history nyang sangat berguna tuk pengetahuan, keakuratan asumsi:)

persoalan utama dalam september 65 bukan pada asumsi nyang emang dah banyak diprediksi, e.g. cornell's white paper, tapi pada pengumpulan kejadian, informasi sejarah nyang banyak diingatan para pelakunye nyang sangat banyak masih idup:)

hampir semua elit militer/politisi awal orba punya peran, en ada kaitan ma peran si embah, dapat posisi basah en limpahan opportunities nyang bukan maen. mendata elit mulai dari peran sebagai ajudan, komandan kompi etc jaman 65-an, sampe ke pembentukan orba bisa mengasilkan data en fakta sejarah nyang bukan main (bagus juga tuk tesis Ph.d).:)

pengungkapan peran en peristiwa nyang libatin pelaku langsung i.e. omar dhani, ini contoh tuk mengakuratkan asumsi:)

superkiky
13-02-2001, 03:56 PM
wah, sambungannya mana nih??:D

Sapta Nugraha
13-02-2001, 11:40 PM
Bang Alif dan Bang Jalee ... makasih banyak untuk penyampaian setitik pesan yang bermaknanya .. {: ,saya percaya point-point tersebut bisa menambah khazanah dalam pemikiran kita mengenai apa yang sesungguhnya terjadi pada tahun 1965 dan pasca masa itu :)

Naaahh .. saya mau lanjutken cerita lagi yaa ... :)

:D :D

Sapta Nugraha
13-02-2001, 11:54 PM
sambungan ..

Menurut Mayjen Tahir, perwira pelaksana Team Pemeriksa Pusat, Sjam ditangkap di daerah Jawa Barat sekitar akhir tahun 1965 atau awal 1966.

Banyak orang sepakat bahwa sesungguhnya Sjam adalah tokoh kunci dalam peristiwa September 1965 tersebut. Tetapi sejauh manakah peranan yang dia mainkan ? ;(

Saat Bung Karno jatuh sakit, Sjam dipanggil Aidit ke rumahnya tanggal 12 Agustus 1965 dan dalam pertemuan itu, Aidit mengemukakan suatu hal yaitu " seriusnya sakit Presiden dan adanya kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan segera apabila beliau meninggal"

Kemudian Aidit meminta Sjam untuk "meninjau kekuatan kita" dan "mempersiapkan suatu gerakan". Atas dasar instruksi tersebut maka Sjam dan rekan-rekannya dari Biro Khusus yakni Pono dan Walujo membicarakan kemungkinan ikut serta dalam "suatu gerakan", dan memutuskan untuk mendekati Kolonel Latief, Komandan Brigade Infantri I Kodam Jaya, Letkol Untung, komandan salah satu dari tiga batalyon pasukan pengawal istana Cakrabirawa di Jakarta dan Soejono dari AU, komandan pertahanan pangkalan Halim. Petunjuk inilah yang menunjukkan bahwa Sjam adalah inisiator dari gerakan yang kemudian gagal.

Di sisi lain ada yang meragukan bahwa inisiatif itu datangnya dari Sjam. Keterangan Untung dalalm sidang pengadilannya mengatakan bahwa semua gerakan itu adalah idenya dan Kolonel Latief dan bukan ide Sjam.

Sementara itu, eksekusi terhadap para jenderal, juga bukan atas inisiatif Sjam. Gathut Soekresno yang dihadapkan sebagai saksi atas perkara Untung pada tahun 1966, memberi petunjuk bahwa Doel Latief lebih berperan, kendati sebetulnya Mayor Udara Soejono adalah yang bertanggung jawab terhadap nasib para jenderal tersebut.

:) :)

bersambung ..

Pompey
15-02-2001, 06:55 AM
AA...akuuu.. ngebaca ini kok ya jadi tegang, nggak rileks sambil makan kacang mede atau gado-gado....

rojali
15-02-2001, 05:08 PM
yea salah sendiri baca:)

orang makan kacang mede ma gado-gado sembari dengerin bang SS cerita:D

abi78
18-02-2001, 05:18 AM
an insight from Pram...
Pramoedya Ananta Toer:
G30S tak lain metamorphosis
politik anti-Konfrontasi Inggris
http://www.geocities.com/ticoalu2/G30S.html

[...]

Sudah sejak semula saya menduga, G30S tak lain sebuah mitos, yang sebenarnya tak lain dari metamorphosis anti- Konfrontasi pihak Inggris dan sekutunya, baik di luar mau pun di dalam Indonesia. Dan mengapa terjadi Konfrontasi? Dalam hal ini saya sependapat dengan A.M. Azahari (wawancara, 1996) bahwa Indonesia, di sini berarti Soekarno, terjebak oleh provokasi Inggris, dengan menggunakan ketegaran anti kolonialisme-imperialisme- kapitalisme Soekarno untuk menyingkirkan Soekarno sendiri.

Dan Inggris sendiri sudah berpengalaman memprovokasi Indonesia. Pertama tentu saja pertempuran Surabaya yang kemudian melahirkan Hari Pahlawan. Kedua dalam memprovokasi para pemuda di Sumatra Timur dengan berhasil melikwidasi para bangsawan wilayah tersebut. Apa yang kelak dinamai "revolusi sosial", yang salah seorang kurbannya adalah penyair Amir Hamzah, ini sasarannya jelas: menghapus pengaruh Indonesia lewat para bangsawan Sumatra Timur dari koloni Inggris di Malaya, Singapura dan Kalimantan Utara, sebagaimana disebutkan juga oleh Greg Poulgrain.

[..]

abi

tidur_di_atas_awan
18-02-2001, 10:22 AM
Bang sapta bagi donk kacang medenya
lanjutin ceritanya yach seru banget

Sapta Nugraha
18-02-2001, 11:27 AM
nanti malam yaa ta' lanjutken ceritanya .. :o :)
ayoo siapin gorengan yaa, bakalan banyak dongeng nih .. :D

:D :D

Sapta Nugraha
20-02-2001, 11:29 PM
sambungan ..

Di pengadilan, Sjam memang divonis mati. Akan tetapi, banyak mantan tahanan politik penghuni RTM (Rumah Tahanan Militer) Budi Mulia, Jakarta Pusat, meragukan apakah Sjam betul-betul dieksekusi.

Dari para mantan tapol penghuni RTM Budi Mulia, lebih banyak yang percaya, Sjam dilepas. Ia ganti identitas dan hidup sebagaimana orang biasa, atau bahkan sudah kabur ke luar negeri. Semua itu tidak lepas dari jasanya terhadap pemerintahan Orde Baru dibawah Jenderal Soeharto.

Beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Sjam adalah agen ganda, memang didasarkan pada logika yang dapat diterima. Dugaan itu sesuai dengan karakteristik Sjam yang cukup cerdas dan penuh perhitungan, akan tetapi misterius. Dia tidak banyak omong. Karakteristik tokoh ini ditampakkan oleh ciri-ciri fisiknya; berkulit gelap, berambut keriting, tinggi 170 cm, sering memakai baju drill, dan ada codetan di pipi dekat mata kanannya.

John Lumeng Kewas, Ketua Presidium GMNI tahun 1957 - 1965 dan juga wakil sekjen PNI menceritakan percakapannya yang pernah terjadi dengan Sjam bahwa dia menanyakan kepada Sjam kenapa PKI melakukan pemberontakan pada 30 September 1965. Dia dengan hati-hati mengatakan, "Bung John perlu tahu, bahwa memang PKI berniat mengkup Bung Karno". Ketika John menanyakan alasannya, kembali Sjam menjawab "Bung Karno memimpin revolusi itu secara plin-plan"

Perlakuan istimewa petugas LP terhadap Sjam juga diakui oleh banyak orang. Sjam bisa lebih leluasa berada di luar sel dan tampak akrab berbincang-bincang dengan petugas.

Eks Kolonel Latief mengatakan bahwa sekitar tahun 1990 Sjam Kamaruzzaman pun masih ditahan di Cipinang. Sementara hal itu bertentangan dengan cerita seorang mantan pejabat di lingkungan Depkeh RI bahwa Sjam dilepaskan pada malam hari di bulan September 1986 atas seizin Soeharto.

Demikianlah sekelumit tentang misteri orang paling misterius dalam pemberontakan September 1965 .. Sjam Kamaruzzaman ..

:) :)

bersambung..

rojali
20-02-2001, 11:49 PM
nyomot kacang mede nyang makin abis dikerubutin kawan sjam:D

kawan sjam sapa ente:D

alif muhammad
20-02-2001, 11:56 PM
Kang Sapta, boleh nggak nanya, ente tulis Sjam menarik sekale referensinya apa ya, siapa tahu Pak Guru PPKn nanya jadi aku bisa jawab, ya biar dianggap hebat. And nilaiku bisa bagus, dan nggak dianggap ngantuk-an

rojali
21-02-2001, 12:02 AM
oom alif nanya pa nanya:D::luthu::

rojali
21-02-2001, 12:04 AM
sekalean buat nambah jumlah postingan:D

kang sapta, mungkin bisa digabung semua cerbung soal sekitar 1965, biar mudah jilidnye:D

Sapta Nugraha
21-02-2001, 12:39 AM
eh .. udah ada tanggapan .. :) .. alif gue udah kirim pe em .. and bang jalee ada camikan lain ndak ? .. :D .. semua cerbung mengenai September 1965 bakalan Sapta posting disini kok .. :)

Naaah sekarang kita mulai lagi ceritanya .. kali ini mengenai eks Brigjen Soepardjo ..

sambungan ..

Brigjen Soepardjo berasal dari Divisi Siliwangi,yang kemudian dipertautkan dengan Mayjen Soeharto pada satu garis komando. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Panglima Komando Mandala Siaga (KOLAGA), bulan Agustus 1965 Mayjen Soeharto disebut-sebut mengunjungi Kalimantan dan bertemu dengan Soepardjo.

Menjelang 30 September, Brigjen Soepardjo terbang dari Kalimatan khusus ke Jakarta untuk ikut serta dalam gerakan bulan September 1965 tersebut. Dia yang melaporkan penangkapan jenderal-jenderal kepada Soekarno. Dia juga yang mendapat perintah Soekarno untuk menghentikan gerakan dan menghindari pertumpahan darah.

Tengah hari 1 Oktober 1965, Brigjen Soepardjo membawa amanat itu pulang ke Cenko II yang bertempat di rumah Sersan Udara Anis Suyatno, kompleks Lubang Buaya. Perintah itu didiskusikan oleh para pimpinan pelaksana gerakan September 1965.

Brigjen Soepardjo dan pasukan Diponegoro, terlibat pertempuran bersenjata melawan pasukan RPKAD yang menyerang mereka. Bersama Sjam dan Pono, Brigjen Soepardjo menyelamatkan diri ke rumah Pono di Kramat Pulo, Jakarta. Kemudian mereka menemui Sudisman di markas darurat CC PKI.

Setelah tertangkap, Brigjen Soepardjo langsung diamankan ke RTM untuk kemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati. Berbeda dengan Sjam yang ditempatkan di ruang VIP dalam tahanan militer, eks Brigjen Soepardjo berbaur dengan tapol lainnya. Seorang mantan tapol yang biliknya berdekatan dengan Soepardjo memberikan kesaksian, ketika esoknya akan dihukum mati, malamnya Soepardjo sempat mengumandangkan adzan. Kumandang adzan itu sempat membuat hati para sebagian penghuni penjara yang mendengarkan tersentuh dan merinding ...

Dalam memoarnya, sebagaimana pernah gue ceritain, Oei Tjoe Tat menuliskan perihal kematian Soepardjo. Sebelum eksekusi, Soepardjo dengan sangat gentle ambil bagian dalam "perjamuan terakhir" yang dihadiri oleh keluarganya dan petugas militer. Pada waktu makan bersama pada perjamuan tersebut, Soepardjo memohon pada petugas penjara agar diperbolehkan berpidato. Salah satu isinya: "Kalau saya malam nanti menemui ajal saya, ajal saudara-saudara tak diketahui kapan. Itu perbedaan saya dari kalian." Kemudian ia minta diperkenankan menyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Tiga hari sebelum eksekusi, familinya datang membesuk. Supardjo memberikan kenang-kenangan berupa sepasang sepatu buat istrinya. Makanannya yang terakhir sebelum dieksekusi, dibagikan kepada orang lain.

:) :)

bersambung ..

Sapta Nugraha
21-02-2001, 01:12 AM
ini koq ndak naik sih postingan ? ;(

rojali
21-02-2001, 01:18 AM
nanya kang sapta, boleh ndak dikirimkan pm nyang sama ma ooom alif:D

terus nanya lage, brigjen soepardjo neh pakah nyang jadi pangdam di kalimantan selatan (?), terus kemudian tinggal di moskow:)

tukanggossip
21-02-2001, 08:56 AM
kok bisa dapet sepatu dari mana ya buat istrinya, pan di penjara ?....;(

iNsane
21-02-2001, 09:34 AM
/me ampe ngantuk bacanya...

::sleep2::

rojali
21-02-2001, 03:21 PM
blues, bangun, bangun, udah gelap:D::luthu::

Sapta Nugraha
23-02-2001, 02:11 AM
sambungan ..

Oei Tjoe Tat mendikotomikan karakter Supardjo dengan sosok Sjam. Dua tokoh utama gerakan September 1965 - yang satu Sjam, sipil, orang pertama Biro Khusus yang kabarnya perancang dan pelaksana; yang lain Jenderal Supardjo, ujung tombak militernya - menampakkan sikap yang berbeda ketika harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Jenderal Pardjo selama dalam tahanan di RTM mendapat simpati, baik dari para petugas maupun dari para tahanan karena sikapnya. Ia tidak mau diutamakan lebih dari yang lain, hanya karena ia seorang Jenderal. Bila menerima kiriman makanan, ia selalu membagi-bagikan kepada para tapol lain yang melintas di depan selnya. Oei Tjoe Tat melukiskannya dengan kata-kata: "Sangat mengesankan, jantan, benar-benar bermutu jenderal, namun tetap sopan, ramah terhadap siapa pun".

Menurut penggambaran Oei Tjoe Tat, Supardjo merupakan orang yang loyal terhadap Presiden. Tapi mengapa Supardjo ikut serta dalam gerakan September 1965 yang mendemisionerkan kabinet dan tidak mencantumkan nama Soekarno dalam daftar 45 orang anggota Dewan Revolusi? Memang, ada kemungkinan, Supardjo dijerumuskan (entah oleh siapa), sehingga ambil bagian dalam gerakan tersebut.

Satu kemungkinan, yang menjerumuskan Supardjo dalam hal itu adalah Sjam. Kemungkinan lain sebagaimana dituturkan oleh Siregar, "Supardjo sekalipun kemudian dibunuh juga oleh Soeharto menyusul hancurnya Gerakan 30 September 1965, tadinya bukan tidak mungkin adalah juga anggota dari kubu Soeharto. Perekrutan atas Supardjo mungkin sekali ketika ia menjadi Wakil Panglima KOSTRAD dan ketika kampanye Ganyang Malaysia dimana Soepardjo menjadi Panglima Komando Tempur Kalimantan dibawah KOLAGA yang dikepala-staffi oleh Soeharto"

bersambung ..

:) :)

"hari ini gue kok cape sekali yaa .. :( .. anyway, I will continue this story .. next I will tell you about the missing link .. "

funkynektaria
24-02-2001, 04:27 PM
hati hati bikin kesimpulan dalam hal ini yah...
soalnya masih sangat rawan...
dan gak ada bukti sejarah yang jelas...
kita cuman bisa menduga...

Sapta Nugraha
24-02-2001, 09:17 PM
Originally posted by funkynektaria
hati hati bikin kesimpulan dalam hal ini yah...
soalnya masih sangat rawan...
dan gak ada bukti sejarah yang jelas...
kita cuman bisa menduga...


pembahasan yang dilakukan disini bukanlah suatu penyimpulan akan apa yang terjadi di tahun 1965. Pemostingan cerita, berita-berita dan juga hal-hal lain yang berkenaan dengan hal ini adalah hasil dari rekapan beberapa buku dan juga beberapa informasi dari pelaku sejarah.

yang saya lakukan disini adalah sekedar berbagi informasi atas apa yang saya ketahui.

:) :)

tukanggossip
27-02-2001, 04:11 PM
....sing nduwe topik misih bal2an....:D:D:D

Sapta Nugraha
28-02-2001, 04:06 AM
tu gos mbok ya o sabaran sitik po'o .. :o :D

ayoklah
28-02-2001, 07:13 PM
Yo wiissss.... yoo wiissss.... :D :D

EnzoFerrari
28-02-2001, 08:05 PM
hmmm.... halo semuanya!!

Merdeka ;D

tukanggossip
01-03-2001, 09:30 AM
iki sih bal-balan opo neng kejaksaan yooooo....:D:D:D

Sapta Nugraha
01-03-2001, 12:11 PM
ambil posisi duduk yang enak ... minum teh manis sambil ngambil kacang mede sedikit ..

"ayoo .. ta' lanjutin lagi ceritanya yach .. :D "

sambungan ..

Akhir petualangan Lettu Doel Arif pun tak jelas. Sebagai komandan Pasukan Pasopati yang menjadi operator G 30 S, ia adalah tokoh kunci. Ia bertanggung jawab terhadap operasi penculikan jenderal-jenderal pimpinan AD. Tapi Doel Arief, yang ditangani langsung oleh Ali Moertopo, hilang bak ditelan bumi. Bentuk hukuman apa yang diberikan Ali Moertopo bagi Doel Arief? Mungkin saja ia langsung di-dor, seperti halnya DN. Aidit oleh Kolonel Yasir Hadibroto. Atau, bukan tidak mungkin, ketidakjelasan Doel Arief lebih mirip dengan misteri tentang Sjam Kamaruzzaman.

Kalau dilihat secara holistik **dengan asumsi bahwa G 30 S betul-betul merupakan skenario kudeta** peran Doel Arief tidak begitu penting. Setidaknya, ia hanyalah pion yang dimainkan para elit diatasnya. Perannya hanya sebagai pelaksana untuk menculik para jenderal. Namun kalau diasumsikan bhw G 30 S merupakan skenario jenial untuk menabrakkan PKI dan AD guna memunculkan konstelasi politik baru di Indonesia, maka Lettu Doel Arief adalah key person, seperti halnya Sjam.

bersambung ..

stephanie kunang
03-03-2001, 07:08 PM
selanjutnya terserah anda ?......
[diedit oleh stephanie kunang, 04-03-2001, 07:51 PM]

Sapta Nugraha
06-03-2001, 07:53 AM
maksudnya ? ;(

stephanie kunang
06-03-2001, 09:19 AM
ada deh.....

Sapta Nugraha
06-03-2001, 09:33 AM
eh .. oooo .. ngerti gue sekarang .. ::devil:: ... eh stephanie .. salam buat majikannya yach .. :o :D

:D :D

Sapta Nugraha
08-03-2001, 04:22 PM
sambungan ..

Dalam sebuah operasi intelijen, antara operator dan pengguna (desainer gerakan), tak ada struktur komando langsung. Yang ada hanyalah pivot atau penghubung secara tidak langsung, yang biasanya dimainkan oleh beberapa aktor kunci. Kalau Sjam dianggap sebagai desainer G 30 S, dan Untung adalah pelaksana - maka tesis yang muncul adalah; Doel Arief sebagai pivot. Dalam istilah intelijen, ia adalah faktor cut - disadari atau tidak disadari oleh Doel Arief sendiri. Kalau operasi intelijen, ternyata gagal, faktor cut memang harus di-cut artinya di dor! agar tidak meninggalkan jejak.

Berdasarkan atas asumsi diatas, dapat disusun rekonstruksi sebagai berikut. Sjam mendisain gerakan yang dirancang untuk dilakukan Untung. Namun, ada pihak ketiga yang memanfaatkan Lettu Doel Arief untuk mengacaukan gerakan. Cara kerjanya mirip dengan virus komputer yang dirancang untuk mengacaukan program/sistem. Kalau semula tidak ada perintah bunuh terhadap para jenderal, tetapi oleh Doel Arief (selaku komandan Pasukan Pasopati), diberikan instruksi "tangkap hidup atau mati". Akhirnya gerakan menjadi kacau balau.

bersambung ..

:) :)

rojali
09-03-2001, 11:20 PM
kalo diurai kegiatan sjam, letkol doel arief, untung dalam hutan peristiwa g30s/pki kek menarik ranting dari pohon. pohonnya tetep utuh en kalo dilihat dari udara pohonnye noktah dari hutan besar:)

gerakan populis soekarno, dalam tarikan agak lebih jauh, sezaman ma si "jango" goulart dari brazil, peron di argentina dan allende di chile dalam periode lebih telat.

kesamaan gerakan populis ini dalah di-crash ma model peristiwa g30s/pki, nyang dimulai dari brazil, terus ke indonesia, argentina en terakhir di chile. upaya tuk ngancurin allende diberi code name jakarta operation.

kalo dipilah dari aktor, mulai dengan menempatkan uraian sapta dengan peran seperti sjam, doel arief, untung, terus aidit dkk di satu pihak, terus soeharto ma ad di pihak laen, en massa dalam bentuk mahasiswa, kelompok massa tradisional di pedesaan, en figur nyang memainkan peran penting seperti pater beek, ali moertopo dstnya, mungkin settingnye jadi lebih menarik.

minum teh pait dulu sambil ngunyah kacang mede:)

Pompey
13-03-2001, 02:29 AM
Keterlibatan USA gimana?
lihat aja di www.pir.org/scott.html

derby romero
14-03-2001, 04:15 PM
langsung pergi ke Optik, beli kacamata baca baru (Ampunnn!!! banyak bgt)

rojali
29-05-2001, 08:44 PM
sapta, kawan sjam gimane kabarna:)

btw, banyak tokoh ma figur di seputar si babe nyang bermain di opsus, bakin jamannya ali murtopo, sujono humardhani, benni nyang mungkin karang jadi pengusaha kaya, haji, pendeta nyang peranna bukan maen. salah satunya mungkin pater beek nyang kalo punya data pasti bisa jadi kajian sejarah menarik. terutama aktivitas "underground" nyang tidak hanya melahirkan tokoh termasuk barangkali GD, juga kelompok dan rekayasa sosial nyang dampaknya terus menerus dirasakan indo:)

Capunk
03-06-2001, 01:43 PM
mana nih kelanjutannya??:D:D:D

Sapta Nugraha
04-06-2001, 02:02 PM
will be sooon ... lagi digarap nich .. :) :)

Capunk
04-06-2001, 05:37 PM
*kembali menunggu*

rojali
05-06-2001, 08:49 PM
dan menunggu:)::sleep::

rojali
05-06-2001, 08:50 PM
..."kutunggu dan kutunggu".....:D

P1nk Panther
05-06-2001, 11:28 PM
masih menunggu yeee??:D:D:D

hercule
07-06-2001, 04:14 AM
gue nggak

P1nk Panther
07-06-2001, 02:02 PM
kok ada di sini elo??

rojali
08-06-2001, 09:57 PM
lagi nunggu, dianya:)

Capunk
11-06-2001, 10:27 PM
kahn katanya nggk mo nunggu.

btw si sapta mana nih??;(

rojali
13-06-2001, 04:16 PM
lagi nungguin si mbah di rumah sakit:):D

khayan
16-06-2001, 09:57 PM
Originally posted by rojali
lagi nungguin si mbah di rumah sakit:):D mbahnya sapa ?? ;(

Sapta Nugraha
25-07-2001, 04:45 PM
naikin dulu ... besuk gue mulai posting lagi ... :o :o

rojali
25-07-2001, 07:38 PM
konon semua terbitan, tulisan nyang berkisar waktu 1965 kalo nggak dibakar abis, disita ma dibuang jauh-jauh termasuk dari ingatan oleh rejim orba nyang memonopoli sumber informasi dengan terbitan i.e. ab, berita buana etc. karna itu sulit tuk cari perbandingan pakah mayat pahlawan revolusi disayat-sayat oleh gerwani hanya isap jempol orba ma ab, sampe wartawan tvri nyang abadikan pengangkatan mayat pahlawan revolusi mengaku tidak melihat ada bekas sayatan nyang digembar-gemborkan:)

upaya sapta mendulang kebenaran sejarah seputar 1965 mungkin tidak sekedar recollection apa nyang tercecer, tapi juga sebagai forum banding kejadian sebenarnya seputar september 1965.

bantu sapta naikin ini topik:D

Sapta Nugraha
26-07-2001, 05:00 PM
iya itulah yang sering menjadi suatu hal yang kontroversial.. di satu sisi dibilang bahwa banyak sayatan dan juga sampai-sampai (maaf) alat kelaminnya dipotong, tapi dari beberapa referensi buku yang gue baca mengenai apa yang sebenernya terjadi di oktober '65 itu bahwasanya dikatakan bahwa mereka tidak melakukan penyayatan ataupun penyiksaan, yang ada adalah penembakan langsung ...

hmmm .. gue mesti bongkar koleksi buku g 30 s gue nich ... tapi asyikk juga ...

makasih bang jali {: buat supportnya all the time .. :)

Vortex
26-07-2001, 06:12 PM
Mengenai apakah alat kelamin disayat atau ada luka siksa selain tembak ato tidak, bisa dibaca di Otobiografi Hendro Subroto, seorang wartawan perang yang bekerja di TVRI. Beliau udah banyak makan asam garam peperangan, dari perang enam hari, sampai perang Vietnam dan perang Teluk.

Kesaksian dia cukup authoritative, karena dia hadir pada waktu pengangkatan jenazah pahlwan revolusi dan dia menyebutkan bahwa para Jendral itu meninggal karena luka tembak atau luka tusukan bayonet. Organ-organ vital para korban masih lengkap.

Buku ini baru kok, dan bagus.. Highly Recommended

Sapta Nugraha
28-07-2001, 03:00 PM
waaahh .. ;0 .. bisa beli di gramed ndak bukunya, bang v ? ;( :)

Vortex
28-07-2001, 09:10 PM
Ada Sapt, gue juga beli di Gramed kok, di bagian Otobiografi :)

akuaja
28-07-2001, 10:38 PM
v itu buku baru ;(...judulnya apa ;( bukan yang otobiografi yang judulnya hendro subroto wartawan perang...atau yang judulnya saksi mata integrasi timor timur ;( :)

d3v1n
29-07-2001, 12:07 AM
DICULIK ALIEN KALI JADINYA ILANG :P

Loving
08-08-2001, 04:42 PM
pki ya... ::ngg:: hiyyyyy.. jadi inget.. jaman2nya kudu nonton tuh pilem.. ::ngg::

papiiiiiiiiiiiiiiii... hiyyyyy.. ::ngg::

elien
09-08-2001, 10:53 AM
kalau menurut berita e-mail yg di coppy oleh om ku,dia seorang pengamat politik australia untuk indonesia yg anti orde baru,aku baca , bahwa oleh dokter yg memberi fisume pada mayat para jendral itu tidak di ketemuka luka yg berasal dari sayatan silet atau yg sejenis ,seperti yg kita tau selama ini, ada nya luka hanya oleh karena tembakan dan gesekan pada tanah sekitar lobang (lubang Buaya)jadi tidak lah benar berita bahwa ada di ketemukan sayatan2x itu,para dokter ini bukannya dokter indonesia tetapi dokter dari luar negri, aku lupa tepatnya dari negara mana, aku baca cerita ini, 2 minggu setelah turunnya soeharto dari jabatan president jadi harap maklum kalau udah ada yg lupa, makasih.

rojali
09-08-2001, 09:47 PM
terus soal keterlibatan cia nyang dilansir detikcom barangkali juga bisa jadi tambahan informasi:)

Sapta Nugraha
13-08-2001, 07:10 PM
ayooo bang jali kutip dunk terus kita bahas disini .. :) :) ...

elien
14-08-2001, 06:27 AM
iya ayo bang Jali di muat dong!!! terus kalau ada yg punya memoar pramundia ananta tour dia juga bagus tuh ceritanya di bukunya itu waktu ngebahas Gestapu, ada yg punya dan bisa posting????? biar lebih seru acara pembahasan kita.

siemens
14-08-2001, 10:16 AM
wahhhh gwe baru liat nigh topik... sampe2 gwe capi paste dari hal pertama sampe akhir biar isa gwe baca dikit2 pas jam kerja 8D [curi2 waktu] 8D...

hmm.... mana nigh terusannya?
gwe menunggu dengan setia... dagh lama gwe pingin tau sejarah tahun 65 ini... senengnya ada yang ngebahas disini... makasih yaks sapta 8D

siemens
15-08-2001, 12:21 PM
hmmm aloo alooo ::bye:: mana nigh
gwe masih setia menunggu 8D

silverjade
15-08-2001, 01:13 PM
Hmmm,jadi inget film tentang kuburan massal dari orang-orang yang diduga PKI dulu...mungkin aja orang-orang itu gak tau pa-pa,taunya cuma ngumpul-ngumpul bareng,makan-makan en nyanyi-nyanyi,tapi trus ikutan dibabat...:(
Dan sedihnya lagi tempat pembantaian massal seperti ini kayaknya terdapat di hampir seluruh kawasan nusantara kita....

Sapta Nugraha
15-08-2001, 01:54 PM
siemens .. makasih yaa .. :) :) .. iya nich gue belom ada waktu panjang buat nerusin ceritanya .. tapi yang jelas sich gue udah janji koq dalam waktu dekat gue bakalan nerusin ini ceritanya ampe tamat ...

sabar yaaa ... ::bye:: {:

siemens
16-08-2001, 01:23 PM
sippppppppp 8D gwe sabar menunggu degh 8D
sambil nunggu postingan lanjutan gwe baca buku crita ajah dulu 8D8D

elien
17-08-2001, 09:37 AM
Sebelumnya gue mau Bilang SELAT ULANGTUHUN INDONESIA TERCINTA YG KE 56 TAHUN.dengan harapan dan banyak Doa semoga hal2x yg seperti th 65. th 97, tidak akan terjadi lagi di negara kita yang Indah dan cantik ini.mari kita bersama2x menjadikan negara kita benar2x adil makmur7 sejahtera,serta cinta damai.MERDEKAAAAAAA!!!!!{S}

Sapta Nugraha
20-08-2001, 10:25 AM
sambungan ..

Betulkah eks Lettu Doel Arief merupakan faktor cut yang dimanfaatkan oleh pihak ketiga ? lalu, siapakah pihak ketiga itu ? Soeharto-kah ?

Sulit untuk menyimpulkan. Perkembangan yang terjadi sungguh-sungguh rumit. Lettu Doel Arief bergabung bersama Pelda Djahurub dalam operasi di rumah Nasution. Tetapi ternyata operasi itu gagal. Nasution lolos. Bahkan Pierre Tendean dan Karel Sasuit Tubun (pengawal di rumah Leimena) menjadi korban. Operasi penculikan di rumah Nasution itu sendiri sama sekali tidak elegan. Sebab dari awal sudah memancing keributan; yang berarti membuka kemungkinan untuk gagal.

Menurut keterangan yang diperoleh dari pengadilan Gathut Soekresn, sebetulnya diperoleh petunjuk tentang Doel Arief. Ketika ditanya Hakim apa tindakan yang diambil Gathut (selalu petugas pengamanan basis di Halim, di bawah komando Mayor Soedjono) setelah jenderal-jenderal itu dibawa ke Lubang Buaya, Gathut menjawab:
"Doel Arief memaksa meminta saya supaya dibereskan saja. Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, kemudian saya menulis surat kepada Mas Jono (maksudnya, Mayor Udara Soedjono), yang disampaikan per kurir yang bunyinya ialah bagaimana mengenai para jenderal yang sudah ada di Lubang Buaya, terutama yang masih hidup. Oleh karena waktu itu kami dalam keadaan gugup, maka kami suruhkan kurir untuk membawa surat sampai kedua kali untuk minta keputusan Mas Jono, yang pada waktu itu berada di PENAS (gedung penas). Lagipula oleh karena Saudara Doel Arief waktu itu mengulangi lagi permintaannya, memaksa-maksa dan membentak-bentak, maka kami jawab kami belum mengerti bagaimana saya harus perbuat, karena ketentuan harus datang dari Mas Jono.
....."

bersambung .. :) :) ...

Sapta Nugraha
20-08-2001, 04:17 PM
sambungan ...

... Kemudian ada orang datang membawa balasan yang ditulis di balik surat kami, yang mana maksudnya supaya para jenderal itu diselesaikan, dibereskan artinya ditembak mati.

... Kemudian karena saya sendiri tidak mempunyai niat semacam itu, maka hal itu tidak dapat kami lakukan sendiri, maka kami perintahkan kepada Serma Marsudi, anak buah langsung dari Mayor Soejono, untuk melaksanakan perintah itu."

Analisis yang lain: Sjam-lah yang merupakan faktor cut. Berdasarkan pengakuan Kolonel Latief, bahwa ada hal-hal yang diluar perencanaan, tak sulit diduga bahwa Sjam memainkan kartu penting. Menurut Latief, sebenernya dalam perundingan, tidak ada rencana pembunuhan terhadap para jenderal.

bersambung ... :) :)

siemens
22-08-2001, 08:39 AM
wahhhh dagh ada sambungannya.. mmmmm .... baca aghhhhh

Sapta Nugraha
22-08-2001, 10:52 AM
sambungan ...

"Mula-mula kita sepakati para jenderal itu dihadapkan kepada Presiden / Panglima Tertinggi Bung Karno di Istana. Pelaksanaannya oleh Resimen Cakrabirawa yang dikomandoi Letkol Untung. Komando pelaksananya Letnan Doel Arief. Tanpa sepengetahuan Brigjen Supardjo dan saya sendiri, Sdr. Sjam ikut Letkol Untung. Kami baru tahu setelah selesai pelaksanaan atas laporan Letnan Doel Arief. Saya dan Brigjen Supardjo kaget. "Kenapa sampai mati?" tanya Pak Pardjo. Letnan Doel Arief menjawab bahwa Sjam menginstruksikan bahwa bila mengalami kesulitan menghadapi para jenderal, diambil saja hidup atau mati. Mereka melaksanakan perintah Sjam karena tahu bahwa Sjam duduk dalam pimpinan intel Cakrabirawa."

bersambung ... :) :) ...

Sapta Nugraha
29-08-2001, 04:09 PM
Kesaksian Keluarga Korban

Penculikan dan pembunuhan para jenderal tentu saja amat membekas di benak keluarganya. Khususnya mereka yang langsung menyaksikan segerombolan tentara, dengan perilaku kasar, menggelandang ayah atau suami mereka. Apalagi bagi keluarga jenderal yang ditembak di rumah sendiri.

Peristiwa tragis itu dialami oleh Untung Mufreni Achmad Yani, anak ketujuh dari delapan bersaudara putra Letjen A. Yani. Ketika itu usianya masih 11 tahun. Dialah yang terbangun malam itu, dan menyaksikan ayahnya ditembak. :( Adiknya, Eddy, saat itu berusia 7 tahun, membangunkan ayahnya karena diminta oleh salah seorang anggota Pasukan Cakrabirawa.

"Karena ada ribut-ribut saya terbangun. Di rumah itu kan ada semacam bar. Saya disitu saja. Waktu itu terjadi perselisihan atau pertengkaran. Tapi, Bapak itu sepertinya disuruh cepat-cepat menghadap Presiden. Bapak mau ganti baju dulu. Waktu itu Ia pakai piyama agak biru. Tentara itu bilang, tidak usah karena harus segera. Bapak memukul salah seorang Cakrabirawa. "Kamu prajurit tahu apa," kata Bapak yang lalu membalikkan badan menutup pintu kamar. Waktu itulah Bapak ditembak."

"Lalu jenazah Bapak diseret keluar, kami mencoba mengejar dari belakang. Waktu sampai di pintu belakang, ada satu Cakrabirawa yang menghadap ke arah kami. Dia mencegah dan mengancam kami, kalau sampai keluar akan ditembak ::ngg:: . Kami tidak jadi keluar. Akhirnya, kami cuma menangis. Kami akhirnya hanya mengintip dari jendela. Jenazah Bapak diseret - seret sampai depan. Sesudah itu kami tidak tahu lagi. Mau coba telpon, kabelnya diputus."

Tak berapa lama kemudian Ibu datang dengan beberapa pengawal pribadi Bapak. Begitu Ibu masuk dan melihat darah bekas seretan, Ibu menangis :( . Masuklah Ibu ke dalam, dekat meja makan dan melihat darah disitu. Lalu beliau ambil baju Bapak yang terakhir malam itu dipakai. Darah itu dipel dengan baju itu, lalu baju itu dilap ke muka Ibu ::ihiks:: . Baju itu lalu dibungkus, Ibu bawa baju itu kemana-mana, tidur pun dibawa.

hanityo
30-08-2001, 03:31 PM
Kawan Sapta... (ngikutin gaya ngomongnya orang2 PKI pas kalo lagi rapat Politbiro) saya tertarik sekali dengan penuturan anda ttg Brigjen Suparjo.
huehehe kayaknya gue gak pernah denger gitu, bisa nge-rekomendasiin ke gue gak buku yg memuat lebih jauh lagi ttg latar belakang dan peranan Brigjen Suparjo ini, soalnya yg gue tau selama ini dia tuh seorang Jendral yg Sukarnois,lurus, dan yg aneh salah satu orang kepercayaannya Pak Harto yg terlibat (atau dijebak) dalam G30S (selain Letkol Untung), yah segitu aja deh...
thx sebelumnya

'Genjer genjer, pating kelewer...' (sambil makan sirih dan minum kopi ala PKI hehehe)

Sapta Nugraha
31-08-2001, 10:35 AM
waah kawan hanityo, saya nanti akan membantu kawan dalam mencari referensi buku mengenai saudara brigjen. supardjo ... :) :)

siemens
31-08-2001, 11:53 AM
mmmmmmm teerusannya mana ?? 8D lagih dongg sapt ....

Sapta Nugraha
31-08-2001, 02:37 PM
Rianto Nurhadi, anak ke 3 dari lima bersaudara putra Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono, saat itu baru berusia sembilan tahun. Ia tahu benar bahwa bapaknya ditembak oleh pasukan Cakrabirawa yang dipimpin Boengkoes.

"Malam itu ayah, ibu dan adik saya (berumur 5 tahun) tidur bertiga. Di kamar tengah, saya dan adik saya. Saya tidur di kasur bagian atas (tempat tidur bertingkat). Jadi saya melihat peristiwa itu. Ketika Ibu membangunkan adik dalam keadaan panik kemudian lari ke kamar depan tempat dua kakak saya yang lain tidur, kemudian Ibu mengunci kamar depan sehingga hubungan dengan kamar tengah terkunci, saya tertinggal di kasur atas."

"Saya terbangun karena banyak reruntuhan tembok yang jatuh ke badan saya. Rupanya mereka juga menembak dari samping. Saya lihat diatas dan ditembok samping saya banyak bekas tembakan."

"Saya langsung turun kebawah dengan kaget dan lari ke kamar ayah saya. Disitu saya melihat Ayah saya masih hidup sementara pintu sudah maulai ditembaki. Dia menyuruh saya untuk berlari lagi ke kamar sebelah dan saya menurutinya."

"Cuma kejadian ditembaknya aya saya tidak melihat. Yang saya lihat, pintu ditembaki karena saya keburu lari menuruti perintah ayah. Rasanya saat itu ayah belum kena peluru karena orang-orang masih menembaki dari luar kamar."

"Keadaan kamar waktu itu sangat gelap karena lampu dimatikan. Mereka menembak membabi buta, mereka membakar koran dan korannya ditaruh dibawah kasur. Jadi rumah kami pun hampir terbakar karena kasur ayah pun sudah terbakar."

"Ibu syok. Kami ingat sekali, setelah kejadian tersebut, kami anak-anaknya merubung ibu yang saat itu sedang mengepel darah ayah saya dan dimasukkan ke ember sambil menangis ::ihiks::. Mulai dari kamar ayah, beliau terus mengepel sampai ke pintu luar. Kami mengikuti beliau sambil menangis ::ihiks::.

Sapta Nugraha
06-10-2001, 01:04 PM
Nyonya Mitzi F. Tendean, pada tahun 1966-1967 mencari tahu apa yang terjadi pada adiknya, Lettu Pierre Andreas Tendean, ajudan Jenderal Nasution, yang pada tanggal 30 September 1965 diculik oleh Pasukan Cakrabirawa karena dikira Jenderal Nasution.

Nyonya Mitzi mengumpulkan berbagai dokumentasi pers, foto, tulisan arsip proses verbal para pelaku di markas CPM di Gambir. Dia juga mengikuti semua persidangan mahkamah militer dan mahkamah militer luar biasa., serta melakukan wawancara singkat dengan 14 anggota Gerwani yang dianggap terlibat penganiayaan seksual terhadap adiknya.

"Usaha saya mengumpulkan fakta seputar kematian adik saya berawal dari ketidakpuasan saya pribadi. Saya sangat tidak percaya terhadap segala cerita penganiayaan di Lubang Buaya, 30 September 1965. Saya pikir itu hanya laporan wartawan."

"Ketika saya bertemu dengan Dokter Roebiono Kertapati, Kepala Tim Pemeriksa Mayat Pahlawan Revolusi, saya mendesak dia menceritakan kondisi mayat adik saya yang sebenernya. Dokter itu tidak bersedia. Alasannya, ia terikat sumpah. "Hanya dua orang yang berhak mengetahui hasil visum, Presiden Soekarno dan Mayor Jenderal Soeharto," kata Roebiono. Roebiono cuma menyimpulkan, perlakuan terhadap para korban, termasuk Pierre, "melebihi binatang".

Mendengar itu, saya semakin tergerak untuk mencari tahu sendiri.

bersambung ...

elien
08-10-2001, 08:01 AM
wah kok bersambung lagi bikin makin penasaran aja bang sapta ayo dong terusin lagi.makasihhhhhhhhhhhh.

astr1d
11-10-2001, 06:53 PM
sapta,

bisa nerangin teori van der plas connection gak?:D

btw, cornell paper nyarinya dimana? ada yang tau? udah diterbitin lagi kan?

akuaja
11-10-2001, 09:26 PM
sampe bulan lalu masih banyak koq di gramedia :) :)

astr1d
11-10-2001, 11:35 PM
Originally posted by akuaja
sampe bulan lalu masih banyak koq di gramedia :) :)

sip, makasih:) aku lagi di ln sih
:)

Sapta Nugraha
12-10-2001, 04:49 PM
halllloo ... ::bye:: .. akhirnya akang saya mampir juga yaa kesini ... :o :) :) ...

iya .. nanti diterusin kok pasti ceritanya .... :) :)

hannibal_lecter
19-10-2001, 10:29 AM
mm..menarik.
Sama menariknya dengan film G 30 S PKI.
Tapi mana yang bener, moga bisa narik kesimpulan sendiri. Sementara sampe sekarang gue belon juga tau mana yang bener mana yang engga. Musimnya sekarang ini: yang bener adalah cerita yang merupakan oposisi.

Jadi obyektif itu susah yah?

Sapta Nugraha
19-10-2001, 04:09 PM
"saya meminta izin ke Direktur Zeni Angkatan Darat Mayor Jenderal Deni Kadarsan (almarhum), untuk melihat lokasi di Lubang Buaya. Tanggal 2 Januari 1966, kami dikawal melewati jalan Pondok Gede. Waktu itu, situasi sangat mencekam, tidak diketahui siapa kawan, siapa lawan. Saya, Ibu Nasution dan Pak Deni Kadarsan datang ke Lubang Buaya, melihat sumur berkedalaman 12 meter dan berdiameter 75 sentimeter itu. Disampingnya ada pohon durian. Kemudian ada rumah yang persis berada di samping sumur. Itu rumah seorang guru yang istrinya anggota Gerwani. Saya menemui istrinya ketika berkunjung ke Penjara Bukit Duri. Rumah yang ada disampingnya sudah agak reot, yang dibelakangnya ada kolam kecil. Daerahnya sangat rindang, banyak pohon karet dan durian.

"Hal yang sangat membuat saya dan keluarga kami sakit hati; di Lubang Buaya sudah jelas ketahuan bahwa Pierre bukan Jenderal Nasution. Tapi, dia tetap disiksa dan dibunuh."

"Tim Cakrabirawa yang datang ke rumah Pak Nas di Jalan Teuku Umar adalah Pelda Djahurub. Sampai sekarang, orang itu belum tertangkap. Demikian juga Letnan Doel Arief. Dari pengakuan mereka yang tertangkap dan diajukan ke persidangan, fakta soal Pierre sudah jelas."

"Pierre ditangkap, lalu dimasukkan ke satu ruang yang disebut dalam pengakuan mereka ruang piket, disatukan dengan tiga jenderal yang masih hidup -- yakni Jenderal Sutojo, Jenderal Parman dan Jenderal Prapto. Mereka berempat mengalami penyiksaan yang sungguh berat. Bahkan, harus menyaksikan dulu penyiksaan yang lain."

"Dari kesaksian mereka di persidangan terungkap, mereka semua berkumpul di Gedung Penas sebelum korban-korban dieksekusi. Gedung itu kan masih berada di kompleks Halim juga. Yang ada di gedung itu Doel Arief, Gathut Sukresno dan Soejono."

"Mayor Udara Gathut Sukresno sebagai penganiaya adik saya pada persidangan militer menyatakan sudah meragukan identitas Pierre. Dia bilang, Pierre yang masih muda sudah jelas bukan Jenderal Nasution. Tapi, karena sudah terlalu berat penyiksaannya, terutama soal luka menganga di kepalanya, ia sudah tidak mampu bertahan."

"Gatot menyatakan Pierre sudah diserahkan ke kelompok Gerwani, yang katanya sudah diberi obat perangsang dan memang dilatih untuk melakukan penganiayaan seksual. Merek datang tidak mendadak dan sudah dilatih cukup lama. Malah, ada yang sudah lebih enam bulan (di Lubang Buaya)."

"Saya menemui Pak Harto dan akhirnya mendapatkan izin khusus masuk Rumah Tahanan Khusus Salemba dan Bukit Duri dengan surat kuasa dari Penguasa Pelaksana Daerah Jakarta Raya dan sekitarnya. Surat itu mulai berlaku 6 April 1967 sampai Juni 1967. Ada catatan di surat itu, saya harus didampingi petugas teperda (team pemeriksa daerah)."

"Dua hari berturut-turut, saya datang ke Bukit Duri. Satu per satu, saya tanyai 14 anggota Gerwani itu berdasarkan data, proses verbal yang saya pinjam dari markas besar Polisi Militer."

Berikut cuplikan dari delapan lembar kertas catatan hasil pertemuan Mitzi dengan para anggota Gerwani yang dipenjara di Bukit Duri ...

bersambung ...

helem
21-10-2001, 05:57 AM
Lanjutannya maaana.. :)

Kucing Langit
22-10-2001, 06:52 PM
iiyaaaa!! mana nih!!! kok bersambung mulu....!!???

Sapta Nugraha
22-10-2001, 08:10 PM
sabaaarr yaaaa ... :o :o ....

elien
30-10-2001, 06:27 PM
halo,halo kang Sapta mana nih sambungannya????kok lama banget sih .Aku dah gak sabar nih,apa mau di selesaikan nanti tahun 2002? ya lama banget dong. please terusin ceritanya?Biar kita semua gak penasaran,biar kalau terjadi apa-apa gak bikin kita jadi arwah penasaran karena nunggu lanjutan cerita kakangmas.makasih banyak sorry kalau aku banyak comentar dan gak sabaran, sampun pareng, matur nuwun.

igay
30-10-2001, 06:47 PM
bung sapta ..okeh juga ni..daku baru liat, btw mudah-mudahan bisa jadi suatu comparison dari yang kita terima selama ini....(???)
silahken diterusken...daku juga pengen dengerin.....bang jali..maseh punya cemilan laen?? pisang goreng kek!!

Sapta Nugraha
09-11-2001, 12:47 PM
1. Atikah 'Djamilah'
di dalam PV disebutkan datang ke Lubang Buaya pada 28 September hingga 02 Oktober 1965. Ia anggota Pemuda Rakyat Tanjung Priok, dengan pelatih Soejono. Ketika ditemui, Jamilah, yang menurut teman-temannya memimpin kelompok kecil Gerwani yang menganiaya Pierre, tak mau bicara dan menyatakan 'tak tahu' berkali-kali. Sorot matanya tajam dan menusuk tak dapat saya lupakan. Sosok Djamilah bertubuh tegap, kulit sawo matang, wajah tipe Arab, hidung mancung.

2. Eni bint Madah
Adalah wanita tuna susila. Menurut PV, ia tertangkap di Tangerang pada 30 Oktober 1965. Dia tiba di Lubang Buaya pada 30 September 1965 pukul 22.00. Keesokan paginya, ia diperintahkan menari-nari setengah telanjang mengelilingi ruang piket sambil bernyanyi dan melukai tawanan. Dia mengetahui di dalam sumur sudah ada dua orang. Ia mengaku ikut memasukkan Sutoyo, Soeprapto, Parman dan Pierre. Sebelumnya, bersama Isah dan Tati ia menari-nari mengelilingi Pierre. Dia melihat dengan mata kepala sendiri penganiayaan, pemotongan alat vital Pierre oleh Jamilah. Eni mengaku juga disuruh mengiris-iris Jenderal Parman, Pierre dan Soeprapto. Djamilah mencungkil mata Parman, Tati menusuk punggungnya. Semua korban diperlakukan begitu dalam keadaan masih hidup.

bersambung ...

prof_lupin
09-11-2001, 01:32 PM
waduh...sampe lupa..sebelumnya ceritanya soal apa yah...
hehehhe...btw, kok sambungannya cuman segitu sih?

dedidude
12-11-2001, 08:24 AM
ayo, bung sapta... cepetan di sambung...kacangnya udah keburu abis nih..... :-)

mikebenjamin
14-11-2001, 04:48 AM
gue sih cuman berdoa supaya ulangan sejarah gue bagus...

gue lagi belajar g30s nih dan blom ulangan2... jadi i hope it'd be good!

iNsane
18-11-2001, 07:25 AM
mana sambungannya sih???
lama banget...:(

saint_sinichi
18-11-2001, 10:13 PM
G 30 s PKI?? huh!! ke lubang buaya aja.. kalo mau tau sejarahnya

iNsane
18-11-2001, 11:46 PM
Originally posted by saint_sinichi
G 30 s PKI?? huh!! ke lubang buaya aja.. kalo mau tau sejarahnya

emang udah kebukti klo kita dateng ke lobang buaya nya langsung bisa tau sejarahnya??? ;(

hercule
19-11-2001, 08:41 PM
tapi paling enggak liat sendiri lubangnya.

iNsane
25-11-2001, 06:19 PM
mana lanjutannya nih???
lama banget...

prof_lupin
26-11-2001, 11:17 AM
Originally posted by hercule
tapi paling enggak liat sendiri lubangnya.


EMANG KALO UDAH LIAT LUBANGNYA...TRUS MO APA?

LUBANGNYA SURUH CRITA......

akuaja
28-11-2001, 02:47 AM
lanjutannya mana lagi ;( :o :o :o

Skytrivia
28-11-2001, 11:44 AM
Mo ikut denger cerita ah...

Kucing Langit
28-11-2001, 09:58 PM
Originally posted by prof_lupin



EMANG KALO UDAH LIAT LUBANGNYA...TRUS MO APA?

LUBANGNYA SURUH CRITA......

yaa... enaknya lubang pa*tat loe aja yang cerita... sambil nunggu postingannya kawan sapta.

hehehe... jangan di anggep serius, cuman bercanda ^^V (piece)

Sapta Nugraha
30-11-2001, 12:39 PM
3. Darsijem mengaku tiba di Lubang Buaya pada pagi hari tanggal 30 September 1965. Keesokan harinya, ia ikut melakukan penganiayaan dan penembakan terhadap Soeprapto. Pada saat itu ia melihat dua orang yang lain sudah mati. Darsijem mengaku melihat korban yang berjaket coklat (Pierre) ditembak oleh Cakra, AURI dan Pemuda Rakyat. Sesudah mati, Pierre diseret orang berbaju hijau ke dalam sumur. Menurut Darsijem, Djamilah adalah pemimpin penganiayaan itu.

4. Henni mengaku anak buah Sukiman, anggota Pemuda Rakyat. Ia melihat dua tawanan datang. Dua berpakaian daster (kimono) dan sarung, satu celana pendek, satu lagi hanya memakai sarung. Yang cuma memakai sarung diiris-iris. Henni turut mengiris-iris tangannya dan memberi air jeruk nipis. Henni menusuk perut Soeprapto hingga ususnya terburai keluar. Djamilah lalu menembak Soeprapto. Bersama dua orang kawannya, Henni mengaku mencongkel mata dua tawanan, lalu membungkus bola mata tawanan yang memakai kimono dengan daun pisang. Henni melihat, ketika dimasukkan ke dalam sumur, tawanan yang mengenakan kimono dipotong tangannya hingga batas pundak, yang mengenakan sarung dipotong kakinya sampai paha.

5. Endah datang ke Lubang Buaya pada tanggal 30 September 1965 pagi. Tanggal 01 Oktober, ia melihat Pierre, Parman dan Soeprapto dibawa ke lokasi. Semua dikawal pasukan Cakrabirawa. Soeprapto dibawa ke balai pengobatan, ditanyai oleh Cakrabirawa. Ia mendengar bunyi pertanyaannya: "mengapa Bapak, seorang jenderal, tak memikirkan rakyat ? beras mahal dan rakyat kelaparan, apa tindakan Bapak ? Dia mendengar Soeprapto menjawab: 'Saya juga memikirkan, tapi bagaimana ?' kemudian terdengar Soeprapto dipukuli beramai-ramai dengan popor senapan. Ini semua terjadi di dekat sebuah lubang kecil.

Meg Riany
30-11-2001, 12:56 PM
oom Sapta.. ponakannya mana.. kok gak pernah nongol.. lagi 'bertapa' yahh.. :D ::luthu::

Sapta Nugraha
30-11-2001, 01:29 PM
6. Saijah, umur sekitar 16 tahun, mengaku bekerja di dapur. Lalu, ia dipanggil oleh orang-orang berbaju loreng, katanya disuruh melihat jenazah-jenazah. Ia sempat mengaku mengiris-iris Soeprapto. Tapi, kemudian buru-buru berkata tak tahu dan tak melihat apa-apa. Catatan: kesannya memutarbalikkan kata-kata, penuh kepura-puraan. Perlu diperiksa ulang.

7. Ani mengaku melihat truk datang pada pagi hari tanggal 01 Oktober 1065, menurunkan seorang berpakaian daster, seorang berpakaian sarung, dengan mata tertutup dan tangan terikat kain merah. Seorang lagi berpakaian hitam (maksudnya mungkin coklat) dengan tangan terikat. Kemudian, pada pukul 06.00 pagi, ia melihat tawanan yang mengenakan daster ditembak dibelakang rumah. Dia mendengar seorang wanita (Aisah atau Djamilah) berkata 'ini darah kabir' lalu melihat muka tawanan yang mengenakan sarung penuh dengan darah

8. Tarju pada sekitar pukul 07.00 tanggal 01 Oktober 1965 melihat tawanan yang mengenakan daster. Tangannya terikat di belakang. Juga, ia melihat tawanan yang mengenakan pakaian coklat. Cuma, yang terlihat bagian badan atasnya saja karena dikerumuni orang banyak, ditendang-tendang orang berbaret hijau berbaju loreng. Tarju juga melihat Soeprapto dalam kondisi berdarah-darah mukanya. Ia melihat Djamilah yang tangannya berlumuran darah berkata 'inilah darah kabir'. Dan seorang laki-laki berkata, 'orang-orang yang sudah mati ini adalah orang-orang kabir' ...

kabir = kapitalis birokrat

Sapta Nugraha
30-11-2001, 01:35 PM
Originally posted by Meg Riany
oom Sapta.. ponakannya mana.. kok gak pernah nongol.. lagi 'bertapa' yahh.. :D ::luthu::

biasanya kalo bulan ramadhan dia puasa dari kg ... :o :o .. gitcuuu ...

Meg Riany
03-12-2001, 03:03 PM
puasa ;( maen di [KG] tidak membatalkan puasa tho.. trus tidak mengurangi pahala juga.. ::bingung::

thanks anyway 4 ur info.. {:

Sapta Nugraha
07-12-2001, 01:27 PM
9. Sariningsih alias Ny. Hardjono istri seorang guru penghuni rumah di sebelah sumur Lubang Buaya. Suaminya, Hardjono, anggota Pemuda Rakyat. Sariningsih mengatakan, di Lubang Buaya telah dilakukan tujuh kali pelatihan oleh anggota-anggota AURI. Ia sendiri ikut dalam Angkatan ke 5. Menurut Sariningsih, pasukan Cakrabirawa datang ke Lubang Buaya pada tanggal 30 September 1965 pkl. 14.00. Pagi hari 1 Oktober 1965, ia mengaku melihat tawanan berbaju putih yang tangannya terikat ditanyai oleh Iman dan Kasman. Di rumah mertuanya, Sariningsih juga melihat tawanan yang berbaju coklat dengan tangan terikat dan muka berlumuran darah. Disitu, ia juga melihat seorang tawanan yang telah mati dan dipotong kemaluannya (Sutoyo), seorang tawanan yang berbaju hijau yang telah dicongkel matanya. Ia takut melihatnya. Catatan banyak hal-hal yang tidak mau dikatakan. Sukar berpikir.

10. Soekarni janda tanpa anak berusia 42 tahun, anggota Gerwani. Pernah mendapat latihan di Cipete, Jakarta, antara lain bongkar pasang senjata, tapi belum pernah menembak. Pada 30 September 1965 diajak kawan-kawan ke Lubang Buaya untuk arak-arakan. Sampai di Lubang Buaya, ia mendapat tugas di dapur. Ia tidur di kemah. Subuh tanggal 01 Oktober 1965, ia sama sekali tidak mengetahui suasana. Ia pergi ke sungai, mendengar letusan senjata, lalu pergi bersembunyi ke dapur. Ketika suara letusan semakin kerap terdengar, ia pergi kemah dan tak keluar hingga tanggal 02 Oktober. Catatan : pandai memutar balikkan fakta. Amat disangsikan keterangannya mengenai latihannya di Cipete.

Kucing Langit
07-12-2001, 07:18 PM
lanjuuuut....!!!

bubbl3
08-12-2001, 03:01 AM
ngomong2, tujuan para jendral itu disiksa sebegitunya sebelom mati apa sich??? ::bingung:: mao bikin takut/terror ke orang2 indo lainnya???

iNsane
10-12-2001, 03:33 PM
lanjut donk ceritanya...

Kucing Langit
10-12-2001, 05:21 PM
lanjut....!!!!

prof_lupin
11-12-2001, 04:12 PM
kawan sapta, apakah ada data-data dari kalangan tentara yang lebih detil mengenai kejadian september kelabu itu?
mungkin ga mereka mau bicara jujur ya..?

psybuster
12-12-2001, 08:55 AM
Originally posted by bubbl3
ngomong2, tujuan para jendral itu disiksa sebegitunya sebelom mati apa sich??? ::bingung:: mao bikin takut/terror ke orang2 indo lainnya???
menutupi ketakutan suara hati...::toeng:: ::ngg::

Sapta Nugraha
12-12-2001, 12:44 PM
Originally posted by prof_lupin
kawan sapta, apakah ada data-data dari kalangan tentara yang lebih detil mengenai kejadian september kelabu itu?
mungkin ga mereka mau bicara jujur ya..?

kalau untuk dari kalangan tentara .. tell the truth, I don't know .. tapi kalo dari kalangan korban ataupun yang disangka terlibat, akan ada detail cerita mereka sesungguhnya akan apa yang terjadi di penjara ataupun saat penangkapan mereka ... kebetulan sekali saat ini saya lagi pegang satu project yang dinamakan Sejarah Lisan ... insya allah pertengahan tahun depan bukunya di launching ... :) :) ...

prof_lupin
12-12-2001, 01:56 PM
mudah-mudahan para purnawirawan tentara yg terlibat dlm SOB itu ada yg mbaca forum ini yach... dan agak tergugah untuk mengungkap tabir SOB itu yg sesungguhnya.....(semoga!)..kawan sapta, bukunya ditunggu!...silakan lanjut....

Sapta Nugraha
12-12-2001, 04:56 PM
11. Tjitjih binti Hadimi, anggota Gerwani , seorang buruh pabrik tepung. Bersama kawan-kawannya pergi ke Lubang Buaya karena ada panggilan dari Ketua RK yang juga anggota Pemuda Rakyat bahwa akan ditempatkan dan diadakan sukarelawan di Lubang Buaya. Pada 1 Oktober 1965 pagi-pagi, ia melihat seorang mengenakan sarung sudah menjadi jenazah. Ia tidak melihat kejadian-kejadian lain karena bertugas di dapur. Ia mengaku takut mendengar suara tembakan. Ia merasa menyesal memilih Gerwani.

12. Marsijem, suaminya pensiunan veteran. Tanggal 29 September 1965 dipanggil Sulami ke DPP Gerwani untuk menjalani tugas atas permintaan AURI. Bersama sepuluh orang lain, pukul 19.00 diangkut dengan truk ke Lubang Buaya. Diturunkan di kebun karet. Disana, ia melihat banyak orang berseragam hijau. Oleh Sulami, mereka dibawa ke sebuah rumah gedek, diserahkan ke seorang wanita bagian penjahitan. Setelah itu, Sulami meninggalkan mereka.

Mereka disuruh menjahit hingga pukul 22.00. Jahitan-jahitan itu merupakan bendera-bendera kecil merah-putih. Tanggal 30 September, mereka bangun pagi 07.00 dan melihat tentara berbaju loreng, baret merah, menyandang senjata. Marsijem mengaku hanya melanjutkan pekerjaan menjahit bendera, ia selesai sekitar 100 buah.

Tanggal 01 Oktober pagi, Marsijem dibangunkan oleh wanita Pemuda Rakyat berseragam hijau. Wanita itu berkata,"Bangun, bangun, Pak Prapto sudah kepegang." Marsijem lalu keluar, melihat Soeprapto yang berbaju piyama duduk di kursi di ruang P3K dan dijaga 5 orang berbaju hijau. Tangannya diikat ke depan dengan kain. Marsijem lalu meninggalkan ruangan itu, kembali ke tempat menjahit. Dari situ, ia mendengar orang-orang (laki-laki dan wanita) bernyanyi-nyanyi. Setelah itu, ia mendengar tiga kali tembakan dan melihat jenazah diangkut dengan tandu melewati tempatnya. Oleh Pemuda Rakyat dikatakan, itu adalah Soeprapto. Setengah jam kemudian, ada lagi jenazah diangkut melewati tempat Marsijem. Orang-orang mengatakan itu adalah Parman. Yang mengangkutnya adalah orang-orang berbaju loreng. Pada pukul 11.00, mereka diantar ke Jakarta dengan truk.

13. Wasirah istri Sumadi, seorang guru SD dan juga kerja di NV Mantrusi. Ia tak mau bicara, cuma mengatakan pemeriksaan pertama terlalu berat. Ia terpaksa mengaku dalam proses verbal karena takut.

siemens
13-12-2001, 09:12 AM
Bang Sapta[i], emen tadi abis baca lagi postingan yg depan2. Trus kebaca ini :

[i]Originally posted by rojali
konon semua terbitan, tulisan nyang berkisar waktu 1965 kalo nggak dibakar abis, disita ma dibuang jauh-jauh termasuk dari ingatan oleh rejim orba nyang memonopoli sumber informasi dengan terbitan i.e. ab, berita buana etc. karna itu sulit tuk cari perbandingan pakah mayat pahlawan revolusi disayat-sayat oleh gerwani hanya isap jempol orba ma ab, sampe wartawan tvri nyang abadikan pengangkatan mayat pahlawan revolusi mengaku tidak melihat ada bekas sayatan nyang digembar-gemborkan:)


Nah, emen pingin tahu kelanjutan pendapat ini. Berdasarkan buku-buku dan referensi yang Bang Sapta baca, bagaimana mengenai penganiayaan ini? Ada atau tidak? Bagaimana menurut visum dokter?
Eh ada pertanyaan satu lagi, Yang melihat jenasah korban siapa aja sigh?[waktu pengangkatan dan waktu pemeriksaan jenasah]

Makasih yah Bang
p.s: maaf yah kalo rada melenceng dari crita yg diatas

Ciaooo.. :D :D

Sapta Nugraha
13-12-2001, 03:49 PM
hai siemens ... ::bye:: ... apa kabar ;( :) ... nanti yaa sabar ... penjelasan saya pasti sampai kepada pertanyaan kamu itu ... :) :) ...

Kucing Langit
13-12-2001, 09:24 PM
yak... silahkan dilanjutkan lagi kawan Sapta.

hehehe... lama-lama makin serem nih... tunggu, tak ambl sarung dulu ya.

siemens
14-12-2001, 07:55 AM
Originally posted by Sapta Nugraha
hai siemens ... ::bye:: ... apa kabar ;( :) ... nanti yaa sabar ... penjelasan saya pasti sampai kepada pertanyaan kamu itu ... :) :) ...


emen baik2 aja ko :D makacih yahh.... :)
ayo dong diterusin critanya dah siap2 bawa cemilan nih!:D

ps: tapi jgn lupa pertanyaan emen yah :)

siemens
14-12-2001, 07:56 AM
Originally posted by Kucing Langit
yak... silahkan dilanjutkan lagi kawan Sapta.

hehehe... lama-lama makin serem nih... tunggu, tak ambl sarung dulu ya.


kenapa bawa sarung? apa hub-nya crita serem sama sarung?? ;( :D

bubbl3
15-12-2001, 02:41 AM
Originally posted by psybuster

menutupi ketakutan suara hati...::toeng:: ::ngg::

ehueuhe... jgn kalah kejam donk... ::devil:: *bales* ::toeng::

eh iya, pak/om sapta nugraha.... ;D alasannya para jendral itu disiksa dulu kenapa sih????? ada alasan politik ato apa ga??? ::bingung::

psybuster
19-12-2001, 09:28 AM
Originally posted by bubbl3


ehueuhe... jgn kalah kejam donk... ::devil:: *bales* ::toeng::

eh iya, pak/om sapta nugraha.... ;D alasannya para jendral itu disiksa dulu kenapa sih????? ada alasan politik ato apa ga??? ::bingung::
::BBB:: ... setelah masuk kantor lagi... tetep mantengin...

Sapta Nugraha
20-12-2001, 10:58 PM
maksudnya ??? ... ;( ....

bubbl3
21-12-2001, 02:09 AM
maksudnya... kenapa ga langsung dibunuh ajah??? ngapain pelaku2nya nyiksa super kejam dulul???
;D

siemens
26-12-2001, 09:36 AM
ko blom ada lanjutannya?? :D

goenk_16
26-12-2001, 02:53 PM
wah, lanjutannya mana yah... ???

Kucing Langit
26-12-2001, 07:01 PM
Originally posted by siemens



kenapa bawa sarung? apa hub-nya crita serem sama sarung?? ;( :D

ya ada dong mas! gunanya buat 'krukupan' kalo ceritanya makin horor.

ya lanjuut!!!

fleizenkruz
26-12-2001, 11:45 PM
jangan-jangan..................

psybuster
27-12-2001, 09:03 AM
om sapta diciduk?..... ::ngg::
dilenyapkan? ... ::ngg::
dieliminir? .... ::ngg::
di.....? ::ngg::

Sapta Nugraha
28-12-2001, 04:41 PM
aku ada kok ... :) :) .. lagi istirahat.. menikmati liburan natal dan tahun baru juga lebaran ... hihihihi ... :D .... dilanjutinnya nanti yaaa .... suabar yaaakkk ....

psybuster
28-12-2001, 05:07 PM
Originally posted by Sapta Nugraha
aku ada kok ... :) :) .. lagi istirahat.. menikmati liburan natal dan tahun baru juga lebaran ... hihihihi ... :D .... dilanjutinnya nanti yaaa .... suabar yaaakkk ....
:o gua kirain.... :o

rojali
30-12-2001, 09:25 PM
mungkin ada baiknya disebutkan sumber penceritaan, karna buku putih nyang dikeluarkan setneg/AD, barangkali tidak memasukan sumber dari AU (serigala Halim) yang bisa berceita detil mengenai suasana di lubang buaya, karna termasuk wilayah AU.

sayang sekali bahan mengenai gerwani dan aktivitasnya sudah dihancurkan, tapi biasanya di library of congress, selalu ada copy tersimpan. akan menarik tuk mengetahui apa aktivitas mereka, termasuk kegiatan menjelang terjadinya peristiwa 30 september.

yang jelas salah satu kutipan sapta, ada cerita di belakang kejadian ini, dengan pelaku dan sumber nyang masih hidup.

"Hal yang sangat membuat saya dan keluarga kami sakit hati; di Lubang Buaya sudah jelas ketahuan bahwa Pierre bukan Jenderal Nasution. Tapi, dia tetap disiksa dan dibunuh."

"Tim Cakrabirawa yang datang ke rumah Pak Nas di Jalan Teuku Umar adalah Pelda Djahurub. Sampai sekarang, orang itu belum tertangkap. Demikian juga Letnan Doel Arief. Dari pengakuan mereka yang tertangkap dan diajukan ke persidangan, fakta soal Pierre sudah jelas."



sekedar informasi (sumber, ucapan langsung dari bekas petinggi abri tahun 1980-an, second man in rank), bahwa seminggu sebelum pierre diculik, ajudan pak nas dalah bekas pangdam di jatim, dan orang dekat si bapak tua:)

Sapta Nugraha
02-01-2002, 03:44 PM
abaaaannggg jaleeeee .... :D:D .. apa kabra ??? .. weeeh udah lama ndak denger kabarnya ... met taun baru ...

eh eh aku edit yaa ... biar rapi an dikit ... hehehehe .. :) :) ...

Sapta Nugraha
02-01-2002, 03:53 PM
14. Dedeh, 26 tahun, bekerja di PKD Djaja. Pada 30 September disuruh berkumpul di DPP Gerwani. Kira-kira pukul 16.00 - 17.00 diangkut ke Lubang Buaya. Disana diterima seorang kapten AURI, lalu diangkut ke tempat menjahit oleh Ibu Hardjo, pimpinan bagian jahitan. Ia kebagian tugas menjahit bendera. Pada 1 Oktober, Dedeh bangun pada pukul 06.30, mendengar cerita dari Eni dan para PR bahwa Jenderal Yani sudah dibunuh dirumahnya. Di sekitarnya terlihat Cakrabirawa berbaret merah dan PR berbaju loreng. Ia juga mendengar dari mereka bahwa ada jenderal-jenderal lain ditembak disitu. Dedeh menanyakan, mengapa jenderal-jenderal itu dibunuh. Dijawab oleh para Cakra: 'para jenderal itu tidak memperhatikan bawahannya, dia hanya mementingkan diri sendiri.' Dari orang-orang di sekitarnya, Dedeh mendengar jenderal-jenderal itu dimasukkan dalam sumur.

Sapta Nugraha
02-01-2002, 04:01 PM
menjawab pertanyaan SIEMENS ...

Beberapa jam setelah pengangkatan jenazah para korban dari sumur Lubang Buaya, Mayjen Soeharto membentuk tim otopsi. Tim ini merupakan gabungan Tim Kedokteran ABRI dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Selain Arif Budianto (FKUI), yang waktu itu dokter termuda di dalam tim, anggota lain antara lain Prof. Soetomo Tjokronegoro (FKUI), Brigadir Jenderal Prof. Roebiono Kertapati (Direktur RSPAD dan patolog), dr. Frans Pattiasina (patolog dari RSPAD) dan dr. Ferry Liauw Yan Siang (FKUI). Dari nama tersebut diatas, tinggal Arif dan Ferry yang masih hidup.

Menurut Prof. Dr. Arif Budianto (dulu bernama Liem Joe Thay), hasil otopsi ternyata tidak seperti yang diberitakan mass media. Orang yang dulunya lebih dikenal sebagai itu adalah dokter ahli forensik yang merupakan anggota tim yang menangani tujuh jenazah pahlawan itu.

.....bersambung....

rojali
02-01-2002, 05:41 PM
sapta, pakabar juga. lanjutan ceritanya jadi lebih detil, en bikin penasaran sumbernya dan wonder kalo itu bagian dari buku putih setneg nyang keluar taon 1995/96.

kalo sumberna bagus mungkin baik dijadiin monograph, sapa tau ada nyang tertarik tuk biayain risetna:D

Sapta Nugraha
03-01-2002, 01:25 PM
senangnya bang jalee udah on line lagi sekarang ... :) ... mengenai sumber buku, waaahh sapta ada yang buku putih itu tapi sapta ngga ngambil dari situ ... soalnya itu kan versi dari pihak 'penguasa' ... :o ::devil:: .. :D:D ...

kita terusin yaa ceritanya ... :) :) ...

inilah penuturan prof. arif ...

Hari itu 4 Oktober 1965, sekitar pukul 20.00 datang satu truk dengan lebih dari 20 tentara ke rumah saya, di kawasan kampung angus, gelondongan, glodok, kota. waktu mereka datang, ibu saya kaget setengah mati. ibu pikir saya dijemput karena terlibat gerakan komunis. waktu itu kan sedang gencarnya pembersihan.

tidak tahunya, tentara itu membawa surat dari prof. soetomo tjokronegoro. dalam surat itu disebutkan saya diminta datang ke rspad gatot subroto untuk membantu beliau memeriksa mayat tujuh pahlawan yang terbunuh pada 30 september.

jadilah, setelah saya berpakaian, saya berangkat dengan truk itu ke rspad. waktu itu suasana jakarta sangat mencekam. jam malam juga masih berlaku dan di beberapa tempat ada pos penjagaan. kami diharuskan berhenti dan pengantar-pengantar saya menyebut satu kata sandi. dan, setiap berhenti di satu pos, baik yang menjemput saya maupun yang di pos, siap-siap mengokang bren-gun nya.

saya waktu itu takut sekali. itu truk tentara yang pakai terpal; dan saat itu saya duduk di depan. untunglah, semuanya berjalan dengan lancar dan kami sampai dengan selamat di rspad gatot subroto. saya masih ingat pasukan yang menjemput saya bukan rpkad [resimen para komando angkatan darat], tapi pasukan kostrad [komando cadangan strategis angkatan darat].

ketika saya sampai di kamar otopsi rspad, disana sudah ada profesor saya, soetomo dan senior saya yang lain dari forensik fkui, dr. ferry liauw yan siang. kelulusan saya dan dr. ferry cuma beda lima bulan. saya ditunjuk dr. soetomo untuk membantu dia karena memang dia kami inilah yang paling senior. saya malah paling muda diantara mereka. dr. ferry lulus lima bulan lebih dulu dari saya. saya lulus dari fkui tahun 1957 dan setelah itu langsung mengambil spesialis forensik.

Sapta Nugraha
03-01-2002, 01:47 PM
di kamar otopsi, saya melihat, secara umu, kondisi mayat memang sudah membusuk. memang tidak berulat, tapi kulit arinya sudah ngelotok. tidak juga terlalu kembung, tapi sedikit berlendir dan kulitnya kekuningan. semua mayat masih berpakaian lengkap seperti yang dipakai terakhir. itu sebabnya tim kami mendata benda-benda yang melekat di tubuh mayat.

saya memeriksa mayat pertama mulai dari giginya. diantara dua gigi serinya, juga gigi taringnya, ada gigi kecil dan aneh. itu kelainan, namanya mesio dentist. saya melihat keanehan itu. lalu, saya tanyakan ke dokter angkatan darat, dokter giginya, adakah yang punya gigi begitu. dia langsung bilang, 'oh. ini jenderal yani!'

ketika memeriksa mayat jenderal yani ada satu hal yang saya paling ingat. bola matanya sudah copot dan mencelat keluar. itu terjadi karena, ketika dimasukan ke sumur, kepalanya lebih dulu. di dasar sumur itu ada air, jadi kepalanya terendam disana.

saya juga masih bisa mengenali pakaian jenderal yani. dia mengenakan pakaian piyama loreng-loreng biru-putih-biru. kemeja piyamanya penuh pecahan kaca. dia kan ditembak di depan pintu kaca rumahnya. itu sebabnya sisa pecahan kacanya masih berhamburan kemana-mana. selain mayat ahmad yani, saya memeriksa jenazah m.t. haryono.

prof_lupin
04-01-2002, 09:33 AM
waduuhh...makin seyemm aja nii.......ambil kopi dulu aahh..

Sapta Nugraha
04-01-2002, 10:43 AM
eh eh ... gue bagi kopi nya yaaa ... :o ... :) :) ... sambil ngelirikin bang jalee ... "itu kacang ama pis gor dibagi-bagi kek ... ::BBB:: :D:D .. terus memandang prof lup lagi sambil memelas minta kopi ... ::devil:: ...

siemens
04-01-2002, 12:06 PM
::ngg:: mulai seruuuu.....!!
*ambil kacang sambim minum teh disambi sama tahu goreng*

mmm Selanjutnya..... gimana nighh??!! :D:D:D

Sapta Nugraha
04-01-2002, 04:48 PM
kami bekerja sepanjang malam itu sampai dini hari. di ruang otopsi itu digunakan dua buah meja otopsi. kami tanyakan waktu itu, apakah mayat para jenderal akan diotopsi lengkap atau tidak. para jenderal yang hadir, termasuk pak harto, bilang tidak usah.

tentang pak harto, sewaktu kami sedang sibuk-sibuknya melakukan otopsi, beliau juga datang. ada beberapa jenderal yang masuk ke ruangan otopsi saat itu. pak harto tidak bicara apa-apa ketika itu; dan saya juga tidak sempat memperhatikan karena saya sedang sibuk bekerja. yang saya ingat, saya sedikit mengangkat kepala mayat yang sedang saya periksa dan baru sadar pak harto ada diruangan. dia mengenakan battle dress (pakaian tempur). kabarnya, rspad dari malam sampai pagi dijaga ketat pasukan kostrad. tapi, kepada kami tidak ada tekanan apa pun, khususnya kepada saya. itu sebabnya saya berani bicara seperti itu kepada rekan-rekan yang lain.

di luar, kami sudah mendengar berita yang menyeramkan soal kondisi penis korban. karena itu, kami melakukan pemeriksaan yang lebih teliti lagi tentang hal ini.

tapi, apa yang kami temukan malah kondom di kantung salah satu korban yang bukan jenderal. ada juga korban yang ditemukan tidak disunat. kami periksa penis-penis para korban dengan teliti. jangankan terpotong, bahkan luka iris saja juga sama sekali tidak ada. kami periksa benar itu, dan saya berani berkata itu benar. itu faktanya.

siemens
07-01-2002, 08:29 AM
terussss .... ::ah:: kenapa dimedia massa jaid spt itu beritanya?? ;( :)

psybuster
07-01-2002, 08:47 AM
::ngg:: *duduk rapetan keorang2 pada..*

Sapta Nugraha
07-01-2002, 01:12 PM
Originally posted by siemens
terussss .... ::ah:: kenapa dimedia massa jaid spt itu beritanya?? ;( :)

aduuuhh ... siemens ini yaa hobi sekali bertanya ... :o :D ... nanti pasti ada penjelasan yang sampai ke hal yang kamu tanyakan ... :) .. sabar yaaakkk ... :) :)

siemens
07-01-2002, 01:41 PM
8D emen kan sering nanya biar tauu bang sapta :D:D:D

Sapta Nugraha
07-01-2002, 01:48 PM
satu lagi, soal mata yang dicongkel. memang kondisi mayat ada yang bola matanya copot, bahkan ada yang sudah kotal-katil. tapi, itu karena sudah lebih tiga hari terendam, bukan karena dicongkel paksa. saya sampai periksa dengan seksama tepi matanya dan tulang-tulang sekitar kelopak mata, apakah ada tulang yang tergores. ternyata tidak ditemukan.

ketika saya dan prof. roebiono sedang memeriksa salah satu mayat, saya melihat di dadanya ada peluru yang kelihatan ngumpet agak di permukaan kulit. prof roebiono lalu bilang 'itu ambil saja, nantu gue tutupin!' dia tutupin saya sama badannya, lalu saya ambil peluru itu sambil sedikit mencungkil. lalu, saya serahkan ke prof roebiono. entahlah, sekarang peluru itu ada di mana. saya juga lupa dari tubuh siapa peluru itu saya ambil.

kalau dikatakan sama sekali tida ada penyiksaan itu juga tidak betul. mayat-mayat itu ditembaki berkali-kali. pergelangan mayat haryono malah jelas sekali hancur karena bebatan perekat yang direkat kuat-kuat dan diikat sejak dari lubang buaya. saya tak percaya, mayat yang dijatuhkan ke sumur bisa hancur pergelangan tangannya dan telapak tangan seperti itu. kepala mayat jenderal soetojo pecah. itu juga kami tidak bisa bilang karena penyiksaan, karena kami tak ada disana. tapi, yang jelas itu luka tembak. seluruh korban memang ada, namun, karena kondisi mayatnya sendiri sudah busuk, kami tak bisa bedakan lagi apakah kondisi mayat sesudah mati atau sebelum mati.

prof_lupin
08-01-2002, 10:57 AM
makin miris nih ati guwe...dengerin critanya kawan sapta......sedih..brutal amat yaa...pengin deh liat muka dalang semua itu....

Sapta Nugraha
08-01-2002, 12:55 PM
iya nich .. saya mau nerusin juga tapi merinding ... tatttuuuuttt ..... ::ngg:: .... ::devil:: ...

siemens
08-01-2002, 01:06 PM
yahhhh............. jgn takut duluan dong bang lanjutin yahh :D:D:D

Sapta Nugraha
08-01-2002, 04:46 PM
seperti dikatakan tadi, kami sampai was-was setelah selesai memeriksa mayat karena kami tidak menemukan penis yang dipotong; sehingga waktu membuat tulisan visum, semua anggota fim forensik ini ketakutan. bagaimana ini dilakukan ? sementara itu, diluar sudah berkembang sangat santer cerita-cerita yang tidak benar dan terlalu dilebih-lebihkan soal kondisi mayat perwira.

saya sebagai yang termuda di kelompok tim forensik cukup tahu diri. saya bicara paling akhir, setelah senior-senior saya. waktu itu, saya bilang, ini adalah tugas negara. bolehlah kami anggap negara adalah wakil dari yang maha kuasa. karena itu, kebenaranNyalah yang harus dikemukakan. kalau sampai itu yang dipersalahkan, biarlah kami yang tujuh orang ini masuk penjara. tapi, saya yakin itu tak mungkin terjadi. kenapa ? karena, saya yakin itu tak mungkin terjadi. kenapa ? karena, kami melakukan yang benar. hal yang benar itu memang tak pernah terungkap di surat kabar di sini, tapi di koran-koran amerika pernah diungkapkan kebeneran ini.

buat saya, selama melakukan otopsi, saya belum mendengar pemberitaan yang luaran itu. saya murni bekerja objektif. objektifitas saya seratus persen. cuma, saya tidak tahu anggota yang lain. saya baru tahu berita-berita itu waktu selesai tugas di dini hari tanggal 05 oktober, kami duduk di ruangan besar di rspad membicarakan hasil tadi.

setelah selesai diperiksa, semua mayat itu dimasukkan ke dalam peti dan dibawa ke markas besar angkatan darat yagn di jalan veteran. mula-mula saya dibawa ke kostrad dulu, yang berada di depan gambir. upacara berlangsung di markas besar angkatan darat. setelah itu saya pulang. jadi, saya melakukan otopsi dari malam 4 oktober sampai pagi 5 oktober 1965.

prof_lupin
08-01-2002, 05:06 PM
::sebel:: 9 taun (SD - SMP) guwe dicekokin crita kalo mereka diiris-iris.... gilee beneerrrr..!!!!::bingung:: ;(

Sapta Nugraha
09-01-2002, 03:34 PM
sedikit demi sedikit terkuak kebenarannya ... :) :) ...

siemens
10-01-2002, 07:37 AM
::ngg:: *ngerinya .. sejarah yg kita pelajarin banyak ngga benernya* ::ngg::

psybuster
11-01-2002, 01:28 PM
berarti dari kecil kita udah diteror? ;(

prof_lupin
11-01-2002, 02:13 PM
yaa ..kira-kira begitchulah......::BBB::

indoktrinasi model tentara.......(!!!!?????!!!)...... =( =(

bukankah pemimpinnya dulu juga tentara?....panglima lagi!!!::ketawa:: ::hhh:: .........

topaz
13-01-2002, 08:51 AM
kalo menurut gue sih kata diteror gak gitu tepat. anyway, gue bbrp hari yg lalu survey ke bbrp temen gue (dulunya semua dari skul yg berbeda beda) dan gak ada satupun dari mereka yg diceritain sama gurunya ttg seputar sept 65 ini secara hyperbolik (misalnya mayat diiris iris, 'anunya' udah gak ada, dll) termasuk gue sendiri juga gak pernah di ceritain kaya gitu. mereka semua dapet pengetahuannya menurut buku ato dari guru yg ngambil referensi dari buku buku juga. eh mr. lupin, dulu ente skulnya dimana sih ;D ?
gue bilang sih yg ada kita dibohongin sama cerita yg dibuat buat ama mereka mereka itu, sesuai sama apa yg mereka pengen kita (dan mereka sendiri) dengar and lihat.

siemens
14-01-2002, 08:23 AM
lanjutannya mana nigh bang sapt ?? ::bentar::

prof_lupin
14-01-2002, 11:12 AM
Originally posted by topaz
kalo menurut gue sih kata diteror gak gitu tepat. anyway, gue bbrp hari yg lalu survey ke bbrp temen gue (dulunya semua dari skul yg berbeda beda) dan gak ada satupun dari mereka yg diceritain sama gurunya ttg seputar sept 65 ini secara hyperbolik (misalnya mayat diiris iris, 'anunya' udah gak ada, dll) termasuk gue sendiri juga gak pernah di ceritain kaya gitu. mereka semua dapet pengetahuannya menurut buku ato dari guru yg ngambil referensi dari buku buku juga. eh mr. lupin, dulu ente skulnya dimana sih ;D ?
gue bilang sih yg ada kita dibohongin sama cerita yg dibuat buat ama mereka mereka itu, sesuai sama apa yg mereka pengen kita (dan mereka sendiri) dengar and lihat.

pernah nonton film SOB???.....
disitu digambarkan dgn jelas penyiksaan yg dilakukan terhadap para perwira tentara tersebut.....
itu salah satu bentuk doktrin yang dilakukan agar kita betul-betul benci dan menjaga supaya komunis tidk berkembang lagi...

guwe dulu skul dijakarta juga dan jaman guwe itu setiap jumat ada pemutaran film tentang sejarah bangsa....diantaranya SOB, janur kuning, 6 jam di jogja, de el el......gitchu....

topaz
16-01-2002, 07:46 AM
ooooo gitu, ck ck ck jadi kayak semacam dicuci otaknya juga yah dengan diputerin video2 itu.

anyway.... bang sapta.... **celingak celinguk** kemana yah??

psybuster
16-01-2002, 08:39 AM
:o ditungguin neh...

prof_lupin
16-01-2002, 10:17 AM
bang sapta (celingak celinguk juga..) ... lama adul sambungannya.... ampe guwe ::sleep:: ::sleep2:: .......

Sapta Nugraha
16-01-2002, 03:16 PM
Kalau benar bahwa hasil otopsi para jenasah tidak menunjukkan bekas-bekas penyiksaan seperti pemotongan penis, barangkali ada semacam propaganda media massa untuk mempengaruhi persepsi publik. Dengan demikian muncul sebuah thesis tentang peran media massa terhadap keberhasilan Mayjen Soeharto menyapu G 30 S, PKI, dan (akhirnya) membersihkan lawan-lawan politiknya.

Target pertama propaganda media massa adalah RRI (Radio Republik) yang waktu itu menjadi sarana komunikasi monologal yang primer. Sepanjang hari Jumat, 1 Oktober, RRI beberapa kali menyiarkan pengumuman dari Untung CS yang masing-masing cuma berselang beberapa jam. Pukul 07.00 ada siaran tentagn tindakan yang diambil terhadap Dewan Jenderal. Kemudian Pukul 09.00 ada siaran lagi tentang pembentukan Dewan Revolusi. Pukul 13.00 muncul berita dari Brigjen Sabur bahwa Presiden Soekarno dalam keadaan selamat. Tiga-empat jam kemudian, muncul lagi berita tentang keputusan kenaikan pangkat militer yang turut serta dalam G 30 S. Dan setelah maghrib, ketika RRI sudah dikuasai RPKAD, gantian Soeharto "mengudara" untuk menenangkan masyarakat sembari mengabarkan bahwa dirinya mengambil alih komando AD.

Pemberitaan sepotong-sepotong - mirip breaking news itu - sebetulnya cukup questionable. Mengapa Untung dan Dewan Revolusinya tidak mengumumkan terlaksananya operasi G 30 S, pengumuman Dewan Revolusi, pemberitaan bahwa Presiden Soekarno dalam keadaan aman - tidak dalam satu paket berita ? Bisa saja, pemberitaan yang sepotong-sepotong itu memang untuk membuat masyarakat bingung, dan terpaku di depan radio masing-masing untuk mendengarkan perkembangan situasi berikutnya. Dengan demikian, kelompok putsch dapat melancarkan skenario yang telah dipersiapkan.

Hari-hari berikutnya, tampak jelas media massa cetak di tanah air berada dalam genggaman Soeharto. Berita-berita penganiayaan para jenderal di Lubang Buaya, tentu saja merupakan konsumsi pers yang paling disukai. Hot News semacam itu, apalagi dikemas seiring dengan opini publik yang terbentuk mirip dengan bola salju, pasti akan membuat koran mana pun menjadi best-seller.

Kalau benar institusi pers telah menjadi alat propaganda, apa keuntungan yang diharapkan oleh Mayjen Soeharto dan kawan-kawan ? Tentu, pers dimaksudkan sebagai pembentuk opini publik. Kalau sudah tercipta, berarti tinggal mendesak Presiden Soekarno untuk membubarkan PKI. Ketika Bung Karno terjebak dalam ambiguitas atau sikap yang mendua, Mayjen Soeharto tidak segan-segan mengambil inisiatif sendiri - misalnya tampak pada sikap penolakannya terhadap pengangkatan Soekarno atas Mayjen Pranoto sebagai pimpinan AD; serta "provokasi" terhadap sidang kabinet 11 Maret 1966 yang melahirkan Supersemar.

topaz
17-01-2002, 06:06 AM
**towel towel prof. lupin....**

lup...lup... bangun tuh, ceritanya dah nongol....

psybuster
17-01-2002, 09:25 AM
*berpikir keras*
::bentar2::

prof_lupin
17-01-2002, 10:16 AM
::sleep2:: .... ::bonyok:: ......::ah:: 8O ..hhhahhh.. ::bingung::
uhh..kelewat yak... :-) ::hhh:: ;D

topaz
17-01-2002, 06:51 PM
hwehhehehe iya tuh, pulas yak tidurnya....

goenk_16
18-01-2002, 01:39 PM
::sleep2::::sleep2:: wah sampe ngantuk nich tungguin kang sapta cerita lagi

prof_lupin
22-01-2002, 01:29 PM
:o :o ...hoooeeeiiiyyy...huuoooeeiiyy...manaa