View Full Version : Yogyakarta Tempo Doeloe
Sapta Nugraha
08-03-2001, 04:35 PM
Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata, sebenernya punya ciri khas. Yakni tugu yang berdiri tegak sebelum kita memasuki Jalan Pangeran Mangkubumi dan Malioboro. Hingga saat ini tugu itu masih tetap berdiri. Tetapi, tugu ini sudah melalui revisi karena sebelumnya runtuh akibat gempa bumi.
Tugu yang berdiri tegak itu, seakan menjadi saksi sejarah perubahan dan perkembangan Yogyakarta hingga hari ini. Pada waktu tugu itu berdiri, tentu saja situasinya belum seramai sekarang. Situasinya masih tenang, lengang, sepi dan belum disibuki oleh suara bising kendaraan berlalu lalang. Bahkan, bangunan - bangunan di sekitarnya pun masih sederhana. Masih banyak pohon tumbuh merindangi kawasan di sekitarnya.
Tugu yang berdiri di perempatan Jalan Diponegoro (sebelah barat), Jalan Jend. Sudirman (sebelah timur), Jalan Pangeran Mangkubumi (sebelah selatan) dan Jalan AM. Sangaji (sebelah utara), adalah simbol. Simbolisasi dari semangat persatuan dengan masyarakat, yakni semangat golong gilig. Diwujudkan dalam bentuk tugu. Ini merupakan perintah Pangeran Mangkubumi yang waktu itu sudah bertahta sebagai Sultan bergelar Hamengku Buwono I. Sehingga diharapkan orang yang memandangnya akan teringat pada perjuangan melawan penjajah dengan tekad golong gilig. Tetapi, menurut pencatatan KRT. Partahadiningrat, tidak ada petunjuk kapan tugu itu dibangun.
:) :)
bersambung ..
MarlboroMan
08-03-2001, 06:44 PM
Malioboro Tempo Doeloe
http://www.homestead.com/jarijari/files/Foto_10.jpg
Sapta Nugraha
09-03-2001, 12:28 AM
::waw:: .. eh Da .. makasih yaa .. makasih .. jadi lebih bernuansa dan menarik topiknya ... :) {:
carminaburana
09-03-2001, 07:44 AM
yogyakarta is my favourite city !
ok....carm akan beri salam dulu pd bapak "sri sultan" : monggooo, sultan.... ::maap::
mengapa Yogyakarta disebut sebagai "kota pelajar" ?
thn 1946 - 1949, yogyakarta merupakan ibu-kota republik indonesia. saat itu para pemimpin bangsa indonesia berkumpul dikota ini, yg juga disebut sebagai kota perjuangan. seperti halnya sebuah ibu-kota, yogyakarta banyak menerima pelajar dari seluruh indonesia, dan ikut ber-partisipasi dalam pembangunan negara yg baru merdeka. tapi untuk membangun sebuah negara, diperlukan tenagaČ terlatih, terdidik, etc. oleh sebab itu pemerintah indonesia mendirikan universitas yg dikenal dengan nama: Universitas Gajah Mada.
inilah universitas negri pertama yg lahir pada masa kemerdekaan.
setelah itu di-dirikan Akademi Seni Rupa Indonesia dan Akademi Musik Indonesia, lalu Perguruan Tinggi Agama Islam Negri, yg kemudian menjadi IAIN Sunan Kalijaga.
disamping itu didirikannya lembaga pendidikan negri dan swasta, sehingga hampir semua ilmu pengetahuan berkembang dikota ini. transportasi yg digunakan pelajar, pegawai, pedagang merupakan sepeda dan sepeda motor.
oleh sebab itu, yogyakarta juga dikenal dengan sebutan: "kota sepeda".......(yaah, ada juga delman dan mobil milik para sinyoČ itu)
tidak percaya ? coba lihat gambar diatas dari Marlboro Man.
dan dalam gambar itu juga ada sapta dan carmina yg sedang duduk di delman. and now we're going to visite our families at "gembira loka"....are you ready, sapta ?
bye everybody ::bye::
monggoooooo
Sapta Nugraha
09-03-2001, 11:26 AM
"lhoo, carm .. dah lama banget ndak muncul, kemana aja ? ;( ,eh eh mari .. mari .. kita visit our old family in Gembira Loka .. ::devil:: .. "
"makasih banget buat tambahan artikelnya yaa, carm .. merci beaucoup .. merci beaucoup .. :) "
silverjade
10-03-2001, 02:38 PM
Aku nggak asli Yogya sih,dulu punya rumah disana (Mom,y d u sold it....I told u not to ::nangis:: ).Dulu aku seneng banget ama Yogya,tapi sekarang kayaknya terlalu ramai ya.... (aku tipe makhluk penyendiri :D ).Btw,ada yang tau alamat Pak Umar Khayam yang dulu Guru besar di fak.Bahasa UGM ?Beliau Yang ngarang buku Para Priyayi ,Seribu Kunang-kunang di Manhattan en 3 buku Mangan ora mangan kumpul .Aku pengen banget nyuratin die nih,dari dulu nyari alamatnya nggak ketemu-ketemu.
Sapta Nugraha
20-08-2001, 11:53 AM
sambungan ...
"Menurut perkiraan saya, tugu itu dibangun setahun sesudah Perjanjian Giyanti. Bahkan setelah Keraton Yogyakarta selesai dibangun," jelas KRT> Partahadiningrat dalam salah satu tulisannya. Alasannya, letak tugu ini kurang lebih dua setengah kilometer sebelah Sitihinggil Keraton Ngayokyakarta. Di sisi lain, tugu ini juga berfungsi sebagai tugu pemandangan kalau Ingkang Sinuwun sedang sinawaka di bangsal Mangunturtangkil. "karena Sitihinggil itu jadi, setidaknya setelah ada ketentuan letak Sitihinggil," tulis Partahadiningrat.
surfergirl
21-08-2001, 12:32 PM
kayanya malioboro tempo doeloe asik bgt yah
kalo sekarang kan rame dgn PKL2 gituh
ada nggak yg bisa ceritain malioboro dulu kayak apa (katanya buat ngumpul seniman2), yg pastinya beda bgt dgn sekarang?? trus gedung/bangunan2 apa aja yg masih dipertahankan sampe skrg? nilai historis malioboro dsb...
ada yg tau??
elien
22-08-2001, 10:12 AM
Eh jangan lupa kalau ngomong soal Yogya, sebagai kota pelajar.Dengan yg namanya Taman_siswo itulah sekolah rakyat pertama yang di buka oleh bangsa pribumi dan untuk semua golongan rakyat pirbumi.Yogya karta memang indah tuk di nikmati,dan di kenang gue jadi inget jaman petengahan 70dan awal 80an Sinisono Gedung dekat Gedung Agung(istana negara) yang pada janman Belanda dulu jadi sasaran bom::bonyok::.Di Senisono lah kita dulu sering mengadakan acara,seperti Teater Gandrik, disana juga Pak Tino Sidin guru gambar pernah mengajar untuk umum kira2x tahun74-75an,juga THR yang sekarang menjadi Purawisata, di sana lah dulu tempat pagelaran wayang orang selalu di pentaskan, saya rasa sampai sekarang masih ada tuh??DI dalam Purawisata.kurang jelas sih solanya saya sudah meninggal kan jogja selam 13 th,tapi jogja masih jadi kota tercinta.
ada yg bisa kasih kabar apakah jatilan yg pentas setiap malam minggu di alun-alun masih ada?mereka juga kadang mentas di depan touris information,dareh sekitar hotel
mutiara. SLamat Datang Ke kota kami JOgja karta Indah dan megah,Slamat datang kawan kami menyambutmu ,slamat-slmat datang.......ada yg ingat terusannya enggak????::angel2::
Sapta Nugraha
22-08-2001, 01:23 PM
sambungan ...
Sumber lain, misalnya R. Soedjono Tirtokoesoemo dalam bukunya, De Garebegs in het Sultanaat Jojakarta, 1931, tugu atau disebut dengan Whitte Paal oleh orang Belanda, dibangun tahun 1755 setelah Kasultanan Ngayokyakarta berdiri. Dinamakan Witte Paal atau pal putih, karena tugu itu menyerupai pal atau tonggak yang dicat putih, hingga tampak jelas dari kejauhan.
Tugu ini terbuat dari batu bata. Tugu ini juga dimaksudkan sebagai petunjuk bagi rakyat dari segala pelosok yang akan sowan pada rajanya. Tinggi tugu itu sekitar 25 meter. Berbentuk golong gilig. Artinya puncaknya berbentuk bulatan seperti bola, karena itu disebut golong -- seperti nasi berbentuk bulat bundar itu. Bulatan tadi ditopang oleh kerucut yang juga berbadan bulat. Bentuk bulat panjang seperti kerucut atau silinder, dalam bahasa Jawa disebut gilig.
Menurut gambar yang terdapat dalam bukunya RW. Prawiradipura, bentuk tugu itu ramping, singset, namun gagah meskipun sederhana. Seperti menggambarkan watak dan identitas orang Yogyakarta, tugu yang dibangun itu memang spesifik. Hanya menurut KRT. Partahadiningrat, kita tak bisa lagi menyaksikan monumen golong gilig ciptaan Sultan Hamengku Buwono I ini, sebab pada Senin Wage, 4 Sapar tahun Ehe 1796 atau 10 Juni 1867, Yogyakarta diguncang gempa bumi maha dahsyat. Begitu dahsyatnya sehingga orang menandainya dengan candra sengkala, yang berbunyi obah terus pitung bumi. Bisa dibayangkan sungguh sangat dahsyat, sebab tujuh lapisan bumi bergerak. Kerusakan yang disebabkan karena gempa bumi ini, memang cukup mengenaskan hati.
bersambung ... :) :)
astr1d
16-09-2001, 12:27 AM
waaa terusin donk:(
lagi kangen banget ma djokja:(
paccio
16-09-2001, 10:06 AM
Jogja sekarang terlalu ramai dengan kendaraan bermotornya. Jadi kalau nostalgia anda ttg Jogja masih berupa kota pelajar dengan sepeda2, wah silakan kecewa aja.
Gue bayangin seandainya kayak kota Cambridge yg college2nya punya aturan supaya mahasiswa nggak bawa kendaraan bermotor, pasti asyik juga.
DAn yg menyedihkan, cara mereka bawa kendaaan itu nekads sekali. Padahal pelajar yah...:(
helem
28-09-2001, 07:05 AM
**ketuk ketuk pintu pager** ... permisiiii... numpang tanya teman teman.. Selain gudeg sebagai makanan khas Jogjakarta.. kira kira ada jenis yg lain lagi ndak ? ::nyam2::
helem
28-09-2001, 07:08 AM
Originally posted by silverjade
Aku nggak asli Yogya sih,dulu punya rumah disana (Mom,y d u sold it....I told u not to ::nangis:: ).Dulu aku seneng banget ama Yogya,tapi sekarang kayaknya terlalu ramai ya.... (aku tipe makhluk penyendiri :D ).Btw,ada yang tau alamat Pak Umar Khayam yang dulu Guru besar di fak.Bahasa UGM ?Beliau Yang ngarang buku Para Priyayi ,Seribu Kunang-kunang di Manhattan en 3 buku Mangan ora mangan kumpul .Aku pengen banget nyuratin die nih,dari dulu nyari alamatnya nggak ketemu-ketemu.
hiiiiiii... ada ghost... :P:P
Sapta Nugraha
06-10-2001, 01:21 PM
Tugu golong gilig ini juga runtuh sepertiganya. Sisa yang masih berdiri oleh penguasa Belanda ketika itu dinyatakan mengkhawatirkan, sehingga tahun 1889 dirombak oleh Belanda dan diganti dengan monumen atau tugu yang kita lihat hingga sekarang. Melalui pembangunan kembali tugu yang kemudian disebut sebagai Tugu Yogyakarta itu, tingginya tidak lagi 25 meter. Melainkan 15 meter. Sedang makna golong gilig yang terkandung pada tugu yang sebelumnya, sama sekali tidak tampak pada Tugu Yogyakarta yang sekarang ini. Dan, apa makna tugu yang hingga sekarang ini berdiri, belumlah dapat dikemukakan.
Sanga disayangkan tidak banyak orang yang bisa menceritakan bagaimana wujud dan bentuk tugu golong gilig sebelum terjadinya gempa bumi. Bahkan dokumentasinya pun masih sangat langka, atau tidak ada sama sekali, sebab belum banyak orang merasa perlu memikirkannya. Kecuali, coretan yang terdapat pada buku warna-warni yang dihimpun RW Prawiradipura yang menjadi koleksi Perpustakaan Museum Sanabudaya, No PB A 259.
RW Prawiradipura, menurut riwayatnya adalah kakak RM Jayadipura, pujangga besar Yogyakarta yang pernah menjadi Pangeran Pangageng Kawedanan Hageng Wahana Sarta Kriya di Keraton Yogyakarta. Melalui gambar yang terhimpun itu, golong gilig ini benar-benar sudah merasuk dalam hati nurani masyarakat Yogyakarta.
Dan, gempa bumi yang terjadi tahun 1867 itu seakan keberuntungan bagi Belanda. Sebab, sejak awal mula Belanda memang tidak menyukai tugu golong gilig karena memberi simbol kekalahannya menghadapi pasukan Pangeran Mangkubumi. Gempa bumi itu seakan menjadi dalih bagi Belanda untuk melenyapkan monumen golong gilig ini.
paccio
07-10-2001, 09:47 AM
Originally posted by helem
**ketuk ketuk pintu pager** ... permisiiii... numpang tanya teman teman.. Selain gudeg sebagai makanan khas Jogjakarta.. kira kira ada jenis yg lain lagi ndak ? ::nyam2::
SGPC Fakultas Teknik UGM plus Sego Kucing :)
helem
20-10-2001, 07:33 AM
lanjut lanjuttt sejarahnya... :):)
vBulletin® v3.7.0, Copyright ©2000-2008, Jelsoft Enterprises Ltd.