sobatan
22-10-2001, 09:00 PM
SEPATAH SAJAK DARI MATAHARI
Syahdan,
Jika kau anggap aku sebagai matahari,
Yang bisa memberikan sinar dan kehangatannya,
Kau Salah.
Matahari itu hanya bisa memberikan kegelapan bagimu
Ia hanya bisa mengantarkanmu separuh hari.
Ia tidak bisa menerima kenyataan, kalau itu memang terjadi.
Ku anggap dirimu sebagai setetes embun segar,
Embun yang mampu menyegarkanku disaat hatiku tenggelam
Embun yang mampu menjaga kesetiannya,
Embun yang bisa mencintaku sepenuh hati,
dan akupun salah.
Bahkan, bila kau dapat berpikir lebih dalam lagi,
Pernahkah matahari itu memberikan kebijakannya ?
Sama sekali belum.
Ia hanya bisa menjadi seorang yang merasa memiliki sang embun,
Ia hanya bisa menyengat hati sang embun,
Ia hanya bisa mengeringkan setetes embun pagi,
sungguh buruk.
Saat sang embun memilih bintang yang lain,
Mataharipun meredep tergelincir.
Ia hanya bisa menyeselai yang baru saja lewat,
Ia hanya bisa menyalahkan dirinya,
menyalahkan kalbunya yang selalu terbakar akan emosi,
Ia bodoh.
Andaikata sang embun mengetahui,
Sang matahari yang selalu mencintainya,
Sang matahari yang selalu berdoa untuknya dalam setiap langkahnya,
Sang matahari yang menjanjikan surgawi untuknya,
Sang matahariyang selalu mengalah biar harus memotong jiwanya,
Namun, sayang.
Kini embun telah lari menghilang.
Bintang lain yang ia impikan, telah berjalan bersamanya
Mengiringi langkah sang embun mengganti matahari
Biarlah.
Embun, ketahuilah
Jangan lagi kau lakukan hal yang sama kepada bintang lain,
Jangan lagi kau tebar keindahanmu pada semua bintang,
Kiranya jangan kau samakan mereka dengan matahari,
yang selalu kau sakiti.
Yogyakarta, 7 Oktober 2001
Syahdan,
Jika kau anggap aku sebagai matahari,
Yang bisa memberikan sinar dan kehangatannya,
Kau Salah.
Matahari itu hanya bisa memberikan kegelapan bagimu
Ia hanya bisa mengantarkanmu separuh hari.
Ia tidak bisa menerima kenyataan, kalau itu memang terjadi.
Ku anggap dirimu sebagai setetes embun segar,
Embun yang mampu menyegarkanku disaat hatiku tenggelam
Embun yang mampu menjaga kesetiannya,
Embun yang bisa mencintaku sepenuh hati,
dan akupun salah.
Bahkan, bila kau dapat berpikir lebih dalam lagi,
Pernahkah matahari itu memberikan kebijakannya ?
Sama sekali belum.
Ia hanya bisa menjadi seorang yang merasa memiliki sang embun,
Ia hanya bisa menyengat hati sang embun,
Ia hanya bisa mengeringkan setetes embun pagi,
sungguh buruk.
Saat sang embun memilih bintang yang lain,
Mataharipun meredep tergelincir.
Ia hanya bisa menyeselai yang baru saja lewat,
Ia hanya bisa menyalahkan dirinya,
menyalahkan kalbunya yang selalu terbakar akan emosi,
Ia bodoh.
Andaikata sang embun mengetahui,
Sang matahari yang selalu mencintainya,
Sang matahari yang selalu berdoa untuknya dalam setiap langkahnya,
Sang matahari yang menjanjikan surgawi untuknya,
Sang matahariyang selalu mengalah biar harus memotong jiwanya,
Namun, sayang.
Kini embun telah lari menghilang.
Bintang lain yang ia impikan, telah berjalan bersamanya
Mengiringi langkah sang embun mengganti matahari
Biarlah.
Embun, ketahuilah
Jangan lagi kau lakukan hal yang sama kepada bintang lain,
Jangan lagi kau tebar keindahanmu pada semua bintang,
Kiranya jangan kau samakan mereka dengan matahari,
yang selalu kau sakiti.
Yogyakarta, 7 Oktober 2001