PDA

View Full Version : Single Parent (Part 2)...


ß.è.ñ.z
11-08-2003, 10:15 AM
Beberapa tahun yang lalu dalam perjalanan ke satu daerah, gue satu tempat duduk di pesawat dengan seorang ceweq yang memilih untuk menjadi Single Parent, tapi lalu menikah dengan salah seorang temen kantor gue... Gue pernah mengangkat topik ini di [KG] (selengkapnya ada di sini (http://forum.kafegaul.com/forum/showthread.php?s=&threadid=3649) )...

Nach, Week End kemaren, lagi gue jalan-jalan sekeluarga ke salah satu Mall, tiba-tiba ada yang manggil nama gue, dan ternyata si cantik pinter itu... Wuih, lumayan heboh, sun kiri sun kanan yang sempat bikin Wify ::devil2:: :D

Dari cerita-cerita... akhirnya gue tau bahwa dia cerai dengan temen gue itu, lalu kembali melanjutkan hidupnya sebagai Single Parent. Dia cerita, dia sudah berusaha untuk Hidup Normal dengan teman gue itu, tapi ternyata nggak bisa... Dia tetap merasa lebih nyaman hidup sebagai Single Parent. Dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan, tanpa harus mempertimbangkan perasaan dan ijin (??) suaminya... bebas berekspresi dan mengembangkan karier. Umur pernikahan mereka hanya 5 bulan, dan (untungnya) tidak sempat berbuah anak... Dari penampilannya, gue liat, dia emang semakin berhasil sebagai Business Woman... dan dari keceriaan dan kelincahan ceritanya, gue liat dia memang sangat menikmati hidupnya...

Setelah bercerai, dia dan anaknya akhirnya memutuskan pindah ke Btm, karena usaha yang dia rintis waktu ketemu gue dulu itu berkembang dan berhasil baik. Dia juga menawarkan, kalau satu kali ke Btm lagi, masih boleh tinggal di rumah dia... (ancuuuurrrr, Wify lagi-lagi memandang penuh selidik, kembali ::devil2:: )

Waktu dulu dia nikah dengan temen gue, walaupun waktu itu gue mati-matian menentang, gue juga bersyukur dan lega karena (waktu itu) gue bisa menyimpulkan bahwa keyakinan hidup sebagai Single Parent itu sebenarnya nggak bener dan salah... Mungkin hanya sekedar alasan karena belum menemukan pasangan yang cocok saja... Tapi setelah pertemuan kemaren itu, dan dia menyatakan bahwa sampai kapanpun dia akan tetap memilih menjadi Single Parent, gue jadi berpikir dan bertanya-tanya... Apakah menjadi Single Parent itu benar dan normal adanya...??

Dulu, gue posting topik ini di CurPri, yang anggotanya kebanyakan (waktu itu) belum berkeluarga... Kali ini, gue ingin tau dari eloe-eloe yang kebanyakan sudah berkeluarga. Apakah eloe, baik ceweq ataupun cowoq, bisa hidup tanpa pasangan lawan jenisnya...?? Dalam kondisi seperti eloe-eloe saat ini, dimana ada istri atau suami, apakah pernah terbayang bahwa Hidup Lebih Nyaman dan Bahagia Tanpa Adanya Pasangan Kita itu... ?? ::bentar::

... I'm just currious ... ;)

ß.è.ñ.z
11-08-2003, 11:45 AM
Pertanyaan lain, khususnya buat [cewe], apakah loe pernah merasa bahwa pasangan loe (pacar or Hubby/ Wiffy) menghambat eloe untuk berKarier...?? ::bingung::

naila
11-08-2003, 12:00 PM
khusus laki gue, dia sih nggak menghambat gue. buktinya.. walaupun pisah kota, dia menolak mentah2 waktu gue tanya, apakah gue sebaiknya brenti kerja dan ikut dia ke sono :D

tapi semua tergantung masing2 pasangan sih. kalo emang si cewe makin lama makin ngerasa nggak cocok sama pendapat suaminya, terutama dalam soal pendidikan anak atau karier, dan nggak ada kompromi.. gue pribadi sih gak akan menyalahkan dia kalo pengen jadi single parent.

yang gue sayangkan adalah.. seringkali kesepakatan yg udah dibuat sebelum pernikahan malah dilanggar. kalo kayak gini sih gue ::sebel:: . tapi yah.. giman alagi.. people change :o

nggak selalu sepasang orang tua selalu lebih baik daripada seorang. lha kalo ribut melulu.. ngapain ada sepasang.. mending ada satu tapi damai :D.
kita di sini toh nggak ngomongin kondisi ideal. di mana2 juga idealnya adalah sepasang ortu yg rukun dan selalu kompak, anak2 selalu diperhatikan tapi karier kedua ortu tetep mulus dan meningkat terus. tapi realitanya toh gak seperti itu.

gue pribadi sih nggak pernah mikirin pengen hdup tanpa suami. tapi juga nggak kaget kalo ada yg merasa begitu. ada bbrp kerabat dan kenalan gue yg tetep jadi single parent setelah pisah/ato suaminya meninggal waktu dia masih muda.
(setelah jadi single parent, toh nggak ada bedanya gimana dia jadi single : cerai atau meninggal :).)

ß.è.ñ.z
11-08-2003, 12:30 PM
Originally posted by naila
tetep jadi single parent setelah pisah/ato suaminya meninggal waktu dia masih muda.
(setelah jadi single parent, toh nggak ada bedanya gimana dia jadi single : cerai atau meninggal :).)

Iya... betul. Tapi menurut gue, kalo "terpaksa" jadi Single Parent karena suami/ istri meninggal, atau cerai, itu adalah Takdir Yang Maha Kuasa, bukan satu pilihan... Dan kalau Iman kita kuat untuk menerima apa yang sudah digariskan oleh-Nya itu, kita hidup sebagai Single Parent...

Kasusnya agak berbeda dengan teman gue ini. Dia memang memilih untuk jadi Single Parent. Kalo sempat baca topik lawas gue itu, dari awal dia memang tidak mau bersuami. Dia memutuskan untuk memiliki anak, dari seseorang yang dia pilih untuk menjadi Ayah Biologis anaknya, tapi tidak sebagai Ayah dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, dia memang ingin punya anak, tapi tidak mau menikah dan memiliki suami... Agak aneh khan...??

Dan, rasanya, belakangan ini kasus yang seperti ini sering terdengar... ::bentar2::

Nai, gue pernah ditanya 'ma Wify: "... Apa pendapatmu kalau aku bekerja ?? ...", gue jawab, "boleh... boleh... kalau memang itu maumu". Lalu, setelah beberapa lama bekerja dan melakukan evaluasi, Wify nanya lagi: "... Apa pendapatmu kalau aku berhenti bekerja ?? ...", gue jawab: "boleh... boleh... kalau memang itu maumu"... sama persis :D :D :D

Menurut loe, gue Hubby yang pigimana yha...?? Menghambat, Mendukung... atau nggak peduli dengan karier istri ?? ::bentar::

naila
11-08-2003, 12:50 PM
Originally posted by ß.è.ñ.z
Kasusnya agak berbeda dengan teman gue ini. Dia memang memilih untuk jadi Single Parent. Kalo sempat baca topik lawas gue itu, dari awal dia memang tidak mau bersuami. Dia memutuskan untuk memiliki anak, dari seseorang yang dia pilih untuk menjadi Ayah Biologis anaknya, tapi tidak sebagai Ayah dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, dia memang ingin punya anak, tapi tidak mau menikah dan memiliki suami... Agak aneh khan...??

hmm.. yaa.. kao gitu emang agak aneh sih. emm.. bukan maksud gue ngejudge orang seh. tapi darimana dia tau bahwa keadaan tanpa ayah itu baik untuk anaknya? sementara kalo kasusnya cerai kan agak lain ya.. krn emang udah ada bukti ketidaknyamanan dalam rumah tangga itu


Nai, gue pernah ditanya 'ma Wify: "... Apa pendapatmu kalau aku bekerja ?? ...", gue jawab, "boleh... boleh... kalau memang itu maumu". Lalu, setelah beberapa lama bekerja dan melakukan evaluasi, Wify nanya lagi: "... Apa pendapatmu kalau aku berhenti bekerja ?? ...", gue jawab: "boleh... boleh... kalau memang itu maumu"... sama persis :D :D :D

Menurut loe, gue Hubby yang pigimana yha...?? Menghambat, Mendukung... atau nggak peduli dengan karier istri ?? ::bentar::

mendukung itu gak sama dengan menyuruh. buat gue sih, mendukung lebih dalam artian, kalo emang udah ngasih ijin, ya berusaha menciptakan situasi dan kondisi yg nyaman untuk si istri dalam bekerja. katakanlah dgn bantuin dalam kerjaan di rumah, bantuin merhatiin pendidikan anak, dst.

Mei_me
11-08-2003, 02:03 PM
Originally posted by naila
nggak selalu sepasang orang tua selalu lebih baik daripada seorang. lha kalo ribut melulu.. ngapain ada sepasang.. mending ada satu tapi damai :D.
kita di sini toh nggak ngomongin kondisi ideal. di mana2 juga idealnya adalah sepasang ortu yg rukun dan selalu kompak, anak2 selalu diperhatikan tapi karier kedua ortu tetep mulus dan meningkat terus. tapi realitanya toh gak seperti itu.



gw setuju ama yang ini ....

bagi gw Single Parent gak ada sisi negatifnya, juga buat anak ... yang sering dijadikan alasan ... buat gw anak bisa diajak bicara, dengan komunikasi dan kedekatan kita dengan anak, hal ini gak akan menjadi masalah.

Kebanyakan orang yang memilih hidup begini , adalah orang yang mandiri.

Hubby menghambat karier ... buat gw iya ... karena gw gak bisa pindah kemana2 untuk mengembangkan karier gw.

ß.è.ñ.z
11-08-2003, 02:09 PM
Originally posted by Mei_me
Hubby menghambat karier ... buat gw iya ... karena gw gak bisa pindah kemana2 untuk mengembangkan karier gw.

Begitukah...?? Koq bisa...??

Apa kalian gawe di satu perusahaan yang sama, atau... Hubby punya Share di perusahaan tempat loe gawe sekarang, sehingga bisa mem-force eloe supaya nggak pindah gawe...?? ::bingung::

Mei_me
11-08-2003, 02:33 PM
iya dong ... misal gw harus dipindah kerja ke kota A, padahal skrang gw di kota B. emang bisa semudah itu gw pindah ? padahal gw dah married.

Mungkin klo co (baca Hubby) lebih gampang dari ce (baca Wify)

ß.è.ñ.z
11-08-2003, 02:46 PM
Originally posted by Mei_me
iya dong ... misal gw harus dipindah kerja ke kota A, padahal skrang gw di kota B. emang bisa semudah itu gw pindah ? padahal gw dah married.

Oooo... gitu maksudnya. Kalau seperti itu sich, belum marriedpun jadi masalah sendiri tuch... Pindah ke lain kota khan nggak sederhana... ::bentar:: Harus boyongan, harus beradaptasi dengan lingkungan baru dsb... dst... dll... Belum lagi kalo ternyata tempat gawe yang baru itu ternyata kurang kondusif (kata yang lagi trend belakangan ini...), terpaksa harus pindah atau kembali... repot buanget.

Kalo cuman pindah kantor nggak dilarang khan...??

Buat para carrier woman, sebenernya sampai kapan sich eloe-eloe pingin berkarier ?? Apakah seterusnya...?? Atau ada satu milestone dimana kalo udah sampai di situ, eloe mau berhenti kerja, dan jadi ibu rumah tangga...

Pertanyaan lain, apa sebenernya yang eloe-eloe cari ?? Apakah uang semata ?? Khan punya suami, yang memang sudah kewajibannya untuk menghidupi keluarga... Apa pengakuan yang dicari, atau apa...??

Sorry... gue sama sekali nggak bermaksud mendiskreditkan dari sisi gender. Sebaliknya, gue sangat menghargai wanita bekerja... Yang dengan segala keterbatasan dan kelebihan kodrati-nya tetap giat dan semangat bekerja, kadang-kadang melampaui pria.

Gue cuman pengen tau aja, supaya bisa mengerti bagaimana dan apa yang ada dalam pikiran seorang wanita karir... ::bentar2::

Sekali lagi... I'm just currious ...

naila
11-08-2003, 02:59 PM
Originally posted by ß.è.ñ.z
Buat para carrier woman, sebenernya sampai kapan sich eloe-eloe pingin berkarier ?? Apakah seterusnya...?? Atau ada satu milestone dimana kalo udah sampai di situ, eloe mau berhenti kerja, dan jadi ibu rumah tangga...

semampu gue lah.. kalo emang gue sampe di satu titik dimana gue nggak sanggup lagi dual-mode, atau nggak bisa menikmati lagi, ya pasti gue bakal milih salah satu :)

Pertanyaan lain, apa sebenernya yang eloe-eloe cari ?? Apakah uang semata ?? Khan punya suami, yang memang sudah kewajibannya untuk menghidupi keluarga... Apa pengakuan yang dicari, atau apa...??

kalo dibilang gak nyari uang sih, kayaknya gue berdusta ;D. gue butuh duit, gue perlu ban serep alias second income buat keluarga yg juga bisa gue pake buat kebutuhan rekreasi gue (alias shopping).

tapi lebih dari itu, gue cinta banget bidang kerjaan gue sekarang. dan gue ngerasa, dgn bekerja seperti sekarang ini, ilmu gue dalam bidang ini jadi berkembang. kalo gue buka usaha lain, mungkin yg berkembang ilmu yg lain lagi, dan terus terang gue blom ngerasa tertarik buat switch :D.

kalo soal pengakuan dan aktualisasi, sebetulnya kan bisa didapat denganbanyak cara, termasuk dgn buka usaha di rumah di mana gue bisa lebih banyak ada di rumah :D.

alasan terakhir : krn gue ada ikatan dinas ;D;D

Mei_me
11-08-2003, 03:03 PM
klo masih single khan lebih fleksibel, palingan repot pindahannya doang, klo dah married khan musti minta ijin Hubby ... ituloh maksud gw.

gw kerja ... yang paling utama jelas buat duit dong . masalah Hubby dah memenuhi kebutuhan lahiriah itu lain lagi. Gw pengen lebih mandiri, gak mulu tergantung dari nafkah Hubby.

Sampai gw dah gak sanggup kerja ... klo gw keluar dari tempat gw gawe, palingan gw pengen usaha sendiri.

naila
11-08-2003, 03:08 PM
ya.. blom lama ini ada temen yg nanya.. sebenernya wajar gak sih kalo suami yg ikut istri pindah ke kota lain krn si istri punya karir yg lebih baik di sana?

what do you think, guys?

ß.è.ñ.z
11-08-2003, 03:19 PM
Originally posted by naila
ya.. blom lama ini ada temen yg nanya.. sebenernya wajar gak sih kalo suami yg ikut istri pindah ke kota lain krn si istri punya karir yg lebih baik di sana?

what do you think, guys?

Wach... agak susah buat menjawabnya. Mungkin perlu dilihat dari beberapa sisi, misalnya: Apakah si suami juga bisa berkarier lebih baik di tempat yang baru ?? Agak egois memang, tapi kalau di sana itu suaminya akhirnya menganggur, jadinya dosa, karena dalam keyakinan gue, mencari nafkah tetap menjadi tanggungjawab suami...

Tapi kalau sekarang dibilang lagi: Lha, wong istrinya pindah ke tempat baru karena terpilih jadi Bupati atau Gubernur misalnya... Gue pikir, suami HARUS ikut. Jabatan seperti itu khan merupakan amanat dari banyak orang. Kalau suami nggak ikut, siapa yang akan mendampingi si istri kalau perlu shoulder to cry misalnya...

Prinsipnya sich, gue akan bilang: Why Not, dengan catatan, sudah dipertimbangkan segala sesuatunya...

Nai, 2N+1 nich yeee... :)

BTW, di tempat gue ada beberapa orang yang begitu tapi nggak memenuhi kewajibannya... Ada yang dalam kesibukan kuliah ketemu jodoh, lalu milih tinggal di sana. Ada yang karena terlalu smart lalu ditawari kerja di Universitas tempat dia menuntut ilmu, ada yang... yach, memang merasa kembali ke institusi yang membiayainya dulu ini nggak menjanjikan hidup yang lebih baik. Lalu apa yang dilakukan oleh negara ?? Nothing...!!

naila
11-08-2003, 03:37 PM
Originally posted by ß.è.ñ.z
Wach... agak susah buat menjawabnya. Mungkin perlu dilihat dari beberapa sisi, misalnya: Apakah si suami juga bisa berkarier lebih baik di tempat yang baru ?? Agak egois memang, tapi kalau di sana itu suaminya akhirnya menganggur, jadinya dosa, karena dalam keyakinan gue, mencari nafkah tetap menjadi tanggungjawab suami...

OK, gue terima kok jawaban jij :D

beberapa kerabat gue ada yg jadi diplomat karier :). entah kenapa, kalo yang cowo diplomat, si istri harus ikut ke negara di mana si cowo ditempatkan, dan dilarang kerja (setau gue). tapi kalo si cewe yg diplomat, suaminya nggak harus ikut ke sono, dan kalopun ikut, boleh juga kerja2 sampingan.
aneh yak ;(

Prinsipnya sich, gue akan bilang: Why Not, dengan catatan, sudah dipertimbangkan segala sesuatunya...

setuju :)

Nai, 2N+1 nich yeee... :)

BTW, di tempat gue ada beberapa orang yang begitu tapi nggak memenuhi kewajibannya... Ada yang dalam kesibukan kuliah ketemu jodoh, lalu milih tinggal di sana. Ada yang karena terlalu smart lalu ditawari kerja di Universitas tempat dia menuntut ilmu, ada yang... yach, memang merasa kembali ke institusi yang membiayainya dulu ini nggak menjanjikan hidup yang lebih baik. Lalu apa yang dilakukan oleh negara ?? Nothing...!!

hahahah.. iya gue 2N+1, tapi dengan kompromi bisa berkurang asal bayar ganti rugi (boleh nyicil) atau kabur nggak ketauan :D.
tapi gue pribadi, kalo emang masih bisa balik, kenapa nggak? gue pernah buat komitmen, dan gue nggak ngeliat alasan untuk mengingkari komitmen itu.

gue pengen seperti salah seorang pakde gue. setelah lulus spesialisasi di negeri keju, dia bisa hujan emas di sana, jadi dokter spesialis yg penghasilannya "dijamin" asuransi. tapi toh bliaw milih pulang, jadi pegawe negeri, yg mbedah di RSCM dgn fasilitas kamar operasi begitu2 aja, yg kadang mau dibayar burung cucakrawa sama pasiennya. alhamdulillaah istrinya kaya ;D;D

kadang gue bisa sangaaaaaaaattt idealis ;D

ß.è.ñ.z
11-08-2003, 03:46 PM
Originally posted by naila
kadang gue bisa sangaaaaaaaattt idealis ;D

::up:: ::up::

Sippp... gue salut 'ma eloe. Kita kerja emang buat cari duit. Tapi kalo kita nggak suka...?? Ngapain ?? Sebaliknya, biarpun sebenernya penghasilan-nya sekedar cukup lebih dikit, tapi kita enjoy, rasanya senaaangg... :)

Soal idelais, sammmmaaaa... apa coba yang gue cari di sini ??? Kalo cuman ngejar the one and only Duit siyh... :)

juvemania
11-08-2003, 04:57 PM
Originally posted by ß.è.ñ.z
Oooo... gitu maksudnya. Kalau seperti itu sich, belum marriedpun jadi masalah sendiri tuch... Pindah ke lain kota khan nggak sederhana... ::bentar:: Harus boyongan, harus beradaptasi dengan lingkungan baru dsb... dst... dll... Belum lagi kalo ternyata tempat gawe yang baru itu ternyata kurang kondusif (kata yang lagi trend belakangan ini...), terpaksa harus pindah atau kembali... repot buanget.

Kalo cuman pindah kantor nggak dilarang khan...??

Buat para carrier woman, sebenernya sampai kapan sich eloe-eloe pingin berkarier ?? Apakah seterusnya...?? Atau ada satu milestone dimana kalo udah sampai di situ, eloe mau berhenti kerja, dan jadi ibu rumah tangga...

Pertanyaan lain, apa sebenernya yang eloe-eloe cari ?? Apakah uang semata ?? Khan punya suami, yang memang sudah kewajibannya untuk menghidupi keluarga... Apa pengakuan yang dicari, atau apa...??

Sorry... gue sama sekali nggak bermaksud mendiskreditkan dari sisi gender. Sebaliknya, gue sangat menghargai wanita bekerja... Yang dengan segala keterbatasan dan kelebihan kodrati-nya tetap giat dan semangat bekerja, kadang-kadang melampaui pria.

Gue cuman pengen tau aja, supaya bisa mengerti bagaimana dan apa yang ada dalam pikiran seorang wanita karir... ::bentar2::

Sekali lagi... I'm just currious ...

Karir gue lebih baik dari co gue...tapi gue nggak nutup kemungkinan suatu saat gue akan mundur dari kantor gue setelah gue nikah nanti...karena gue sadar bahwa gue punya tugas sebagai seorang istri....bo'ong kalo ada yang bilang bisa ngatur rumah tangga dan berakrir dengan balance artinya 50:50....pasti salah satu ada yang lebih berat....

Impian gue sich nggak muluk-muluk....gue hanya ingin jadi orang yang cukup....nggak berlebihan...jadi gue nggak ngoyo...emang nggak bisa di pungkiri apabila gue dan suami sama-sama kerja kita bisa lebih cepet mencapai keinginan kita (dalam hal ini materi)...tapi gue nggak mau kalo gue nantinya malah nggak bisa nikmatin hidup gue...gue nggak mau gue sibuk kerja sementara gue nggak tau perkembangan anak gue sampai mana, gue nggak mau nantinya suami gue nggak pernah tuker pikiran sama gue karena sama-sama sibuk....

Rico_mangkudewi
11-08-2003, 05:02 PM
balik ke topik ahhhh...

setau.gue (mungkin gue kuper)..single parent lebih banyak dilakonin oleh kaum [cewe] apalagi kalo latar belakang ke-single-anya adalah karna si [cowo] dapet [cewe] baruu...

bisa gak kita ambil kesimpulan bahwa sebenarnya [cewe] lebih

bertanggung jawab sebagai parent ::bentar:: ::bingung::

ß.è.ñ.z
11-08-2003, 05:10 PM
Originally posted by juvemania
...karena gue sadar bahwa gue punya tugas sebagai seorang istri....

::up:: ::up:: 4 you...

Ich... gue pikir eloe [cowo] lho... ::bingung::

Menurut gue, tugas sebagai seorang Ibu dan Istri lebih berat dibandingkan pekerjaan apapun di dunia ini... Nggak ada masa Cuti, nggak ada masa Pensiun... tugas seumur hidup...

Dan, kalau kemudian, karena pilihan ataupun terpaksa, hidup sebagai Single Parent, dia akan berperan sebagai Ibu, sekaligus Ayah... nothing wrong with that... Segalanya (biasanya) berjalan baik-baik saja...

Tapi sebaliknya, begitu seorang [cowo] menjadi Single Parent, amat sangat jarang berhasil untuk menjadi Ayah sekaligus Ibu...

Makanya gue salut pada mahluk yang namanya wanita, dan (masih) ingin lebih banyak mengenal dan mengexplorasi-nya... :) ;)

Mei_me
11-08-2003, 05:32 PM
Originally posted by Rico_mangkudewi
bisa gak kita ambil kesimpulan bahwa sebenarnya [cewe] lebih

bertanggung jawab sebagai parent ::bentar:: ::bingung::

kebanyakan single parent adalah perempuan,
gw melihat banyak hal kenapa laki2 gak bisa menjadi single parent ... dalam segi materi mungkin mrk bisa mandiri,
ttp dalam urusan lainnya, bathiniah ..mereka sangat perlu kehadiran perempuan ... misal : mengurus anak, mengurus RT, Sex dll.

Perempuan lebih bisa mengatasi itu semua

ß.è.ñ.z
11-08-2003, 05:41 PM
Originally posted by Mei_me
..mereka sangat perlu kehadiran perempuan ... misal : mengurus anak, mengurus RT, Sex dll.

Perempuan lebih bisa mengatasi itu semua

Tul... Gue C-7 ::up::

Temen gue itu yang Single Parent itu juga bilang bahwa Jangan loe (bilang ke gue) anggap bahwa perempuan itu sama 'ma laki. Dalam hal s3x misalnya, perempuan nggak apa-apa hidup tanpa s3x, sedangkan laki nggak mungkin...

Benarkah bahwa perempuan bisa menahan keinginan-nya...?? ::bingung:: Koq gue nggak terlalu percaya yha...?? ::bingung::

Mei_me
11-08-2003, 05:45 PM
Originally posted by ß.è.ñ.z
Tul... Gue C-7 ::up::

Temen gue itu yang Single Parent itu juga bilang bahwa Jangan loe (bilang ke gue) anggap bahwa perempuan itu sama 'ma laki. Dalam hal s3x misalnya, perempuan nggak apa-apa hidup tanpa s3x, sedangkan laki nggak mungkin...

Benarkah bahwa perempuan bisa menahan keinginan-nya...?? ::bingung:: Koq gue nggak terlalu percaya yha...?? ::bingung::

kok kata2nya percis yang sering gw bilang Hubby gw yach ::bingung::

emang bener tuch Da ... klo misalnya nich dibuat prioritas ... klo Co , Sex nomor 1, klo buat Ce, Sex baru nomor kesekian dech ....

ß.è.ñ.z
11-08-2003, 05:50 PM
Originally posted by Mei_me
kok kata2nya percis yang sering gw bilang Hubby gw yach ::bingung::

Jangan-jangan, gue emang Hubby-nya eloe... ::mega:: ::mega::

Bener nich...?? Pantes, kalo jail gue lagi keluar, terus pura-pura nyuekin Wify, dia tenang-tenang aja... sementara gue yang akhirnya nyerah, nggak tahan :o :( Jadi gitu tho...?? ::bingung::

Chantique
12-08-2003, 02:50 AM
loh katanya gak dapat anak... kok tiba2 dia ada anak ?? gimana sih nih Om Benz ??

jujur, kalo gue kayanya gak bisa jadi SINGLE PARENT.. gila susah aja... kecuali gue hidup diIndo kali bisa .. kan ada pembantu, disini mana bisa.. mampus gue

ß.è.ñ.z
12-08-2003, 08:19 AM
Originally posted by Chantique
loh katanya gak dapat anak... kok tiba2 dia ada anak ?? gimana sih nih Om Benz ??

jujur, kalo gue kayanya gak bisa jadi SINGLE PARENT.. gila susah aja... kecuali gue hidup diIndo kali bisa .. kan ada pembantu, disini mana bisa.. mampus gue

Hmmm... pasti nggak baca asal muasal ketemu 'ma tuch ceweq di postingan lawas gue dech... ;)

Nggak apa-apa, gue review lagi aja....

Singkat cerita, si SP itu dulu, sebelum gue kenal, pernah memutuskan untuk punya anak, dari seorang laki-laki. Jadi di antara beberapa pria yang having s3x 'ma dia, ada yang dia biarkan menanam benih dalam rahimnya, tanpa diketahui oleh si sperm donor. Dia hamil, lalu melahirkan seorang anak laki-laki yang... very-very cute. Babe biologisnya kalo gue nggak salah inget, seorang Bule yang PhD... Sekarang mungkin udah berumur sekitar 8-9 tahunan lach...

Yang gue bilang nggak punya anak itu dari temen sekantor gue, yang... duch sebel banget untuk diingat-ingat lagi, meninggalkan keluarganya untuk menikah dengan si SP ini... :( ::sebel:: Kalo inget hal itu, gue masih saja merasa berdosa, sudah mengenalkan mereka berdua... :( :o ::sebel::

Jadi begitulah. Dia punya anak kandung, tapi tidak punya suami, dan memutuskan untuk hidup sebagai Single Parent... Cerita yang agak unik yha...

Rico_mangkudewi
12-08-2003, 09:36 AM
Originally posted by Mei_me
emang bener tuch Da ... klo misalnya nich dibuat prioritas ... klo Co , Sex nomor 1, klo buat Ce, Sex baru nomor kesekian dech ....

mungkin keinginan untuk sex masih idup dalam dirinya yach....

tapi perasaan tanggung jawab untuk membesarkan dan

menafkahi anaknya lebih besar daripada kebutuhan sex-nya

aku ada kenal deket dengan ibu seperti ini...dalam pikirannya yg

terpikir cuma bgmn bisa membesarkan anak dng baik dan

mendapat pendidikan yg cukup buat bekal hidup dia...

kalo kita liat juga..lebih banyak jumlah perempuan yg kuat

menjanda daripada jumlah pria yg kuat menduda...

daripada

ß.è.ñ.z
12-08-2003, 10:38 AM
Originally posted by Rico_mangkudewi
daripada

Apa...?? Udah gue tunggu dari tadi, koq nggak ada lanjutannya... sukanya ngegantung gitu dech... ::mega::

mahanee
12-08-2003, 11:02 AM
oke deh bisa kita terima kalau dilihat dari sisi bahwa si wanita/pria bisa mapan dalam hidupnya walaupun tanpa pasangan hidup..

tapi bagaimana degan perkembangan jiwa si anak ???
bukankan si anak aja juga mungkin ingin memiliki kehidupan normal seperti teman teman seumurannya yang memiliki ayah/ibu yang "jelas" ???

untuk kemungkinan terburuk (semoga aja jangan) banyak sekali penyimpangan seksual mencintai sesama jenis berawal dari kehidupan yang seperti ini ...
sang anak(wanita) mendapatkan figur seorang ayah dari sang ibu.. sehingga gak pernah (sulit) untuk merasakan figur ayah dari laki laki ..

begitu juga dengan anak laki laki yang mendapatkan figur ibu dari seorang ayah ...

tapi sekali lagi sih, itu kan hanya salah satu dari sekian banyak penyebabnya.

cuma ya IMHO kalau mau memutuskan untuk menjadi single parent ya tetap aja sih sebaiknya memikirkan perkembangan dan mental anak kita.. jangan hanya karena dengan menjadi single parent karir dan bisnis akan menjadi lebih melesat sehingga faktor anak dilupain..

gw pernah nonton acara "bantal" di RCTI tentang single parent gitu.. di akhir acara sang anak (cewek), 23 thn dengan menangis haru hanya meminta satu permintaan kepada ibunya : seorang AYAH karena sejak dia lahir dia tidak pernah mendapatkan figur seorang ayah ..

Mei_me
12-08-2003, 11:23 AM
Harusnya si anak (klo dah dewasa gitu) kudu ngerti bahwa membesarkan anak sendirian itu nggak gampang ... kenapa bukannya menghargai perjuangan si ibu yang sekaligus menjadi bapak, malah menuntut yang bukan2 ..

orang indo kadang gak dewasa amat yach

mahanee
12-08-2003, 11:46 AM
mungkin juga si anak terlalu sayang sama ibunya, jadinya dia gak rela kalau si ibu mengemban 2 tugas sekaligus ... ;)

ß.è.ñ.z
12-08-2003, 11:51 AM
Originally posted by Mei_me
Harusnya si anak (klo dah dewasa gitu) kudu ngerti bahwa membesarkan anak sendirian itu nggak gampang ... kenapa bukannya menghargai perjuangan si ibu yang sekaligus menjadi bapak, malah menuntut yang bukan2 ..

orang indo kadang gak dewasa amat yach

Weleh... ada 2 pendapat yang berbeda nich... ::bentar::

Gue setuju dengan mahanee bahwa kita, orang tua, harus juga memikirkan bagaimana perasaan dan keinginan anak. Itulah makanya, waktu mereka memutuskan untuk menikah, di satu sisi gue lega dan ikut bahagia, tapi di sisi lain, gue sedih dan juga sebel... ::bingung::

Dan, ternyata usia pernikahan mereka hanya se-cret, gue sangat menyayangkan, tapi gue nggak menyalahkan siapa-siapa... Itu udah decision mereka berdua, yha... mau apa ??

Kayak anak-anak gue misalnya. Di hari-hari biasa, mereka bisa dibilang jarang ketemu babenya. Kadang-kadang cuman ketemu di mobil waktu berangkat bareng pagi. Selebihnya, waktu mereka dihabiskan bersama ibunya...

Tapi begitu WeekEnd atau hari-hari libur, ibunya dilupakan... semua jadi buntut gue kemanapun. Juga kalo gue ngebengkel misalnya, anak ceweq gue juga ikut beroli-oli...

Atau kalo nggak, seluruh tugas "babe" mereka tumpuk dan kumpul-kumpul, yang lalu diserahkan sekaligus, misalnya: Merakit "tamiya", ngeberesin Prakarya... dan segala macem pekerjaan "laki-laki"...

Mungkin mereka memang kangen aja karena jarang ketemu Babe-nya, tapi apa mereka secara tidak langsung juga menyatakan bahwa mereka "butuh" kehadiran seorang Babe...?? Atau... karena merasa punya seorang Babe, mereka nggak berusaha untuk menyelesaikan masalah-masalah yang gue bilang "kerjaan laki-laki" itu sendiri yha...??

juvemania
12-08-2003, 12:09 PM
Originally posted by ß.è.ñ.z
::up:: ::up:: 4 you...

Ich... gue pikir eloe [cowo] lho... ::bingung::

Menurut gue, tugas sebagai seorang Ibu dan Istri lebih berat dibandingkan pekerjaan apapun di dunia ini... Nggak ada masa Cuti, nggak ada masa Pensiun... tugas seumur hidup...

Dan, kalau kemudian, karena pilihan ataupun terpaksa, hidup sebagai Single Parent, dia akan berperan sebagai Ibu, sekaligus Ayah... nothing wrong with that... Segalanya (biasanya) berjalan baik-baik saja...

Tapi sebaliknya, begitu seorang [cowo] menjadi Single Parent, amat sangat jarang berhasil untuk menjadi Ayah sekaligus Ibu...

Makanya gue salut pada mahluk yang namanya wanita, dan (masih) ingin lebih banyak mengenal dan mengexplorasi-nya... :) ;)

Emang gue akuin bahwa tugas ibu rumah tangga itu lebih berat dari wanita karir....jadi ibu rumah tangga juga musti paham soal agama, psikologi, akuntansi, dan lainnya...soalnya ibu rumah tangga harus bisa ngajarin yang baik buat anak-anaknya, memahami suasana hati pasangan, bisa ngatur duit yang cuma sekian....

Kalo soal single parent, gue terus terang aja nggak bisa...kecuali gue single parent karena cerai....gue nggak sanggup jadi seorang ibu yang cari uang, tapi harus ngurusin anak sendiri....gue yakin gue akan seperti robot...yang hanya bisa melalukan tapi nggak sepenuh hati....kita khan juga butuh temen hidup...buat berbagi....kita mamang punya temen dan orang-orang yang kita sayangi tapi apa itu cukup...gue rasa kita juga butuh seseorang yang memang untuk kita, hidupnya, gajinya, waktunya...kalo orang lain blom tentu....mereka juga punya urusan sendiri dengan lingkungannya....

Blom lagi soal sex...mungkin perempuan bisa lebih tahan dari pada lelaki...tapi sampai kapan...???? mau nggak-nggak mau harus ada penyaluran....dan kita takut malah zinah yang ada....tapi kayanya sekarang lagi ngetrend yach singgle parent....sekarang banyak tuch single parent yang suka dugem dan cari pasangan...tapi nggak mau nikah...gue rasa itu malah nggak bener jadinya....mereka mau sex...tapi mereka nggak mau terikat, mereka nggak mau hidup mereka dibatasi oleh pasangan....padahal kalo emang ada yang halal ngapain juga kita mau yang haram....:D

ß.è.ñ.z
12-08-2003, 12:18 PM
Originally posted by juvemania
... kalo emang ada yang halal ngapain juga kita mau yang haram....:D

Iii... yang haram itu biasanya lebih nikmat dan lebih menggoda dibandingkan yang halal... :)

Kalo nggak begitu, setan nggak punya kerjaan di dunia ini... :D :D

Ich, nick dan signature eloe nggak klop dech dengan ke-ceweq-an loe... ::bentar:: ::bentar2::

juvemania
12-08-2003, 12:25 PM
Originally posted by ß.è.ñ.z
Atau kalo nggak, seluruh tugas "babe" mereka tumpuk dan kumpul-kumpul, yang lalu diserahkan sekaligus, misalnya: Merakit "tamiya", ngeberesin Prakarya... dan segala macem pekerjaan "laki-laki"...

Mungkin mereka memang kangen aja karena jarang ketemu Babe-nya, tapi apa mereka secara tidak langsung juga menyatakan bahwa mereka "butuh" kehadiran seorang Babe...?? Atau... karena merasa punya seorang Babe, mereka nggak berusaha untuk menyelesaikan masalah-masalah yang gue bilang "kerjaan laki-laki" itu sendiri yha...??


Gue rasa anak-anak hanya ingin hidup mereka normal sebagai mana seharusnya....mereka khan hidup nggak hanya sama kita aja...mereka juga punya temen...mungkin dengan temennya mereka sering cerita soal ayahnya....tapi kalo nggak punya...??? mereka pasti ingin gimana rasanya punya ayah...

jadi wajar kalo seorang anak sering bertanya di mana ayahnya...dan pertanyaan itu akan ada sampai anak tersebut besar....dan setelah besar apa dia bisa dibohongin seperti masih anak-anak...???? anak juga pasti mikir apakah bener yang dibilang ibunya soal ayahnya bisa jadi malah anak berfikir bahwa dia anak haram lagi....

Dan satu lagi....apakah seorang yang milih menjadi single parent siap menghadapi lingkungan disekeliling dia...orang pasti beranggapan yang nggak-nggak....mungkin keluarga dan teman bisa ngeti dan mendukung tapi orang lain khan blom tentu...karena masyarakat kita blom bisa menerima hal-hal seperti ini...karena menurut mereka kalo kita mau punya anak yach harus punya suami dulu...gitu juga dalam agama...

juvemania
12-08-2003, 01:45 PM
Originally posted by ß.è.ñ.z
Iii... yang haram itu biasanya lebih nikmat dan lebih menggoda dibandingkan yang halal... :)

Kalo nggak begitu, setan nggak punya kerjaan di dunia ini... :D :D

Ich, nick dan signature eloe nggak klop dech dengan ke-ceweq-an loe... ::bentar:: ::bentar2::


Biar ach....gue males ganti nick sama signature.....biar aja orang pada pikir gue cowo....yang penting gue lemah lembut....:P :D

Chantique
13-08-2003, 04:23 AM
Oohhh gitu toh ceritanya... gue jujur utk single parent kayanya kok kurang setuju yah..

setuju sama pernyataan mahanee : tapi bagaimana degan perkembangan jiwa si anak ???
bukankan si anak aja juga mungkin ingin memiliki kehidupan normal seperti teman teman seumurannya yang memiliki ayah/ibu yang "jelas" ???



disini aja, gak usah hubungan ayah/ibu, kalo sang anak tidak pernah ketemu sama Oma/Opa , anak langsung menjadi sedih sekali.. semua anak disini selalu berhubungan dekat dgn Oma/Opanya, sudah menjadi tradisi..

contoh, temen gue ribut sama Mamanya dan sang anak tidak diperbolehkan ketemu dgn Omanya, sang anak setiap hari sedih kalo melewati APT sang Oma (tglnya ber´dekatan) , dan anak mulai menanyakan, Kemana sih Omaku ?

walau ini gak hubungan langsung kaya ortu cuman yg gini aja udah mengguncang jiwa anak, apalagi kalo sang Ibu/bapak tidak ada disamping anak ( kecuali salah satu meninggal yah, lain ceritanya).

SETUJU sekali lagi sama pendapat mahanee, kadang orang dewasa hanya memikirkan dirinya sendiri, selalu memutuskan yg terbaik utk dirinya saja !!!

bagaimana dgn nasib sang anak sendiri? apakah sudah ditanyakan kepada sang anak... kalo anak balitakan sudah mengerti akan segala hal.. mereka punya pikiran dan perasaan, kenapa tidak ditanyakan kepada sang anak bagaimana maunya juga.. ??

Chantique
13-08-2003, 04:33 AM
lanjut, kalo gue jadi sang IBu.. gue berusaha utk mencarikan seorang ayah loh buat anak gue..
karena gue takut jiwa anak gue gak maximal dgn tanpa kehadiran seorang figur ayah..

gue bisa bilang gitu, karena gue hidup dari kecil tanpa figur ayah, ibu gue SINGLE PARENT dari gue umur 2 thn.

So, berdasarkan pengalaman pribadi gue.. gue menyarankan utk TIDAK menjadi SINGLE PARENT..

gue merasakan kehilangan setiap Nyokap gue kudu pergi kerja, disaat gue butuh gak ada yg bisa nemenin gue, pas gue dah gak butuh baru nyokap gue pulang kerja deh...

kadang nyokap gue sendiri menyesalkan hal itu.. emang sih gue gak kekurangan dari nyokap.. semua yg kita mau kita dapat.. kasih sayang apalagi.. cuman terkadang RASA IRI keluar loh, pas saat kita jalan2 kemana dan lihat seorang anak GELENDOT ama bapaknya :(

**ehhh kok jadi curhat yah gue.. kekekee **

dahh ahh gitu aja pesan dan kesannya :P

Mei_me
14-08-2003, 02:33 PM
seperti yang pernah dibilang diatas .. sebisa mungkin yang namanya keluarga ..ya ada Ayah dan Ibu, tetapi jika hal ini tidak memungkinkan, dan harus berpisah .... kenapa tidak.

seperti yang Chantique bilang, jika dalam kondisi ini, dia akan mencarikan seorang Ayah buat anaknya .... bener juga ... jika kita mmg bisa mendapatkan hal yang paling membahagiakan buat sang anak .. dan kedua, membahagiakan keluarga kita juga.

Tetapi, jika kehadiran seorang Ayah tidak menyenangkan buat kta ... lebih baik kita sendiri dalam membesarkan anak, toh jika kita tidak bahagia dengan pasangan kita, berdampak juga buat perkembangan si anak ....::bingung::

Yang pasti, dan gw yakin ..... apapun keputusan orang tua adalah untuk kebahagiaan sang anak.