braser
25-11-1999, 01:58 PM
Tadi malam (24 Nov 99) aku punya pengalaman baru yang agak menyedihkan karena aku harus kehilangan 1 dari 2 cewek yang merupakan sahabat terbaikku.
Dalam cerita ini ada empat orang yang terlibat, 2 cewek sebut aja W1 dan W2, 2 cowok aku dan sebut aja P. W1 dan W2 saling tahu tapi tidak pernah berkenalan demikian juga halnya aku dan P saling tahu aja. Aku dan W1 adalah sahabat yang sangat akrab sama dengan aku terhadap W2. Mereka sama baiknya dan sangat menjaga hubungan persahabatan kami. Segala keluh kesah mereka selalu mereka utarakan padaku tanpa ada yang ditutup-tutupi. P dan W2 bersahabat sangat akrab. P sering curhat sama W2 dan P lagi dekat sama W1 karena baru kenalan.
Dua Minggu yang lalu, W2 cerita pada saya tentang curhatnya P. P bilang bahwa ia naksir sama W1 tapi ia punya rencana yang bagi saya merupakan rencana jahat. Rencananya P mau pacaran sama W1 hanya supaya bisa tidur dengannya. Dan setelah keinginannya terpenuhi P akan segera meninggalkan W1 karena pada dasarnya ia tidak suka apalagi cinta sama W1.
W1 tidak memberitahukan tentang hubungannya dengan P sama saya. Jadi saya hanya tahu dari W2 keadaan tersebut.
Bermaksud untuk menyelamatkan W1 dari rencana P maka aku minta izin sama W2 untuk menceritakan hal itu kepada W1. W2 tidak keberatan karena dia tahu aku berteman baik dengan W1. Karena W2 tidak keberatan maka kemarin sore sepulang kantor aku menemui W1 dan aku katakan supaya dia berhati-hati dengan orang yang sedang berusaha dekat dengannya. W1 terkejut seolah tak mengerti apa yang sedang kubicarakan. Tapi aku segera mengatakan bahwa aku udah tahu semuanya dari W2.
Setelah aku ceritakan semuanya, W1 mengatakan bahwa ia tidak percaya bahwa P berkata seperti itu dan dia ingin membahas hal itu dengan P. Aku katakan pada W1 bahwa itu tidak ada gunanya karena P tidak akan pernah mau mengakuinya andaikan ia menanyakannya langsung. Aku jelaskan juga bahwa keinginanku mengatakan itu padanya hanya semata-mata didorong oleh persahabatan yang cukup lama dan akrab dengan W1 bukan supaya dia membahasnya dengan P yang hanya akan menghasilkan pertengakaran.
Singkat cerita, sepulang kantor aku pergi ke suatu tempat dimana W2, P dan teman-temannya ada. W1 tahu bahwa aku akan ada ditempat itu. Selang beberapa jam W1 pun tiba ditempat itu. Ia langsung mengajak P ke satu tempat yang agak sepi untuk ngobrol. Beberapa menit kemudian aku lihat W1 sudah mulai menangis.
Kemudian, temannya W1 datang menghampiriku ketika aku sedang bicara dengan W2 dan mengatakan bahwa aku dipanggil W1. W2 adalah orang yang sangat sayang padaku dalam arti teman. Dia tidak mengizinkan aku menemui W1 dan sebagai gantinya W2 pergi menemui mereka dan aku tinggal sendirian. Sekitar setengah jam kemudian W2 datang menemuiku dan mengatakan bahwa P tidak mengakui perkataanya dan W2 memaklumi hal itu. Tapi W2 juga mengatakan kepada W1 bahwa semua yang aku telah katakan padanya (W1) adalah dari dia (W2). W1 tidak puas dengan jawaban itu karena P tetap tidak mau mengaku dan W1 mau bicara denganku didepan P dan W2. Aku tidak mau bicara didepan P dan W2 karena aku tidak punya keinginan untuk terlibat dalam hal itu jadi aku ajak W1 untuk bicara berdua.
Aku katakan sama W1 bahwa aku menceritakan tentang rencana P bukan untuk melibatkan aku dalam masalah mereka tapi untuk menolongnya sebagai teman baik saya agar berhati-hati bila harus tetap jalan sama P dan itu sebabnya aku tidak mau membicarakan hal itu di depan P dan W2. W1 satu tetap pada pendiriannya bahwa ia ingin tahu kebenaran dari rencana tersebut. Aku katakan padanya bahwa sekali pun ia memaksa P untuk mengakui rencana itu, P tidak akan pernah mau mengakuinya. W1 lebih percaya pada pengakuan P yang mengatakan bahwa ia tidak pernah punya rencana seperti itu.
Karena waktu sudah semakin larut dan kesimpulan pembicaraan kami tidak tercapai, akhirnya aku mengambil satu cara untuk menyelesaikannya. Inilah pembicaraan kami terakhir,
Aku: Sepertinya kamu tidak mengerti maksudku mengatakan semua itu dan kamu mearasa lebih perlu mencari orang yang bisa dipersalahkan. Baiklah sekarang apa yang ingin kamu tahu?
W1: Aku mau tahu kebenaran dari apa yang kamu katakan tentang rencana P terhadap saya. Saya sudah tanya P dan dia bilang bahwa dia tidak pernah mengatakan rencana tersebut. Jadi kamu tahu dari siapa?
Aku: Maling tidak akan pernah ngaku sebagai maling. Kalau kamu mencari siapa yang salah, salahkanlah aku. Aku yang mengarang semua cerita itu supaya kamu bertengkar dengan P. (Tentu ini hanya cerita yang saya ciptakan sendiri supaya W1 satu puas karena ia sudah dapat orang yang bersalah dan masalah ini pun selesai dan saya bisa pulang)
W1: Tega kamu berbuat itu pada saya? Kenapa?
(aku tetap pada rencanaku untuk menempatkan aku pada posisi yang bersalah demi menyelesaikan masalah tersebut dan demi memuaskan kepenasaran W1)
Aku: Ya, aku tega. Aku ingin membuatmu menderita.
Dengan perasaan puas dan sedih W1 segera pergi meninggalkanku sambil berkata, "nggak kusangka kamu bisa berbuat seperti itu."
Summary:
Keinginanku untuk menolong W1 dari rencana P ternyata memaksaku untuk melakukan pengorbanan sebagai orang yang dipersalahkan dan lebih dari itu, aku harus kehilangan W1 sebagai sahabat baikku. Aku merasa kehilangan W1 karena ia adalah best friend-ku yang pertama sebelum W2.
Dalam cerita ini ada empat orang yang terlibat, 2 cewek sebut aja W1 dan W2, 2 cowok aku dan sebut aja P. W1 dan W2 saling tahu tapi tidak pernah berkenalan demikian juga halnya aku dan P saling tahu aja. Aku dan W1 adalah sahabat yang sangat akrab sama dengan aku terhadap W2. Mereka sama baiknya dan sangat menjaga hubungan persahabatan kami. Segala keluh kesah mereka selalu mereka utarakan padaku tanpa ada yang ditutup-tutupi. P dan W2 bersahabat sangat akrab. P sering curhat sama W2 dan P lagi dekat sama W1 karena baru kenalan.
Dua Minggu yang lalu, W2 cerita pada saya tentang curhatnya P. P bilang bahwa ia naksir sama W1 tapi ia punya rencana yang bagi saya merupakan rencana jahat. Rencananya P mau pacaran sama W1 hanya supaya bisa tidur dengannya. Dan setelah keinginannya terpenuhi P akan segera meninggalkan W1 karena pada dasarnya ia tidak suka apalagi cinta sama W1.
W1 tidak memberitahukan tentang hubungannya dengan P sama saya. Jadi saya hanya tahu dari W2 keadaan tersebut.
Bermaksud untuk menyelamatkan W1 dari rencana P maka aku minta izin sama W2 untuk menceritakan hal itu kepada W1. W2 tidak keberatan karena dia tahu aku berteman baik dengan W1. Karena W2 tidak keberatan maka kemarin sore sepulang kantor aku menemui W1 dan aku katakan supaya dia berhati-hati dengan orang yang sedang berusaha dekat dengannya. W1 terkejut seolah tak mengerti apa yang sedang kubicarakan. Tapi aku segera mengatakan bahwa aku udah tahu semuanya dari W2.
Setelah aku ceritakan semuanya, W1 mengatakan bahwa ia tidak percaya bahwa P berkata seperti itu dan dia ingin membahas hal itu dengan P. Aku katakan pada W1 bahwa itu tidak ada gunanya karena P tidak akan pernah mau mengakuinya andaikan ia menanyakannya langsung. Aku jelaskan juga bahwa keinginanku mengatakan itu padanya hanya semata-mata didorong oleh persahabatan yang cukup lama dan akrab dengan W1 bukan supaya dia membahasnya dengan P yang hanya akan menghasilkan pertengakaran.
Singkat cerita, sepulang kantor aku pergi ke suatu tempat dimana W2, P dan teman-temannya ada. W1 tahu bahwa aku akan ada ditempat itu. Selang beberapa jam W1 pun tiba ditempat itu. Ia langsung mengajak P ke satu tempat yang agak sepi untuk ngobrol. Beberapa menit kemudian aku lihat W1 sudah mulai menangis.
Kemudian, temannya W1 datang menghampiriku ketika aku sedang bicara dengan W2 dan mengatakan bahwa aku dipanggil W1. W2 adalah orang yang sangat sayang padaku dalam arti teman. Dia tidak mengizinkan aku menemui W1 dan sebagai gantinya W2 pergi menemui mereka dan aku tinggal sendirian. Sekitar setengah jam kemudian W2 datang menemuiku dan mengatakan bahwa P tidak mengakui perkataanya dan W2 memaklumi hal itu. Tapi W2 juga mengatakan kepada W1 bahwa semua yang aku telah katakan padanya (W1) adalah dari dia (W2). W1 tidak puas dengan jawaban itu karena P tetap tidak mau mengaku dan W1 mau bicara denganku didepan P dan W2. Aku tidak mau bicara didepan P dan W2 karena aku tidak punya keinginan untuk terlibat dalam hal itu jadi aku ajak W1 untuk bicara berdua.
Aku katakan sama W1 bahwa aku menceritakan tentang rencana P bukan untuk melibatkan aku dalam masalah mereka tapi untuk menolongnya sebagai teman baik saya agar berhati-hati bila harus tetap jalan sama P dan itu sebabnya aku tidak mau membicarakan hal itu di depan P dan W2. W1 satu tetap pada pendiriannya bahwa ia ingin tahu kebenaran dari rencana tersebut. Aku katakan padanya bahwa sekali pun ia memaksa P untuk mengakui rencana itu, P tidak akan pernah mau mengakuinya. W1 lebih percaya pada pengakuan P yang mengatakan bahwa ia tidak pernah punya rencana seperti itu.
Karena waktu sudah semakin larut dan kesimpulan pembicaraan kami tidak tercapai, akhirnya aku mengambil satu cara untuk menyelesaikannya. Inilah pembicaraan kami terakhir,
Aku: Sepertinya kamu tidak mengerti maksudku mengatakan semua itu dan kamu mearasa lebih perlu mencari orang yang bisa dipersalahkan. Baiklah sekarang apa yang ingin kamu tahu?
W1: Aku mau tahu kebenaran dari apa yang kamu katakan tentang rencana P terhadap saya. Saya sudah tanya P dan dia bilang bahwa dia tidak pernah mengatakan rencana tersebut. Jadi kamu tahu dari siapa?
Aku: Maling tidak akan pernah ngaku sebagai maling. Kalau kamu mencari siapa yang salah, salahkanlah aku. Aku yang mengarang semua cerita itu supaya kamu bertengkar dengan P. (Tentu ini hanya cerita yang saya ciptakan sendiri supaya W1 satu puas karena ia sudah dapat orang yang bersalah dan masalah ini pun selesai dan saya bisa pulang)
W1: Tega kamu berbuat itu pada saya? Kenapa?
(aku tetap pada rencanaku untuk menempatkan aku pada posisi yang bersalah demi menyelesaikan masalah tersebut dan demi memuaskan kepenasaran W1)
Aku: Ya, aku tega. Aku ingin membuatmu menderita.
Dengan perasaan puas dan sedih W1 segera pergi meninggalkanku sambil berkata, "nggak kusangka kamu bisa berbuat seperti itu."
Summary:
Keinginanku untuk menolong W1 dari rencana P ternyata memaksaku untuk melakukan pengorbanan sebagai orang yang dipersalahkan dan lebih dari itu, aku harus kehilangan W1 sebagai sahabat baikku. Aku merasa kehilangan W1 karena ia adalah best friend-ku yang pertama sebelum W2.