![]() |
| Kafe Gaul | Forum | Games Center | Blog | My Page | KG Group | Pendaftaran | FAQ | Daftar Anggota | Tandai Forum Terbaca |
|
|||||||
| Bisnis & Finansial Diskusi tentang bisnis, finansial, e-commerce, dll. =BUKAN TEMPAT BERIKLAN= |
![]() |
|
|
Thread Tools |
|
|
#21 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Banjir Rejeki Dari Seragam Hotel
Leli Yulifar banting stir dari dosen menjadi pengusaha garmen khusus untuk seragam hotel dan busana muslim. Ajining sarira gumantung ana busana. (Kurang lebih berarti ; citra diri seseorang bergantung pada busana yang dikenakannya). Kendati bukan keturunan Jawa, pemegang merek Yulifar by Nabilla Collection, Leli Yulifar setuju dengan maksud ungkapan ini. Maka tak heran bila semenjak masih kuliah ia telah gandrung dengan pakaian-pakaian bagus, untuk tampil gaya tentunya, bukan untuk menaikkan citra diri semata. Hanya saja ia menyadari harga untuk sebuah busana yang berkelas tidaklah murah. Maka jalan pintasnya dengan cara belajar merancang dan menjahit sendiri baju-bajunya. “Jadi awalnya dari hobi yang dimulai dari bangku kuliah, sekedar iseng untuk dapat bergaya dan tampil modis tetapi harga terjangkau,” tandasLeli menceritakan latar belakang CV. Nabilla Collection, sebuah usaha fashion khusus busana muslim dan uniform miliknya. Dasar sudah bakat, merancang busana sepertinya sudah lekat pada diri Leli. Meskipun belum pernah ikut kursus menjahit, baju-baju bikinan tangannya telah membuat teman-teman kuliahnya merasa kesengsem. “Teman-teman minta dirancangkan dan akhirnya minta dijahitkan, padahal saya tidak pernah kursus menjahit,” kisahnya. Menurutnya, ketrampilannya menjahit diperoleh secara tak sengaja. Hanya dengan mempelajari diktat kursus jahit milik kaka iparnya. Dari nebeng baca lalu dia coba praktek menjahit sendiri hingga berhasil. Kendati begitu, tidak lantas dia langsung serius menekuni hobi menjadi usaha. Karena Leli selepas kuliah lebih suk menjadi seorang pendidik di alma maternya. Baru kemudian pada sekitar tahun 1988, setelah punya seorang momongan , hingga menjelang merampungkan kuliah S2 pada jurusan Pengembangan Kurikulum IKIP Bandung tahun 1995, dia membuka sanggar busana di rumahnya. Pada waktu itu dia hanya mempekerjakan seorang tukang jahit yang sekaligus tukang potong. “Eh, secara mengejutkan, saya mendapat kenikmatan yang bukan saja dapat menyalurkan hobi, tapi dapat memperoleh uang tambahan yang menyaingi gaji saya sebagai dosen,” kenangnya. “Tetapi dasar iseng, usaha jahitnya kurang ditekuni” lanjut pengusaha yang juga ketua Forum Daerah (FORDA) UKM Jawa Barat ini menuturkan. “Saya berhenti dulu berbisnis dengan alasan konsentrasi pada thesis sebagai tangung jawab terhadap pemberi bea siswa, supaya bisa menyelesaikan studi tepat pada waktunya, “katanya. Pada medio 1997, saat terjadi badai krisis moneter hampir semua sektor riil lumpuh. Jangankan berpikiran membuka usaha, tidak sedikit pengusaha yang gulung tikar. Kondisi nasional makro ini tidak menyurutkan langkah dan semangat Leli. Menurut dia kondisi ini tidak harus diratapi, tapi harus dicarikan jalan keluarnya. “Waaah.... saya harus bangkit!” ucapnya. Setidaknya dia berniat agar dapur rumahnya terus mengepul. Maka mulailah dia serius menekuni (hobby) bisnisnya yang lama ditinggalkan. Dia akhirnya serius menjalankan bisnisnya menjahit berbagai pakaian seperti busana muslim dan pakain seragam kantor. Meskipun awalnya banyak yang menentang idenya, ia terus maju. Berbagai produknya dia coba tawarkan ke Yogya Depstore, Matahari/ Mega Mall Tasikmalaya, dan Samudera Depstore Tasikmalaya. “Ide gila, begitu kata orang,” tuturnya menirukan ucapan orang waktu itu. “Mana ada yang mau beli baju di saat orang berpikir tentang sembako, apa lagi kwalitas butik,” tambahnya. Tetapi ia justru berkeyakinan bahwa akan terdapat kelompok orang yang punya duit akibat dari apresiasi dolar. Kenyataannya dugaan tersebut tidak meleset. Strategi yang diambil tepat, karena dia tidak latah ikut-ikutan berjualan sembako. “Saya membuka lahan yang ditinggalkan orang-orang yang lain,” tandasnya. Dengan menguras sejumlah uang tabungan, Leli menginvestasikan untuk membeli peralatan berupa tiga buah mesin jahit, meja potong, setrika uap dan lain-lain. Workshop berukuran 76 meter persegi (itupun masih ngontrak), berdempetan dengan rumah tinggal. “Total barangkali sekitar Rp 4 juta, ditambah modal untuk membeli kain, itu pun jumlahnya tidak banyak,” paparnya. Untuk butik, menurutnya lain dengan produk massal yang memerlukan bahan baku dalam jumlah besar. “Tiga meter kain sudah bisa dibikin, lalu dijual,” tukasnya. Dewi keberuntungan tampaknya sudah mulai memihak Leli. Dia melukiskan kurva perkembangan usaha miliknya digambarkan seperti bentuk spiral dalam posisi 45 derajat. Artinya memperlihatkan perkembangan ke arah positif, kendati sesekali fluktuatif. Terlebih bahwa produksi yang dilaksanakan sebagian menurut order. Pada saat sepi omset penjualan mungkin hanya mencapai Rp 60 juta, tetapi biasanya dapat di atas Rp 400 juta dalam sebulan. “Ada saat-saat mundur, suatu ketika menanjak lagi, di sanalah dinamikanya,” kilahnya. Salah satu ekspansi usaha yang coba dikembangkan Leli ketika satu item produknya sepi pesanan adalah mencoba masuk ke hotel dan instansi dengan melayani pesanan seragam. Perhitungannya sederhana. Permintaan seragam kerja ini di lihat dari volume cukup menjanjikan dan biasanya berkesinambungan. “Saat itu saya buka buku kuning, hampir seharian saya telpon berbagai hotel dan instansi dan menawarkan produk saya dengan gaya yakin,” kisahnya. Akhirnya perjuangan itu pun tidak sia-sia. Beberapa di antaranya merespon positif. “Ada yang meminta daftar harga, ada minta datang dengan membawa sampel, dan ada pula yang datang ke kantor,”kenang Leli. Kerja keras dan kesabaran Leli seakan mendapatkan amunisi bari ketika usahnya disokong salah seorang saudarannya dengan “menghibahkan” tempatnya tengah kota untuk dijadikan kantor. Membawahi lebih dari 60 karyawan, mulai 1999 dikembangkan divisi baru yang menangani jahitan retail dan pembuatan seragam untuk instansi-instansi pemerintah dan swasta. Diantaranya Grand Hotel Aquila, Sari Ater Hotel, Bandung Trade Center, Bandung Super Mall, Hotel Kedaton, Papandayan, Holiday In, Permata Internasional, New Naripan, Abadi Asri, Bank Jabar, BNI 46, dan lain-lain. Hingga sekarang tercatat tidak kurang dari 21 pelanggan, khususnya hotel-hotel di Bandung memesan produk Leli secara teratur. Pada tahap awal, diakui oleh Leli, sebagaimana pengusaha menengah pada umumnya, masalah klasik yang sering dihadapi yakni permodalan dan manajemen. Namun pada sisi marketing dia mengungkapkan tidak menjumpai kesulitan. “Kalaupun terdapat sedikit masalah adalah ketika orang-orang berbondong-bondong berbisnis busana muslim,” akunya. Saat ini hampir setiap komplek dan perumahan orang telah membuka bisnis busana muslim. Hal ini menyebabkan persaingan harga semakin kompetitif. “Tapi kondisi ini memotivasi saya untuk terus melakukan inovasi dalam desain dan mutu baju. Dan faktor itulah (persaingan) yang menjadikan saya melakukan diversifikasi usaha ke seragam hotel dan instansi,” imbuhnya. Ketatnya persaingan itu pula sehingga Leli berusaha memberikan layanan lebih sembari terus memperhatikan masukan konsumen. Tentu saja di samping menjaga kwalitas jahitan serta bahan, dan juga mempertahankan dan mengembangkan teknik cutting. “Pelanggan saya bilang, kelebihan produk kami terletak pada teknik cutting, kwalitas jahitan, kain dan model yang tidak pasaran,” ujarnya berpromosi. Ia juga membatasi satu seri dalam satu toko untuk satu desain. Satu seri terdiri dari nomor S (small), M (medium), L (large), XL (extra large), XXL (super large). Tapi untuk model tertentu yang tidak bagus dan untuk ukuran besar, satu seri hanya sampai L or XL Banyak hal dilakukan untuk memperluas jaringan pemasaran. Di antaranya dengan memanfaatkan teknologi informasi (TI) dan menjalin relasi melalui kerja sama antar UKM yang tergabung dalam Forum Daerah. Dengan demikian pasar dimiliki juga makin berkembang, masuk sampai ke Kalimantan Timur, Sulawesi selatan, Amuntai dan Papua. Seperti diungkapkannya bahwa pada bulan ini selain sedang kebanjiran order lebaran, ia telah menandatangani kerja sama dengan tiga orang pengusaha berasal dari Kalimantan. “Satu orang mengadakan pesanan awal sebanyak 200 pieces rancangan terbaru, dua lainnya berupa kerja sama investasi masing-masing sebesar Rp 50 juta,” ungkapnya. Sedangkan melalui media on line ia memperoleh kemudahan untuk informasi pasar, tren mode, bahan baku dan kemudahan komunikasi dengan konsumen, sampai menawarkan rancangan produk by email. Di samping tidak kalah pentingnya adalah rajin mengikuti kegiatan pameran di berbagai daerah serta penawaran kerja sama. “Untuk wilayah Jakarta atau yang relatif dekat, saya bisa tawarkan bentuk kerjasama franchise, atau bentuk lain, misalnya dia punya tempat yang representatif, saya isi dengan produk saya dengan sistem bagi hasil sesuai kesepakatan,” ucapnya. Usaha yang tengah menggeliat, meskipun awalnya hanyalah suka-suka.
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
| Sponsor links |
|
|
#22 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Selain Jualan, Lengkapi Dengan Pelatihan
Selain menjual produk telepon selular dan perangkat pendukungnya, melayani pendidikan dan pelatihan perbaikan telepon selular, bisa mendatangkan keuntungan lebih buat Anda. Menjamurnya penggunaan alat komunikasi handphone, (HP) ternyata telah memberi peluang bisnis bagi mereka yang bisa memanfaatkan. Pihak yang merasa diuntungkan dari bisnis telekomunikasi ini, bukan hanya para vendor handset atau operator seluler belaka. Dari sini lahir begitu banyak peluang bisnis yang bisa diraih oleh siapa saja. Salah satu multiplayer efecknya adalah munculnya pebisnis-pebisnis baru yang bergerak dalam jasa penjualan handphone berikut assesoris pendukungnya, pedagang simcard dan pulsa isi ulang. Bahkan ringtone untuk nada panggil, telah men jadi bisnis yang menjanjikan. Nah yang tak kalah menarik adalah bisnis jasa pelatihan untuk calon teknisi handphone. Kini telah muncul beberapa lembaga pelatihan yang secara khusus mendidik mereka yang ingin menjalani profesi sebagai teknisi handphone. Di Jogjakarta, ada beberapa lembaga yang secara khusus bergerak di bidang ini sejak tahun 2000 lalu. Demikian juga di Jakarta. Salah satu lembaga yang serius menangani pelatihan teknisi HP adalah Macell Education Centre (MEC). Husain Dilla, salah satu pengelola pelatihan teknisi yang bermarkas di Jogja tersebut mengungkapkan bahwa saat ini kebutuhan akan teknisi handphone begitu tinggi. Ini berkaitan dengan merebaknya jasa service baik yang dikelola outlet handphone maupun yang yang mandiri. Jasa service ini tumbuh tentu karena tingkat kebutuhan masyarakat yang begitu tinggi. Untuk urusan kerusakan atau gangguan pada pesawat handphone kini tidak lagi ditangani sendiri oleh para vendor handphone lewat jasa pelayanan purna jualnya. “Mereka akan kewalahan karena tingkat penggunaan handphone sudah menyebar kemana-mana,” kata Husain Dill. Menurut Husain, pada awalnya Ma Cell hanya mengadakan pelatihan khusus untuk menyediakan kebutuhan sendiri. Selama ini, MEC memang menjadi salah satu pengelola outlet penjualan berbagai merek handphone yang cukup terkenal di Jogja. Perusahaan yang dikelola Nursyam ini memiliki beberapa outlet yang tersebar di Jogja dan Purworejo. “Dulu kami kesulitan mencari tenaga teknisi, karena itulah kami harus mendidik sendiri,” tutur alumni Sekolah Tinggi Bank Syariah di Jogja ini. Di luar dugaan minat untuk mengikuti pelatihan teknisi HP di MEC ternyata cukup tinggi. Karena itulah, sejak tahun 2002, pengelola counter HP ini menjadikan pelatihan sebagai unit bisnis sendiri. Sampai sekarang sedikitnya sudah ada 600 alumni yang dimiliki MEC. Mereka tidak hanya bekerja sebagai teknisi di berbagai outlet HP di DIY tapi sudah tersebar di seluruh Nusantara. Bahkan ada yang bekerja menjadi teknisi di beberapa perusahaan handphone terkenal. Meski biaya yang dikenakan relatif tidak murah, ternyata minat untuk mengikuti pelatihan di MECl cukup tinggi. Ini terlihat dari jumlah kelas yang tidak pernah kurang dari kuota yang ditetapkan. Rata-rata setiap angkatan, hanya sekitar 13 murid yang diterima. “Dari jumlah itu selalu terpenuhi setiap angkatannya,” ungkap Husain yang mengaku kelahiran Sulsel tersebut. Setiap dua minggu MEC membuka kelas untuk angkatan baru. Ada tiga kelas yang disediakan bagi calon peminat. Pembagian kelas tersebut berdasarkan lama waktu belajar sehingga menentukan biaya yang harus dikeluarkan. Pertama Excekutive Class dengan tarif Rp 3 juta, kedua Student Clas Plus dengan biaya Rp 2.1 juta, dan ketiga Student Class yang tarifnya Rp 1,7 juta. Yang membedakan kelas tersebut ternyata hanya lama prakteknya saja. Mereka rata-rata diberi materi teori selama dua minggu. sementara untuk kelas pertama prakteknya selama empat minggu, dan kelas kedua hanya dua minggu. sedangkan kelas ketiga praktek hanya selama 1minggu. Materi pelajaran antara lain, modul dasar elektronika dan sistem kerja HP, modul reparasi hard ware, modul reparasi software, modul program aplikasi untuk berbagai merek HP. Mereka juga diperkenalkan dengan kewirausahaan, business plan, manajemen ritel dan sistem administrasi seluler dan service. “Kami berharap setelah lulus mereka benar-benar bisa siap kerja atau mandiri,” tandas Husain. Selain teori tentang teknologi selular mereka juga akan praktek reparasi di counter-counter milik Ma Cell yang masih satu manajemen dengan MEC. Mereka dibimbing oleh teknisi senior yang dimiliki perusahaan ini. Para staf pengajar umumnya memang berasal dari Ma Cell sendiri. Tapi ada juga dari produsen salah satu perusahaan handphone, seperti Nokia. Selama praktek mereka akan dikenalkan dengan berbagai kasus kerusakan dan teknik reparasinya. Bahkan seri handphone terbaru juga wajib mereka kenali. Selain itu mereka juga akan mendapat bekal seperangkat toolset untuk reparasi. Bagi MEC, mengelola pelatihan teknisi tentu menjadi lahan bisnis yang sangat basah. Menurut rencana, mereka akan membuka cabang di beberapa kota di Indonesia. Ini tentu dalam rangka memenuhi kebutuhan akan teknisi HP yang kian hari kian bertambah meningkat. “Kami memang berencana untuk mengembangkan sayap yang lebih lebar, tidak hanya konsentrasi di Jogja saja, kami sudah punya bekal nama karena sudah banyak yang mengenal kami,” ungkap Husain Dilla. Untuk mengikuti pelatihan ternyata tidak diperlukan syarat yang rumit, bahkan ijazah tidak menjadi pertimbangan. Konon yang penting, calon siswa harus memiliki minat dalam bidang elektronika, syukur-syukur sudah punya basic di bidang elektronika dan komputer. “Kalau yang sudah punya basic pengetahuan elektro dan komputer,mereka akan dengan mudah memahami teknologi HP” Husain Dilla menambahkan. Di Jakarta sendiri juga memiliki lembaga yang bernama Lembaga Pendidikan Teknologi Terapan Indonesia ( LPTTI) yang menjalankan bisnis serupa. Menurut salah seorang pengelola LPTTI, Sundang Dananjaya, lembaganya telah menunjukkan kemajuan berarti. Hingga akhir 12995, mereka telah mendidik 15 angkatan. Untuk menyalurkan keterampilan peserta didik, LPTTI mengintegrasikan kurikulumnya dengan manajemen dan kiat membuka usaha ritel selular. Persertanya selain dari wilayah Jabotabek, juga berasal dari Aceh, Padang, Bengkulu dan beberapa daerah lainnya. “Para alumi pendidikan langsung menjadi agen J-COM—sebuah jaringan pemasaran telekomunikasi selular”kata Sundang. Dengan masuk ke dalam jaringan ini tentu saja beberapa kemudahan mereka bisa dapatkan, seperti kemudahan memperoleh pasokan, kartu, spareparts hingga bantuan teknis lainnya. “Tidak hanya itu, bagi konter yang sudah berkembang menjadi kios atau shop, mereka dapat melayani download aplikasi software seperti ring tone, gambar, game dan juga melayani cetak foto ke kertas foto atau CD dari camera digital, HP camera, USB, flash disk, memory stick dan lainnya ditansfer melalui infra red, bluetooth, CD-ROM dan floopy disk,” tambah Sundang. Sundang meyakinkan pay back period untuk usaha ritel telepon bergerak ini bisa dicapai dalam waktu lima bulan saja. Selain itu menurut Sundang, nilai tambah yang bisa diraih dari konter seluler yang memiliki tenaga teknisi servis seluler adalah mendapat income tambahan dari service ponsel serta jual-beli ponsel second, yang prosentasenya lebih tinggi. LPTTI mulai memberikan latihan service hand phone sejak 2004. Peserta didik akan diberi pelatihan yang memadai oleh profesional yang berpengalaman dalam bidangnya, terutama mereka yang telah bekerja di perusahaan telekomunikasi multinasional. Selain itu LPTTI memiliki tenaga pengajar berlatar belakang Elektro dan Information Technology serta didukung, peralatan teknologi lengkap untuk praktek hardware dan software
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#23 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Mie Kondang, Dari Rakyat Hingga Pejabat
Mengawali dari penjual mie gerobak, Sakidjan berhasil mengembangkannya menjadi 10 outlet. Sejumlah pejabat tercatat menjadi pelanggannya, salah satunya KASAD Djoko Santoso. Satu lagi bukti bahwa untuk sukses seseorang hanya perlu satu modal: tekad. Itulah yang ditunjukkan Sakidjan, pengusaha mie ayam asal Jatiroto, Wonogiri. Dengan usaha tersebut Sakidjan berhasil meraup omset sekitar Rp 300 juta per bulan. Dan mie hasil olahannya disantap tidak saja oleh rakyat namun juga jadi langganan sejumlah pejabat. Padahal, awalnya Sakidjan tidak memiliki ketrampilan mengolah mie ayam. Ketika hijrah ke Jakarta pada 1973 lalu, Sakidjan bekerja sebagai kuli bangunan. Atas anjuran pamannya ia berguru ke seorang penjual mie ayam yang berasal dari Baturetno, sebuah kecamatan yang terletak di Tenggara Wonogiri. “Sampai satu bulan saya masih belum mahir mengolah mie ayam,” kenangnya. Meski belum mahir mengolah mie, dia direkrut seorang pengusaha mie sebagai karyawan untuk berjualan mie dengan gaji Rp 300 per hari. Selama 1,5 tahun ia bekerja dan mengumpulkan gajinya. “Selama kurun waktu itu saya tidak pernah pulang kampung. Bukannya tidak punya keinginan pulang kampung tetapi tidak mempunyai uang,” ujar Sakidjan. Menurut hemat Sakidjan, daripada uang digunakan mudik lebih baik ditabung untuk dijadikan modal kelak jika ada kesempatan berjualan mie sendiri. Kebetulan ada seorang temannya yang menjual pangkalan (lapak kaki lima) di Jembatan Lima. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. “Saya beli pangkalan itu Rp 40 ribu,” ujarnya. Mulailah Sakidjan berjualan mie sendiri dengan menyewa gerobak dari seseorang. Aturan main yang berlaku saat itu adalah penyewa gerobak harus mengambil mie kepada pemilik gerobak. Perlahan Sakidjan bisa mengembangkan usahanya dan menyewa empat gerobak dan ditempatkan di empat pangkalan di Kawasan Kota. Ini berlangsung sampai tahun 1979. Pada tahun 1980 penjualan mienya di Kota menurun sehingga Sakidjan mulai berputar-putar untuk mencari tempat yang lebih strategis. Ia kemudian menemukan tempat berjualan yang dipandangnya strategis yakni di Pintu I Senayan. “Saya tetap menyewa gerobak dan berbelanja dari orang yang sama,” terangnya. Dalam waktu satu tahun Sakidjan berhasil memiliki lima pangkalan di sekitar Senayan. Usahanya mulai memperlihatkan perkembangan. Dengan lima armada gerobak Sakidjan berhasil menjual mie 30 – 40 kg per hari. Mulai saat itu, tercetus dalam pikirannya untuk memproduksi mie sendiri sehingga bisa mendongkrak keuntungan. Di saat anak buahnya berangkat berjualan, Sakidjan mencoba-coba untuk memproduksi mie. Diungkapkan Sakidjan, para produsen mie saat itu pelit untuk berbagi resep pembuatan mie sehingga ia harus berjuang sendiri untuk mencari formulanya. “Saya nekad untuk membeli mesin pembuatan mie seharga Rp 150 ribu,” tuturnya. Meski memiliki mesin tidak serta merta Sakidjan bisa memproduksi mie, karena ia memang belum tahu resepnya. “Hampir enam bulan saya mengalami kegagalan untuk memproduksi mie sendiri,” ungkapnya. Selama enam bulan itu juga Sakidjan harus rela membuang mienya yang tidak jadi. Tapi hal ini tidak menyurutkan tekadnya untuk bisa memproduksi mie sendiri. Dengan melakukan trial and error akhirnya Sakidjan berhasil memproduksi mie sendiri. Namun hasil produksinya juga tidak bisa bertahan lama, paling 10 jam. Namun Sakidjan tidak memusingkan hal ini. “Saya memproduksi mie untuk keperluan jualan hari itu juga. Saya tidak tahu menggunakan bahan pengawet dan sampai kini tidak pernah menggunakan bahan pengawet,” ujarnya. Justru hal ini kelak di kemudian hari sangat menguntungkan Sakidjan karena ia tidak risau ketika kasus makanan berformalin (di antaranya mie) merebak ke permukaan. Ketika melihat usahanya mulai berkembang, Sakidjan menjual sepeda motornya Honda GL-100 guna membuat gerobak sendiri. Dengan uang hasil penjualan sepeda motor saya bisa membuat lima gerobak. Tidak sebagaimana aturan sebelumnya, Sakidjan tidak menyewakan gerobak, tetapi orang yang berdagang dengan gerobaknya harus mengambil mie dari Sakidjan. Resep ini ternyata cukup jitu, karena pertumbuhan armada gerobaknya terus merangkak. Saat ini tercatat ia memiliki 80 gerobak. “Meski hanya mengambil keuntungan dari penjualan mie, tetapi hasilnya lumayan,” imbuhnya. Dalam perjalanannya, setelah bermitra dengan Bogasari dengan masuk sebagai anggota Paguyuban Tunggal Rasa, Sakidjan kemudian membuka outlet, pada tahun 1997. Tetapi brand mie ayam yang diusung saat itu masih memakai nama Mie Tunggal Rasa, bukan Mie Kondang. Sejak saat itu gerainya bertambah dan kini sudah mencapai 10 buah. Setelah dipercaya menjadi salah satu menu dalam acara Open House yang diselenggarakan selama satu bulan penuh oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Sakidjan mengubah brandnya menjadi Mie Kondang. “Untuk mengubah nama tersebut saya sudah mengkonsultasikan lebih dulu kepada para penasehat Paguyuban Tunggal Rasa, di antaranya Pak Franky (Welirang) dan Pak Suyono (mantan Kasum ABRI),” ucapnya. Dalam penyelenggaraan Open House tak kurang 15 ribu mangkok disuguhkan untuk rakyat maupun pejabat yang hadir dalam acara tersebut. “Sebelum disajikan mie kami sudah dites terlebih dahulu. Karena sedari awal saya tidak pernah menggunakan pengawet, mie saya lolos tes,” ujarnya. Selain dijadikan menu dalam acara tersebut, Mie Kondang juga dijadikan menu sejumlah acara yang digelar oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Djoko Santoso maupun isterinya. Belum lama ini Mie Kondang juga ikut berpartisipasi dalam kampanye mie yang diprakarsai Menteri Perindustrian, Fahmi Idris. Dengan tenarnya Mie Kondang, Sakidjan bisa membukukan penjualan Rp 10-12 juta per hari. Sementara dari pesanan untuk berbagai acara Sakidjan bisa memperoleh tambahan pendapatan antara Rp 15-20 juta per bulan. Isu formalin memang agak menyurutkan penjualan Mie Kondang. Tetapi penjualan di outletnya tidak menurun drastis. Hanya armada gerobaknya yang agak terpukul. “Kami telah melampirkan surat dari Depkes yang menyatakan mie kami bebas dari pengawet, termasuk formalin, pada setiap armada gerobak dan outlet. Semoga hal ini bisa mengatasi persoalan tersebut,” kata Sakidjan. Sakidjan menambahkan, dirinya membuka peluang bagi pihak lain untuk bekerja sama. Artinya, jika ada pihak yang ingin membuka gerai Mie Kondang cukup merogoh Rp 70 juta. Biaya itu sudah termasuk furniture dan setting. Bahkan bagi pihak yang tidak memiliki modal samasekali tetapi ingin berjualan mie, Sakidjan mempersilakan orang tersebut untuk berguru kepadanya. “Gratis, tidak dipungut biaya. Ini sebagai ladang amal ibadah saya,” pungkas Sakidjan.
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#24 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
BISNIS AYAM POTONG SI ‘UMAR BAKRIE’
Di sela-sela kesibukannya sebagai pengajar, guru SMAN 53 Jakarta Timur berhasil menancapkan bisnis peternakan ayam yang beromset Rp 7-8 miliar per bulan. Sudirman Bur memang bukan Umar Bakrie—lagu satire mengenai guru karya Iwan Fals—meskipun sama-sama dalam profesi guru. Itu sebabnya, dalam menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai Kepala Sekolah SMAN 53 Jakarta, Sudirman tidak menunggang sepeda kumbang melainkan mengendarai Honda CRV. Tetapi tak ada yang perlu diherankan, karena selain menjabat sebagai kepala sekolah di sebuah SMA yang memiliki gedung baru berlantai tiga itu, Sudirman adalah seorang pengusaha peternakan ayam potong yang sangat sukses. Dalam sebulan, omset bisnis pak guru ini bisa tembus antara Rp 7-8 miliar. Rome was not built in a day, kota Roma tidak dibangun dalam sehari. Itu juga yang menjadi amsal dari kisah perjalanan Sudirman. Sebelum menjadi peternak ayam potong yang bisa memproduksi ayam pedaging 800 ribu ekor per bulan, Sudirman memulainya dengan skala rumah tangga, 300 ekor ayam. Bahkan ketertarikan Sudirman terhadap spesies unggas ini terjadi jauh-jauh hari, yakni ketika ia masih duduk di bangku sekolah lanjutan pertama (SMP). “Saya sangat tertarik dengan strain baru dari luar negeri. Apalagi kemampuan bertelur dari strain baru itu sangat bagus,” ujarnya. Meski hanya sambilan sepulang sekolah, namun Sudirman sempat memelihara sampai 500 ekor, suatu jumlah yang sangat lumayan untuk seorang anak SMP. Hobi memelihara ayam ini sempat terhenti setelah ia lulus SMA dan melanjutkan sekolahnya ke IKIP Rawamangun. “Ketika saya kuliah justru sambilan saya sebagai pedagang kaki lima,” kenang Sudirman. Ketertarikannya untuk kembali menggeluti ternak ayam muncul setelah ia merampungkan kuliahnya pada tahun 1981. Aktivitas ini ia lakukan selepas ia mengajar di SMA 54 sebagai guru honorer. “Masih banyak waktu yang terluang selepas mengajar,” ungkapnya. Dengan pertimbangan memelihara ayam petelur lebih rumit, Sudirman memutuskan untuk beternak ayam pedaging. Mula-mula hanya 300 ekor, tetapi lama-kelamaan berkembang dan jumlahnya mencapai ribuan ekor. “Meski pada saat perintisan belum bisa berkembang pesat tetapi saya mempunyai keyakinan beternak ayam potong ini sangat prospektif karena pasar di Jakarta terbuka luas,” terangnya. Prospektifnya pasar ayam pedaging, imbuhnya, karena berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap sumber protein hewani. Sementara untuk daging merah, seperti daging sapi, dalam pemeliharaannya membutuhkan beberapa prasyarat, di antaranya lokasi usaha yang luas. “Jadi beternak ayam pedaging lebih simple,” ujarnya seraya mengimbuhkan dari sisi cash flow beternak ayam pedaging juga lebih lancar karena dalam waktu 30 hari sudah bisa dipanen. “Jumlah konsumen ayam pedaging juga mendekati 7 persen dari populasi penduduk Jakarta,” paparnya. Selain memerankan diri sebagai produsen ayam pedaging, pada pagi hari sebelum mengajar, Sudirman juga berprofesi sebagai pedagang ayam potong di pasar Pondok Gede. “Sebagaimana pedagang ayam potong lain saya selalu mengenakan sepatu boot, karena lingkungannya memang becek,” imbuhnya. Yang membedakan Sudirman dengan pedagang lain adalah kemampuan manajemennya. Oleh karena itu, belum lama berselang berprofesi sebagai pedagang ayam potong, ia berhasil naik pangkat menjadi ‘koordinator’ dari sejumlah pedagang lainnya. Pada saat itu ayam hasil produksi sendiri sudah tidak mencukupi sehingga Sudirman mulai mencari pemasok dari peternak ayam lain. Seiring berjalannya waktu keyakinan Sudirman membuahkan hasil. Usaha peternakan ayamnya mulai bertambah. Lokasi peternakan yang semula di Pasar Minggu semakin tersebar di Lenteng Agung dan Depok. Meski cukup berkembang pesat, sampai tahun 1990, Sudirman masih menggeluti bisnis ini sendirian. Melihat perkembangan usaha ini sejumlah rekannya kemudian ikut bergabung dalam bisnis yang dipayungi Berkah Group ini. “Sampai sekarang ada sekitar 30 orang yang tergabung di dalamnya,” ucap pria yang mengaku happy menjadi guru ini. Sekalipun usaha peternakan ayam ini kelihatan mulus, sejatinya dalam perjalanannya sendiri juga penuh dengan risiko dan kendala. Selain harga ayam cenderung fluktuatif, yang tentu saja memerlukan perhitungan dan antisipasi yang cermat, sejumlah penyakit yang sering menyerang unggas ini juga potensial membuat usaha tersebut merugi. “Meski usaha ini sudah berjalan stabil tak jarang kami juga menderita kerugian sampai Rp 1 miliar dalam satu periode tanam. Itu sebabnya kami mencadangkan dana antara Rp 3-5 miliar untuk menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan itu,” ungkap pengusaha yang pernah menyabet penghargaan sebagai peternak ayam dengan teknik produksi terbaik se-Jawa Barat ini. Situasi yang lebih sulit lagi pernah dialami oleh Sudirman. Saat krisis moneter melanda negeri ini, usahanya juga ikut terguncang. Harga jual ayam jauh lebih rendah dari nilai modal yang digelontorkan sehingga banyak peternak ayam yang merugi. Bahkan banyak di antara mereka yang terpaksa mendapat vonis gulung tikar. “Saya pun terpaksa harus menjual empat mobil untuk bisa tetap bertahan di bisnis ini,” kata Sudirman, mengenang masa sulit. “Saking sulitnya keadaan waktu itu saya yang sebenarnya bukan perokok akhirnya jadi perokok juga.” Pada kondisi ini integritas dirinyalah yang banyak menolong. Kejujuran dan kepercayaan, yang dijadikan fundamental bisnisnya, merupakan juru selamat di saat krisis tersebut. Pada waktu itu kandang ayam Sudirman banyak yang kosong. “Melihat kondisi ini pabrik pemasok kebutuhan bibit dan pakan peternakan ayam mendatangi saya. Mereka menyuruh saya untuk mengisi semua kandang yang kosong, bahkan mereka menyuruh saya menyewa kandang milik peternak lain. Mereka memasok semua kebutuhan peternakan dalam bentuk pinjaman yang tidak memberatkan. Terbukti bahwa kejujuran dan kepercayaan bisa menjadi penolong kami,” tandas Sudirman yang mengimbuhkan dalam menjalankan bisnis tersebut dia hanya satu kali memakai fasilitas pinjaman dari bank sebesar Rp 250 juta. Baik pinjaman dari bank maupun dari pabrik semua sudah dilunasinya. Dengan suksesnya sebagai pengusaha peternakan ayam ini, Sudirman semakin memberikan bukti bahwa seseorang bisa berjalan di dua kuadran (pengusaha dan karyawan) tanpa harus mengorbankan salah satunya. Di dunia pendidikan, prestasi pria sederhana ini juga melejit. Di tangannya, SMAN 53 Jakarta yang terletak di Jalan Cipinang Jaya II B ini menorehkan beberapa prestasi. Selain berhasil menyulap gedung lama menjadi gedung baru berlantai tiga yang cukup megah, SMAN 53 juga mencatat peningkatan prestasi yang cukup signifikan. Pada tahun lalu, SMAN 53 berhasil menduduki peringkat 15 dari seluruh SMA di DKI dari sebelumnya peringkat 40. Sedangkan untuk wilayah Jakarta Timur SMAN 53 berhasil meraih peringkat 8. Ini semua berkat ‘tangan dingin’ pria Payakumbuh tersebut.
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#25 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang : “Dobbi Fried Chicken” Irawan
Setelah sempat terseok-seok, Irawan kini sukses mengelola bisnis ayam goreng. Dobbi, gerai ayam goreng yang dikelolanya kini telah menyebar ke beberpa kota di Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari peternak ayam hingga penjual daging. Inilah yang dilakukan pengusaha muda dari Jogja, Irawan Kusumo W (30). Di kalangan peternak ayam di kabupaten Sleman (DIY) lelaki bertubuh tinggi besar ini, bukan sosok yang asing lagi. Maklum dia memang pernah menjadi salah satu pemain besar dalam bisnis peternakan ayam ras di sana. Selain dikenal sebagai peternak ayam, Irawan belakangan memang sibuk mengembangkan bisnis pengolahan daging ayam. Selain mensuplai kebutuhan untuk horeka (hotel, restoran, dan kafe) yang ada di sekitar propinsi DIY, dia juga menjual ayam goreng fried chicken dengan brand name Dobby. Walau terbilang pendatang baru, ayam goreng Dobbi, telah berhasil menarik perhatian para penikmat makanan cepat saji. Ini terlihat dari perkembangan gerai membiak. Jika tak sempat ke Jogya, “Dobby” bisa juga ditemukan di Solo dan Wonogiri dan Kediri. Untuk membiakkannya Irawan bermitra dengan para pemilik modal untuk membuka usaha ayam goreng tersebut. “Kalau hanya sekedar mengejar jumlah outlet kami tentu sudah banyak, karena telah ada puluhan orang berminat bergabung,” kata bapak dua anak ini. Menurut pengakuannya, telah banyak pemilik uang yang serius mengajak kerjasama, tapi sebagian tidak bisa dipenuhi. Selain karena lokasi usaha yang kurang strategis, juga karena sikap sebagian peminat yang hanya sekedar setor modal alias menjadi investor pasif saja. Mereka inilah yang hanya ingin menyerahkan modal, tapi tidak mau terlibat mengelola atau mengembangkan usaha. Sementara, bagi Irawan keterlibatan pemilik modal dalam operasional merupakan salah satu persyaratan. “Paling tidak untuk tahap pengembangan awal mereka harus terlibat, walaupun setelah berjalan baik diserahkan kepada orang lain yang dipercaya,” tandasnya. Irawan memang memiliki konsep bukan sekedar bisnisnya berkembang pesat, tapi ia juga ingin menebarkan semangat kewirausahaan bagi orang lain. “ Konsep kami, investor harus ikut mengelola usaha, agar mereka punya keterikatan emosional dalam berbisnis,” ungkap salah satu pengelola Enterpreneur University (EU) di Solo ini. Menurut Irawan, ia membidik konsumen yang gemar makan fast food. Untuk menghasilkan makanan yang menurutnya sangat enak dan sehat, dia tidak memanfaatkan MSG ( monosodium glutamate) atau vitcin. “Saya berani jamin, produk kami benar-benar bebas penyedap rasa dari vitcin,” paparnya. Dan yang penting, renyah dan gurih, seperti layaknya kita menyantap ayam goreng dari manca negara. Untuk menciptakan hasil gorengan ayam yang benar-benar cocok di lidah konsumen, Irawan mengaku dibantu seorang koki yang pernah bekerja di sebuah restoran cepat saji ternama. “Untuk menciptakan rasa yang cocok di lidah kebanyakan orang Indonesia, saya memang melibatkan koki alumni dari resto ayam goreng yang cukup terkenal,” tutur kelahiran 19 Februari 1976 tersebut. Bagi mereka yang berminat mengembangkan bisnis resto ayam goreng, agaknya ayam goreng Dobbi bisa menjadi alternatif pilihan yang menarik. Sebab untuk membuka usaha ini, tidak diperlukan modal besar. Ada tiga pilihan paket investasi yang ditetapkan, masing-masing senilai Rp 9.5 juta, Rp 14.5 juta dan Rp 45 juta. terserah pemilik modal mau memilih paket yang mana. Untuk paket pertama, mitra kerjasama akan mendapat counter berikut alat produksi,dari majic jar, kompor hingga peralatan penggorengan. Paket tersebut memang khusus bagi mereka yang ingin mengambil counter berikut alat produksi saja. Mereka bisa mengerjakan sendiri pembuatan desain gerai sesuai dengan gambar yang sudah ditentukan. Tapi bila ingin beres, bisa mengambil paket kedua karena selain dapat paket pertama, dengan menambah dana sekitar Rp 5 juta, anda cukup duduk manis karena semua pengerjaan desain akan digarap oleh tenaga khusus yang sudah profesional di bidangnya. Seperti disebutkan di atas, Dobbi tidak sekedar menjual produk ayam goreng saja, tapi menawarkan alternatif tempat makan yang santai dengan menu spesial ayam fried chicken dan burger. Untuk itu, gerai harus didesain sedemikian rupa agar tampil menarik, bukan sekedar supaya enak dipandang tapi juga nyaman untuk disinggahi. Ada standar baku untuk tampilan counter, meja dan kursi makan, hingga warna cat sampai bentuk brand identity-nya. Memiliki lokasi tanah, memang menjadi persyaratan untuk mereka yang ingin membuka usaha Ayam Goreng Dobbi. Tidak harus tanah sendiri, tapi bisa sewa asal lokasinya strategis untuk bisnis. Ukuran mininal lokasi usaha sekitar 5 X 7 meter. Untuk disain bisa dibuat sendiri karena pihak manajemen sudah menyediakan panduan berupa gambar. Tapi kalau ragu-ragu, bisa menyerahkan kepada manajemen untuk mengerjakannya. Menurut Irawan, prospek bisnis yang kini digelutinya sangat cerah. Apalagi belakangan telah menjadi trend di masyarakat bahwa makan bukan lagi sekedar mengisi perut, tapi telah berkembang menjadi trend bagian dari gaya hidup. Karena itulah, ia membuat konsep gerainya berpenampilan seperti kafe dimana orang yang datang akan bisa duduk santai. Sambil cuci mata juga oke kok. Sangat wajar bila Irawan merasa optimis bahwa bisnisnya akan berkembang cukup bagus. Sebagai pengusaha Irawan benar-benar berangkat dari nol. Sejak masih duduk di bangku SMA dia sudah mandiri. Padahal kalau mau dia cukup bisa minta fasilitas dari orangtuanya yang sempat menjadi salah satu pejabat di Mabes Polri. “Sejak kecil saya sudah dididik untuk mandiri,” katanya anak pertama dari tiga saudara ini. Irawan mengaku, sewaktu masih duduk di SMA ia sudah biasa mencari penghasilan dengan cara menjadi sopir angkutan. Ia juga pernah mencoba berbisnis sembako. Saat kuliah di D3 Elektro UGM, ia mendapat kepercayaan untuk mengelola peternakan ayam. Itu terjadi tahun 1998 lalu ketika krismon sedang ganas-ganasnya melanda negeri ini. “Tanpa jaminan apa-apa saya dipinjami dana delapan puluh juta untuk membuat peternakan ayam,” katanya. Mendapat amanah seperti itu, Irawan berusaha menjalankannya dengan sebaik mungkin. Ia tidak mau mengecewakan pemilik modal. Dengan modal tersebut, ia membangun peternakan ayam di kawasan Sleman. Dari ayam ribuan, akhirnya ia berhasil mengembangkan menjadi ratusan ribu ekor ayam. Pengalaman mengelola peternakan ayam tersebut, membuat kepekaan bisnis Irawan kian terasah. Baginya, bisnis peternakan merupakan bisnis yang penuh resiko. Bila tidak ditata dengan manajemen yang cukup baik, bisa-bisa bisnisnya akan berantakan. Kenyataan ini sempat dialaminya, karena orang yang kepercayaannya ternyata tidak bisa menjalankan tugas yang telah diserahkan dengan baik. “Saya sempat terpuruk mengalami kerugian ratusan juga rupiah,” cerita Irawan. Tapi menurut Irawan, kehancuran bisnis peternakan ayam tidak semata-semata masalah internal perusahaan, tapi juga disebabkan faktor internal yang berkaitan dengan kebijakan pemerintahan yang tidak tegas dalam soal impor daging ayam dari luar negeri. Itu terjadi tiga tahun lalu.”Sebelum isu flu burung kami sudah diserang badai ayam impor,” tukasnya. Akibat banyaknya ayam gelap dari luar negeri yang masuk ke Indonesia tersebut, produk ayam Indonesia mengalami kemerosotan harga. Antara biaya produksi dengan hasil tidak imbang sama sekali. Untuk mengurangi kerugian tersebut, Irawan mencoba membuka usaha baru. Selain beternak, ia menjual mengolah sendiri daging tersebut untuk dijual langsung. Dengan berbagai cara, ia mencoba mempromosikan daging olahan tersebut. Ia lebih banyak memilih pasar hotel dan rumah makan. Ternyata upayanya membuahkan hasil. Ia bisa lega karena berhasil memasarkan ayam hasil peternakannya sendiri. “Paling tidak saya bisa meminimalkan kerugian,” ucapnya. Dalam waktu yang tidak lama, Irawan berhasil menguasai puluhan rumah makan kafe dan hotel. Tapi persoalan kemudian muncul, karena mereka hanya memilih bagian tertentu dari daging ayam tersebut. Tegasnya, ada beberapa bagian seperti paha kepala dan sayap yang kurang peminat. Namun lelaki kelahiran Kediri, Jatim ini tidak kekurangan akal. Ia mencoba menjual paha, kepala dan sayap tersebut dalam bentuk fried chicken. Semula produk itu dijual keliling dengan gerobak sepeda. Tapi sistem penjualan dengan gerobak kemudian ditinjau ulang karena dinilai tidak feasible secara bisnis. Antara hasil dan biaya operasional tidak imbang. Karena itulah, Irawan mulai melirik untuk mendirikan rumah makan dengan menu tetap fried chicken ditambah dengan aneka minuman pendukung. Maka lahirlah ide untuk mendirikan ayam goreng Dobbi. Tidak disangka, ketika dibuka pertama di kawasan Seturan, Jogja, sambutan masyarakat sangat bagus. Dari sinilah, Irawan mulai menyiapkan sistem manajemen karena ada beberapa konsumennya yang tertarik untuk bekerja sama membuka gerai baru. Sulastri (34) yang membuka gerai di samping markas Polresta Solo, agaknya salah satu mitra bisnis yang sudah menikmati untuk dari ayam goreng Dobbi. Menurut pengakuannya sejak dibuka enam bulan lalu omset penjualannya lumayan. “Semakin hari omset kami terus meningkat,” kata Sulastri. Sulastri yang kini mempekerjakan dua orang karyawan optimistis tidak sampai satu tahun akan segera balik modal. ia juga berniat untuk membuka lokasi baru setelahy kesuksesan di lokasi yang pertama.
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#26 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang: Jangan Anggap Enteng Jual Pisang Goreng
![]() Hanya pisang goreng biasa. Tapi perlu dikemas dengan baik, maka jajanan yang disukai oleh hampir semua masyarakat Indonesia ini akan menjadi bisnis yang besar. Robby Tjan telah membuktikannya dengan Pisang Pontia nya. Laris manis bak kacang goreng, bukan lagi ungkapan basa-basi, bagi Robby Tjan. Sebab, melalui empat gerai pisang gorengnya yang dinamai Pontia, pisang gorengnya menjadi menu favorit bagi penggila makanan instan di Jakarta dan sekitarnya. Dan yang lebih penting lagi dia bisa meraup omset sebesar Rp13,5 juta hingga Rp14 juta semalam! Dan, berdasarkan pengamatan, diperkirakan omset ini akan terus membumbung di waktu-waktu mendatang. Padahal, modal yang ditanamkan hanya Rp800 ribu, sedangkan produknya cuma pisang goreng tepung. “Pada dasarnya, Pontia hanyalah pisang goreng biasa. Mungkin, bedanya dengan pisang goreng pada umumnya yaitu terbuat dari pisang kepok Pontianak (pisang jenis ini lebih manis daripada pisang kepok pada umumnya dan saat digoreng tidak terlalu menyerap minyak, red.) yang dibungkus rapat dengan tepung terigu ¯ sehingga pisangnya sama sekali tidak kelihatan ¯ sebelum pisang itu digoreng. Kala dimakan, akan terasa manis dan renyah,” kata Robby. Di sisi lain, pisang-pisang ini ditempatkan dalam kemasan yang terbuat dari kertas karton (kardus, red.) berlabel Pontia. Selain itu, outlet Pontia juga bukan gerobak biasa, dan para karyawan yang melayani pembeli mengenakan pakaian seragam. Lebih dari itu semua, mungkin harga per bijinya yang hanya Rp2000,-, padahal “tampangnya” terbilang keren. “Nggak malu-maluinlah kalau dipakai untuk ngoleh-ngolehin calon mertua,” tambahnya. Setiap kemasan, berisi lima pisang goreng. Tapi, Robby tidak pernah memaksa konsumennya yang selalu (antri) mengular, agar membeli minimal satu kemasan seperti aturan yang diberlakukan Dunkin Donuts, misalnya. “Konsumen boleh membeli berapa pun mereka mau,” ucapnya. Untuk variasi, Pontia juga menyediakan kacang hijau dan sukun goreng. Pontia dibangun Robby yang awalnya hanya ingin menjalankan bisnis dengan modal kecil, setelah gagal dalam bisnis pelayaran yang modalnya miliaran rupiah. Tapi, saat itu dia belum tahu apa bentuk bisnisnya. Sampai kemudian, dia menyadari bahwa pisang goreng buatan istrinya yang selalu menjadi santapan sehari-hari keluarga ini, terasa makin lama makin enak. Lalu, terlintas dalam benaknya untuk membisniskan makanan kegemaran keluarganya ini. “Bagi saya yang biasa bermain di modal miliaran, modal berbisnis pisang goreng ini sangat kecil,” katanya, tanpa bermaksud sombong. Melalui bantuan saudaranya, Robby yang memiliki apotik di kawasan Sunter, menggunakan ruangan yang tak terpakai di depan apotiknya sebagai tempat pertama berjualan Pontia, pada Agustus lalu. Hasilnya sangat menakjubkan. Karena, pada malam pertama pisang goreng yang dipasarkan dengan harga Rp1000,- per potong, omset sebesar Rp500 ribu bisa dia raup. Sekadar informasi, perbedaan harga Pontia di Sunter dengan cabang-cabang yang lain didasari daya beli masyarakat setempat dan Pontia di sini tidak ditempatkan dalam kemasan. Sebulan kemudian, Robby membuka cabang Pontia di kawasan Kosambi.”Di sini, belum selesai dagangan digelar, sudah diserbu habis oleh konsumen!” ujarnya. Kondisi ini membuatnya berani membuka satu gerai lagi di kawasan Bintaro pada Bulan Oktober. Dan, hasilnya juga luar biasa, sehingga akhir 2005 dia membuka satu gerai lagi di Cibubur. Dari, empat outlet ini, setiap malam (Pontia dibuka dari jam 14.00 hingga jam 23.00, red.) Robby meraup Rp13,5 juta hingga Rp14 juta! Itu artinya, 6.750 buah pisang digoreng setiap malam! Sebuah kenekadan atau spekulasi? “Tidak! Animo pembelilah yang mendorong saya membuka outlet ini secara beruntun. Selain itu, juga bukan untung-untungan. Sebab, investasi, kalau boleh ini dibilang investasi, di bisnis ini sangat kecil. Menurut saya, investasi itu berkaitan dengan angka yang besar sekali, sedangkan di bisnis ini investasinya sangat kecil. Dan, kalau terjadi sesuatu, tidak ada risiko apa pun yang harus ditanggung. Jadi, harap maklum kalau banyak orang berjualan pisang goreng, bukan karena prospeknya cerah, melainkan karena kecilnya modal, “ ucapnya. Untuk promosinya, Robby menggunakan rasa penasaran konsumen. “Sebenarnya, saya sendiri agak kaget. Kenapa hanya pisang goreng bisa antri sepanjang ini,” katanya. Untuk mengatasi rasa penasarannya, sekaligus mengetahui berapa transaksi per malam, dia melakukan survai di Bintaro. Hasil penelitian sederhana tersebut yaitu dalam semalam terjadi 200–230 transaksi (pembelian) dan sekitar 150 di antaranya repeat di Pontia cabang Bintaro. Sedangkan, di Cibubur per malam dibukukan 100 transaksi. Sekadar informasi, Pontia cabang Bintaro merupakan gerai yang paling besar, karena di sini tersedia 13 penggorengan. Gerai kedua terbesar adalah Pontia cabang Cibubur yang menyediakan tujuh penggorengan. Ke depannya, Robby berencana membuka gerai di Blok M, Puri Kembangan, atau Depok. “Banyak tempat di Jakarta ini yang masih bisa dijelajahi,” katanya. Selain itu, dia juga akan menggunakan sistem delivery, serta penjualan per kemasan atau paket. Di sisi lain, berkaitan dengan Pontia yang mulai dilirik seorang pengusaha dari Singapura, Robby menawarkan kerja sama dengan ketentuan gerainya harus berpendingin ruangan serta dilengkapi dengan meja dan kursi, sehingga Pontia bisa dinikmati konsumen sambil kongko-kongko. Berbisnis dengan modal miliaran, tidak selalu memberi hasil yang sebanding. Sebaliknya, “berdagang” pisang goreng, yang oleh sebagian besar orang dipandang sebagai bisnis yang paling rendah,karena dilakukan oleh pengusaha kecil sekali, justru mampu menciptakan penjualan yang menakjubkan. Jadi jangan anggap enteng, biar hanya pisang goreng, tapi bisa menciptakan cash yang besar. Huh!!! PISANG GORENG PONTIA ROBBY DJAN Jalan Mawar Nomor 63 Sunter Agung, Ancol, Jakarta Utara Telepon: (021) 70778828
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" Last edited by Devan; 19-04-2006 at 06:55 AM. |
|
|
|
|
#27 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Martin “ Jual Konsep” Bengkel Motor HiTech
Bengkel motor biasa saja, sebenarnya sudah bisa menguntungkan, di tengah semakin meningkatnya pemakai sepeda motor. Dengan sedikit tambahan investasi untuk peralatan high tech, maka derajad bengkel motor Anda sudah layak disejajarkan dengan bengkel besar milik Yamaha, Honda dan lain-lain. Setiap bisnis pasti membutuhkan modal, tetapi tidak benar bila tanpa modal (uang) bisnis tidak dapat berjalan. Seperti dua sisi mata logam, kalimat tadi bisa terdengar bombastis oleh orang baru akan memulai membuka bisnis. Sebaliknya barangkali menjadi klise bagi yang telah malang-melintang dalam rimba dunia usaha. Kedua anggapan bisa jadi benar, tergantung dari sudut mana arah memandang. Apa yang dijalankan oleh Hendry Martin, pengelola bengkel sepeda motor bernama Dysha Motor Sport, di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan boleh menjadi contoh, satu di antara sekian ribu orang yang membuka usaha tetapi tidak ingin pusing urusan modal investasi. “Saya gila motor sejak dari kelas tiga SMP, ikut berbagai balapan motorcross, road race dan sebagainya sampai berhenti tahun 2002,” ceritanya mengawali tentang latar belakang usaha bengkel tersebut. Martin pertama kali membuka bengkel sepeda motor pada tahun 2003 dengan modal Rp 20 juta. “Saya katakan bengkel yang tidak ada isinya,” tukasnya. Disebutkan, dari modal sebesar itu Rp 5 juta digunakan untuk membeli kompressor dan peralatan bengkel. Sisanya adalah untuk melengkapi spare part dan aksesoris tetapi hanya yang bersifat fast-moving spare parts , alias barang cepat laku. Seperti kaca spion, sticker, pedal cover dan barang lain yang sifatnya pendukung estetika sebuah motor. Dari pengalamannya tersebut, Martin memiliki keinginan mengembangkan bengkel motornya agar tidak sekadar sama seperti bengkel sepeda motor yang ada. Dengan latar belakang hobi berikut komunitas motor yang diikutinya, costumer yang datang ke bengkelnya kebanyakan adalah para anggota klub serta komunitas motor yang jumlahnya ribuan. Konsumen ini, selain jumlahnya bertambah banyak, juga layanan yang dibutuhkan tambah beragam. Dari sekedar, ganti oli hingga memodifikasi bentuk fisik motor. Seiring membanjirnya konsumen, plus kecepatannya dalam menggarap kebutuhan klien membuat bengkelnya semakin kondang. Bengkel kecil miliknya akhirnya menempati urutan teratas dari beberapa bengkel yang direkomendasikan oleh klub-klub motor, seperti Tiger, Scorprio 150 CC, Ninja dan sebagainya. Saking ramainya konsumen, khusus pada hari Sabtu dan Minggu bengkelnya buka selama 24 jam. Ia pun laris manis diminta menjadi pembicara dalam event sepeda motor yang diselenggarakan oleh motor bike clubers . Potensi pasar yang lebih besar sering diperolehnya jika melayani para pemilik dan penggemar motor besar. Buka apa-apa. Biasanya mereka –yang rata-rata berkantong tebal—meminta layanan yang aneh-aneh. Enaknya sekali datang para big bikers ini tidak segan-segan merogoh saku cukup dalam, bila memang merasa puas. “Ada yang mengerti mesin, ada yang tidak, dan kita ngomongnya selalu jujur karena long-term relationship yang dicari, sehingga pernah kita dibayar Rp 2 juta hanya untuk servis kecil,” kisahnya. Kalau begini-begini terus, Martin beranggapan kelangsungan bisnisnya tetap terjaga. Apalagi kalau hanya sekedar cari makan. Dia bermimpi agar satu saat bengkelnya jadi besar. “Kemudian saya berkeinginan membuka bengkel yang bagus. Tetapi masalahnya saya tidak pegang duit, tetapi saya punya konsep,” ujarnya. “Besar” yang dimaksud Martin tentu saja relatif bagi banyak orang. Tetapi setidaknya dalam benaknya, bengkel motor itu dikatakan besar jika peralatan pendukungnya benar-benar yang high-tech . Itu berarti perlu invetasi untuk membeli peralatan yang dimaksud. Terus, kalau sudah ada investasi untuk membeli peralatan, maka langkah selanjutnya adalah adalah memberikan layanan yang total kepada konsumen atau lazim disebut one stop service. “Fokusnya begitu orang datang servis motor, terus mereka menginginkan bikin costum macam-macam, semuanya bisa dikerjakan di bengkel tersebut. Kalau ada yang mau bubut kita punya mesin bubut, kalau mau dipres kita punya mesin pres, kalau ingin tes performance kita punya engine performance testing,” paparnya. Namun pria kelahiran Padang ini mengatakan, bahwa dana yang mesti dikeluarkan buat semua hal di atas tidaklah sedikit. Ia memperkirakan modal pengadaan alat-alat mencapai Rp 500 juta, belum termasuk lahan. Sehingga total yang dibutuhkan kurang-lebih sebesar Rp 600 juta. Akhirnya untuk mewujudkan konsepnya itu, selama setahun dia menyusun road map secara detil termasuk mengenai bentuk pengembangan usaha nantinya. Sedangkan bengkel miliknya yang dia pergunakan sebagai semacam prototipe. Hasilnya, seorang rekannya sangat tertarik mendanai berapa pun modal yang dibutuhkannya dengan sistem bagi hasil. Martin optimis, dibutuhkan waktu tidak terlalu lama untuk mencapai break event point. Dikatakan bahwa selama ini dengan sistem manual, seorang mekanik hanya dapat memegang satu buah motor. Sebaliknya dengan memakai injeksi mesin, alat tinggal dicolokkan ke mesin, kompressor lalu dihidupkan, akan bekerja otomatis dan selesai dalam waktu 15 menit. Sementara itu pula bisa ditinggal untuk menggarap motor yang lainnya. Bila dianggap waktu efektif satu hari rata-rata 6 jam saja, dengan memiliki 2 buah alat, berarti dalam setiap jam mampu menggarap 8 buah sepada motor. Jika saja tariff servis rata-rata dikenai Rp 60 ribu, maka diperoleh Rp 60 ribu X 8 X 6 = Rp 2,88 juta per hari, atau Rp 86,4 juta per bulan hanya dari pendapatan servis. Belum untuk jenis layanan yang lainnya serta penjualan spare part dan aksesorisnya. “Paling lama dua tahun, sudah balik modal” ucapnya yakin. Ia juga menegaskan bahwa rencananya tidak berhenti sampai di situ. “Pada tahun 2007 nanti, kita targetkan sudah memiliki lemabaga R&D (Research and Development),” ungkapnya. Dengan layanan tersebut maka Dysha akan sanggup melayani apa pun keinginan costumer. Baik memenuhi permintaan segala macam bentuk modifikasi bentuk, akselerasi, atau pun sekedar memperbaiki kendaraan yang cacat karena kecelakaan sehingga bisa tampil utuh seperti kendaraan baru. “Termasuk melakukan produksi bermacam-macam bentuk tools dan sebagainya,” tambahnya. Diakui Martin, bahwa gagasan tersebut belum sepenuhnya terlaksana. Minimal mengamati perkembangannya, ia yakin angin keberuntungan berada di pihaknya. “Pada saat ini saya sudah punya costumer tetap, saya telah memegang kepercayaan, dan pelanggan tidak bakal lari kalau kita tidak buat kesalahan,” tandasnya. Maka untuk menjaga loyalitas konsumen, selain layanan yang profesional juga melalui pendekatan personal. “Anggota club atau pun komunitas berjumlah ribuan, satu orang pelanggan akan mengajak teman-temannya yang lain,” kilahnya. Well begun is half done!
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#28 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
![]() Peluang: Cari Untung Dari Sampul AlQuran Jadilah manusia kreatif seperti Noviera yang sukses membikin sampul untuk buku-buku seperti Alquran. Kendati tidak semata mencari untung, tapi peluang bisnis ini bisa dikerjakan dengan modal yang relatif kecil. Agar tampil menarik, seseorang tidak hanya harus memakai baju yang bagus, tetapi juga serasi dengan aksesori yang dikenakannya. Sekali pun dengan tujuan beribadah atau mencari pahala, misalnya ke pengajian. Atas dasar ini, para wanita yang datang ke pengajian sebisa mungkin mengenakan busana muslim yang matching dengan kerudung, tas, sepatu atau sandal, serta perlengkapan salat, seperti mukena, sajadah, dan…sampul Alquran. Asal tahu saja, sampul Alquran kini juga telah menjadi bagian dari gaya berbusana sebagian muslimat Ibukota. Di sisi lain, sampul yang cantik cenderung akan memotivasi pemiliknya untuk rajin membaca Alquran setiap hari, bukan? Selama ini, kitab suci umat Islam ini dilindungi oleh sampul yang terbuat dari bermacam-macam bahan, sebagai hasil berbagai modifikasi. Tapi, karena terlalu sering dibaca, sampul Alquran ini rusak atau setidaknya berubah menjadi kumal. Apalagi, sebagian dari sampul-sampul tersebut terbuat dari bahan atau hiasan yang tidak memungkinkan untuk dicuci. Di sisi lain, beberapa sampul Alquran terlihat sangat sederhana dan minimalis sehingga tidak sedap dipandang, misalnya berwarna putih polos atau berhiaskan bordir dengan satu warna benang (emas atau perak). “Secara pribadi, saya tidak menyukai sampul semacam itu. Pada 2001, saya berinisitaif membuat sampul Alquran dari bahan dan benang berwarna warni, sehingga terkesan cantik,” kata Noviera, pemilik butik Nana Collection. Ternyata, animonya bagus. Awalnya, Nana, begitu dia disapa, membuat cover ini dari sisa-sisa bahan yang tak terpakai. Karena itu, tidak ada modal khusus yang dia tanamkan di sini. Nana Collection yang berdiri pada 1999 di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, awalnya merupakan bisnis yang bergerak dalam busana muslim dan perlengkapan salat. Sampul Alquran hanya sebagian kecil dari bisnis ini. Kemudian dia berinovasi dengan mengkombinasikan warna bahan dan benang sedemikian rupa, sehingga sampul yang terbuat dari kain satin dan sutera Thailand ini tampil dengan manis. Menurut Nana, penggunaan kedua jenis kain tersebut, didasari pertimbangan bahwa kedua bahan tersebut kaku sehingga gampang dibentuk dan bersinar sehingga menarik perhatian. “Semula, saya menggunakan sampul ini untuk membungkus Alquran saya sendiri. Ketika saya membawanya kepengajian, ternyata teman-teman pengajian saya menyukainya,” ujarnya. Dalam perkembangannya, orang-orang di luar komunitas pengajian yang dia ikuti juga tertarik untuk membeli dan memesannya. Bukan cuma itu, Nana yang rajin memasarkan dan mempromosikan produknya melalui berbagai bazar dan dari satu pengajian ke pengajian lain ini, juga menerima pesanan dari sebuah butik busana muslim di kawasan Kebayoran. Diaku Nana bahwa ide pembuatan cover ini bukan berasal dari dirinya sendiri. “Sebenarnya cover semacam ini sudah banyak yang membuat, tapi yang saya buat lain daripada yang lain. Sebab, yang terbuat dari kain, boleh dikata, baru saya yang membuatnya. Apalagi, sampul Alquran saya ini bisa dan mudah dicuci,” katanya. Dari sampul yang dijual dengan harga Rp35 ribu (seukuran buku Yassin dan hanya berhiaskan bordir sederhana, red.) hingga Rp250 ribu (seukuran Alquran ukuran besar dan dengan kombinasi bordiran penuh, red.) ini, Desember lalu, Nana meraup omset sekitar Rp10 juta. Sedangkan, setiap bulannya dia dapat menjual 50–70 buah. “Sebenarnya naik turunnya omset dan banyak sedikitnya sampul yang terjual tergantung ‘musim’. Dalam arti, bila sedang ‘musim’ haji, khususnya, atau peringatan meninggalnya seseorang ya banyak yang terjual atau pesanan meningkat. Tapi, sejauh ini, Alhamdulillah pesanan terus mengalir,” ujarnya. Nana yang mempekerjakan 10 orang karyawan ini, setiap harinya mampu membuat 10 sampul dengan berbagai ukuran baik, untuk persediaan maupun pemesanan. Karena, setiap hari, dia rutin menerima pemesanan, setidaknya dua sampul. Sedangkan untuk yang memesan Nana punya standar untuk memesan minimal 50 buah sampul. Untuk pengerjaannya, Nana memperkirakan bisa menyelesaikannya dalam tempo dua minggu. Uniknya, sampul buatan dokter gigi ini bukan semata-mata untuk membungkus Alquran atau Yassin, melainkan juga buku pada umumnya, bahkan kitab Injil atau Bibel. “Pada dasarnya, saya membuat sampul ini bukan cuma untuk Alquran, melainkan lebih tergantung pada pemesanan, demikian pula dengan ukurannya. Sedangkan, konsumennya bisa siapa saja. Yang jelas, mereka merupakan orang-orang yang menyukai benda-benda bagus dan cantik,” ucap Nana yang pernah membuat sampul Alquran seukuran 50x35 cm. Meski terbilang laris manis, Nana tidak sekali pun berminat menaikkan harga produknya. “Saya tidak mikir untung rugi, tapi saya melakukan ini demi ibadah (juga). Jadi, mudah-mudahan saya dapat pahala dari bisnis ini,” kata wanita yang produknya sudah merambah seluruh Jakarta dan Surabaya, serta berencana “melempar” produknya ke Malaysia dan Brunei Darussalam ini. Di satu sisi, dia merasakan kenikmatan tersendiri karena kreasinya disukai. Di sisi lain, mengingat bisnis ini sangat prospektif, dia ingin konsumen lebih dulu mengetahui dan mengenal produknya daripada berpikir tentang laba rugi. Pada dasarnya, Nana menambahkan, sampul semacam ini mudah dibuat dan harga dapat ditekan sedemikian rupa untuk menghindari kerugian, tapi mau tidak mau kualitas akan turut berkurang. Karena itu, harap maklum bila sejauh ini belum ada pelaku bisnis yang mencoba ikut terjun dalam usaha ini. “Mereka nggak mau rugi. Sebab, bisnis sampul seperti ini boleh dibilang nggak ada untungnya,” ujar Nana yang membuat sendiri konsep bordir, serta kombinasi bahan dan warna benang sehingga dihasilkan satu sampul dengan satu motif, satu kombinasi bahan, dan satu kombinasi warna benang. Ibarat pepatah, sambil menyelam, minum air. Sambil beribadah, berbisnis pula.
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#29 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang: Briket Batok Kelapa Tersandung Modal
Kendati prospek pasar briket batok kelapa, sangat tinggi belum banyak pengusaha yang melirik. Kendala permodalan juga masih batu sandungan. Lilingga Lo Bonggo Lestari telah sukses melihat potensi bisnis tempurung kelapa ini. Setelah munculnya “varian” bisnis baru berbasis pohon kelapa seperti minuman sari kelapa (nata decoco), virgin coconut oil (VCO), serta berbagai furniture batang kelapa beberapa tahun lalu. Kini, tempurung kelapa (batok) pun yang dulu dipandang sebagai sampah ternyata dapat menjadi lahan bisnis baru yang mulai dilirik karena siap memberikan keuntungan besar dengan permintaan pasar ekspor ke mancanegara cukup menjanjikan apabila diberikan sedikit sentuhan “inovasi produk”. Capt. Iwan R. Niode, adalah sosok yang mulai tertarik melihat potensi bisnis batok kelapa dengan “inovasi produk” menjadi arang “briket” batok kelapa yang pertama di Indonesia. Inovasi Iwan sepertinya hadir tepat waktu, ketika melambungnya harga bahan bakar minyak yang membawa multiflier effect dengan kenaikan ongkos produksi bagi perusahaan maupun rumah tangga Menurut Iwan, batok kelapa adalah komoditi ramah lingkungan dengan keuntungan sangat menjanjikan untuk menggantikan minyak tanah bagi masyarakat. “Apalagi adanya raw material yang bagus dan melimpah di Indonesia,” ungkap mantan pelaut ini. Seperti misalnya di daerah Sulawesi tepatnya Gorontalo yang terkenal dengan produksi kelapa kopranya ini. Selain itu ada 26 sentra kelapa di Indonesia diantaranya di Riau, Padang, Aceh, Jambi, Flores, dan lain sebagainya. Namun, sungguh ironi, meskipun dengan lahan yang lebih luas di bandingkan dengan Philipina dan India. Indonesia tertinggal sekitar 10 tahun dalam menerapkan teknologi tepat guna yang sederhana dalam mengelola bisnis perkelapaan. Oleh karena itu, dalam masa pensiunnya serta setelah mendapatkan informasi dalam sebuah seminar mengenai komoditi kelapa yang diadakan Balai Penelitian IPB di Bogor di tahun 2000 ia mulai tertugah untuk menjadikannya sebagai bisnis barunya. Ia pun ingat, di kampung halamannya batok kelapa tak lebih dari limbah yang menggangu. Padahal dia tahu permintaan briket batok kelapa cukup besar dan menjanjikan keuntungan yang menggiurkan. “Dari data Departemen Perdagangan dan Perindustrian terdapat sekitar 5000 ton setiap bulan batok kelapa yang terbuang atau hanya menjadi limbah yang tidak termanfaatkan. Padahal kalau kita ambil 10 persen saja yakni sekitar 500 ton sudah cukup bagus. Oleh karena itu, dengan bulat hati saya memulai usaha ini,” jelasnya. Menurut Iwan pasar ekspor mancanegara menginginkan kadar fix carbon sebesar 82 persen. Menilik data yang ditemukannya tersebut, ia membawa sampel hasil pembakaran batok kelapanya ke Sucofindo. Hasilnya fantastis. Fix carbonnya mencapai 85 persen. “Artinya arang briket batok kelapa hasil percobaan saya fix carbonnya melampaui standar yang ditetapkan di Eropa dan Amerika. Padahal, dengan bahan baku yang melimpah masyarakat biasa dapat berharga US$ 170 sampai US$ 200 per kg dengan kandungan fix carbon 60%. Melalui pembakaran yang saya lakukan harganya bisa 4 kali lipat dari cara pembakaran yang biasa dilakukan masyarakat,” ungkapnya bangga. Iwan mengaku briket batok kelapa bikinannya, sangat jauh berbeda dengan briket batubara karena hasil olahannya tersebut tidak berasap dan ramah lingkungan. Dengan melihat keadaan tersebut pasar Eropa sangat berminat untuk membeli briket tersebut darinya karena standar yang mereka inginkan sangat ketat terutama dalam hubungannya dengan kesehatan lingkungan hidup. Tahun 2001 bermodal kurang lebih Rp.100 juta, ia mulai merakit mesin pencetak maupun pembakar arang batok kelapa yang dibuatnya di daerah Tegal. “Kalau saya lihat informasinya di internet harga mesin buatan India, Eropa sekitar Rp. 700 juta. Wah… mana kita mampu, maka dengan melihat standarnya dan improvisasi sendiri saya membuat mesin seperti mesin penghancur arang batok, mesin giling, mesin press hidrolik dan mesin oven di daerah Tegal bahkan bengkel las pagar pingir jalan dengan harga yang relatif jauh lebih murah,” kenangnya. Perusahaan yang didirikannya bernama Lilingga Lo Bonggo Lestari mengusung merek dagang produknya Al-Misbah yang berarti : kilauan cahaya (pohon kelapa). Kini, dengan dibantu oleh sekitar 40 orang karyawannya, Iwan telah mengekspor rata-rata 3 kontainer perbulan dengan berat 36 ton senilai US$ 34 ribu atau sekitar Rp. 310 juta. Permintaan pun datang dari negara lain seperti : China, Korea, Jepang, Arab Saudi dan Eropa terutama Jerman dan Perancis hingga puluhan container perbulannya. Namun, Iwan mengaku belum dapat memenuhi semua permintaan tersebut karena berbagai keterbatasan. Briket batok kelapa yang dihasilkan Iwan bervariasi bentuknya sesuai permintaan pasar. “Ada sekitar 4 macam bentuk seperti hexagonal (segi enam), square/cube (bulat), cylindrical (berbentuk silinder), disk/tablet (cakram). Hexagonal biasanya melayani permintaan rumah makan atau restoran sementara yang bulat khusus melayani pasar Timur Tengah untuk pembakaran alat penghisap rokok khas mereka,” tutur lelaki kerap nginap pabriknya di bilangan Ciomas Bogor ini. Namun, usaha ini bukan tanpa kendala. Kendala utamanya adalah permodalan untuk mengembangkan permintaan pasar. Sebagai contoh, ia melanjutkan, permintaan pasar ekspor dari beberapa negara maupun peningkatan permintaan dari negara yang telah dilayaninya terkendala karena keterbatasan kapasitas produksi dari mesin yang dimilikinya. “Hingga sekarang kapasitas produksinya baru 36 ton per bulan, sementara permintaan melebihi kapasitas yang dihasilkannya sedangkan untuk membeli mesin baru harganya begitu mahal sekitar Rp. 700 juta,” ungkapnya. “Bahkan saya pernah mengalami L/C (letter of credit) sebesar US$ 22.000 mati di tangan karena tidak memiliki modal sekitar Rp 170 juta untuk melayani permintaan suatu negara. Saya pernah mengajukan kredit ke bank dengan jaminan L/C tersebut namun mereka bergeming melihat usaha saya yang hanya usaha kecil,” kenangnya menerawang. Kini ia mengajak setiap orang terutama pemerintah daerah yang tertarik pada bisnis briket ini untuk membangunkan “komoditi tidur” ini di daerahnya masing-masing dengan proses produksi yang sama dengan know how yang siap dibimbingnya. “bisnis ini bila diplasmakan sangat bagus,” tegasnya memberi keyakinan. Beberapa pemerintah daerah telah mengajaknya bekerjasama untuk mempergunakan teknologi tepat guna yang sederhana, ekonomis dan ramah lingkungan ini seperti : dari Jawa Barat, Pemda Riau serta seorang pengusaha dari Sumatera Barat. Bahkan Pemda Ciamis telah menjamin sekitar 36 kecamatan yang ada disana siap memakai kompor (briket) ciptaannya serta briket batok kelapa hasil olahannya. “Bila saja pemerintah pusat memberi modal sekitar Rp. 10 milyar untuk menggerakkan 10 daerah propinsi yang masing-masing menerima Rp. 1 milyar dalam mendirikan bisnis ini, saya jamin multiflier effectnya sangat terasa bagi perekonomian rakyat. Insya Allah 5 tahun ke depan masih ada jaminan pekerjaan,” ungkapnya. Bila dikonsumsi di dalam negeri saja, tambahnya, akan sangat membantu masyarakat luas. Iwan mencontohkan di Ternate harga minyak tanah pernah sekitar Rp. 10 ribu per liter apalagi di daerah lain yang memiliki keterbatasan tranportasi karena “keterasingan” geografisnya bisa lebih mahal. Dengan briket batok kelapa cukup sekitar Rp. 6.250 per kg, jelas Iwan, penggunaannya bisa untuk 6 jam. “Belum lagi, apabila kita ingin melayani permintaan pasar ekspor pasti dapat menghasilkan devisa yang menguntungkan bagi Indonesia. Australia telah melakukan kontrak 10 kontainer per tahun, negara Eropa seperti Jerman dan Perancis siap menampung. Saudi Arabia pernah meminta sekitar 20 – 50 kontainer per bulan. Jadi peluang bisnis ini sangat menjanjikan baik bagi pemerintah maupun perorangan,” jelas pria yang tinggal di bilangan Bintaro ini. Kini, melalui Forum Komunikasi Perkelapaan Indonesia (FOKPI), ia berharap banyak pemerintah pusat maupun daerah dapat membangunkan “komoditi tidur” ini dalam menggerakkan perekonomian rakyat Indonesia. Kehadiran, Prof. DR. Emil sebagai penasehat forum ini siap membantu memberikan solusi permodalan. Bukan itu saja, varian produk baru pun akan banyak bermunculan bila kita mengelolanya dengan baik dengan berbasiskan teknologi tepat guna yang sederhana.
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#30 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
![]() Peluang: Boneka Washi Pantas Dilirik Memang hanya boneka. Tapi ketika dibuat unik, berbeda dan khas, bonekapun bisa melanglang buana ke manca negara. Bagi pekerja seni dan dan kerajinan tangan (craft), boneka Jepang, bisa menjadi pilihan untuk mengembangkan produknya. Atau belajar pada Josephine yang telah memetik hasil jerih payahnya. Dalam sejarah kehidupan manusia, boneka mempunyai peran yang sangat penting. Merunut ke belakang, pada awalnya, boneka bukan cuma berfungsi sebagai mainan atau penghias ruangan, melainkan juga digunakan sebagai obyek berbagai ritual keagamaan tertentu hingga ke hal-hal yang berbau ilmu hitam (black magic). Boneka, dalam kaitannya dengan upacara atau festival keagamaan, tidak mungkin pula dilepaskan dari hal-hal yang menyangkut kutukan atau mantera. Singkat kata, manusia dan boneka memiliki hubungan yang sangat erat. Sama halnya dengan kebudayaan-kebudayaan lain, Jepang juga menggunakan boneka sebagai obyek ritual keagamaan sekaligus penghias ruangan. Hal ini tampak dari model rambut dan gaya berbusana boneka-boneka Jepang yang dipajang di lemari hias atau digantung di dinding. Bila semula, boneka-boneka ini dibuat dengan menggunakan kayu dan kain, dalam perkembangannya juga menggunakan washi (kertas yang terbuat dari lapisan kulit bagian dalam pohon Mulberry, Mitsumata, dan Gampi, red.) dan clay (sejenis kertas tradisional Jepang, red) atau styrofoam, sehingga lebih dikenal dengan nama boneka washi. Boneka washi yang setiap bagian tubuhnya -wajah, rambut, dan pernak-pernik lainnya - dibentuk dari kertas washi ini, muncul di Jepang tiga abad lampau. Boneka buatan tangan dan berbentuk pipih ini biasanya mengambil karakter atau adegan dalam sandiwara Kabuki (sehingga wajahnya pun putih dan tanpa ekspresi) atau berbagai upacara tradisional Jepang. Penggemar dan pembuat boneka washi tidak hanya bisa ditemui di Jepang, tetapi juga di Indonesia, tepatnya di Perkantoran Puri Niaga, Jakarta Barat. Josephine Tjen adalah pengrajin boneka washi yang (melalui tangan kedua) telah “melempar” hasil karyanya ini hingga ke Kanada dan Australia, bahkan ke Jepang. Dia memulai bisnisnya sembilan tahun lalu, dengan modal sekitar Rp80 ribu. “Pertama kali membuat kostum washi doll, saya menggunakan kertas kado. Karena, saya belum tahu di mana saya harus membeli material sebenarnya. Bentuknya memang bagus, tetapi hasilnya kurang bagus,” kata Josephine. Di Singapura, tempat di mana dia untuk pertama kalinya menemukan buku tentang boneka washi dan pernak perniknya. Josephine pun membeli kertas washi. “Pada pembuatan washi doll yang kedua, saya menggunakan kertas washi. Sedangkan untuk bagian kepala dan badannya, saya menggunakan clay,” ujarnya. Di samping membuat washi doll, penyuka segala hal yang berkaitan dengan Jepang ini juga membuat happy doll, boneka modifikasi washi doll yang selalu berekspresi tersenyum atau bahagia. Kepala dan badan happy doll menggunakan styrofoam. Kertas washi, Josephine melanjutkan, bervariasi harganya, minimal Rp60 ribu/lembar. Berkaitan dengan itu, untuk membuat satu boneka dengan karakter sederhana yang hanya memerlukan selembar washi, dibutuhkan modal sekitar Rp80 ribu. Sedangkan untuk yang berkarakter rumit, sehingga membutuhkan kertas washi dalam jumlah banyak, Josephine harus mengeluarkan dana hingga Rp200 ribu. “Berapa banyak bahan baku yang digunakan atau modal yang harus dikeluarkan tergantung pada sederhana rumitnya karakter boneka washi ini. Sebab, boneka semacam ini memang sangat ditentukan oleh karakternya,” katanya. Untuk happy doll, dia menggunakan styrofoam impor seharga Rp10 ribu/buah. “Untuk membuat satu boneka happy dibutuhkan modal sekitar Rp40 ribu,” tambahnya. Berapa harga boneka Josephine? Josephine menjual washi doll berikut bingkainya dengan harga Rp500 ribu sampai Rp4,1 juta dan Rp80 ribu untuk happy doll beserta kemasannya. Sedangkan untuk modifikasinya (mengenakan kostum adat di Indonesia, red.), boneka yang berkarakter anak laki-laki dan anak perempuan ini dijual dengan harga Rp50 ribu hingga Rp300 ribu. Mahal? “Seni tidak bisa dinilai dengan uang, bukan?” ucapnya, bernada retoris. Untuk itu, baik washi maupun happy doll hanya bisa dijumpai di beberapa hotel di Jakarta dan Bali atau (melalui tangan kedua) di beberapa toko di Bandung, Surabaya, dan Makassar. Meski boneka-boneka ini disukai oleh para konsumen kelas menengah ke atas dari Asia, tapi untuk meraih lebih banyak konsumen, Josephine juga memodifikasinya dengan karakter berbagai adat beberapa etnis di Indonesia, misalnya sepasang pengantin Batak, dengan tetap menggunakan kertas washi. Dan, respon besar datang dari para konsumen kelas menengah ke atas dari Eropa, di samping Asia tentunya. Tak pelak omset sebesar Rp10 juta/bulan, bisa dia raup dari boneka-boneka mungil ini. “Sehari, setidaknya satu washi doll dan 50 sampai 60 happy doll terjual, serta menerima pesanan hingga dua lusin,” ujar perempuan yang dalam sehari dapat membuat 20 pasang boneka ini. Saat ini, Josephine telah membuat lima kostum daerah untuk happy doll dan 20 kostum daerah untuk washi doll (yang disebutnya boneka nusantara), di luar versi Jepang tentunya. “Happy doll saya buat dalam jumlah banyak, sedangkan washi doll limited edition atau satu daerah untuk satu boneka, jadi harganya lebih mahal. Bukan masalah mahal murahnya kertas washi (yang harganya di Indonesia lebih mahal daripada di Jepang), melainkan lebih pada rumitnya proses pembuatannya,” kata wanita yang aktif berpromosi melalui berbagai pameran ini. Berminat?
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
| Sponsored Links |
|
|
#31 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang: Peluang Bisnis Itu Ya.. Talas
Saudara-saudara, jangan bingung cari lahan bisnis baru. Mari kita tanam talas sebanyak-banyaknya karena, pasarnya masih terbuka lebar di Jepang. Diberitakan, bahwa satoimo (talas) yang merupakan salah satu komoditas makanan daerah tropis bakal menjadi primadona ekspor baru Indonesia. Konsorsium Satoimo Indonesia-Jepang yang dibentuk atas inisiatif Kadin Indonesia Komite Jepang, telah melakukan ekspor perdana setelah persiapan selama tiga tahun. “Setiap bulan akan diekspor 25 ton satoimo yang oleh pembeli, Global Seafood Limited, akan langsung dimasukkan ke supermarket-supermarket di Jepang,” ujar Ariful Y. Hidayat. Ketua Konsorsium Satoimo Indonesia-Jepang. Demikian dilaporkan CPAS, beberapa waktu lalu. Berita ini tentu saja mengingatkan kembali orang akan nilai ekonomis talas yang selama ini kurang serius dilirik Indonesia, padahal potensinya sangat besar dan hampir semua wilayah di Indonesia , talas agak mudah dibudidayakan. Talas merupakan tanaman pangan yang bersifat menahun. Dilihat dari asal muasalnya, talas yang mempunyai nama lain Taro, Old cocoyam, Dash(e)en, dan Eddo(e) ini berasal dari Asia Tenggara, yang lalu menyebar ke Cina dan Jepang. Lantas, kembali lagi ke Asia Tenggara dan beberapa pulau di Samudra Pasifik. Di Indonesia, tanaman yang di beberapa negara dikenal dengan nama Abalong (Filipina), Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaysia), Satoimo (Jepang), Tayoba (Spanyol), dan Yu-tao (Cina) ini, bisa dijumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan yang terletak 1000m di atas permukaan laut (sumber lain mengatakan 1.300 m di atas permukaan laut, red.) baik liar maupun dibudidayakan. Bogor dan Malang merupakan kota-kota yang “ditunjuk” untuk “mengembangbiakkan” talas. Berbagai jenis talas terdapat di Kota Hujan ini, seperti talas sutera, talas bentul, talas ketan, talas paris, talas loma, talas pandan, dan talas lampung. Di sini juga dapat dijumpai talas mentega atau talas gambir atau talas hideung. Perlu diketahui, selain talas-talas yang telah disebutkan di atas, juga terdapat talas yang biasanya tidak dikonsumsi karena rasanya tidak enak atau gatal, seperti talas bolang. Selain itu, juga talas sente yang lebih sering digunakan untuk pajangan, sedangkan daunnya lebih banyak dipakai untuk makanan ikan. Sekadar informasi, berdasarkan data yang diperoleh, jumlah total produksi talas pada 1999 di Bogor mencapai 17.699 ton/tahun. Secara komersial, talas bentul merupakan talas yang paling banyak dibudidayakan di kota ini. Sebab, talas yang rasa umbinya enak dan pulen ini, sangat cocok bila digoreng atau dibuat keripik dan hasil panennya banyak. Di samping itu juga talas loma. Budidaya talas loma dan diversifikasi produk olahannya, telah dilakukan oleh Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), sebagai pelaksanaan kegiatan Iptekda LIPI dengan memperbanyak bibit loma secara cepat dan massal. Beberapa hal yang perlu diketahui bahwa untuk membudidayakan talas yaitu lingkungannya harus bersuhu 21° C–27° C, dengan kelembaban udara 50%–90%, adanya sinar matahari langsung, dan curah hujan 2.000 mm/tahun. Pada kondisi optimal, hasil produksi komoditi andalan Kota Bogor ini dapat mencapai 10 ton/hektar. Di sisi lain, talas gampang ditanam di hampir semua jenis tanah dan juga dapat ditumpangsarikan. Di samping dikonsumsi sebagai makanan pokok dan makanan tambahan karena mengandung karbohidrat tinggi, protein, lemak, dan vitamin, tanaman yang mengandung asam perusi atau asam biru ini, juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Ambil contoh, umbi dan pelepah daunnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat, dan pembungkus. Daun, sisa umbi, dan kulit umbinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan secara langsung maupun setelah difermentasikan. Di luar itu semua, karena mampu tumbuh di lahan yang agak berair sampai dengan lahan kering, tanaman ini bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan dan penghijauan. IPB mengubah talas menjadi produk bernilai tambah yaitu dengan mengembangkan suatu formulasi makanan sarapan cepat saji dengan rasa cokelat dan vanila yang gurih dan lezat, dengan menggunakan metode pengeringan. Produk yang dihasilkan berbentuk remah-remah kering berwarna putih kekuningan. Penyajian produk tersebut dilakukan dengan penambahan air hangat. Dalam perkembangannya, talas bukan lagi makanan kampung. Pasalnya, Amerika Serikat dan sejumlah negara Uni Eropa kian menggemari talas dalam bentuk tepung. Demikian pula dengan Jepang, yang selama ini kebutuhannya dipasok oleh Cina. Saat ini, di negara-negara tersebut telah muncul pasar keripik talas loma yang berasal dari Hawai. Kondisi ini membuat peluang kita untuk mengekspor keripik talas, cukup besar. Apalagi, budidaya talas mudah dilakukan dan tidak bersifat musiman. Kembali ke peluang pasar tadi. Peluang ekspor talas semakin terbuka di jepang karena produksi satoimo di Jepang terus menurun akibat biaya produksi terus meningkat. Selain itu, juga karena faktor musim yang tidak memungkinkan petani Jepang menanam satoimo sepanjang tahun. Rahedi Soegeng, Direktur Eksekutif Konsorsium Satoimo Indonesia-Jepang, mengatakan,”Konsumsi satoimo di Jepang mencapai 3 kg per kapita/tahun. Dengan asumsi, penduduk Jepang sekitar 120 juta, sehingga kebutuhan satoimonya mencapai 360 ribu ton/tahun “, kata Soegeng. Sekadar informasi, sejak 1996, produksi satoimo terus menurun hingga 250 ribu ton. Akibatnya, ada kekurangan pasokan sebanyak 110 ribu ton, yang dipenuhi dengan mengimpor dari Cina yang mampu memasok 65 ribu ton/tahun. Berkaitan dengan itu, masih ada peluang bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan itu sebanyak 45 ribu ton. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Ariful menargetkan lahan satoimo seluas 70 hektar yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah dengan melibatkan petani setempat. Pada 2007, diharapkan ladang satoimo dapat meningkat menjadi 1.000 hektar. “Dan, pada 2008 bisa meningkat menjadi 3.000 hektar sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Jepang,” katanya. Bila satu hektar lahan satoimo, Ariful melanjutkan, dikerjakan oleh lima petani, maka jika target 3.000 hektar lahan dapat direalisasi, bisnis ini dapat menyerap 15 ribu petani. Itu belum termasuk kebutuhan tenaga kerja pengolahan yang mencapai 11.250 orang. ANALISIS USAHA Analisis budidaya talas dengan lahan seluas 400 m2 dalam satu musim tanam (7 bulan) di daerah Bogor pada 1999 oleh Institut Pertanian Bogor (IPB): A. Biaya produksi 1.Sewa lahan Rp200.000,- 2.Bibit: 5.000 batang @Rp150,- Rp250.000,- 3.Pupuk: Urea 10 kg @Rp1.500,- Rp 15.000,- 4.Pestisida: Pembasmi serangga 1 botol Rp 25.000,- 5.Peralatan: Cangkul Rp 20.000,- 6.Tenaga kerja: Mencangkul lahan 3 OH @Rp10.000,- Rp 30.000,- Menanam bibit 2 OH @Rp10.000,- Rp 20.000,- 7.Panen dan pascapanen: Panen 2 OH @Rp10.000,- Rp 20.000,- Jumlah Rp 580.000,- B. Pendapatan: 5.000 batang @Rp200,- Rp1.000.000,- C. Keuntungan Rp 420.000,-
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#32 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang: Gurame Akan Tetap Ramai
Berbisnis ikan gurame diperkirakan akan tetap menarik, karena pasarnya masih luas. Pengalaman Julius Tirta Sendjaya membuktikan, permintaan pasar terkadang tak bisa dipenuhi. Kendati punya prospek, memahami kondisi riil praktek pasar gurame menjadi factor kritis dalam menjalankan bisnis ini. Banyak yang mengatakan bahwa budidaya ikan adalah bisnis dengan high risk kendati dengan potential gain yang tinggi. Banyak sudah cerita di media massa mengenai peternak yang terpaksa gigit jari, pendapatan yang sudah hampir masuk kantong terlepas dari tangan karena kolam mereka diterjang banjir atau kena serangan penyakit mematikan. Namun faktanya tetap saja banyak menekuni usaha ini. Selidik punya selidik ternyata bisnis ini memang high risk, high profit. Demikian seperti keterangan dari Julius Tirta Sendjaja, pemilik empang gurame di daerah Bogor. Berdasarkan perkiraan kasar, bahwa kebutuhan pasokan ikan gurame untuk wilayah Jabodetabek saja kurang lebih 10 ton per hari, atau sama dengan 300 ton dalam sebulan. Permintaan ini menurut Julius, semakin tahun akan semakin meningkat. Maka laki-laki yang meraih titel insinyur robotic ini optimis akan kemungkinan pengembangan usahanya. Terlebih dengan semakin meningkatnya kesadaran orang untuk memilih mengkonsumsi daging putih, hal ini semakin menambah semangatnya selama ini. Sedangkan dari sisi besaran keuntungan (profit margin), secara umum budidaya ikan tersebut sangat menguntungkan. Meskipun dia mengakui tingginya resiko yang mungkin dialami. Bila usaha berjalan mulus, keuntungan yang diperoleh paling tidak sebesar 80% dari modal. Bayangkan, per bulan rata-rata ia menghasilkan 3 ton ikan, dengan harga ikan gurame berkisar antara Rp 20 ribu tiap kilogram, berarti uang sekitar Rp 60 juta masuk kantong. Sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan per bulan “yak lebih” dari Rp 10-15 juta. “Tetapi bila dua kali kita untung terus sekalinya rugi, saya katakan belum untung,” tukasnya. Bahkan Uke, demikian ia kerap disapa, menceritakan bahwa bisnis perikanan yang dia kelola tidak serta-merta menghasilkan keuntungan seperti yang dibayangkan. Dia mulai menjalankan usaha ini pada tahun 1999, meski awalnya dari sekedar iseng. Sebelumnya laki-laki peraih gelar insinyur mesin robot ini sempat bekerja di Astra selama 3 tahun lamanya. Karena harus mengurusi orang tuanya yang sakit, ia keluar dari pekerjaan. “Pada saat sudah membaik dan saya akan bekerja lagi, orang tua saya malah minta bantuan buat mengurus perkebunan milik keluarga di Sukabumi, jadilah saya mengelola perkebunan dan empang ini,” tuturnya. Lahan kolam ikan seluas 5 ha tersebut, awalnya adalah tanah keluarga yang tidak produktif. Mereka hanya mengupah orang untuk sekedar bersih-bersih. Maka berangkat dari sekedar coba-coba Uke, mengisi dengan bibit ikan mas. Dalam pikirnya paling tidak akan ada added value yang didapat dari tempat ini. Tetapi ternyata tidak segampang seperti dalam angan-angan. Ia rugi karena waktu itu belum punya pasar, sehingga harga ditekan oleh pemain lain. Penyebab lain pemain ikan mas sudah kelewat banyak, dan diperparah sistem pembayaran kurang jelas, sehingga tidak sedikit yang akhirnya tidak terbayar sampai sekarang. Terlanjur basah, dari ikan mas, setahun berikutnya dia mencoba bisnis gurame. Disebabkan modal yang sudah cukup terkuras, dengan memilih usaha pembibitan, tidak perlu biaya pakan yang besar. Tetapi ternyata lagi-lagi ia salah perhitungan. Permintaan akan bibit ikan sifatnya hanyalah musiman, dengan begitu demand sangat tergantung pada pasar. Pada saat musim kering tidak ada yang membeli bibit ikan kepadanya. “Sementara pegawai mana mau mengerti, hingga akhirnya saya putuskan beralih ke konsumsi, selama orang masih makan, artinya mereka akan beli,” kenangnya. Uke mengatakan bahwa pada tahun terakhir usahanya sudah mulai stabil. Meskipun pada saat memulai budidaya gurame ia bahkan belum memiliki pasar. Hanya dia yakin pasar gurame tidak sesulit ikan mas. Untuk mencari pembeli, pada awalnya juga mesti menawarkan produk kemana-mana. Selanjutnya, setelah ketemu pasarnya, tinggal berjalan menurut seleksi alam, artinya mana yang lebih menjanjikan pelayanan terbaik, akan lebih bisa diterima pasar. Apalagi dalam hal ini Uke punya prinsip yang menjadi pegangan bahwa dalam berbisnis orang tidak harus selalu menang. Satu kali kalah tidak apa-apa asalkan pada jangka long term sebuah hubungan bisnis bisa terjaga. “Baru, kalau dia sudah kita tolong tetapi tidak tahu balas budi, maka besok-besok kita tidak perlu menolong lagi,” ujarnya. Salah satu contoh kerja sama saling menguntungkan dengan pembeli seperti di atas adalah, pada saat persediaan sedikit, padahal jumlah permintaan banyak, yang pertama kali diutamakan yaitu pelanggan baik. “Bila dia punya barang banyak lalu tidak mau ambil ke kita, maka giliran stok sedikit kita juga tidak perlu jual pada dia,” tuturnya. Beban Uke semakin ringan karena saat ini dia tidak perlu setiap hari mengontrol empang miliknya. Pasalnya dia telah mempercayakan segala urusan kepada, Ivan, yang juga adik iparnya sendiri. “Awal-awal Pak Uke dapat pasar, saya terusin,” ujar sarjana Akuntansi Trisakti ini. Berbicara menegenai pangsa pasar, Ivan membandingkan dengan ikan mas, menjual ikan gurame ibaratnya penjual bisa memilih pembeli. Sebaliknya kalau ikan mas si penjual yang mengejar-ngejar pembeli. “Di sisi lain, selama ini jumlah permintaan terhadap selalu lebih besar dari kemampuan menyediakan barang,” kata Ivan. Padahal kalau hitung-hitungan harga, menurut Ivan, gurame jatuhnya lebih mahal. Alasannya dibutuhkan waktu lebih lama untuk pembesarannya dibandingkan dengan ikan mas, atau jenis-jenis ikan yang lain. Ikan lele, misalnya bisa panen dalam dua bulan, tetapi gurame dengan bobot 200 gram dibutuhkan sekitar 5 atau 6 bulan untuk mencapai berat jualnya, atau sekitar 5 atau 6 ons. Meskipun harga juga mengalami fluktuasi namun karena pasokan tidak sampai berlebihan, maka harga gurame menurut Uke relatif stabil. Lama waktu yang dibutuhkan barangkali yang menjadi alasan mengapa tidak banyak orang mengambil resiko pada usaha ini. Padahal menurut Uke, justru di sinilah letak keunggulannya. Bila lele dengan turn over cepat, otomatis diperlukan kerja ekstra dalam pengelolaannya. Padahal dalam satu tahun, setelah dihitung, hasil keuntungannya tidak jauh berbeda. Demikian pula untuk pengiriman pada saat memasarkan. Jenis-jenis ikan yang lain biasanya dilakukan pengiriman pada waktu malam hari, khususnya bila dikirim ke pasar-pasar tradisional. Sedangkan gurame yang menurut pengalaman Uke sudah kewalahan memenuhi kebutuhan restoran dan rumah makan, akan diambil oleh supplier pada siang hari. Dengan begitu tidak terlalu merepotkan baginya. Melihat prospek yang cukup menjanjikan, maka ia tidak merasa ragu untuk meningkatkan omset produksi. Lebih-lebih diakui, selama ini dari seluruh lahan, baru 3 ha yang efektif, selebihnya belum produktif. Di samping itu cara lain dengan menambah kepadatan jumlah ikan yang ditanam pada tiap meter perseginya. Secara teori tingkat kepadatan ideal mencapai 18 ekor bibit per m2, sedangkan selama ini ia hanya mengisi dengan 10-12 ekor saja. “Kendalanya masih tentang ketersediaan modal dan sumber daya manusia (SDM),” ungkapnya. Memang diakui, masih terdapat kendala lain, yaitu dalam memperoleh bibit. Bibit yang didapatkan dari petani sekitar, walau tidak selalu, acap tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diharapkan dalam hal volume. Masalahnya pada saat bersamaan, terkadang berebut dengan peternak lain, sehingga kalau pun toh akhirnya diperoleh juga, mau tidak mau harga pasti naik. Untuk menjamin pasokan, ia tidak berani membayar bibit di muka, misalnya, sebab bisa-bisa uang hilang, ikan juga hilang. “Dalam bisnis ini, petani dan supplier banyak mengajari kita,” tandasnya. Pengalaman adalah guru terbaik, benar juga.
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#33 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang: Boneka Berbusana Muslim, Boleh Juga
Membikin boneka dengan menonjolkan karakter keislaman, bisa jadi menjadi peluang bisnis yang cukup menggiurkan. Arrosa telah membuktikannya dengan mengalirnya pesanan setiap bulannya dari pasar dalam negeri dan mancanegara. Keuntungan usahannya lumayan menarik Siapa tak kenal boneka? Semua orang, khususnya kaum hawa, dari bayi hingga dewasa, tentu mengenal alat permainan ini, setidaknya pernah melihat atau menyentuhnya. Menurut sebuah catatan, boneka muncul untuk pertama kalinya pada 3.000 tahun sebelum masehi. Awalnya, permainan ini dibuat untuk dijadikan obyek dalam ritual keagamaan atau upacara adat. Dalam perkembangannya, boneka juga mengalami evolusi baik aplikasi maupun penggunaannya. Boneka selain berfungsi sebagai mainan, juga sebagai penghias ruangan, koleksi, atau teman tidur bahkan sebagai gift untuk perisitiwa tertentu. Selanjutnya, benda ini dijadikan pula sarana penunjang kegiatan pendidikan atau pengajaran dini untuk menebarkan nilai-nilai Islam, seperti yang dilakukan Arrosa, produsen boneka berkarakter nilai Islami. Arrosa sendiri dalam Bahasa Arab berarti boneka, juga merupakan merek dagang boneka berbusana muslimah. “Latar belakang munculnya Arrosa sebenarnya alternatif dari berbagai macam boneka yang sudah beredar di pasar. Tapi, karena boneka-boneka itu pada umumnya memakai busana biasa, kami mencoba menawarkan boneka yang berbaju muslimah ini,” kata Umining Dwi Kusminarti (Atiek), kreator Arrosa. Selain itu, Asrul Iman melanjutkan, kehadiran boneka berbusana muslimah semacam ini sangat penting bagi anak-anak. “Sebab, sebaiknya, sedini mungkin mereka diperkenalkan atau dididik mengenai segala sesuatu dalam Islam, tanpa mengecilkan peran boneka-boneka lain, tentunya. Singkat kata, boneka Arrosa hanyalah alternatif sekaligus menginformasikan bahwa saat ini telah tersedia boneka yang khusus untuk muslimah,” ucap rekanan yang menangani bagian promosi, pemasaran, dan keuangan ini. Arrosa untuk sementara ini cuma menyediakan boneka perempuan berbusana muslim. Ikhwal usaha boneka muslimah ini pertama kali muncul pada Agustus 2005 dengan modal awal sekitar Rp20 juta. Layaknya sebuah terobosan baru, dari 200 boneka yang didandani busana muslim ini, hanya puluhan yang diserap pasar. Tapi, setelah pasar mulai mengenalnya, dalam jangka waktu delapan bulan, 800 boneka laris manis bak kacang goreng. “Semula, penjualan berjalan sangat lamban. Sebab, hanya saya yang menjalankan. Tapi, setelah lebaran dan Asrul yang kebetulan mempunyai cukup banyak jaringan ikut bergabung, penjualan pun meningkat sedikit demi sedikit. Bahkan, saat ini kami sedang kewalahan memenuhi pemesan dari Balikpapan sebanyak 100 boneka,” kata Atiek. Apa yang diungkapkan Atiek bukanlah sebuah kesombongan atas tanda-tanda sukses mereka. Lebih dari pada itu, Atiek mengemukakan sebuah “keluhan” atas kendala yang dihadapi bisnisnya. Permintaan besar namun kapasitas produksi masih terbatas. Sejauh ini, di bagian produksi, dia hanya dibantu oleh tujuh ibu rumah tangga di lingkungan Bojong Gede, lokasi workshop Arrosa. Status para “karyawan” inilah yang membuat Atiek dan Asrul tidak dapat mem-push mereka, untuk lebih giat lagi berproduksi sehingga target terpenuhi. Kondisi ini, juga membuat mereka menahan diri untuk tidak over expose. Karena, mereka khawatir tidak mampu memenuhi permintaan atau pemesanan. “Kami juga hanya dapat membayar mereka, berdasarkan berapa banyak yang bisa mereka hasilkan dalam kurun waktu tertentu,” ujar Asrul. Untuk mengatasi kondisi ini, Arrosa menjalin kerja sama dengan panti rehabilitasi cacat fisik pada Mei nanti, sebuah pesantren di Bekasi dan Ciawi, serta dengan departemen perindustrian dan penjahit profesional. Arrosa tampaknya sangat paham akan kemauan konsumen. Bukan apa-apa “keluhan” para konsumen selama ini, adalah boneka yang ada di pasar didominasi produk Cina yang bertampang bule. Padahal konsumen ini menurut Atiek menginginkan boneka berwajah Asia atau negara-negara Islam lain. “Nanti, kalau Arrosa sudah berkembang, kami akan mencetak sendiri boneka yang lebih pantas untuk busana muslimah ini,” kata Atiek yang juga berencana mendadani boneka-bonekanya dengan busana pengantin muslim, berbagai baju adat di Indonesia, dan membuat baju muslim untuk boneka laki-laki, serta aksesori seperti sajadah, tasbih, dan musholla. Arrosa yang menurut pengakuan Asrul memiliki standar kualitas 30% di bawah boneka Barbie ini, dijual dengan harga Rp55 ribu per buahnya. “Kami tidak menjual langsung ke end user. Melalui tangan kedua, boneka-boneka ini dijual dengan harga Rp75 ribu–Rp80 ribu,” ucap Atiek yang juga menyediakan busana-busana muslimah seukuran bonekanya dengan harga Rp25 ribu–Rp30 ribu. Dengan total penjualan dan pemesanan sebanyak 500 boneka, maka dalam sebulan Arrosa meraup omset lebih dari Rp20 juta. Boneka yang digemari anak-anak hingga perempuan dewasa, terutama yang berkerudung ini, sebenarnya lebih banyak dibuat berdasarkan pesanan terutama dari Tuban (Jawa Timur), Yogyakarta, Bali, Bandung, Duri (Riau), Pekanbaru, Singapura, dan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab). Namun, bagi konsumen yang ingin membeli langsung, Arrosa juga membuka gerai di Mangga Dua dan Kalibata (Jakarta), Bojong Gede (Bogor), Bandung, Cimanggis (Depok), Pekayon (Bekasi), dan berikutnya di Cikarang (Bekasi). Untuk menciptakan kesan eksklusivitas produknya (limited edition), Arrosa yang mereknya dipatenkan sejak Januari lalu cuma mendandani satu gaya busana baik kasual, semi formal, maupun formal dengan motif dan warna berbeda untuk setiap 50 boneka. “Kami mengistilahkannya dengan seri atau model sama tapi motif dan warna berbeda,” kata Atiek yang untuk busana bonekanya menggunakan bahan sifon, songket, satin, sari, dan piskin. Arrosa adalah sebuah strategi diferensiasi produk yang gencar dilakukan oleh perusahaan di jaman yang serba kompetitif ini. Tujuan akhir tentu sudah mudah ditebak yakni mengisi ceruk pasar yang tidak bisa digarap oleh produsen yang ada (incumbent player). Lazimnya sebuah terobosan inovasi bisnis dan sebuah peluang usaha, potensi untuk meniru pasti selalu ada. Jika tidak menyiapkan langkah antisipasi untuk terus bertahan dengan sejumlah inovasi produk dan pasar, maka mereka akan tergerus oleh pesaing. Arrosa ibarat pepatah sambil menyelam minum air, sambil syiar sekaligus berbisnis, bukan begitu? Umining Dwi Kusminarti (Atiek) Bojong Gede Indah Blok GP/1 Bojong Gede, 021-8781529 dan Hp 08551064343 www.arrosa.net Asrul Iman 021-8200318 dan Hp 085218301669 (rekan).
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#34 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang : Bisnis Pisang Goreng Makin Menarik
![]() Pisang goreng (PISGOR) kini jadi primadona bisnis baru yang layak terus dicoba oleh banyak pengusaha. Sejauh pisang menjadi makanan populer di sini, sebesar itu pula potensi pasar yang terbentang luas. Ta B’nana membuktikannya. Segala bisnis yang berhubungan dengan kampung tengah atawa perut, dijamin kagak ade matinye. Sebab, selama seseorang masih hidup, selama itu pula ia akan terus makan. Selain itu, bisnis di bidang ini juga cepat balik modal. Apalagi, bila makanan yang disajikan lezat, spesial atau unik, dan halal. Meski ada tuntutan untuk kreatif, tapi juga tidak ada larangan untuk meniru atau (setidaknya) memodifikasi makanan yang sudah ada, kalau memang belum mampu menciptakan tren baru. Uniknya, dalam bisnis semacam ini baik produk asli, tiruan, maupun hasil modifikasi, tidak saling mematikan. Karena, jika sudah berbicara tentang lidah (baca: selera), dengan sendirinya pasar akan terbentuk. Ibarat kata, tak semudah itu memindahkan lidah. Ambil contoh, pisang goreng. Makanan ini dapat dijumpai di tukang gorengan dengan tampang lecek, berminyak, hanya seukuran jari dan harga Rp250,-, tapi bisa pula ditemui di hotel berbintang dengan wajah manis, “berbedak” keju atau cokelat, seukuran telapak tangan pria dewasa, dan berharga puluhan ribu rupiah. Tapi, apa pun itu, dia tetaplah pisang goreng yang rasanya manis-manis sepat dan digemari oleh semua kalangan, tanpa pandang bulu. Berkaitan dengan itu, tak salah kalau Majalah Pengusaha sekali lagi mengangkat tentang kisah pisang goreng ini, dengan pelaku bisnis yang berbeda, tentunya. Tersebutlah pisang goreng “bermerek” Ta B’nana yang bercokol di kawasan Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara. “Saat melihat orang membuat pisang goreng dengan ukuran kecil dan tampang lecek, terpikir oleh saya untuk melakukan sedikit inovasi yaitu membuat pisang goreng berukuran lebih besar tapi rasa pisangnya tetap terasa,” kata Ery Ashok, tentang alasannya berbisnis makanan yang disukai rakyat jelata hingga konglomerat itu. Di samping itu, kreator Ta B’nana ini melanjutkan, sejak zaman dulu hingga sekarang, konsumen bukan cuma ingin makan pisangnya, melainkan ingin pula merasakan kerenyahan tepungnya. “Atas dasar inilah, saya dan istri (Mia) membuat pisang goreng yang tetap terasa rasa pisangnya sekaligus kerenyahan tepungnya,” ujar Ery yang meniru kerenyahan tepung pisang gorengnya dari kerenyahan tepung fried chicken. Pisang goreng renyah ini, sebenarnya sudah dikonsepkan dua tahun lalu, namun baru beberapa bulan lalu (2006) dia realisasikan. Tak pelak, hingga wawancara ini dilakukan baru memiliki satu outlet. “Tidak berarti kami tidak ingin seperti bisnis serupa yang usianya lebih muda dari kami, tapi sudah memiliki banyak gerai. Kami harus berpikir panjang tentang sumber daya manusia, sumber bahan baku, standar “kerenyahan” tepung, cara menggoreng, dan sebagainya. Bisnis pisang goreng memang kecil modal dan risikonya, tapi untuk pengembangannya tidak semudah yang dilihat. Masih perlu waktu panjang untuk membuka gerai-gerai berikutnya,” ucapnya. Ery mengambil contoh dari cara menggoreng Ta B’nana. Untuk menggoreng Ta B’nana, dilakukan dengan dua proses. Proses pertama dilakukan untuk mematangkan pisang. “Memerlukan waktu tersendiri untuk mematangkan pisang yang ukurannya memang lebih besar daripada pisang goreng pada umumnya,” kata Mia. Proses kedua dimaksudkan untuk membuat pisang goreng setengah matang ini menjadi matang sepenuhnya, sekaligus untuk menyerap minyak. “Sehingga, pisang goreng kami garing dan renyah,” imbuhnya. Selain itu, Ta B’nana juga harus selalu menjaga mutunya baik pada rasa pisangnya maupun kerenyahan tepungnya, yang merupakan campuran antara tepung terigu, tepung beras, dan aneka bumbu. “Kami melakukan ini bukan karena masalah persaingan dengan bisnis sejenis. Sebab, kalau lidah sudah cocok dengan satu selera, biasanya tidak akan pindah lagi. Buktinya, banyak yang balik lagi ke sini setelah mencicipi pisang kami,” ucap Ery yang pisang gorengnya tidak cuma dilanggani penduduk sekitar Kelapa Gading, tetapi juga menerima pesanan dari Surabaya, Makassar, Papua, Medan, Palembang, Batam, dan Bandung. Bahkan, pisang seharga Rp1800,- ini juga pernah “terbang” ke Amerika Serikat dan Belanda. Faktor lain yang juga menjadi pertimbangan serius Ery sebelum mengembangkan bisnisnya ini yaitu lokasi. “Kalau bisnis fast moving ini ditekuni, omset yang bisa diraup sangat baik (dalam sehari Ta B’nana membukukan omset Rp1,8 juta–Rp3,6 juta, red.). Tapi, hal ini sangat tergantung pada lokasi di mana outlet ini berdiri, di samping racikannya, tentunya,” ujarnya. Mencari tempat strategis tidaklah semudah membalik telapak tangan. Karena itu, selain ingin mengembangkan sendiri bisnisnya, Ery juga membuka peluang kerja sama kepada pihak-pihak yang berminat. “Nantinya, rekanan kami hanya menyediakan tempat, sedangkan operasionalisasinya kami yang mengendalikan demi menjaga mutu produk,” tambahnya. Ta B’nana yang dibangun dengan modal awal Rp1 juta, dibuka mulai jam 12.00 hingga 21.00. Pada hari kerja, 1.000 pisang tergoreng, sedangkan pada akhir pekan, jumlah itu bisa meningkat hingga dua kali lipat. Di samping itu, Ta B’nana juga sering menerima pesanan melalui telepon yang jumlahnya berkisar 30–100 pisang baik untuk arisan, pesta perkawinan, atau acara pribadi. Ta B’nana yang awal April ini membuka cabang di kawasan Bintaro, juga menyediakan pelayanan pesan antar meski masih sebatas kawasan Kelapa Gading. “Untuk memudahkan konsumen saja, kok. Tapi kalau pesannya minimal 100 buah, kami siap mengantarkannya ke kawasan di luar Kelapa Gading,” kata Ery yang juga menyediakan talas (Pontianak) goreng, sebagai variasi. Makanan yang sudah dikenal luas atau telah difranchisekan, Ery melanjutkan, lebih mudah dikembangkan. Sebaliknya, makanan yang diciptakan sendiri harus melakukan survai pasar berulang-ulang (untuk mengetahui apakah seleranya bisa diterima masyarakat atau tidak), sebelum dikembangkan. “Semuanya perlu waktu,” tegas Ery yang mempatenkan merek Ta B’nana, setahun lalu. PISANG GORENG TA' BNANA Mr. Ery Ashok 021-70228469
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" Last edited by Devan; 28-04-2006 at 07:16 AM. |
|
|
|
|
#35 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang: Lampu Hias Dari Limbah Kayu
![]() Di tangan orang yang kreatif, barang apa saja bisa bernilai bisnis tinggi. Rudianto Handojo melihat peluang bisnis dari limbah kayu yang terbuang dengan menyulapnya menjadi lampu penghias ruang yang cantik dan indah. Produk bikinannya kebanyakan dihargai oleh kalangan ekspat. Keindahan dan kemewahan sebuah rumah, bukan hanya terletak pada ukuran dan bentuk bangunannya melainkan juga pada bagaimana mengatur tata letak furniturenya dan furniture yang digunakan. Rumah yang berkonsep minimalis, misalnya, belum tentu berkurang keindahannya bila dibandingkan dengan rumah mewah berikut aneka furniturenya yang mahal dan bermerek terkenal, hanya karena menggunakan furniture “sederhana”. Berkaitan dengan itu, kini banyak rumah berkonsep minimalis - ukuran bangunan tidak luas dan jumlah penghuninya tidak banyak - tapi ingin tetap terlihat indah dan nyaman, ditata dengan furniture “sederhana” tapi berfungsi ganda. Ambil contoh, lampu hias dari kayu limbah. Selain mampu menerangi setiap sudut ruangan, lampu-lampu artistik yang terbuat dari kayu (limbah) sengon, pinus, rami, sungkai, dan mahoni ini juga dapat memperindah ruangan-ruangan nan mungil sebuah rumah. “Memang sejauh ini atau 70% peminat lampu hias kreasi saya ini masih kalangan ekspatriat. Karena, lampu-lampu semacam ini tidak mudah masuk ke suasana rumah orang zaman sekarang, yang lebih memilih produk-produk Da Vinci, misalnya. Lampu-lampu saya hanya diminati oleh orang-orang yang konsep rumahnya minimalis,” kata Rudianto Handojo, kreator lampu hias dari kayu limbah. Rudy, begitu dia disapa, yang mulai “membisniskan” hobinya ini sekitar enam tahun lalu termasuk pencinta seni sejati. “Sebagai arsitek, tentu saya ingin membangun rumah yang bagus. Tapi, jika rumah yang bagus itu tidak dihias dengan bagus pula, maka ia tidak akan menjadi rumah bagus. Apalagi, bila tidak ditata dengan lampu yang bagus, keindahan sebuah rumah tidak akan tampak,” kata Rudy. Sehubungan dengan hal itu, dia mencoba membantu membangun karakter sebuah rumah dengan elemen lampu hias seperti yang dia buat, yaitu lampu yang memerangkap cahaya. Lalu, dia biarkan cahaya itu mencari celah sendiri. Ketika akhirnya cahaya itu menemukannya, maka bentuk yang keluar adalah pantulan cahaya. “Ekspresi pantulan cahaya itulah, yang saya harapkan dapat membuat ruangan di mana lampu itu berada menjadi lebih bagus. Jadi, berbeda dengan lampu biasa yang memainkan cahayanya secara lepas,” jelasnya. Untuk bahan bakunya, Rudy pun berburu sisa-sisa kayu sengon ke Sukabumi, limbah kayu rami di Klender, potongan-potongan tak terpakai kayu sungkai dari beberapa industri pembuatan furniture, dan sisa-sisa kayu pinus sebagai hasil pemotongan kayu legal yang dilakukan Perhutani. “Kayu-kayu ini warnanya terang atau muda, sehingga sangat bagus untuk memantulkan cahaya. Di samping itu, mereka itu jenis kayu lunak sehingga lebih mudah dibentuk,” ujarnya. Untuk aksentuasi, dia menggunakan kayu mahoni yang berwarna merah tua atau cenderung gelap. Mengapa kayu? “Kayu itu mengandung unsur hangat. Selain itu, kayu di Indonesia bagus dan kita kaya akan jenis kayu. Jadi, mengapa tidak kita eksplor saja? Di sisi lain, saya menggunakan limbah sebab tidak ada yang menjual kayu dengan ukuran yang saya inginkan. Ada keterbatasan ketersediaan bahan baku,” kata Rudy yang terinspirasi oleh produk-produk IKEA (industri mebel dari kayu terbesar saat ini, red.) dan lampu buatan Skandinavia (negara penghasil kayu pinus terbesar di dunia, red.) “Unsur seni produk mereka sangat kuat, mirip dengan lampu yang saya buat,” jelasnya. Lampu-lampu handmade ini dijual dengan harga Rp150 ribu–Rp900 ribu. Penetapan harga ini bukan terletak pada ukuran lampu, melainkan pada penggunaan bahan baku dan mood. “Dalam arti, kalau saya merasa kreasi saya ini indah meski gampang dibuatnya, ya, saya kasih harga mahal. Harga berdasarkan mood atau nilai seninya,” ucapnya. Dalam sebulan, Rudy yang menitipkan hasil karyanya di sebuah outlet di Kemang mampu menjual 5–15 lampu atau menerima pemesanan hingga 40 lampu. Karena itu, per bulan dia mencetak omset penjualan sekitar Rp20 juta. Dengan modal awal sekitar Rp10 juta, kini dia dengan dibantu tiga karyawannya mampu menghasilkan 20–30 lampu setiap bulannya dari 25 item yang ada, di workshopnya yang terletak di kawasan Buncit, Jakarta Selatan. “Namun, tidak semua item dibuat dalam sebulan itu. Tergantung pesanan, kepuasan batin, dan mood. Di sisi lain, kadangkala dari satu item dihasilkan dua produk,” kata Rudy yang 70% konsumennya membeli floor lamp kreasinya yang dijual dengan harga Rp600 ribu–Rp900 ribu/buah. “Sebab floor lamp lebih mudah dipindah-pindahkan dan cocok dipadupadankan dengan mebel merek lain, serta bisa digunakan untuk memperindah semua bagian ruangan,” jelasnya. Laiknya bisnis di Indonesia, pasti terdapat kendala ketika akan memperluas jaringan atau mengembangan sayap melalu ekspor. Demikian pula dengan “bisnis” Rudy. “Lampu tidak dapat dipisahkan dari listrik. Saya kesulitan dengan komponen listrik yang sifatnya paten. Sekadar info, semua produk IKEA menggunakan komponen listrik yang paten atau memenuhi standar listrik global. Karena itu, saya belum berani ekspor. Produk saya belum layak ekspor, belum memenuhi standar internasional tersebut. Saya berusaha mengatasinya dengan produk dari luar negeri tapi harganya luar biasa mahal. Jadi saya mundur dulu,” ujar Rudy yang terpaksa membatalkan ekspor ke Jerman dan Korea. Kini, dia berusaha mendongkrak penjualan lampu-lampu setinggi 25 cm–160 cm ini, melalui pameran atau meminjamkannya untuk properti beberapa sinetron. “Sayang tingkat apresiasi konsumen belum nyambung. Sebab, ibarat lukisan, lampu saya ini sama dengan lukisan abstrak. Selain itu, hanya beberapa rumah yang matching dengan lampu hias semacam ini,” ucap Rudy yang berencana “melempar” lampu-lampunya ke berbagai hotel, perkantoran para ekspatriat, galeri lukisan, dan kafe
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#36 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang: Sandwich + Wedang Ronde = Untung Besar!
![]() Setelah 20 tahun lebih menjadi raja garmen, Yuyung Harjanto banting stir menjual wedang ronde dan sandwich bakar. Ratusan pengunjung menyerbu kedainya tiap malam Puluhan pengunjung memenuhi ruangan. Puluhan lainnya menduduki bangku-bangku yang tertata rapi di sebelah luar ruangan. Sisanya rela antre sambil berdiri. Ini bukan sebuah perjamuan makan malam, tetapi ini adalah rutinitas pelanggan yang ingin menikmati wedang ronde dan sandwich bakar milik Yuyung Harjanto, di Jalan Pesanggrahan Raya 168, Jakarta Barat. “Ini hampir terjadi setiap malam,” ujar seorang juru parkir. “Lebih dari 500 pelanggan yang berkunjung ke sini tiap malamnya,” ujar Yuyung Harjanto. “Delapan puluh persennya adalah ABG (anak baru gede) dan sisanya keluarga,” imbuh mantan salah satu pengusaha garmen terkemuka di Bandung ini. Sejatinya Yuyung bukan ahli di bidang boga. Jalan hiduplah yang menuntunnya mendirikan kedai kopi sandwich bakar. Ini berawal dari kebangkrutannya sebagai pengusaha garmen yang telah ditekuninya puluhan tahun. Terhantam krisis berkali-kali dan mendapat serbuan dari produk China membuat garmen milik Yuyung limbung. Ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan garmen dengan ratusan karyawannya, bahkan dengan mengecilkan skala usahanya. Namun upayanya tetap gagal. “Pemerintah tidak memberi dukungan. Kami tidak meminta disubsidi. Itu cengeng namanya. Kami hanya meminta dukungan pemerintah, tetapi tidak mendapatkannya,” ujar Yuyung. Pabrik garmen yang ia rintis dari kecil akhirnya bangkrut total. Penjualan asetnya pun tidak mencukupi untuk membayar utang dan makan sehari-hari. Yuyung yang semula seorang bos dengan ratusan karyawan itu pun akhirnya menjadi karyawan sebuah perusahaan untuk bisa menyambung kehidupan keluarganya. Ini pun tidak bisa bertahan lama. Kehidupan Yuyung dan keluarga benar-benar berada di titik nadir. Bahkan Yuyung menyebutnya di titik minus. Dalam kondisi tidak ada pilihan tersebut terlintas di benaknya untuk menjual wedang ronde, minuman khas yang selama ini menjadi favoritnya. Ia pun memutar akal karena modal yang ia pegang relatif kecil. Gayung bersambut. Seorang teman Yuyung menawari teras showroom furniture untuk dijadikan tempat berjualan, setelah showroom itu tutup pada sore harinya. Mendapat kesempatan ini Yuyung bersama istrinya berusaha meracik wedang ronde, hingga menemukan rasa yang diterima banyak orang. Setelah berkali-kali melakukan trial and error, wedang ronde buatan istrinya siap untuk dijual di emperan toko milik teman Yuyung tersebut. Yuyung yang dibantu anak sulungnya membuka kedai wedang ronde dan roti bakar di bawah sebuah tenda berukuran 3x4 meter. Berjuang selama tiga bulan, kedai tersebut akhirnya menunjukkan perkembangan yang pesat. Bahkan para pembeli rela untuk makan di dalam mobil mereka ketika hujan mengguyur. Sepintas, wedang ronde yang dijual Yuyung tak berbeda jauh dengan wedang ronde yang dibikin penjaja minuman lainnya, apalagi minuman ini termasuk minuman popular bagi masyarakat Indonesia. Tetapi kalau diamati dan dicicipi ada perbedaan yang nyata. Isi wedang ronde Yuyung berwarna-warni, di mana masing-masing warna merepresentasikan rasa tersendiri. “Yang berwarna merah memiliki rasa kacang, yang berwarna hijau rasa bunga teratai dan yang berwarna coklat memiliki rasa coklat,” terang Yuyung. Selain memiliki rasa yang berbeda untuk masing-masing warna, Yuyung menjamin makanannya tidak mengandung pengawet sehingga aman dikonsumsi. Strategi yang ia terapkan sebenarnya tidak terlalu muluk dan bahkan jamak dilakukan banyak penjaja makanan: ingin melayani pembeli, sebagaimana ketika ia ingin dilayani di suatu gerai makanan. Sederhana memang, tetapi tidak setiap orang bisa menterjemahkan strategi sederhana tersebut. Sekalipun awalnya hanya kedai kaki lima, Yuyung menjaga kualitas rasa dan kebersihan tempat jualannya. Baginya, tempat yang bersih dan rapih bisa meningkatkan nilai jual barangnya. Jangan dikira, tempat jualan Yuyung tidak di-setting rapi, sebagaimana kebanyakan warung kaki lima lainnya. Bangku-bangku tempat jualan Yuyung diatur rapi dan dicat putih bersih. Kiat dan taktik menjualnya cukup ampuh. Tak heran, hanya dalam tempo bulanan pelanggannya mencapai ratusan dan harus rela antre jika ingin membeli atau minum di sana. Pelanggan yang awalnya berdatangan dari pemukiman di sekitar Jalan Pesanggrahan, kini sudah melebar ke sampai ke Kelapa Gading dan Cibubur. “Selain melayani pelanggan yang datang langsung ke lokasi, kami juga menerima delivery order. Tetapi untuk sementara waktu, kami hanya bisa melayani pelanggan yang tidak terlalu jauh lokasinya,” ucap Yuyung seraya menambahkan minimal order Rp 40.000. Respon positif dari pelanggan ini, membuat Yuyung berpikir untuk membuka cabang di lain tempat. Tetapi untuk sementara ini ia akan memperluas kapasitas dari gerai yang telah ada. Artinya, ruangan di atasnya yang semula digunakan untuk showroom mobil akan diubah seluruhnya menjadi gerai Kedai Kopi Sandwich Bakar. Atas permintaan konsumen, Yuyung juga menambah menu makanannya. Kini, bukan hanya wedang ronde dan sandwich yang siap disajikan, tetapi juga ada steak. Namun, menurut Yuyung, sandwich tetap menjadi favorit utama Kedai Kopi Sandwich Bakar. Dengan suksesnya usaha wedang ronde ini, Yuyung ingin menekankan bahwa selama kita memiliki kemauan kita pasti akan menemukan jalan. Ia tidak sekadar hafal glosarium tersebut tetapi sudah menerapkannya. Dirinya sendiri tidak pernah menyangka bahwa tekadnya bisa mendapatkan jalan dan hasilnya sungguh di luar dugaan. “Saya bukan ahli boga. Dan tempat saya jualan juga tidak didapatkan melalui riset pemasaran yang njelimet. Saya hanya mempunyai tekad berjualan dan saya menemukan jalan. Ternyata dengan modal tekad, hasilnya bisa di luar dugaan,” tandasnya. Wedang ronde di tangan Yuyung telah naik kelas, dan menjadi peluang bisnis yang menggiurkan. Mau melakukan hal yang sama? Sandwich Bakar Jl. Pesanggrahan Raya No. 168, Jakarta Barat Telp. 021-5820270
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" Last edited by Devan; 10-05-2006 at 07:10 AM. |
|
|
|
|
#37 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang: Bisnis “Bersih-Bersih” Masih Prospektif
Banyak gedung, apartemen, kantor dan pabrik yang meng-outsourcing-kan pengelolaan kebersihannya. Suatu peluang untuk mendulang uang bagi pebisnis yang akan terjun ke jasa cleaning service alias bersih-bersih. Salah sebuah hadits menegaskan bahwa kebersihan merupakan sebagian daripada iman. Kesadaran terhadap nilai kebersihan mungkin setua sejarah hidup manusia. Tetapi sebagai suatu bisnis, di Indonesia khususnya, fenomenanya baru muncul pada tahun 1980-an. Pada tahun 1983 Sujarwo, Menteri Kehutanan Indonesia periode 1983-1988, berpikir keras bagaimana memelihara kebersihan Gedung Manggala Wanabhakti yang sebesar dan seluas itu. Tidak mungkin membersihkan gedung sebesar itu dengan cara manual, kain pel dan lap. Kemudian Sujarwo menggandeng mitra untuk mendirikan PT Resik Cemerlang. Setelah mantan Menteri Kehutanan Kabinet Pembangunan IV itu meninggal dunia awal tahun 2004, kepemilikan dan pengelolaan diambil alih putri bungsunya, Budi Darmastuti. “Sebelumnya saya tidak terlibat bisnis ini karena saya belum selesai kuliah,” ujar lulusan Arsitektur Lanskap Trisakti ini. Pada saat Budi Darmastuti mengambil alih tampuk pimpinan PT Resik Cemerlang, kliennya hanya 12 perusahaan dengan jumlah karyawan pelaksana 250 orang. Kini dalam kurun waktu dua tahun, klien perusahaan meningkat menjadi 80-an perusahaan dan jumlah karyawan pelaksana sekitar 700-an. Perkembangan yang sangat signifikan. “Sebelum saya pegang inovasinya agak kurang. Tetapi karena sebagai pioner posisi Resik Cemerlang selama kurun waktu 20 tahun nangkring di posisi atas,” ujar ibu dua orang putri ini. Perjalanan waktu yang panjang, nilai kepioneran serta nilai kepercayaan pelanggan kepada Resik Cemerlang itulah yang digenjot Budi Darmastuti untuk melakukan ekspansi. “Binis jasa cleaning service itu bukan sekadar resik-resik (bersih-bersih) tetapi kepercayaan. Karena para karyawan harus membersihkan ruangan-ruangan. Kalau tidak jujur bagaimana?” kata Direktur Utama Resik Cemerlang yang juga Direktur Utama PT Tata Eksotik ini. Dengan nilai kepercayaan yang dipegang teguh tersebut, Resik Cemerlang berhasil merangkul beberapa klien perusahaan ternama seperti Bank Danamon, Astra Honda Motor Cibitung, Sea World, Gedung Manggala Wanabhakti, PT Tunas Ridean, PT Charoen Phok Phan, Dankos Laboratories, HM Sampoerna, Citibank, Modern Photo Lab, Fortune Indonesia, THIESS Contractors, Maspion Plaza, General Motors Indonesia, dan Pewayangan Kautaman TMII serta Gedung Graha Wijaya. Untuk mendapatkan karyawan yang jujur sehingga bisa memegang amanat kepercayaan, Budi Darmastuti memakai pendekatan hati selain memberikan gaji sesuai dengan Upah Minimum Provinsi dan Jamsostek karyawan. “Ada yang bagian ngasih tahu, ada yang bagian ngomelin, kalau saya bagian ngepuk-ngepuk (membesarkan hati dengan lemah lembut biasanya dengan mengelus-ngelus punggung tanda sayang dan perhatian),”kata Budi. Oleh karena itu dalam negosiasi dengan klien Darmastuti memperhitungkan harga dengan memasukkan tingkat upah minimum propinsi (UMP), cost untuk seragam, aksesoris dan bahan chemical serta management fee. “Hak karyawan tidak kami utak-utik sama sekali. Kami hanya bermain di management fee untuk bisa mendapatkan profit. Itu pun tidak bisa terlalu besar,” imbuhnya. Untuk menanamkan kejujuran kepada karyawan ini Budi Darmastuti juga memberikan contoh dengan bersikap jujur, misalnya tidak memotong sepeser pun hak karyawan. Ia juga sering membuat amsal, “kalau ada karyawan yang tega korupsi maka sama saja ia melubangi kapal yang kami tumpangi bersama. Kapal itu akan tenggelam bersama seluruh penumpangnya. Tampaknya semua menyadari hal ini,” tuturnya. “Amanat ayah saya adalah menjadikan perusahaan sebagai talang (saluran) rejeki bagi banyak orang. Tidak perlu membocorkan saluran tersebut, dengan menjadi saluran pun kami sudah kebasahan (kena rembesan),” imbuhya filosofis. Selain memegang teguh kepercayaan, Budi Darmastuti juga berusaha sekuat mungkin untuk menghindari karyawannya melakukan demo. Karena beberapa klien sangat anti-demo, misalnya klien perbankan. “Alhamdulilah sampai sekarang karyawan kami belum pernah ada yang demo,” ucapnya. Sekalipun bersikap lemah lembut terhadap para karyawannya, bukan berarti Budi Darmastuti tidak bersifat tegas. “Kalau ada karyawan yang mangkir tiga hari tanpa memberikan alasan maka dia kami pecat. Sebenarnya tidak tega melakukan ini tetapi peraturan perusahaan harus ditegakkan, selain hal ini memang erat kaitannya dengan kepercayaan yang telah dimandatkan klien kepada kami,” tandasnya. Menurut Budi Darmastuti, klien yang sudah sangat percaya kepada Resik Cemerlang tidak pernah mempermasalahkan harga. Namun bagi klien baru, harga merupakan pertimbangan pertama untuk memakai jasa sebuah perusahaan cleaning service. “Saat ini banyak kompetitor yang banting-bantingan harga. Tetapi ternyata gaji karyawannya sangat kecil. Ujung-ujungnya klien juga kurang puas terhadap hasil kerja karyawan cleaning service dari perusahaan yang bersangkutan,” terangnya. Budi Darmastuti mengetahui hal ini ketika mengambil alih pengelolaan kebersihan sebuah gedung dari sebuah perusahaan cleaning service lain. Dalam dunia bisnis jasa bersih-bersih ini ada suatu aturan tidak tertulis bahwa take over pengelolaan kebersihan suatu gedung juga melibat take over karyawan dari perusahaan yang lama. “Ketika saya tanya ada yang gajinya Rp 450.000 per bulan,” paparnya. Meski kompetisi sangat ketat, ia mengakui bisnis jasa cleaning service masih prospektif. Terutama karena semakin banyaknya pengelola gedung yang meng-outsource pengelolaan kebersihan ini. “Saya melihat Singapura juga bertumpu kepada bisnis jasa. Tetapi negeri tetangga itu maju pesat meski tidak memiliki sumber daya alam. Dari situ saya melihat bahwa bisnis jasa akan selalu memiliki peluang dan pasar,”katanya mantap. Oleh karena itu, walaupun kompetisi semakin tajam Budi Darmastuti masih berani mematok target ekspansi menambah karyawan pelaksana menjadi 1.000 pada tahun 2006 ini. Sedang tahun depan ia menargetkan pertumbuhan Resik Cemerlang bisa mencapai 30 persen. Perusahaan cleaning service lain yang ikut menangguk untung dari bisnis ini adalah PT Seino Eranusa. Awalnya perusahaan ini mempunyai core business menjual alat pengharum ruangan otomatis. Karena setiap bulannya melakukan servis pengisian ulang cairan pengharum ruangan akhirnya perusahaan ini dikenal baik oleh para pelanggannya. “Dari situ saya tawarkan jasa lain yaitu jasa kebersihan dan ternyata mereka tertarik,” kata pengelola PT Seino Eranusa Didiet Prihatma. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, itu prinsip yang dilakukan Didiet. Selain, menjual pengharum dan jasa kebersihan, ia juga menjual jasa sebagai penyedia kebutuhan health care dan penyedia box untuk bekas pembalut wanita, terutama di gedung-gedung yang banyak memiliki karyawati. Dengan berbagai produk jasanya tersebut PT Seino berhasil mengantongi omset Rp 150 juta- Rp 200 juta per bulannya. Dan ke depan Didiet menargetkan untuk meluaskan pangsa pasarnya sampai ke Jakarta, sehingga tidak hanya menggarap pasar di Bekasi. Selain Resik Cemerlang, ada juga satu nama yang sebenarnya cukup besar dan profesional dalam arti manajemen; PT ISS. Perusahaan ini menurut para pemain di industri jasa ini, masuk ke berbagai hotel, serta beberapa bisnis terkait misalnya pest control (pemberantasan hama seperti rayap, tikus, ngengat), hingga ke building management . Ada juga satu nama yang tak kalah berpengalaman adalah Trichem. Perusahaan ini beroperasi sudah belasan tahun. Hampir semua gedung perkantoran di Kawasan Sudirman, menjadi kliennya seperti Mid Plasa, Chase Plasa, Bapindo Plasa, hingga ke jaringan bioskop 21 milik Sudwikatmono. Sayang semua perusaaan yang berkategori besar ini enggan menyebut omsetnya. Hanya menurut seorang pemain di industri ini nilai tagihan mereka bisa mencapai puluhan miliar per tahunnya.
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#38 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang: TERTARIK FRANCHISE FURNITUR?
Grup Olympic lewat anak usahanya PT Garant Mobel Indonesia menjual brand MER, sebuah toko ritel furnitur dengan harga yang terjangkau. Meski baru beroperasi tiga tahun lalu, toko ini telah memiliki 19 gerai yang tersebar di beberapa kota. Prospeknya? Nama Garant, mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pecinta produk-produk furnitur berkelas di dunia. Karena nama itu sudah menjadi brand dunia untuk sebuah toko furnitur. Berpusat di Jerman, toko furnitur dibawah bendera Garant Mobel International ini telah beroperasi sejak 47 tahun lalu. Toko ini sekarang telah tersebar di 20 negara dengan konsep waralaba, termasuk Indonesia. Total gerainya lebih dari 4000, dan salah satu dari bentuk gerai toko itu, beberapa di antaranya kini telah berdiri megah di beberapa kota di Tanah Air. Di Tanah Air, bendera Garant adalah MER, sebuah toko ritel furniture yang menjangkau kalangan menengah dengan harga terjangakau. MER tidak hanya sebuah toko furniture. Tapi, merupakan sebuah paradigma baru di bisnis furnitur di Tanah Air. Dia tidak saja menjual berbagai produk furniture berkualitas, tetapi juga menawarkan sebuah konsep bisnis waralaba furniture. Pemegang hak waralaba MER disini adalah PT Garant Mobel Indonesia (GMI) yang berdiri sejak Februari 2003 lalu. GMI adalah anak usaha Grup Olympic—produsen furnitur terbesar di Tanah Air. MER berdiri, karena manajemen GMI melihat prospek bisnis furniture di Tanah Air yang sangat bagus. Apresiasi masyarakat terhadap produk-produk mebel berkualitas makin meningkat. Ini bisa dilihat dengan naiknya permintaan pasar terhadap produk furnitur domestik maupun impor yang meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Asmindo (Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia), pada 2003 lalu impor mebel mencapai 5,75 ton atau US$ 6,04 juta. Pada 2004 jumlah tersebut naik 40%, dan diperkirakan tahun ini akan meningkat lebih besar lagi. “Atas dasar itulah kami mendirikan MER,” kata Andi Setiawan, CEO GMI. MER tidak hanya menawarkan sebuah konsep toko ritel moderen. Namun lebih dari itu. Yakni merangkul semua pihak yang terlibat di bisnis furniture, mulai dari : produsen/manufaktur hingga konsumen. Artinya, semua pihak akan dilibatkan dalam bisnis ini dengan konsep win-win. Kendati MER adalah anak usaha Grup Olympic, namun dalam operasionalisasinya juga menjual produk lain yang menjadi kompetitor Olympic. MER memberikan pelatihan dan inovasi serta pengembangan produk untuk para produsen. Para produsen ini dilatih dan membuat standar produk sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Di samping itu, MER juga melakukan technical assistant di bidang manajemen mulai dari visualisasi, marketing, service hingga sistem keuangan. Untuk menjadi waralaba MER sangat mudah. Investor hanya wajib memiliki toko/tempat dan tinggal membayar Rp 250 ribu/m2. Semua produk, display toko dan interior semua ditanggung oleh GMI. Untuk produk, GMI didukung oleh 36 produsen furnitur terkenal di Tanah Air, seperti Grup Olymipic dan beberapa lagi lainnya. Pewaralaba bisa memilih produk yang diinginkan, lantaran GMI memiliki tak kurang dari 4 ribu item produk, seperti : bathroom set, mebel kantor, kursi, living room set, rak audio dan sebagainya. Investor tinggal memilih mana produk yang tergolong cepat laku dan slow moving. Ditambah dengan biaya lainnya, total investasi mencapai Rp 800 juta-an. Tapi, menurut Andy, besarnya biaya yang harus dikeluarkan itu sebanding dengan benefit yang dipetik. Investor, berhak menggunakan nama MER selama enam tahun dengan royalty fee 0%. Selain itu, dukungan kampanye produk lewat media internal MER, menjadi membership Garant Mobel International, konsultasi, pelatihan manajemen menjadi salah satu keuntungan bagi investor, disamping desain dan lay out toko yang semuanya gratis. Keuntungan lainnya? Lantaran produk yang dijual adalah produk yang cepat laku dengan harga terjangkau, MER memperkirakan titik impas pada tahun ketiga. “Namun itu tergantung luas toko,” jelas Eduard Sutarto, Module Manager GMI. Artinya, dengan perhitungan matematis bahwa per meter perseginya penjualannya sekitar Rp 500 ribu—asumsi ini berdasarkan pengalaman bahwa brand Olympic yang seharga Rp 2 – Rp 10 juta cukup laris di pasar—maka toko yang memiliki luas 350 m2—persyaratan toko MER minimal—memiliki omzet Rp 300 juta/bulan. “Makin luas, ya makin untung, karena produk yang dijual makin banyak dan beragam,” jelasnya. Itu bicara manisnya. Bicara pahitnya, mungkin juga bisa terjadi. Alasannya, sebuah bisnis kalau tidak dikelola hati-hati akan hancur juga. Begitu juga berlaku di bisnis furniture. Pemilihan lokasi yang tepat/strategis, dekat dengan kawasan permukiman, akan lebih cepat laku ketimbang ditempat yang strategis. Meski tergolong baru, MER kini telah memiliki 19 toko yang tersebar di berbagai kota.Di antaranya di Bandung, Serpong, Bintaro, Cibubur (semuanya Jakarta), Tangerang, Bogor, Semarang, Surabaya, Pasuruan, Solo, Menado dan Palembang. Tahun ini MER menargetkan sekitar 20 toko baru. “Langkah ke arah sana sudah kami lakukan, tentu saja dengan promosi dan sosialisasi toko MER,” ungkap And
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#39 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
![]() Peluang: Memang Hanya Combro, Tapi... Combro yang telah menjadi makanan populer di Jawa Barat ini, naik kelas dengan sejumlah inovasi di tangan Atmaja. Hasilnya, konsumen harus rela antri untuk hanya untuk membeli beberapa potong. Gila! Hanya combro. Hari gini untuk bisa menikmati combro, yang merupakan makanan populer di masyarakat (Sunda: oncom di jero atau oncom di dalam, red.) saja, para penikmatnya harus berjuang. Telat sedikit, jangan berharap Anda kebagian. Itulah fakta yang terlihat dari antrian pembeli makanan khas masyarakat Jawa Barat yang mangkal di Jalan Suryakencana, Bogor, ini. Adalah Combro Atmaja alias combro rajikan Pak Atmaja yang mampu menyedot konsumen bukan hanya di sekitar Bogor, melainkan juga dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, bahkan Belanda, Jepang, dan Singapura. “Padahal sebenarnya combro ini tidak ada bedanya lho dengan combro-combro lain. Mungkin, karena setiap hari saya selalu mengganti minyak gorengnya. Selain itu, barangkali karena bahan bakunya, saya menggunakan singkong Mangu yang kualitasnya paling bagus dibandingkan singkong-singkong lain. Juga menggunakan cabai kampung yang walau kecil dan ramping bentuknya, tapi pedasnya pas. Sedangkan, bahan oncom yang saya gunakan adalah oncom merah atau tanpa bahan pengawet. Lebih dari itu, tentu trik atau cara mengolahnya, termasuk cara menggulungnya,” kata Atmaja, mengira-ngira kelebihan produknya sehingga memancing orang menyemut. Namun yang pasti, Atmaja yang dalam menjalankan usahanya dibantu dua saudara dan seorang tetangganya ini, lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas. Bahkan, boleh percaya boleh tidak, dia sendiri tidak terlalu menggubris apakah usahanya rugi atau untung. Bahkan dia tak terlalu mau tenggelam seharian mengurus bisnisnya. Hal ini terbukti dari “jam kerjanya” yang hanya tiga jam/hari. “Masalahnya yaitu tenaga kerja kami terbatas. Capeklah kalau harus berdagang seharian. Jadi begitu jualan kami habis, ya, kami pulang untuk beristirahat. Lalu, mempersiapkan bahan-bahan untuk berjualan keesokannya,” ujarnya, polos. Di samping itu, ternyata bisnis Atmadja juga dibatasi oleh ketersediaan bahan baku. Seperti yang disebutkan di atas, salah satu bahan bakunya sangat spesial dan suplainyapun sangat terbatas. Singkong Mangu semakin sulit didapat dan kalaupun tersedia harganya mahal, sehingga dia terpaksa tidak lagi menggunakan singkong ini dan menggantinya dengan singkong lain, yang kualitasnya sedikit di bawah singkong Mangu. “Dulu, karena sangat mempertimbangkan kualitas, kalau kehabisan singkong Mangu saya memilih untuk tidak berjualan. Jadi dalam tujuh hari (seminggu, red.), kadang-kadang saya hanya berjualan tiga atau empat hari,” lanjutnya. Dengan “jam kerja” dari jam 11.00 hingga jam 14.00, pada hari kerja Atmaja menggoreng (baca: menjual) 400 combro dari 20 kg adonan dan 800 combro dari 40 kg adonan pada hari libur atau akhir pekan. Dengan demikian, dari harga combro Rp1.200,- per buah, setiap hari dia mampu meraup omset sekitar Rp480 ribu sampai Rp960 ribu. Pendapatan ini di luar pesanan untuk pesta perkawinan dan dari lima pelanggan tetapnya, di antaranya beberapa hotel di sekitar Bogor, yang masing-masing memesan 100–200 buah per pelanggan. “Saya tidak bisa menerima pesanan lebih dari itu, khawatir tidak dapat memenuhi tepat pada waktunya. Di samping itu, juga kualitas singkong yang saya peroleh. Kalau hari itu saya tidak bisa mendapatkan singkong yang kualitasnya bagus, saya terpaksa menolak pesanan. Sebenarnya, kalau dituruti, saya bisa membuat 1.000–2.000 combro setiap harinya,” kata Atmaja yang tidak menerima pesanan, saat sedang berjualan. Berbeda dengan combro lain yang lebih sedap disantap saat masih hangat, makanan berbentuk bulat lonjong made in dapur Atmaja ini masih tetap renyah, gurih, dan tentu saja lezat meski sudah dingin. Tapi untuk menghindari basi, untuk pesanan, combro Atmaja biasanya digoreng setengah matang. “Combro saya bertahan dua hari,” jelasnya. Sedangkan untuk pembeli ketengan (satuan, red.), tergantung permintaan konsumen apakah ingin digoreng matang atau setengah matang. Usaha combro ini sebenarnya bisnis keluarga yang sempat terhenti pada 1998, karena berbagai situasi ekonomi yang sulit. Dengan mengerahkan modal harian Rp200 ribu hingga Rp250 ribu (setiap lima hari sekali, modal ini membengkak menjadi Rp400 ribu bila persediaan gas, kantung plastik, dan dus pembungkus habis, red.), laba kotor yang diraupnya hanya sekitar Rp250 ribu. “Jadi kalau dibilang harga combro saya kemahalan, saya kira itu keliru,” katanya. Melihat minat konsumen yang semakin besar ini, ke depannya, Atmaja berencana membangun pabrik yang mampu menghasilkan 3.000–4000 combro per hari, dengan syarat singkong selalu tersedia. Demikan pula dengan jumlah tenaga kerja yang bertugas menggulung parutan singkongnya harus diperbanyak. Lantas, untuk variasinya produknya akan ditambahkan misro, pisang goreng, tempe goreng, dan tahu goreng Sumedang, “Untuk sementara ini, saya hanya ingin memiliki ruangan khusus berukuran 4 x 4 meter untuk mengganti gerobak ini dan terus berusaha menjaga mutu produk. Karena, sesepele apa pun pekerjaan itu, tidak ada yang boleh dikerjakan dengan main-main, termasuk dalam membuat combro,” tegas Atmaja yang belum berani membuka cabang di Jakarta. Memang hanya combro, tapi dengan berbagai terobosan dan inovasi, maka makanan “kelas rakyat” ini akan diminati orang dan tentu menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" |
|
|
|
|
#40 |
|
Moderator BisnisFinansial
KafeGaul Senior
Tanggal Gabung: 11 Jul 2002
Lokasi: Jakarta, Singapore
Post: 3.530
|
Peluang: Clup-Clup: Mati di Jogja, Jaya di Ibukota
Omset Clup-Clup bisa mencapai Rp. 9 Juta per/bulan dengan margin keuntungan mencapai 30%. Para investor diundang jadi mitranya. Untuk menjadi franchisee Clup-Clup, Anda hanya butuh modal Rp. 21.6 juta. Namun omset yang bisa diraih dari pengalaman yang sudah melakukan franchisee tergolong lumayan, yaitu dalam sehari bisa mengantongi omset minimal Rp. 300 ribu dengan keuntungan 30%. Apa saja yang ditawarkan dari bisnis franchise yang lahir di kota pelajar, Yogjakarta ini? Awalnya Clup-Clup adalah jenis usaha waralaba yang berpusat di kota Gudeg, Yogyakarta. Kebetulan pula Budi Utoyo ikut bergabung dan mengembangkan bisnis ini dengan menjadi franchisee, sekaligus master franchise untuk wilayah Jakarta. Tapi kemudian dalam perkembangannya, Clup-Clup yang berada di Yogyakarta akhirnya mati. Budi melihat bahwa makanan yang “serba rebus”, dan goreng ini sebetulnya merupakan makanan enak, dan bisa dinikmati siapa saja. Jadi kalau usaha ini dikelola dengan baik, Budi yakin bisnis ini akan berkembang. Maka mulailah ia membangun waralaba Clup-Clup ini di Jakarta. Dengan mengusung konsep makanan cepat saji yang bergizi tinggi, Budi Utoyo menawarkan kesempatan bagi siapa saja yang ingin mengambil franchise usaha ini. Investasinya murah. Saat ini Clup-Clup sudah mempunyai 10 outlet di Jabotabek. Dua di antaranya milik Budi sendiri, dan delapan lainnya sudah difranchisekan. “Bagi orang yang sudah mempunyai freezer mereka cukup menyerahkan dana Rp. 17,5 juta ke saya. Tapi bagi mereka yang belum mempunyai peralatan apa-apa, cukup dengan Rp. 21,6 juta sudah bisa menjadi franchisee Clup-Clup,” jelas Budi. Dengan investasi sebesar itu, investor sudah mendapatkan gerobak, kompor, genset, tempat sambal, panci-panci untuk merebus, tabung gas, gelas, dan alat lainnya serta training pegawai (keseluruhan senilai Rp. 17,5 juta). Sedangkan dana Rp. 2 juta lainnya digunakan untuk bahan baku, dan Rp. 2,1 juta untuk freezer dengan kapasitas 200 liter. Jadi mitra atau investor tinggal mencari tempat dan pegawai untuk mengurus jalannya bisnis ini sehari-hari. Untuk menjalankan bisnis ini, paling tidak dibutuhkan dua orang karyawan. Selain itu, franchise ini berlaku untuk tiga tahun. Setelah itu mereka hanya memperpanjang nama saja. Adapun segmen pasar yang dituju untuk makanan ini adalah kalangan anak-anak sekolah, dan orang umum yang suka ngemil sehat. Oleh karena itu harga jualnya dibuat terjangkau, yaitu dari mulai Rp.1.000 sampai dengan Rp. 2.500. Jadi orang bisa memilih sesuai dengan isi yang ada di kantong mereka. Bahan baku yang digunakan adalah seafood, daging dan ayam yang dimodifikasi sedemikian rupa. Misalnya saja untuk jenis makanan nuggets yang biasanya di pasar swalayan menggunakan bahan baku daging ayam, maka di Clup-Clup nuggets bisa dibuat dari salmon, cumi, udang atau tuna. Semua jenis makanan yang sudah diolah tersebut ditusuk seperti halnya sate. Dan pengolahannya, tinggal selera dari konsumen mau direbus atau digoreng. Dalam menjalankan usaha, pasti orang sering menanyakan kapan akan balik modal. Menurut pria yang kini mempunyai 10 bidang usaha ini, dengan franchise Clup-Clup para calon investor bisa balik modal dalam waktu kurang dari satu tahun. “Sebenarnya dalam enam bulan mereka sudah bisa balik modal. Karena kalau saja dalam sehari mereka bisa dapat penghasilan Rp. 300 ribu, maka kurang dari satu tahun mereka sudah balik modal. Tapi kalau pendapatan si investor kurang dari Rp. 7,5 juta sebulan, maka saya bebaskan dari royalty fee,” ungkap Budi yang mengenakan royalty fee sebesar 5% dari omset kotor per bulan.
__________________
-Devanization Inc- Member of INVESTASEE Indonesian Private Investors Network Group "Constructing Indonesia Thru Better Investments" " Kalau Mau Kaya... Jangan KeLamaan Jadi Pegawai ! " --Entrepreneur University Forum Bisnis Finansial KG "Profit From It !" Last edited by Devan; 11-06-2006 at 04:50 PM. |
|
|