View Full Version : Puisi hari ini
Rick dari Corona
19-09-2001, 12:23 PM
sajak-sajak dari penyair indonesia segala jaman dan aliran. mudah-mudahan berguna.
Rick dari Corona
19-09-2001, 12:28 PM
pertama dari Subagyo Sastrowardoyo, pak de-nya Dian Sastro
Dan Kematian Makin Akrab
(Sebuah nyanyian kabung)
Di muka pintu masih
bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali
memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak
mengerti - mengapa ia tinggal diam
waktu berpisah. bahkan tak
ada kesan kesedihan
pada muka
dan mata itu, yang terus
memandang, seakan mau bilang
dengan bangga : - Matiku muda -
Ada baiknya
mati muda dan mengikut
mereka yang gugur sebelum waktunya
Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit
tua, melainkan dia
yang berdiri menentang angin
di atas bukit atau dekat pantai
dimana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam
di gigir gunung atau di taman-taman
di kota
tempat anak-anak main
layang-layang. Di jam larut
daun ketapang makin lebat berguguran
di luar rencana
Dan kematian jadi akrab, seakan kawan berkelakar
yang mengajak
tertawa - itu bahasa
semesta yang dimengerti -
Berhadapan muka
seperti lewat kaca
bening
masih dikenal raut muka
bahkan kelihatan bekas luka
dekat kening
Ia menggapai tangan
di jari melekat cincin
- Lihat, tak ada batas
antara kita. Aku masih
terikat kepada dunia
karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih
juga angan-angan dan selera
keisengan -
Di ujung musim
dinding batas bertumbangan
dan kematian makin akrab
Sekali waktu bocah
cilik tak lagi
sedih karena layang-layangnya
robek atau hilang
-Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit -
Dari kumpulan: Daerah Perbatasan, Jakarta : Budaya Jaya, 1970.
delapandepa
19-09-2001, 02:05 PM
Ini dari Sapardi Djoko Damono... one of my fave...
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
Rick dari Corona
19-09-2001, 05:42 PM
tambah
penyair asal madura, yang mungkin darahnya bergelora bagai ombak dan keringatnya lebih asin dari garam:
D. Zawawi Imron
Kuperam sukmaku
kuperam sukmaku di ketiak karang
kusemai benihmu dalam lambai dan salam
cambuk ombak melecut hari.
lahirlah sapi yang menanduk kebosanan
kutemukan keloneng benang
dalam sunyiku
menganga liang : ombak panas
arusmu terbakar di lautan jingga
kujilat nanah di luka korban
kauletakkan krakatau ke dalam diriku
Ialu kubuat peta bumi yang baru
dengan pisaumu
1995
sudra
19-09-2001, 10:36 PM
dari barisan kiri, ada Widji Thukul
orang ini nggak jelas kemana sekarang (diduga keras dihilangkan saat demostrasi di depan kantor PDI Jl Diponegoro, Jkt 27 juli 1996)
puisinya gampang singkat dan berguna untuk orasi demo:
Hanya satu kata: Lawan!
Satu lagi dari Widji:
Bunga dan Tembok
seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri
jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami tebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan engkau harus hancur!
sudra
19-09-2001, 10:52 PM
Belajar dari Ombak
Sitok Srengenge
Dengan ombak laut selalu berkata-kata
tapi tak terungkap yang terpendam di dalamnya
- biarlah aku belajar menyimpan rahasia
Aku tahu, Sayangku
dua hal kau punyai atas diriku:
cinta dan kegetiran
di dalam cinta
ada kesetiaan dan dusta
keduanya menjadi bagian kehidupan
Sayangku, jika ada bunga
dihempas badai tak pudar aromanya
- izinkan aku belajar setia
Rick dari Corona
20-09-2001, 08:07 AM
sitok srengenge pernah mendirikan kelompok yang namanya gorong-gorong budaya, bermarkas di depok. menerbitkan semacam newsletter berjudul: surat.
sekarang sitok aktif di teater utan kayu.
-----------
ini dari 'presiden penyair indonesia'
sutardji calzoum bachri. lahir di rengat, riau.
sajak awalnya adalah mantra, kata tardji. bebaskan kata dari makna. dan kita lihat kredo itu dalam sajak yang judulnya cuma satu huruf ini: O.
O
dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O...
diambil dari kumpulan : O, Amuk, Kapak. Jakarta: Sinar Harapn, 1982.
siti_nurbaya
20-09-2001, 01:10 PM
Hi rick , hanya ingin kirimkan puisi dlm ruangan ini ...
Nanang Suryadi
BERSARANG DALAM ANGIN
ke mana kau mau? berdiam dan bersarang dalam angin,
atau sampan di tengah lautan, bersama gelombang!
di mana aku berdiri? segoyah lututku, segigil tubuhku,
tak ada pijak!
kerdip cahaya, di langit, sebentar kan pudar, lenyap
juga harap
pada tatap
Rick dari Corona
20-09-2001, 03:25 PM
hai anith.. pakabar perniagaanmu?
Nanang Suryadi:
masih muda, lahir tahun 1973. lahir dan tinggal di serang, banten.
salah satu kumpulan puisinya berjudul:
Sajak di Usia Dua Satu.
siti_nurbaya
21-09-2001, 01:19 PM
segalanya baik baik aja rick .. alhamdulillah rezeki bulan ini bagus sekali .. kerana cuti persekolahan .. anyway , puisi nanang tu bagus juga ya .. tak sangka dia masih terlalu muda ... he hehe...
surfergirl
21-09-2001, 02:34 PM
Habis Kita Dalam Hujan
(Dorothea Rosa)
habis kita dalam hujan. obrolan
segumpal musim cuma jadi debudebu di jalanan.
keindahan hidup: katakata yang berlepasan dari
sekuntum bunga, terjelma dalam kalimatkalimat
setumpuk kitab, terkunyah dalam pikiran. kita
obrolkan, kita lupakan, debudebu menguruk
ingatan kita. lalu kau berteduh. hujan, cepat
datang. menghabiskan semua.
kita berteduh di bawah kaki orangorang gagap.
seperti katak, kau berontak. tapi kita berteduh, ya?
hujan menghabiskan semua. kita selalu tinggal menunggu
jadi gerimis, lalu cemas hujan lagi. hujan lagi.
hujan lagi.
astr1d
21-09-2001, 08:38 PM
Cintaku Jauh di Pulau
-Chairil Anwar
Cintaku jauh di pulau
gadis manis, sekarang iseng sendiri.
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang,
tapi terasa aku tidak 'kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segalam melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja."
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri
1946
Rick dari Corona
22-09-2001, 06:48 PM
dorothea rosa herliany sekarang tinggal di jogja, dia mengepalai yayasan indonesia tera yang menerbitkan berbagai buku sastra. satu kumpulan puisinya yang diterbitkan ke dalam bahasa inggris adalah: sebuah radio, kumatikan. diterjemahkan oleh harry aveling dengan judul i kill the radio.
chairil anwar....
dia mengejutkan dunia sastra indonesia ketika memulai sebuah bentuk pengucapan baru dalam berpuisi, yaitu dengan tidak mengikuti rima (a/b/a/b).
hobi chairil anwar adalah mencuri buku. :D dan meminjam barang tanpa izin dari om-nya yang namanya sutan sjahrir.
Rick dari Corona
22-09-2001, 06:54 PM
Originally posted by siti_nurbaya
tak sangka dia masih terlalu muda ... he hehe...
anith, bicara soal muda, ini ada puisi dari seorang penyair jauh lebih muda dari nanang. seorang penyair yang sangat baik. dunia sastra indonesia akan mencatatnya suatu saat.
sebaiknya yang punya puisi ini ngaku aja... :D:D:D
melukis malam
siapa yang melukis malam di kamarmu, langit-langit abu-abu yang
berdebu berubah menjadi hamparan serbuk gemintang. juga gemericik
sungai yang tersisa dari torehan-torehan hujan di dekat jendela kayu.
jendela yang berubah menjadi batangan pohon, dimana kita duduk
termanggu. dua butir permen berganti rupa menjadi bebuahan yang
saling bergantungan di sekitar rimbun-rimbunan yang berasal dari meja
kayu sederhanamu. lucu katamu sambil mencium keningku. sejak cinta
merubah kamarmu menjadi keindahan alam yang tak berbatas.
astr1d
22-09-2001, 09:14 PM
ehm...
ricccck!!!!!! wadohhhhh!!!!!!!!! *bletaks*
Rick dari Corona
24-09-2001, 08:33 AM
aduh! sakit dong strid! hehe.. :D
sorry nggak minta ijin...
nah ini dari afrizal malna. penyair ini sempat membuat ramai perdebatan dunia sastra dengan sajak-sajaknya yang katanya "gelap" sulit sekali ditafsirkan, sulit sekali dimengerti. tapi toh ia memulai sebuah bentuk pengucapan yang tak terpikirkan oleh penyair lain.
penyair "puisi gelap" ini sekarang aktif di urban poor consortium bersama wardah hafidz.
Restoran Dari Bahasa Asing
Aku dengar batu dilemparkan ke ruang tamu. Paru-paru penuh sapi, mencari jalan raya dan megapon. Tak ada orang sikat gigi malam itu, seperti dugaanmu penuh batu dari masa lalu. Mulutku penuh lendir, virus stadium lima, menyusun biografimu dari sepatu. Seperti pikiranmu yang mencari tanah air selalu: penuh serdadu, kapal dagang, dan anti-biotika.
Ah, ada tamu yang lain, bikin restoran dari bahasa asing. Mereka saling menggosok sepatu di tiang listrik. Padahal aku telah jadi dirimu juga, ikut bernyanyi pula lagu-lagu sendu, dengan baju seratus ribu. Mengenakan juga gaya hidup Ani, di antara Sri dan Ayu: Kota yang tenggelam dalam tubuhmu. Di situ aku dengar bahasa tak henti-henti jadi orang asing, penuh lemari, kursi, gas dan minyak.
Aduh, udara penuh cemburu, kaos kaki, dan obrolan tiga ribu perak. Tetapi aku dengar kepalamu ber-evolusi jadi jamur, jadi batu, jadi kamar mandi di malam hari. Koran pagi, terasa jadi tiang listrik di situ, untuk pernyataan politik, tiga ribu perak. Udara penuh hair spray, virus terluka.
Aiih, mari, jangan sombong. Kepalamu penuh batu, menghuni ruang tamu tak terjaga.
1991
kumpulan arsiterktur hujan, puisi 1990-1995.
delapandepa
24-09-2001, 06:44 PM
Kadang pikiran 'bodoh' gue kerap 'menuduh' Malna 'asal bunyi' saja... atau para kritikus itu saja yang membesarkannya... Tapi kalo lagi 'pintar' cuma ada kalimat: "Malna sialan !" :D
Gara-gara dia gue jadi makin sayang sama jaket-jaket gue!
nb: buat yang 'melukis malam'..... indah memang.... saat ada yang bisa diajak untuk memecahkan mimpi.... tabek dari saya buat puisinya....
Rick dari Corona
25-09-2001, 01:06 PM
dd, ketika polemik 'puisi gelap' di republika bbrp tahun lalu, sitok srengenge sempat memasukkan sebuah 'puisi' yang sangat mirip dengan puisi-puisi afrizal. teranyat 'puisi' itu adalah coretan seorang skizofrenia. :D
tapi ada puisi afrizal yang lebih 'sederhana'. semisal ini:
Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga
Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, membukakan pintu. Ia tersenyum. "Tak apa, kalau tak ada siang di sini," katanya. Aku segera meletakkan tas. Aku lihat matanya, sebuah pemandangan baru saja mendapatkan sinar. "Bisakah besok kamu jadi ibu rumah tangga," katanya.
Pagi sekali aku bangun. Membereskan sprai. Memasak air. Memandikan anak. Menyapu. Menyusun pot-pot tanaman. Dan banyak urusan lagi untuk menjadi seorang ibu. "Telefon aku jam 12 siang." Masakan apa? Semuanya aku kerjakan, seperti berjalan dari satu kota ke kota lainnya. Nonton film. Memetik jambu. Ada ikan dan kelinci di dapur, pemandangan putih ketika membuat susu. Hingga aku hamil, melahirkan diriku sendiri, membesarkannya. Dan mengerti, kenapa ia memanggil "ibu" kepadaku.
Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, membukakan pintu. Ia tersenyum. "Kenapa kamu menjadi seorang ibu seperti itu," katanya. Aku peluk bahunya, seperti sebuah kamar, dengan jendela menghadap ke bukit.
1997
Kumpulan: Kalung dari Teman.
siti_nurbaya
25-09-2001, 02:41 PM
Rick , hadiah dari kuala .
Lesung
kau telah ditakdirkan berjodoh dengan alu
kau dicipta untuk menerima sentuhan baranya
tanpa alu sepimu mendatar bak dinding
kau kelihatan cukup bahagia di dunia dapurmu
sehingga suatu hari alu tiba-tiba patah
dan kau tersentak dengan kemunculan blender
muram tumbuh pada lantai dan tingkap
kaugantung hati kosongmu pada udara
tanpa malu kaukeluar mencari alu baru
1987
T. Alias Taib/ Piramid
T. Alias Taib(Tengku Alias Taib) sudah mula menulis puisi semenjak berumur 17 tahun. Piramid adalah antologinya yang keempat sesudah Opera(1988), Seberkas Kunci(1985) dan Pemburu Kota (1978).
siti_nurbaya
25-09-2001, 04:19 PM
aku membiru
: kamu
jangan bilang kau bukanlah sang penguasa laut
karena deburmu sudah pecahkan denyut nadiku. aku kini batu.
kau titip aku pada malam yang mulai beku.
sendiri. dan suara deru itu menjadi kelu.
ku membiru.
katakan kau adalah gemuruh guntur di setiap langit.
yang menggelepar di antara rindu dan teriakan do'a-do'a.
yang terkulai bisikan mantera tak bernada.
ucapmu bergema dalam satu kalimat tak bernyawa.
kau mencinta.
sayang, aku sudah membiru.
jakarta, 19 september 2001
Inong Haris
siapa ini Rick ? any info ?
astr1d
25-09-2001, 06:32 PM
Originally posted by siti_nurbaya
aku membiru
: kamu
jangan bilang kau bukanlah sang penguasa laut
karena deburmu sudah pecahkan denyut nadiku. aku kini batu.
kau titip aku pada malam yang mulai beku.
sendiri. dan suara deru itu menjadi kelu.
ku membiru.
katakan kau adalah gemuruh guntur di setiap langit.
yang menggelepar di antara rindu dan teriakan do'a-do'a.
yang terkulai bisikan mantera tak bernada.
ucapmu bergema dalam satu kalimat tak bernyawa.
kau mencinta.
sayang, aku sudah membiru.
jakarta, 19 september 2001
Inong Haris
siapa ini Rick ? any info ?
ini mbak inong:) lengkapnya www.inongharis.com
salah satu pendiri yms, yang sekarang mengelola www.cybersastra.net
siti_nurbaya
26-09-2001, 12:53 PM
OOOO thanks for the info ... err kalau bisa nanya .. yms tu apa ?
astr1d
26-09-2001, 07:40 PM
yms = yayasan multimedia sastra
profil lengkapnya ada di cybersastra juga
ramlif
27-09-2001, 05:51 PM
iseng, ah!
bakiak
bakiak-bakiak berbaris dipintu musholla
serabutan
warnanya rupa-rupa,
ada yang masih putih tanpa bercak
ada yang mulai menghitam, rapuh termakan usia
dan kutu-kutu air
bakiak-bakiak tua itu mengabdi
cukup lama
terpikir olehku,
adakah pahala untuk pengabdiannya?
ah, waktu mengejarku
aku tak sempat lagi memikirkan jawabannya
seperti kesewenanganku menghardiknya tanpa rasa
karena toh mereka cuma bakiak-bakiak
mati tanpa nyawa
September 2001
astr1d
02-10-2001, 05:45 PM
Sebuah Tanya
akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku
(kabut tipis pun turun pelan-pelan
di lembah kasih, lembah mendalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(hari pun menjadi malam
kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kenal berbicara
dalam bahasa yang kita tidak mengerti
seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru
1 April 1969
Soe Hoek Gie*
*dikutip dari "Catatan Seorang Demonstran", terbitan LP3ES, 1983
astr1d
02-10-2001, 06:02 PM
Soe Hoek Gie, adik kandung dari Arief Budiman. Salah satu intelektual muda Indonesia yang amat kritis dan berani. Sayang begitu muda menemui ajalnya pada sehari sebelum ulang tahunnya ke-27. Soe Hoek Gie menemui ajalnya di Gunung Semeru akibat keracunan gas beracun. Catatan hariannya dibukukan dan diterbitkan dengan judul "Catatan Seorang Demonstran" oleh LP3ES. Buku ini melingkupi catatan hariannya semenjak SMP, SMA, mahasiswa di FS - Sejarah UI, kesehariannya sewaktu menjadi demonstran di tahun 1963 - 1967, dan sampai menjelang ajalnya (1969).
Berikut salah satu kutipan puisinya yang tercatat dalam catatan hariannya, sebulan sebelum keberangkatannya ke Semeru:
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi.
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.
Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak'kan pernah kehilangan apa-apa.
11 November 1969
Soe Hoek Gie*
*dikutip dari "Catatan Seorang Demonstran", terbitan LP3ES, 1983
Rick dari Corona
04-10-2001, 10:12 AM
Amir Hamzah
salah satu sastrawan terkemuka masa pujangga baru.
Doa
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah
terik.
Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke bawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar
gelakku rayu!
ramlif
08-10-2001, 08:01 PM
gayanya Amir Hamzah yang kayak gini ini banyak mempengaruhi gaya berpuisiku waktu smp...
salah satu paporit
astr1d
13-10-2001, 02:16 PM
Rayuan Seorang Laki-laki untuk Kekasihnya
untuk elpiwin adela
ingin kupetik cantikmu
lalu kupajang di setiap jendela mataku sehingga setiap kuberpaling kuhirup harum bau indahmu
ingin kulukis mesramu
pada setiap butir udara sehingga aku terbang dan tertidur selalu dalam dekapan memanjakanmu
kemudian aku berbaring dalam cintamu
membiarkanmu membelai helai-helai mimpiku
lalu kita jatuh bersama dalam rindu yang semerbak
dan ketika tersadar kita terperangkap dalam kasih sayang
aku ingin dipenjara dalam perangkap seperti itu bersamamu
Yogyakarta, 4 Mei 2000
Eka Kurniawan, seorang cerpenis muda Indonesia. Cerpen-cerpennya tersebar di berbagai media. Novel pertamanya "O, Anjing" akan segera diterbitkan.
Situs Eka Kurniawan (http://geocities.com/ekakurniawan/)
Rick dari Corona
22-10-2001, 11:45 AM
NEGERIKU
Oleh :
A. Mustofa Bisri
mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi
A. Mustofa Bisri, adalah pemimpin pesantren di Rembang. Adik dari Cholil Bisri, ulama NU. Keponakannya bernama Yahya C. Staquf, mantan juru bicara mantan presiden gus dur.
Pernah menulis tentang perempuan dalam fikih islam, dengan nama Mustov A. Bisri.
secretweapon
02-11-2001, 03:55 PM
dari Ayat-Ayat Api ;
Hawa Dingin
Sapardi Djoko Damono
dingin malam memang tak pernah mau
menegurmu, dan membiarkanmu telanjang;
berdiri saja ia di sudut itu
dan membentakku, "Ia hanya bayang-bayang!"
"Bukan, ia tulang rusukku," sahutku
sambil menyaksikannya mendadak menyebar
ke seluruh kamar -- yang tersisa tinggal abu
sesudah kita berdua habis terbakar
Rick dari Corona
11-11-2001, 02:01 AM
Ini dari Rivai Apin
MAK OI...
Mak oi, sekiranya dunia masih minta dijelaskan
Cemerlang apa yang begitu dicinta.
Setidaknya, sayangku sayang, lupakan habis-habis,
Kerna apa yang dipucuk hati, masihkah tidak membukti?
Pikirkanlah tipuan-tipuan cerdik
Dan khayal cat cantik-cantik
Tentang berkata benar apa sungguh kejujuran begitu pelit?
Sedemi cinta yang bisa berputik
Dan belaian lidah bukan lagi kecupan palsu
Benamkan kepalaku dalam-dalam di sumur dadamu
Sehingga pada matahari aku tidak lagi malu
Kau pun juga semoga,
Lahir kita memang dari rahim yang begini
Dan yang bukan putera nyata. Ia telah kita bunuh.
Orang akan terus ingat Chairil Anwar, ikon tak terjelaskan dalam dunia sastra indonesia. Juga Asrul Sani, sang legenda hidup dunia film indonesia. Rivai Apin adalah orang ketiga dalam kumpulan "Tiga Menguak Takdir" Chairil-Asrul-Rivai. Dua yang pertama akan terus dikenang. Sementara yang terakhir bernasib nahas. Rivai Apin dianggap sebagai seniman anggota Lekra yang terlibat G30SPKI. Ia meninggal sebagai tahanan politik. Karyanya dilupakan orang...
astr1d
11-11-2001, 11:46 AM
Originally posted by Rick dari Corona
Orang akan terus ingat Chairil Anwar, ikon tak terjelaskan dalam dunia sastra indonesia. Juga Asrul Sani, sang legenda hidup dunia film indonesia. Rivai Apin adalah orang ketiga dalam kumpulan "Tiga Menguak Takdir" Chairil-Asrul-Rivai. Dua yang pertama akan terus dikenang. Sementara yang terakhir bernasib nahas. Rivai Apin dianggap sebagai seniman anggota Lekra yang terlibat G30SPKI. Ia meninggal sebagai tahanan politik. Karyanya dilupakan orang...
:(
Rick dari Corona
12-11-2001, 11:46 PM
gue pernah wawancara asrul sani. dia sempat ngunjungi rivai ketika masa-masa sehabis kegagalan gerakan pembunuhan tujuh jendral itu (apapun nama gerakannya...), asrul bilang kenapa rivai nggak nulis untuk menghapus tuduhan terhadap dia dan menjelaskan posisi sebenarnya. rivai bilang, saya tidak akan mengakui apa yang tidak pernah saya lakukan.
jadi soalnya, rivai diundang menghadiri kongres sastrawan di budapest (kalo nggak salah) tahun 60-an, padahal dia bukan anggota lekra, cuma simpatisan jauh aja. kemudian setelah meletus peristiwa besar itu, rivai masuk kotak, dan jadi korban. :(
Rick dari Corona
12-11-2001, 11:50 PM
kuntowijoyo bukan cuma cerpenis atau novelis atau penulis naskah drama atau sejarawan ulung atau pengamat keislaman. dia juga penyair. ini syairnya, diambil dari kumpulan Isyarat (Pustaka jaya, 1976).
Sepi
Jangan ditinggalkan sepi
karena ia adik kandungmu
ketika di rahim ibu.
Jangan dibunuh sepi
karena ia kawan jalanmu
ketika di selubung mimpi.
Di subuh pagi itu
ia menunggu
mengalungkan bunga ke lehermu
mengucap doa-doa
menyanyikan mantra-mantra.
Aduh
engkau sungguh berbahagia
karena hari ini
ia meluangkan waktu
bersamamu
sendiri.
Rick dari Corona
16-11-2001, 02:33 PM
Acep Zam-zam Noor
LOUVRE
Cahaya remang yang melumuri trotoar berbatu Menyentuh juga tiang-tiang lampu yang berukir indah Sepanjang jembatan itu. Seperti jemari senja yang lentik Cahaya merayapi tubuh jalanan, memanjati dinding-dinding pualam Lalu mengaburkan diri pada pusaran kabut yang berwarna:
Paris berkilauan dalam sebuah piramida kaca
1997
Acep Zam-zam Noor, pelukis penyair. Putra dari KH Ilyas Ruhiyat, mantan rais syuriah PBNU. Acep lahir dan tinggal di Tasikmalaya, mengepalai Sanggar Sastra Tasik.
vBulletin® v3.7.0, Copyright ©2000-2009, Jelsoft Enterprises Ltd.