View Full Version : bahas soal penyair indonesia, 1928-1990 an
siharsimatupang
30-08-2001, 02:32 AM
mengapa pada masa sekarang, para penyair tak pernah muncul dengan bobot atau kehebohan di tengah dunia yang kosmopolit. tak seperti di masa lampau?
ramlif
04-09-2001, 07:23 PM
hm, sebenarnya kriteria penyair yang bener tuh kayak apa, ya? apalagi kriteria 'penyair yang punya bobot yang menghebohkan' itu, kayak apa, ya? ;(
anak kg belum ada kali, yah? :D
soal bobot sebuah syair, kayaknya emang nggak bisa lepas dari peradaban, dari trend... mungkin saja gaya menulis syair/sajak/puisi pada jaman sekarang ini emang beda dengan waktu jaman perang republik dulu. jujur aja, sekarang kita udah nggak lagi dipengaruhi oleh sifat heroisme mempertahankan kemerdekaan. kalau pun ada yang masih mau menyentuh sisi-sisi kehidupan manusia yang tertindas, pasti dianggap bukan satu hal yang populer.
anyway, orang sekarang rasanya nggak bisa lepas dari kehidupan hedonis, karena hedonisme udah menjadi salah satu dewa yang patut dipuja-puja, apalagi kaum intelektual muda sekarang ini.
ah, tak tahulah awak! :D
secretweapon
04-09-2001, 11:26 PM
mm.. kalo saya justru seneng sama puisi2 yg ngga terlalu menghebohkan (eh.. saya mendefinisikan menghebohkan itu dengan grandeur, megah )
surfergirl
05-09-2001, 11:41 AM
karena penyairnya kebanyakan jadi pertapa semua
apa perlu buat kita2 penyair ini diakui... apa kita promosi diri aja? hehehe, that sounds weird...
apa sebetulnya kontribusi & peranan penyair di tengah masyarakat (sekarang)??
LimeJuice
05-09-2001, 04:04 PM
Kontribusi penyair di tanah air? Ya sudah jelas dong, mereka itu kan memperkaya khazanah seni budaya kita, khususnya sastra. Apakah sastra? Suatu karya tulisan yang dibuat menggunakan bahasa yang indah...
Sayangnya, sastra udah ngga' diajarin lagi di sekolah2.. jadi bukannya para penyair lagi pada bertapa, tapi mereka akhirnya cuma terkonsentrasi di komunitas-nya sendiri, ngga' ada yang membantu untuk mempopulerkan mereka di kalangan anak2 muda... (berat amat yaaa ::nerd:: ) Makanya, elo2 pada concern dong ama mereka2 itu..
siharsimatupang
06-09-2001, 01:02 AM
bisa juga karena penyiar dan sastrawan di era lalu ingin jadi mitos sehingga tak mau disaingi oleh sastrawan generasi baru
siharsimatupang
06-09-2001, 01:24 AM
sastra (prosa, cerpen novel dan puisi) 1928- bertema nasionalisme dan mempersempit paham lokalitas, sarat dengan nilai estetika
sastra 1945, momen kemerdekaan, gaya bahasa bebas dan akulturasi bentuk barat
sastra 1966, sarat ideologi
sastra 1974, 1998, mengapa tak layak hadir. karena politik, ataukah dekadensi (bahasa keren untuk penurunan nilai) sastrawan muda pada masa itu.
ataukah para angkatan baru tak bisa membuat garis baru dalam sejarah. mengapa hanya sejarah sastra versi hb yassin, ayip rosidi, sedangkan yang baru tak punya sejarah yang baru, tak bisa disepakati????
tak punya kepercayaan diri, terlalu tebalnya mitos sastrawan lama atau karena sastrawan muda memang tak bermutu karyanya? muncul hanya karena persaingan personal namun tak kuat dalam jaringan dan kontak antar seniman (beda dengan di masa lampau)....
LimeJuice
06-09-2001, 04:51 PM
gue setuju sama pendapat ini... sastrawan muda yang kurang bermutu dan persaingannya terlalu personal. Atau, memang komunitasnya yang tidak mendukung?!
ramlif
06-09-2001, 08:34 PM
kalo dipikir-pikir, bahasa itu kan selalu identik dengan peradaban, dengan perkembangan jaman. sebenarnya kenapa kita mesti selalu terpaku dengan istilah sastra itu sebagai bahasa yang mesti memakai kata-kata yang indah? so, how about arswendo atmowiloto, hilman deelel. mereka hidup pada jaman kita. mereka berkarya dengan bahasa yang memang hidup dengan masa saat ini, so kenapa harus dianggap suatu dekadensi di dunia sastra? kenapa nggak kita akui aja kalo figur sastra era modern saat ini tuh emang seperti ini adanya.
anyway, emang enak baca sastra klasik kalo lagi suntuk. apalagi baca dialog dan narasi novel-novel jaman balai pustaka dibanding gaya bahasa dan dialog kita sekarang ini. paling nggak, bisa bikin kita senyum-senyum lah!
kembali ke soal penyair, kenapa ya penyair itu suka bikin komunitas ekslusif?
secretweapon
06-09-2001, 09:04 PM
maaf nih kalo nanya hal yg sepele:
parameter apa yg dipakai untuk bilang suatu karya sastra itu bermutu atau tidak bermutu?
saya setuju sama bung ramlif ; sastra itu bisa dilihat sebagai snapshot perkembangan suatu peradaban. hemat saya mah, lumayan banyak kok sastrawan jaman sekarang yg bagus karyanya. tapi mungkin aja selera saya yang terlalu rendah? entahlah.
hm... saya mah ngga pernah tuh berniat mengeksklusifkan diri lalu seakan2 menjadi snob karena kesukaan saya nulis puisi (paling tidak apa yang saya sebut puisi). cuma memang, teman2 banyak yang kurang suka dengan itu, jadi seakan2 menyendiri, tapi sebenernya, mungkin lebih tepat memakai istilah dikucilkan ?
ramlif
06-09-2001, 09:58 PM
tul! dikucilkan, kadang2
yang saya maksud mengekslusifkan diri tuh misalnya...
biasanya anak sastra (baca: nyeni atau yang merasa dirinya nyeni) tuh penampilannya suka laen dari yang laen. jadi kalo lagi kumpul sepertinya mereka bisa bilang: "hey, inilah aku"
anyway, rasanya puisi (sastra) nggak terlalu digalakkin di tingkat slta, ya?
surfergirl
07-09-2001, 11:46 AM
ya udah gimana kalo diadakan gerakan sastrawan masuk ke mall, promosi buku en baca puisi disana...
Rick dari Corona
07-09-2001, 12:48 PM
just FYI,
sastra masuk SMA --sekarang SMU-- bukan hal baru. sejak kira2 lima tahun belakangan Taufik Ismail dan yayasan ananda yang dipimpin istrinya sudah jalan-jalan keliling SMU dan pesantren bikin sosialisasi sastrawan-sastrawan lama dan mendorong siswa-siswi SMU-pesantren untuk bikin puisi. dari sana diseleksi untuk dimuat dalam "Kaki Langit" suplemen dari majalah Horison. Coba cek Horison lima tahun terakhir. Beberapa karya siswa-siswi itu ternyata bagus-bagus.
Juga untuk penyair masuk mall, sudah dimulai oleh QB Pondok Indah Mall. hampir tiap malam mereka mengadakan pembacaan puisi di sana. Setelah kemarin Sutardji, berikutnya adalah Landung Simatupang.
ramlif
07-09-2001, 06:51 PM
rick, baguslah kalo gitu
emang guenya yang KG (kurang gaul) kali yak :D
Homer
08-09-2001, 05:31 PM
bagaimana dg angkatan 2000 versi corrie layun rampan (pasti gue salah tulis namanya), ada nama ayu utami, as laksana,dan etc
surfergirl
09-09-2001, 12:41 PM
wha, sastra udah mulai masuk mall? baguslahh...!
tapi (kebanyakan) anak sma kalo disuruh milih nonton film terbaru di bioskop sama nonton pembacaan puisi, pasti milih nonton film... dan budget mereka pun lebih sering dipake utk baju dan kaset band paling ngetrend, ketimbang beli buku2 sastra :D
astr1d
09-09-2001, 10:29 PM
hmm....rasanya pelajaran bahasa indonesia di sekolah kurang merangsang murid2nya jadi kreatif. isinya teori doank, apalan doank. buku karya sastrawan yg wajib dibaca truz dianalisa aja gak ada:( gimana mo mengenal sastra klo baca aja engga:(
sistem pendidikan memang perlu perombakan abis2an!
Sapta Nugraha
10-09-2001, 01:42 PM
QB Pondok Indah Mall ? ;( .. eh eh bukannya QB menempati tempat tersendiri disamping Mesjid Pondok Indah depan Aquarius ? ... ;( ... soalnya almost tiap hari ke PIM kok ndak ada QB yaa disitu .. atau gue yang ndak liat kali yaa ... :D:D:D ...
ramlif
10-09-2001, 09:04 PM
hehehe, berkat KG, gue kok jadi pengen lagi baca2 karya2 klasik... n buat start awal, gue dapet buku autobiografinya Sitor Situmorang. Rasanya kok ya pas banget!!! Emang lagi dicari2... Sayang belum dapet buku2 kumpulan sajaknya... Buku2 puisinya apa aja, ya? Ada yang tahu?
astr1d
10-09-2001, 10:33 PM
Originally posted by ramlif
hehehe, berkat KG, gue kok jadi pengen lagi baca2 karya2 klasik... n buat start awal, gue dapet buku autobiografinya Sitor Situmorang. Rasanya kok ya pas banget!!! Emang lagi dicari2... Sayang belum dapet buku2 kumpulan sajaknya... Buku2 puisinya apa aja, ya? Ada yang tahu?
dah coba situsnya lom?:)
http://www.geocities.com/sitorsitumorang/
gak gitu lengkap sih, tapi lumayan:)
Rick dari Corona
11-09-2001, 07:29 AM
salah! salah!
QB yang baru dibuka memang bukan di mall pondok indah, tapi di eks country kitchen, di pinggir kali. maap ::maap:: dengan demikian kesalahan diperbaiki (red.)
homerus, soal sastrawan angkatan 2000 yang dikumpulkan korrie layun rampan, saya melihat ada sedikitnya dua persoalan. pertama, apakah dasar penggolongan sebuah angkatan? apakah angkatan dalam dunia sastra (pujangga baru, 45, 66 dan lantas 2000), harus mengikuti perkembangan sosial politik? bagaimana mempertanggungjawabkan hal ini. inilah salah satu kritik terbesar terhadap hb jassin yang sudah membuat angkatan-angkatan macam ini.
kedua, kalau memang konsep angkatan pada dunia sastra diterima, apa yang menjadi dasar korrie untuk menarik angka 2000? mengapa bukan 1998 yang merupakan momentum perubahan politik yang penting?
Ini kita belum lagi bicara soal karya-karya mereka. Kecuali ayu utami dan afrizal malna, adakah sastrawan angkatan 2000 ini yang betul-betul punya bentuk pengucapan kesusasteraan yang 'baru'? coba liat karya-karya: meidy loekito, nurzain hae, dsb... relatif tidak ada yang 'baru'.
Rick dari Corona
11-09-2001, 07:40 AM
ramlif, karya penting sitor situmorang bisa dilihat dalam kumpulan Surat Kertas Hijau, penerbit Dian Rakyat, lupa tahun terbitannya.
Gramedia juga sempat menerbitkan kumpulan sajak sitor dengan judul Rindu Kelana.
Kumpulan cerpennya yang saya tahu ada dua: Salju di Paris dan Danau Toba.
ramlif
11-09-2001, 09:01 PM
Originally posted by astr1d
Originally posted by ramlif
hehehe, berkat KG, gue kok jadi pengen lagi baca2 karya2 klasik... n buat start awal, gue dapet buku autobiografinya Sitor Situmorang. Rasanya kok ya pas banget!!! Emang lagi dicari2... Sayang belum dapet buku2 kumpulan sajaknya... Buku2 puisinya apa aja, ya? Ada yang tahu?
dah coba situsnya lom?:)
http://www.geocities.com/sitorsitumorang/
gak gitu lengkap sih, tapi lumayan:)
makasih astrid :)
siharsimatupang
08-06-2002, 11:53 PM
sekarang, mari kita bikin sastra kontemporer (bagi yang muda) untuk mendobrak sastra status quo (bagi yang tua). inilah saatnya sejarah sastra harus berganti...
Homer
09-06-2002, 04:32 PM
pendobrakan sebenarnya sudah ada kok kalo gue perhatikan.
puisi-puisi nyeleneh pun banyak bermunculan, puisi yang tidak lagi berbicara hal-hal yang besar, puisi yang terkesan remeh temeh. melupakan kata-kata indah, melupakan jalinan susunan kata atau mungkin pendobrakan dalam ide.
hanya saja memang sepertinya puisi ataupun karya sastra kebanyakan masih harus atau dipaksa menyesuaikan diri dengan media. dan ini sulitnya. ada yang disebut selera penerbit dan redaktur.
puisi2 atau karya sastra cyber sebenarnya bisa dimasukkan dalam pendobrakan itu. liat aja sudah berapa banyak situs2 sastra yang ada. artinya seseorang bebas menerjemahkan karyanya diluar bentuk2 dan harapan2 sastrawan tua.
kalo mau jujur sebenarnya puisi di kage juga telah melahirkan genre baru.
puisi yg di posting kemudian adalah kebanyakan hasil interpretasi puisi yang sebelumnya. semacam pantun. dan bukankan itu belum ada dalam wacana sastra kita. walaupun masih bisa diperdebatkan apakah puisi yang diposting yang kedua yg berdasar dari puisi pertama bisa disebut puisi yang independen, puisi yang bisa terlepas dari konteks puisi pertama.
Apakah penyerapan ide termasuk dalam kategori plagiat dalam hal berpuisi?
yang besar dari jaman sastra dulu adalah image. Sesuatu yang tidak mungkin dikalahkan oleh ideologi macam apapun kecuali penggusuran image ke yang baru. lalu dari mana munculnya image yang baru?
wah ini sih gue pesimis. tugas berat bagi angkatan muda. contoh saja gue baru saja mampir di pameran pendidikan di ikip gorontalo, masuk ke stand jurusan bahasa dan sastra dan disana ue cuma nemuin setumpuk buku nh dini, iwan simatupang dan buku habis gelap terbitlah terang. dan setelah pulang gue akhirnya mikir kalo calon2 guru cuma baca sastra macam itu, apa iya mereka mampu membicarakan sastra gelombang baru macam puisi2nya helvy tiana rosa atau karya apik ayu utami, atau mungkin malah mereka kewalahan ketika harus memami karya sastra gila milik dewi lestari.
artinya image sastra pada kurikulum pendidikan kita adalah image jaman dulu. karena memang image yang baru belum lama terbentuk. Kalaupun sudah hanya sebatas dalam lingkup pecinta karya2 sastra
lalu bagaimana menghadirkan image yang baru?
membuat buku pelajaran bahasa indonesia untuk tingkat smp dan sma dengan menghadirkan karya2 baru anak muda.
membuat kurikulum yang mengedepankan apresiasi pelajar2 itu, percuma kan ada bulan bahasa gak dimamfaatin.
padahal sebenarnya toko2 buku telah membantu image baru itu, liat aja di rak2 karya sastra..
tapi mungkin sastrawan muda kita tidak butuh identitas.
dan siapakah sastrawan atau penyair itu?, siapa yang berhak membaptiskannya, apakah penulis2 di kage ini bisa disebut sastrawan atau penyair walaupun dalam kehidupan nyata mungkin cuma seorang akuntan?
wah ini juga masih bisa diperdebatkan :)
Sapta Nugraha
10-06-2002, 01:00 PM
ramliffffff ... Yayasan Lontar juga nerbitin buku kumpulan puisinya Sitor kok ... judulnya To Love To Wander .. terus ada juga yang baru keluar .. Paris La Nuit ... coba dech main ke toko buku Aksara, you will find his books there ... :) :)
vBulletin® v3.7.0, Copyright ©2000-2009, Jelsoft Enterprises Ltd.