PDA

View Full Version : Undangan Diskusi "Theater as Political Instrument?"


Moozilla
10-10-2001, 01:18 AM
ma'ap, untuk admin. soalnya gue posting ini 2 kali... :D

ada undangan (dikasih sama temen gue), ada yang berminat??
sepertinya gratis. kalau mau tahu informasi lebih lengkap, hubungi Ibu Novi (lihat di bawah).
--------------------------------------------------------------------------------

Goethe-Institut Jakarta, Friedrich Naumann Stiftung dan Pameran
Tunggal Dolorosa Sinaga bekerja sama menyelenggarakan diskusi mengenai teater :

Tema : "Theater as Political Instrument?"
Tanggal : 13 Oktober 2001
Jam : 19.00 - Selesai
Tempat : Galeri Nasional Indonesia, Jl. Merdeka Timur 14, Jakarta
Pembicara : - Dr. Manfred Linke
- Ratna Sarumpaet
- Nirwan Dewanto
Moderator : Sita Aripurnami
(Bahasa yang dipergunakan dalam diskusi : Bahasa Indonesia dan Inggris) Informasi lebih jauh : Novi (0812 21 63 124) atau per email : noviami@gmx.de

PETIKAN MAKALAH Dr. Manfred Linke :
..." Teater seharusnya tidak hanya menjadi hiburan, meskipun memang harus tetap menghibur - orang teater seperti Bertold Brecht bekerja dengan cara ini. Teater memiliki kekuatan yang sangat besar karena dipertunjukkan secara langsung. Tak ada medium teknis yang bisa menghasilkan keajaiban antara panggung dan pemirsanya. Dan mohon jangan salah memahami saya: teater politik tidak harus bicara mengenai "politik besar" - ada ungkapan dalam Pemberontakan Mahasiswa di tahun 60-an "das Private ist das Politische (masalah privat adalah masalah politik) yang berarti bahwa hidup kita, di dalam rumah kita dihadapkan pada dan menanggapi politik. Teater bisa mengajarkannya pada kita."


TENTANG PEMBICARA:
Dr. Manfred Linke: Lahir tahun 1936, pengarang, editor buku, penulis artikel tentang drama dan teater. Pernah menjabat direktur "The German Centre of International Theater Institute". Sejak 1969 s/d sekarang sebagai direktur "International of Young Theater Workers", sebuah forum dan lembaga pendidikan teaterawan muda dari seluruh dunia di Berlin, Jerman. Banyak memberikan ceramah teater di Eropa dan Asia.

Ratna Sarumpaet: Penulis drama dan sutradara, pendiri Kelompok Teater Satu Merah Panggung. Sejak mementaskan Marsinah, Nyanyaian dari Bawah Tanah (1994), karya-karya lainnya seperti Terpasung (1995), Pesta Terakhir (1996), Marsinah Menggugat (1997), Aulia Luka Serambih Mekah (2001) banyak mengangkat tema politis. Di masa ORBA, karya-karyanya - di samping aktivitasnya dalam gerakan prodemokrasi - membuatnya beberapa kali masuk penjara. Bersama dengan beberapa penulis, pada tahun 2000 mendirikan Writers in Prison Indonesia. Penghargaan Female Human Rights special Award diterimanya dari The Asia Foundation for Human Rights di Tokyo, Jepang pada tahun 1998.

Nirwan Dewanto: Menulis esai kesastraan, dan di masa lampau juga menulis syair. Lulusan Jurusan Geologi ITB 1987. Esai-esai
terpilihnya terkumpul dalam buku "Senjakala Kebudayaan" (1996). Selama 1998-1999 mendapat Fulbright Visiting Scholar di University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat. Belakangan intens mengamati karya-karya senirupa. Dan sekarang dia adalah ketua redaksi jurnal budaya Kalam juga anggota dewan kurator Galeri Lontar, Jakarta.

Moozilla
15-10-2001, 11:10 AM
mod.. mod..

ini berita udah kadaluarsa... nih
gue "delete" kok enggak bisa yah? :D

tolong hapus deh.. mod...
entar menuh-menuhin database... :)

makasih...