PDA

View Full Version : psikologi - suiceder?


Living Melody
03-06-2002, 02:03 AM
kalo ga salah, ada org type 'suicider' yaitu klo ada masalah cenderung menyakiti dirinya sendiri.

yg jadi pertanyaan gua, apakah memang ini sudah kecenderungan manusia nya yg punya sifat seperti ini?

kalo tidak, apa penyebabnya?
apakah 'sifat2' ini bisa hilang?

terapi macam apa yg dibutuhkan?

tingkat kasusnya seperti apa?

sebab kalo gua lihat, yg macam ini sepertinya sepele tp sebenarnya cukup berbahaya, krn bisa berkembang.

thx.....

Living Melody
04-06-2002, 10:52 PM
mau donk penjelasannya lbh lanjut mengenai hal di atas.
thx, carmi......

sekalian masih ada yg saya mau tanya, seberapa jauh kita "menyakiti diri kita" baru kita bisa dikatakan 'suicider' ?

bagaimana dgn org yg menyakiti diri untuk tujuan show off pada org tertentu? apakah disebut suicider juga?
(seorang teman saya pernah mencoba menyilet dirinya di kampus ketika berantem dgn teman dekatnya, lalu mengurung diri di toilet ber-jam2 pakah ini juga termasuk?)

bila kita stress lalu ga mau makan (bukannya tdk bisa makan lho) untuk 'menyiksa diri' tapi tdk diketahui orang lain, apakah itu juga sejenis dgn suicider tapi mungkin kadarnya masih rendah?

bagaimana dgn kecenderungan anak kecil yg 'ngambek' lalu mengurung diri di kamar & ngga mau makan, dsb-nya. apakah itu ciri dari suicider? atau hanya merupakan gejala awal?

bagaimana mengatasinya? ada terapi khusus?
bisa tdk dengan men-encourage diri sendiri secara terus menerus? bisa membaik atau tidak? bila bisa, encourge macam apa?

thx banget buat jawabannya. i need it...

aisyah248
04-06-2002, 11:38 PM
Kayaknya orang yg melakukan "self-harm" itu gak bisa dikategorikan sebagai "suicider". Soalnya, mereka gak mau membunuh diri tapi merusak dirinya. Yg suicider itu macem orang yg dah niat banget mau mati sampe minum pill atau menusuk dirinya dengan tujuan untuk mematikan. Ya kan? Kalo salah tolong dikoreksi yah tante carmi. Eh 'suicider' tuh juga artinya apa?

Dan orang yg "show off" gitu pas dia melakukan self-harm, adalah orang yg ingin atensi atau juga itu salah satu cara dia untuk meminta tolong bagi orang laen. Aku sering baca kejadian begitu, tapi orang yg melihat kurang mengerti bahwa orang yg melakukan self-harm didepan matanya adalah karena orang itu ingin di'bantu' secara tidak sadar.

Dan anak kecil yg mengurung dirinya dikamar dan gak mau makan, gak terlalu bisa dikategorikan sebagai 'suicider' ataupun 'gejala awal' mulainya 'self-harm' itu.

Dan gue kenal orang yg begitu, therapynya adalah selain obatlah, yg paling penting adalah ngobrol.

People who harm themselves don't do that 'for the heck of it', well not usually. That's a call for help. And talking therapy usually works, more so than medicine. Talk to them about their problems...listen attentively...jangan dibentak2 ataupun menaekan emosi orang itu sampe dia pengen lagi harm themselves...

Orang yg aku kenal itu, melakukan self-harm karena dia sangat amat stress dan depresi...dan itu karena situasi rumah tangga dia tension banget...dan dia-pun ngaku bahwa dia melakukan itu karena pengen narik atensi bahwa dia itu bener2 sakit didalam dan gak tahan lagi...dan kesel banget. Tapi dia gak mau suicide...so yah dia begitu. :( alhamdulilah sih dia dah kurang lebih sembuh sekarang...

Living Melody
05-06-2002, 01:59 AM
lalu people yg harm diri mrk sendiri itu disebut apa? apakah ada istilah khususnya?

yg saya maksud di sini bukan sampai tahapan bunuh diri, tp ngga memungkinkan bahwa 'suicider' (sebut saja begitu krn saya blm tahu istilah pastinya) bisa berkembang sampai 'bunuh diri'. saya rasa tdk ada yg langsung berniat membunuh dirinya. semuanya pasti berawal dari pikiran2 yg sederhana & berkembang terus.

(tolong dikoreksi bila salah, krn ini hanya opini pribadi saya).

apakah pikiran2 sederhana di kala tertekan hingga menyakiti diri sendiri (seperti mogok makan bbrp waktu) bisa berkembang terus sampai ke arah yg berbahaya?



ada sebuah kasus, si A berkata pada pasangannya, "bila kamu pakai ganja, saya akan pakai juga, supaya kamu bisa berhenti."
pasangannya berkata, "lalu bagaimana bila kamu yg tdk bisa berherhenti nanti?"
A berkata, "itu resiko saya."
apakah dia 'suicider' juga?

aisyah248
05-06-2002, 05:57 AM
uhm self-mutilators? self-injurors? self-harmers? hehe tau deh..moga tante carmi bisa jelasin lagi...aku hanya akan kasih info yg aku tau yah...dan itu gak banyak sih...;D

tapi yg aku tau adalah mereka bukan "suiciders" atau orang yg ingin melakukan suicide. Tapi emang mereka ingin merusak diri mereka sendiri, kayak apa yg dikatakan tante Carmi itu. Kurang lebih dari apa yg aku baca, karena ingin atensi atau juga karena control. Karena mereka berfikir bahwa mereka gak bisa mengontrol apa yg membuat mereka rusak mentalitasnya, yah mereka melakukan itu karena mereka berfikir mereka masih bisa mengontrol. Karena kelakuan itu datang dari dirinya sendiri, dimana situasi yg membuat mereka "sakit" datang dari pihak2 kedua atau ketiga. Dan susah banget untuk diatasi. Macem depression gitu, stress2 laen, gitu2 deh.

It's their way of controlling their sickness or their situation. But in doing that, they instead have lost control of themselves. ironic kah?

yg saya maksud di sini bukan sampai tahapan bunuh diri, tp ngga memungkinkan bahwa 'suicider' (sebut saja begitu krn saya blm tahu istilah pastinya) bisa berkembang sampai 'bunuh diri'. saya rasa tdk ada yg langsung berniat membunuh dirinya. semuanya pasti berawal dari pikiran2 yg sederhana & berkembang terus.

kalo orang mau mematikan dirinya, mereka akan mematikan dirinya. kebanyakan yah. gak ada pilihan laen, kalo mereka mau, mereka akan melakukan itu. Tapi juga, sebenarnya orang yg melakukan suicide itu juga gak ingin mati, cuma "cry for help" saja. Tapi yah kalo orang sudah melakukan "cry for help" itu dengan menembak dirinya sendiri atau minum sebotol obat2an yahh sudah terlambat untuk dibantu orang itu...kayak kalo elo kerumah sakit dan menengok orang2 yg gagal bunuh diri, kamu bisa denger dari beberapa mereka bahwa mereka "kesel" dan sebenarnya "gak mau bunuh diri".

Kalo perkembangan self-mutilation, self-injury ini bisa aja sih berkembang kearah suicide itu tapi kebanyakan malah menaekan severity aksi mereka saja, kayak Tante Carmina sudah jelaskan. Sampe lebih kuat lagi mukul kepalanya, atau kuat lagi mengores tangannya sampe bener2 luka...etc. Kalo orang yg suicide menaekan lagi derajat severitynya yahh minum lagi obat2 dengan jumlah yg lebih...etc. Dengan tujuan untuk mati...orang self-injury tujuannya adalah untuk mengeluarkan emosi mereka kepada diri mereka sendiri untuk "merusak" bukan untuk "mematikan".

ada sebuah kasus, si A berkata pada pasangannya, "bila kamu pakai ganja, saya akan pakai juga, supaya kamu bisa berhenti."
pasangannya berkata, "lalu bagaimana bila kamu yg tdk bisa berherhenti nanti?"
A berkata, "itu resiko saya."
apakah dia 'suicider' juga?

gak tuh. well menurut gue sih gak. risking their health iya...tapi dia gak melakukan itu untuk membunuh dirinya. "suicider" itu bisa dikatakan orang yg ingin bunuh dirinya....orang yg ingin melakukan suicide. apa orang tersebut itu memakai ganja karena ingin membunuh dirinya? gak kan?

kamandhani
05-06-2002, 10:03 AM
Kalo orang yang melakukan perbuatan kaya "Stigmata" apakah termasuk, atau Stigmata ini termasuk Mental disorder yang laen

Living Melody
05-06-2002, 10:08 AM
thx u/ aisyah.
masih menunggu jawaban carmi... :)

Luagefak Stalker
05-06-2002, 08:25 PM
apakah kata suicider ini dari suicide?

suicide itu artinya bunuh diri kan?....

apa ada orang yg suka bunuh diri?...kalopun bisa paling cuman sekali seumur hidup kan?.....;D

nambahin yg diatas...nah kalo orang yg suka menyakiti dirinya sendiri pun ada yg dalam konteks "semedi" kan?...tidur di atas ranjang paku...nahan laper..dan sebagainya..(yg kalo ngaa salah menurut Buddha itu cara semedi yg salah)....

Living Melody
05-06-2002, 11:01 PM
duh... tolong jgn dikaitkan ke religion dulu deh. ntar pembahasannya makin keluar jalur.
yg saya maksudkan di sini adalah konteks 'kelainan' psikologis, bukan org2 yg melakukan praktek keagama'an. kalau praktek keagamaan yg salah jelas banyak. bahkan ada yg rame2 bunuh diri kan.
tp ini bukan konteks yg saya maksud.

Luagefak Stalker
06-06-2002, 07:48 AM
duh... daku juga ngaa mao koq ngaetin ke masalah agama....biar pembahasannya ngaa keluar jalur.
yg saya maksudkan di atas adalah ada juga orang yg sangattt percaya akan sesuatu sampai taraf menyakiti diri sendiri....ini kan hanya salah satu faktor....
dan itu konteks yg saya maksud.

Living Melody
06-06-2002, 11:35 AM
ok.. :) never mind kalo gitu. soalnya pembahasan kalo udah mengarah pada kepercayaan akan menjadi sangat rancu.

Luagefak Stalker
09-06-2002, 10:51 AM
iya yah...;D ngaa tau kenapa tapi kayanya kalo dah ngebawa-bawa nama agama bawaannya pada ribut yah.....;D

chii-chan
09-06-2002, 10:22 PM
soalnya kan org punya kepercayaan yg berbeda, kalo diomongin dalem kepercayaan bisa panjang masalahnya karena tiap org pendapatnya bisa beda menurut agamanya

chii-chan
09-06-2002, 10:29 PM
saya suka muncul keinginan pengen 'suicide' tuh... biasanya sih muncul dari depresi saya... dan tekanan-tekanan dari luar... rasanya bener-bener mau matiiii aja... tapi entah kenapa pas udah di hadapkan ke pelaksanaannya jadi takut sendiri... tapi keinginan itu selalu muncul mulu...

Living Melody
13-06-2002, 04:03 AM
thx banget u/ jawabannya. benar² banyak membantu.
tapi ada bbrp hal yang masih ingin saya pertanyakan..


but some people have difficulty to express their emotions. kesulitan ini mengakibatkan rasa sakit yg luar biasa dlm diri mereka & memilih self harm sebg jalan terbaik.

di sini kamu nulis tentang kesulitan dalam mengekspresikan emosi mereka.
tapi pada kasus teman saya, saya tidak melihat adanya kesulitan dlm diri dia untuk mengekspresikan emosi dia. dia type yg mudah curhat, bnyk teman (bukan type yg mengucilkan diri di kamar), disukai, dsbnya.
hanya pada saat² tertentu dia menyendiri di kamar.
kadangkala sampai meringkuk gemetaran di bawah meja komputer. dia berkata bahwa dia merasa aman di tempat yg sempit itu, semua itu muncul di kala dia sendirian.



jangan mengatakan: "hey...kamu tdk sayang nyawa ?!".....atau...."stop doing stupidity !!"....
please remember: it is NOT about you, but it's about him/her (the person).
the word "STOP" hanya membuat-nya bertambah putus asa. ia akan berhenti melakukan-nya apabila kamu/dirinya sudah mendapatkan solusi yg aman utk menghilangkan kebiasaan tsb.
tunjuk-kan kalau kamu perduli. misal: "saya melihat lukamu. i'm worry about you. kamu ingin membicarakan problem-mu dgn saya ?....apakah kamu sering melakukan ini ?".

hmm saya sempat berkata, "sayang sama badan yah. ngga ada gunanya nyakitin diri sendiri. nanti kalo satu hari nanti elo bahagia, loe pasti nyesel karena dulu elo pernah berbuat sesuatu yg mengakibatkan badan elo rusak."
salah ngga bicara kaya gini?
saya sendiri memang berusaha u/ tdk mendesak dia atau memaksa dia mengambil keputusan apapun, krn saya percaya bahwa segala keputusan harus diambil dari keinginan dia sendiri bukan krn paksaan baru hal itu bisa membuat dia 'bebas'. tapi saya memang mendorong dia melakukan bbrp hal namun tanpa paksaan.



tidak ada salahnya kamu mengetahui personal history atau family background, krn juga bisa mem-pengaruhi perbuatannya. the most important is not self harm itself, tetapi motivasi/alasan di balik perbuatannya.

dia sendiri pahit luar biasa dgn mama nya yg selalu punya selingkuhan sedangkan papa dlm gambaran yg saya dapat dari dia adalah seorang pria yg setia, menyayangi, hanya, & tdk pernah memaksa dia. selalu mengerti dia.
kata-kata yg selalu dia ucapkan adalah, "gua sayang banget sama papa gua. dia bener-bener baik. dia pengertian."
hal itu selalu diucapkannya dalam cerita dia. tapi soal mama nya jarang sekali disebutkan walaupun tdk juga dijelek-jelekkan. hanya sekali dlm 1 occassion saya tahu tentang mamanya.
tapi di satu pihak dia juga bercerita bahwa mamanya selalu bilang sama mantan co-nya u/ mengerti dia krn dia juga sakit gondok yg tdk sembuh² sehingga menimbulkan depresi terus menerus. dia juga sudah sangat kesulitan tidur & selalu dibantu bbrp obat tidur. makan hanya 3 sendok nasi sehari. sampai saya sendiri kaget melihat bentuk badannya yg sampai kurus sekali.




jika anak mengurung diri di kamar & tdk ingin makan, apakah org tuanya sering memberi hukuman dgn cara demikian kalau ia membuat kesalahan ?

seorg teman saya yg lain pernah bercerita bahwa waktu kecil dia sering melakukan 'aksi' mogok makan & mengurung diri di kamar. tapi kemudian dia hentikan ketika melihat bahwa org tua dia tdk pernah memberi respon kepada dia ketika dia melalukan hal tsb.

belakangan saya teringat bahwa hal 'ngambek' dan 'mogok makan' adalah hal yg sering sekali bahkan sampai skrg dilakukan oleh mama dari teman saya itu.

bagaimana dgn hal ini?



3. ambil spidol/washable markers warna merah & mencoret-nya di tangan. gunanya sebg pengganti darah sendiri, krn ada mereka yg lebih suka melihat darah drpd membentur-kan kepala, menarik rambut, mematahkan tulangnya, etc...

sedikit tambahan informasi.
teman saya ini pernah berkata bahwa ketika dia menyakiti dirinya, teman dekat dia akan memegang tangan dia & berkata, "mi, kamu kenapa? jgn bikin aku takut? mi, aku akan selalu jadi teman kamu." (teman dekat dia adalah ex bf dia) & dia bilang bahwa hal itu mendorong dia u/ melakukan self harm lagi krn ketika dia menderita dia melihat teman dekat dia itu akan memperhatikan dia. selebihnya mrk seringkali bertengkar hanya krn hal sepele yg membuat dia pernah minum obat tidur sekaligus 3, 8 vitamin, bbrp panadol sekaligus. tapi anehnya dia bangun dgn tdk kenapa-napa & hanya lemas.
dia pernah memakai mariyuana u/ menenangkan diri tp ternyata tdk ber-impact pada badannya. bahkan sedikit gitting pun tdk.



7. coba utk tdk sendiri (call a friend, pergi ke mall, menulis perasaan² yg ada, etc).

saya pernah menyarankan dia u/ menulis semua perasaan yg ada. tapi dia bilang bahwa dia tdk bisa melakukan apa² ketika perasaan depresi itu datang lagi. saya juga pernah meminta dia mencoba mendengarkan lagu² instrumen yg menenangkan jiwa (bukan lagu² melankolis dsbnya) tapi dia bilang bahwa dia bisa gila bila mendengarkan lagu. padahal dia ini vocalist band.
yg menyulitkan adalah dia sendiri sepertinya tdk berani mencoba atau merasa tdk punya kekuatan u/ mencoba.

kami, teman² kampus dia, sudah bergantian menemani dia agar tdk sendiri. saya sendiri bukan teman dekat dia, hanya saja dia percaya sekali pada saya. tapi saya tahu bahwa semua teman² baik dia setiap hari bergantian menelpon dia.
hanya saja saya berpikir, menemani saja tdk ada gunanya krn kami tdk akan pernah bisa menemani dia 24 jam. harus ada cara u/ membuat dia 'bebas' dari hal ini. karena lama-lama dia bisa hancur.



menurut saya, jalan terbaik utk mengatasi long term self harm (sudah di lakukan dlm jangka waktu lama), yaitu dgn cara konsultasi pd psychologist atau liwat therapy.

dia sendiri menyetujui ketika saya bertanya apakah dia mau saya carikan psikiater. tapi sendiri tdk terlalu optimis dgn psikiater² yg baik & biayanya bisa dia jangkau.
dia tdk pernah bilang bahwa dia kekurangan uang, tapi dia pernah berkata bahwa sebenarnya kalau dia tdk butuh uang, dia akan berhenti bekerja. hal itu membuat saya berpikir apakah setelah biaya pengobatan penyakit gondok dia plus depresi dia yg tdk ada habis² nya dia masih bisa dibebabi biaya psikiater yg mahal.
jujur saja, saya kuatir bila harus melihat wajah kecewanya lagi.

u/ itulah saya mencoba mencari hal² yg bisa dilakukan u/ awalnya dulu supaya dia membaik. & pelan² bertanya² tentang psikiater yg baik.
apakah ada saran lbh baik ke psikiater mana?
note: saya di jkt.


ohya sedikit tambahan, dia suka mengulang² kata² ini: "gua itu dulu ngga kaya gini. gua itu kuat. gua itu kuat. sampai teman² gua dulu suka bilang 'kaya mimi donk. kuat' "
tapi saya sendiri curiga bahwa dulu dia hanya menahan perasaan dia. dia terus menyalahkan penyakit gondok dia yg menyebabkan dia depresi terus menerus. apa benar demikian?



terima kasih buat jawaban² nya ya...
ditunggu reply'an nya soon..


regards,
L:M

ewulans
13-06-2002, 02:45 PM
Liv... boleh ikutan postingkan?? :)

kalo menurut gw sih temenmu itu si mimi emang nyoba untuk kuat deh.
mungkin dulu dia coba nahan semua yg dia alamin. dan satu yg paling ngaruh dia tuh yakin kalo dia kuat n bisa ngatasin segalanya,nah mungkin skrg dia udah gak pede lagi bahwa dia bisa ngatasin semua,bisa jadi krn masalah dan sakit yg dia alamin udah makin kompleks. jadi kalo menurut gw dia butuh temen yang bisa ngertiin dia n ngorek supaya pedenya untuk kuat bisa keluar lagi,karena somehow gw ngerasa temenmu sebenernya punya jiwa yg bagus dan kuat.

satu lagi kayaknya bisa jadi dia juga kecewa dg mamanya,n hal itu dia pendam aja.mungkin bagusnya.. seburuk apapun mamanya dia harus punya org utk share perasaannya ttg mamanya itu.

sorry liv kalo gak berkenan ::maap::

Windy Reed
13-06-2002, 05:08 PM
Originally posted by chii-chan
saya suka muncul keinginan pengen 'suicide' tuh... biasanya sih muncul dari depresi saya... dan tekanan-tekanan dari luar... rasanya bener-bener mau matiiii aja... tapi entah kenapa pas udah di hadapkan ke pelaksanaannya jadi takut sendiri... tapi keinginan itu selalu muncul mulu...
senasib ya, niat ada nyali kurang ;D

Living Melody
13-06-2002, 10:57 PM
Originally posted by ewulans
Liv... boleh ikutan postingkan?? :)

kalo menurut gw sih temenmu itu si mimi emang nyoba untuk kuat deh.
mungkin dulu dia coba nahan semua yg dia alamin. dan satu yg paling ngaruh dia tuh yakin kalo dia kuat n bisa ngatasin segalanya,nah mungkin skrg dia udah gak pede lagi bahwa dia bisa ngatasin semua,bisa jadi krn masalah dan sakit yg dia alamin udah makin kompleks. jadi kalo menurut gw dia butuh temen yang bisa ngertiin dia n ngorek supaya pedenya untuk kuat bisa keluar lagi,karena somehow gw ngerasa temenmu sebenernya punya jiwa yg bagus dan kuat.

satu lagi kayaknya bisa jadi dia juga kecewa dg mamanya,n hal itu dia pendam aja.mungkin bagusnya.. seburuk apapun mamanya dia harus punya org utk share perasaannya ttg mamanya itu.

sorry liv kalo gak berkenan ::maap::
thx, :)

menurut saya juga begitu, tapi saya juga masih menduga.
makanya saya tanya yg bener-bener psikiater di sini. hehe. :D

aisyah248
14-06-2002, 12:14 AM
Originally posted by Living Melody

di sini kamu nulis tentang kesulitan dalam mengekspresikan emosi mereka.
tapi pada kasus teman saya, saya tidak melihat adanya kesulitan dlm diri dia untuk mengekspresikan emosi dia. dia type yg mudah curhat, bnyk teman (bukan type yg mengucilkan diri di kamar), disukai, dsbnya.
hanya pada saat² tertentu dia menyendiri di kamar.
kadangkala sampai meringkuk gemetaran di bawah meja komputer. dia berkata bahwa dia merasa aman di tempat yg sempit itu, semua itu muncul di kala dia sendirian.

trus terang yah. gue pernah melakukan self-harm. ini beberapa tahun yg lalu. uhm hampir empat tahun yg lalu deh. makanya gue sangat prihatin atas kasus yg kamu tulis disini...karena gue dulu begitu.

gue sih juga gak kesulitan untuk ekpresi...curhat juga sering. tapi itu bukan masalah. masalahnya adalah banyak yg sudah aku pendam yg tidak bisa dikeluarkan lewat omongan ataupun curhatan. susah. gak tau yah apa yg dicurhatin oleh teman kamu kepada teman2 dia yg laen, tapi daku rasa itu bukan semuanya. dan juga aku rasa, selama dia gak mengatasi masalah ama ibunya, kelakukan dia itu gak akan berhenti juga.

Self-harmers think that one of the best way to show people that they are really hurting inside is by hurting themselves physically. Because that physical pain is more noticeable than the pain that they have kept inside themselves for so long. And when the time is just right for that pain to surface, they will resort to materialize that pain into something noticeable by the naked eye.

bisa juga karena dah capek curhat, karena merasa gak pernah selesai juga masalah2 yg ada didalam diri dia dan keluarga dia atau rumah dia atau sekitaran dia.

hmm saya sempat berkata, "sayang sama badan yah. ngga ada gunanya nyakitin diri sendiri. nanti kalo satu hari nanti elo bahagia, loe pasti nyesel karena dulu elo pernah berbuat sesuatu yg mengakibatkan badan elo rusak."
salah ngga bicara kaya gini?
saya sendiri memang berusaha u/ tdk mendesak dia atau memaksa dia mengambil keputusan apapun, krn saya percaya bahwa segala keputusan harus diambil dari keinginan dia sendiri bukan krn paksaan baru hal itu bisa membuat dia 'bebas'. tapi saya memang mendorong dia melakukan bbrp hal namun tanpa paksaan.

saying stuff like that is not good. I did not want to hear them when I was going through that. i did want somebody to notice that I was hurting though. to just notice the pain and then ask "what's wrong".

Tapi yah untuk beberapa saat, gak ada. malah dibilangin begitu. Dan kalo dibilangin begitu mah emosi tambah naek, dan tambah 'motivated' untuk menyakitkan diri sendiri karena merasa kagak dimengerti sama sekali.

what you need to say is what tante carmina has said to you. Ask them what's wrong, and that you're there for them if they need you. no matter what.

And kadang perlu juga dipaksa untuk dikeluarin. Perlu macem dorongan untuk mengeluarkan apa yg didalam hati dan pikiran dia. Kalo gak, yah gak bakal keluar juga.

dia sendiri pahit luar biasa dgn mama nya yg selalu punya selingkuhan sedangkan papa dlm gambaran yg saya dapat dari dia adalah seorang pria yg setia, menyayangi, hanya, & tdk pernah memaksa dia. selalu mengerti dia.
kata-kata yg selalu dia ucapkan adalah, "gua sayang banget sama papa gua. dia bener-bener baik. dia pengertian."
hal itu selalu diucapkannya dalam cerita dia. tapi soal mama nya jarang sekali disebutkan walaupun tdk juga dijelek-jelekkan. hanya sekali dlm 1 occassion saya tahu tentang mamanya.
tapi di satu pihak dia juga bercerita bahwa mamanya selalu bilang sama mantan co-nya u/ mengerti dia krn dia juga sakit gondok yg tdk sembuh² sehingga menimbulkan depresi terus menerus. dia juga sudah sangat kesulitan tidur & selalu dibantu bbrp obat tidur. makan hanya 3 sendok nasi sehari. sampai saya sendiri kaget melihat bentuk badannya yg sampai kurus sekali.

mungkin juga, semua ini karena ibunya. dia melihat ibunya begitu, sakit2, dan dia mau benci tapi mungkin gak bisa, dan kasihan tapi gak mau kasihan. ruwet deh.

kayaknya butuh family counseling deh. hehehe itu lebih baek, dimana ibu, bapak, dan anak duduk berhadapan dan ngobrol. gue pernah begitu. dan sampe sekarang gue jadi non-official family counselor keluarga gue. orang tua kudu ngobrol ama anaknya. apalagi kalo orang tuanya itu juga "sakit". Selama itu gak terjadi, teman kamu itu juga akan susah sembuh.

belakangan saya teringat bahwa hal 'ngambek' dan 'mogok makan' adalah hal yg sering sekali bahkan sampai skrg dilakukan oleh mama dari teman saya itu.

yah kalo ibunya ngambek juga, kudu dipecahin tuh masalah itu.

sedikit tambahan informasi.
teman saya ini pernah berkata bahwa ketika dia menyakiti dirinya, teman dekat dia akan memegang tangan dia & berkata, "mi, kamu kenapa? jgn bikin aku takut? mi, aku akan selalu jadi teman kamu." (teman dekat dia adalah ex bf dia) & dia bilang bahwa hal itu mendorong dia u/ melakukan self harm lagi krn ketika dia menderita dia melihat teman dekat dia itu akan memperhatikan dia. selebihnya mrk seringkali bertengkar hanya krn hal sepele yg membuat dia pernah minum obat tidur sekaligus 3, 8 vitamin, bbrp panadol sekaligus. tapi anehnya dia bangun dgn tdk kenapa-napa & hanya lemas.
dia pernah memakai mariyuana u/ menenangkan diri tp ternyata tdk ber-impact pada badannya. bahkan sedikit gitting pun tdk.

nah itu masalah baru dalam satu masalah. hehe

mungkin dia begitu karnea tidak dapat perhatian dari orang2 yg bener2 di-incer perhatiannya itu. entah orang teman dia tersebut itu atau orang laen. komplex deh masalahnya. dan gak gampang mecahinnya. perlu beberapa tahun pula.

saya pernah menyarankan dia u/ menulis semua perasaan yg ada. tapi dia bilang bahwa dia tdk bisa melakukan apa² ketika perasaan depresi itu datang lagi. saya juga pernah meminta dia mencoba mendengarkan lagu² instrumen yg menenangkan jiwa (bukan lagu² melankolis dsbnya) tapi dia bilang bahwa dia bisa gila bila mendengarkan lagu. padahal dia ini vocalist band.
yg menyulitkan adalah dia sendiri sepertinya tdk berani mencoba atau merasa tdk punya kekuatan u/ mencoba.

yahh mungkin karena sudah kebiasaan, dia gak mau lepas dari kebiasaan itu.

it's like, you get used to being "sick" that you can't seem to see your life as being free from "sick". I know that, because I've had the same feelings. It's hard to let go of something that has become so routine. A routine that comforts you especially. And harming one's self to some people is "comforting". A bad habit that's hard to break. but yah, as her friend, you need to continue pushing her to get better. To not be afraid of change or being "healthy".

dia sendiri menyetujui ketika saya bertanya apakah dia mau saya carikan psikiater. tapi sendiri tdk terlalu optimis dgn psikiater² yg baik & biayanya bisa dia jangkau.
dia tdk pernah bilang bahwa dia kekurangan uang, tapi dia pernah berkata bahwa sebenarnya kalau dia tdk butuh uang, dia akan berhenti bekerja. hal itu membuat saya berpikir apakah setelah biaya pengobatan penyakit gondok dia plus depresi dia yg tdk ada habis² nya dia masih bisa dibebabi biaya psikiater yg mahal.
jujur saja, saya kuatir bila harus melihat wajah kecewanya lagi.

u/ itulah saya mencoba mencari hal² yg bisa dilakukan u/ awalnya dulu supaya dia membaik. & pelan² bertanya² tentang psikiater yg baik.
apakah ada saran lbh baik ke psikiater mana?
note: saya di jkt.

Tante aku punya teman yg bagus katanya di-Ongkomulyo rumah sakit.

[/quote]ohya sedikit tambahan, dia suka mengulang² kata² ini: "gua itu dulu ngga kaya gini. gua itu kuat. gua itu kuat. sampai teman² gua dulu suka bilang 'kaya mimi donk. kuat' "
tapi saya sendiri curiga bahwa dulu dia hanya menahan perasaan dia. dia terus menyalahkan penyakit gondok dia yg menyebabkan dia depresi terus menerus. apa benar demikian?[/quote]

ya bener tuh. tapi juga depresi dia adalah yg memperbesar penyakit gondok dia itu. kesel, sebel, dll tentang atau terhadap sesuatu itu yg memperbesar masalah dia itu. dan untuk mengatasi kudu dipecahin satu persatu. dari yg kecil sampe yg bener besar. karena yg kecil itu adalah yg support yg besar untuk masih ada.

tapi yah...teman kamu gak akan begitu terus menerus. kalo dia dapat bantuan yg baek...support (ini nomor satu) yg baek..etc.

gue gak terlalu minum obat, dan gak sering kedokter (abis they couldn't really figure out what my problem was...ampe gue jadi sebel ama mereka). Cuma karena dari family counseling itu dan juga karena keseringan ngobrol, orang tua gue serta yg laen2 sangat amat support. Dan satu persatu masalah yg bikin gue gondok dan depresi itu kurang. Dan karena itu, kekesalan, kesebalan yg ada didalam diri gue juga kurang.

but it takes time. a looonngg time. and patience...and support yg sangat amat kuat dari orang2 disekitarnya.

Gue berterus terang gini karena pengen membantu teman elo, ataupun orang2 laen yg mengalami ini. jangan putus asa deh...

dan juga banyak berdo'a, well kalo percaya yah...karena itu juga banyak membantu gue.

Lady Synthesizer
07-07-2002, 11:42 AM
konsultasinya udah berakhir ya? ::bingung::

Living Melody
31-07-2002, 10:59 PM
miss carmi, saya naikin lagi thread nya untuk menunggu jawaban kamu yah. :)

cockaigne
01-08-2002, 06:32 PM
Aduh, dah ketinggalan banyak banget! Tapi saya puas sama diskusinya. VERY informative!

Anywayz, waktu liat topiknya (suicide) saya langsung inget sama buku yang pernah saya baca. Bahwa pada dasarnya manusia itu punya kecenderungan yang namanya agresi (Saya lupa ini teorinya siapa. Is it Durkheim?). Nah, ada dua macam agresi yaitu agresi yang diarahkan keluar (outward), misalnya dengan merusak barang, memukul orang, dsb (pokoknya menyakiti org lain d!), dan agresi yang diarahkan ke dalam (inward), maksudnya ke diri sendiri. Yang terakhir inilah yang sering dikaitkan dengan suicide. Ketika baca posting yang lain, saya kok ngerasa yang dimaksud sama temen-temen disini (misal: self-injury, gak bisa mengungkapkan perasaan, dll.) lebih cocok sama yang saya sebutin barusan (aggression turned inward). Sejauh ini saya cuma bisa kasih tambahan segini mengingat dah lama bgt saya baca tentang suicide ini. Please correct me if I'm wrong.

Oia, saya juga setuju tentang memberikan anak kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya (pendapatnya Carminaburana yah? :)). Hal ini berhubungan sama perbedaan angka bunuh diri antara laki-laki dan perempuan lho! Anak laki-laki diberi kesempatan lebih sedikit untuk mengngkapkan perasaannya (misalnya, kalau kesakitan, tidak boleh mengeluh, kalau jatuh, tidak boleh nangis, dsb). Pada tingkat tertentu, anak-anak memang harus diajarkan untuk tidak cengeng, tapi kalau orang tua menerapkannya secara ekstrim, kemungkinan anak laki-laki akan lebih banyak menyimpan masalahnya daripada menumpahkannya. Sebaliknya, anak perempuan lebih mendapat kelonggaran untuk mengekspresikan perasaannya dan mendapat dukungan emosional yang lebih besar dari lingkungannya (misalnya dari teman-teman). Itulah sebabnya ce lebih mudah curhat daripada co. Dan kenyataannya, angka bunuh diri pd co (tahun n angkanya gak inget) lebih tinggi dr ce.
Saya nggak inget angkanya, tapi statistically, jenis kelamin memang berpengaruh.

Hmm...satu hal lagi yang saya ingat bahwa ada banyak faktor yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk melakukan suicide. Gak cuma masalah kejiwaan, tapi biologis juga bisa. Klo gak salah pada orang-orang yang punya kecenderungan bunuh diri kadar hormon serotoninnya tinggi (jgn lsg percaya nama hormonnya! I remember it has something to do with hormone level, I'm just not sure about the name :P).
Bahkan agresi, kalau ada penyalurannya bisa menurunkan angka bunuh diri. (Belum bisa dibuktikan, tp menarik buat dipikirkan--statistiknya Amerika) Selama masa PD II angka bunuh diri menurun. Apakah ini karena mereka yang punya kecenderungan lebih mudah menyalurkannya dengan mendaftarkan diri sebagai tentara?

Selain itu, musim, suhu udara jg berpengaruh. Pd musim gugur angka bunuh diri meningkat...dsb...dsb...

Istilah lain yang juga saya inget dr buku itu: cry for help. Itu dah jelas disebutin juga (sama Aisyah/Melody) dan bentuk protes. Misalnya lewat pernyataan seperti: "You'll be sorry if I'm dead!"

Kayaknya segitu dulu d, dah buntu ni. Thanks!

Lady Synthesizer
01-08-2002, 11:48 PM
Originally posted by cockaigne
Dan kenyataannya, angka bunuh diri pd co (tahun n angkanya gak inget) lebih tinggi dr ce.
Saya nggak inget angkanya, tapi statistically, jenis kelamin memang berpengaruh.
kalo gitu bisa dikatakan yah, the more we can express what inside our heart the more kita "sembuh". rite?
that's why ce yg mudah mengekspresikan perasaannya akan terlihat lebih sehat (dalam hal jiwa) daripada co (maupun ce) yg dipendam?
bener ngga gini?

Hmm...satu hal lagi yang saya ingat bahwa ada banyak faktor yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk melakukan suicide. Gak cuma masalah kejiwaan, tapi biologis juga bisa. Klo gak salah pada orang-orang yang punya kecenderungan bunuh diri kadar hormon serotoninnya tinggi (jgn lsg percaya nama hormonnya! I remember it has something to do with hormone level, I'm just not sure about the name :P).
nah ini menarik nich. ada yg bisa neraningin ngga?
Bahkan agresi, kalau ada penyalurannya bisa menurunkan angka bunuh diri. (Belum bisa dibuktikan, tp menarik buat dipikirkan--statistiknya Amerika) Selama masa PD II angka bunuh diri menurun. Apakah ini karena mereka yang punya kecenderungan lebih mudah menyalurkannya dengan mendaftarkan diri sebagai tentara?
atau pikiran mrk tdk lagi berpusat kepada diri mrk sendiri tapi kemerdekaan bangsa?
posible kan? knp kita bunuh diri? krn kita memandang masalah kita lbh besar dr kemampuan kita mengatasinya (padahal pada dasarnya semua itu cuma paradigma kita yg salah). kenapa kita jadi berpikir dan tenggelam dlm pikiran seperti itu? krn seluruh hidup dan pikiran kita terpusat pada diri kita sendiri.
mungkin ngga?

**yg ahli muncul donk! :)

Selain itu, musim, suhu udara jg berpengaruh. Pd musim gugur angka bunuh diri meningkat...dsb...dsb...
ini jg menarik dan aye kaga ngerti dah. emanknya pengaruh ya?

correct me too if i'm wrong....
and i wish discussion ini ngga segera berakhir. :)

aisyah248
03-08-2002, 10:58 PM
Originally posted by Synthesizer Gal

kalo gitu bisa dikatakan yah, the more we can express what inside our heart the more kita "sembuh". rite?
that's why ce yg mudah mengekspresikan perasaannya akan terlihat lebih sehat (dalam hal jiwa) daripada co (maupun ce) yg dipendam?
bener ngga gini?

betul...makanya ada psikolog (serta adik gue sendiri kepada gue beberapa tahun yg lalu) yg pernah nyaranin untuk menulis apa2 yg didalam kepala kita disebuah jurnal gitu, supaya kita gak begitu mendam perasaan. Tapi telah diexpresi dikertas gitu...

atau lewat tulisan2, puisi2, gambar2, atau macem outlet laennya dimana perasaan kita itu akan keluar dalam bentuk positive bukan negative...

atau pikiran mrk tdk lagi berpusat kepada diri mrk sendiri tapi kemerdekaan bangsa?


mungkin selaen pikiran kita tidak berpusat kepada diri kita sendiri, agresi yg ada didalam diri kita tuh akan keluar didalam "battlefield" gitu. Keluar lewat fighting2 yg terjadi disono...

Dan in another way, we feel that we're worth something. that our lives mean something. through helping our nation, we don't feel like we're nothing, but something. because our efforts are helping a bigger cause...macem para perempuan yg berkerja dipabrik sebagai tenaga karena laki2 para pergi perang, atau para laki2 yg daftar dimilitary gitu...

mereka merasa berguna...dan waktu untuk mikir tentang diri sendiri tuh berkurang...

posible kan? knp kita bunuh diri? krn kita memandang masalah kita lbh besar dr kemampuan kita mengatasinya (padahal pada dasarnya semua itu cuma paradigma kita yg salah). kenapa kita jadi berpikir dan tenggelam dlm pikiran seperti itu? krn seluruh hidup dan pikiran kita terpusat pada diri kita sendiri.
mungkin ngga?

selaen masalah kita berfikir gak bisa mengatasi masalah2 yg kita menghadapi sekarang itu, banyak orang yg bunuh diri karena merasa "worthless". Gak ada harga, gak dipikir dengan baek dirinya itu...makanya mending mati daripada hidup. Apalagi kalo dia merasa orang2 tuh gak menghargai dirinya...atau gak ada yg mencintainya...

And about why the statistics for suicide goes up during winter (musim dingin), one reason could be because the winter season seems depressing.

Karena pohon2 pada mati, dingin sekali orang banyak dirumah, binatang pada hilang (ngumpet karena dingin juga), etc. Dan kalo lihat keluar itu pemandangannya gak ceriah, hanya putih dan abu2 dan kesannya tuh sedih...somber...etc.

Atau juga, karena disini tuh pas musim dingin banyak sekali acara2 holiday gitu macem Thanksgiving....Natal...etc. orang tuh yg gak punya keluarga atau merasa dirinya sendiri tuh akan lebih merasakan gitu pas musim dingin. Soalnya banyak sekali orang2 tuh pulang ketemu keluarganya atau kumpul2 ama orang2 yg mereka cintai dan suasanya hepi sekali...

They feel really left out, and so very much alone during the winter because of the Holidays...

Lady Synthesizer
09-08-2002, 03:40 PM
dalam hal ini gua setuju. salah satu hal terpenting buat manusia adalah menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yg berharga. dan rasa berharga muncul karena merasa bahwa ada org yg mencintai dia. :)

menurut gua cara pandang kita terhadap masalah dan segala sesuatu dlm hidup gua sebenernya lah yg menentukan apa jadinya kita dan bagaimana kelanjutan hidup kita.

i mean contohnya kaya gini lho.. temen gua merasa dirinya bermasalah dgn co nya dlm hal A tapi gua yg mengalami hal yg sama dgn co gua menganggap hal itu sama sekali bukan masalah dan wajar aja.. sehingga hubungan kita tetep manis sedangkan dia berantem. sebenernya sama aja kan.. point nya itu ada pada cara pandang gitu lho..

soal menuliskan perasaan di dlm jurnal.. i also do the same.. gua sendiri juga jarang curhat dan cara gua mengekspresikannya adalah lewat apa yg gua tulis. makanya forum buat gua merupakan salah satu bentuk peng-ekspresi'an diri.

Living Melody
16-08-2002, 01:26 PM
i'm sorry for being absent to check this forum.::maap::
i will write somethin' tonight.

funnyfunky
01-09-2002, 08:07 PM
wah... pas banget ada thread kayak gini...

ada seorang temen gue (cowo) yg juga suka nyakitin dirinya sendiri kalo lagi banyak pikiran... biasanya sih dia nyilet2 badannya sendiri...
yang gue lebih sebel lagi pernah dia menelpon gue dan sambil nelpon itu dia nyilet2 badan sendiri sambil ngaduh-ngaduh... langsung aja gue marah dan gue coba bilangin kalo kayak gitu tuh gak baek.. tapi kayaknya gak banyak berubah tuh...
gue sempet bingung harus gimana... tapi setelah baca thread ini moga gue bisa bantu dia...

Living Melody
02-09-2002, 01:42 AM
miss carmi,


thanks for the explanation. it's help so much.
bsk saya akan bertemu mimi dan akan saya ceritakan perkembangan dan pertanyaan selanjutnya di sini.