risma
27-07-2000, 04:57 PM
Merenungi perjalanan kita selama ini ...
Begitu penuh luka, begitu penuh duka
Berjuta-juta desah nafasku ...
selalu saja hanya satu nama yg tersisa.
Aku yg selalu berpikir kaulah satu-satunya yg selalu kuandalkan.
Meski nyatanya kau tak pernah sadar telah melemparkanku ke dlm keterpurukanku.
Kucoba susah payah menyusun kembali keping-keping yg retak dalam sebuah persahabatan ...guci antik dan indah.
Nyatanya ada keping-keping yg tak bisa kutemukan atau tak bisa kubentuk.
Mengamati ketidakberadaan di sampingmu ... hanya membangkitkan sketsa lama yg berdebu.
Selalu sketsa itu muncul bagai cerita yg tak berhenti mengalir.Haruskah sketsa itu kubakar dlm emosi gerahku?
Nyatanya sketsa itu tak berakhir hanya sebuah sketsa. Saat lenganku tak mampu bergerak tanpa kau genggam,
saat ragaku tak mampu berdiri tanpa kau sangga ... aku menegaskan sketsamu.
Sketsa ...berupa kalian ..
Kau telah memperjelas bayangan disampingmu. Sosok dalam sketsamu.
Sekali lagi tanpa kau sadari ... kau lumpuhkan jiwaku.
Guci milik kita bukan lagi retak, tapi hancur berantakan. Bagaimana kita menyatukan kembali retakan-retakan dan potongan-potongan yg tersebar begitu luas?
Sapukan saja semua yg hancur itu!
Biarkan retakan-retakan itu terkubur!
Lalu setelah itu apa?
Memilah-milah lagi guci yg lain?
Merancang kembali ukiran-ukiran guci kita?
Mengisi lagi guci baru?
Apa kita benar-benar ingin memulai lagi dari nol? Atau kita ingin menjalani apa yg tersisa?
Apa yg tersisa? Atau menjalani apa yg masih ada ... seperti sebelum guci itu retak?
Betapa sederhana! BEtapa Rumit!
Betapa kau ... kalian ...
Betapa aku terhempas begitu jauh!!!
on a year our "good-bye"
Begitu penuh luka, begitu penuh duka
Berjuta-juta desah nafasku ...
selalu saja hanya satu nama yg tersisa.
Aku yg selalu berpikir kaulah satu-satunya yg selalu kuandalkan.
Meski nyatanya kau tak pernah sadar telah melemparkanku ke dlm keterpurukanku.
Kucoba susah payah menyusun kembali keping-keping yg retak dalam sebuah persahabatan ...guci antik dan indah.
Nyatanya ada keping-keping yg tak bisa kutemukan atau tak bisa kubentuk.
Mengamati ketidakberadaan di sampingmu ... hanya membangkitkan sketsa lama yg berdebu.
Selalu sketsa itu muncul bagai cerita yg tak berhenti mengalir.Haruskah sketsa itu kubakar dlm emosi gerahku?
Nyatanya sketsa itu tak berakhir hanya sebuah sketsa. Saat lenganku tak mampu bergerak tanpa kau genggam,
saat ragaku tak mampu berdiri tanpa kau sangga ... aku menegaskan sketsamu.
Sketsa ...berupa kalian ..
Kau telah memperjelas bayangan disampingmu. Sosok dalam sketsamu.
Sekali lagi tanpa kau sadari ... kau lumpuhkan jiwaku.
Guci milik kita bukan lagi retak, tapi hancur berantakan. Bagaimana kita menyatukan kembali retakan-retakan dan potongan-potongan yg tersebar begitu luas?
Sapukan saja semua yg hancur itu!
Biarkan retakan-retakan itu terkubur!
Lalu setelah itu apa?
Memilah-milah lagi guci yg lain?
Merancang kembali ukiran-ukiran guci kita?
Mengisi lagi guci baru?
Apa kita benar-benar ingin memulai lagi dari nol? Atau kita ingin menjalani apa yg tersisa?
Apa yg tersisa? Atau menjalani apa yg masih ada ... seperti sebelum guci itu retak?
Betapa sederhana! BEtapa Rumit!
Betapa kau ... kalian ...
Betapa aku terhempas begitu jauh!!!
on a year our "good-bye"